WRONG DESTINY
Chapter 3
By
Mgr. Zhao
Cast : EXO member, ex-EXO, and other
Pairing : HunHan-KrisHan
Rate : M, M-Preg Contains
Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin
.
.
Ingatlah pagi agar kau membuka jendela istanamu
Rasakanlah tetes embun yang berada
Biarkan angin sejuk pagi menyapa singgasanamu
Cobalah mengerti bahasa burung yang menyanyikan lagu kekaguman akan dirimu
Tersenyumlah ketika kehangatan sang raja hari memeluk dirimu
Dan saat kau merasa tumbuh bunga dihatimu
Percayalah kau telah bertemu dengan anugerah terindah dalam hidupmu
Dan aku, itulah yang aku rasakan sekarang
Tak perlu aku ucapkan seberapa indah dirimu
Biar bunga mawar yang menggambarkannya, Lu
Biar mutiara putih yang menceritakannya, Lu
-Wu Yi Fan
Pangeran Lu melipat kembali kertas surat yang ia terima dari Pangeran Wu. Ia tersenyum merona. Tak disangka begitu romantisnya Pangeran Wu. Pangeran Lu yang kini terduduk di pinggiran jendela kamarnya menatap ke arah taman yang terletak di belakang kamarnya. Tak disangka di taman itu ada Pangeran Wu yang sedang berjalan-jalan, dan menatap pula pada dirinya. Kemudian ia melempar senyum. Pangeran Lu yang ditatap dan diberi senyuman oleh Pangeran Wu, menunduk tersipu malu dan masuk kembali ke kamarnya. Pangeran Wu merasa sedikit kecewa karena Pangeran Lu masuk ke kamarnya seakan menolak dirinya. Akhirnya ia meneruskan berjalan-jalan di taman. Melihat-lihat bunga anggrek yang tergantung indah di pagar yang tinggi dan melihat ke arah langit yang biru dan cerah.
"Jatuh cinta kepada langit, Yang Mulia Pangeran?"
Suara lembut menyapa pendengaran Pangeran Wu. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Pangeran Lu sedang berdiri dan menatap dirinya. Memakai pakaian santai khas pangeran China berwarna biru muda membuatnya sangat mempesona Pangeran Wu.
"Ya. Tapi sepertinya aku menemukan sesuatu yang bisa membuatku mengalihkan cinta dari langit," Pangeran Wu tersenyum.
"Hati-hati, Yang Mulia. Terlihat licin disitu," Pangeran Wu mengulurkan tangannya untuk membantu Pangeran Lu yang menapaki jalan setapak menuju dirinya, dan disambutlah uluran tangan itu oleh Pangeran Lu.
"Terimakasih, Yang Mulia Pangeran Wu. Selamat pagi," Pangeran Lu menundukkan kepala sedikit dan mengucapkan selamat pagi dengan tersenyum manis.
"Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran Lu. Suatu kehormatan bisa menolong anda," Pangeran Wu balas menundukkan kepala dan tersenyum.
"Yang Mulia Pangeran Wu berlebihan sekali,"
"Tidak ada yang berlebihan di dunia ini, apabila diucapkan untuk orang yang pantas," Pangeran Wu tersenyum dan tidak mengalihkan pandangannya dari Pangeran Lu.
"Cukup panggil aku Wufan jika kita sedang berdua, dan jangan terlalu formal. Bagaimana, Pangeran Lu?" Pangeran Wu memohon permintaan.
"Kalau begitu panggil aku Luhan," balas Pangeran Lu.
"Baiklah, Xiao Lu,"
"Xiao Lu? Bukankah aku meminta dengan panggilan 'Luhan'?" Luhan sedikit memajukan bibirnya, membuat dirinya terlihat manis.
"Aku tahu. Tapi hatiku menganggap 'Xiao Lu' lebih tepat untukmu,"
"Itu panggilan masa kecilku, jika kau ingin tahu. Hehe,"
"Ah. Bukankah itu lebih baik? Kau akan merasa awet muda, bukan begitu?" Wufan melakukan sedikit lelucon.
"Haha. Usia tidak akan membohongimu kalau begitu," Luhan pun tertawa renyah.
"Haha. Kau benar, Xiao Lu. Mau berjalan-jalan disekitar sini?" tawar Wufan sambil mengulurkan tangannya ke depan, seakan memberi Luhan jalan.
Akhirnya mereka berdua menghabiskan pagi dengan bercengkerama di taman Istana Lu. Berbicara mengenai ini dan itu. Pemerintahan, keadaan kerajaan, sampai ke pernikahan mereka sendiri. Dan akhirnya mereka duduk di sebuah gazebo di pinggir kolam.
"Pada awalnya aku tidak suka dengan petuah nenek moyang yang seperti itu. Membuatku merasa terpojok seakan-akan akulah ujung tombak kerajaan. Aku sedikit merasa terbebani dengan itu kalau boleh jujur," ucap Luhan memulai pembicaraan.
"Akupun begitu. Tapi aku menemukan bahwa inilah kehidupan. Terkadang ketentuan tidak sesuai dengan kemauan kita. Di masa ini kita percaya bahwa petuah nenek moyang adalah segalanya. Terkadang lucu ketika aku memikirkan kenapa kita masih percaya petuah nenek moyang padahal kita mempunyai Dewa? Hanya kedewasaan yang bisa kita gunakan untuk memikirkan semuanya dengan kepala dingin," jelas Wufan. Ia menyentuh tangan Luhan di sampingnya dengan lembut kemudian menatap Luhan dalam.
"Kau benar. Dengan begitu kita bisa berharap terbebas dari segala bala. Minggu depan, pernikahan kita akan dilaksanakan, semoga kita dan seluruh kerajaan mendapat kebahagiaan," Luhan tidak menolak tangan Wufan, ia menyambut tangan itu dan membalas tatapan tangan Wufan.
"Aku selalu berdoa, Luhan. Kau begitu indah," Lama-kelamaan keduanya saling mendekatkan diri. Merasakan kehangatan nafas satu sama lain. Membiarkan magnet yang tercipta di antara mereka membuat bibir mereka bersentuhan. Hanya kecupan, tapi berlangsung syahdu dan cukup lama. Angin yang berhembus pun melembut dan burung berkicau tenang seakan tak tega mengganggu kedua insan ini.
Namun, di sudut taman yang lain, ada seseorang yang tengah menahan dirinya dari api kemarahan dan api cemburu yang membakar dirinya. Ia menatap kedua Pangeran yang tengah merasakan kasih dengan mata memicing dan tersenyum misterius.
"Bermesraan? Padahal kalian belum resmi menikah. Lihat saja nanti. Akulah yang akan mendapatkan kebahagiaan. Hanya aku seorang. Hahaha," orang itu berbisik sambil tetap menatap sepasang calon pengantin itu, kemudian pergi meninggalkan mereka tanpa membuat suara.
.
Hari berganti hari. Tak terasa tinggal 3 hari menjelang pelaksanaan pernikahan Pangeran Wufan dan Pangeran Luhan. Keluarga besar Wu menginap di Istana Lu dari hari pelamaran dan seserahan sampai hari pernikahan tiba. Kedua pangeran dipingit. Tidak boleh saling bertemu satu sama lain. Namun begitu, kedua Pangeran terlihat mempunyai cinta yang sangat menggebu sehingga setiap malam keduanya membuat janji bertemu. Tak peduli dengan peraturan kerajaan.
Tempat pertemuan mereka selalu sama, yaitu taman tempat mereka pertama bertemu. Tapi, tadi pagi Luhan mendapat surat dari Pangeran Wu bahwa ia mengganti tempat pertemuan dari yang biasa, dengan alasan tempat yang biasa banyak penjaganya malam ini. Akhirnya tanpa curiga, yang biasanya Luhan menuju ke arah taman, kali ini ia menuju ke tempat keluarga besar Wu menginap.
"Ah! Yang Mulia Pangeran Lu. Maafkan hamba, hari sudah malam. Tidak baik pangeran Lu ada di luar kamar anda. Maafkan hamba, Yang Mulia. Bukankah seharusnya anda masih dalam masa pingitan?" ucap seorang pengawal istana yang memergoki Luhan keluar dari kamarnya dan menuju tempat menginap keluarga besar Wu.
"Ah, ya ampun. Ayolah, Pengawal Bian. Sekali ini saja. Kita berteman bukan?" ucap Pangeran Lu dengan berbisik-bisik agar tidak ketahuan.
"Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran. Hamba tidak bisa. Sekarang kembalilah ke kamar anda, sebelum pengawal lain tahu," sang pengawal kelihatan tidak mau kalah. Dengan tetap menunjukkan kesopanan ia menggiring Pangeran Lu untuk kembali ke kamar.
"Hey, hey, hey. Aduh, Bian Bo Xian. Kalau kau membantuku kali ini, akan aku sampaikan salam untuk Kepala Prajurit Piao yang kau taksir itu,"
'CTAK'
"Aduh! Kenapa kau malah menjitak kepalaku, Boxian?" sang Pangeran memegangi kepalanya sehabis dijitak oleh pengawal yang langsung ia panggil dengan nama tersebut. Sedangkan si Pengawal Bian Bo Xian menoleh ke kanan dan ke kiri, takut ada yang melihat saat ia menjitak kepala Pangeran tadi. Kelihatannya keduanya sudah akrab sekali.
"Haaah, Luhan. Aku bisa dimarahi oleh si sial Jin Jun Mian kalau kau terus-terusan begini. Tidak usah pikirkan tentang Kepala Prajurit Piao dari Kerajaan Wu itu. Kembalilah ke kamarmu," Boxian mengeluarkan gaya memohon andalannya dengan wajah panik dan ingin menangis.
"Aku rindu dengan Wufan, Boxian. Ayolah, besok tidak lagi, deh. Ya? Ya?" Luhan mengeluarkan gaya imutnya ketika memohon sesuatu. Bian Bo Xian adalah pegawai baru, ia lebih muda 2 tahun dari Luhan. Salah satu dari kepercayaan Raja untuk menjaga Luhan dari 3 bulan yang lalu, tetapi karena sifatnya yang menarik membuat ia sangat cepat dekat dengan Luhan bahkan begitu akrab. Tapi tentu saja keakraban mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Boxian bisa dipecat kalau ketahuan.
"Kau seperti remaja kelebihan hormon. Sebentar lagi kau akan menikah, jangan terus-terusan seperti ini. Masuk kamarmu,"
"Wah! Kepala Prajurit Piao Chan Lie! Sedang apa disini?" tiba-tiba Luhan berteriak girang menunjuk ke arah belakang Boxian. Sontak, Boxian yang sedang naksir seseorang bernama Piao Chan Lie itu langsung menoleh ke arah yang Luhan tunjuk.
"Kepala Prajurit Piao? Ah? Mana? Tidak ada. Kau menipuku lagi, ya?" Boxian membalikkan badannya ke arah Luhan ketika ia sadar ia dibohongi oleh Luhan yang jahil. Tapi...
"Haaah! Dia kabur. Aduuh, bagaimana ini?"
Sementara Luhan, ia sudah berlari menuju tempat perjanjiannya dengan Wufan. Di surat yang ia terima pagi ini, Wufan menulis agar Luhan menunggu di belakang kamar ketiga. Disitu juga tertulis bahwa kamar ketiga adalah kamar Wufan.
Akhirnya Luhan sampai di belakang kamar Wufan. Ia mengatur nafasnya dan tetap melihat-lihat agar tidak ketahuan.
"Haah, jantungku berdebar-debar. Wufan di mana, ya? Apa aku harus tetap menunggu? Ya, aku menunggu saja,"
Luhan melirik ke arah kamar yang terang karena lampunya dinyalakan tersebut, dan tiba-tiba...
'HMMMMP'
Luhan memberontak karena tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya dan membekapnya dengan kain yang diberi cairan obat bius sehingga ia pingsan seketika. Luhan pun terjatuh di pangkuan orang yang membuatnya pingsan tersebut.
"Pangeran Lu, akhirnya aku bisa memilikimu. Hahaha," orang itu berbicara dan tertawa pelan bagaikan pemburu yang baru mendapatkan rusa cantik. Tanpa menunggu lama, orang itu membawa Luhan ke dalam kamar ketiga yang mempunyai pintu belakang tersebut.
.
Sementara itu di sebuah taman yang terletak di belakang kamar Luhan, seorang lelaki tinggi dan gagah terlihat sedang menunggu. Sesekali ia melirik ke arah jendela kamar Luhan lalu meremas tangannya sendiri.
"Kenapa aku cemas seperti ini? Apakah kau baik-baik saja? Tidak biasanya kau telat datang seperti ini, Xiao Lu,"
.
TBC
.
Hai, ni hao. Anyeong haseyo. Zhao balik lagi :D
Chap 3 is up, ya. Mulai muncul Cast baru. Di atas ada si 'Pengawal Bian' atau 'Bian Bo Xian' atau 'Boxian', juga 'Piao Chan Lie'. Yang ngeh pasti tau deh itu siapa? Hehe. Yup, bener banget 'Bian Bo Xian' itu adalah 'Byun Baekhyun' dan 'Piao Chan Lie' adalah 'Park Chan Yeol'. Kenapa jadi Bian Bo Xian dan Piao Chan Lie? Kan, udah ada di author' note kalo di FF ini semua Cast bakal pake nama Mandarinnya. :) Tanpa terkecuali. So, I hope you can enjoy it, yeorobun!
Zhao baca semua review kalian di least Chapter. Agak lebih sedikit, ya, dari Ch.1. :( Tapi gak papa. Review yang dateng tetap bikin Zhao semangat. Walaupun agak 'down' dikit semangatnya. #Zhaolebai Jeongmal gomawo. Feichang gan xie, ni-men :) Thank you, buat yang udah respond, review dan juga kasi semangat ke Zhao. Di review ada yang minta pake nama 'Sehun' aja, ya, dibanding 'Shixun'? Hehe. Maaf banget, untuk kali ini Zhao belum bisa mengabulkan permintaan kalian, sayang. Biar tetep nempel sama latar waktu dan tempatnya. :) Untuk yang punya akun, Zhao bales reviewnya by Private Message, OK?
Oh, iya. Dari awal Zhao lupa mulu mau nanya tentang typo. Kayaknya di FF ini banyak typo, yah? Hehehe. Maaf, ne :)
So, akhir kata Zhao minta respond-nya lagi di Chapter ini, biar lebih semangat ke depannya. Terimakasih :)
See you next chapter :)
.
.
Salam Cinta,
HUNHAN
