Baekhyun menolehkan kepalanya, keningnya mengernyit.
Apa Sehun baru saja mengatakan dia cantik? Heheh, dapat keberanian darimana anak itu mampu menggodanya?
"Oh Sehun" Baekhyun memanggilnya. Saat Sehun menoleh padanya, ia melipat kedua tangannya dengan gaya angkuh "aku pikir kau perlu tahu kalau aku menyukai Kyungsoo, jadi, jangan coba-coba untuk menggodaku" Baekhyun langsung berbalik tanpa menghiraukan reaksi Sehun atas kalimatnya.
"Bhuh, hahahahhahah"
Baru beberapa langkah berjalan, langkah Baekhyun sudah berhenti gara-gara suara tawa Sehun di belakangnya. Ia menoleh dan memandang Sehun yang tertawa terpingkal-pingkal dengan wajah tak suka.
"kenapa kau tertawa?"
Sehun masih memegangi perutnya meskipun pria itu telah berusaha untuk menghentikan tawanya.
"yah, apa kau pikir aku menyukaimu? Narsis sekali kau, lihat dirimu, kau punya rambut seperti tumpukan mie, dan kacamatamu sangat jadul, Kau terlihat norak tau, dengan penampilan seperti itu kau pikir aku akan tertarik padamu, huh?"
Baekhyun mengerjapkan matanya cepat dengan mulut megap-megap, emosi.
"yah, kau pikir kau lumayan menarik untuk mengatakan itu? Lihat dirimu sendiri sebelum menilai orang lain, kau tidak lebih baik dariku" balas Baekhyun.
"astaga, hahahah" Sehun tertawa lagi "lupakan ini, kita berdua benar-benar fashion disaster"
Baekhyun masih menyatukan alisnya dengan kedua tangan di pinggangnya, mukanya mengkerut sebal.
"Baekhyun, aku ingin bicara denganmu"
"bicara saja"
"tidak disini, di atap" Sehun langsung berbalik ke arah tangga. Pria itu kembali berbalik saat di rasakannya Baekhyun tidak juga mengikutinya "Baekhyun" panggil Sehun yang kemudian menggerakkan kepalanya kearah tangga. Menyuruhnya mengikutinya.
Baekhyun masih terdiam menatapnya, tapi tak urung juga Baekhyun kemudian berjalan kearahnya, meskipun tampangnya masih dalam mode jutek. Tentu saja.
Kyungsoo menatapnya murka, dan Jongin merasakan banyak tatapan mata yang menghakiminya. Jongin tahu apa yang ia lakukan, ia sudah tahu resiko yang akan ia terima. Tentu saja, karena semua ini atas dasar kesengajaan.
Jongin tidak pernah lupa atas tiga nama terakhir. Ia telah melihat kegagalan Sehun dan Baekhyun. Jadi, kalau Kyungsoo tak mudah untuk di dekati, lebih baik baginya untuk langsung merusak semuanya saja,kan?
toh itu bukan masalah baginya jika ia akan dibenci oleh semua orang gara-gara itu. Mereka semua tak memiliki arti apapun untuk hidupnya. Mereka semua hanya selingan.
Ia telah banyak membunuh orang, untuk apa ia merasa bersalah hanya karena melakukan kesalahan sekecil itu, heh?
Jongin mencoba untuk mengambil jurnal itu sebelum tangan Kyungsoo dengan cepat menampar tangannya secara kasar. Ia tetap perlu berakting tahu.
Tangannya berdenyut panas merasakan tamparan tangan Kyungsoo. Ia menatap Kyungsoo yang masih marah padanya. Suasana di sekitar mereka kembali berisik setelah Kyungsoo memukul tangannya kasar.
Kyungsoo menghela nafas berat sambil menatapnya.
"Jongin-ssi, aku harap kita tak bertemu untuk beberapa hari"
Perintah yang halus. Itu adalah kalimat lain untuk 'enyah dari hadapanku'. Sangat tipikal Kyungsoo. Kalau orang lain, pasti akan langsung mengatakannya dengan jelas.
Pria bermata belo itu kemudian mengambil Jurnalnya yang telah basah dengan diam, kemudian ia pergi dengan di ikuti oleh puluhan mata yang menatap punggungnya.
"aku sudah memperingatkan kalian, jangan bermain bola di kantin" ucap Moonkyu.
Jongin melihat Ilhoon semakin menundukkan kepalanya setelah di tegur Moonkyu. Ilhoon adalah salah satu bagian dari rencananya. Jongin sengaja mengajaknya bermain bola, dan ia sengaja memancing Ilhoon mengoper bola padanya yang saat itu telah memposisikan dirinya di dekat Kyungsoo, dan bang, semua terjadi.
Angin menyerbu wajah Baekhyun begitu ia menginjak lantai atap.
Sehun yang berjalan di depannya langsung menuju pagar pembatas gedung, ia melihat pria itu kemudian berbalik menatapnya seraya bersandar pada pembatas.
"mau bicara apa?"
"emm… harus ku mulai dari mana ya?" Sehun melipat tangannya tampak berpikir.
"waktu kita tidak banyak Oh Sehun, kalau kau tak lupa"
"baiklah-baiklah" Sehun mengambil jeda cukup panjang untuk memutuskan pembicaraan selanjutnya "Baekhyun, siapa kau sebenarnya?"
.
"hah?"
Baekhyun tidak mengerti dengan pertanyaan Sehun. Sampai Sehun kemudian menyibakkan rambutnya kebelakang.
Dan Baekhyun mulai waspada.
Wajah di depannya tidak tampak begitu asing di matanya, meskipun ia yakin Sehun tidak pernah memperlihatkan wajah aslinya pada orang lain. Entah mengapa, Baekhyun hanya merasa harus was-was pada Sehun yang sekarang ada di hadapannya.
Tapi ia juga tak memungkiri kalau wajah Sehun benar-benar tampan. Kalau saja Sehun menyingkirkan gaya rambutnya yang menyebalkan itu dari dulu, mungkin pria itu sudah jadi salah satu pria paling populer di sekolahnya.
"ingat padaku?" Tanya pria itu.
"hah?" Baekhyun bingung.
"kenapa kau dari tadi hanya berkata 'hah'? apa kau tidak memiliki kosa kata lain untuk di katakan huh?" pria tampan itu memegang kepalanya seolah-olah sakit hati dan kecewa pada Baekhyun "kau benar-benar tak ingat padaku?"
.
.
Baekhyun loading.
"Baek, aku pernah hampir menembakmu di rumah Kyungsoo"
.
.
"HAAAAHHH?!"
Jongin menunggu Kyungsoo di luar kelasnya seusai jam pelajaran terakhir. Menyetujui gertakan teman-temannya untuk meminta maaf pada Kyungsoo.
Ia menundukkan kepala dan mengalihkan pandangannya begitu satu persatu teman-teman sekelas Kyungsoo keluar dari kelasnya, cukup tahu kalau ia menjadi pusat perhatian.
"Jongin-ssi"
Jongin mengalihkan atensinya dari jajaran loker saat ia mendengar namanya di panggil. Ia sedikit heran ketika mendapati Kyungsoo berada di hadapannya, tersenyum.
"apa kau suka bbuljjajang?"
"eh?" Jongin mengerjapkan mata "em, ya"
"ada warung bbuljjajang yang enak di sekitar sini, kau mau?"
"eh?"
TBC
