Flower of Love
By: UchiHaru Yuuki
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 2: FIND!
A SasuSaku Fanfict
Disclamer: Masashi Kishimoto
Pair:
Sakura Haruno
Sasuke Uchiha
Genre: Romance, Mistery
Warning:
OoC, gaje, AU, alur kecepetan, nggak pinter bikin summary, EyD kacau('-')v
Tidak menerima plagiat di area ini
Summary:
Sasuke-kun, kau begitu dingin. Menusukku dan membekukanku di saat yang sama. Namun, cinta yang kau berikan seperti es di dalam the. Dingin. Tapi, itu yang dibutuhkan.
.
.
.
.
Hari Kamis kedelapan. Aku terjebak di dalam loker sempit ini bersama Ino. Dalam misi penyelidikan. Aku tahu Ino menonton film action baru-baru ini. Dan obsesinya pada film itu memunculkan ide gila seperti ini. Meringkuk di dalam loker Ino yang kebetulan berseberangan dengan lokerku. Aku sangat bersyukur sekolah ini memiliki loker yang cukup untuk menampung kami di dalam. Setidaknya aku tidak perlu memotong-motong tubuhku agar muat masuk ke dalam. Yeah, ide gila yang cukup brilian untuk kali ini.
"Forehead," panggil Ino.
"Apa?"
"Lama sekali datangnya," keluhnya sambil menngibaskan tangannya pada wajahnya. Udara disini memang mulai pengap. Entah sudah berapa lama kami meringkuk di tempat sempit nan pengap ini. Tapi, masih belum terlihat tanda-tanda munculnya si pengirim bunga itu. Apa dia tidak datang? Mengingat bel masuk akan segera berbunyi sebentar lagi. Otomatis sudah sangat terlambat jika dia mengirim bunga di lokerku tanpa sepengetahuanku. Seperti biasa.
"Mungkin dia sudah jera," ucapku yang seketika itu membuat hatiku terasa terbebani. Dia sudah jera berarti tidak ada bunga lagi. Kenapa seperti ada yang hilang?
"Lebih baik kita keluar saja, Pig."
"Berhenti!" pekik Ino lirih saat tanganku akan mendorong pintu loker. Apa yang dia pikirkan, sih?
"Ada apa?" tanyaku bingung. Matanya melotot. Tapi bukan memelototiku. Tapi sesuatu yang ada di belakangku. Aku langsung menengokkan kepala dan melihat ke luar melalui celah kecil di pintu loker. Seorang lelaki dengan rambut mangkok berdiri tepat di depan lokerku. Rambut mangkok? Aku mengenalinya sebagai gaya rambut Rock Lee. Jadi, yang selama ini mengirimiku bunga adalah... Rock Lee?
Setelah melakukan sesuatu yang sudah bisa kutebak, Rock Lee segera pergi. Dengan langkah terbirit-birit. Aku dan Ino pun segera keluar dari loker penyiksaan yang hamper mirip dengan neraka itu. Dengan terburu-buru aku segera membuka pintu lokerku. Tidak butuh Ino untuk menebak jenis bunga apa yang tergeletak tak berdaya di dalam loker. Bunga mawar. Dengan warna pink.
"Tolong percaya padaku." Aku menoleh. Dan mendapati Ino menatapku dengan ponsel yang sudah ada di genggamannya. "Itu artinya, Forehead."
Aku mengangguk dan menarik kertas yang tidak pernah absen dari bunga kiriman itu.
.
Apa kau penasaran padaku? Sayangnya aku bisa menebak kau yang bersembunyi di dalam loker sahabat pirangmu. Percayalah, aku akan selalu ada di sampingmu.
-S-
.
Misi kami gagal total!
Kulihat wajah Ino yang merengut.
"Tidak ada hasil. Padahal rasanya aku ingin mati di dalam loker itu. Sebenarnya siapa pengirim konyol itu, Sakura?!" Ino berteriak. Baru saja Ino memanggilku 'Sakura'. Pesan tersirat bahwa Ino benar-benar marah sekarang.
"Entahlah, Pig. Yang pasti dia bukan Rock Lee."
"Yeah, setidaknya aku mensyukuri itu." Ino terdiam sejenak lalu berkata, "bagaimana kalau kita coba bertanya pada Rock Lee?"
"Ahh... benar. Mungkin Rock Lee tahu," ucapku dengan antusias. Wajah Ino juga tampak tak kalah antusias. Aku tahu Ino sangat tidak menyukai usahanya sia-sia. Apalagi mengingat Rock Lee yang mengirim bunga itu ke lokerku. Besar kemungkinan Rock Lee mengetahui si pengirim bunga itu bukan? Kecuali dia seseorang yang sangat cerdik yang sudah memiliki rencana lainnya.
Kami hanya memiliki waktu kurang dari lima belas menit sebelum bel berbunyi. Aku dan Ino setengah berlari menuju kelas 2-1, kelas Rock Lee. Aku hanya bisa berharap, kali ini kami bisa menemukan petunjuk lain. Yah, aku harap.
Kelas 2-1 tepat bersebelahan dengan kelasku, 2-2. Sudah terlihat banyak anak pernghuni kelas 2-1 yang berdatangan. Tidak heran, sih. Waktu bel berbunyi tinggal sebentar lagi. Ekor mataku mulai menjelajahi kelas ini. Mencari sesosok rambut mangkok khas Lee. Dan kulihat Rock Lee berada di bangku urutan kedua dari depan dan kanan, bersebelahan dengan Hyuuga Neji.
"Lee!" panggilku dari ambang pintu. Lee nampak terkejut. Entah karena apa wajahnya tiba-tiba memucat. Seperti baru saja melihat Sadako dengan wajah menyeramkannya.
"Sa-sakura-chan." Meskipun pelan dan jarak kami yang terpaut jauh, aku tahu Lee menyebut namaku dengan tergagap.
Dengan langkah tersedat-sedat, lelaki yang biasanya energik ini berjalan ke arahku dan Ino.
"Daijoubudesuka?" tanya Ino dengan pandangan heran. Terang saja, kan. Semua orang mengenal Lee sebagai siswa yang energik. Tak pernah seorangpun melihat Rock Lee berjalan lamban—bahkan saat Guy-sensei menyuruhnya berlari mengelilingi lapangan sebanyak lima kali—karena saking seringnya ia menggelorakan semangat masa mudanya.
"Daijoubu," jawabnya. Tubuh Lee tetap tegak. Tapi, pandangan matanya tidak fokus. Berkali-kali ia melirik ke arah kanan dan kiri. Aku dan Ino memandangnya curiga. Ada apa dengan Lee?
"Lee, kami ingin menanyakan sesuatu padamu. Bisa?" tanyaku.
Lee melirik ke arah kiri dulu sebelum menjawab, "mu-"
KRINGGGG!
Kuso! Aku mendengus sebal. Bel berbunyi begitu nyaring seakan mengusirku dari ambang pintu.
"Lee, boleh kita bicara saat istirahat nanti?" tanya Ino dengan logat memaksa.
Lee diam sejenak lalu kata "ya" meluncur dari mulutnya.
"Baiklah. Aku akan menunggumu di kantin, Lee. Jaa-ne."
Aku tidak percaya. Aku dan Ino sudah menghabiskan hamper semua waktu istirahatku untuk menunggu Lee. Tapi, lelaki dengan kepala mangkok itu tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Meskipun aku dan Lee hanya teman-sekolah-yang-kebetulan-bersebelahan-kelas aku tahu kabur sangat bukan gaya Lee sekali. Aku menghela napas agak kasar. Sepertinya si secret admirer itu memang tidak ingin kutemukan untuk saat ini.
"Rock Lee no baka. Berani sekali dia menipuku," ucap Ino disusul suara dengan suara meja yang dipukul. Aku memandang meja itu prihatin. Ino yang sedang marah memang mengerikan. Aku jadi penasaran, apakah si secret admirer itu lebih mengerikan daripada Yamanaka Ino yang sedang marah? "Serius, Sakura, secret admirer bodohmu itu mencoba melatih kesabaranku," Ino melanjutkan. Syukurnya, kali ini tidak disusul dengan suara gebrakkan meja.
"Gomen," ucapku.
Ino mengalihkan perhatiannya padaku. Sorot matanya terlihat heran. "Forehead, yang salah itu secret admirermu. Kenapa kau yang minta maaf?"
"Aku hanya tidak mau kau terkena darah tinggi, Pig," jawabku. "Lagipula aku juga tidak mau menuntunmu berjalan kalau kau benar-benar terkena darah tinggi nanti," lanjutku sambil memamerkan cengiran kuda.
Aku melihat wajah Ino mulai memerah. Setelahnya aku tak mau mengambil resiko lagi saat Ino mulai menatapku marah. Dengan cepat, aku segera bangkit dari tempat dudukku. Aku sangat bersyukur karena tempat duduk di kantin tidak memiliki sandaran. Hanya berupa kursi kayu panjang sehingga sangat mudah melompatinya dan kabur dari terkaman Ino. Sialnya, karena terlalu terburu-buru aku kurang memperhatikan keadaan di belakangku sampai tanpa sengaja tubuhku menghantam tubuh seseorang dengan keras. Aku merasakan hidungku terasa nyeri.
"Gomen." Aku sedikit menunduk dan menggosok hidungku.
"Hn."
Tubuhku terasa kaku untuk beberapa detik. Suara dan kosa kata singkat itu terdengar sangat familiar di telingaku. Sangat amat familiar sampai aku yakin kalau aku bisa menebak pemiliknya dengan tepat dan akurat.
"Sasuke-kun."
"Hn. Harusnya kau lebih berhati-hati saat berjalan," ucapnya sambil menatapku datar. Yeah, datar.
"Ha'i."
"Hn," ia berucap singkat. "Nanti pulang sekolah mampir dulu ke rumahku," Sasuke melanjutkan ucapannya. Aku mendongak menatapnya dengan tatapan bertanya. Seolah mengerti, Sasuke menjawab, "latihan musik. Aku tidak mau mendapat nilai kosong di pelajaran Kakashi-sensei.
Seketika aku menepuk jidatku. Aku melupakan tugas Kakashi-sensei.
"Errr... maaf. Aku melupakannya," jawabku sambil melirik Sasuke. Ekspresinya memang tetap datar. Tapi entah kenapa, otakku malah mengartikan ekspresi itu sebagai 'sudah kuduga'-nya Sasuke.
"Hn." Gumanan sejuta arti itu kembali melucur dari bibir tipisnya. Kemudian ia melangkah lagi. Melangkah menuju kelas karena bel masuk mungkin akan berbunyi beberapa menit lagi. Harusnya aku dan Ino segera kembali ke kelas. Ino? Yang benar saja! Aku kembali menepuk jidatku lagi. Aku melupakan Ino. Parahnya lagi, aku melupakannya saat ia sedang marah.
"Melupakanku, eh?" ucapnya dengan menyungging senyum termanis dan terjahat di wajahnya. Aku meringis miris untuk diriku sendiri. Aku hanya bisa berharap Ino tidak akan merontokkan rambutku atau melubangi dompetku dengan tagihan makan nanti.
Rumah keluarga Uchiha masih tetap sama seperti terakhir kali aku mengunjunginya. Bersih dan asri. Mereka memiliki halaman yang luas dengan berbagai macam tanaman yang tumbuh di setiap sisinya. Bangunan rumah mereka memang masih menggunakan aksen tradisional. Tapi saat kau memasukkinya, kau akan menyadari betapa luasnya rumah mereka dengan banyak perabot modern yang aku sendiri tidak berani menafsir harganya. Pasti sangat mahal.
"Tadaima," ucap Sasuke sambil melepas sepatunya. Aku mengikutinya.
Aku dan Sasuke mulai memasuki kawasan rumah lebih dalam. Mikoto baa-san—ibu Sasuke—menyambut kami.
"Okaeri, Sasuke-kun." Mikoto baa-san mengecup pipi Sasuke sekilas. Bisa kutangkap ekspresi Sasuke yang seketika tertekuk lalu mendengus. "Wah, ada Sakura-chan juga," kini perhatian ibu dua anak ini beralih padaku. Setelah memeluk dan memberikan kecupan selamat datangnya-nya, ia mengambil ancang-ancang menarikku. Aku tahu Mikoto baa-san memang menginginkan kehadiran seorang anak perempuan di rumahnya—mengingat hanya dirinya seorang perempuan di keluarga ini. Mikoto baa-san pernah bercerita padaku, bahwa menjadi satu-satunya perempuan membuatnya sedikit kesepian. Tidak ada teman mengobrol dan teman belanja untuk mengisi waktunya yang terlalu luang sebagai ibu rumah tangga.
"Kaa-san, Sakura kemari untuk mengerjakan sesuatu denganku," suara bass milik Sasuke terdengar.
Mikoto baa-san melepaskan genggaman tanganku. "Sayang sekali, ya, Sakura-chan, ayam ini selalu memonopolimu setiap kali kau ke sini," ucapnya dengan sarat kecewa. Aku menahan tawa sekarang. Bahkan ibunya saja menyebutnya ayam.
"Gomen, baa-san, lain kali aku akan ke sini khusus untuk baa-san," ucapku berusaha mengembalikan raut ceria di wajahnya. Dan berhasil. Mikoto baa-san kembali menampakkan senyum cerahnya.
Aku mengikuti Sasuke yang mulai berjalan ke lantai atas. Dia menuntunku menuju ruangan yang kukenali sebagai ruang musik. Yeah, keluarga Uchiha memang memiliki ruang musiknya sendiri. Alat musik di sini lumayan banyak, meskipun tak sebanyak di sekolah. Setidaknya mereka memiliki piano dan violin yang kami butuhkan sekarang.
"Kau tunggu saja di sini. Aku akan berganti baju sebentar," ucapnya menyadarkanku dari acara pengamatan rumah Uchiha. Aku mengangguk mengerti lalu mendudukkan tubuhku pada kursi kayu panjang di dekat jendela.
Setelah sosok Sasuke hilang ditelan pintu, barulah aku melanjutkan acara pengamatanku. Aku menengok ke arah luar jendela yang kebetulan menghadap langsung pada taman. Di sana banyak tumbuh tanaman bunga dengan berbagai jenis. Mereka tumbuh dengan cantik sampai membuatku terpesona. Mungkin Mikoto baa-san merawat bunga-bunga itu dengan baik.
Aku mendengar pintu yang terbuka dan mengalihkan atensiku dari taman. Kulihat Sasuke kini sudah mengenakan pakaian santainya. Kaos biru polos dengan celana pendek selutut yang dikenakannya menciptakan aura yang berbeda dengan aura yang selalu ia tunjukkan saat sedang di sekolah. Sasuke terlihat lebih segar.
"Bisa kita mulai latihannya?" tanyanya padaku.
Aku mengangguk lagi menanggapinya. "Aku sudah siap."
Sasuke mengambilkan sebuah violin dari dalam lemari di sudut ruangan. Ia mengeluarkannya dari wadahnya lalu menyerahkannya padaku.
"Kau ingin kita memainkan lagu apa?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak. "Bagaimana dengan My Memory? Aku sering mendengarnya saat melihat Drama di televisi."
"Hn," gumannya. "Kita pernah memainkannya di Festival Budaya setahun lalu, kan?" Sasuke membuka laci di sebelahnya.
Setahun lalu aku dan Sasuke memang pernah menampilkan lagu My Memory saat Festival Budaya untuk mewakili kelas kami. Sejujurnya, itu saat pertama kali kami saling kenal. Kenal dengan dekat maksudku. Pertama kali bertemu, kupikir Sasuke seperti es kutub berwujud manusia. Dingin dan diam—sekarang pun persepsiku masih sama—. Aku yang dari dulu memang tidak menyukai keheningan—apalagi ditambah suasana canggung—mengusahakan banyak cara untuk berbicara dengannya. Entah membicarakan hobi, ekskul basketnya, kadang juga menjejalinya dengan gosip, meskipun aku tahu manusia kutub sepertinya pasti tidak menyukainya. Hasilnya tidak jauh beda. Tapi, setidaknya kami sudah tidak canggung lagi saat itu. Sasuke juga mulai merespon keberadaanku saat kami melakukan latihan.
"Iya."
Sasuke masih tetap mengaduk-aduk isi laci di sebelahnya. Lalu memberikan selembar kertas berisi not balok padaku.
"Kita sudah pernah memainkannya. Kurasa tidak sulit," ucapnya sambil beranjak menuju piano-nya.
"Ya. Aku pikir juga begitu. Sepertinya ini akan lebih mudah, ya."
"Hn. Kita mulai."
Sasuke mulai menekan tust-tust piano dengan jari panjangnya. Aku mengikutinya, menggesek violinku sesuai dengan nada yang tertulis dalam not sambil terpejam. Nada-nada yang kami ciptakan seakan mengantarku pada dunia lain. Hanya aku dan Sasuke di dalamnya. Kami terasa menyatu.
Karena saking menghayatinya, tanpa terasa lagu ini sudah berakhir. Aku membuka mataku.
"Kau melakukan beberapa kesalahan," ia mengoreksi.
"Gomen."
"Hn. Mau kuambilkan minum?" tanyanya.
"Boleh."
Sasuke kemudian bangkit dan keluar menuju dapur. Kutengok lagi taman bunga di balik jendela. Warna kelopak bunga yang warni-warni membuatku merasa nyaman. Bunga yang banyak macamnya itu ditanam berkelompok sesuai jenis dan warnanya. Lalu diberi pagar pembatas di sisi kanan dan kirinya, seperti dibuat jalan. Namun, ada beberapa bunga yang sepertinya sengaja dipotong. Rasanya tidak mungkin Mikoto baa-san tega memotongi bunga yang ia rawat setiap hari. Saat itu juga aku teringat dengan secret admirer yang menerorku beberapa minggu ini. Sedikit berharap kalau orang itu Sasuke. Tapi, sepertinya bukan, deh, mengingat kepribadiannya.
"Hn. Minumanmu Sakura." Begitu aku mendengar suara Sasuke, aku langsung berbalik. Sasuke datang dengan membawa nampan berisi dua jus jeruk yang kemudian ia letakkan di meja kecil di dekat pintu.
"Arigatou," ucapku. Sekali lagi kulirik taman bunga di sebelahku. Hm, sepertinya tidak ada salahnya juga bertanya, kan? "Sasuke-kun, kenapa bunga Mikoto baa-san banyak yang dipotong asal?"
Sasuke melirik taman itu sebentar, lalu menjawab, "mungkin ulah Itachi."
Tuh, kan, benar apa yang kubilang. Padahal pasti manis sekali kalau benar Sasuke yang melakukannya kan.
.
.
TBC
NB: Lama nggak ketemu, minna~ Gomen, yak, Yuuki updatenya sangat amat lama sekali. Yuuki kena WB jangka panjang, jadi setiap mau ngelanjutin fict ini rasanya berat banget T.T tapi bersyukur juga akhirnya bisa nyelesein chapter dua ini #lambailambai. Selain itu juga, ditagihin mulu. Dan karena Yuuki orangnya baik, jadi kupersembahkan fict ini khusus untukmu #ngahahaha~
Yosh! Mungkin fict author bau kencur ini makin gaje dan hilang arah (?) Tapi, terimakasih buat yang udah sempetin mampir juga yang udah nungguin—kek ada yang nungguin aja—Terima kasih juga buat yang udah nyempetin review~ #winkwink
Big thank's to cherryl, .3, Guest, Manami Lavera, Kimura Megumi, hanazono yuri, mikahiro-shinra udah dilanjut, nih!
