Title : Hurt
Sequel : Nothing Last Forever
Pairing : Minho centric, a bit WonKyu
Disclaimer : All casts are belong to their self and God; Hurt belong to Christina Aquilera and her label
Inspired : Hurt by Christina Aquilera
Warning : Un-betaed, Chara Death, Yaoi, BL, AU
Summary : Jika aku memiliki satu hari, maka aku ingin kau tahu betapa aku merindukanmu.
( 。・_・。)人(。・_・。)
"Minho-ya." Aku mengangkat wajahku dan menoleh ke samping ketika mendengar suara umma memanggil dengan lirih dan sedikit serak. Aku menatapnya dan memasang senyuman untuknya walau sedikit terpaksa.
"Umma." Balasku juga sama lirihnya. Jika boleh jujur aku malas untuk bicara karena rasa sesak yang masih memenuhi relung hatiku karena kepergian seseorang yang sangat aku hormati dan aku sayangi, namun tidak sempat aku tunjukkan semua rasa itu. Dia pergi terlalu mendadak, menyisakan penyesalan yang mendalam diriku.
"Kau sudah cukup lama berdiri di sini Minho-ya. Udara sudah semakin dingin. Lebih baik kita pulang." ucap umma dengan pandangan sedihnya. Wajah cantiknya terlihat lelah dan sedih. Wajar saja, belahan jiwanya sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri di dunia ini.
"Umma pulang saja lebih dulu. Aku bisa pulang sendiri. Umma pasti juga sangat lelah setelah upacara pemakaman hari ini." Tolakku perlahan. Aku masih ingin berada di sini.
"Tapi sayang..."
"Pergilah umma. Aku mohon biarkan aku sendiri dulu." Aku memotong ucapan umma sebelum dia keberatan dengan keputusanku untuk tidak pulang segera. Umma tampak sedikit cemas dan kecewa dengan keputusanku, namun akhirnya dia menyerah juga. Umma mengangguk pelan dan membelai rambutku lembut.
"Baiklah. Kalau kau sudah selesai, lekas pulang ya sayang." Ucap ummaku sambil membelai rambutku. Aku mengangguk dan memberikannya kecupan ringan di dahi sebelum akhirnya umma beranjak pergi dari pemakaman ini. Aku terus memandang punggung umma, hanya memastikan bahwa dia baik-baik saja, sampai akhirnya umma menghilang di balik pepohonan.
Selepas mengantarnya dengan mataku, aku kembali menunduk dan menatap ke tanah makam yang masih baru itu. Tertulis di nisan itu,
Rest in Peace
Suami tercinta, ayah tersayang, dan teman terbaik.
Choi Siwon
Kami akan selalu mengenang dan menyayangimu.
Choi Siwon.
Appaku yang telah tiada karena kalah dengan penyakit yang di deritanya. Penyakit yang baru aku ketahui setelah mereka menyerang secara ganas tubuh appa. Penyakit yang memisahkan aku dengan orang yang selama ini selalu aku bantah ucapannya. Orang yang ternyata begitu memikirkan diriku walau tidak terlihat dari setiap perbuatannya. Orang yang aku kira sangat membenciku namun ironisnya justru sangat mencintaiku sampai akhir hayatnya.
Aku tidak akan melupakan bagaimana dia selalu memperlakukanku dengan tegas dan keras semasa hidupnya. Karena sikapnya itu, dulu aku selalu mengira dia menomor duakan aku dengan Suho hyung, kakakku, dan selalu mengatur kehidupanku. Dulu aku selalu mengira dia hanya menganggapku sebagai beban keluarga karena aku tidak bisa sesempurna Suho hyung, terlebih lagi aku memiliki keinginan dan cita-cita yang sangat dia tentang.
Tapi semua perkiraanku salah. Semua yang aku pikirkan selama ini tidak benar. Seharusnya aku tahu, seharusnya aku memakai logikaku dan bukan emosiku. Dia begitu keras kepadaku karena aku memang gampang terpengaruh. Dia begitu tegas padaku karena emosiku yang selalu labil. Dia selalu mengatur segala tindakanku karena ingin agar aku terarah dalam hidupku. Dia hanya ingin aku memacu diriku sendiri sehingga aku bisa menjadi seseorang yang bisa berdiri sendiri dan mampu untuk mandiri. Namun sayangnya, semua itu baru aku sadari ketika dia sudah tidak ada.
Rasanya baru kemarin aku melihat wajahnya, senyum lesung pipinya yang sedikit hampa dan sekarang dia sudah tidak bertatap muka denganku lagi, dengan kami semua. Rasanya baru kemarin aku bertengkar dengannya.
Bertengkar...
Argh!
Kau memang bodoh Choi Minho.
Mengapa di saat appa sedang sakit seperti itu, kau justru mengajaknya bertengkar. Anak macam apa kau ini!
Aku masih menatap makam di depanku dengan perasaan yang berkecamuk. Bagaimana tidak, selama ini aku selalu menyalahkan dirinya atas ketidak mampuanku sendiri. Aku selalu menyalahkannya jika aku menemui masalah dan benturan dalam hidupku. Aku menyakitinya dengan kata-kata kasarku. Aku menyakitinya tanpa menyadari bahwa itu menyakiti diriku sendiri.
Brukk!
Aku menjatuhkan diriku ke tanah karena aku tak kuat lagi menopang tubuhku sendiri. Aku mengepalkan kedua tanganku menahan kepedihan dan rasa bersalah yang mungkin selamanya tidak akan sirna. Appaku meninggal tanpa sempat mendengar langsung aku meminta maaf kepadanya. Dia meninggal dengan pemikiran bahwa aku membencinya.
"Appa... appa... Maafkan Minho... Maafkan Minho..." Airmataku terus berjatuhan dengan deras. Aku tidak melakukan apa pun untuk menghapusnya. Dalam tangisanku itu aku masih mengingat pesan terakhir appa pada kami semua, padaku.
Untuk Minho, maafkan appa yang egois. Appa hanya ingin yang terbaik untukmu, namun ternyata itu meyebabkanmu meninggalkan appa dan juga umma. Membuatmu membenciku. Namun Minho-ya, appa mohon sekali ini padamu, jangan membenci ummamu. Ummamu selalu merasa sedih jika kau tidak mau menganggapnya sebagai ibu kandungmu. Appa yang salah, jadi appa mohon berbaikanlah dengan ummamu.
Minho, appa sayang padamu. Semoga kau bisa terus mengejar apa yang menjadi keinginanmu dan semoga kau bahagia nak dan walau terlambat, appa hanya mampu membantu dengan membangun studio khusus untukmu berekspresi. Semoga kau suka. Sekali lagi maafkan appa.
Appa, aku yang egois. Aku yang bodoh appa. Aku anak yang tidak berbakti. Aku yang tidak mengerti betapa kau mengkhawatirkan aku. Aku yang tidak tahu berterima kasih atas dukunganmu selama ini. Aku yang picik karena aku lupa kau juga manusia biasa, bahwa kau juga memiliki kelemahan sehingga membuatku salah menafsirkan kasih sayangmu.
Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengobati luka hati yang aku torehkan sendiri. Aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hidupku sekarang walau appa sudah berpesan bahwa aku harus bahagia. Aku telah mengecewakan orang yang paling berjasa padaku.
Airmata yang semakin deras mengalir tidak bisa menghapus rasa sesak ini. Rasa yang akan selalu menghantuiku. Rasa sesak ini adalah bentuk hukuman darimu Tuhan karena aku telah menyakiti hati orang tuaku, terutama appaku.
Hhh... Aku menghela nafas dengan berat. Tidak ada yang bisa aku perbuat sekarang kecuali mendoakannya dan selalu mengenangnya.
Appa, aku sayang padamu, walau aku tidak sempat mengutarakan ini kepadamu, tapi aku berharap kau bisa mendengarku. Mendengar permintaan maafku dan doaku. Aku tahu bahwa aku tidak melihat wajahmu yang bersinar karena merasa bangga padaku. Tapi aku janji untuk bisa menjadi anak kebanggaanmu. Aku janji akan memegang semua ajaran darimu. Aku janji tidak akan menyiakan hidupku lagi. Karena hidup ini diberikan olehmu. Hidup yang berharga ini.
Terima kasih appa dan selamat tinggal.
.
.
.
"Kau lihat itu?"
…
"Putra kita sudah dewasa sayang. Aku yakin dia akan menjadi seseorang sehebat dirimu."
…
"Melihatnya sekarang, membuatku semakin merindukanmu."
…
"Siwonnie… Aku begitu merindukanmu… Aku begitu mencintaimu…"
…
"Jemput aku sayang… Jemput aku…"
…
"Hiks… hiks…"
Sayang…
"Siwon!"
Sayang… Bersabarlah… Aku akan segera menjemputmu… Bahkan tanpa kau sadari kita akan segera bersama lagi sayang…
"W-wonnie…"
Kita akan bersama lagi.
Saat itu juga Kyuhyun merasakan semilir angin sejuk menyapu lembut wajah yang meski terkikis usia, masih memancarkan kecantikan yang mempesona. Kyuhyun juga merasakan sentuhan halus di bibirnya.
Sentuhan yang sama kala suaminya mengecup bibirnya.
Ketika sentuhan itu perlahan menghilang disertai bisikan lirih di telinga Kyuhyun, ibu dua anak itu tak sanggup lagi menompang tubuhnya. Tubuh tinggi Kyuhyun bersimpuh di tanah. Dia mendekap tubuhnya sendiri, menangisi kepergiannya belahan jiwanya.
Kyuhyun akan terus menangis. Menangis dengan keras dan meluapkan semua kesedihan yang dia pendam sejak kepergian Siwon. Untuk saat ini, Kyuhyun ingin larut dalam kepedihannya kehilangan orang yang dia cintai. Karena esok…
Karena esok, Kyuhyun akan menatap dunia sama seperti sebelumnya ketika Siwon berada bersamanya.
Kyuhyun tahu raga Siwon telah tiada namun kenangan dan rasa cinta Siwon terhadapnya dan rasa cinta Kyuhyun terhadap Siwon, tidak akan pernah mati. Kyuhyun akan menuruti keinginan Siwon.
Dia akan bersabar.
Bersabar sampai Siwon menjemputnya.
Bersabar sampai akhirnya dia bisa bersatu kembali dengan Siwon.
.
.
.
Aku mencintaimu Kyuhyun
END
