[AWESOME DATE]

Mata rusa yang sebelumnya terpejam erat kini terbuka perlahan. Mata itu lantas mengernyit sebentar tatkala sinar matahari tanpa permisi menerobos pandangannya menyilaukan. Gorden tipis berwarna soft blue yang menutupi jendela besar menghadap timur meringsek terbuka secara otomatis. Menimbulkan suara yang sedikit banyak mengumpulkan kesadaran Luhan setelah tujuh jam mengarungi dunia mimpi.

"Pagi, Nona. Waktunya sarapan."

Luhan terkekeh dibalik matanya yang masih setengah terpejam. Kalimat pertama yang ia dengar di pagi hari, ia mengenal pemilik suara itu tanpa perlu membuka matanya. Ia lalu merenggangkan otot, membalikkan tubuh ke kanan-kiri dua kali sebelum mendudukan diri.

Cup!

Satu kecupan hadir di pipi kanan Luhan, berhasil membuat kesadarannya benar-benar penuh. Luhan menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman manis yang jarang ia perlihatkan kepada lelaki. Kecuali kekasihnya.

Oh Sehun. Lelaki itu sudah siap dengan kemeja rapi berwarna biru gelap, wajah segar, dan aroma maskulin yang menyeruak memasuki hidung Luhan. Membuat gadis itu menarik nafas dalam-dalam untuk menyesap aromanya yang sangat menenangkan.

"Ayo bangun!" Bukan hanya memerintah, Sehun juga menarik lengan ranting Luhan untuk membangkitkan gadis itu hingga benar-benar berdiri. Membangunkan Luhan bukan hal yang mudah dan akan membuang banyak waktu. "Cuci mukamu, gosok gigi, dan segera ke dapur. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."

Luhan mengangguk patuh dan gusakan kepala hadir di puncak kepalanya. Sehun menyukai Luhan yang patuh seperti ini tanpa harus mendengar tolakan berupa rengekan dari bibir si gadis keras kepala. Selanjutnya Luhan ke kamar mandi di ujung kamar dan Sehun kembali ke dapur. Lelaki itu memandang puas hasil karyanya berupa sandwich tuna kesukaan kekasihnya. Ia memang tidak yakin dengan rasanya, namun segala sesuatu yang dibuat dengan cinta pasti tidak mengecewakan, kan?

Sehun terkekeh kecil dan tersentak merasakan sesuatu menyentuh bahunya. "Kau kenapa?", tanya Luhan.

Sehun berdehem kikuk, ini memalukan mengetahui Luhan melihatnya terkekeh sendiri.

"Duduklah. Aku menyiapkan sarapan special untukmu."

Mata rusa Luhan melebar, menaruh pandangannya ke arah makanan yang tersaji di atas piringnya. Sehun tersenyum melihat mata Luhan berbinar.

"Sandwich?"

"Ya. Tuna sandwich. Aku membuat sendiri tapi aku tidak yakin dengan rasanya, jadi-"

"Sehun, aku akan mencobanya!"

Luhan menggigit ujung roti dengan semangat. Melupakan fakta bahwa dirinya baru bangun tidur sepuluh menit yang lalu dan langsung mengisi perutnya. Well, tidak masalah sebenarnya. Apalagi Oh Sehun sedang berbaik hati memberikan sarapan untuk kekasihnya yang akhir-akhir ini semakin sibuk dengan tugas kuliah.

"Bagaimana?"

Luhan mengangkat ibu jarinya. "Enak!"

Sehun tersenyum lega mengetahui karya sandwich tuna pertamanya tidak mengecewakan.

Sehun ikut menyantap sandwich tuna yang ada di hadapannya dengan ringkas. Memakan pelan sembari mengamati Luhan yang masih makan dengan lahapnya.

"Besok-besok buatkan lagi ya, Hun!", ucap Luhan membuat Sehun tertawa dan mengusak puncak kepala Luhan. Sehun mengarahkan gelas berisi susu cokelat ke hadapan Luhan untuk diminum gadis itu, sementara ia meminum pula susu cokelatnya tanpa suara.

"Aku tidak janji." Luhan menaikkan sebelah alis. "Aku kan orang sibuk. Sekarang saja Joonmyeon Hyung sudah menungguku di bawah."

"Apa?!" Luhan berteriak dengan tidak elitnya. "Dan kau masih disini? Kau mau mendapat omelan dari Joonmyeon Oppa?"

Sehun tersenyum kecil sembari mengusap sudut bibir Luhan yang terkena saus mayonnaise. "Tidak masalah, asalkan aku bisa membuatkan makanan untuk kekasihku yang super sibuk ini.", ujar Sehun dengan tambahan sindiran. Luhan yang super sibuk sama saja dengan Luhan yang amnesia dengan makan. Pola makannya menjadi tidak teratur dan mengeluhkan asam lambung setelahnya seperti tempo hari.

"Ya. Ya. Ya. Aku sudah makan sekarang. Sana berangkat!"

"Kau mengusirku?"

"Joonmyeon Oppa menunggumu."

"Bahkan setelah aku mengkhawatirkan perutmu?"

"Khawatirkan saja telingamu kalau sampai Joonmyeon Oppa mengomel."

"Tapi-"

"Sehuuuun."

Sehun mendengus dan mencuri satu kecupan di bibir tipis Luhan sebelum mengambil barangnya di sofa. Membantah Luhan sama dengan memecah batu tebing dengan tangan kosong. Useless.

Lagian Luhan benar, mendengar omelan Joonmyeon tentang keterlambatan akan sangat membuang waktu.

"Aku berangkat. Mungkin jadwalku selesai nanti siang. Nanti ku jemput, oke?"

...

Menjadi mahasiswi semester pertengahan bukanlah hal yang mudah. Luhan harus bisa membagi waktunya dengan baik tanpa mengesampingkan kesenangannya yang sangat diperlukan untuk meredakan stress. Dan diantara kesibukannya, terkadang Luhan memikirkan Sehun, membayangkan lelaki itu yang memiliki kesibukan dua kali lipat dibandingkan Luhan mengingat pekerjaan lelaki itu sebagai model yang cukup terkenal. Tak jarang Luhan ingin tahu apa yang Sehun lakukan saat jadwal dan tugas kuliah berbenturan dengan jadwal pemotretan, apa yang akan lelaki itu prioritaskan namun Luhan tidak memiliki waktu untuk bertanya hal itu.

Di samping pekerjaan kuliah yang belum ada habisnya, diam-diam Luhan membuat sebuah karya fiksi yang tidak ia beritahu kepada siapapun. Termasuk Yoona atau Sehun yang hampir setiap hari bersamanya. Luhan hanya kurang percaya diri dengan kesenangannya itu, apalagi ia bukan mahasiswi sastra yang memiliki keahlian dalam bidang tulis-menulis. Luhan memang menyukai karya fiksi, dilihat dari beberapa novel berbahasa Inggris atau terjemahan yang tersusun apik di rak kecil apartmennya. Ia akan membacanya saat memiliki waktu luang sembari menyesap susu cokelat hangat, namun belum tercapai akhir-akhir ini karena kesibukannya.

Jadwal kuliah Luhan selesai tepat pukul dua siang. Bersyukurlah tidak ada tugas yang membuat Luhan betah di dalam perpustakaan hingga sore hari seperti sebelumnya, karena tugasnya hari ini hanya membuat essay yang bisa ia kerjakan di apartmentnya.

"Sehun sudah menjemput tuh.", ucap Yoona seraya menunjuk suatu arah dengan dagunya. Arah dimana sebuah mobil sport terparkir dan beberapa mahasiswi sengaja memelankan langkah demi mengintip Sehun yang terlihat -semakin- tampan dengan kacamata hitam bertengger dihidung bangirnya.

Luhan memandang aneh para mahasiswi yang masih betah berjejer di sekitar mobil Sehun. Oke, Sehunnya memang si model luar biasa tampan. Tapi, yah bagaimana rasanya saat kekasihmu dilihat sebegitu intens oleh banyak gadis selain risih? Namun Luhan tidak berkomentar lebih banyak dan memilih berpamitan dengan teman-temannya.

"Aku pulang dulu. Bye!"

"Oke."

Luhan menghampiri mobil Sehun dengan langkah ringan. Entah kenapa mood-nya sangat bagus hari ini. Apa mungkin karena Sehun yang sibuk luar biasa itu mau meluangkan waktu untuk menjemputnya? Bisa jadi.

"Sudah selesai?", tanya Sehun lalu menjalankan mobilnya. Sebelumnya lelaki itu sempat menyapa Yoona dan teman Luhan lainnya dengan lambaian tangannya dari jauh.

"Heum!"

"Dapat tugas apalagi dari Mr. Han?"

"Hanya satu, ringan pula. Aku tidak tahu kenapa tapi sepertinya Mr. Han sedang berbaik hati pada mahasiswanya."

Sehun menanggapi dengan kekehan. Ia juga mengenal tabiat killer salah satu dosennya itu tahun lalu. Selain killer tetapi juga selalu bersemangat memberi tugas kepada mahasiswanya. Terkadang hingga rasanya tidak berperikemahasiswaan.

"Lu?"

"Hm?"

"Apa rencanamu setelah ini?"

"Maksudnya?"

"Kau tidak ada keinginan mendatangi suatu tempat setelah ini? Kebetulan aku sedang free, jadi bisa mengantarmu kemanapun kau pergi."

"Apa ini semacam kencan?" Binar mata rusa Luhan bersinar cerah saat menatap Sehun. Sehun melirik mata itu sekilas, sebelum kembali sibuk dengan kemudinya. Bisa bahaya kalau ia terjebak dengan kilauan bening si mata rusa itu.

"Yah, anggap saja seperti itu."

"Hmm sebenarnya aku ingin ke suatu tempat."

"Dimana itu? Ayo kita kesana!"

"Tapi aku tidak membawa bekal."

"Kita bisa membeli di supermarket kalau begitu. Call?"

"Call!"

Luhan mengangguk semangat membuat Sehun mengusap rambut Luhan hingga berantakan. Merasa puas dengan karya tangannya meski si pemilik rambut memanyunkan bibirnya sebal.

Sehun tidak tahu darimana Luhan tahu tempat ini. Yang pasti saat Sehun membuka pintu mobil dan mengikuti Luhan yang telah keluar terlebih dulu, Sehun benar-benar merasakan apa itu keindahan alam. Keindahan yang tersaji cuma-cuma dan berhasil memanjakan penglihatannya.

"Sehun!"

Sehun memandang Luhan tanpa berkedip. Disana, di jarak lima meter tempat Sehun berdiri, Luhan tampak bersinar diantara tumbuhan ilalang yang tumbuh setinggi bahu. Sehun kembali terpesona terhadap gadis mungil berparas cantik bak dewi kecantikan bernama Xi Luhan. Ya Tuhan! Berapa kali Sehun terjerat pada pesona gadis itu?

Luhan melambaikan tangannya seolah menyuruh Sehun untuk menghampirinya. Sesekali ia mengusap rambutnya ke belakang karena terhempas angin.

"Sehun! Kemari!" Luhan berseru nyaring kembali dan berhasil menarik Sehun pada dunia nyata. Rupanya Sehun tengah melamunkan Luhan hingga tanpa sadar mematung di tempatnya berdiri.

Sehun tersenyum dan mengikuti Luhan ke dataran yang lebih tinggi daripada sekitarnya. Lalu diam-diam membawa tubuh gadis mungil yang membelakanginya itu dalam rengkuhan nyamannya.

"Sehun!" Itu bukan panggilan melainkan kekagetan Luhan mendapati tangan Sehun melingkari perutnya. Nafas lelaki itu terasa di tengkuk Luhan hingga membuatnya meremang.

"Darimana kau tahu tempat seindah ini, hm?", tanya Sehun dengan dagu yang bersandar di bahu Luhan sambil menghirup aroma tubuh gadis itu. Luhan? Jangan bertanya reaksinya. Jantungnya berdegup sangat kencang dan tanpa sadar ia menahan nafas. Perilaku Sehun memang tidak lebih dari back hug yang biasanya Luhan lihat di drama televisi, namun ternyata rasanya berbeda jika Sehun yang melakukannya. Lelaki itu seperti melakukan hal romantis dengan caranya sendiri dan back hug menjadi salah satu hal romantis itu.

"Y-Yoona yang memberitahuku." Dengan susah payah Luhan mengumpulkan suaranya. "Katanya tempat ini adalah salah satu tempat terindah yang jarang di kunjungi orang."

"Jadi kau sengaja mencari tempat yang sepi untuk kencan kita?" Niat Sehun yang hanya menggoda ternyata ditanggapi serius oleh Luhan. Akibatnya adalah wajah Luhan merona tanpa diperintah.

Mungkin niat awal Luhan datang kemari adalah ingin membuktikan perkataan Yoona tentang menariknya tempat ini, namun setelah Sehun menawarkan diri untuk mengantarkan Luhan membuat Luhan berubah pikiran. Luhan menganggap detik ini adalah kencan yang sangat ia impikan dimana tidak ada orang lain selain dirinya dan Sehun. Mengingat Sehun adalah lelaki yang selalu menjadi pusat perhatian, Luhan tidak merasa nyaman saat orang-orang yang memperhatikan Sehun ikut memperhatikannya juga. Luhan ingin memiliki waktu berkualitas dengan Sehun layaknya pasangan biasa, dimana tidak ada orang lain yang perduli dengan keduanya.

Sehun mengeratkan rengkuhannya dan salah satu tangannya meraih tangan Luhan untuk ia genggam. Sehun nampak menikmati moment yang sangat berharga dan langka ini. Berdua dengan Luhan tanpa terganggu oleh berpasang-pasang mata yang menatapnya penuh pemujaan. Oh, ternyata Sehun juga merasakan hal yang sama seperti Luhan.

"Ternyata Yoona benar, tempat ini sangatlah indah." Luhan berucap lirih, dengan pandangan yang terpaku pada sekelilingnya. Ladang ilalang yang diterpa angin sore, pemandangan laut yang terlihat jelas di kejauhan, dan dilengkapi oleh semburat jingga yang mulai muncul di ufuk barat. Masih pukul empat sore, tapi musim gugur-lah yang membuat siang hari lebih singkat dari biasanya.

"Dan kau membuat keindahan itu semakin lengkap.", sela Sehun dan langsung mendapat tepukan di punggung tangannya.

"Dasar perayu!"

Sehun terkekeh dan semakin merapatkan tubuhnya untuk memberi kehangatan yang nyata di tubuh Luhan. Gadis itu sempat menggigil dan Sehun langsung membuka blazernya agar bisa menutupi tubuh Luhan juga. Perlakuan Sehun berhasil menguak ingatan Luhan, dimana waktu itu Luhan juga mendapatkan perlakuan yang sama saat Sehun berusaha melindungi Luhan. Kejadian yang cukup lama, namun Luhan masih mengingat kejadian menyakitkan itu dengan jelas.

"Ada apa?" Sehun menyadari Luhan yang melamun lantas membalikkan tubuh gadis itu untuk menatapnya. Lengannya masih melingkar di tubuh Luhan dan kini beralih pada pinggang ramping itu. Luhan menggeleng, lantas melingkarkan tangannya pada Sehun dari dalam blazer Sehun.

"Aku tidak tahu bagaimana aku jadinya saat kau tidak menyelamatkanku dulu." Sehun terdiam, telinganya selalu sensitive saat Luhan mulai mengingat kejadian menyakitkan beberapa bulan lalu. Lelaki itu takut Luhan kembali trauma karena kejadian itu. "Aku pasti tidak selamat dari si brengsek itu!"

"Lu-"

"Kau menyelamatkan seperti ini juga, kan?" Luhan menyela dengan pertanyaannya. Wajah gadis itu sudah memerah, entah karena kedinginan, merona, atau ingin menangis.

"Ya. Dan aku akan terus menyelamatkanmu sampai aku tidak sanggup menyelamatkan diriku sendiri."

Kalimat terindah yang berhasil menembus hati Luhan hingga relungnya. Mata rusa Luhan memandang tepat di mata tajam Sehun, mencari kebohongan dan keraguan disana namun ia hanya menemukan keseriusan. Ya, Sehun tidak bisa bercanda jika menyangkut gadis yang dicintainya.

"Aku mencintaimu, Xi Luhan. Aku bukan si berengsek itu! Aku berjanji tidak akan menyakitimu dan sebaliknya, membuatmu bahagia dan terlindungi adalah tujuan hidupku." Cairan bening resmi menetes di mata Luhan. Mendengar pernyataan cinta itu sukses mendamaikan hatinya dan entah mengapa membuatnya terharu. Bagaimana lelaki itu berucap, bagaimana lelaki itu menunjukkan kesungguhannya, Luhan menyukainya.

Dan Luhan menutup matanya tepat sebelum bibir Sehun menyapu bibirnya dengan lumatan lembut. Sehun selalu berhasil menaklukkan Luhan bahkan dari cara lelaki itu mencium Luhan. Lembut dan manis. Luhan seolah merasakan kasih sayang lelaki itu dari setiap perlakuan lembutnya, meyakinkan Luhan bahwa pernyataan cintanya adalah sebuah kejujuran. Sehun masih melumat bibir mungil itu, kendati tangannya terangkat dan menghapus jejak basah dari air mata Luhan. Karena air mata Luhan adalah salah satu hal yang paling dibencinya.

CKREK!

"Lihat kemari, Lu!", ujar Sehun dengan suara keras agar Luhan yang berada beberapa meter jauh darinya dapat mendengar suaranya. Lelaki itu menggenggam satu kamera Polaroid, jangan bertanya darimana ia bisa membawa kamera sedangkan kencan di alam bebas ini tidak direncanakan. Ia selalu membawa kamera kesayangannya itu kemanapun dengan meletakannya di bangku mobil belakang. Dengan begitu ia tidak perlu repot apabila ia menemukan sesuatu yang bisa ia abadikan dalam bentuk foto. Dan biasanya yang paling sering menjadi obyek adalah Luhan, namun paling sering tidak disadari oleh obyeknya. Istilahnya, candid camera.

CKREK!

"Luhan!" Sehun kembali memanggil Luhan karena hasil jepretan yang ia dapatkan tidak juga memuaskan. Hanya terlihat punggung Luhan yang berlari sehingga hasilnya memburam.

"Tidak mau!", ujar Luhan seraya berlari lincah menghindari Sehun dan kamera Polaroid-nya. Lelaki itu sibuk mengabadikan Luhan sebagai obyek dan terlihat lebih asyik dengan aktivitasnya dibanding menikmati keindahan senja. Baginya Luhan merupakan obyek paling indah daripada keindahan disekitarnya. Jika Sehun sibuk memotret Luhan, maka Luhan sibuk menikmati udara musim gugur yang dingin namun menyenangkan dan goresan oranye yang mulai nampak mengantarkan sang surya ke peraduan. Sangat indah, Luhan tidak sadar telah meloncat kekanakan dalam mengekspresikan kesukaannya. Padang ilalang itu terlalu luas untuk bisa Luhan jelajahi, jadi sebagai gantinya Luhan hanya menatap dari jauh. Tapi hal itu tidak masalah, karena pemandangan tampak lebih indah dengan hamparan laut yang ikut mengintip di kejauhan.

"Ayolah, Lu!"

"Tidak mau, Oh Sehun!" Luhan menjulurkan lidahnya, mengejek Sehun yang belum menyerah memotret Luhan dalam pose terbaiknya. Sehun tidak sedikitpun merasa kesal, ia justru merasa bahagia berkali lipat melihat Luhan bertingkah kekanakan dan ceria, melupakan sifatnya sehari-hari yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Oh, ingatkan Sehun untuk berterima kasih pada Yoona karena berkatnya Sehundapat melihat sisi lain dari Luhan yang menyukai keindahan alam ciptaan Tuhan.

"Oh!" Luhan tersentak menemukan sesuatu menghampiri pundaknya, ia lalu tampak berbinar mengetahui sebuah kupu-kupu cantik berada disana. "Cantik sekali!", gumamnya sambil mengangkat jari telunjuknya. Si kupu-kupu berwarna merah cerah itu-pun menghinggapi jari telunjuk Luhan.

"Hun, lihat-"

CEKREK!

Mata Luhan membulat seiring dengan senyum Sehun yang mengembang. Lelaki itu meraih foto yang baru keluar, mengibaskannya sebentar, lalu tersenyum bangga sekaligus terpesona saat melihat hasil fotonya.

Luhan, gadis itu sedang tersenyum lebar saat Sehun membidiknya. Mata rusanya menatap kupu-kupu di jari telunjuknya tanpa berkedip, sedangkan rambutnya beterbangan tertiup angin. Goresan oranye dan matahari senja semakin memperindah sosok Luhan dan menjadikannya seperti siluet namun wajahnya tetap tersinari oleh matahari. Luhan nampak cantik dan mempesona berkali lipat.

"Pasti jelek!" Sehun terkesiap ketika Luhan sudah berdiri di hadapannya. Wajah gadis itu tampak penasaran dengan hasil foto dengan dirinya menjadi obyek, dan melihat Sehun yang tersenyum tanpa mengetahui keberadaannya membuat Luhan semakin penasaran. "Aku ingin lihat!"

Sehun dengan sigap menyembunyikan hasil fotonya dari tangan Luhan. Tangannya yang menggenggam foto ia angkat ke atas, membuat Luhan otomatis menyerah karena tinggi badannya tidak akan bisa meraih foto itu. Luhan sukses cemberut dengan bibir mengerucut lucu. Sehun mencuri ciuman dari bibir Luhan sekilas sebab ia paling tidak tahan dengan ekspresi menggemaskan Luhan.

"Kau cantik, tapi hasilnya sangat jelek. Mungkin aku lebih cocok menjadi model saja, bukan fotografer.", ucap Sehun yang tiba-tiba mendapatkan satu rencana di otaknya. Diam-diam Sehun menurunkan tangannya dan menyembunyikan foto terbaik dari foto-foto Luhan yang lain itu di saku celana.

Luhan berdecak dan beralih ke samping Sehun, melipat tangannya di depan dada dan memandang matahari yang nyaris tenggelam. "Aku juga tidak mau kau menjadi fotografer."

Sehun mengerutkan keningnya. Luhan tidak pernah menunjukkan ketidaksukaannya, ia terlalu pasif selama ini dan memilih tidak berkomentar. Jadi saat Luhan berkata demikian, Sehun mencoba memperhatikan. "Kenapa?"

"Kalau kau menjadi fotografer, maka kau akan bertemu model-model seksi setiap hari. Kau akan menyentuh tubuh seksi mereka untuk pose yang kau inginkan dan kau akan memandang tubuh indah mereka setiap waktu. Dan juga wajahmu tidak pantas dengan profesi itu.", ucap Luhan disertai semburat merah dipipinya tanpa diperintah. Entah karena alasan apa, mungkin ia terlalu malu mengakui ketidaksukaannya, tapi Sehun menyukainya beserta ucapan Luhan yang terkesan cemburu.

Namun Sehun berubah bingung kemudian. "Memangnya ada apa dengan wajahku?"

"K-kau terlalu tampan, aku takut banyak model cantik yang menginginkanmu." Luhan menyembunyikan wajahnya di telapak tangan kemudian. Terbukti, gadis itu benar-benar malu karena untuk pertama kali ia berbicara dengan gamblang tanpa kalimat singkat seperti biasanya

Jangan tanyakan bagaimana ekspresi Sehun saat ini. Lelaki itu terkejut dengan mulut terbuka, untuk pertama kali Luhan mengakui ketampanan Sehun dan kecemburuan dalam waktu bersamaan. Ekspresi itu hanya bertahan beberapa detik, fokus Sehun berpindah pada Luhan yang menutup wajahnya yang Sehun duga sudah merona parah. Sehun mencoba menarik tangan Luhan, meminta gadis itu menatapnya. Tentu saja Luhan tidak mau, sebab ia menganggap ucapannya sangatlah memalukan. Sehun menarik tangan Luhan, dan Luhan kembali menutupi wajahnya. Terus demikian hingga Sehun menyerah dan menarik tubuh mungil Luhan dalam dekapannya.

"Aku suka kau cemburu." Sehun mempererat pelukannya hingga merasakan jantung Luhan yang berdebar hebat. Sehun tersenyum mengetahui hal itu. "Hah… aku sangat menunggu moment ini. Moment dimana kekasihku mengakui diriku tampan dan tidak ingin wanita lain menginginkanku. Manis sekali!"

Luhan tanpa sadar membalas pelukan Sehun dan memukul bahu tegap lelaki itu. Luhan pasti sangat malu.

"Ah! Ini memalukan!" gumaman Luhan berhasil membuat Sehun terkekeh. Gadisnya sungguh amat manis dan menggemaskan.

Tiba-tiba angin berhembus lirih, menciptakan suasana romantis di sekitar pasangan kekasih yang saling memeluk itu. Gesekan pelan ilalang dengan angin sore seolah menjadi lagu pengiring yang ikut melengkapi keromantisan yang telah tercipta tanpa sadar.

Sehun menginginkan untuk menatap Luhan, namun Luhan bersikeras menolak dengan menyembunyikan wajahnya di dada Sehun. "Itu sama sekali tidak memalukan! Aku suka kau berkata seperti itu, Lu. Dengan begitu aku percaya bahwa kau benar-benar menginginkanku dan tidak ada seorang-pun yang boleh membuatku berpaling."

Luhan menarik diri dan mendongak. Rona merah masih tersisa di pipinya dan mungkin bertambah akibat udara dingin. "Jadi selama ini kau tidak mempercayaiku?"

Percaya bahwa aku menginginkanmu?

Sehun terkesiap dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Berusaha meyakinkan Luhan bahwa keraguan di hati Luhan tidaklah benar. "Aku percaya, Lu. Sangat percaya bahwa kau menginginkanku! Tapi ada kalanya setiap pasangan membutuhkan pernyataan langsung untuk menghilangkan keraguan yang muncul sewaktu-waktu. Tidak bisa ditampik bahwa keraguan itu pasti ada. Ragu kau sudah tidak mencintaiku, ragu kau ingin meninggalkanku, dan ragu kau berniat selingkuh dibelakangku. Hal itu normal, jadi aku membutuhkan suatu pernyataan langsung dari bibirmu untuk membangun kepercayaan yang sekuat batu karang, agar keraguan tidak mudah menghancurkan kepercayaan itu."

Luhan merasakan angin menyegarkan berhembus disekitarnya. Sehun, entah berapa banyak lagi perasaan Luhan terberi untuk lelaki itu. Ucapan Sehun tanpa sadar membuat Luhan mengangkat tangannya, menyentuh area pahatan sempurna di wajah Sehun dengan lembut.

"Sehun…"

"Hm?" Sehun membalas dengan gumaman, masih menikmati sentuhan lembut jemari Luhan diwajahnya.

"Kau ingin mendengar pernyataanku lebih jelas?"

Sehun menunjukkan raut bingungnya, seolah bertanya apa maksud ucapan Luhan. Sebagai gantinya Sehun hanya diam dan menunggu.

"Dengarkan baik-baik, Oh Sehun. Aku, Luhan, sangat mencintai Oh Sehun tanpa terkecuali. Aku mencintai Oh Sehun karena kekurangannya, karena ia cukup tidak peka, karena ia tidak pintar bahasa China, dan karena ia sering berbuat kekanakan." Sehun tersenyum kecil dan membiarkan Luhan melanjutkan. "Aku tidak akan meninggalkan Oh Sehun tanpa alasan pasti, dan aku tidak akan berselingkuh. Karena satu-satunya lelaki yang berani mendekati gadis dingin sepertiku hanyalah Oh Sehun."

Senyum Sehun kian melebar dan perasaan lega memenuhi rongga tubuhnya. Ya, sejujurnya Sehun-lah yang merasakan keraguan itu. Mengingat sifat Luhan yang pasif, dingin, dan tidak menunjukkan kecemburuan yang berarti, membuat Sehun terkadang tidak yakin jika Luhan benar-benar menginginkannya untuk menjadi kekasih. Meskipun kata-kata cinta sering terungkap dari bibir Luhan, namun entah darimana keraguan itu tetap terlintas dan sanggup menyesakkan hati Sehun. Tetapi sekarang, setelah Luhan menjelaskan dari bibirnya sendiri, Sehun menyadari keraguannya selama ini tidaklah berdasar. Luhan, tetaplah gadis dengan kadar bicara yang lumayan pelit, dan Sehun akan memahami sifat gadis yang dicintainya itu.

"Oh Sehun, wo ai ni!" Sehun sempat terkesiap mendapati Luhan berbicara bahasa Mandarin. Raut terkejutnya membuat Luhan terkikik geli dan melanjutkan, "Ugh… Ni hen suai!" – Kau tampan sekali! -sambil merapikan anak rambut Sehun yang tertiup angin.

"…"

"Aku tidak tahu kalau bahasa Mandarin-mu sangatlah payah!", timpal Luhan menertawakan Sehun. Ingatkan Luhan untuk mengajari Sehun berbahasa Mandarin setelah ini!

"Luhan-ah," setelah beberapa saat akhirnya suara Sehun keluar. Luhan menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya 'apa?' tanpa suara.

"Wo ye ai ni."

Matahari sudah tenggelam beberapa menit yang lalu, sedikit goresan jingga masih tampak walaupun tugasnya telah tergantikan oleh bintang. Sehun dan Luhan masih disana, menikmati suasana matahari terbenam dengan bersandar di kap mobil ditemani semilir angin musim gugur yang cukup dingin. Beruntung Luhan meninggalkan blazernya di mobil Sehun, meskipun tidak sengaja namun berguna untuk tubuhnya yang dibalut sweater tidak terlalu tebal.

"Ah!" Luhan berjengit merasakan dingin di pipi kirinya. Sehun menempelkan kaleng soda yang sebelumnya ia beli di supermarket di pipi Luhan.

"Gomawo!" Luhan menerima pemberian Sehun dengan wajah menggemaskannya. Rona merah di pipi Luhan semakin membuat wajahnya imut luar biasa. Tapi melihat wajah merah Luhan juga membuat Sehun khawatir Luhan akan terserang flu. Gadis itu sudah beberapa jam berada diluar dan diterpa angin yang cukup dingin.

Sehun tersadar dan segera mengambil kaleng soda di tangan Luhan. "Sehun!", rengeknya.

"Maafkan aku, seharusnya kau tidak minum soda dalam kondisi dingin."

"Lalu aku harus minum soda panas?", celetuk Luhan kesal dan membuat Sehun menyadari bahwa kekasihnya adalah pemilik mulut setajam pisau.

"Bukan begitu maksudku. Tapi-" Sehun meletakkan punggung tangannya di kening Luhan. Terasa lumayan hangat. "Tapi badanmu agak panas dan soda bukan minuman yang tepat."

"Ck! Dokter Oh Sehun telah kembali!", gumam Luhan seraya memutar bola matanya.

"Ya. Dan sebaiknya Pasien Xi Luhan harus pulang untuk istirahat. Kkaja!"

"Sehun! Aku masih ingin disini! Bukankah bintangnya terlihat sangat indah?" Luhan mencoba bernegosiasi meskipun percuma, karena Sehun berubah menjadi pribadi yang protektif soal kesehatan Luhan.

"Kita bisa melihatnya besok. Tapi sekarang kau harus istirahat."

"Aku besok sibuk! Dan kau juga tambah sibuk! Kapan kita bisa berdua lagi, Hun?"

Sehun menghela nafas dan memilih mengalah. Ia tidak ingin berdebat di saat seperti ini, saat ia dan Luhan menghabiskan waktu senggang yang sangat jarang ini hanya berdua dengan Luhan. Sehun tahu gadisnya adalah si dingin yang bermulut tajam, jadi Sehun berusaha mengimbangi sifat Luhan dengan jalan tidak mudah terbawa emosi dan tidak membalas ucapan Luhan dengan tidak kalah tajamnya.

"Aku tahu kesibukanku bertambah akhir-akhir ini. Maafkan aku."

Luhan nyaris tersedak ludahnya sendiri. Sehun yang mengalah sama sekali tidak ia kenali. Biasanya Sehun masih membalas ucapan tajam Luhan meskipun ujungnya bertingkah tak terduga untuk menghentikan perdebatan mereka. Salah satunya, dengan ciuman –ups!-.

HATCHI!

Sehun mendecak dan tanpa aba-aba menarik tangan Luhan untuk memasuki mobil. Mereka harus pulang, kecuali jika ingin Luhan semakin lama berada di udara dingin dan flu-nya semakin parah.

"Sehuuunn…"

"Tidak!" Sehun menahan diri untuk tidak terpengaruh oleh rengekan Luhan lengkap dengan wajah menggemaskannya. Bisa-bisa pertahanan Sehun runtuh dan menuruti gadis itu untuk tetap di tempat ini ditemani udara musim gugur yang menggigit. "Tugas essay dari Mr. Han. Ku harap kau tidak lupa mengerjakannya."

"Aish!" Luhan mendesis dan akhirnya mengaku kalah. Ia turun dari kap mobil dan membiarkan Sehun membukakan pintu untuknya. "Seharusnya kau tidak perlu mengingatkanku akan tugas itu. Huh!"

"Dan aku akan lupa mengerjakannya, begitu? Beruntunglah kau memiliki kekasih perhatian sepertiku, Xi Luhan!", ucap Sehun lalu menyerahkan sekotak susu untuk Luhan. Sehun baru ingat ia juga membeli sekotak susu, setidaknya susu lebih baik daripada meminum soda.

Luhan meminumnya dan tidak berkomentar lagi. Tubuhnya sangat lelah, ia baru sadar akan hal itu setelah memasuki mobil untuk pulang. Sehun mulai menjalankan mobilnya dan membelah jalanan yang cukup sepi namun tetap indah itu.

"Sekarang tidurlah! Aku akan membangunkanmu setelah sampai di restoran." Sehun menurunkan sandaran kursi Luhan hingga gadis itu berbaring.

"Kita tidak langsung pulang?"

"Dengan keadaan perutmu yang kosong? Tidak!"

Luhan memutar bola matanya jengah. Sehun tetaplah Oh Sehun. Si lelaki protektif yang tidak akan membiarkan Luhan kelaparan sekali-pun. Lelaki yang juga melarang keras Luhan untuk diet, ketika Luhan iseng berucap ingin diet meski alasan sebenarnya Luhan hanya malas untuk mengunyah makanan.

"Oke. Kau tidak tidur juga?"

"Bolehkah? Tapi jangan menyalahkanku kalau kita terlibat kecelakaan karena pengemudinya tertidur."

"Oh Sehun!"

"Kau yakin tidak menginap?", tanya Luhan begitu ia dan Sehun sampai di depan pintu apartment Luhan. Jangan lupakan jika mereka berdua tinggal di gedung apartment yang sama dan hanya berbeda lantai.

"Hmm. Aku harus menyelesaikan beberapa tugasku malam ini." Sehun melirik jam tangannya, masih pukul delapan malam. Artinya masih cukup untuk mengerjakan tugas kuliah yang sempat dianggurkan Sehun beberapa hari karena kesibukan kariernya. "Kau juga! Jangan tidur dulu dan kerjakan tugas Mr. Han, oke?"

"Hmm kalau aku tidak ketiduran." Luhan menggumam dan Sehun dikaruniai pendengaran tajam untuk mendengarnya.

"Aku mendengarnya, Nona!" Sehun mengacak poni Luhan gemas, dan beberapa saat kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam blazernya. "Oh ya, untukmu!"

Luhan mengernyit heran namun tetap menerima bingkisan dengan ukuran sedang itu. "Apa ini?"

"Buka nanti saja!" Sehun menghentikan kegiatan Luhan yang berusaha membuka kotak itu. "Aku pulang dulu. Jangan lupa memasang alarm agar tidak kesiangan. Sampai besok!"

"Heum!" Luhan membiarkan Sehun mengecup keningnya dan bibirnya sekilas. Sebuah keharusan bagi Sehun untuk memberikan tanda sayangnya untuk Luhan dalam bentuk skinship sederhana dan Luhan menerimanya dengan senang hati.

"Bye!"

"Bye!" Luhan mengawasi kepergian Sehun hingga lelaki itu lenyap dalam lift yang membawanya ke apartment-nya. Setelah itu, Luhan menjatuhkan perhatiannya pada kotak berukuran sedang yang Sehun berikan untuknya.

Sembari menekan password¸ membuka pintu, lalu mengganti sepatu flatnya dengan sandal berbulu, Luhan berusaha menebak apa isi dari kotak itu. Tentu saja Luhan penasaran, sebab Sehun jarang memberikannya sesuatu berbau cheesy seperti hadiah dan semacamnya. Sehun lebih sering memberi Luhan berupa perhatian dan skinship, bukan benda-benda yang bisa dijadikan hadiah.

Kemudian Luhan sampai di ranjang kesayangannya dan duduk disana. Perlahan Luhan membuka kotak itu dan mata rusa Luhan membulat saking terkejutnya.

Disana ada tiga item. Yang pertama adalah setangkai bunga mawar putih lengkap dengan pita berwarna serupa, kedua adalah note kecil berisi tulisan tangan Sehun, dan terakhir adalah foto Luhan. Foto Luhan bersama kupu-kupu cantik yang sempat Sehun sembunyikan di kantong celananya. Foto yang berhasil membuat Luhan berdecak kagum dan tidak percaya jika gadis disana adalah dirinya sendiri. Sehun benar-benar bagus dalam memotret Luhan kala itu. Luhan tidak tahu kenapa Sehun memberikan foto itu untuknya, jadi Luhan mencari tahu dengan memperhatikan satu item lain yang ia temukan. Sebuah note.

Dan Luhan tidak perlu bertanya lebih jauh, karena hatinya langsung memahami dalam sekali membaca tulisan Sehun dalam bahasa Inggris itu. Selain itu adalah mawar putih, Luhan tahu bunga itu adalah lambang sebuah cinta sejati nan suci. Menandakan secara tersirat bahwa Sehun mencintai Luhan tanpa syarat. Hatinya berdesir aneh dan pipinya menghangat. Sehun selalu berhasil membuat Luhan jatuh cinta semakin dalam.

Luhan tidak tahu kapan tepatnya Sehun menyiapkan hadiah sederhana yang menakjubkan ini. Meskipun sederhana dan setiap orang mampu melakukannya, tapi selama itu Oh Sehun, Luhan akan menganggapnya sebagai suatu hadiah terindah dari seseorang terindah. Berlebihan? Sekali lagi, si gadis cuek tidak perduli!

HATCHI!

"Kau benar-benar awesome, Oh!"

.

.

.

Guide me, take me together with you to the place where you live…

Even if the world ends, I'll follow from behind you so please don't go out of my sight…

Even when the morning comes, don't disappear…

This walk that I'm dreaming…

You're my only beautiful butterfly… ***

.

.

.

*** [EXO K - 나비소녀(Don't Go) English Trans.]

.

END OF THIS CHAPTER!

.

.

Annyeong haseyo~~

Hallo! Akhirnya bertemu lagi setelah setengah bulan menghilang dan menelantarkan ff ini selama satu bulan. Aku mau ngucapin Happy Valentine Day's buat reader-nim, reviewer-nim, sider-nim, dan pastinya HUNHAN-SHIPPER ALL AROUND THE WORLD! *Nari Happiness RV* Tadinya pengen nge-post yang berbau Valentine, tapi karena chapter ini sudah terlanjur dibuat dan belum di update, jadinya malah ngepost ini. Kkkkk! Mian miaann~ Tapi tetep harus baca ya, meskipun feel-nya nggak kerasa dan mungkin fluffy-nya agak berlebihan. Muehehe… Terus karena ff ini adalah bergenre FLUFFY dan ROMANCE, jadi jangan heran kalo hampir nggak ada konflik berkepanjangan (?) disini. Kalo mau konflik, disarankan baca ff-ku yang satunya, promote dikit boleh lah yaa muehehehe.

Ngomong-ngomong gak ada yang mau ngasih aku coklat gitu mumpung Valentine? Tapi aku maunya yang jenisnya Criollo alias kakao mulia, terus yang udah di fermentasi dan di sun-drying. Ada yang tahu aku ngomong apa? Bhaaaks, kayaknya penyakit lagi kambuh. Maaf, gausah dipikirin susah susah, maklum anak Teknik Pangan jadi ngomongnya harus ilmiah. Kkkkk!

Okelah, kalo hasilnya gak memuaskan aku minta maaf sebanyak-banyaknya *deep bow*. Aku juga berterima kasih bgt buat kalian yg nyempetin baca ff aku. See you~ Bye! Bye!