sebelumnya author mau minta maaf lagi, author gak bisa nahan nulis sebelum bener-bener kena writer block kayak di In The Dream sama Wild, maafkeeeeuuuuuunnn
Baekhyun menggunakan pakaian serba hitam, menatap pantulannya sendiri dalam cermin besar di hadapannya, tak lupa, kawat sepanjang 7 centi terselip diantara ujung lengan kiri blousenya.
"seingatku malam ini kita tak ada transaksi"
"memang, aku hanya ingin menyelesaikan suatu urusan, ini takkan lama" ucap Baekhyun, dan ia segera berangkat.
Saat itu, di tempat lain, Sehun yang juga mengenakan pakaian hitam dan beanie hitam, bahkan sudah masuk ke dalam rumah Kyungsoo dan bersembunyi di lemari pakaiannya.
Sementara Jongin, sudah mengikuti Kyungsoo sejak anak itu pulang sekolah. Mengantisipasi kalau-kalau jurnal itu berpindah tangan ke temannya.
Hingga saat ini, Jongin masih mengamati Kyungsoo yang masih berkumpul dengan teman-temannya di restoran cepat saji, yang diamatinya dari pinggir jalan-sambil makan tentu saja-ia lapar.
Baekhyun menepikan mobilnya di sisi jalan, tidak jauh dari rumah Kyungsoo, mendapati bahwa rumah Kyungsoo masih gelap tanpa lampu yang menyala. Malam memang sudah tiba, tapi ini bahkan belum lewat dari pukul tujuh, jadi dia berasumsi kalau Kyungsoo belum pulang. Antara beruntung dan sial. Beruntung-karena ia bisa masuk dengan mudah, sial-karena itu artinya dia harus menunggu Kyungsoo pulang. Jadi, dia segera keluar dari mobilnya dan menuju pintu depan rumah Kyungsoo, mengeluarkan kawat yang disimpannya, membentuknya sedemikian rupa, hingga kemudian ia memasukkan potongan kawat itu ke celah kunci dibawah gagang pintu dan menggerakkannya.
Cklek
Bunyi pelan itu membuatnya sedikit menyunggingkan senyum. Seperti biasa, meskipun cara ini tentu saja tidak akan berhasil digunakan untuk membuka brankas, dia selalu suka cara ini. Masuk secara diam-diam, ia mengamati keadaan rumah sembari menutup pintu dan menguncinya pelan-pelan. Bagaimanapun ia tetap harus waspada kalau-kalau ada orang di rumah ini. Ruangan yang gelap tidak menyulitkannya untuk bergerak, ia sudah terlalu terbiasa dengan yang gelap-gelap. Mengendap-endap untuk menyisir setiap ruangan.
Saat ia menyisir dapur, terdengar bunyi pintu yang terbuka dan ia segera sembunyi di bawah meja, dan tak lama kemudian, dia langsung dapat melihat Kyungsoo masuk menuju lantai atas. Dilihatnya Kyungsoo memasuki ruangan paling pojok sebelah kanan di lantai atas.
Baekhyun segera keluar dari kolong meja dan mengikutinya. Dia menempel pada pintu kamar Kyungsoo dan mendekatkan telinganya untuk mendengar aktifitas Kyungsoo.
Tepat saat itu, Baekhyun tidak menyadari kalau ia juga tengah di amati oleh sepasang mata lain dari balik dinding penyekat di lantai bawah.
Diwaktu yang sama, Sehun juga semakin bersiap saat mendengar seseorang masuk ke dalam kamar. Dari celah lemari Kyungsoo, ia dapat melihat Kyungsoo tengah meletakkan tasnya ke meja belajar dan melepas jas sekolahnya, belum sampai Kyungsoo meletakkannya di penggantungan, sebuah nada panggilan dari ponsel Kyungsoo berdering nyaring.
"Hallo Bu"
"Ah sayang, maaf Ibu baru bisa menelpon saat ini, ini tidak terlalu malamkan di korea?"
"tidak, Bu. Di sini masih pukul tujuh"
"ah syukurlah, Ibu takut membangunkan mu lagi di tengah malam" kekeh Ibunya, membuat Kyungsoo juga ikut terkekeh.
"aku tidak keberatan selama itu Ibu"
"hhh… maafkan ibu dan ayah sayang…"
"aku sudah mengatakannya berkali-kali, Ibu, aku menyayangi kalian" tegas Kyungsoo " itu adalah impian Ibu untuk mengambil PhD, aku tak ingin menghalangi, apa ibu tahu? Aku dan ayah sangat bangga padamu" kata Kyungsoo yang kemudian menyebabkan suara tawa terdengar dari ponselnya.
"Ah sayang, kami berhutang banyak pada mu, kau tahu kalau kami menyayangimu kan?" ucap Ibunya khawatir.
"perlukah kuberitahu sudah berapa kali ibu mengatakannya padaku?" kata Kyungsoo "itu berada di kisaran sepuluh ribu kali"
Suara kekehan kembali terdengar dari ponselnya.
"oh iya, ngomong-ngomong tentang ayahmu, kudengar dia sedang di borneo"
"iya, kali ini sepertinya dia pergi sedikit lama, kata Ayah aksesnya sedikit sulit"
"apakah kau tak apa-apa?"
"ibu, aku sudah cukup besar untuk tinggal sendirian, aku sudah berumur 16 tahun kalau kau lupa" kata Kyungsoo jengah meskipun bibirnya tersungging senyum, yang di jawab oleh ibunya dengan tawa.
"astaga, kenapa kau cepat sekali tumbuh besar?"
"ibu menginginkan aku tetap jadi anak kecil? Aku menolak"
"hahaha… ya, tapi itu tentu saja keinginan yang egois" ucapnya "ngomong-ngomong apa kau sudah makan?"
"belum, aku baru saja pulang"
"ah, maafkan ibu telah mengganggumu, kalau begitu cepatlah makan, ibu akan mengakhirinya disini kali ini, oke?"
"baik Bu, sampai jumpa"
"sampai jumpa juga sayang, aku menyayangimu"
Suara kecupan untuknya terdengar sebelum bunyi 'tuut' yang panjang bergetar nyaring.
Kyungsoo tidak meletakkan ponselnya meskipun bunyi itu sudah terdengar cukup lama, dia hanya menatap kosong pada benda di hadapannya. Bagaimanapun, Sehun hanya mampu menatapnya iba, sementara Baekhyun yang berdiri menyandar pada pintu Kyungsoo juga hanya dapat terdiam.
Jongin, yang meskipun hanya mampu mendengar sedikit pembicaraan itu juga hanya bisa terdiam untuk Kyungsoo, karena secara garis besar, ia bisa menggambarkan kejadiannya.
Bunyi 'tuut' yang telah berakhir menyadarkan lagi ketiga penjahat yang ada di rumah itu, mengembalikan kadar fokus mereka pada titik yang tinggi.
Suara kaki terdengar yang kemudian disusul dengan suara pintu yang tertutup. Baekhyun dan Sehun masih menunggu. Hingga kemudian suara air terdengar dari ruangan lain-Kyungsoo mandi. Tanpa berpikir dua kali, Baekhyun segera masuk ke dalam kamar Kyungsoo dengan langkah pelan dan penuh kewaspadaan, sementara Sehun yang hampir saja keluar dari tempat persembunyiannya di buat terkejut oleh kedatangan seseorang asing berpakaian hitam masuk ke kamar Kyungsoo, mendekati meja belajar Kyungsoo yang berada tepat di sebelah tempat Sehun bersembunyi. kewaspadaannya menjadi semakin meningkat.
Baekhyun secara hati-hati membuka tas Kyungsoo dan mencari jurnalnya. Tanpa tahu kalau gerak-geriknya tengah diamati oleh dua orang sekaligus. Dua orang tersebut tentu saja berpikir kalau Baekhyun bukan orang baik-baik. Yah, faktanya iya sih.
Baekhyun tidak berencana untuk mencurinya, tentu saja, itu hanya sebuah buku, itu tidak akan laku di pasaran, jadi ia hanya berencana untuk menyobek halaman yang terdapat deskripsi dirinya. Tapi tentu saja itu bukan hal yang mudah, karena seperti yang kita ketahui sebelumnya, Kyungsoo hanya mengurutkannya berdasar tanggal, bukan nama.
Baekhyun terlihat aneh untuk dua orang lainnya, untuk seorang penjahat, itu mengherankan untuk hanya membolak-balik sebuah buku, setidaknya kalau dia benar-benar penjahat, ia akan mencari uang di tempat yang benar-dompet atau laci-kecuali kalau Kyungsoo juga menyimpan uangnya di bukunya.
Tempat persembunyian Sehun akan menjadi tempat yang sempurna kalau saja perutnya tidak berkhianat. Ya, perutnya berbunyi. Dan Baekhyun, tentu saja bisa mendengarnya.
Gerakan Baekhyun terhenti dan menajamkan pendengarannya.
Sehun yang melihat bayangan Baekhyun yang perlahan mendekat, dengan pelan mengeluarkan sebuah benda dari dalam jaketnya.
Baekhyun tidak cukup bodoh untuk tahu kalau suara itu berasal dari dalam lemari pakaian di tepat sebelahnya. Baekhyun baru akan membukanya ketika celah itu membuka dengan sendirinya dari dalam, menampilkan ujung pistol yang mendekat terarah di kepalanya bersamaan dengan seseorang asing berpakaian hitam dengan tinggi menjulang keluar dari tempat yang sama, dan Baekhyun hanya mampu berjalan mundur dengan pelan, seiring dengan semakin mendekatnya pistol dan pria itu ke arahnya.
Menatap Baekhyun dengan tajam diantara kedua lengannya yang tengah memegang pistol, dan Baekhyun hanya mampu menelan ludahnya dengan berat.
Jongin, disaat yang sama juga terkejut, karena ada orang asing lain yang lebih berbahaya dari Baekhyun.
TBC
