Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Slice of Life / Humor
Rated: T
Pairing: SasuSaku
Warning: AU, OOC, Mary Sue, Komedi garing, Bahasa ga baku, Cerita ga jelas dan berbagai hal lain.
Naruto © Masashi Kishimoto
Summary:
Buat Haruno Sakura yang masih berstatus single di usianya yang ke-28 tahun, pertanyaan "Kapan nikah?" itu sudah menjadi momok yang menakutkan. "Jodoh itu di tangan Tuhan"/ "Ya, tapi kalau ga dicari Tuhan ga bakal ngasih jodoh."/ "Terus carinya dimana? Di supermarket?" Yah beginilah kisah Haruno Sakura si Dokter spesialis syaraf, peneliti, sekaligus kepala rumah sakit Konoha yang masih jomblo sampai sekarang.
Akina Takahashi presents,
JOMBLO
Story by: Akina Takahashi
Chapter 3: Semua Cewek itu Matre dan Mata Duitan, Benarkah?
Sasuke POV
Flashback
Buat Uchiha Sasuke, si ganteng jomblo yang baru aja naik daun –sorry maksudnya baru aja diangkat ngegantiin ayahnya jadi CEO Uchiha corp, cewek itu ga ada lebihnya dari monster berisik yang suka jadi brutal kalau lihat barang obralan di supermarket.
Bukannya dia homo atau apa, tapi dulu dia pernah punya kenangan buruk banget sama cewek. Persahabatannya sama Suigetsu yang udah bertahun-tahun, hancur begitu saja gara-gara satu cewek yang namanya Karin. Sakit banget bro rasanya begitu tahu kalo selama ini Karin cuma memperalat dia dan ga beneran suka sama dia. Eh cewek itu malah ada main pula sama Suigetsu di belakangnya. Sialan. Rasanya Sasuke pengen ngomong kasar kalau inget sama kejadian itu.
Suigetsu emang brengsek. Dia manfaatin Sasuke yang dulu cinta mati sama Karin, buat bantuin bisnisnya. Entah kena sihir apa, Sasuke dulu nurut aja sama apa yang diomongin oleh mereka berdua. Mulai dari ngasih duit puluhan juta secara cuma-cuma, beliin mobil, gaun mahal, make up, sampai bantuin Suigetsu buat menangin tender proyek semuanya dilakuin oleh Sasuke atas nama cinta dan persahabatan. Dia rela dimarahin habis-habisan sama ayahnya karena tindakannya itu hampir saja membuat cabang usaha Uchiha corp di bidang IT nyaris bangkrut.
Cih.
Sasuke pengen nangis karena malu kalo inget hal itu. Bodoh banget ya dia dulu? Wajarlah kalau sampai Naruto ngatain dia idiot. Semenjak dia mergokin Karin ciuman sama Suigetsu di ruang kantornya sendiri, Sasuke jadi agak trauma sama yang namanya cewek. Dia jadi perhitungan banget soal uang. Sasuke ga mau kehilangan uangnya dengan gampang kaya dulu lagi. Apalagi sama cewek. Ngga lagi-lagi pokoknya.
Hidupnya yang dulu boros dan gampang foya-foya sekarang jadi lebih hemat. Dia ga pernah gampang nraktir orang sembarangan, baru belanja kalau benar-benar butuh dan itu pun dia selalu mengecek promo mana yang berlaku hari ini. Pokoknya kalau soal duit, Sasuke sangat perhitungan.
Lalu kalau soal cewek...
"Sasuke-san, hari ini ayahku mengundangmu untuk makan malam di rumah kami. Mau—" Cewek berambut coklat yang tidak Sasuke ketahui namanya (lupa sih lebih tepatnya. Tapi dia ingat kalau cewek ini anak salah satu rekan bisnisnya.) berusaha mengundang Sasuke. Bukannya senyuman manis yang diterima oleh si cewek, malah tatapan tajam setajam silet yang diterimanya. "Aku sedang tidak ingin diganggu hari ini."
Si cewek meringis. Dosa apa dia sampe dipelototin kaya gitu sama Uchiha Sasuke. Ganteng sih ganteng, tapi kalo nyeremin gini ngga deh mendingan. "Baik. Saya akan menyampaikannya pada ayah saya." Si cewek langsung lari terbirit-birit meninggalkan Uchiha Sasuke yang masih duduk manis di salah satu restaurant (yang lagi ada promo) di daerah Shinjuku dekat dengan kantornya. Hari ini hari minggu, tapi dia ada janji dengan sohib sejak kecilnya, Uzumaki Naruto.
"Eh, kalau galak begitu nanti kau bakal jadi perjaka tua lho!" Naruto yang baru saja kembali dari toilet segera mendudukkan dirinya di kursi seberang meja Sasuke.
"Berisik."
"Dasar jomblo ga laku!" ejek Naruto.
"Tutup mulutmu dobe sialan!"
"Eh itu benar kan?"
Baru saja Sasuke mau mendamprat Naruto tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. "Halo, Sasuke!"
"Ada apa Itachi?" Sasuke mendengar suara Itachi terdengar panik di teleponnya. "Kau sudah tahu belum kalau hari ini ada pesta internal perusahaan?"
"Hah?" Sasuke kaget karena ia sama sekali tidak mengetahui soal hal ini.
"Iya, para petinggi tiba-tiba saja menginginkan adanya Rapat Umum Pemegang Saham hari ini sekaligus juga pesta internal perayaan diangkatnya dirimu sebagai CEO." Jelas Itachi. "Dan kau harus tahu kalau mantan pacar dan sahabatmu ada di list tamu VIP."
"What?!" Sasuke kaget setengah mati setelah tahu dua orang yang paling ga pengen dia temuin bakal datang ke pesta perayaannya.
"Iya, maka dari itu aku sarankan kalau kamu jangan pergi sendirian malam ini. Yah, minimal bawa gandengan lah."
"Siapa?"
"Ya, siapa aja asal jangan bikin malu keluarga."
Siapa? Gue harus bawa siapaa?
Itu pertanyaan sakral buat seluruh jomblo di dunia. Sakit men rasanyaaa!
Masa dia harus bawa Naruto? Sasuke refleks menatap sahabatnya yang sedang beringas memakan ramennya. Serius nih? Masa dia harus pura-pura homo sih? Itu sih udah bukan bikin malu keluarga lagi namanya. Dia yakin bapaknya yang super galak itu pasti langsung nyoret nama dia dari daftar warisan.
NOOOO~! Tidaaaaak!
"HEH AWAS SAJA KALAU KAMU KEPIKIRAN BAWA NARUTO KE PESTA!" Itachi seolah bisa baca pikiran Sasuke dari jauh. "Aku tidak mau menganggapmu sebagai adik kalau itu terjadi!" Ancam Itachi.
Sasuke segera menjauhkan ponselnya dari telinganya. Gila. Itachi suaranya ga kira-kira. Sampai-sampai Naruto yang duduk di depannya bisa mendengarnya.
"Jangan bikin malu klan Uchiha, Sasuke! Sampai ketemu nanti di pesta."
"PIP" Itachi segera mematikan sambungan ponselnya.
"Sialan." Dengus Sasuke.
"Ada apa?" Naruto menyeruput kuah ramennya hingga habis. "Tadi aku mendengar namaku disebut-sebut. Ada apa sih?" tanya Naruto kepo.
"Tidak ada apa-apa. Aku harus pergi sekarang dobe." Sasuke harus gerak cepat sekarang cari cewek buat dibawa ke pesta. Siapa aja boleh deh. Yang penting cewek beneran bukan jadi-jadian.
"Eh tunggu bentar Sas—" tiba-tiba saja handphone Naruto berbunyi.
Sakura-chan has sent you an email
Naruto dengan cepat membuka email dari Sakura.
From: Sakura-chan
Jemput aku di tempat biasa sekarang juga! Bawa satu temenmu yang paling tampan dan available. Jangan banyak tanya. URGENT!
"He, ada apa dengan Sakura-chan sih? Emailnya aneh sekali."
Sasuke yang mendengar nama Sakura disebut dengan segera kembali ke tempat duduknya. "Sakura yang dokter itu bukan?"
"Iya yang dulu mau kukenalin denganmu tapi dianya ga mau." Jawab Naruto. "Sayang sekali padahal kalian sama-sama high quality jomblo."
"Oh btw, masa dia menyuruhku untuk membawa satu temenku ke tempatnya sih? Urgent pula, ada apa ya Sas?" Naruto terlihat bingung.
"Aku ikut denganmu. Kau bawa aku saja."
"Hah?" Naruto kayaknya salah denger deh. Ga mungkin kan Uchiha Sasuke yang juteknya setengah mati sama cewek tiba-tiba menawarkan diri untuk ikut dengannya menjemput Sakura?
"Ayo cepat!" Sasuke dengan tidak sabar menarik Naruto. Dia tidak peduli yang penting dia ga malu-maluin di pesta nanti. Lagipula berdasarkan cerita Naruto, cewek yang bernama Haruno Sakura itu pantas bersanding dengannya di pesta nanti. Dia pernah melihat fotonya di ponsel Naruto dan cewek itu lumayan cantik dan keren juga gayanya. Selain itu katanya dia dokter spesialis syaraf berbakat sekaligus kepala rumah sakit Konoha. Cantik, pintar, menarik, ya memenuhi syarat untuk jadi Uchiha lah. Eh? Kok jadi kepikiran buat nikahin cewek yang bahkan belum dikenalnya sih?
Sasuke dengan cepat membayar makanan mereka berdua di kasir dan kemudian menarik Naruto keluar restaurant. Naruto masih cengo. Kesambet apa coba Sasuke sampe mau bayarin dia makan? Ini keajaiban alam. Sumpah.
Setelah membuka pintu mobil dan memasang sabuk pengamannya. Sasuke segera menyalakan mobilnya. "Tunjukkan jalannya padaku." Perintahnya.
"Oke." Naruto yang sedang malas berdebat dengan segera mengikuti perintah Sasuke.
Hening sesaat sebelum akhirnya Sasuke membuka mulutnya "Dari skala satu sampai sepuluh—" Sasuke menghentikan perkataannya sesaat untuk menghela napas sebelum akhirnya melanjutkan kembali pertanyaannya. "Menurutmu berapa skala untuk Sakura?" Matanya masih menatap lurus ke jalanan yang ada di depannya.
"Hah?" Naruto benar-benar bingung sama sahabatnya hari ini. Aneh banget. Ga biasanya Uchiha Sasuke kepo-kepo ga jelas begini.
"Cepat jawab dobe!" gerutu Sasuke kesal. Ia masih berusaha fokus pada kegiatan menyetirnya.
"Galak amat sih teme!" Naruto ikut-ikutan sensi karena dibentak tiba-tiba sama si Uchiha bungsu sombong satu ini. "Aku kasih skala delapan deh buat Sakura-chan."
"Alasannya?"
"Ya, siapa sih yang ga mau sama cewek mapan, mandiri, cantik, pintar, berbakat, kaya Sakura-chan?" Naruto berargumen.
"Lalu kenapa kau tidak pacaran dengannya? Kau suka kan dengannya?" balas Sasuke.
"Aku pernah pacaran dengannya, asal kau tahu. Tapi kami memang lebih cocok jadi sahabat daripada pacar." Naruto mengangkat bahu. "Sakura sudah terlalu dekat denganku, aku tahu semua kelebihannya, kekurangannya, apa yang dia benci, apa yang dia suka, bahkan aku tahu ukuran bra-nya."
Sasuke berjengit. "Mesum. Padahal kau sudah punya Hinata."
"Biasa aja kali Sasuke, aku beberapa kali menemani Sakura belanja pakaian dalam kok. Hinata juga tahu kok." Naruto mengangkat bahu sambil nyengir. "Punya sahabat cewek itu ada untungnya juga loh. Bisa ngecengin temen-temennya yang bohay-bohay juga."
"Malu aku punya teman mesum sepertimu dobe." Sasuke mengernyit. Ia ga paham kenapa Hinata ga marah liat kelakuan pacarnya yang genit begini.
"Ih mendingan kali daripada kamu yang hobi liat cewek-cewek victoria secret lagi jalan di catwalk via televisi. Setidaknya aku melihat aslinya bukan sekedar gambar di TV."
"Brengsek! Itu sih Itachi yang hobi begitu. Aku dipaksa menemaninya agar Hana-neesan tidak curiga!"
"Oke, oke." Naruto sedang malas berdebat dengan Sasuke kali ini jadi dia tidak membalas argumen si Uchiha.
"Ceritakan dengan singkat seperti apa si Sakura... hmm Sakura apa ya namanya, aku lupa."
"Haruno. Namanya Haruno Sakura teme."
"Iya pokoknya itu."
"Seperti yang kau tahu, Sakura-chan itu dokter spesialis syaraf sekaligus kepala rumah sakit Konoha. Aku berteman dengannya sejak SMP."
"Seperti apa kepribadiannya?"
"Hmm... dia itu cewek mandiri, keras, tangguh, agak galak, cuek, dan kalau dia udah marah pokoknya siap-siap aja untuk segera kabur sebelum kamu babak belur dihajar sama dia." Naruto meringis ketika mengingat kejadian waktu SMP yaitu saat Sakura marah padanya karena merusak DVD film favoritnya. Cewek itu melempar meja Naruto sampai terbang ke depan papan tulis. Luar biasa sekali ya tenaganya.
"Tapi dibalik itu semua, Sakura itu gadis yang baik, jujur, pekerja keras, setia, dan sebenarnya dia sangat lembut loh. Iya, dia tsundere. Mirip denganmu teme."
"Aku tidak tsundere."
"Ya, ya, ya. Terserah apa katamu."
"Lalu bagaimana dengan kehidupan percintaannya? Dia single kan?"
Mata biru Naruto melebar. Ia nyengir jahil. "Ciee... ada apa ini nanyain dia single atau tidak?"
"Berisik. Jawab aja kenapa sih dobe."
"Jomblo. Dia jomblo Sas. Semenjak putus denganku dia ga pernah pacaran lagi." Jawab Naruto.
"Dia belum move on dan cinta mati denganmu ya? Kau jahat sekali." Sasuke masih fokus pada kegiatan menyetirnya.
"Bukan!" Naruto dengan refleks langsung menjawab. "Kan sudah kubilang kalau kami ini tidak cocok pacaran. Kami berdua ga punya perasaan cinta seperti seorang kekasih. Aku menganggap Sakura sebagai kakak perempuan yang sangat dekat denganku."
"Lalu kenapa dia masih jomblo kalau memang dia sudah move on darimu?"
"Kami ga perlu move on karena dari awal kami tidak saling suka seperti laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta." Jelas Naruto. "Alasannya mudah. Pertama, ga ada cowok yang berani nembak dia karena status sosial Sakura udah ketinggian dan itu bikin cowok yang biasa-biasa aja jadi minder setengah mati. Yang kedua, Sakura bukan tipe cewek yang mau asal pacaran. Dia itu picky banget kalo soal cowok. Dan yang terakhir mungkin karena dia punya kenangan buruk waktu SMA dulu, jadi yah dia takut buat menjalin hubungan lagi."
"Kenangan buruk?"
"Iya." Naruto mengangguk. "Dulu dia pernah patah hati karena sensei yang PHP in dia nikah dengan cewek lain. Waktu itu aku yakin dia cinta mati dengan sensei itu. Dulu dia nekat datang ke pesta pernikahan sensei kami dan pada akhirnya dia nangis di bahuku selama satu jam. Dan kita sukses jadi perhatian semua tamu yang ada di pesta."
Entah kenapa Sasuke jadi teringat Karin. Mungkin perasaan Sakura waktu itu sama dengan perasaannya waktu melihat Karin selingkuh dengan Suigetsu. Sakit men rasanya. Harusnya dia niru Sakura ya, numpang minjem bahunya Naruto buat nangis selama satu jam. Eh jangan deh, nanti dia bakal dibully seumur hidup kalau dia ngelakuin itu.
"Eh jangan lupa belok kanan di persimpangan depan. Cafenya ada tepat setelah persimpangan." Naruto mengingatkan. "Tenang saja, nanti aku akan mengenalkanmu dengan Sakura-chan."
"Tidak perlu dobe. Hanya dari ceritamu saja aku sudah mengenalnya dengan sangat baik."
"He?" Naruto sweatdropped mendengar jawaban absurd Sasuke. "Lalu itu apa?" Naruto menunjuk bungkusan yang baru saja dimasukkan Sasuke ke dalam tasnya.
"Gachapon" jawab Sasuke singkat.
"Buat apa dibawa-bawa? Memangnya kau ingin memberikannya buat Sakura?" Naruto tambah swt.
"Ini asalnya buat keponakanku, tapi kubawa saja. Just in case ini bakal berguna."
"Hari ini kau salah minum obat, teme?" Naruto mengernyitkan dahinya bingung. "Ada apa sih denganmu hari ini?"
"Kau lihat saja nanti dobe." Sasuke nyengir penuh rahasia.
.
.
JOMBLO © Akina Takahashi
Published on fanfictiondotnet
Do not copy or republish it on another site without permission
Dilarang keras menyalin sebagian ataupun seluruh dari karya ini tanpa izin Author
.
.
Normal POV
Presents
Satu minggu setelah pesta internal Uchiha
Rumah Sakit Konoha, 11:30 AM
Sakura meregangkan tubuhnya di ruang pemeriksaan. Hari ini ia menggantikan Shizune menjadi dokter umum. Senpai-nya itu sedang mengambil cuti selama seminggu dan akibatnya Sakura sibuk setengah mati selama seminggu ini.
Ia menghela napas, menatap jam tangannya. Masih 30 menit lagi sebelum jam makan siang.
Sigh.
Oh Tuhan, kapan semua ini berakhir? Sakura meratap dalam hati. Sangking sibuknya dia bahkan lupa sama sekali soal Uchiha Sasuke yang dengan seenaknya memperkenalkan dirinya pada khalayak umum sebagai calon istrinya. Dan sampai saat ini belum ada follow-up dari kejadian itu, jadi ya sudahlah. Ngapain repot-repot coba? Biarkan saja semua ini berlalu. Paling juga mereka lupa.
"Pasien selanjutnya, masuk." Serunya, menginstruksikan perawat untuk mempersilakan pasien selanjutnya masuk ke ruangannya.
"Baik."
Tak lama kemudian terdengar bunyi pintu terbuka. "KRIET"
"Halo, selamat siang. Ada—" kata-kata Sakura terhenti ketika melihat siapa yang menjadi pasiennya saat ini.
Uchiha Sasuke.
Si cowok ganteng tapi pelit yang seenaknya aja ngaku-ngaku sebagai calon suaminya.
Ada angin apa si Mr. Crabs ini datang? Angin ribut kah?
"Ada apa kau datang kemari?" Sakura mengernyitkan dahinya curiga. "Kau tidak ingin mengajakku berakting jadi calon istrimu lagi kan?"
Sasuke mendudukkan dirinya di bangku pasien. "Aku ingin memanfaatkan fasilitas berobat gratis yang kau berikan padaku."
Sakura mengernyit heran. "Memangnya kau sakit apa?"
"Kepalaku pusing dan rasanya penat sekali. Perutku juga sakit." Keluh Sasuke.
Sakura dengan segera memeriksa tekanan darah, temperatur, dan denyut nadi pemuda itu. Dan hasilnya semuanya normal. Dengan sedikit kesal Sakura mendengus. "Gratis, sih gratis. Tapi tidak usah kau jadikan alasan untuk bertemu denganku dong."
"Aku benar-benar tidak enak badan, Sakura." Sanggah Sasuke.
"Semua orang juga tahu kalau obat untukmu itu adalah istirahat dan makan. Kepalamu pusing karena kau terlalu banyak bekerja dan perutmu sakit karena kau belum makan." Sakura menghela napas panjang.
"Hn."
"Astaga." Sakura memegang kepalanya yang terasa penat. "Kalau kau tidak punya urusan sebaiknya kau segera pergi. Aku akan memberikan resep vitamin padamu.
"Tentu saja aku ada urusan denganmu."
"Urusan apa?"
"Ini." Sasuke menyodorkan selembar undangan pernikahan pada Sakura.
Si gadis pink terlihat bingung. Ia mengambil undangan pernikahan cantik berwarna merah muda yang diberikan Sasuke padanya. "Ini undangan siapa? Memangnya siapa yang menikah?"
"Lihat saja sendiri."
Mata hijau Sakura melebar ketika melihat nama pengantin yang tertera di undangan tersebut.
Uchiha Sasuke & Haruno Sakura
WHAT THE FFFFAAAAKKK?
MIMPI APA GUEEE?
Sakura membolak-balikkan undangan itu berkali-kali seolah tidak percaya. "Ini bukan mimpi kan?"
"Bukan."
"Apa ada kamera tersembunyi disini?" Sakura melongok kesana-kemari seolah mencari kamera dari acara televisi. "Aku ga lagi masuk acara candid camera ataupun supertrap kan?"
Sasuke mengernyit heran. "Tidak ada kamera apapun disini."
Sakura pucat pasi. "Jadi ini nyata?"
"Iyalah. Kau pikir aku apa?" Sasuke menyilangkan kakinya "Hantu?"
Tarik napass... Hembuskan... tarik lagi... hembus—
"Untukmu." Tanpa mempedulikan Sakura yang mulai kelihatan kaya orang asma, Sasuke mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru laut dan membukanya di depan Sakura.
CINCIN BERLIAN MEEN ISINYAAA~!
"Sebentar— sebentar—" Sakura bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela kemudian membuka jendela itu lebar-lebar. Ia menghirup napas panjang sebelum akhirnya ia menatap kembali Sasuke yang masih duduk tenang di kursi pasien."Kau baru saja melamarku?"
"Hn. Begitulah."
Mata emerald Sakura melebar. Sedikit takjub dengan ke-stoic-an cowok di depannya ini. Ngelamar cewek ga pake kata-kata romantis. Ekspresi datar kaya triplek. Keren sih. Iya kaya cowok-cowok cool di serial cantik. Tapi ini dunia nyata men! Ogah banget Sakura punya suami kaku kaya robot, minim ekspresi, muka datar kaya triplek, suka bikin awkward lagi.
"Aduh, sorry ya Sas. Bukannya apa-apa, tapi menurutku kita harus kenal lebih jauh lagi sebelum menikah. Lagipula orang tuaku belum tentu setuju jika aku tiba-tiba menikah." Sakura berargumen.
"Orang tuamu setuju kok. Mereka malah terlihat luar biasa senang saat aku dan keluargaku mendatangi kediaman mereka untuk meminta restu pernikahan kita." Balas Sasuke.
SKAK MAT!
Argumen Sakura kalah telak!
"Naniii? Kau sudah mendatangi kediaman orang tuaku di Suna?" Sakura histeris. Kaget banget ga nyangka kalau ternyata selama seminggu ini si Uchiha sudah ambil langkah diam-diam.
"Hn."
"Sasuke, bagaimanapun kita ga boleh buru-buru begini hanya untuk melanjutkan akting kita waktu di pesta. Kau baru mengenalku. Kau bahkan tidak mencintaiku kan?"
"Kau percaya cinta pada pandangan pertama?" Sasuke balas bertanya.
"Maksudmu?"
"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, Haruno Sakura."
CIEEEE~
"eh boleh di-ciee-in ga?" Inner Sakura mulai ga jelas.
"He?" mungkin efek ciee dari innernya sendiri bikin Sakura jadi agak lemot. Sakura cuma bisa cengo dan menunggu penjelasan Sasuke selanjutnya.
"Aku terpesona padamu saat kau mengerjai Karin dan Suigetsu. Saat itu aku tahu bahwa kaulah wanita yang kubutuhkan untuk mendampingiku selamanya."
"UHUK" Sakura terbatuk ketika mendengar perkataan Sasuke yang gombalnya ga kira-kira menurutnya.
Anjir! Cheesy banget anjiiir~!Gelii seriusaaan!
Sakura mengkeret di tempatnya mendengarkata-kata Sasuke yang cheesy nya ga karuan.
"Jadi, menikahlah denganku." Si cowok tampan itu bangkit dari kursinya dan kembali meraih cincin yang sudah disiapkannya dan berusaha memberikannya pada si gadis yang masih terpaku di dekat jendela.
"Iya yang cinta pada pandangan pertama kan kamu, bukan aku."
DUARRR
Sasuke berasa dihantam sama ratusan papan triplek begitu denger Sakura ngomong begitu.
"Maaf ya Sasuke, tapi kamu bukan tipeku." Sakura berusaha berkelit. Dia memang jones sih tapi dia ga mau punya suami pelit kaya Sasuke. Sakura lebih milih jomblo daripada tiap hari harus nahan emosi karena ga tahan liat kelakuan pelitnya Sasuke yang menurutnya ga banget itu.
"Lalu yang seperti apa tipemu?"
Sakura memegang dagunya seolah tengah berpikir keras. "Hmm—" Ia menatap mata obsidian Sasuke. "Tidak pelit, ceria, baik hati, ramah, romantis, gentleman, humoris, pokoknya someone who will treat me like a princess deh!"
"Jujur aja kalau cowok tipeku itu yang lucu dan humoris kaya Naruto. Walaupun dia berisik dan kadang-kadang suka lemot, tapi dia baik hati, ramah, romantis, humoris, ah pokoknya dia selalu bisa membuatku nyaman. Tapi ya kau tahu kan kalau kami sudah terlalu dekat jadinya kami lebih cocok jadi sahabat." Jelas Sakura, panjang dan lebar. Dia bahkan bawa-bawa Naruto supaya Sasuke segera mundur dan membatalkan niatnya untuk menikahinya.
"Ok. Noted." Sasuke dengan kalemnya mencatat perkataan Sakura di buku notes kerjanya yang selalu dia bawa.
Sakura melongo heran sama reaksi Sasuke yang begitu kalem disaat dia menolaknya secara halus. Lah, nenek-nenek budeg juga tau kali kalo semua kriteria yang dia sebutin tadi ga ada di dalam sifatnya Sasuke. Dan udah jelas-jelas tadi dia buat Naruto sebagai bahan perbandingan. Harusnya si cowok ganteng tapi kaku ini nyadar dong.
"Untuk kriteria pertama, aku akan menyediakan dana lebih khusus untukmu dan mulai sekarang aku berjanji aku tidak akan perhitungan lagi soal uang kalau itu menyangkut dirimu." Jelas Sasuke.
"Lalu untuk kriteria selanjutnya—" Sasuke tampak berpikir keras. "Aku akan berusaha sebisaku untuk jadi tipemu. Bahkan kalau perlu aku akan belajar pada Naruto bagaimana cara melawak dan merayu wanita, and I promise that I'll treat you like a princess from now on."
Sakura merinding seketika.
"NO!" Sakura bergidik ngeri ngebayangin Sasuke belajar ngelawak dari Naruto. Dunia sudah mau kiamaaat. Demi Tuhan! Se-OOC-OOC-nya Sasuke, dia ga boleh jadi pelawak. Bayangin dengan wajah ganteng, datarnya itu ngelawak? NO, BIG NO. Terus dia bayangin Sasuke ngerayu cewek pake gombalan-gombalan garing dengan wajah minim ekspresi. TIDAK! NO! NO! Itu juga OOC banget. Uchiha itu cocoknya emang kalem-kalem aja, ga cocok kalau sifatnya jadi begitu.
"Tidak usah!"
"Kenapa? Jika si bodoh Naruto saja bisa, mengapa aku tidak bisa?" ujar Sasuke dengan penuh percaya diri.
"Oke. Oke aku menyerah." Sakura maju mendekati Sasuke dan mengambil cincin dari genggaman tangan Sasuke sebelum akhirnya memasangnya di jari manisnya. "Sudah puas?"
"Hn." Sasuke menyeringai.
"Tapi ada syaratnya." Pernyataan Sakura sedikit membuat Sasuke tersentak.
"Apa?"
"Kuberikan kau waktu satu bulan sampai satu hari sebelum tanggal pernikahan kita yang tertera di kartu undangan ini." Tawar Sakura. "Jika kau berhasil membuatku benar-benar mencintaiku, maka aku akan menikah denganmu. Tapi kalau kau gagal, aku tidak mau menikah denganmu."
"Bagaimana? Deal?"
"Deal." Sasuke menyeringai. "Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dalam waktu kurang dari satu bulan, Sakura."
"Hm, buktikan kata-katamu Sasuke." Tantang Sakura.
Tanpa diduga-duga Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya dan mencium bibir gadis itu dan melumatnya perlahan. Sakura yang asalnya memberontak, akhirnya luluh juga. Ia membiarkan Sasuke menciumnya, bahkan kini ia mempersilakan lidah pria itu memasuki mulutnya. Seolah terhipnotis, Sakura menaikkan kedua tangannya dan menjambak pelan rambut hitam Sasuke. Sasuke pun bereaksi dengan mendekatkan perut Sakura hingga menyentuh pinggangnya.
"KRIET"
Sepertinya ciuman panas mereka harus berakhir sekarang karena tiba-tiba saja dua orang berambut blonde memasuki ruangan.
"OH MY GOD! Apa kau melihat apa yang kulihat Naruto?" Suara cempreng seorang cewek berambut pirang membuyarkan ciuman Sasuke dan Sakura.
"Ihiiww, lanjutkan saja teme! Anggap aku invisible." Naruto malah menggoda Sasuke yang kini rambutnya acak-acakan karena dijambak Sakura. "Padahal tadinya aku dan Ino mau mengajak Sakura-chan makan siang, eh ga taunya kau juga ada disini lagi asik-asikan dengan Sakura-chan."
"Apa yang ada di pikiranmu forehead sampai-sampai berani make-out di ruang periksa dokter?" Ino mengernyit. "Aku tahu kau sudah kelamaan jadi jomblo jablay dan Sasuke itu hot banget, tapi tahan sedikit kek. Minimal cari tempat yang sedikit layak gitu."
"Naruto— Ino-pig— aku, kami—" Sakura gelagapan.
"Kami akan menikah." Potong Sasuke.
"Seriusaaan?" Seru Ino dan Naruto bebarengan.
"Tidak itu belum pasti—"
"Congrats yaaa~!"
"Ih kan kubilang belum tentu jadi!"
Sudahlah. Mungkin memang sudah saatnya Haruno Sakura melepas status jonesnya sekarang.
-END-
Tamaaat~! Cerita ini tamat. Hohoho. Tapi walopun tamat kayanya bakal ada cerita-cerita selingan tentang kehidupan SasuSaku sebelum dan sesudah pernikahan. Juga bakal ada cerita ringan tentang pertemuan pertama Sakura dengan keluarga Uchiha (ini harusnya setelah scene yang Sakura dikenalin ke publik sewaktu pesta, tapi saya pisahin aja soalnya kalo dibikin di chapter itu panjangnya bakal setengah mati nanti), juga tentang reaksi ortunya Sakura ketika Sasuke ngelamar, cerita ringan tentang Sakura dan Naruto dulu dan detail cerita kenapa mereka putus, dan lain-lain sesuka saya hahaha.
Saya ga nyangka sambutan fiksi tanpa plot ga jelas ini luar biasa. Makasih buat semua yang udah review dan ngasih feedback ke saya. Tetep stay tuned di fiksi ini yaa. Tunggu Omakenya hahaha.
PS: Sorry lama soalnya saya lagi banyak business trip keliling Indonesia dan Maret nanti saya akan kembali ke Jepang jadi ya... ditunggu aja ya. Hehehe mengo mengo (gomen maksudnya).
Q/A Section:
Q: Kok gachaponnya mahal banget sampe satunya 100,000 yen? Serius itu sampe puluhan juta?
A: Iya kalo di kurs ke rupiah sekitar 11,7 jutaan (kurs sekarang 1 yen = 117 rupiah kira-kira), anggap aja itu gachapon super langka yang cuma diproduksi 1 di dunia hahaha namanya juga fic. Saya pengen ngasih harga dimana gaji Sakura seorang dokter di Jepang ga bisa langsung bayar saat itu juga. Lalu kenapa gachapon? karena gachapon barang ajaib buat anak-anak. Sorry ya kalo ga makes sense. Lah emang fiksi ini makes sense ya dari awal? (garuk-garuk kepala)
Q: Mereka jadi nikah beneran?
A: Jadi dong
Q: Apakah Sasuke udah banyak tahu soal Sakura? Kok dia santai banget mau nikahin Sakura?
A: Cinta pada pandangan pertama mengalahkan segala keraguan men! *tsaaahh
Terima kasih banyak buat semua readers dan reviewers yang sudah rela membaca karya saya yang absurd ini. Semoga kalian ga bosan dengan tulisan saya yaaa.
