WRONG DESTINY

Chapter 2

By

Mgr. Zhao

Cast : EXO member, ex-EXO, and other

Pairing : HunHan-KrisHan

Rate : M, M-Preg Contains

Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin

.

.

25 tahun kemudian

.

Semua pegawai istana sedang sibuk pagi ini. Mondar-mandir kesana kemari. Membawa ini dan itu. Merapikan segala hal disana-sini. Namun semua itu bukan tanpa alasan. Hari ini tepat sehari setelah sang pangeran menginjak umur ke 25-nya. Ia akan dipinang oleh seorang Pangeran dari negeri tetangga. Ya, baru peminangan. Bukan pernikahan langsung. Pangeran dari keluarga Lu belum bisa menerima petuah sang nenek moyang. Maka ia meminta waktu kepada Ayahnya, sang Raja, untuk saling mengenal dengan Pangeran Wu. Sang Raja menyetujui walaupun akhirnya peminangan dilaksanakan sekaligus dengan seserahan dalam sehari. Walaupun hanya peminangan dan seserahan, tak ayal seluruh pegawai istana mempersiapkan segala hal dengan baik, atas perintah sang Raja tentunya.

Pangeran, menikah dengan Pangeran? Tidakkah ada yang salah dengan ini? Tidak, sama sekali tidak. Pangeran Lu memang harus menikah dengan Pangeran Wu, sesuai dengan petuah yang tertulis dalam kitab yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka.

"Pada usia ke 25, keturunan pertama keluarga Lu, harus dinikahkan dengan keturunan pertama keluarga Wu. Apapun yang terjadi. Akan ada petaka yang menimpa kedua kerajaan, namun kebahagiaan dari pernikahan ini akan menangkis kekuatan petaka itu. Kematian, kehancuran, musibah sekalipun,"

Hanya tertulis 'keturunan pertama'. Celakanya keturunan pertama dari kedua kerajaan tersebut adalah laki-laki.

Kini, kerajaan diselimuti warna merah dan emas dari lampion serta kain-kain sutera penghias yang dipasang disana-sini. Seluruh pegawai kerajaan pun memakai pakaian tradisional yang didominasi warna merah. Melambangkan kebahagiaan. Seluruh pelosok kerajaan sudah mengetahui tentang acara ini. Juga kabar mengenai petuah nenek moyang tentang pernikahan kedua pangeran. Ada yang miris mendengarnya karena kasihan, tapi tak sedikit juga yang berbahagia atas itu dan berharap kedua pangeran dan kerajaan diberi kebahagian dan rahmat dari Dewa dan nenek moyang.

"Hormat hamba Yang Mulia Raja, hamba mendapat kabar dari punggawa perbatasan negara bahwa kereta kuda kerajaan Wu beserta rombongannya sudah melewati perbatasan," seorang punggawa kerajaan Lu memberi kabar dengan suara lantang dari luar kamar yang digunakan oleh pengantin untuk mempersiapkan diri, mengingat sang Raja juga ada di dalam sana. Sang Raja pun langsung menuju pintu keluar untuk mendapatkan informasi yang lebih dari punggawa. Tersisa sang Pangeran, Permaisuri, dan seorang penata rias di dalam sana.

"Luhan, Pangeran Lu anakku," ucap sang Permaisuri sambil meletakkan tangannya di kedua bahu anaknya. Terlihat dari cermin bahwa sang Permaisuri sudah tidak muda lagi. Raut kekhawatiran tersirat dari wajah Permaisuri yang berumur 50-an itu.

"Ibuku, Yang Mulia Permaisuri, aku baik-baik saja. Aku akan memberikan apa yang aku bisa berikan kepada kerajaan ini selagi aku masih mampu. Aku percaya tidak ada petuah yang salah dari nenek moyang, seperti yang kau katakan," walaupun sang Pangeran mengucapkan demikian, namun ia menundukkan kepalanya tanda ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

"Permisi, Yang Mulia Permaisuri," penata rias memberikan sebuah kotak perhiasan kecil kepada Permaisuri.

"Terimakasih," dan Permaisuri menerimanya. Ia kemudian membuka kotak kecil berwarna merah tersebut. Mengambil satu buah anting kecil yang terpasang anggun di dalamnya, dan mengganti anting yang sudah terpasang sebelumnya di lubang telinga kiri sang Pangeran dengan anting itu. Bukan anting yang mewah yang terbuat dari emas dan dibubuhi dengan berlian atau mutiara besar. Hanya anting berbentuk kejora kecil yang terbuat dari perak yang ringan dan diberi setitik permata di tengahnya. Namun, anting tersebut sudah bisa memberi tanda bahwa sang Pangeran adalah lelaki yang 'diberkahi'.

Pangeran Lu sangat dijaga sedari ia kecil. Tidak boleh keluar dari wilayah istana. Bahkan ke pelataran sekalipun. Hanya beberapa orang pegawai dan pelayan istana yang mengetahui wajah tampan pangeran. Sang Raja hanya mempercayai 24 orang termasuk penasehat raja dari sekitar 1200-an pegawai kerajaan dan 4000 tentara kerajaan untuk mengurus segala keperluan Pangeran Lu dari kecil sampai sekarang. Hal itu tidak lain karena sang Pangeran adalah lelaki yang 'diberkahi' dan sang Raja tidak menginginkan sesuatu yang buruk, apapun itu, terjadi kepada Pangeran Lu.

Lelaki yang 'diberkahi' adalah sebutan bagi lelaki yang diberi kepercayaan oleh Dewa untuk bisa mengandung dan memberikan keturunan walaupun ia seorang laki-laki. Keberadaan lelaki itu hanya 1 banding 10.0000.000 di dunia ini.

"Wajah yang terlihat cantik dibandingkan dengan laki-laki lainnya, kemudian mempunyai bekas goresan di bagian wajah padahal tidak tergores atau terkena sesuatu apapun. Ia yang memiliki ciri-ciri seperti itu merupakan titisan Dewa yang paling dijaga. Seharusnya tinggal di kahyangan, tetapi diturunkan ke bumi. Berilah ia tanda di salah satu telinganya. Perlakukanlah ia bagaikan anak kalian sendiri. Jagalah ia bagaikan kerang menjaga mutiaranya di dalam cangkangnya,"

Itulah yang tertulis dalam kitab suci pada masa mereka. Sang Raja dan Permaisuri menemukan bahwa Pangeran adalah lelaki yang 'diberkahi' ketika penasehat raja yang sering membaca kitab suci Dewa bertanya mengenai goresan di bibir bawah sang Pangeran. Mereka tidak tahu darimana goresan itu berasal. Ketika lahirpun Pangeran tidak memiliki goresan itu. Namun ketika Pangeran Lu sendiri ditanya mengenai itu, ia sendiri pun tidak tahu kenapa ada goresan itu di bibirnya.

Ketika sang Pangeran menginjak remaja banyak dari orang kepercayaan Raja yang berpendapat bahwa ia cantik. Menawan. Seketika itu juga sang Raja membawa sang Pangeran ke peramal istana dan menemukan fakta bahwa Pangeran adalah lelaki 'diberkahi', dan langsung memberinya tanda dengan anting ditelinganya tepat di ulang tahun ke 15 Pangeran. Harapan mempunyai keturunan dari pernikahan kedua Pangeran nantinya, mulai tumbuh di hati sang Raja.

"Luhan, kau harus bisa membawa dirimu baik-baik. Jagalah perangaimu ketika bersama dengan calon suamimu. Jaga juga dirimu baik-baik. Walaupun Ibu yakin banyak orang akan menjagamu bagaikan mutiara indah yang dikeluarkan dari kerangnya,"

"Aku mengerti, Ibu. Aku...hanya takut apakah Pangeran Wu adalah orang yang baik seperti orang-orang bicarakan?," Pangeran Lu memeluk Permaisuri.

"Janganlah takut akan hal itu. Ibu sering bertemu dengannya, dan Pangeran Wu adalah orang yang berwibawa dan bisa menjaga, menurut Ibu. Ia sangat tepat untukmu, anakku sayang," Permaisuri balas memeluk Pangeran Lu dan membelai rambut hitam legamnya.

"Istriku, mereka sudah sampai. Kau sudah siap, anakku, Pangeran Lu? Marilah kita menyambut mereka," sang Raja membuka pintu kamar kemudian Pangeran dan Permaisuri berdiri dari duduknya pertanda mereka sudah siap.

.

.

"Ayahku, Paduka Raja, apakah Pangeran keluarga Lu berperangai baik?" tanya seorang Pangeran tampan berpakaian tradisional mewah berwarna merah yang berlukiskan naga emas pada bagian punggungnya, dan ikat pinggang dari kain sutera berwarna emas.

"Pangeran Wu Yi Fan, anakku. Aku sudah mempercayai Raja Lu sejak dulu aku bekerja sama dengannya. Seperti yang ia katakan di surat-suratnya bahwa Pangeran Lu berperangai baik dan menawan. Aku yakin ia tidak akan menghianatiku. Aku pun tidak akan mengecewakan anakku yang sangat aku banggakan," jawab sang Raja yang berwajah mirip dengan Pangeran Wu yang tadi bertanya.

"Aku selalu percaya bahwa petuah nenek moyang tidak mungkin salah dan berdoa kepada Dewa agar ia memberikan yang terbaik kepadaku, keluargaku, serta seluruh kerajaan. Juga karena aku melaksanakan permintaan Yang Mulia Permaisuri, Ibuku, yang kini pasti tengah tersenyum bersama para Dewa," Pangeran tersenyum ketika mengucapkan kata-katanya sambil melihat pemandangan di luar kereta kuda kerajaan yang ia naiki.

"Kau anakku yang ku banggakan. Berbahagialah, putraku," sang Raja menepuk pundak putra pertamanya tersebut.

"Berbahagialah, wahai Putra Kebanggaan, dengan mempelai pria-mu. Haha," celetuk seorang lagi yang juga berada di kereta kuda tersebut dengan nada mengejek. Pangeran muda berparas tak kalah tampan dan gagah dengan kakaknya. Memakai pakaian tradisional berwarna merah namun lebih sederhana dengan lukisan bunga indah di bagian bawah pakaiannya, dan ikat pinggang berwarna hitam. Terlihat dari tingkah lakunya, Pangeran muda ini mempunyai sifat pemberontak yang sangat kentara.

"Wu Shi Xun, sebagaimana orang melihat sebuah buku, maka akan melihat sampulnya pertama kali," sang Raja membalas celetukan anak keduanya dengan perumpamaan yang ia buat. Berharap anaknya akan membenahi tingkah lakunya yang tidak sopan. Karena bagaimanapun kesan pertama seseorang berasal dari tingkah laku dan yang terlihat dari luarnya. Sedangkan Pangeran pertama yang diceletuki hanya tersenyum lembut ke arah adiknya. Sudah biasa adiknya seperti itu.

"Cih. Wu Shi Xun? Aku tidak sudi menyandang nama 'Wu' di depan namaku. Aku mual," Pangeran Wu Shi Xun menyilangkan tangannya di depan dada dan berlagak seolah ingin muntah sambil menatap sinis ke arah sang Raja.

"Wu Xun. Jaga bicaramu!" ucap Pangeran Wufan dengan tegas. Tidak suka dengan perilaku adiknya.

"Wu Xun? Nama konyol itu lagi. Aku Shi Xun! Bukan Wu Shi Xun ataupun Wu Xun! Sekali lagi, aku tidak suka nama 'Wu' ada di namaku!"

"Baiklah, Shi Xun," Pangeran Wufan menuruti adiknya dengan tenang.

"Ck," dan akhirnya Pangeran Shixun bertambah kesal karena tahu Pangeran Wufan sedang meledek dirinya.

Pangeran Wu Shi Xun. Atau bisa kita panggil dengan Pangeran Muda Shixun memang terlihat sangat tidak suka dengan keluarga Wu. Ia adalah anak selir Raja Wu. Namun dijadikan pangeran muda oleh Raja Wu dengan syarat Wu Shi Xun tidak boleh mengetahui siapa ibunya sebenarnya.

4 tahun setelah kelahiran Pangeran Wufan, sang Permaisuri meninggal karena sakit parah. Akhirnya sang Raja menjalin hubungan dengan selirnya dan dari hubungan itu terlahirlah Wu Shi Xun. Pada awalnya hubungan Wu Shi Xun dengan keluarga Wu sangatlah harmonis. Masih dengan Wu Shi Xun yang tidak mengetahui siapa ibunya sebenarnya. Sampai ketika Wu Shi Xun berumur 12 tahun, ada seorang selir yang dibunuh oleh orang kerajaan sendiri dengan tuduhan menjalin hubungan gelap dengan Raja dan sudah memilki anak dari hasil hubungan itu.

Awalnya Wu Shi Xun tidak mengetahui bahwa anak hasil hubungan itu adalah dirinya. Namun, seperti angin berhembus, lama-kelamaan terungkap kebenaran bahwa selir itu adalah ibunya sendiri. Wu Shi Xun yang waktu itu adalah pangeran memberontak kepada Ayahnya, sang Raja Wu. Ia terus-terusan bertanya apakah Ayahnya tahu akan semua ini? Lalu kenapa ia tidak membela ibunya? Tapi apalah daya seorang anak kecil dibandingkan kekuatan Ayahnya yang merupakan Raja dan seluruh kaki-tangannya. Ia hanya kucing kecil pada saat itu. Sejak saat itu Wu Shi Xun tidak mau menyandang nama marga 'Wu'. Ia menjadi pembangkang. Ia mempunyai dendam, dan akhirnya dendam itu tetap terukir dalam hatinya sampai sekarang.

Lain Wu Shi Xun, lain juga Ayahnya. Raja Wu sangat menyayangi Wu Shi Xun seperti anaknya sendiri. Tidak membanding-bandingkan Wu Yi Fan dan Wu Shi Xun, walau ia hanya anak seorang selir.

.

"Hormat hamba, Yang Mulia. Kita sudah sampai di Istana Lu," ucap seorang punggawa ketika mereka sudah sampai di Istana Lu dan membukakan pintu kereta kuda.

"Istana yang indah," ucap Raja Wu seketika ia menginjakkan kaki di tanah Istana Lu.

"Persiapkan diri kalian semua. Jangan sampai ada yang ketinggalan dan salah hari ini!" perintah Raja Wu kepada seluruh pengawal dan rombongannya. Tidak ingin ada yang memalukan hari ini.

"BAIK, YANG MULIA!"

"Kau harus banyak tersenyum hari ini, anakku, Pangeran Wufan," ucapnya kepada Pangeran Wufan. Pangeran Wufan membalas dengan menundukkan kepala dengan hormat dan tersenyum kepada Raja.

"Lalu, anakku, Pangeran Wuxun...,"

"Aku tau. Aku harus sopan dan menjaga perilaku. Tidak usah memerintah, dan panggil aku Shixun. Tidak dengan nama konyol," belum selesai sang Raja berucap, Pangeran Shixun sudah menyela dengan angkuh. Sang Raja hanya menggeleng.

"Baiklah. Apakah sudah siap semuanya?" sang Raja bertanya lagi.

"SUDAH, YANG MULIA!" seluruh rombongan dan pengawal menjawab dengan tegas. Kemudian mereka semua berjalan memasuki Istana Lu.

.

"BERI HORMAT!" komando seorang Kepala Prajurit di Istana Lu ketika rombongan kerajaan Wu sampai di pintu dalam Istana. Semua prajurit istana memberi hormat kepada rombongan Wu.

Sesampainya di pelataran istana, sudah berdiri Raja, Permaisuri, dan Pangeran Lu beserta pengawal-pengawal mereka. Raja Wu memberi salam kepada keluarga Raja Lu dan diikuti oleh kedua Pangeran. Begitu pula Raja Lu, Permaisuri, dan Pangeran Lu, membalas salam tersebut. Akhirnya kedua keluarga mempelai saling berhadapan.

Ketika keluarga kerajaan Wu menyerahkan seserahan kepada keluarga Lu, pada saat itu juga Pangeran Lu yang sedari tadi menundukkan kepalanya, mengangkat kepala dan menatap lurus ke depan. Tanpa disangka, tatapannya bertabrakan dengan tatapan Pangeran Wufan yang ternyata sudah sedari tadi menatap dirinya.

"Tampan...,"

"Cantik...,"

Kemudian kedua mempelai itu saling menatap dan melemparkan senyum. Pangeran Wufan mencoba senyum terbaiknya dan Pangeran Luhan tersenyum manis namun malu-malu. Sesekali ia menundukkan kepalanya dan menatap Pangeran Wufan kembali yang seakan terpaku pada dirinya. Mata Pangeran Wufan memancarkan kekaguman yang sangat dan menatap yakin kepada Pangeran Luhan. Begitu pula Pangeran Luhan yang entah kenapa terpesona dengan Pangeran Wu padahal ia laki-laki, sama seperti dirinya. Mereka saling menatap seperti tidak ada halangan diantara mereka, padahal di antara mereka ada rombongan keluarga Wu yang memberikan bawaan untuk lamaran sekaligus seserahan itu, dan juga keluarga Lu yang menerima barang-barang tersebut.

Mereka saling menatap. Terjatuh dalam lautan cinta. Terbawa dalam ombak kasih. Terayun dalam aliran sayang.

Tanpa tahu ada seseorang yang sedang berencana membuat badai dalam samudera cinta, kasih, dan sayang diantara mereka.

"Pangeran Luhan, begitu cantik dan bersinar bagaikan bunga teratai yang mekar di air yang jernih. Aku akan memilikimu,"

.

Hai, ni hao, anyeong haseyo :)

Zhao is back with 2nd chapter. Gimana? Membosankan, kah?

First, mau ngomongin tentang 'Author Note' di atas. Katanya di FF ini semuanya pake nama Mandarin, ya? Iya :) Karena apa? Karena latar di FF ini sendiri Zhao pilih pada zaman Kaisar-Kaisar China gitu :P Jadi, ga afdol dong kalo tiba-tiba ada nama Korea muncul di dalem. Hihi. Jadi, ya, semua cast bakal pake nama China. Member EXO, siapapun, tanpa terkecuali. OK?

Kedua, "ZHAO CERITANYA NGARANG BANGET!". Waduh, ini emang cerita ngarang, kok. Dari mulai nama Kerajaannya, Isi perjanjian, segala macam. Tadinya Zhao pengen masukin keterangan tentang Dinasti-Dinasti dari setiap kerajaan. Tapi, pas Zhao pelajarin malah pusing, terus daripada salah mending gausah deh. Hihihi/

Yang ketiga, thank you very much buat yang udah respond dan review. Bikin semangat update kilat banget kalo gini. Ternyata masih banyak HHS di dunia ini. /Zhaotaksendiri/ Hehe. Udah ada yang nebak-nebak jalan ceritanya. Bahkan kayaknya ini cerita udah mulai kebaca jalan ceritanya :P Tapi, selain HHS ternyata ada juga shipper KrisHan yang minta KrisHan aja, ga usah HunHan. Ehehehe. Ini shipper kedua aku setelah HH, btw. /throwback Is My Brother A Psycho/ Gimana, ya? Maaf. Harus tetep HunHan, nih. :) Sekali lagi terimakasih buat chingu-deul, pengyou-men/? yang udah respond di Ch.1. Respond kalian semua sangat membangun. :) Bagi yang memiliki akun, Zhao balas via PM, okay?

OK, last. Zhao minta respond-nya di Chapter 2 ini. Chapternya udah mulai panjang, nih. Review juga harus mulai banyak, dong. Hehehe.

Bye, see you next Chapter. :)

.

.

Salam cinta,

HUNHAN