.
.
.
.
Pink Nimpha
.
.
.
Disclaimer: Naruto milik Kasashi Mishimoto
.
.
.
Genre: Romance & Adventure
.
.
.
Selamat membaca.
.
.
.
.
Chapter 3
Sasuke terburu-buru memasuki rumah besar Uchiha yang masih kental dengan rancangan tradisional Jepang. Pemuda tampan ini membopong tubuh Sakura yang masih mengeluarkan asap tipis. Sebenarnya Sasuke hendak membawa gadis cantik ini ke rumah sakit, namun melihat kondisi Sakura yang berbeda dari manusia normal, membuat Sasuke mengurungkan niatnya. Lagipula Sakura mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Luka cakaran Cerberus di punggung dan perutnya, mengeluarkan asap serta cahaya hijau yang terus menguar dari dalam. Luka robekan itu perlahan menutup sedikit demi sedikit.
"Buka pintunya!" teriak Sasuke saat mendekati pintu masuk rumah. Tak berapa lama seorang pelayan menggeser pintu lebar-lebar.
"Astaga tuan muda... Apa yang terjadi?" tanya pelayan ketika melihat tubuh Sakura ber-asap dengan baju penuh darah. Begitu pula penampilan Sasuke, bahkan punggung tangan kanannya yang digunakan untuk meninju makhluk berkepala tiga itu masih meneteskan darah. Terluka karena tusukan duri-duri kasar setajam jarum. Sasuke sama sekali tidak menghiraukan lukanya, karena panik melihat kondisi Sakura. Sedangkan Sakura tidak sadarkan diri begitu sampai di dalam mobil. Sesekali rintihan keluar dari mulut mungilnya, sebagai tanda bahwa gadisnya masih hidup.
"Cepat siapkan kamar tamu untuk Sakura!" perintahnya.
"Hai, tuan muda!" Lalu pelayanan tersebut masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Sasuke mengikuti dari belakang sambil membopong tubuh Sakura.
"Ada apa ini ribut-ribut!" tanya sang nyonya rumah, Uchiha Mikoto. Ibunda Sasuke berjalan mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi. Dan responnya tidak berbeda dengan respon pelayannya. Kaget bercampur takut melihat tubuh gadis yang Sasuke bopong.
"Ceritanya nanti Ka-san, Sakura harus mendapatkan perawatan dulu. Nanti aku jelaskan!"
"Tolong telepon dokter Kabuto, Aiko Ba-san!" perintah Sasuke kepada bibi pelayan untuk memanggil dokter pribadi keluarga Uchiha. Sasuke meletakkan tubuh Sakura hati-hati diatas ranjang. Kemudian menarik selimut sampai batas dadanya. Lalu duduk di samping tubuh Sakura sambil mengusap rambut pink itu penuh kasih sayang dengan tangan kirinya yang tidak terluka.
"Sasuke, ikut Ka-san. Kita harus merawat luka mu dulu. Biar Sakura dijaga Aiko, dan tolong di ganti baju Sakura, Aiko!" perintah nyonya Mikoto kepada pelayannya.
Seketika Sasuke merasakan betapa sakit tangan kanannya seperti rasa terkoyak, panas menyengat dan tertusuk jarum menjadi satu.
"Aaarrgghhh!" teriak Sasuke karena tidak dapat menahan kesakitan. Darah yang menetes di tangan kanan Sasuke berubah menghitam dan di sekitar robekan sudah legam membiru. Menandakan indikasi racun Cerberus telah menyebar ke jaringan di sekitar lukanya.
"Astaga Sasuke-kun!" teriak Mikoto melihat tubuh Sasuke luruh ke lantai. Mikoto setengah berlari ke arah telepon rumah, lalu memencet beberapa nomor. Nada dering pertama dan kedua belum terangkat membuat Mikoto tidak sadar mengetukkan jemari lentik nya di meja telepon karena panik. Pada dering ke tiga barulah lawan bicaranya mengangkat telepon.
"Halo Fugaku-kun, ku mohon pulang lah cepat!"
"..."
"Sasuke-kun pulang membawa gadis berlumuran darah, lalu...!"
"..."
"Um!"
"..."
"Hai! Aku tunggu di rumah!"
.
Pink Nimpha
.
"Oji-san, tolong ke kamar tamu!" perintah Mikoto pada satpam di luar melalui sambungan telepon.
Mikoto mengangkat kepala Sasuke di pangkuannya sambil menunggu Jirobu-jisan, petugas satpam untuk mengangkat tubuh Sasuke yang pingsan ke kamarnya.
"Nyonya..?"
"Tolong angkat Sasuke-kun ke kamarnya Ji-san!" perintah Mikoto begitu Jirobu-jisan melangkah ke dalam kamar tamu lalu membopong tubuh Sasuke. Mikoto mengikuti dari belangkang setelah meminta Aiko untuk menjaga dan membersihkan tubuh Sakura serta mengganti bajunya yang telah berubah warna menjadi merah darah.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke mengerjapkan mata kelamnya, menyesuaikan dengan cahaya lampu di langit-langit kamarnya. Beberapa menit kemudian pemuda tampan ini menengok ke samping tempat tidur. Terlihat sang ibu dan ayahnya yang memandang nya cemas.
"Syukurlah... Kau sudah sadar nak!" suara Mikoto pertama kali di dengar Sasuke. Pemuda tampan ini masih disorientasi, hingga perban yang membalut punggung serta telapak tangannya mengingatkan pada Sakura. Dengan tergesa Sasuke melompat dari atas tempat tidur hanya untuk mendapatkan sentakan pusing yang sangat menyakitkan pada kepalanya. Beruntung sang ayah sempat menahan tubuhnya sebelum jatuh ke lantai.
"Tenanglah Sasuke, kembalilah berbaring!" ucap Fugaku membantu tubuh Sasuke berbaring lagi di tempat tidur. Sang ibu menarik-kan selimutnya begitu Sasuke berbaring nyaman sampai batas perut.
"Bagaimana keadaan Sakura, Ka-san?" tanya Sasuke.
"Sakura baik-baik saja, Sasuke-kun. Sekarang sedang tidur karena pengaruh obat dari dokter Kabuto!" jelas Mikoto. Sang ibu duduk di samping kepala Sasuke sambil mengelus rambut onix tersebut dengan lembut. Sesekali menyeka keringat di dahi Sasuke dengan ujung yukata nya.
"Berapa lama aku pingsan, Ka-san?"
"Tiga jam, Sasuke-kun."
"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi, Sasuke?" tanya sang kepala keluarga.
"Fugaku-kun, Sasuke-kun masih lemah. Biarkan dia beristirahat dahulu!" sela Mikoto tidak setuju.
"Aku baik-baik saja Ka-san." ucap Sasuke sembari tersenyum kepada Mikoto, menyakinkan Ibunya bahwa ia baik-baik saja. Kemudian menghadap sang ayah yang telah menunggu nya bercerita.
"Aku yakin Otou-san dan Oka-san tidak akan percaya dengan apa yang akan aku ceritakan...!" Sasuke menjeda kalimatnya, memandang ekspresi datar Fugaku dan kerutan di dahi Mikoto. Seakan perintah tak langsung untuk menceritakan peristiwa yang telah ia alami kepada mereka, ntah nanti percaya ataupun tidak; itu urusan belakang. Setelah mengganti posisi duduk dengan bersandar pada kepala ranjang dan menghela napas panjang, Sasuke kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kejadiannya begitu cepat Tou-san, Ka-san. Aku dan Sakura menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman sekelas kami. Aku membawa Sakura ke taman agak jauh dari rumah, karena ada sesuatu hal yang harus aku bicarakan secara pribadi dengan Sakura. Beberapa saat kemudian makhluk itu muncul.. Entahlah belum pernah aku lihat sebelumnya. Makhluk itu berkepala tiga sebesar singa. Ntah bulu atau duri berwarna hitam di sepanjang badannya setajam jarum. Saat itu kami tidak sadar telah jauh dari rumah, karena selanjutnya makhluk itu mengejar kami dan menghilang saat ada temanku menegur karena pesta dansa akan di mulai!" Sasuke menghela napas lagi. Kembali melihat ekspresi kedua orangtuanya. Wajah sang ayah masih sama datarnya sedangkan sang ibu semakin banyak kerutan di dahinya. Sasuke merasa seperti bercerita tentang dongeng tidak nyata. Ia tidak yakin jika kedua orangtuanya mempercayai kisah tersebut apalagi yang akan ia ceritakan selanjutnya.
"Setelah acara itu selesai aku mengantarkan Sakura pulang ke rumah. Ternyata kedua orangtuanya tidak ada. Aku menawarkan Sakura untuk tinggal sementara disini tapi dia tidak mau jadi meskipun cemas aku meninggalkan Sakura dan kembali ke mobil. Beberapa saat kemudian suara teriakan Sakura minta tolong. Begitu aku berhasil masuk ke dalam rumah, makhluk berkepala tiga itu sudah mencengkeram punggung Sakura di lantai. Dan inilah yang kudapatkan setelah meninju tengkuk makhluk tersebut!" Sasuke menjeda sejenak untuk menunjukkan punggung tangan kanannya yang di perban.
"Aku membawa Sakura turun ke lantai satu begitu melihat makhluk tersebut tampak kesakitan. Tapi sebelum kami sampai di tangga terakhir dia kembali melompat, menghadang kami berdua. Samar ku dengar Sakura seperti mengucapkan suatu mantera. Lalu tiba-tiba di sekeliling makhluk itu muncul tembok es ntah dari mana. Makhluk itu masih mengejar ku begitu sampai di mobil dan menjalankannya secepat yang kubisa. Tapi sekali lagi begitu sampai di tempat ramai makhluk itu tiba-tiba lenyap!" Sasuke mengakhiri ceritanya sambil mengusap wajahnya secara kasar. Pemuda tampan ini bahkan yakin jika orangtuanya menganggap ada masalah pada otaknya. Hening! Sasuke mendongak menatap kedua orangtuanya. Sang ayah meskipun masih berwajah datar namun rasa cemas tergambar jelas dari ekspresinya. Sang ibu sendiri tercengang dengan menutup mulutnya pakai telapak tangan.
.
.
.
"Cerberus, makhluk yang mengejar kalian dari spesies Cerberus. Anjing penjaga Neraka. Juga sebagai peliharaan nya Hades. Sang Dewa Kematian!" ucap Fugaku beberapa saat memecahkan keheningan. Nampak kerutan samar di dahinya seakan memikirkan suatu masalah.
"Sasuke, Mikoto.. Tunggu di sini aku akan kembali!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut Fugaku keluar dari kamar Sasuke. Tak lama kemudian pria paruh baya ini masuk dengan buku bersampul kulit hitam tebal di tangan kanannya. Lalu meletakkan buku tersebut di samping tubuh Sasuke sambil membolak-balikkan halaman. Setelah menemukan halaman yang dia inginkan, Fugaku menunjukkan nya pada Sasuke dan Mikoto. Terlihat di sana gambar makhluk yang sesuai dengan cerita Sasuke. Hanya saja berkepala lima dan memiliki ekor layaknya kalajengking.
"Yang kau lihat di rumah temanmu maupun di rumah Sakura, Cerberus biasa Sasuke, sedangkan yang ini transformasi bentuk Cerberus ke tahap sempurna!" ucap Fugaku. Kedua orang lainnya tercengang melihat telunjuk Fugaku yang mengarah pada gambar Cerberus sempurna. Bahkan duri-duri setajam jarum lebih panjang beberapa centi mengelilingi tengkuk kelima kepala makhluk tersebut layaknya surai singa.
Fugaku membalik halaman buku lagi. Lalu menunjukkan gambar pemuda tampan bertubuh kekar dengan rambut hitam panjang. "Kakek moyang kita, Uchiha Madara merupakan keturunan Elf murni. Beliau menikah dengan Senju Hikari, manusia biasa keturunan Warewolf. Hanya ada dua kemungkinan untuk keturunan mereka. Terlahir sebagai Elf atau manusia biasa. Putra pertama mereka merupakan manusia normal seperti aku dan ibumu," wajah Fugaku mengernyit melirik Mikoto, "dan setelah itu hanya manusia normal yang terlahir dari keturunan Uchiha." Fugaku menjeda kalimatnya untuk mengambil napas panjang. Sepasang mata kelamnya memandang Sasuke penuh perhatian.
"Tapi Sasuke, dari keturunan moyang kita juga ada keajaiban. Keturunan yang terlahir kembar. Kejadian langka yang di takdirkan oleh Kami-sama!"
Mikoto mendekap lengan Fugaku, bermaksud menenangkan suaminya yang di sambut dengan tepukan lembut pada jemari lentik Mikoto oleh Fugaku.
"Sasuke, kalian terlahir kembar. Kau dengan Uchiha Itachi, kakak kembarmu. Kalian berdua merupakan Elf murni.." Sasuke tercengang mendengar fakta dari ayahnya. Ia memiliki saudara yang lain, bahkan saudara kembar. Kakak kembar lebih tepatnya.
Fugaku memegang tangan kanan Sasuke yang di perban dengan hati-hati. "Inilah bukti jika kau Elf murni Sasuke. Karena setetes racun Cerberus mampu membunuh sepuluh orang manusia, walaupun itu Cerberus biasa. Kekuatan penyembuh bangsa Elf yang ada pada dirimu menekan dampak racun tersebut. Kau masih bisa bernapas dan hidup di depan kami meski tanganmu sekarang mati rasa!"
Setelah mendengarkan kalimat terakhir dari ayahnya, Sasuke tidak merasakan kesakitan lagi pada tangan kanannya.
"...namun, kau dan kakak mu harus kami pisah. Sebelum kalian berusia 17 tahun, kekuatan Elf yang ada pada diri kalian tidak stabil. Jika kalian bersama-sama dan kehilangan kendali, maka kekuatan kalian mampu menghancurkan seisi kota Konoha" jelas Fugaku menatap wajah Sasuke penuh perhatian.
"Dengan alasan itulah kalian kami pisahkan untuk menekan kekuatan pada diri kalian masing-masing...,"
"Dimana? Itachi-nisan sekarang berada di mana?" sela Sasuke sebelum Fugaku menyelesaikan kalimatnya. Pemuda tampan ini tidak habis pikir terhadap sang Tau-san, marah bercampur kecewa. Bagaimana mungkin selama 15th hidupnya tanpa mengetahui kabar saudara kembar nya sedikit pun. Selama ini, Sasuke sesekali merasakan sakit pada bagian dada kirinya tanpa sebab. Mungkin inilah yang orang sebut dengan firasat yang saling berhubungan antara saudara kembar. Jika yang satu merasakan kesakitan maka yang lainpun merasakannya juga.
"Uchiha Sasuke, bersikaplah sopan pada ayahmu!" gertak Mikoto. Keluarga Uchiha masih memegang teguh etika dalam bersikap, dilarang memotong pembicaraan orang yang lebih tua.
"Tidak apa-apa Mikoto. Sudah sewajarnya Sasuke melakukan hal tersebut," Fugaku kembali menghela napas panjang setelah menyesap teh hijaunya. Sebagai seorang ayah, pria paruh baya ini mengetahui jelas rasa kecewa yang nampak pada raut wajah Sasuke. "Itachi sekarang diasuh langsung oleh keturunan Warewolf murni dari Klan Namikaze, Namikaze Minato. Dari kalian berdua, kau lebih mampu mengendalikan kekuatanmu sehingga kakakmu harus berada dalam pengawasan Alpha Minato."
"Saat usia kalian menginjak 17th dan kekuatan kalian lebih stabil, aku akan meminta Itachi kembali ke rumah ini. Berkumpul bersama kita lagi!" Fugaku mengakhiri ceritanya. Lalu menghadap ke arah Mikoto sambil mencengkeram tangan Mikoto lembut.
"Mikoto, maafkan aku karena merahasiakan sejarah Klan Uchiha selama ini darimu!" ucap Fugaku pada sang istri. Mikoto mendekap lengan Fugaku lebih erat sebagai tanda bahwa sudah memaafkan suaminya.
Dulu waktu menyerahkan Itachi pada sahabat mereka, Fugaku hanya bilang bahwa itu semua untuk kebaikan anak-anak mereka tanpa memberitahukan alasan sebenarnya. Saat itu sebagai seorang ibu Mikoto memang keberatan. Ibu mana yang rela berpisah dari putranya setelah dua tahun menyusui dan merawat Itachi. Tapi sebagai seorang istri yang dituntut untuk mematuhi perintah suami, dengan berat hati dan penuh air mata, Mikoto merelakan Itachi untuk diasuh sahabatnya. Namikaze Minato dan istrinya Namikaze Kushina. Sahabat keturunan Warewolf murni yang mereka anggap sebagai saudara sendiri meski tidak ada hubungan darah sedikitpun.
"Hai, aku memaafkanmu Anata!" jawab Mikoto dengan senyum manis di bibirnya. Mikoto melepaskan dekapannya pada Fugaku lalu berjalan ke sisi ranjang yang lain. Setelah duduk, wanita cantik ini memeluk tubuh Sasuke erat. "Kami minta maaf kepadamu Sasuke-kun, merahasiakan Itachi-nisan darimu! Seharusnya dari dulu kami memberi-tahukan tentang Itachi kepadamu, namun karena alasan itulah baru sekarang kami mengatakannya. Ka-san berharap kau mau memaafkan kesalahan kami Sasuke-kun. Ini semua kami lakukan demi kebaikan kalian." Baik Mikoto maupun Fugaku merasa lega karena telah menceritakan Itachi, putra mereka yang lain kepada Sasuke, kembaran Itachi yang mereka asuh sendiri.
Suasana menjadi hening beberapa saat. Sasuke masih mencerna informasi dari kedua orangtuanya. Ia yang selama ini berpikir bahwa menjadi putra tunggal dari keluarga Uchiha ternyata memiliki kakak kembar. Begitu pula status nya sebagai manusia normal. Sekarang fakta mengatakan bahwa dirinya tidak hanya memiliki saudara yang lain, Sasuke juga seorang Elf murni. Adakah fakta yang lebih mencengangkan dari hal ini? Sasuke tidak pernah berpikir bahwa makhluk legenda yang ia baca sekilas di cerita dongeng anak-anak ada di dunia yang ia tinggali ini. Sedikitpun ia tak pernah menduganya. Bahkan dirinya menjadi salah satu spesies makhluk abadi tersebut. Holli shit! Takdir macam apa yang telah digariskan oleh Kami-sama untuknya?
Meskipun marah dan kecewa, Sasuke memaklumi perbuatan ayah dan ibunya. Lagipula bukankah ia merasa senang karena mempunyai seorang kakak? " Aku maafkan Ka-san, Tou-san."
Lega... Itulah yang tertangkap oleh Sasuke saat melihat wajah kedua orang tuanya.
.
.
.
"Sudah larut malam Sasuke-kun. Besok kita akan membicarakan hal ini lagi. Sebaiknya kau istirahat Sasuke-kun!" Mikoto membenarkan selimut Sasuke setelah Sasuke merubah posisi tubuhnya menjadi berbaring nyaman. Lalu menepuk rambut Sasuke pelan sebelum meninggalkan kamar Sasuke.
"Selamat malam Sasuke-kun. Tidur yang nyenyak," Mikoto menjeda kalimatnya lalu melihat wajah suaminya, "Ayo kita juga istirahat Fugaku-kun!" ajak Mikoto sambil tersenyum kepada Fugaku.
"Jika ada apa-apa panggil Ayah atau Ibumu. Selamat malam!" ucap Fugaku kemudian mengikuti langkah Mikoto dari belakang.
Sekarang Sasuke sendirian di kamarnya. Meskipun tubuhnya lelah luar biasa Sasuke tidak mampu menutup mata barang sejenak. Ranjang berukuran besar yang ia pakai untuk berbaring nyaman pun tidak membantu sama sekali membuat Sasuke terlelap. Jika bisa mungkin otaknya akan meledak karena over memikirkan fakta yang telah ia dapatkan dalam satu hari ini. Namun... jika dirinya seorang Elf, lalu makhluk jenis apa kekasihnya, Haruno Sakura?
.
.
.
.
.
.
Fugaku berbaring nyaman diatas tempat tidur dengan Mikoto di sampingnya. Pikirannya mengingat saat dulu. Ketika kedua putra mereka masih kecil.
Suatu malam yang di landa badai hebat. Hujan turun sangat deras dengan bunyi guntur bersahutan, Fugaku merasakan firasat buruk. Ayah muda ini berjalan tergesa-gesa ke kamar kedua putranya. Sang istri Uchiha Mikoto nampak tertidur pulas di kamar utama. Keadaan rumah sangat hening, hanya suara guntur yang sesekali memekakkan telinga Fugaku. Para pelayan sudah tertidur di kamar masing-masing. Bahkan satpam di luar yang bertugas pun ikut tertidur. Seakan hanya dirinya sendiri yang sekarang sadar.
Fugaku telah sampai di depan kamar si kembar. Meski diluar badai melanda namun Fugaku masih bisa mendengarkan tangisan si kembar dari dalam kamar. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu kamar. Alangkah terkejutnya seorang Uchiha Fugaku saat melihat keadaan Itachi dan Sasuke. Dari dalam tubuh balita tersebut keluar cahaya merah dan ungu. Cahaya tersebut bercampur memenuhi ruangan kamar sebelum melesat keluar. Sedetik kemudian kilat yang teramat terang menyilaukan mata Fugaku hingga membuatnya menutup mata sejenak, bahkan cahaya tersebut mampu menerangi seisi kamar si kembar. Lalu bunyi guntur yang sangat kencang terdengar begitu cahaya mereka bertabrakan dengan langit malam. Mereka saling bersahutan antara cahaya yang keluar dari kamar, kilat yang teramat terang dan bunyi guntur yang memekakkan telinga.
Masih dalam keadaan panik, Fugaku mencoba menenangkan si kembar. Mengangkat tubuh Itachi pada lengan kanannya dan Sasuke di lengan kirinya. Masing-masing balita tersebut masih terbungkus selimut untuk menghangatkan tubuh mereka dari terpaan angin kencang yang berhasil menerobos dari celah jendela kamar.
"Tenanglah sayang, ada Tou-san di sini. Tou-san akan menjaga kalian berdua!" Fugaku menimang kedua tubuh balita di lengannya tersebut.
"Semuanya akan baik-baik saja sayang. Tenanglah putra-putraku tersayang!" tak berapa lama balita Itachi dan Sasuke kembali terlelap di lengan sang ayah. Fugaku meletakkan mereka hati-hati di boks masing-masing.
"Otou-san menyayangi kalian berdua. Apapun yang terjadi Tou-san akan menjaga kalian berdua, selalu!" Fugaku mencium kening mereka bergantian, lalu memandang kedua putranya penuh kasih sayang. Beberapa saat kemudian ayah muda ini berbaring di sofa dalam kamar si kembar, menjaga mereka berdua. Tanpa Fugaku sadari badai dahsyat yang tadi melanda Konoha sudah kembali tenang. Malam kembali tenang, bintang-bintang bertaburan memenuhi langit malam setelah awan badai terhalau.
"Apa kabar mu di sana nak!" batin Fugaku mengingat Itachi, putra mereka yang jauh dari dirinya.
.
.
.
.
.
.
Jauh dalam hutan milik kawanan Warewolf Namikaze, di balik lebatnya pohon pinus terdapat mansion mewah bercat putih. Dilihat dari sudut manapun juga, tidak cocok jika terdapat mansion mewah dalam rimbunnya hutan. Seorang pemuda tampan bertubuh kekar terbentuk sempurna karena pelatihan fisik keras yang ia jalani dengan warna kulit tan karena lebih sering terpanggang sinar matahari. Pemuda tersebut memiliki rambut panjang lurus berwarna hitam, begitu pula warna matanya. Hitam kelam. Uchiha Itachi berbaring nyaman diatas tempat tidurnya. Ia masih belum bisa tertidur. Punggung tangan kanannya terasa amat menyakitkan. Ada legam membiru di sekitar punggung tangannya. Tidak seperti Sasuke yang baru mengetahui rahasia Klan Uchiha sekarang. Itachi dari usia 5th sejak dirinya mampu memahami dan mengerti, 'Namikaze Minato' ayah angkatnya memberi tahukan fakta kenapa ia sampai berpisah dari keluarga Uchiha dan di asuh olehnya. Bahkan Itachi telah mengetahui arti dari keberadaan Uchiha Sasuke dalam hidupnya.
"Sasuke-Otouto!" gumam Itachi sambil mengelus punggung tangan kanannya.
"Bagaimana keadaanmu di sana?"
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
Author note,
Maaf jika update cerita ku ini lama banget. Tapi karena dukungan dari teman teman, akhirnya aku mendapatkan ide juga untuk melanjutkannya. Terima kasih banyak pada kalian semua yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca, menyukai dan mengikuti cerita ku ini. Bahkan beberapa review, ku dapatkan sangat mendukung ku melanjutkan fic ini. Terima kasih banyak. Kutunggu review kalian selanjutnya... See u next chapter.
