Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Slice of Life / Humor

Rated: T

Pairing: SasuSaku

Warning: AU, OOC Super, Komedi garing, Bahasa ga baku, Cerita ga jelas dan berbagai hal lain.

Keterangan: Tidak ada satu karakter pun yang dibashing dalam fanfiksi ini, semua hanya kepentingan plot belaka.

Saya suka banget sama karakter Sakura dan Sasuke disini (walopun Sakura keliatan kaya cewek gahar dan Sasuke jadi cowok pelit hahaha). Yah, better lah daripada di fiksi saya yang lain, saya paling suka karakter mereka disini.

Buat style mereka bayangin aja gaya rambut mereka pas kaya di chapter 700, jadi Sasuke rambutnya udah ga emo alay kaya bebek lagi :p

Naruto © Masashi Kishimoto


Apa sih yang paling kerasa saat kamu jomblo? Kenapa sampai sekarang masih jomblo? Berikut adalah jawaban-jawaban dari para jones yang umurnya udah kelewat mateng.

Jomblo? Apaan tuh? Selama gue punya dakimakura Miku-chan di kamar gue, gue ga ngerasa jomblo.—Akasuna Sasori, 30 tahun, weeaboo plus wota. Pekerjaan: freelancer. Lama jomblo: seumur hidup.

Jomblo tuh kerasa banget ketika ga ada yang nemenin gue lemparin petasan pas pertandingan sepak bola. Eh dan satu lagi, saat ga ada yang nemenin gue kabur dari polisi pas ketauan lempar petasan—Deidara, 30 tahun, maniak petasan. Pekerjaan:pengusaha petasan. Lama jomblo: 10 tahun.

Selama ada dewa Jashin, gue ga butuh pasangan. Udah ah gue lagi mau nyiapin sajen buat dewa Jashin—Hidan, 35 tahun, penganut aliran sesat. Pekerjaan:perekrut anggota. Lama jomblo: Seumur hidup.

Siapa yang bilang saya jomblo? Saya ini wanita mapan yang memilih single! Awas kamu kalau ngatain saya jomblo lagi! Tak acak-acak nanti isi perutmu—Senju Tsunade, 50 tahun, galak. Pekerjaan: Dokter Bedah. Lama jomblo: 20 tahun

Demikian reportase hari ini, mari kita lanjutkan ke cerita

Summary:

Buat Haruno Sakura yang masih berstatus single di usianya yang ke-28 tahun, pertanyaan "Kapan nikah?" itu sudah menjadi momok yang menakutkan. Sampai akhirnya dia bertemu cowok ganteng tapi pelit yang bernama Uchiha Sasuke yang ternyata merupakan CEO Uchiha Group. Yah beginilah kisah Haruno Sakura si Dokter spesialis syaraf, peneliti, sekaligus kepala rumah sakit Konoha yang masih jomblo sampai sekarang.

Akina Takahashi presents,

JOMBLO

Story by: Akina Takahashi

Chapter 2: Jadi Istri Orang Kaya Itu Enak. Benarkah?

Kata orang dulu, anak perempuan itu ga mesti pinter buat hidup senang. Cari aja suami kaya, selesai deh segalanya. The end seperti cerita-cerita dongeng dimana si cewek nikah sama sang pangeran dari negeri far far away. Sakura dari dulu ga percaya sama mitos itu. Di dalam prinsipnya, cewek itu mesti mandiri dan ga boleh bergantung sama suami sendiri apalagi sama suami tetangga, ya iya lah bisa digampar-gamparin tuh sama ibu-ibu sekompleks. Ups, oke mari kita lanjutin ke narasi selanjutnya.

Ahem.

Nah, prinsip inilah yang bikin Sakura kecil tumbuh jadi seorang wanita mandiri bermental baja yang ga gampang jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta, kisahnya malah berakhir tragis ditinggal nikah seperti yang sudah diceritakan di chapter sebelumnya. Ironis kan?

Jujur aja buat Sakura, jadi jomblo hampir seumur hidup itu berat banget (pacaran main-mainan sama Naruto ga usah dianggap lah ya). Bayangin hampir 28 tahun jomblo meenn! Perih tau ga sih? Kebayang ga gimana rasanya setiap dateng ke nikahan teman selalu datang sendirian tanpa didampingi sang calon? Eh udah sedih karena dateng sendirian, masih ditanyain "Kapan nikah" pula sama temen-temen. Rasanya bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga eh diatas tangganya ada durian runtuh—

Eh bentar, kalo ketimpa durian runtuh itu artinya hoki ya? Oke salah ya? Ya sudahlah ya.

Tapi mungkin, hanya mungkin ya, camkan itu! Setelah kejadian absurd di chapter sebelumnya mungkin status Sakura bisa berubah dari single jadi double— (dikira main badminton apa?)

Ya minimal it's complicated lah ya. Karena hubungan dia sama si cowok ganteng tapi pelit yang katanya namanya Uchiha Sasuke itu super ga jelas.

Suami bukan. (Nikah aja belom kok)

Pacar bukan. (Kapan jadiannya coba?)

Temen bukan. (Temen darimana absurd begini)

Pasien juga bukan. (Satu-satunya penyakit yang kemungkinan menyerang Sasuke adalah Mr. Crabs syndrom alias sindrom pelitnya Mr. Crabs, tokoh kepiting super pelit dalam kartun Amerika berjudul Spongebobs Squarepants yang sering Sakura tonton bareng Inojin, anaknya Ino yang baru berumur 5 tahun. Kalopun si Uchiha beneran menderita penyakit ini kayanya Sakura ga bisa nyembuhin deh.)

Sumpah deh, jujur Sakura udah kebelet banget pengen nikah tapi ga gini-gini amat kali calonnya. Sakura sebagai wanita karir yang sukses, cantik, pinter, keren, boleh dong ngarepin cowok yang setara sama dia? Yah, Sasuke masuk lah sama kategori setara, lebih malah kalo dilihat dari poin sukses mah. Lah dia CEO Uchiha group yang asetnya ada di seluruh penjuru bumi, bahkan katanya mereka siap beli tanah di Mars kalo proyeknya NASA berhasil. Ga tau buat apa. Buat dibisnisin properti mungkin sama alien-alien Mars.

Tapi kalo dari sisi kepribadian... bener deh kata Naruto. Cowok satu ini ga normal. Wajahnya yang super ganteng itu ga punya ekspresi, seumur-umur Naruto kenal sama ni orang (katanya dia kenal dari TK, untung Sakura ga pernah ketemu sama ni orang sebelumnya walopun sohibnya ternyata udah temenan lama sama Sasuke. Yah dia tau cuma dari dengerin cerita Naruto doang sih) Naruto sama sekali ga pernah liat Sasuke ketawa lepas (paling senyum tipis doang), nangis, marah, malu, sedih, takut, atau apalah. Ini orang kakunya udah kaya robot katanya. Selain datar dan kaku, Sasuke juga sama sekali bukan tipe cowok yang friendly sama cewek, makanya cewek-cewek pada takut sama dia.

Belum lagi dia menerapkan prinsip bisnis dalam semua tindakannya. Dia ga mau rugi walau barang 1 yen pun. Katanya Naruto sih, Sasuke itu walaupun kekayaannya ga akan habis sampai 15 turunan, dia tetep ga mau rugi dalam hal apapun. Dia hobi ngumpulin voucher-voucher belanja di brosur gratisan, rajin mantengin website diskonan, kalau belanja dia pasti nanyain petugasnya kartu kredit mana yang promonya paling besar hari ini dan hal-hal ini yang bikin Naruto sebel. Ya iyalah, tampang ganteng, gaya oke, status sosial oke, eh bayar makan di restoran pake voucher menang nemu di jalan. Mending kalau Naruto dibayarin juga, eh nyatanya Naruto bayar sendiri meeenn! Gile ni orang satu. Makanya Sakura langsung nolak habis-habisan begitu Naruto mau nyomblangin dia sama Sasuke. Ceritanya Naruto serem gini sih soalnya. Coba ni cowok rada normal dikit, mau kali Sakura sama dia dari awal.

Please Sakura udah pengen nangis kalau mengingat semua cerita Naruto itu. Dan dia tambah mau nangis kalo inget dia lagi diculik sama si Mr. Crabs ini dan dibawa kabur ga tau kemana.

"Sudah sampai." Suara datar milik si pelaku pembuat galau akhirnya menyadarkan Sakura dari lamunannya.

"Serius kita beli gaun disini?" Sakura mengernyitkan kening ketika melihat toko produk fashion branded termahal di Ginza kini menjadi tujuan dari mereka. Dia masih ga yakin Sasuke mau beliin dia gaun dari toko ini. Kalau belanja disini duit gacha pon yang berbunga 10% itu mah bagaikan butiran debu, ga ada harganya. Lah harga barang disini paling murah mungkin bisa 500,000 yen kali. Kalau inget kepribadiannya Sasuke sih mana mau dia beliin Sakura gaun.

Atau mungkin Sasuke insyaf?

Mungkin dia emang berniat mau mendermakan sebagian hartanya pada Sakura?

Sasuke tidak menjawab pertanyaan Sakura, dia dengan santainya membuka pintu mobilnya dan memberikan kuncinya pada petugas valet parking. Sakura mengikuti si cowok berambut hitam itu dengan terburu-buru. "Sasuke!"

"Selamat siang, Uchiha-sama." Seorang pelayan cewek membungkukkan badannya memberi hormat pada Sasuke.

"Carikan dress yang bagus untuk nona ini." Perintah Sasuke dengan gaya arogan pada pelayan cewek yang berdiri di depannya itu.

Mak, sombong kali gayanya. Udah kaya Kaisar Jepang aja. Pake tolong gitu kek, ni anak ga diajarin sopan santun apa? Sakura mendecih ketika melihat lagak Sasuke yang menurut dia super sengak bin nyebelin itu.

Tapi bukannya kesal atau apa si mbak-mbak pelayan toko itu malah terpesona sama ke-charming-an si cowok sengak itu. "Mari ikut saya nona."

Sakura mengikuti mbak pelayan toko untuk mulai mencoba dress. Setelah beberapa saat akhirnya ia memilih sebuah dress backless sederhana berwarna hijau yang sewarna dengan matanya itu terlihat sangat pas di tubuhnya. Membuatnya terlihat lebih feminin dan seksi di saat yang bersamaan.

Memang dasar cowok tanpa ekspresi, dia ga bereaksi apapun ketika melihat Sakura yang sudah berubah jadi angsa cantik di hadapannya itu.

"..."

"..."

"..."

KRIK KRIK

Awkward

"..."

"..."

"Gimana?" Akhirnya Sakura yang jengah dengan keheningan awkward ini segera angkat bicara.

Diam sesaat sebelum akhirnya Sasuke berkomentar "Hn... bagus."

Wajah Sakura memerah ketika mendengar kata-kata Sasuke. Itu pujian kan? Walaupun dia ngomong tanpa nada bicara tetap saja itu pujian kan?

"Kamu memujiku?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku memuji gaun yang kau pakai. Ternyata produk kami bisa sebagus itu. Mungkin aku akan menginstruksikan agar produksinya bisa ditingkatkan." Ujar Sasuke serius layaknya business man yang sedang melakukan survey produk.

Sakura tersenyum kecut. Ini cowok nyebelin bangeet~! Udah GR dipuji eh yang dipuji bukan aku. Sialaaan~! Rajungaaan! Sakura udah ngikutin umpatan ala pelaut yang dia tonton di acara TV sangking keselnya.

"Heh, aku sudah capek-capek ganti baju. Tapi kamu malah mengomentari bajunya bukan orangnya!"

"Hmph—" mbak-mbak pelayan yang membantu Sakura tadi tidak kuat menahan tawanya. Dia sampai menahan mulutnya dengan tangan supaya ga ketawa ngakak. Sakura melotot nyalang melihat si mbak dengan enaknya ketawa diatas penderitaan orang. Si mbak langsung keki ketika melihat Sakura melotot kearahnya.

"Maaf, bisa tinggalkan kami sebentar mbak? Aku ingin berbicara dengan temanku." Si mbak akhirnya berhasil mengontrol dirinya supaya ga tiba-tiba ngakak. "Baik nona."

Sebelum si mbak pelayan toko pergi lebih jauh, Sasuke segera memanggilnya kembali. "Catat kode produksi gaun ini di catatan inventaris, berikan keterangan jika aku mengambil gaun ini."

"Baik, Uchiha-sama." Si pelayan toko akhirnya mengangguk dan menjauh dari Sakura dan Sasuke.

Sakura yakin dia pasti ngakak di belakang sama temen-temennya. Soalnya kedengeran suara tawa dari sana.

Sialaan. Ah sudahlah! Ada yang lebih penting. Kenapa coba dia mau aja diajak kesini tanpa ada penjelasan?

Sang dokter spesialis itu mendekati Sasuke. Alisnya mengernyit. "Kau belum menjelaskan apapun padaku!"

"Memangnya apa yang perlu dijelaskan?" ujar Sasuke dengan suara dan ekspresi datarnya. Ia melipat tangan di depan dadanya.

Gayanya aristokrat bangeet kyaaa! Abang ganteng kenapa harus nyebelin siih? Inner Sakura menjerit-jerit heboh.

"Ehem." Sakura berdeham untuk menghilangkan pikiran-pikiran ga jelas yang dari tadi berseliweran di kepalanya. "Banyak sekali yang harus dijelaskan!"

"Hn?"

"Untuk apa kita berada disini sekarang? Memangnya kita mau pergi kemana? Ini seriusan gratis kan? Ga bayar apapun kan?" Tanya Sakura bertubi-tubi. Dia agak ngeri juga kalau Sasuke beli gaun disini eh nanti malah dia yang disuruh bayar. Memangnya dikira dokter spesialis itu banyak uang apa? Bayar sewa apartemen saja nunggak, ga kebayang deh kalau disuruh bayar dress.

"Mencari gaun yang cocok untukmu untuk pesta nanti malam. Jangan khawatir, tidak ada yang perlu membayar disini karena toko ini merupakan milik Uchiha Group." Jawab Sasuke singkat, padat, dan ganteng— eh sorry maksudnya jelas bukan ganteng.

"Berikan aku alasan yang jelas kenapa aku harus ikut denganmu ke pesta?" tanya Sakura heran. "Kita bahkan baru kenal hari ini."

"Alasan yang sama denganmu tadi siang." Sasuke mengangkat bahu.

"Hah? Sorry Sas, aku agak bego kalau soal ginian. Bisa kasih penjelasan yang lebih jelas ga?" Jujur Sakura memang ga ahli dalam menebak pikiran orang.

Sasuke mengernyit. Masa dia lupa sama kejadian tadi siang? Yang benar saja.

"Untuk menjadi calon istriku tentu saja."

WHATT?

Sumpah kalau Sakura lagi minum sekarang dia pasti sudah tersedak, tapi karena dia lagi ga makan atau minum jadinya dia cuma batuk kecil saja. "Ca-calon-istri?" Sakura gelagapan.

Sasuke memutar matanya bosan. "Lebay." Gumamnya.

"Yah, sama sepertimu yang mengaku sebagai calon istriku di depan Kakashi. Kali ini aku membutuhkanmu untuk melakukan hal yang sama di depan kolega kerjaku, terutama keluargaku."

Ah, pura-pura ternyata. Ya iyalah, mana ada baru ketemu sehari udah langsung mau nikah aja. Dikira omiai apa. Sakura menepuk kepalanya. Ah! Ini bisa jadi kesempatannya untuk memanfaatkan momen ini supaya dia ga perlu bayar gacha pon yang ga masuk akal mahalnya itu.

"Lalu apa untungnya buatku?" Sakura mulai mencoba membuat penawaran. "Kau berhasil mendapatkan kartu berobat gratis selama 1 tahun di RS Konoha. Lalu aku, apa yang bisa aku dapatkan darimu?"

"Memangnya dress yang kau pakai belum cukup?" Sasuke terlihat kesal. Dia tidak menyangka Sakura akan meminta bayaran. Dia benci kalau uangnya keluar tanpa ada alasan yang jelas.

"Dress ini kan gratis karena toko ini memang ada affiliasinya denganmu. Ini tidak bisa dianggap sebagai bayaran." Sakura berargumen. "Aku ingin kau membebaskanku dari kewajiban membayar gacha pon yang bernilai 200,000 yen itu."

"Bagaimana?" tanya Sakura. "Kalau kau tidak mau, aku akan kabur sekarang juga! Katakan sayonara pada pesta nanti malam!" ancam cewek itu.

Sasuke tampak berpikir keras. Sebagai seorang business man yang selalu menerapkan prinsip ekonomi, Sasuke sama sekali ga pengen kehilangan uang sepeserpun. Tapi kali ini... entah kenapa dia malas untuk berdebat. Lagipula 200,000 yen itu murah daripada dia harus kehilangan muka di pesta malam ini.

"Huf. Oke. Deal." Akhirnya Sasuke menyetujui persyaratan Sakura. "Gacha pon nya gratis. Anggap saja itu bonus."

"Pakai gaun itu untuk pesta nanti malam. Dandan secantik mungkin. Aku akan menjemputmu jam 8." Sasuke tiba-tiba saja berjalan menjauhi Sakura. Sebelum lelaki itu mencapai pintu. Sakura berhasil mencegatnya, dia masih mengenakan gaun cantik pemberian Sasuke (yang gratisan itu). "Kau mau kemana?" cegat Sakura.

"Kantor. Ada yang harus kuselesaikan."

"Lalu aku bagaimana?" tanya Sakura kesal.

"Kau bisa pulang naik taksi kan?"

"Kau tidak mengantarku pulang?" Sakura benar-benar amazed sama cowok satu ini. Tampang kayak pangeran tapi kok sikap ga ada gentle-gentlenya sama cewek.

"Tidak." Sasuke mengeluarkan sebuah form yang sudah ditandatangani olehnya dan memberikannya pada Sakura. "Ini form untuk taksi. Gunakan ini atas namaku dan Uchiha group yang akan membayar tagihannya langsung ke perusahaan taksinya."

Sumpah cowok ini ajaib. Ini berarti gratis lagi kan?

"Lalu bagaimana dengan salonnya? Aku kan harus ke salon supaya bisa dandan cantik malam ini."

"Dandan sendiri bisa kan? Aku belum punya affiliasi dengan salon kecantikan jadi aku belum bisa mendapatkan pelayanan gratis."

FAAAAAKKK!

ANJRIT INI COWOK PELIT BANGET ANJIIIRR~!

KAMPRETT!

RAJUNGAN! SAUS TARTAR!

SAM-ASDFGHJK %$&! (anggap saja di bagian ini sangking kasarnya Author sampai harus mensensornya pakai suara lumba-lumba)

Sakura udah ngomong kasar aja dalam hatinya. Oke berarti dia disuruh pulang sendiri dan dandan sendiri. Calon suami macam apa iniii? Pantesan jomblo... GGP sih Ganteng Ganteng Pelit.

"Sampai ketemu jam 8 nanti." Dan dalam sekejap layaknya sulap, Sasuke sudah menghilang dari penglihatan Sakura.

Sakura menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Kenapa sih dia harus berurusan dengan orang absurd macam ini?

Kok gini gini amat sih jadi calon istri orang kaya?

Walaupun pura-pura tapi tetap aja Sakura kepikiran. Ternyata ga seasik bayangannya ya punya calon suami (boongan) yang super kaya.

.

.


JOMBLO © Akina Takahashi

Published on fanfictiondotnet

Do not copy or republish it on another site without permission

Dilarang keras menyalin sebagian ataupun seluruh dari karya ini tanpa izin Author.


.

.

.

Keio Plaza Hotel Grand Ballroom, 8.30 PM

Sakura sama sekali ga menyangka kalau roda kehidupannya bakal jungkir balik parah seperti ini cuma dalam waktu satu hari. Padahal sebelumnya dia udah desperate cari jodoh gara-gara kelamaan jomblo eh ga taunya statusnya berubah dari jomblo jadi calon istri CEO Uchiha Group cuma dalam waktu satu hari.

SATU HARI MENN! GILA GA?

Ini bukan mimpi kan?

"PLAK" Sakura menampar dirinya sendiri. "PLAKK" Masih ga percaya, dia kembali menampar pipinya lagi.

Ternyata efeknya baru muncul beberapa saat setelah kegiatan menamparnya itu selesai.

Sakiit! Anjir seriusan sakittt! Si cewek pink meringis, mengelus pipinya yang memerah karena ditampar (bukan karena blush on ya.)

Sasuke yang berada di sampingnya mengernyit heran. Ini cewek kenapa lagi?

"Bisakah kau tunda dulu acara tampar-menamparnya?" Sasuke terlihat terganggu dengan kelakuan Sakura yang udah kaya orang masochist itu. "Silakan tampar dirimu sepuasnya nanti setelah acara selesai."

Sakura tersenyum kecut. "Sebenarnya apa yang harus aku lakukan disini?" Saat ini mereka sedang berjalan beriringan menuju meja yang telah direserved sebelumnya. Suasana grand ballroom hotel ini masih sepi. Hanya beberapa pelayan yang terlihat sibuk menata ruangan dan membereskan meja-meja. Menurut keterangan Sasuke sih acara baru akan dimulai 30 menit lagi. Tepat pada pukul 9.00.

Sakura dan Sasuke benar-benar terlihat serasi hari ini. Si cantik berambut pink itu mengenakan gaun yang diberikan oleh Sasuke padanya tadi siang. Green backless dress cantik selutut yang memperlihatkan punggungnya yang putih mulus dipadukan dengan perhiasan dan aksesoris (pribadi milik Sakura lho bukan dibeliin Sasuke) yang sangat cantik dan pas di tubuhnya. Wajahnya dirias dengan make up natural yang membuat wajahnya makin terlihat manis. Rambut pinknya digulung keatas membuat leher jenjangnya terlihat makin anggun. Sementara Sasuke mengenakan tuxedo formal berwarna hitam yang sangat pas dengannya. Yah memang dasarnya dia ganteng mau pakai baju apapun tetap saja ganteng, ga pake baju aja ganteng bangets (Kyaaaa~)

Ehem.

Sakura duduk di samping Sasuke dan si cantik itu masih memohon penjelasan dari si ganteng. "Hari ini statusmu adalah calon istriku."

Sakura membelalak. "Sebentar Sas... kalau ditanya kapan nikah kita jawab apa?"

"Jawab saja as soon as possible. Kalau mereka minta tanggal, bilang aja masih dirahasiakan." Ujar Sasuke dengan nada bicara super datar.

"Hmm... hmm..." Sakura menganggukkan kepalanya. "Lalu kalau ditanya kapan kita mulai pacaran, kenal dimana, dan sebagainya kita jawab apa?" Sakura harus memikirkan skenario yang bagus untuk hari ini. Berbeda dengan kejadian di cafe dimana mereka hanya perlu menipu Kakashi dan keluarganya, disini mereka harus menipu semua pengunjung pesta termasuk keluarga besar Uchiha. Kan ga lucu jika jawaban mereka nanti ga sama ketika ditanya oleh orang-orang. Bisa hancur karirnya kalau ketahuan.

"Bilang saja kita sudah pacaran dua tahun, bisa kenal dan akhirnya pacaran karena Naruto nyomblangin kita." Sasuke mengulang skenario yang telah mereka praktekan sebelumnya di cafe.

"Dan kita backstreet sampai sekarang. Gitu?" Lanjut Sakura.

"Hn." Sasuke mengangguk.

"Alasannya backstreet apa?"

"Bilang aja kalau kita ga mau karir kita terganggu. Jika kita mengumumkan hubungan kita mungkin saja itu bisa mengganggu karir kita."

"Lah kalau begitu kenapa sekarang kamu mau ngajak aku berbohong kalau memang pacaran bisa ganggu karirmu?"

Sasuke mendesah letih. Males juga lama-lama ditanyain begini terus. "Kamu juga pasti tau alasannya."

"He?"

"Sebagai wanita karir sukses yang mapan dan sudah matang untuk menikah tapi masih single sampai sekarang pasti tau alasannya."

OH MAI GATT~ Jangan bilang kalau si Mr. Crabs ini juga sama galaunya sama guee~

"Aku malas ditanyai 'kapan nikah' oleh keluargaku. Lagipula keberadaan pendamping yang layak sangat dibutuhkan untuk mendongkrak image-ku sebagai seseorang yang baru saja diangkat menjadi pemimpin."

Meh.

Ternyata alasannya buat dongkrak imej. Pasti dia pengen nambah pendapatan perusahaannya itu.

Sakura memutar matanya bosan. Dasar mata duitan.

"Ah, ada alasan lain juga—" Mata onyx si pemuda berambut hitam itu tiba-tiba saja membelalak lebar ketika melihat dua orang yang baru saja memasuki Ballroom. Ia dengan cepat bangkit dari kursinya dan menarik lengan Sakura untuk mengikuti langkahnya.

"Eh— ada apa Sas— Ouch! Hati-hati dong—" Sakura yang kaget setengah mati karena ditarik paksa oleh Sasuke hampir saja terjatuh karena keserimpet kakinya sendiri. "Eh, pelan-pelan dasar sin—" Cewek garang itu hampir saja mengumpat kalau saja Sasuke tidak menghentikannya dengan mencium paksa bibirnya. Kemudian memeluk tubuhnya erat. Erat banget sampai-sampai Sakura merasa sesak napas. Mana si cowok itu ga ngasih kesempatan dia buat napas lagi. Ciumannya sih hot banget, tapi... kalo gini terus dia bisa beneran mati.

What the heeelll is going on in heeereee~?! Sakura kaget banget disosor ga karuan di tengah-tengah grand ballroom hotel.

Anjir ini cowok hobi banget nyosooor! Kampret!

Sementara inner Sakura mencak-mencak ga jelas, Sasuke mengarahkan bibirnya dan berbisik di telinga Sakura. "Mantanku baru saja datang bersama pacarnya. Bantu aku membalasnya."

What?!

Jadi penyebab gue disosor ga jelas adalah karena keki ketemu mantan?

"Ogah!" Sakura berusaha melepaskan pelukan cowok ganteng itu tapi gagal. Kuat banget soalnya cengkramannya. "Kita sudah buat perjanjian tadi."

"Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menciumku!" desis Sakura.

"Hari ini saja please..."

Uchiha Sasuke baru aja bilang please sama Sakura. Gila... dunia mau kiamat apa ya? Ini kejadian super langka yang probabilitas terjadinya mungkin kurang dari 0.1%. Uwow~ Amazing~

Sakura kaget juga pas denger Sasuke yang harga dirinya setinggi langit, sedalam samudera, dan seluas jidat lebarnya Sakura itu tiba-tiba aja bilang please. Sedesperate itukah dia mau balas dendam sama mantannya? Tiba-tiba saja Sakura langsung ingat sama Kakashi yang super nyebelin itu. Entah kenapa dia merasakan empati pada Sasuke. "Oke. Jangan kaget kalau aku tiba-tiba berubah karakter ya."

"Hn."

TAP TAP TAP

Suara langkah kaki menghampiri mereka berdua. Sakura dan Sasuke membalikkan tubuh mereka berdua dan tersenyum (ini akting tentu saja. Mana ada Sasuke senyum-senyum ga jelas tanpa alasan) ketika melihat cewek cantik berambut panjang yang dibuat bergelombang berwarna merah menghampiri mereka bersama pasangannya yang rambutnya ubanan (eh itu emang rambutnya putih atau beneran ubanan ya? Entahlah) dan bentuk giginya aneh seperti hiu menghampiri mereka.

"Yo~ Sasuke~ " Si cowok berambut putih yang mengenakan jas berwarna cream pastel dengan seenaknya merangkul bahu Sasuke. "Wiih, pesta belum mulai tapi kalian udah bikin suasana panas aja. Kalau mau cipok-cipokan cari kamar sana."

"Hai, Sasuke-kun." Sapa si cewek rambut merah.

"Hn. Karin."

"Btw, selamat ya akhirnya kamu sudah dapet cewek pengganti Karin. Kukira kau bakal jomblo selamanya. Hahahaha." Si cowok aneh ubanan itu dengan enaknya ketawa di depan Sasuke yang mukanya udah keliatan kesel tingkat dewa. "Hai cantik~ pacarnya Sasuke ya? Kenalin namaku Suigetsu." Cowok gigi hiu itu mengulurkan tangannya pada Sakura dan memberikan kartu namanya pada Sakura.

Sakura cengo. Anjir pacar mantannya Sasuke kok ga ada sopan-sopannya gini. Sok sok an manggil cantik lagi. Yah gue emang cantik sih tapi ga usah gitu dong di depan ceweknya. Ga takut kena damprat apa?

Lagian juga apaan 'pengganti'? I'm not a subtitute! Damn it shannarooo~!

Sakura tersenyum kikuk. Bingung harus ngapain ngehadepin hiu gombal di depannya ini. Ga mungkin dia ngamuk-ngamuk disini kan karena kesel dikatain pengganti. "Haruno Sakura." Akhirnya cewek pink ini dengan enggan menyambut jabatan tangan Suigetsu dan mengambil kartu nama cowok itu.

Hozuki Suigetsu

Kirigakure pharmacy

Director of finance

Sakura mengernyitkan keningnya. Kirigakure? Kok kayaknya familiar banget.

Hal ini dimanfaatkan Suigetsu untuk mengelus tangan Sakura. Sakura baru saja hendak menarik tangannya ketika tiba-tiba saja Sasuke menariknya.

GREP

Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang Sakura dengan erat kemudian menarik gadis itu mendekat kearahnya sehingga jabatan tangan Suigetsu terlepas. "Kenapa kau bisa berada disini?" ujarnya ketus, terlihat sekali ia tidak suka Suigetsu menyentuh Sakura.

Suigetsu tertawa. "Tentu saja untuk menemui kawan lama kami. Untuk memastikan apakah dia sudah move on atau belum." Ia mengerling pada gadis berambut merah di sebelahnya. "Ya kan Karin?"

"Hmm... sepertinya dia sudah move on ya..." Karin mengangkat jemarinya menyentuh wajah Sasuke. "Sayang sekali."

Sakura melotot nyalang melihat cewek itu dengan beraninya megang-megang wajah calon suami (boongan)nya itu. Dia sedikit kaget ketika merasakan tangan Sasuke yang melingkar di pinggangnya gemetar. Keringat dingin terlihat menuruni pelipis cowok tampan itu. Sakura tidak pernah melihat Sasuke yang wajahnya super datar tanpa ekspresi itu kelihatan kacau seperti ini. Melihat keadaannya seperti ini, Sakura langsung paham. Cewek ini ternyata sama kayak Kakashi yang hobi mainin perasaan orang. Sasuke dulu pasti suka banget sama ni cewek. Tanpa disadari, Sakura jadi ikut-ikutan kesal karena dia sangat paham banget perasaan Sasuke saat ini gimana.

"Maaf bisa tolong singkirkan tanganmu dari wajah calon suamiku?" Sakura benar-benar sudah diambang batas kemarahannya. Dia tahu perasaan Sasuke saat ini. Dia juga merasakannya saat Kakashi seolah mengejeknya karena belum move on.

"Ara... ara..." Karin bukannya menjauhkan tangannya dia malah dengan sengaja menarik wajah Sasuke mendekat dengan wajahnya. Sasuke kelihatan panik tapi entah kenapa tubuhnya membeku. Susah sekali untuk digerakkan. "Atau jangan-jangan kau masih mencintaiku?" cewek merah itu berbisik di telinga Sasuke.

Suigetsu tersenyum merendahkan saat ia melihat Sasuke tidak berdaya seperti itu. Dulu mereka bertiga memang sahabat baik. Tapi tidak sekarang. Sampai ketika Suigetsu menyuruh Karin untuk berpura-pura menyukai Sasuke dan mempermainkan perasaan pemuda itu yang memang sejak dulu menyukai Karin. Itu semua karena dia iri dengan pencapaian Sasuke.

Cukup.

Baik Sakura maupun Sasuke sudah berada di ambang batasnya.

Diam-diam Sakura mengambil gelas yang berisi red wine dingin di meja yang ada di belakangnya dan dengan cepat menyiramkannya ke wajah Karin hingga gaun putihnya terkena noda merah. Karin terkejut dan tanpa sengaja terjatuh tersandung highheelsnya sendiri.

Sasuke cengo dengan reaksi Sakura yang sama sekali tidak terprediksi itu.

"Apa-apaan kau?!" Karin terlihat kaget dan marah luar biasa karena wajah dan gaunnya basah.

"Ah, gomen, gelasnya licin sih." Sakura mengangkat bahu. Ia sama sekali tidak terlihat menunjukkan rasa kasihan ataupun bersalah.

Sasuke masih takjub dengan tindakan Sakura yang menurutnya memang sangat luar biasa itu. Good job Sakuraaa~! Ingin rasanya dia berteriak heboh dan memeluk cewek pink yang berhasil menghindarkan dirinya dilecehkan oleh mantannya sendiri.

"Suigetsu! Bantu aku!" Baru saja Suigetsu bangkit hendak membantu Karin, tiba-tiba sebuah potongan kue coklat yang dipenuhi cream mendarat di wajahnya. "What the fuc—" Baru saja dia hendak mengumpat karena krim coklat itu memenuhi wajahnya sampai-sampai ia sulit membuka matanya, Sakura segera memotong perkataannya.

"Yah, padahal baru saja aku mau makan kuenya. Kenapa tiba-tiba kuenya bisa terbang sendiri ya? Aneh." Ujar Sakura sedatar mungkin. "Sepertinya Suigetsu-san sangat menginginkan kue coklat ya. Sampai belepotan seperti itu." Sindir Sakura.

"Dasar cewek sialan!" Karin bangkit dari jatuhnya dan hendak menerjang Sakura namun gerakannya dihentikan oleh Sasuke. "Jangan sentuh calon istriku." Ujarnya sedingin es. Sakura nyengir kuda ketika Karin menatapnya nyalang.

Suigetsu yang tidak terima baru saja hendak mengangkat tangannya untuk menampar Sakura namun gerakannya terhenti di udara ketika Sakura dengan tenangnya mengancam Suigetsu. "Aah... Aku aku baru ingat." Sakura menyentuh dagunya dan menganggukkan kepalanya seolah baru mengerti sesuatu. "Kirigakure pharmacy itu perusahaan yang kemarin baru saja memberikan proposal penawaran pengadaan obat-obatan di RS Konoha. Apa jadinya jika aku menolak proposal itu ya? Ah, kalau tidak salah nilai proyek itu sebesar 500,000,000, yen."

Mata Suigetsu (yang sudah susah payah ia bersihkan dari krim) membelalak lebar. Ia tidak tahu kalau cewek pink ini ada sangkut pautnya dengan proyek terbarunya. "Siapa kau sebenarnya?"

"Haruno Sakura." Sakura menyeringai. "Kepala RS Konoha sekaligus ketua panitia tender pengadaan obat-obatan dan peralatan medis."

Karin dan Suigetsu langsung gelagapan mendengar jawaban Sakura. Keberlangsungan hidup Suigetsu serta perusahaannya ada di tangan cewek ini. Megaproyek ini tidak boleh gagal atau ayahnya akan menggantungnya karena dianggap tidak becus sebagai direktur keuangan.

"Maaf, aku tidak tahu kalau—" perkataan Suigetsu terpotong ketika Sakura kembali mengancamnya. "Jangan perlakukan Sasuke-ku seperti itu lagi." Mata emerald Sakura kemudian melirik tajam Karin yang masih terlihat shock. "Mungkin kau pikir Sasuke masih belum move on darimu. Tapi kau salah besar nona." Sakura memberi ciuman singkat di bibir Sasuke. "Sayangku ini benar-benar mencintaiku melebihi apapun." Sumpah Sasuke merinding mendengar perkataan Sakura yang over itu. "Jadi... jauhi dia! Atau aku akan menggagalkan proyek pacarmu yang menyebalkan itu."

"Oke! Cukup! Kami tidak akan mengganggu kalian lagi!" Suigetsu menarik Karin ke sisinya dan memaksa gadis itu untuk ikut membungkuk meminta maaf. "Maafkan kami. Apapun yang terjadi jangan gagalkan proyek ini karena ini sangat berarti bagiku."

"Aku tidak jamin proyekmu akan berhasil tapi..." Sakura menghentikan kata-katanya sesaat. "Jika kau menepati janjimu maka aku jamin aku tidak akan campur tangan dalam proyek itu."

"Terima kasih." Suigetsu dan Karin segera membungkukkan badannya mohon diri. "Kami undur diri dulu." Dan dalam sekejap mereka sudah berjalan tergopoh-gopoh menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dan pakaian mereka. Tak lama kemudian beberapa pelayan datang untuk membereskan sisa-sisa kekacauan yang tampak seperti bekas bencana alam ini.

.

.

Sakura mengerling pada Sasuke. Dia nyengir "Bagaimana aktingku tadi?"

Sasuke tertawa kecil "Tadi benar-benar gila. Kau gila Haruno Sakura." Baru kali ini Sakura melihat Sasuke tertawa seperti ini. "Kau lihat kan bagaimana mereka tadi? Wajah penuh krimnya Suigetsu itu super lucu!" Sakura menambahkan. "Ah, dan ngomong-ngomong aku memang tidak bisa campur tangan pada proyeknya Suigetsu karena sebenarnya ketua tender proyek itu bukan aku tapi Shizune-san. Tadi aku berbohong sedikit. Hahahaha. Tak kusangka efeknya sampai seperti itu."

Mata onyx Sasuke membulat. Ia kagum pada cewek ini. Luar biasa. Ia benar-benar merasa dilindungi dan dibela tadi oleh Sakura. "Arigatou, Sakura." Sasuke memeluk dan mencium pipi kanan Sakura.

"Wait! Stop!" Sakura melepaskan diri dari pelukan Sasuke dan menyilangkan lengannya di depan dadanya. "Aku tidak bilang bahwa kau bisa memelukku seenaknya, Uchiha Sasuke."

"Gomen, refleks." Cengiran kikuk terpampang di wajah tampan cowok berambut hitam itu.

Refleks sih refleks tapi ga usah nyosor-nyosor juga kali. Sakura memutar matanya kesal.

.

.


.

.

Tepat pukul 9.00 pesta dimulai. Musik klasik sudah dimainkan. Pasangan yang kelihatannya berduit (Sakura bisa mengira-ngira dari pakaian mahal yang mereka kenakan) berdansa di tengah-tengah ruangan. Sementara Sasuke sibuk menyambut tamu, Sakura mengendap-endap menuju ke pojok ruangan kemudian mengambil beberapa potong kue coklat.

"Yokatta, akhirnya bisa lepas juga dari si Mr. Crabs." Gumamnya. Dia capek karena sejak tadi Sasuke menariknya kesana kemari untuk mengenalkannya pada para tamu yang datang. Eh baru saja dia hendak memakan kue yang sudah diincarnya sejak tadi, tiba-tiba tangannya sudah ditarik lagi oleh si Uchiha bungsu. "Biarkan aku makan kue ini dulu kenapa sih Sasuke?" gerutu Sakura yang tak rela melepaskan kuenya. "Nanti sehabis pesta kau bisa makan semua makanan yang ada disini." Sasuke masih menarik lengan Sakura.

"Aku mau dibawa kemana?" Sakura mulai terlihat kesal. "Bukankah tadi kau sudah memperkenalkanku nyaris pada semua tamu yang datang?"

"Tentu saja aku harus memperkenalkanmu secara resmi pada keluargaku dan aku juga harus membawamu ke panggung untuk sesi sambutan."

Sebentar... kalau dikenalin resmi begini udah terlalu lebay buat suatu kebohongan kan? Ini bisa-bisa jadi beneran nih. Ga mungkin bohong kan kalau semua orang udah tau? Ini seriusan nih?

"Eh sebentar Sasuke..." Sakura mulai terlihat panik. "Kalau ini diteruskan sampai ke sesi formal seperti ini mungkin saja kita tidak bisa berbohong lagi. Bisa-bisa kita harus menikah beneran supaya mereka percaya dan kita tidak dicap sebagai pembohong."

"Memang."

WHATT? Apa maksudnya ini cowok?

Sakura melepaskan pegangan Sasuke dari tangannya dan menatap langsung mata onyx Sasuke. "Maksudnya kita menikah beneran gitu?"

"Hn."

OMFG!

"HEEEE?" Satu jawaban ambigu dari Sasuke sukses membuat Sakura lemas.

ASDFGHJLH—0%?!**** (sensor suara lumba-lumba)

OH MAI GATT~ mimpi apa gueeee?

Dan kali ini Sakura mungkin akan benar-benar melepas status jomblo seumur hidupnya. Mungkin... yah hanya mungkin...

To Be Continued


Hai~ hai~ dengan Akina disini~

Saya ga nyangka fanfiksi geje tanpa plot pelepas stress saya tanggapannya luar biasa begini. Lebih-lebih dari fanfiksi yang emang udah saya siapin plot dan serius bikinnya hahaha. Sumpah saya ga maksud buat jelek-jelekin Sasuke maupun Sakura disini... ini cuma tuntutan plot belaka dan di chapter depan mungkin bakal dijelasin alasan kenapa Sasuke bisa jadi pelit ga karuan kaya gitu dan dibalik semua itu ternyata dia itu... (ga dilanjutin karena bakal spoiler haha) dan Sakura, dia pelan-pelan udah mulai bisa nerima Sasuke dan semakin mereka deket sifat gaharnya Sakura bakal berkurang sedikit demi sedikit. Yah liat aja deh di chapter depan ya. Fiksi ini pendek kok maksimal 5 chapter dan minimal 3 chapter alias chapter depan tamat. Yah begitulah.

Maaf kalau bahasanya ga jelas dan ga konsisten. Namanya juga pelepas stress.

Untuk kelanjutan fanfiksi saya yang lain, saat ini yang masih aktif saya bikin draftnya adalah Rewrite, Civil Engineering, Invisibility, Kimi No Sei, Love STory That Has No Beginning, sama The Lost Soul sisanya mungkin bakal hiatus karena saya udah ga tau mau ngelanjutinnya gimana. Sorry ya. Soalnya saya juga sibuk di RL

Yah, however walau saat ini saya belum lanjut S2 di Jepang tapi akhirnya saya bekerja di Organisasi Internasionalnya Jepang yang bergerak di Bidang Sains dan Teknologi (ada yang tahu Japan International Cooperation Agency alias JICA?) lembaga donornya negara Jepang dan langsung terlibat sama pemerintah Jepang. Proyek saya saat ini bersama professor-professor dari Yokohama Waterworks dan Nihon Suido adalah tentang Sistem Penyediaan Air di Negara Berkembang Khususnya Indonesia. Jadi kami akan sering berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia yang mengalami kesulitan akses air bersih. Karena saya akan terus berpergian, jadi saya ga jamin bisa update dengan cepat.

Sekali lagi makasih banget buat para reviewer yang telah memberi semangat pada saya untuk terus melanjutkan fiksi saya.

皆様のおかげで、このフィクションを続けられます。本当に感謝しています。

いつもありがとうございます~!

With love,

Akina Takahashi

October 2015