Sudah dua minggu sejak kesepakatan itu berlaku. setiap hari Yunho datang ke apartemen Jaejoong dan akan pulang ke rumahnya ketika lewat tengah malam. tentu saja lembur menjadi senjata paling ampuh untuk dia katakan kepada Sunny.

Ponsel Jaejoong bergetar tepat 1 menit setelah pesan sebelumnya terkirim.

Aku tidak pernah meragukanmu, Oppa. Jangan terlalu mudah untuknya, don't forget it!

Jaejoong tersenyum, lalu segera membalas pesan itu lagi.

Lakukan saja peranmu. Kita akan segera bertemu.

Jaejoong bangkit dari duduknya, sekali lagi mengecek make up nya di depan kaca, lalu segera keluar dari ruang ganti yang bertuliskan "untuk model Kim Jaejoong".

Hari ini Jaejoong melakukan pemotretan di perusahaan Yunho. Dan tentu saja ini berkaitan dengan kontrak yang Jaejoong tanda tangani 2 minggu lalu, ketika mereka pertama bertemu untuk sekian lama.

Jaejoong menjadi model iklan untuk salah satu produk dari perusahaan Yunho, dan bukan kebetulan tentunya hal ini terjadi, bukan?

"Kau sudah siap?" Yunho tiba-tiba berdiri di sebelah Jaejoong yang sedang membaca sesuatu yang entah itu apa.

"Jangan coba mendekatiku disini, Yunho. Akan menjadi pembicaraan nantinya." Wajah Jaejoong tetap terpaku pada kertas di tangannya.

"Tidak perlu mengkhawatirkanku."

"Aku tidak sedang mengkhawatirkanmu, tapi aku mengkhawatirkan diriku sendiri." Dengan sikap acuh, Jaejoong meninggalkan Yunho yang masih mencoba mencerna kata-katanya.

Yunho benar-benar mengetahui bagaimana sakitnya hati Jaejoong ketika dulu dia harus pergi dari sisi Yunho, dan itulah alasan pasti Jaejoong bersikap sedingin ini ketika mereka berdua di depan umum.

"Yunho"

Yunho tersadar dari lamunannya, lalu segera mengikuti sumber suara yang memanggilnya.

Memaksakan sebuah senyum, Yunho melambai kepada wanita yang sedang berdiri di pintu masuk studio tempat pemotretan akan berlangsung.

Wanita anggun dengan pakaian yang sangat pas di tubuh mungilnya itu menghampiri Yunho.

"Kau sedang sibuk?"

"Sebentar lagi akan ada pemotretan untuk produk baru, aku harus terus mengawasi"

"Kalau begitu biarkan aku menemani?"

Yunho mengangguk mengiyakan wanita yang berstatus istrinya itu untuk mengawasi jalannya pemotretan.

Mengawasi pemotretan? Mengawasi Jaejoong lebih tepatnya.

"Bukankah itu Kim Jaejoong?" Tanya Sunny ketika melihat Jaejoong sedang mendapat arahan photographer untuk posenya.

"Kau mengenalnya?" Yunho tak lepas memandang Jaejoong, bahkan ketika Sunny menanyakan tentangnya.

"Tidak, aku hanya pernah melihatnya di majalah. bukankah dia sangat terkenal di Jepang?"

"Ya, untuk itu aku membawanya kemari. Produk baru kita memang akan menembus pasar Jepang." Jelas Yunho yang tiba-tiba saja menemukan alasan logis mengapa dia memilih Jaejoong untuk menjadi modelnya kali ini.

Sunny tersenyum, lalu menambahkan "aku juga pernah melihat fotonya di kamar kita, saat malam pertama aku menginjakkan kaki disana"

Yunho terkesiap, apa yang barusan Sunny katakan tentu saja tidak dia ketahui sebelumnya. Tapi kenapa Sunny tidak pernah bertanya kepadanya tentang siapa Jaejoong?

"Kau punya masa lalu, begitu juga denganku, Yunho. Kau tidak perlu menceritakan siapa dia kepadaku."

Untunglah Sunny mengatakan hal ini, jadi dia tidak perlu repot-repot mengarang alasan untuk itu.

"Nanti akan ku kenalkan kau padanya, dulu dia teman dekatku"

lagi-lagi Sunny tersenyum mendengar pernyataan Yunho.

Setelah pemotretan selesai, Yunho membawa Sunny ke ruang ganti Jaejoong, sesuai janjinya bahwa dia akan mengenalkan istrinya dengan teman dekatnya(?).

"Kim Jaejoong"

Jaejoong hafal siapa yang saat ini menyebut namanya. Mengangkat wajahnya menghadap cermin di depannya, Jaejoong dapat melihat Yunho datang bersama seorang wanita.

"Kenalkan, dia istriku. Sunny" Yunho memandang Jaejoong melalui cermin yang sama.

Jaejoong menoleh, tersenyum lalu bangkit dan menjabat tangan Sunny memberi salam.

"Kudengar kalian berdua berteman?" Sunny memulai pembicaraannya.

"Ya, kami berteman ketika masih kuliah. Setelah lulus kuliah, aku pergi ke Jepang. " Jelas Jaejoong.

"Ah, aku rasa kalian pasti sangat dekat, sehingga kau rela kembali ke Korea hanya untuk menjadi model dari produk baru perusahaan Yunho."

"Tidak seperti itu, aku memang kembali ke Korea karena keinginanku sendiri. Dan ada beberapa hal yang perlu aku tangani di Korea."

"Aku rasa sudah saatnya makan siang. Lebih baik kita lanjutkan obrolan ini dengan makan siang?" Yunho menawarkan, dan tentu saja disetujui dengan senang hati oleh kedua orang di hadapannya dengan antusias.

Dan makan siang itu berakhir dengan Yunho yang menjadi obat nyamuk antara istrinya dan temannya itu. keberadaannya tak dianggap.

Mereka mudah sekali akrab.

Batin Yunho.

"Yunho, nanti malam aku ada acara dengan temanku, jadi aku akan pulang terlambat, jangan tunggu aku." Ucap Sunny ketika mereka bertiga sudah berada di perusahaan Yunho.

"Bersenang senanglah dengan temanmu, mungkin aku juga akan lembur nanti malam" jawab Yunho yang disambut senyuman lega dari Sunny.

"Kalau begitu aku pamit dulu. Annyeong Jaejoong-ssi, senang berkenalan denganmu. Yunho aku pergi dulu." Sunny mencium pipi Yunho sekilas, lalu tersenyum kearah Jaejoong dan melambaikan tangan kepada keduanya.

"Aku rasa Sunny tidak pernah tahu hubungan kita sebelumnya? Kau tidak pernah bercerita?" tanya Jaejoong ketika Sunny sudah menutup kembali pintu ruang gantinya.

"Aku tidak pernah membahas masa laluku dengannya. Dia juga tidak ingin tahu. Hubungan kita tidak begitu dekat."

"Suami istri memiliki hubungan tidak begitu dekat?"

"Kau tahu aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Jadi untuk apa aku penasaran dengan kehidupannya? bahkan makanan kesukaannya saja aku tidak tahu?"

"apa dia tahu makanan kesukaanmu?" Tanya Jaejoong lagi.

"Aku rasa tidak."

Yunho baru sadar, selama ini hubungannya dengan Sunny tidak terlalu dekat, bahkan Yunho tidak tahu seberapa banyak Sunny mengetahui hal-hal tentangnya? sementara dia tidak mengetahui apapun tentang Sunny.

"Kenapa kau penasaran dengan kehidupanku dengannya Jaejoong? Yang terpenting buatku hanyalah kau"

"Sekarang kau berkata begitu, Yunho. Seandainya kau dulu juga berkata begitu, mungkin aku tidak perlu pergi ke Jepang."

Senyum pahit ditunjukkan Jaejoong atas pernyataannya barusan. apakah kata "Seandainya" itu masih berguna?

Yunho terdiam. memang benar, semua yang terjadi saat itu adalah kesalahannya. seratus persen kesalahannya.

Wajar jika Jaejoong bersikap sedingin ini sekarang kepadanya.

Walaupun Yunho selalu datang ke apartemen Jaejoong setiap hari, tapi mereka hanya makan malam dan nonton tv bersama yang berakhir dengan jaejoong tertidur di sofa, dan Yunho yang pergi diam diam ketika sudah lewat tengah malam. Hanya itu yang mereka lakukan dan tidak pernah ada pembicaraan yang mengarah pada "ingin memperbaiki hubungan" dari salah satu diantara mereka.

Mereka lebih suka berdebat hal-hal kecil seperti hari ini contohnya, ketika Jaejoong membahas rumah tangga Yunho.