_FLASHBACK 3rd_
Attention! Rating T+ untuk beberapa kata yang kasar. Thanks!
…
"Sunbae?"
"Heum?"
"Kenapa kau menolongku hingga sejauh ini? Apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu?"
"Jangan terkejut kalau aku mengatakannya."
"Oke."
"Alasannya karena, aku menyukaimu."
…
[FLASHBACK 3RD]
SEOUL
Friday, June 20th 2014 [10.20 PM]
"A-apa? Sunbae bilang apa?"
"Ya. Aku menyukaimu. Kau gadis yang tidak banyak tingkah seperti yang lain. Aku menyukainya."
Bukan itu!
Ingatkan Sehun untuk memotong lidahnya setelah ini.
Meskipun Sehun memang menyukai Luhan karena itu, tapi tetap saja bukan itu alasan utamanya!
Sehun melirik Luhan yang mengangguk paham dan terlihat lega. Apa Luhan takut Sehun menyukainya dalam arti lain?
Bisa saja seperti itu. Bagaimanapun Luhan bukan gadis biasa. Ia memiliki segudang prestasi dan kondisi fisik yang mengagumkan membuat lelaki bertekuk lutut kepadanya. Ia banyak disukai oleh para lelaki meskipun ia tidak banyak bertingkah centil dan mencari perhatian. Itulah sebabnya Luhan layaknya bunga cantik yang menarik para lebah untuk datang kepadanya.
Luhan tak jarang mendapatkan kiriman bunga, cokelat, boneka, dan berbagai barang lain, baik itu dengan nama pengirim yang terang-terangan ataupun hanya menyampaikan lewat orang lain. Luhan sudah tidak asing dengan pemberian yang nyaris sama setiap orangnya. Terkadang membuat Luhan jengah, untuk apa membuang uang hanya untuk menarik perhatiannya sementara dirinya tidak membutuhkan barang-barang itu.
Tapi diantara para lelaki yang memiliki interest kepadanya, Luhan belum sekalipun memilih diantara mereka untuk menjadi kekasih atau semacamnya. Seperti yang kubilang, Luhan tidak lebih dari gadis berwajah cantik dengan kadar dingin dan kecuekan yang amat tinggi. Selama prioritasnya adalah mengejar cita-cita, Luhan tidak akan melibatkan diri dengan urusan lelaki dan segala tetek-bengeknya.
Awalnya, Sehun yang mengungkapkan rasa suka-nya itu membuat Luhan terkejut. Tubuhnya menegang, namun tetap mempertahankan wajahnya yang cuek tanpa ekspresi. Apabila Sehun benar-benar menyukainya dalam artian sebagai lelaki kepada perempuan, Luhan akan segera mengambil langkah untuk mundur setelah mengucapkan terima kasih dengan tulus. Bagaimanapun Sehun baru saja menolong Luhan dari bahaya yang mengancam masa depannya, dan mendengar Sehun menyukainya itu bukan hal yang bagus.
Luhan tidak ingin Sehun menyukainya, menyelamatkannya, lalu meminta balas budi yang mungkin tidak bisa Luhan lakukan. Entah apa yang membuat otak Luhan berfikir kritis dan justru terkesan negatif itu. Dirinya hanya tidak ingin niat baiknya untuk membalas budi malah membuat dirinya dalam keadaan bahaya.
Sebut saja urusannya dengan Kim Jinwoo. Awal datang ke Korea sekitar satu bulan lalu, Luhan memang mendapatkan satu masalah pertama di bandara. Saat itu Luhan tengah menyempatkan diri meminum segelas cappuccino di café kecil bandara. Semula baik-baik saja meskipun suasana café sangat ramai, namun baru beberapa menit Luhan duduk disalah satu kursi, seseorang tiba-tiba mengambil tas selempangnya yang ia taruh di atas meja secepat kilat. Luhan yang baru menyadari seseorang mencuri tas selempangnya, langsung meminta pertolongan pada beberapa pengunjung pria yang mungkin bisa membantu menyelamatkan barang berharganya. Bukan apa-apa, Luhan tidak masalah dengan jumlah uang di dalamnya namun ada beberapa surat penting termasuk visa dan paspornya disana. Luhan, yang selalu reflex memakai bahasa China saat ia sedang dalam kondisi terjepit hanya membuat pengunjung disana tidak paham dengan maksud ucapan Luhan. Lalu keberuntungan masih berpihak pada Luhan. Ketika semua orang hanya memandangnya bingung dan aneh, seseorang berhasil menahan orang yang mengambil barang Luhan. Dengan cekatan namja itu membawa pelaku pencurian pada petugas keamanan dan mengembalikan tas selempang Luhan dengan selamat. As expected, Luhan memberikan ucapan terima kasihnya kepada namja itu dan akhirnya ia tahu namanya, Kim Jinwoo. Kemudian di hari-hari berikutnya, Luhan tidak pernah menyangka bertemu dengan namja itu lagi berkali-kali. Dimanapun Luhan berada, Jinwoo akan ada disana, hingga membuat otak cerdas Luhan berfikir keanehan itu. Kebetulan yang aneh, kan? Luhan semakin menyadari keanehan Kim Jinwoo ketika namja itu semakin gencar mengajak Luhan untuk berjalan-jalan dan sekedar makan siang. Bukan hanya mengajak, tapi kerap kali namja itu memaksa hingga membuat Luhan risih dan berusaha menjauhi namja yang belum ia kenal kecuali namanya saja itu.
Dan puncaknya adalah saat Jinwoo mengikuti Luhan berangkat kuliah hingga selesai –sangat mirip seperti sasaeng fans- hari ini. Saat Luhan berniat memasuki gedung apartmennya, dua orang bertubuh tambun tiba-tiba menyeret Luhan untuk masuk ke dalam mobil hitam yang telah menunggu. Suasana yang sangat sepi di jam malam semakin membuat Luhan gemetar ketakutan. Ketakutannya semakin menjadi saat ia melihat Jinwoo di dalam mobil yang sama, memberi tatapan yang berbeda dari biasanya mereka bertemu –menyeringai-. Tak perlu waktu lama hingga Luhan menyadari bahaya sedang mengincarnya, namun terlambat pria bertubuh tambun justru memegang kedua lengannya dengan kuat. Luhan tidak bisa bergerak banyak saat dengan kasar Kim Jinwoo merobek lengan kemejanya. Diantara teriakannya untuk meminta tolong, Luhan mendengar sebuah mobil datang. Beruntunglah Luhan yang bisa melarikan diri saat ketiga pria di dalam mobil sedikit lengah setelah mendengar suara mobil.
Ia takut Sehun akan berbuat serupa. Kejadian malam ini tidak lepas dari kejadian di bandara dulu. Kim Jinwoo yang menyelamatkannya, lalu tertarik padanya, dan Jinwoo meminta sesuatu sebagai balas budi yaitu menjadikan Luhan sebagai kekasihnya. Selanjutnya berujung pada ketidakterimaan namja itu atas penolakan Luhan yang tidak langsung. Cukup sekali, Luhan tidak akan membiarkan orang lain memanfaatkan rasa terima kasihnya demi sesuatu yang menjadi privasinya.
"Luhan-ssi? Lu?" Luhan tersadar dari lamunannya saat seseorang mengguncang bahunya. Ia langsung memfokuskan pandangannya pada satu-satunya orang yang ada dihadapannya.
"Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali." Sehun menunjukkan wajah khawatirnya.
Ya, tentu saja Sehun khawatir.
Luhan baru saja mendapatkan masalah yang bagi gadis sepertinya adalah masalah yang sangat pelik. Belum lagi dengan adanya kejadian itu membuat Luhan tidak bisa hidup tenang karena dihantui oleh seseorang yang nyaris memperkosanya.
Dan Sehun tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan tatapan iba dan khawatir yang sama besarnya. Ia hanyalah orang asing yang tidak sengaja menolong gadis itu dan pertama kalinya memasuki apartment gadis itu. Beruntunglah, Luhan bersedia menerima pelukan dari lengannya barusan.
"Kau mau aku mengurusnya?", tanya Sehun membuat gadis dihadapannya mendongak. Memperlihatkan wajah sembab dengan sisa air mata yang nyaris mengering. Namun Sehun tidak bisa mencari alasan, mengapa wajah sembab itu masih terlihat cantik dan tentu masih merusak kinerja jantungnya.
"M-maksud Sunbae?"
"Kim Jinwoo. Kebetulan aku mengenalnya. Dia adalah teman SHSku."
Dan keponakan Joonmyeon Hyung.
Sehun ingat Joonmyeon memberitahunya setelah dari supermarket dua hari yang lalu. Saat itu Joonmyeon yang tengah menunggu di mobil tidak sengaja melihat Jinwoo keluar dari supermarket. Dan ia memberitahu Sehun tentang keponakannya yang jarang ia temui dan Sehun cukup terkejut mengetahui keponakan yang dimaksud Joonmyeon adalah Kim Jinwoo. Dari Joonmyeon, Sehun akhirnya tahu jika Jinwoo sekarang menetap di Jepang. Entah apa urusan yang membuatnya ke Korea hingga berminggu-minggu padahal biasanya Jinwoo hanya betah di Korea selama satu minggu.
Sehun berharap semoga bukan untuk mengganggu hidup Luhan.
"Tidak perlu, Sunbae. Aku tidak mau melibatkan Sunbae pada masalah ini. Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri.",ucap Luhan dan ia terlihat tengah meneguhkan ucapannya.
"Kau yakin?" Sejujurnya Luhan sama tidak yakinnya. Bisa-bisa ia mendapatkan bahaya lain kalau memberanikan diri berhadapan dengan Jinwoo dengan tubuhnya yang bergetar takut.
"Sudahlah. Kau harus memikirkannya dulu, Luhan-ssi. Jangan melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirimu nantinya." Sehun melirik jam di pergelangan tangan kirinya. "Kurasa aku harus pulang. Apartmentku nomor lima puluh. Kau bisa memencet belnya jika membutuhkan bantuanku."
Luhan meringis saat mencoba berdiri. Lututnya yang terluka saat berusaha lari dari kejaran pria bertubuh tambun kini masih terasa perih. "Sekali lagi terima kasih, Sunbae-nim."
Sehun mengibaskan tangannya sembari tersenyum. Tampan sekali. "Sehun."
"Huh?" Oh, nanti Luhan harus menghitung berapa banyak ia meminta Sehun mengulang ucapannya karena otaknya yang lelet bekerja.
"Namaku Sehun. Jangan memanggilku Sunbae, aku terdengar tua sekali."
"Tapi kau seniorku."
"Tidak masalah. Aku sendiri yang memintamu."
Dan selanjutnya adalah yang tidak pernah dibayangkan oleh Sehun.
Mendengar Luhan terkekeh bersamaan dengan memperlihatkan wajahnya yang ternyata-
Oh!
-bagaimana bisa seimut itu?
Lupakan tentang mata sembab dan bekas air mata. Nyatanya Luhan dengan keadaan apapun berhasil membuat Sehun jatuh hati.
Sehun terpaku beberapa detik hingga kekehan Luhan tidak lagi terdengar.
"Sehun. Kau tidak jadi pulang?"
Sehun.
Ingatkan Sehun untuk meminum obat tidur karena bisa dipastikan Sehun akan terjaga sepanjang malam. Mendengar suara selembut angin justru bertolak belakang dengan kerja jantungnya yang semakin menjadi.
"Y-ya. Aku pergi dulu Luhan-ssi."
Luhan mengantar Sehun hingga depan pintu. Lelaki itu melambai sekilas sebelum berjalan ke arah lift di ujung lorong.
"Oh ya!"
Luhan menghentikan gerakannya untuk menutup pintu.
"Ku harap kau tidak trauma dengan namja setelah kejadian itu."
…
SEOUL
Saturday, June 21th 2014 [8.48 AM]
Luhan mungkin masih melanjutkan mimpinya jika saja seseorang tidak menekan bel apartmennya dengan tergesa-gesa, ditambah lagi deringan ponselnya yang tidak juga berhenti meskipun Luhan yakin tidak menyetel alarm disana. Luhan terlalu malas untuk membuka pintu, ia baru tidur pukul empat pagi itupun karena dirinya lelah menangis meratapi kejadian buruk yang baru ia alami. Meskipun tadi malam, ia memiliki Sehun yang menenangkan dirinya dengan pelukan nyaman. Namun setelah namja itu pulang ke apartment-nya, Luhan kembali mendapatkan bayang-bayang menyakitkan memenuhi otaknya. Pikirannya dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk tentang esok hari, tentang apa yang harus ia lakukan saat berhadapan lagi dengan namja bernama Kim Jinwoo itu.
Suara bel yang semakin mengganggu. Luhan terpaksa menyibak selimut dan berjalan tertatih menuju pintu kendati mengambil ponselnya yang berteriak minta di angkat. Setelah menggeser icon hijau, Luhan langsung mendapati suara pekikan khas perempuan itu. Im Yoona.
"Hall-"
"Cepat bukakan pintu, Lu!"
Luhan hanya geleng-geleng kepala lalu membuka pintu apartment-nya dan menampilkan sesosok gadis berpakaian modis berdiri di depan pintu.
"Oh astaga! Sebenarnya kau darimana saja, huh?", pekiknya sembari mematikan sambungannya pada ponsel Luhan.
"Ada apa pagi-pagi sudah kemari?", tanya Luhan tanpa perlu menyuruh Yoona masuk karena gadis itu sudah lebih dulu masuk melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal bulu.
Menutup pintu, Luhan mengikuti Yoona ke ruang tengah tempat Sehun mengobati lukanya semalam.
"Sudah kubilang, dia benar-benar psikopat! Berengsek!"
Luhan tersenyum getir menyadari siapa yang dimaksud Yoona. Luhan tidak kaget darimana Yoona tahu mengenai masalahnya, karena dipastikan Sehun yang memberitahunya. Jika lupa, Sehun dan Yoona adalah rekan kerja sesama model yang cukup dekat.
"Kau mau kopi? Aku akan membuatnya." Luhan baru saja berniat menuju dapur saat Yoona tiba-tiba menahannya duduk di sofa. Mata rusa Yoona tertuju pada mata Luhan yang juga memiliki mata layaknya rusa itu.
"Jangan pura-pura. Kau sedang tidak baik, aku tahu itu."
Senyum paksa Luhan sebagai tanggapannya. Luhan tahu ia tidak pintar berbohong dari dulu, namun ia sangat pintar menutupi pergelutan hati dan pikirannya dalam wujud Xi Luhan yang cuek dan dingin. Tapi itu tidak berfungsi lagi bagi Yoona. Meskipun baru berteman sekitar satu bulan, Yoona mampu membaca adanya sesuatu yang menganggu fikiran Luhan termasuk saat Luhan menceritakan tentang seorang namja yang ia temui berulang kali. Yoona tahu Luhan tidak hanya menganggap pertemuan itu hanya kebetulan.
"Kenapa tidak memanggil polisi saja? Orang berengsek sepertinya harus mendapat balasan yang setimpal."
Polisi? Luhan bahkan baru terfikirkan setelah kata itu terlontar dari bibir Yoona. Luhan sama sekali tidak memikirkan untuk menelpon polisi saat keadaan genting semalam. Baginya, sebagai seorang gadis yang hidup di Negara tetangga sendirian, Luhan hanya membutuhkan seseorang yang menenangkannya. Itu saja.
"Sudahlah, Yoon. Yang penting tidak terjadi suatu yang berbahaya padaku."
"Ya, syukurlah." Yoona meringis saat melihat luka gores di lengan dan lutut Luhan yang tertutup kain perban.
"Sehun menyuruhku menemanimu. Dia sebenarnya tidak tega melihat kondisimu yang seperti ini. Terlebih kau membutuhkan seseorang yang bisa melindungimu dari namja brengsek itu."
"Sehun? Menyuruhmu?" Luhan mengernyit tidak habis fikir, Sehun benar-benar membuatnya kebingungan setengah mati. Lelaki itu memang telah memberi alasan mengapa dirinya memberikan perhatian kepada Luhan terlebih mereka bukan teman dekat, namun Luhan masih membutuhkan penjelasan sejelasnya mengenai hal itu.
"Ya. Dia menelponku sebelum aku sempat melihat sinar matahari. Aku tidak pernah menerima telepon darinya belakangan, dan ia melakukannya demi menyuruhku menjagamu atau lebih tepatnya menemanimu." Yoona berujar disertai gerutuan khas miliknya.
"Maaf." Luhan terlihat bersalah, meskipun itu bukan kesalahannya. Ingatkan Luhan untuk bertanya langsung kepada Sehun apa sebenarnya yang diinginkan lelaki itu.
Yoona berdecak menanggapi permintaan maaf Luhan yang menurutnya tidak perlu itu, lalu berjalan menuju laci, tempat yang ia tahu sebagai tempat menyimpan obat-obatan pribadi milik Luhan. Luhan sempat memberitahunya, saat ia kemari beberapa waktu lalu untuk mengobati luka lecet dikakinya. Kini ia berniat mengganti perban yang menutupi luka Luhan. Oh ya, Sehun juga yang meminta Yoona melakukan hal itu.
"Itu bukan salahmu. Salahkan si Oh Sehun itu, untuk apa dia sangat mengkhawatirkanmu seperti seorang lelaki kepada kekasihnya?"
Dan entah bagaimana asalnya, pipi Luhan merona akibat satu kalimat terakhir Yoona.
…
Ya. Ya. Ya. Aku sudah sampai di depan apartment-nya. Menunggu Luhan membuka pintu dan aku akan menemaninya seharian penuh. Puas?
Sehun tersenyum kecil setelah membaca sebuah pesan yang ia terima barusan. Mengusak rambut basahnya dengan handuk putih kecil, Sehun lalu meraih cangkir berisi cairan hitam pekat yang menjadi temannya setiap hari. Sangat melegakan, apalagi setelah mengetahui Yoona menyanggupi permintaannya untuk menemani Luhan tatkala gadis itu masih terpuruk pasca kejadian kemarin malam. Sehun ingin Yoona menjadi teman Luhan sehingga gadis itu bisa melupakan sedikit masalahnya, kendati Sehun tidak bisa leluasa melindungi gadis yang disukainya.
Ya, Sehun menyukainya. Xi Luhan.
Sehun menyadari saat pikirannya tidak bisa berhenti berputar tentang Xi Luhan dan membuatnya gagal terlelap. Segala hal tentang Luhan berhasil menyingkirkan mimpi-mimpi Sehun dan membuat lelaki itu tidak bisa tidur hingga pukul empat pagi. Tentang mata rusa yang berkilau layaknya diamond dan senyuman selembut awan, Sehun selalu menyukai hal kecil yang mampu membuatnya berdebar itu. Sehun belum pernah merasakan debaran aneh tapi luar biasa menyenangkan, jantungnya menggila, dan kebekuan anggota tubuhnya hanya karena seorang gadis, hingga Sehun percaya apa yang dirasakannya bukan sekedar suka pada keindahan fisik semata. Sehun seorang model, bukan hal sulit jika hanya ingin melihat keindahan fisik partner modelnya. Sedangkan kali ini berbeda, sangat berbeda karena Sehun melibatkan hatinya dalam melihat gadis asal China itu.
Entah apa yang dilakukan Luhan pada hidupnya, Sehun tidak tahu. Yang ia tahu adalah Sehun tidak ingin melihat keterpurukan gadis itu dan menginginkan senyuman tetap terpatri di wajahnya.
Dan yang jelas Sehun paham, ini bukan hanya rasa menyukai yang biasa.
Sehun kembali ke alam sadar saat ponselnya kembali bergetar. Menampilkan nama Im Yoona, dan Sehun tidak perlu banyak waktu untuk segera membukanya.
Aku sudah masuk di apartment-nya. Aku sudah mengobati kakinya dan megambilkannya pakaian yang layak. Perlu bukti? Kau bisa kemari!
Sehun kembali tersenyum kecil. Dalam hati ia sangat berterima kasih pada Yoona yang mau memberi perhatian untuk Luhan. Yeah, walaupun Sehun tidak perlu khawatir karena Yoona dan Luhan lebih dekat ketimbang dirinya dan Luhan. Sehun yakin Yoona menemani Luhan juga sebagai teman dekat yang simpati terhadap musibah temannya.
Sehun mengetikkan sesuatu di ponselnya sebelum ia menyesap cairan hitam pekat hangat favoritnya. Seperti yang Joonmyeon katakan, ia tidak memiliki jadwal pemotretan hingga esok hari. Di tambah lagi, tidak ada jadwal kuliah menanti hari ini membuat Sehun bisa bersantai seharian sekaligus mendapatkan kebosanannya. Tentu saja, selama ini yang menghabiskan waktunya hanyalah kuliah dan pemotretan.
Sebelum Xi Luhan hadir dan membuat waktu Sehun terbuang untuk memikirkannya.
Kami akan berangkat kuliah. Si keras kepala bersikeras ke kampus menghadiri kelasnya.
"Sial…"
Sehun berdesis lirih begitu menyadari kemungkinan bahaya lain dari orang yang sama yang menimpa Luhan. Bukan tidak mungkin Jinwoo kembali menemui atau lebih parah mendekati Luhan setelah kejadian kemarin dan yang tidak diharapkan adalah lelaki itu akan semakin berbuat berengsek.
Gadis itu… andaikan saja Sehun memiliki hak untuk melarang gadis itu ke kampus dan bertemu dengan lelaki berengsek itu walaupun lelaki itu tidak berkuliah disana.
Tidak perlu waktu lama bagi Sehun untuk mengganti pakaian santainya menjadi kemeja biru langit yang menaikkan derajat ketampanannya. Ia-pun bergegas mengambil kunci mobil dan dompetnya untuk mendatangi kampus, namun bukan untuk menghadiri kelas tentunya.
…
Luhan menguatkan dirinya saat mata rusanya menangkap sosok lelaki yang dalam sekejab menjadi orang yang ingin ia hindari hingga rasanya tidak ingin melihatnya lagi. Luhan tahu Jinwoo menyadari kedatangannya dilihat dari lelaki itu yang tiba-tiba tersenyum membuat Luhan berusaha mengatur langkahnya agar biasa-biasa saja. Ia tidak boleh terlihat lemah, terlihat takut untuk berhadapan dengan lelaki yang nyaris menghancurkan masa depannya. Dengan melihat Luhan lemah maka Kim Jinwoo akan merasa dirinya menang dan berhasil membuat Luhan menyerah akan kekeraskepalaannya untuk tidak membiarkan Jinwoo mendapatkan dirinya.
"Hai, Lu? Bagaimana tidurmu, nyenyak?", tanya lelaki itu ringan, seolah tidak ada apa-apa yang telah terjadi atau dirinya yang tidak melakukan apapun.
Luhan tidak bisa mengeluarkan suara apapun dari bibirnya yang tersa beku. Tiba-tiba ingatan buruk tentang semalam menyeruak tanpa bisa di cegah. Luhan mendadak bergetar, keringat dingin mengalir dari telapak tangannya yang tergenggam erat. Sesungguhnya Luhan belum siap menghadapi lelaki itu lagi, lelaki yang berusaha berniat buruk dengan merobek pakaian Luhan dengan bantuan beberapa bodyguard-nya. Apalagi kejadian itu baru terjadi malam tadi, sehingga Luhan masih bisa mengingat wajah dan perlakuan berengsek Jinwoo terhadapnya.
Lantas apa yang bisa Luhan lakukan? Ia datang ke kampus untuk mendatangi perkuliahan penting bukan untuk bertemu lelaki itu, meskipun Luhan sudah menyiapkan diri apabila –tidak sengaja- kembali bertemu lelaki itu.
"Permisi, Tuan. Kami harus masuk kuliah.", sahut seseorang yang Luhan lupakan disebelahnya.
Yoona, gadis itu memberikan tatapan tajamnya kepada lelaki di hadapannya. Sementara tangannya menggenggam tangan Luhan yang bisa ia jangkau, hingga ia merasakan tangan gadis itu berkeringat dingin dan bergetar samar. Mengetahui Luhan yang tidak baik-baik saja, Yoona berinisiatif membawa Luhan pergi secepatnya dari lelaki yang kini tersenyum aneh. Entah apa yang ada dipikiran Jinwoo saat ini, namun Yoona yakin lelaki itu tidak akan menyerah dengan mudah.
"Sabar sebentar, Nona. Aku hanya ingin berbicara dengan temanmu. Ya kan, Lu?"
"Yoon, tinggalkan kami sebentar."
"Tapi Lu-"
"Sebentar Yoon. Aku akan menyusulmu setelah ini."
Setelah aku menyelesaikan urusanku dengan lelaki berengsek ini!
Yoona tidak ada pilihan lain selain membiarkan Luhan berdua dengan Jinwoo meskipun awalnya ragu. Yoona juga perempuan, ia tidak bisa membayangkan menjadi Luhan yang terpaksa menyelesaikan urusannya dengan lelaki tidak punya hati yang nyaris memperkosanya.
Seperginya Yoona –meskipun hanya beberapa meter dan tetap mengawasi-, Jinwoo berusaha meraih tangan Luhan yang lain namun segera ditepis oleh pemiliknya. Jinwoo kembali meraih, namun Luhan tidak hanya menepis tetapi juga melangkah mundur demi menghindari sentuhan tangan Jinwoo. Sedikit banyak sentuhan dari tangan Jinwoo mampu mengingatkan Luhan saat lelaki itu dengan kurang ajarnya menyentuh tubuh Luhan dan beruntung tidak di segala tempat.
"Luhan. Aku menyukaimu, Lu! Apa kau tidak bisa melihat perasaanku?!"
"Lepaskan!" Luhan otomatis menaikkan nada bicaranya ketika Jinwoo tidak menyerah untuk memulai skinship dengannya. Setiap orang di depan pintu gerbang utama menatapnya, namun Luhan tidak perduli sedikitpun. Ia hanya menyuarakan hatinya yang mulai jengah dengan perilaku tidak sopan Kim Jinwoo terhadapnya.
Dan dilihat dari pengakuan lelaki itu barusan, bukankah jika Jinwoo menyukai Luhan tidak sepantasnya ia melukai gadis yang disukainya? Bukankah lelaki itu seharusnya melakukan hal yang bisa membuat Luhan luluh kepadanya, bukan justru berusaha memperkosanya?
"Aku menyukaimu! Aku ingin menjadikanmu milikku, Lu! Dari awal, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Tapi kau sama sekali tidak mengerti! Kau juga lupa bahwa aku yang menyelamatkanmu waktu itu!"
"Ya. Aku tahu kau menyukaiku!", Luhan menyahut dengan air mata yang siap terjatuh, namun ia sekuat tenaga untuk bertahan. Bertahan bersama dengan nafas yang sesak dan emosi yang akan meledak. "Tapi… tapi aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Sedikitpun! Dan jika boleh memilih, aku lebih baik kehilangan semua barang berhargaku daripada aku ditolong oleh lelaki bajingan sepertimu!"
Kontan Jinwoo membelalak kaget. Ia tak menyangka gadis yang menurutnya lemah seperti Luhan bisa berucap dengan nada makian didalamnya. Langkahnya mendekati Luhan seiring dengan emosinya yang kian memuncak. Sebenarnya apa yang diinginkan Luhan, yang tidak Jinwoo miliki hingga membuat gadis itu dengan mudah menolak lelaki yang memiliki banyak gadis yang mengincarnya?
"Katakan sekali lagi, dan aku akan melakukan tindakan yang lebih daripada semalam!", ucapnya rendah, sedikit banyak menakuti Luhan hingga membuatnya mundur langkah demi langkah.
Luhan ketakutan. Tidak perlu menanyakannya karena gurat ketakutan Nampak diwajahnya. Namun Luhan tetaplah Luhan, si gadis keras kepala yang berusaha terlihat berani berhadapan dengan lelaki berengsek seperti Jinwoo.
"Ingat, semalam kau hanya beruntung. Beruntung karena aku belum berhasil menjamah-" Jinwoo memperhatikan tubuh Luhan dari atas hingga kaki dengan seringaian disudut bibirnya. "-menjamah tubuh secantik ini."
PLAK!
"Apa yang kau lakukan, jalang?!", seru Jinwoo tidak terima dengan perlakuan Luhan yang menampar pipi kirinya. Selama ini tidak ada yang berani menampar dirinya, terutama gadis-gadis karena mereka tidak berharap mencari masalah bagi lelaki berteramen keras itu. Sementara Luhan terengah-engah, merasakan tangannya panas kendati pikirannya terpaku pada satu kata.
Jalang?
"Yak! Apa yang kalian lakukan?! Lepas!"
"Hahaha!"
"Lepaskan aku! Lepas! Tolong!"
BUGH!
"Arggh! Jalang sialan! Kejar jalang itu!"
"Tolong!"
"ARRGHHH!" Luhan menggeleng kuat saat ingatan menakutkan itu terlintas di otaknya. Ingatan semalam, saat ia mendapati pakaiannya robek ditangan kasar pria-pria bertubuh tambun, Ia yang berhasil melarikan diri, berlari, terjatuh, dan beruntung bertemu seseorang yang menyelamatkannya. Semuanya terlihat sangat jelas seolah sedang terjadi saat ini dan Luhan tidak membutuhkan yang lain kecuali seseorang yang bisa membuatnya menjauh dari Kim Jinwoo.
Jika bisa, selamanya.
"Luhan…" Yoona sudah tidak mampu menahan keterdiamannya, ia melangkah mendekati teman baiknya yang sudah dipastikan tidak baik-baik saja itu. Yoona ingin segera membawa Luhan kedalam pelukannya dan menenangkannya. Namun tiga langkah terlewati, ia justru berhenti.
BUGH!
"Jangan mengganggunya lagi kalau kau masih ingin hidup dengan benar, berengsek!"
Itu suara lelaki. Tentu bukan Luhan dan Yoona serta Jinwoo yang kini malah tersungkur merasakan darah di ujung bibirnya. Lelaki yang baru saja tiba itu segera menopang tubuh Luhan yang nyaris limbung menyentuh tanah. Menopang dengan kedua lengannya dan membawa wajah Luhan di dadanya.
Sebuah pelukan yang menenangkan. Ya, Luhan membutuhkannya.
"Kau oke?"
Luhan mengangguk lemah dalam pelukan lelaki itu. Tapi tentu saja anggukannya tidak sesuai dengan kondisinya. Ia masih bergetar, berkeringat dingin dan kini ditambah dengan tubuhnya yang melemah.
Dengan isyarat jari, lelaki itu menyuruh Yoona untuk membawa Luhan pada mobil yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Luhan-pun tidak kuasa untuk menolak, karena tubuhnya sungguh lemah setelah ingatan berengsek terus berputar di otaknya. Tak sedikitpun Luhan mendengar bisik-bisik riuh disekitarnya yang bertanya-tanya apakah yang sebenarnya terjadi. Sebelum benar-benar menjauh, Luhan dapat mendengar lelaki itu kembali berucap meskipun tidak berbicara kepada dirinya melainkan Yoona.
"Jaga Luhan, Yoon. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan lelaki bajingan itu!"
"Ya. Aku tahu tugasku, Sehun."
Apa? Jadi Sehun Sunbae lagi?, batinnya berucap. Namun Luhan masih terdiam dan hanya menurut ketika Yoona menuntunnya ke dalam mobil dengan sedikit tertatih mengingat luka di lututnya belum sembuh. Mobil itu Yoona hidupkan, hingga menciptakan hembusan AC yang mampu menenangkan Luhan dengan sensasi dinginnya.
Setelah itu hanya keterdiaman yang mendominasi. Yoona membiarkan Luhan menenangkan diri terlebih dahulu, sebelum nanti ia akan membicarakan sesuatu yang mungkin penting bagi Luhan. Soal Sehun, seseorang yang mudah ditebak oleh Yoona jika memiliki perasaan khusus untuk gadis disebelahnya kini. Yoona tidak perlu menanyakannya secara langsung, karena orang yang dekat dengan Sehun pasti paham ada yang berbeda dari setiap tindakannya terhadap Luhan.
Meskipun Yoona tidak dekat secara personal pada rekan kerjanya itu, namun karena Sehun terlalu gamblang menunjukkan ketertarikannya membuat Yoona menarik satu kesimpulan,
Sehun menyukai Luhan. Yang Yoona harapkan bukan hanya sekedar perasaan suka seperti si berengsek Jinwoo.
"Aku bodoh, ya?"
Yoona tersentak saat Luhan tiba-tiba bertanya. Luhan membuka mata setelah awalnya terpejam beberapa menit. Mata rusa itu menatap kosong dan tidak ada genangan air mata yang menunjukkan Luhan ingin menangis.
"Aku tidak bisa memberikan penolakan secara jelas kepadanya. Aku seperti memberinya harapan untuk mendapatkanku." Yoona tahu siapa yang Luhan maksud dengan "nya". Tampaknya gadis itu tidak ingin mengeja nama Kim Jinwoo lagi bahkan sampai kapanpun.
"Ini bukan salahmu, Lu. Meskipun aku banyak melihat lelaki playboy yang mengincar seorang gadis, tapi aku tidak pernah melihat lelaki yang tega berbuat bejat hanya karena obsesinya."
"Obsesi?"
"Ya. Lelaki itu hanya terobsesi padamu. Ingin memilikimu, dan akan memperoleh kepuasan setelah mendapatkanmu."
Luhan diam tak menanggapi, akan tetapi dalam hati ia menyetujui ucapan Yoona.
Luhan menghela nafas berat, menfokuskan pandangannya ke arah depan tanpa sedikitpun tertarik dengan hal apa yang akan Sehun lakukan kepada Jinwoo. Tepukan pelan dibahunya membuat Luhan menoleh sebentar. Binar mata yang penuh kesedihan terpajang cuma-cuma dihadapan Yoona membuat gadis itu memutuskan untuk memberikan Luhan sedikit waktu sendiri.
"Aku keluar. Kau butuh waktu sendiri." Luhan mengangguk lemah, membuat Yoona tidak tega untuk meninggalkannya. Namun, Luhan benar-benar membutuhkan waktu sendiri sekarang.
"Menangislah, Lu. Luapkan segala kebencianmu kepada berengsek itu. Tapi kau juga harus tahu, ada seseorang yang tidak ingin melihat air mata dimatamu. "
Dan setelah itu Yoona pergi keluar, meninggalkan Luhan dengan genangan air menggantung di mata rusanya. Juga kebingungan, siapa yang dimaksud Yoona dengan seseorang itu?
…
BUGH!
"Jangan mendekatinya lagi, Brengsek!"
BUGH!
"Ini untuk kelakuanmu selama ini!"
BUGH!
"Dan ini untuk kelakuan bejatmu semalam!"
BUGH!
"Sehun!"
Sehun tidak sedikitpun menghiraukan seruan yang ditujukan kepadanya. Ia terlalu kalap, tidak membiarkan Jinwoo memberinya luka pukulan sebanyak yang ia lakukan demi membalas perlakuan busuk Jinwoo kepada Luhan.
"Sehun! Cukup! Kau bisa membunuhnya!"
"Aku harus membunuhnya, Yoon! Dia lelaki berengsek tak punya hati! Lepaskan!"
Yoona terpaksa meminta bantuan pada para lelaki yang berada disekitarnya. Paling tidak ada tiga lelaki yang menahan Sehun untuk tidak benar-benar membunuh Jinwoo sekarang juga. Itupun tidak mudah untuk menahan lelaki yang sudah tertutup kabut emosi yang begitu besar itu.
"Dan kau!" Yoona menunjuk Jinwoo tepat di hidungnya, tidak berniat menolong lelaki itu meski kini ia terduduk lemah dengan bekas pukulan merata di seluruh wajahnya hasil tangan emosi Sehun. Aroma anyir darah semakin membuat Yoona enggan mendekati lelaki berengsek pengganggu Luhan selama ini. "Bangun! Dasar pengecut! Kau tak ubahnya seorang pengecut yang berlindung di balik tubuh bodyguard-mu!"
Sebelas dua-belas dengan Sehun yang kalap, Yoona juga merasakan emosinya terbakar hingga ubun-ubun. Ditambah lagi dengan perasaan kuat sebagai perempuan, Yoona sangat tidak terima dengan perlakuan pelecehan yang dilakukan kepada Luhannya, teman terdekatnya.
Kemudian Yoona berjongkok untuk menyamakan tingginya dan berucap dengan suara rendah,
"Mungkin pukulan Sehun tidak sebanding dengan kesakitan Luhan, tapi, aku ingin ini yang terakhir kali aku melihatmu disekitar Luhan. Jangan mendekatinya dan membuatnya takut lagi karena obsesi gilamu itu. Kau harus ingat Luhan tidak akan menerimamu meskipun kau berusaha mengambil keperawanannya. Ingat itu!"
Yoona berbalik dan memberikan isyarat kepada ketiga namja yang menahan Sehun untuk melepaskan Sehun dan berterimakasih setelahnya. Matanya yang masih berkilat emosi menyalang ke sekitarnya, dan orang-orang yang bergerombol tidak perlu waktu lama untuk menangkap maksud dari kilatan mata Yoona itu.
Yoona hanya ingin mereka bubar dan menyimpan rasa penasaran mereka karena tidak akan ada jawaban yang terungkap. Biarlah mereka bergossip sesuai dengan apa yang mereka lihat secara langsung dan Yoona tidak perduli.
Setiap orang membubarkan diri dan tidak perduli dengan pemuda asing di kampus yang masih terduduk lemah menikmati rasa sakit. Yoona dan Sehun-pun demikian. Lalu Yoona menaruh perhatian pada luka di sudut bibir Sehun yang berdarah, namun Yoona menduga Sehun tidak mengetahuinya. Lelaki itu tidak akan merasakan sakit apapun selama dipikirannya hanyalah membalas perbuatan seorang lelaki bejat yang pernah menjadi teman sekolahnya dulu.
"Seharusnya kau membiarkanku membunuhnya. Jadi Luhan tidak akan bertemu bajingan itu selamanya." Sehun membersihkan lengan kemejanya yang terkena debu sembari melirik keberadaan Jinwoo sebentar beserta decih memuakkan dari bibirnya.
"Kurasa itu tidak perlu. Luhan lebih membutuhkan kau daripada mayat lelaki itu."
Sehun tertegun barang sejenak, membuatnya teringat akan sosok gadis yang mulai beberapa waktu lalu mengisi hatinya. Sehun hanya melihat sekilas ekspresi Luhan tadi, dan ia memastikan gadis itu tidak dalam kondisi yang baik.
"Setidaknya buatlah Luhan nyaman denganmu. Meskipun aku sendiri tidak tahu, apakah Luhan menerima perasaanmu atau tidak."
Jadilah Sehun bergegas menghampiri Luhan, tidak ia perdulika meskipun Yoona jelas-jelas mengetahui perasaannya. Apakah terlihat jelas?
Sesampainya di depan mobilnya sendiri, Sehun menggerakan tangannya ragu untuk membuka pintu. Sehun menduduki jok kemudinya dengan kikuk. Ia berdehem sejenak untuk membasahi kerongkonganya sekaligus memberitahu Luhan jika dirinya ada disana. Karena semenjak Sehun datang –atau mungkin sebelumnya-, Luhan menundukkan kepala dan menjadikan tangannya sebagai bantal untuk bersandar di dashboard. Barulah ketika Sehun berdehem, ia mengangkat kepala. Menunjukkan wajah basahnya.
"Ku-kurasa kau harus menenangkan diri. Membolos sekali tidak apa-apa kan?"
Luhan mengangguk menyetujui. Dilihat dari kondisinya, Luhan tentu tidak bisa menerima ilmu dari dosen dengan baik. Ditambah lagi banyaknya pasang mata yang melihat kejadian barusan tentu membuat mereka tak segan bertanya langsung kepada Luhan.
"Lalu Yoona?"
"Jangan khawatirkan Yoona, tetapi khawatirkan dirimu sendiri."
Lalu Luhan kembali terdiam dengan berbagai pikiran yang merasuki otaknya sedari tadi. Ia juga diam saja saat Sehun mengendalikan mobilnya membelah jalanan pagi kota Seoul. Mungkin Sehun akan membawanya ke suatu tempat?
Pantai musim panas menjadi tujuan Sehun. Lelaki itu keluar dari mobilnya, membiarkan Luhan di dalam bersama kondisi yang kacau, entah menangis ataupun meraung Sehun akan menutup telinga. Angin pantai dan sinar hangat mentari menerpa kulit putih susu Sehun dan ia memperoleh ketenangan dari sana. Lalu ia melepaskan sepatunya, membiarkan kakinya bersentuhan dengan lembutnya pasir ombak kecil menyapa kakinya.
Sesuatu mengusik keterdiaman Sehun hingga membuat syarafnya menegang, nafasnya tersendat, dan ia kesulitan mencari kata untuk menanyakan apa yang Luhan lakukan. Kenapa tangan gadis itu bisa melingkar di pinggang Sehun?
"Yoona bilang, seseorang tidak akan suka melihatku menangis." Luhan berucap kendati tangannya masih melingkar erat di pinggang Sehun dan kepalanya yang bersandar di punggung lelaki itu. Berbalik dengan Sehun yang tidak berkutik, Luhan justru merasakan kenyamanan tak terkira dari tubuh tinggi dihadapannya. Perasaannya tiba-tiba menghangat dan sejuk dalam waktu bersamaan. "Jadi aku tidak menangis demi orang itu."
Sehun tidak mengerti, ia-pun melepaskan lingkaran tangan Luhan dan beralih menatap mata rusa dihadapannya.
"Sehun…" Suara lirih yang menggetarkan. Sehun tidak bergerak dan masih menyimpan tangan Luhan dalam genggamannya.
"Bolehkah aku menebak, kalau orang itu adalah kau?"
Sehun merasakan tubuhnya kembali menegang. Apakah itu berarti Luhan mengetahui perasaan Sehun terhadapnya? Jika iya, lantas apa yang akan Sehun lakukan? Apakah gadis itu akan menjauhinya?
"Aku sangat berharap, jika orang itu adalah kau. Oh Sehun."
Layaknya diguyur oleh air lembah, Sehun merasakan tubuhnya sejuk bukan main. Tanpa diucapkan dengan jelas, Sehun sudah paham apa makna dibalik ucapan lirih Luhan yang memasuki gendang telinganya. Gadis itu, yang matanya terlihat memerah tetapi berusahan menahan air matanya.
Gadis itu, yang begitu mudah memasuki hati Sehun hingga sudut terkecil disana.
Gadis itu, yang Sehun inginkan untuk berada dalam dekapannya sekarang juga.
Karena itu Sehun membawa tangan Luhan melingkari perutnya. Sedikit meringis karena ia mendapat pukulan dari Jinwoo tepat di bagian sana. Tapi Sehun akan mengabaikannya, demi memeluk erat gadis rapuh yang tidak ia sangka menjadi pemilik hatinya.
"Ya. Itu aku. Terima kasih, untuk tidak menjauhiku." Sehun merasakan matanya memanas. Ugh! Haruskah ia menangis?
"Ternyata firasatku benar." Sehun sempat mendengar Luhan bernafas lega. Sebegitu berharapkah Luhan? Lalu, apa yang membuat gadis itu berharap?
Luhan mendorong pelan dada Sehun untuk kembali menatap mata tajam yang disukai berpuluh-puluh perempuan itu. "Terima kasih, Sehun. Kau telah menjadi penyelamatku beberapa kali, tentu aku tidak akan menjauhimu."
Sehun terlalu senang hingga kata-katanya hilang terbawa angin pantai. Mengetahui gadis itu tidak marah untuk perasaannya, sudah membuat Sehun senang tak tertolong. Sehun tidak berharap banyak Luhan akan menerima perasaannya, ia tak ingin memberatkan Luhan akan perasaannya sendiri.
"Bisakah aku meminta tolong sekali lagi?"
"Apa itu?"
"Buat aku menyukaimu, sebanyak perasaanmu untukku. Bisakah?"
Haruskah Sehun melompat kekanakan untuk mengekspresikan kebahagiaannya? Itulah satu kalimat yang paling berpengaruh untuk Sehun hingga rasanya menghancurkan detak jantungnya.
"Kau lupa aku siapa? Aku Oh Sehun, lelaki yang memiliki charisma yang tak bisa kau tolak." Terselip canda didalamnya, membuat Luhan tersenyum senang.
Mungkin beberapa jam lalu Luhan merasakan hidupnya seperti di neraka. Ia harus menangis sesenggukan untuk menghilangkan sesak yang menyelimuti dadanya. Dan kini ia harus berterima kasih pada Oh Sehun. Lelaki yang menyelamatkannya, menyediakan dekapan menenangkan, dan membuat Luhan bersedia menerima keberadaan lelaki disisinya dengan satu kalimatnya,
"Ku harap kau tidak trauma dengan namja setelah kejadian itu."
…
END OF FLASHBACK!
…
HAPPY NEW YEAR READER-NIM, REVIEWER-NIM, DAN SIDER-NIM TERSAYANG!
Udah telat 13 hari padahal -_- Maaf, maaf banget yaa. Maaf baru bisa apdet setelah satu bulan berlalu. padahal chapter ini udah selesai waktu itu, tapi karena nggak ada internet jadilah jadwal publishnya telat *cry*. Mau pakek hotspot, tapi tetep gakbisa buka ffn. Jadilah bikin reader-nim menunggu sampe lumutan *sorry* Dan inilah chapter terpanjang yg bisa aku buat, 5k+ ditambah cuap2 kkkkkk. Itung2 sbg permintaan maaf yg tulus dari saya.
Finally, maaf kalau mengecewakan dari segi ceritanya. Aku udah nggak baca ulang, jadi kalau ada typo berarti anda tidak beruntung *bow*. Last sentence, please give me some words as review! Review kalian sangat dibutuhkan *swear!* THANKS!
