[FLASHBACK 2ND]

SEOUL

Friday, June 20th 2014 [9.00 AM]

...

Sehun melangkah ringan setelah mengunjungi ruang dosen pengampu mata kuliahnya. Ia terlihat membawa map cokelat yang entah apa isinya. Seperti biasa, Sehun yang hanya berjalan biasa tetap tidak bisa dianggurkan oleh mata para fansgirl yang setia mengamati Sehun dari ujung lorong hingga ujung lorong yang lain.

Meskipun Sehun sudah merambah dunia permodelan semenjak ia dalam masa pubertas, nyatanya kesuksesan yang ia dapat akhir-akhir ini mulai membalikkan hidupnya seratus delapan puluh derajat. Semua orang mulai memandangnya, membicarakannya, memperhitungkannya, dan lebih sering mengagumi kesempurnaan fisiknya. Dalam waktu enam bulan ini, Sehun berhasil menunjukkan dirinya pada dunia luar tentang bakatnya yang sangat luar biasa. Kini, setiap langkah yang ia ambil selalu menjadi bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya.

Langkah Sehun berhenti mendadak, matanya yang semula lurus ke depan kini tertuju pada satu muara.

Bak gerakan slow-motion, Sehun tidak melepas sedikitpun pandangannya. Setiap detik yang ia miliki terasa sangat berharga untuk ia abaikkan.

Disana, dalam jarak lima langkah dari tempatnya berdiri (secara mendadak tadi), Sehun melihat pemandangan yang –Sehun bersumpah- baru pertama kali ia lihat.

Dia… Xi Luhan. Tidak ada perubahan besar memang. Luhan tetap saat Sehun menjabat tangannya seperti kemarin ataupun ketika di supermarket.

"Ah, Sehun Sunbae."

Yang berbeda adalah, Luhan tampak berbinar cerah dengan riasan natural di wajah cantiknya.

Luhan layaknya matahari yang mampu membuat Sehun meleleh layaknya cokelat.

Ugh, berlebihankah?

Tentu tidak! Bagi Sehun itu adalah perumpamaan yang tepat.

"Terima kasih untuk kemarin, Sunbae."

Sehun mengangguk kikuk sebagai jawabannya. Ia sungguh tidak bisa berucap, mulutnya serasa ditutup oleh selotip tak kasat mata. Apalagi ketika Sehun melihatnya lagi, sesuatu yang dalam waktu singkat menjadi favoritnya.

Senyuman Luhan.

Lagi-lagi hanya sekilas.

Apa harus membayar mahal dulu demi melihat senyuman yang indah itu?

Tidak masalah, selama senyuman sedetik saja mampu meningkatkan kerja jantung Sehun menjadi berkali-kali lipat.

Oh! Jangan biarkan Sehun ngiler atau bahkan pingsan di depan Luhan dan para fansgirl-nya.

"Aku pergi, Sunbae."

"Y-ya."

Oh Sehun benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Bagaimana bisa ia tetap tersenyum sedangkan orang dihadapannya sudah beranjak pergi.

PUK!

"Cantik, kan? Aku yang mendandaninya. Dan ekspresimu, sungguh diluar dugaanku."

Sehun mendelik dan berusaha melepas tangan berjari lentik yang bersarang dipundaknya. Yoona terkekeh puas setelah mengerjai teman kerjanya itu.

"Bersihkan air liurmu, sebelum membuat fansgirl-mu hilang diterpa angin."

"Yak!"

SEOUL

Friday, June 20th 2014 [9.11 PM]

Jadwal Sehun berakhir tepat pukul Sembilan malam. Setelah berganti baju, membersihkan make-up,dan berpamitan dengan para staff, Sehun lekas memasuki mobil yang akan membawanya menuju apartment miliknya. Sehun terlalu lelah untuk menunggu Joonmyeon di dalam, entah apa yang pria itu lakukan Sehun tidak tahu dan tidak perduli. Tubuhnya seperti diberi beban sangat berat, membuatnya harus bersandar untuk menghilangkan sedikit rasa lelahnya.

Sembari menunggu Joonmyeon yang masih belum menampakkan batang hidungnya, Sehun mencoba untuk memejamkan mata barang sejenak. Mungkin tidur selama beberapa menit tidak masalah, meskipun bisa dipastikan tubuhnya akan pegal setelahnya.

Saat memejamkan mata, entah siapa yang melakukan, tiba-tiba wajah seorang gadis melintas begitu saja. Sebuah bayangan Luhan, dengan senyum yang menawan dan mata sayu layaknya rusa berhasil membuat Sehun lantas membuka matanya. Nyatanya Sehun sempat melihatnya sekilas –memang-, namun Sehun berhasil merekam senyuman itu baik-baik ke dalam ingatannya.

Dan mengetahui wajah Luhan terlintas di otaknya saat ia tengah berusaha terlelap, Sehun menyadari ada yang tidak beres dengannya. Bahkan ia dan Luhan baru bertemu beberapa kali, dan bukan pertemuan special yang harus diingat otaknya hingga nyaris terbawa mimpi.

Apakah satu senyuman mampu mengubah seseorang?

Jika iya, lalu bagaimana dengan gadis-gadis lain yang juga mengumbar senyuman di depan Sehun? Kenapa dirinya biasa saja? Kenapa jantungnya tidak berpacu seperti saat ia melihat sebuah senyuman dari gadis yang tidak pernah menunjukkan senyumannya itu?

Sehun mengacak rambutnya gusar. Tampilannya yang dari awal sudah kacau semakin kacau akibat tingkahnya. Keinginan untuk terlelap akhirnya menghilang saat wajah Luhan kembali memenuhi otaknya. Sekilas, sama seperti saat gadis itu menunjukkan wajah bersahabatnya.

Sejak bertemu dan melihat senyuman langka Luhan kemarin dan tadi pagi, Sehun benar-benar dibuat frustasi. Bayang-bayang wajah dan senyuman gadis itu tidak lepas dari pikirannya dan berhasil merusak konsentrasinya. Ia tidak bisa melakukan arahan fotografer dengan benar, sering melamun, dan bertindak ceroboh seperti menyenggol cup berisi Americano miliknya hingga tumpah di lantai.

Yang paling menyadari perubahan Sehun adalah Joonmyeon. Joonmyeon bukannya bodoh untuk mengetahui alasan apa dibalik keanehan Sehun hari itu. Joonmyeon tahu bahkan sebelum Sehun menyadari apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Ditambah lagi, Sehun berubah sejak pagi, dimana setelah Sehun dengan polosnya bertanya pada Joonmyeon tentang seorang gadis berwajah jutek namun sangat cantik ketika tersenyum.

Oh Sehun sedang jatuh cinta.

Joonmyeon nyaris meledak dalam tawa saat satu kemungkinan itu hadir di pikirannya. Jika memang itu kebenaran, maka Joonmyeon tidak akan menginterupsi Sehun dari tingkahnya yang sedang berbunga-bunga. Oke, Joonmyeon tidak akan mengomel tentang Sehun kali ini!

Sedangkan hari ini Sehun tidak sekacau kemarin. Meskipun tadi pagi Luhan kembali berhasil menguasai pikirannya, Ia meneriakkan pada dirinya untuk professional bekerja, bagaimanapun ia tetap harus melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Di tambah lagi kesibukan yang sangat padat hari ini membuat Sehun tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan seseorang itu.

Suara pintu mobil yang tertutup membuat Sehun kembali ke alam sadarnya. Joonmyeon kembali sambil membawa bungkusan yang Sehun tidak ketahui isinya.

"Itu apa, Hyung?"

"Kopi. Jaga-jaga kalau kau ingin kopi malam ini. Aku tidak akan membiarkanku pergi ke supermarket lagi. Membuang waktu."

Sehun lantas tergelak mendengar jawaban Joonmyeon yang mengingatkannya tentang kejadian kemarin pagi. Joonmyeon adalah tipe orang yang memiliki tingkat kedisiplinan yang lumayan tinggi, tak heran jika Sehun terlambat beberapa menit maka Joonmyeon akan menghadiahi Sehun dengan omelan panjang tak berujung.

"Itu tidak akan terjadi lagi, Hyung."

Kecuali kalau aku bertemu dengan Luhan lagi di waktu yang sama. Kkkkk!, batin Sehun.

Luhan? Lagi-lagi bayangan Luhan yang tengah tersenyum kembali menghantui Sehun yang berniat menggoda Joonmyeon setelah ini. Alhasil ia mengurungkan niat menggoda Manager-nya itu.

"Kau gila ya?"

"Huh?"

"Kau tadi bilang kalau kau sangat lelah. Sekarang malah senyum sendiri seperti orang gila."

Sehun gelagapan dan pura-pura tidak mendengar Joonmyeon. Kontan Joonmyeon tertawa lebar saat mendapati perubahan ekspresi Sehun dari kaca spion. Tampak gugup dan bodoh.

"Sudahlah, Hyung. Cepat jalankan mobilnya, aku sangat lelah.", tukas Sehun berusaha mengalihkan perhatian. Wajahnya benar-benar panas sekarang.

"Arasseo, arasseo." Joonmyeon terpaksa menghentikan tawanya yang membuatnya sakit perut. Seharusnya ia mengabadikan ekspresi Sehun yang tampak bodoh itu. Sebuah kesempatan langka saat Sehun bertahan dengan ekspresi cool dan datar miliknya.

Lalu Joonmyeon menjalankan mobilnya dan iseng menghidupkan MP3 player untuk menemani perjalanannya.

"Hyung, bangunkan aku saat sampai di apartment nanti.", ucap Sehun dan mulai memasuki alam mimpi dengan menyandar di kursi.

"Tentu saja. Siapa yang mau membawamu pulang ke rumahku?"

Joonmyeon terkekeh dan tidak mendapat balasan apapun dari satu-satunya orang yang berada di mobil yang sama dengannya. Rupanya Sehun berhasil terlelap dalam waktu yang amat singkat.

"Dasar. Dia fikir aku sopirnya?", gerutu Joonmyeon. Hey! Jadi dia baru sadar jika tugasnya bukan hanya sebagai Manager tetapi juga sopir pribadi?

Pukul sepuluh lebih tiga menit mobil Joonmyeon sampai di basement apartment Sehun. Tanpa dibangunkan, ternyata Sehun lebih dulu bangun dan mulai mengucek matanya. Dia harus melanjutkan tidurnya nanti, setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Ah, membayangkannya Sehun semakin ingin cepat menuju kamarnya.

"Terima kasih, Hyung!", ujar Sehun seraya menenteng paper-bag berisi satu cup kopi kegemarannya. Joonmyeon baru saja memberikannya pada Sehun mengingat pria itu tidak kecanduan minuman berkafein tinggi itu.

"Ya. Besok kau tidak ada jadwal. Nikmati waktu liburmu sampai hari Senin nanti." Joonmyeon melambai dari dalam mobilnya. Sebenarnya itu bukan mobil pribadinya, akan tetapi mobil yang difasilitasi oleh perusahaan. Sedangkan mobil Sehun sendiri, hanya ia pakai jika ia akan berangkat ke kampus.

"Arasseo."

"Aku pergi!"

Sehun melambai seraya membenarkan tas ransel di punggungnya. Ia lalu melangkah menjauhi parkiran yang Nampak sepi itu.

"Yak! Apa yang kalian lakukan?! Lepas!"

"Hahaha!"

"Lepaskan aku! Lepas! Tolong!"

BUGH!

"Arggh! Jalang sialan! Kejar jalang itu!"

"Tolong!"

Sehun mendadak berhenti. Ini telinganya yang salah dengar atau memang ada seseorang yang meminta tolong? Kemudian ia berbalik dan melihat keadaan sekitar parkiran. Sangat sepi dan hanya ada beberapa mobil yang diparkir di sebelah ujung tanpa ada tanda-tanda orang disana.

Mungkin hanya salah dengar, batin Sehun dan ia-pun kembali melangkah ke lorong menuju ruang apartmentnya. Lorong-lorong itu juga nampak sepi dengan pencahayaan temaram nyaris gelap.

BRUK!

Paper-bag yang Sehun genggam berhasil terjatuh menyebabkan cairan pekat itu tumpah mengotori lantai. Sehun tidak memiliki waktu untuk memikirkan kopi-nya.

Dan ia tidak bisa.

Ada seseorang yang kini lebih membutuhkan dirinya daripada kopi yang tumpah.

Dan seseorang itu berhasil membuat Sehun berhenti bernafas. Terkejut, bingung, dan berhasil membuat tubuhnya menegang.

"Ch-chogiyo… tolong aku…"

Sehun bersumpah. Meskipun lorong yang ia lalui cukup gelap, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi seseorang itu yang jauh dari kata baik. Sehun belum sempat melihat kondisinya dari atas hingga bawah karena yang menjadi pusat pandangannya adalah satu, mata sayu yang bisa otaknya kenali dengan mudah.

"Lu-luhan?", tanya Sehun untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Ya, dia Luhan! Gadis yang terus berputar di kepala Sehun tanpa lelah akhir-akhir ini. Sehun membutuhkan waktu beberapa detik untuk memastikan sendiri sebab tidak ada jawaban darinya, hanya getaran dari tangan ranting yang menggenggam lengannya erat.

"Ya…",jawabnya lirih dan susah payah.

Ternyata dugaan Sehun tidak salah. Kemudian derap langkah terdengar mendekat membuat Sehun merasakan tangan ranting itu melingkar di perutnya dan kepala yang melesak didadanya. "Tolong aku… Siapapun kau… Ku mohon…"

Sehun tidak bodoh untuk memahami situasi yang terjadi. Ternyata suara tadi bukan hanya perasaannya saja. Memang ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, namun Sehun tidak menyangka Luhan adalah korbannya.

Dengan sigap Sehun melepaskan tangan itu, membuka blazer tebalnya, dan melesakkan tubuh Luhan ke dada bidangnya. Ia-pun berubah posisi hingga Luhan bersandar di dinding dan dirinya menutupi keberadaan luhan dengan blazer dan tubuhnya sendiri.

Saat derap langkah semakin mendekat, Sehun semakin mendekatkan tubuhnya dengan Luhan untuk mencegah kemungkinan orang-orang itu akan melihat Luhan.

Luhan nyaris memekik sebelum Sehun menutup akses suara gadis itu menggunakan jari telunjuknya. Bisa kacau urusannya jika Luhan mengeluarkan suara pekikannya.

"Ch-chogiyo… Kau…"

"Sttt… Aku Oh Sehun.", bisik Sehun tepat di telinga gadis itu karena Sehun sedikit membungkukkan badannya.

"Huh?" Luhan membalas tidak kalah berbisik.

"Sehun. Kau mengingatku, kan?"

"O-oh. Ya, aku-"

"Sttt…" Sehun kembali membungkam bibir Luhan saat derap langkah mendekat dan melintas di belakang mereka. Sehun merasakan tubuh Luhan menegang, namun ia tidak berbuat apapun selain pada posisi awal. Posisi yang membuatnya seperti tengah mencium gadis itu dengan panas.

"Cih! Berciuman di lorong sepi, menjijikkan!", umpat salah seorang dari mereka saat melihat Sehun dan Luhan. Tentu saja ia tidak mengira bahwa targetnya ada di balik blazer tebal dan panjang itu.

Setelah itu tidak ada derap langkah lagi. Mungkin mereka sedang mencari tempat yang mungkin bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian. Dan lorong bukanlah tempat yang tepat.

Di rasa aman, Sehun perlahan menjauhkan badannya dan melepaskan pelukannya pada tubuh mungil itu. Sejak masih memeluk hingga ia berada di jarak yang cukup aman bagi dua orang yang baru mengenal, Sehun tidak melepaskan pandangannya sedikitpun pada wajah makhluk cantik yang berdiri di hadapannya. Meskipun sekarang wajah itu pucat, penuh keringat, dan bekas air mata, entah bagaimana caranya Sehun tetap mengagumi paras itu sebagai paras paling indah yang ia lihat dari seorang gadis.

"Te-terima kasih."

Sehun tersadar dari lamunan singkatnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya dari atas hingga bawah tubuh Luhan yang tidak sempat ia perhatikan demi menyelamatkan gadis itu.

Dan ia terkejut bukan main ketika mendapati pakaian gadis itu tidak lagi menutupi tubuh Luhan dengan baik. Pakaian itu sobek di bagian lengan, dua kancing atasnya hilang membuat Luhan susah payah menutupi asset berharganya dengan tangan bergetar, dan ditambah dengan bekas darah mengering di lutut Luhan yang hanya memakai celana sebatas lutut.

"Brengsek!" Sehun menahan emosi. Namun ia tetap tenang saat ia melepas blazer yang ia pakai dan memakaikannya di tubuh Luhan yang menggigil. Entah menggigil kedinginan atau ketakutan. Ia tidak ingin membuat Luhan ketakutan.

"Siapa?"

Luhan menggeleng. Ia merasa tidak pantas melibatkan Sehun ke dalam masalahnya. Cukup namja itu yang menyelamatkannya.

Sehun tidak memaksakan lagi. Mungkin gadis itu memang tidak ingin masalahnya diketahui oleh orang yang baru dua hari dikenalnya.

"Nomor berapa?"

Luhan mendongak. "Huh?"

"Apartment-mu. Kau tinggal disini, kan?"

Luhan mengangguk dan menjawab dalam suara lirih, "Tiga puluh tujuh."

Sehun mengangguk paham dan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berjalan. Melihat kejadian buruk yang baru di alami, Sehun yakin Luhan tidak akan bisa berjalan sendiri. Gadis itu pasti shock ditambah lagi luka di lututnya yang terlihat lumayan parah.

"Ayo. Aku antar ke kamarmu."

"Ti-tidak. Aku bisa berjalan dan ke apartmentku sendiri. Terima kasih atas pertolonganmu, Sunbae."

Luhan tidak baik-baik saja. Lihatlah ia yang sedikit kesulitan berjalan di atas kakinya sendiri.

"Kau yakin?" Sebenarnya Sehun yang tidak yakin. Bagaimana kalau orang-orang tadi kembali dan berhasil menemukan Luhan? Belum lagi dengan kondisinya yang seperti itu.

Luhan yang sudah berjalan beberapa langkah di depan Sehun lalu berbalik, "Ya. Aku yak- Aduh!"

Tuhkan! Sehun tidak memiliki pilihan lain selain memaksa gadis itu untuk menuruti perintahnya. Tidak perduli apa yang akan gadis itu fikirkan nanti, yang terpenting adalah gadis itu bisa sampai di kamarnya dengan baik-baik saja.

"S-sunbae! Apa yang kau lakukan?", jerit Luhan tertahan. Tangannya otomatis mengalung di leher Sehun. "T-turunkan aku."

"Menggendongmu. Dan tidak!"

Ya, Sehun menggendong Luhan ala bridal-style. Menaiki lift yang akan membawa mereka ke lantai tiga, dimana apartment Luhan berada. Sehun berhenti saat ia berada di depan pintu dengan nomor tiga puluh tujuh. Ia-pun tetap tidak membiarkan Luhan turun dari gendongannya.

"Apa password-nya?"

"S-sampai disini saja Sunbae. Aku bisa masuk-"

"Apa password-nya?", tanya Sehun dengan pertanyaan yang sama. Menandakan ia tidak ingin dibantah. Luhan terpaksa menjawabnya agar ia bisa segera sampai di ranjangnya.

Setelah membuka pintu, Sehun langsung menurunkan Luhan di sofa yang terletak di ruangan TV. Dengan hati-hati Sehun membawa kaki gadis itu untuk naik di atas sofa, namun si pemilik kaki tetap mendesis kesakitan.

"Kau oke?" Sehun memberikan pijatan kecil di kaki Luhan setelah menyadari kaki yang seputih susu itu bergetar samar. Ketika tidak mendapat jawaban dari Luhan, Sehun berinisiatif mengobati lutut Luhan yang berdarah. Selain untuk mempercepat penyembuhan, itu juga bisa menghilangkan bekas luka yang mungkin bisa ditimbul di lutut gadis itu.

"Dimana kotak obatmu?"

"Pulanglah, Sunbae. Aku sangat merepotkanmu."

Gelengan tegas didapatkan Luhan sebagai jawaban. "Aku tidak pernah setengah-setengah untuk direpotkan seseorang."

Terbersit sedikit candaan di dalamnya, Sehun tidak ingin Luhan semakin bersalah karena merasa merepotkannya.

"Jadi dimana?"

"Di laci." Luhan menunjuk lemari kecil yang di atasnya terdapat berbagai piala dengan ukuran berbeda. "Nomor dua."

Sehun menemukannya. Sehun bergegas menghampiri Luhan kembali dan duduk di bawah kaki gadis itu. "Alkohol 96%, ini akan lumayan perih. Tahan sebentar, oke?"

Luhan mendesis saat merasakan perih yang menghinggapi lukanya. Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya untuk menghindari jeritan kesakitan yang mungkin tiba-tiba ia serukan.

"Menangislah. Aku tidak melarangmu. Proses ini memang menyakitkan."

Luhan menatap Sehun ragu, namun sesaat kemudian wajahnya memerah dan bulir air mata membasahi pipi semi-chubby-nya. Sehun tersenyum tipis dan melakukan pengobatan selanjutnya.

"Selesai. Berhentilah menangis. Sudah tidak sakit, kan?" Sehun terkekeh lalu memberesi kotak obat yang baru ia gunakan dan akan mengembalikannya ke tempat semula sebelum-

"Jinwoo."

-sebelum Luhan menahan gerakan Sehun dengan ucapannya.

"Kim Jinwoo yang melakukannya.", ujar Luhan diantara isakannya. Api emosi Sehun berkobar seketika saat nama itu teringat sebagai nama orang yang mengganggu Luhan. "Dia menyuruh anak buahnya untuk menculikku. Dan Jinwoo… dan Jinwoo-"

Tak perlu penjelasan lain karena Sehun mengerti dari bahasa tubuh Luhan yang memandang tubuhnya sendiri. Karena itu, Sehun berlutut dan merengkuh Luhan dalam pelukannya, membiarkan Luhan dan tubuhnya yang bergetar bersandar di dadanya.

"Berengsek. Dimana saja bajingan itu menyentuhmu?"

"T-tidak. Syukurlah aku bisa lari sebelum… sebelum-"

"Jangan diteruskan! Cukup menangis, dan aku akan menemanimu."

Luhan mempererat lingkaran tangannya di perut Sehun. Inilah yang ia butuhkan saat ini. Sebuah pelukan hangat nan menenangkan.

Seperempat jam adalah waktu yang dibutuhkan Luhan untuk terisak. Kini ia sudah tenang meskipun kepalanya masih bersandar pada dada Sehun yang setia berlutut hingga kakinya kebas.

"Sunbae?"

"Heum?"

"Kenapa kau menolongku hingga sejauh ini? Apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu?"

"Jangan terkejut kalau aku mengatakannya."

"Oke."

"Alasannya karena, aku menyukaimu."

[TBC]

Sekedar info, subtitle [FLASHBACK] ada tiga ya readerdeul~

Intinya author bikin flashback itu tiga chapter. Sebenernya bisa dijadikan satu, tapi author takut alurnya malah kecepetan. Yah, walaupun skrg juga udah kecepetan. Kkkkk…

Makasih bgt buat readerdeul yg nyempetin waktunya buat baca ff aku yg gak bermutu ini, kalo ilmu manajemen-nya sih OFF GRADE. Kkkkkk…

REVIEW sgt dibutuhkan dari readerdeul untuk emmperbaiki tulisan author. The last, thank you!