WRONG DESTINY

Chapter 4

By

Mgr. Zhao

Cast : EXO member, ex-EXO, and other

Pairing : HunHan-KrisHan

Rate : M, M-Preg Contains

Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin

.

.

"Eungggh...," Luhan terbangun kemudian mengerjapkan matanya. Ia kini terbaring di ranjang yang ia yakini bukan miliknya. Ia tidak tahu ini dimana. Kepalanya terasa pusing, walaupun begitu ia mencoba untuk mengingat-ingat hal-hal sebelum ia tertidur.

Hal yang ia ingat adalah ketika ia menunggu Wufan di belakang kamar ketiga yang merupakan tempat perjanjian mereka berdua. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang membekapnya dari belakang sehingga ia pingsan. Mengingat hal itu Luhan kaget dan langsung mendudukkan dirinya. Luhan berdoa kepada Dewa semoga bukan kejadian buruk yang menimpa Luhan.

"Sudah bangun, Yang Mulia Pangeran Luhan?"

"Maaf, anda...?" Luhan memicingkan mata ke arah suara. Di sana ada lelaki yang kini berdiri di hadapannya. Ia seperti mengenal lelaki ini.

"Bukankah anda, Pangeran Muda Wu?" Luhan mencoba menebak.

"Anda sudah mengenal saya, Yang Mulia?" Shixun mendekati Luhan yang masih terduduk di ranjang.

"Suatu kehormatan bisa dikenali oleh Pangeran Lu," Shixun mencoba menyentuh pipi Luhan. Namun, Luhan reflek menghindari tangan Shixun.

"Maaf, Pangeran Muda Wu. Terimakasih atas pertolongan anda menyelamatkan saya dari orang jahat yang tadi mungkin mencoba melakukan hal yang tidak baik kepada saya," Luhan berterimakasih kepada Shixun menganggap Shixun lah yang menyelamatkannya dari orang yang sudah membuatnya pingsan.

"Hah?" Shixun hanya menahan tawanya.

"Tetapi, jika anda tidak keberatan, ijinkan saya kembali ke kamar saya sendiri," Luhan mengakhiri kalimatnya dan beranjak turun dari ranjang. Luhan menunggu Shixun membalas perkataannya namun Shixun hanya diam sambil melihat dirinya dari atas ke bawah.

"Em... Terimakasih banyak, Yang Mulia Pangeran Muda Wu," Luhan menundukkan kepalanya tanda berterimakasih dan tersenyum kepada Shixun, kemudian berjalan menuju pintu. Namun sebelum ia mencapai pintu, tangan Shixun mencegahnya.

"Pangeran Muda Wu?" Luhan bingung.

"Panggil aku Shixun. Jangan bawa-bawa nama 'Wu' disini," ucap Shixun dingin sambil menatap Luhan tajam.

"T-tapi...Pangeran Muda Wu, apa yang anda lakukan?" Luhan yang ditatapi seperti itu mulai ketakutan dan mencoba melepaskan tangannya yang digenggam dengan erat oleh Shixun.

"Shixun. Kau dengar itu, sayang? Panggil aku Shixun," Shixun mendekati Luhan yang masih panik dan berusaha melepaskan diri darinya.

"M-maaf, Pangeran Muda, saya tidak bisa. Ini tidak benar. Ijinkan saya untuk kembali," Luhan menolehkan kepalanya ke arah kanan menghindari Shixun yang mulai mendekatkan kepalanya. Terlihat tatapan Shixun seperti singa lapar yang menemukan rusa buruan.

"Kau memakai anting, Luhan? Jadi benar apa yang dikatakan Ayahku selama ini bahwa kau 'diberkahi'? Hm?" Shixun makin memepetkan dirinya ke tubuh Luhan yang entah sejak kapan sudah terpojok ke dinding. Luhan tidak menjawab pertanyaan Shixun. Ia terus-terusan berdoa dalam hati semoga ada yang menyelamatkannya. Ia sangat takut. Ia tidak menyangka maksudnya untuk bertemu dengan Wufan malah menyebabkan petaka seperti ini.

"Kenapa tidak menjawab? Kau sangat menarik, Luhan,"

'BRAKK'

"Aaargh!" Shixun merasakan sakit pada punggungnya setelah menabrak lemari dibelakangnya begitu cepat. Ia terpental dan jatuh terduduk. Tiba-tiba saja Luhan mengeluarkan tinjunya ke arah perut Shixun dan berhasil membuat jarak antara dirinya dengan Shixun.

"Maaf, Shixun. Aku rasa tidak ada alasan untuk mempertahankan tata krama di sini," Luhan masih panik. Terlihat dari dirinya yang mengatur nafas dan menatap Shixun was-was. Luhan memasang kuda-kuda. Membentengi dirinya apabila Shixun menyerang dirinya balik. Luhan rasa ilmu bela diri yang selama ini dibekali kepadanya bisa digunakan untuk saat ini.

"Hm. Hahaha. Boleh juga pukulanmu. Tadinya aku rasa kau akan jatuh dengan mudah. Tapi kau tangguh juga," Shixun bangkit dan bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Tatapannya menjadi sangat dingin, dan ia tersenyum meremehkan ke arah Luhan.

"Hiyaaah...,"

'BUGH'

'TAKK'

Luhan melayangkan pukulan kembali ke arah Shixun tapi Shixun berhasil menangkisnya. Hal itu terjadi berkali-kali. Sampai akhirnya Luhan kelelahan dan menjeda pertarungan.

Luhan mengatur nafasnya dengan mempertahankan kuda-kuda. Mewaspadai Shixun yang kini adalah lawannya.

"Huh, sangat tidak sopan. Kau menyerang adik calon suamimu sendiri? Sungguh tidak sopan,"

Ejekan Shixun bukannya membuat Luhan takut. Luhan kembali menyerang Shixun, Shixun tetap menangkis namun kali ini Shixun mulai membalas beberapa pukulan Luhan.

'BUGH'

'BUGH'

"Aaargh...," Luhan terhuyung ke belakang setelah tinju Shixun mengenai ulu hatinya dua kali berturut-turut. Hal itu membuat nafas Luhan sesak dan kepalanya menjadi pusing. Luhan pun jatuh terduduk sambil memegangi ulu hatinya. Sedangkan Shixun tersenyum menang. Ia mendekati Luhan yang berlutut mencoba untuk bangun kembali. Namun sebelum Luhan berhasil bangun, Shixun lebih dulu menarik kerah pakaiannya dan melemparnya ke arah ranjang.

"Aargh...hh...hh...," Luhan yang lemas hanya bisa terhempas dengan mudahnya. Ia sudah tidak sanggup untuk sekedar membuka matanya dan melihat apa yang Shixun lakukan sekarang.

'Oh, Dewa-Dewi dan nenek moyang. Apa yang akan terjadi kepada diriku?...'

"HNNNNGGG...,"

Belum selesai Luhan berdoa dalam hati, Shixun menyelipkan kain di antara bibir Luhan dan mengikat ujungnya di belakang kepala.

"Hnnghh! Hngg!" Luhan memberontak sebisa yang ia lakukan. Namun di detik selanjutnya, Shixun malah mengikat kedua tangan Luhan di kedua sudut ranjang dengan tali yang entah ia dapat dari mana. Luhan mulai menangis. Ia sudah tahu apa yang Shixun akan lakukan saat ia melihat Shixun membuka pakaiannya sendiri.

"Cup...cup... Jangan menangis, sayang. Ini tidak akan sakit. Kau akan ketagihan kalau kau menikmatinya," suara Shixun terdengar begitu menyeramkan ditelinganya. Shixun kemudian membelai pipi Luhan. Luhan semakin takut karena perlakuan Shixun.

"Hnggh...hiks...," Luhan benar-benar menangis dan mengeluarkan isakannya.

"Kau tau kenapa aku begitu menginginkanmu?" Shixun bertanya pada Luhan.

"Sejak dulu aku selalu hidup dalam kesengsaraan. Semua ini karena si tua bangka Wu itu! Ia merebut kebahagiaanku yang aku rasakan saat kecil dulu. IA MEREBUT NYAWA IBUKU! Aku tahu aku hanya anak selir...,"

Luhan membelalakkan matanya saat Shixun mengatakan bahwa ia hanya anak selir. Luhan tidak pernah mendengar kenyataan itu sebelumnya.

"TAPI KENAPA IA MEMBUNUH IBUKU! APA SALAH IBUKU!? SI TUA BANGKA ITU BAHKAN TIDAK MENJAWAB SAAT AKU TANYA KENAPA IA TIDAK MEMBELA IBUKU PADAHAL AKU YAKIN DIA ADALAH DALANG DARI SEMUA ITU! BRENGSEK! AAARGH!"

'DAKK'

Luhan kaget ketika Shixun meninju meja di sebelah ranjang. Wajah Shixun memerah. Begitu kentara ia sedang marah saat ini. Luhan bertambah kaget ketika Shixun menatapnya tiba-tiba.

"Hahaha. Dan sekarang aku akan membalas perbuatannya kepada ibuku. Aku akan membalas dendamku. Melalui dirimu," Shixun menatap Luhan dengan sengit.

"Aku akan menghamilimu. Dengan begitu kau tidak akan menikah dengan Wufan si anak keparat itu, lalu kalian tidak akan bisa melaksanakan petuah nenek moyang kalian, DAN KERAJAAN WU AKAN HANCUR. KALIAN AKAN MENDAPAT BALA. Hahaha," Shixun tertawa puas ketika selesai mengucapkan kalimat itu. Tertawa angkuh seakan tahu akan segalanya apabila ia melakukan semua ini. Sedangkan Luhan, ia menitikkan air mata kembali. Ia tahu nasibnya akan seperti apa setelah ini. Bukan hanya nasibnya, tapi juga nasib seluruh kerajaan.

"Mari kita mulai, Luhan. Proses menghancurkan keluarga kita masing-masing,"

'SRATT'

"Hngggh...," Luhan memberontak dan hanya bisa menggumam saat Shixun merobek baju atasannya. Ia memejamkan matanya. Tidak ingin melihat Shixun yang kini menatapnya dengan tatapan nafsu.

Di detik berikutnya membuat jantung Luhan serasa ingin copot. Shixun menindih Luhan dengan tubuh kekarnya dan langsung menyelipkan kepalanya di ceruk leher Luhan. Menjilat dan menghisap apa yang tersaji di sana. Leher jenjang Luhan dijadikan sasaran pertamanya. Sekali-sekali Shixun akan menggigit leher Luhan kemudian menghisapnya kembali dan akan meninggalkan bekas-bekas keunguan di sana. Luhan memegang erat tali yang mengikat pergelangan tangannya. Mencari pelampiasan lain atas perbuatan yang Shixun lakukan terhadap dirinya yang terikat.

"Hnngh!"

Luhan tersentak dengan perbuatan Shixun selanjutnya. Tangan Shixun mulai bergerilya di tubuhnya. Mencoba mengeksplor apa yang bisa ia dapatkan dari tubuh Luhan. Tangan itu meraba puting kemerahan Luhan dan membuat Luhan memejamkan matanya lebih erat. Luhan menjamin Shixun pasti bisa merasakan debaran jantungnya. Bukan, bukan debaran karena ia terpesona atas perlakuan Shixun. Tapi, debaran karena ketakutan dirinya. Luhan ingin segera terlepas dari semua ini. Luhan akui ini cukup memabukkan. Segala yang Shixun lakukan. Belum lagi gesekan antara tubuhnya dan tubuh Shixun membuatnya melayang. Seharusnya Shixun tahu kalau ini adalah dosa. Tapi Shixun sudah gelap mata. Bahkan dari saat pertama ia melihat Luhan.

Tanpa menunggu lebih lama, Shixun menurunkan kepalanya. Menciumi leher Luhan sampai ke dadanya. Shixun mencari titik yang sangat ia inginkan sedari tadi. Setelah menemukan kedua titik itu, ia menyentuhnya dengan kedua ibu jarinya.

"Kau sangat indah, Luhan. Kau membuat birahiku bergejolak. Pasti belum ada yang menyentuh ini. Bukan begitu, sayang?"

Ibu jari Shixun yang berada di puting Luhan membuat gerakan menekan dan memutar. Shixun melakukan itu berkali-kali sambil menatap ke arah wajah Luhan. Shixun tersenyum tipis dan bangga ketika ia lihat Luhan hanya memejamkan matanya dan makin mengeratkan pegangannya ke tali yang mengikat pergelangan tangannya.

'Boleh saja kau bertingkah menolak perlakuanku. Tapi manusia mana yang bisa menahan kenikmatan yang bahkan Dewa akan terhanyut di dalamnya?' kata Shixun di dalam hati.

"Eumhh...,"

"Nnngghh!"

Luhan menolehkan wajahnya ke kiri saat Shixun menghisap puting kanannya secara tiba-tiba. Shixun menghisapnya, menyedot seperti bayi yang menginginkan air susu ibunya. Sesekali Shixun akan menggigiti bagian itu.

"Nnnh...ngghh...hiks...,"

"Hmm, kau manis, Luhan," ucap Shixun disela-sela kegiatannya. Ia menghisap puting Luhan bergantian dengan tangannya yang akan memainkan puting yang tidak ia hisap. Shixun membuat gerakan memutar di areola puting Luhan dan sesekali menggelitik puting Luhan dengan lidahnya.

Tangan Shixun masih berada di puting Luhan saat ia menciumi perut rata Luhan dan membuat beberapa tanda di sana. Sesekali menggigit, menghisap, dan akan membuat tanda keunguan itu semakin banyak di tubuh Luhan. Tak Shixun pedulikan Luhan yang terus memberontak dan sprei ranjang yang ia gunakan menjadi berantakan. Shixun terus mencari kenikmatan di saat tangisan Luhan semakin menjadi.

Shixun mengikuti barisan bulu halus yang ada di perut bagian bawah Luhan dari pusar menuju ke area terlarangnya. Shixun merasa itu sangat indah dan menggoda dirinya. Ketika mata Shixun sampai ke area terlarang Luhan, ia bisa melihat bagian itu menggunduk dari luar celana. Shixun tersenyum jahat. Tanpa aba-aba Shixun menarik lepas celana yang Luhan kenakan begitu juga dengan celana dalamnya, dan menghasilkan pekikan tertahan Luhan.

"Hmmh, kau begitu menggoda, Luhan,"

Luhan melihat ke arah Shixun yang sekarang sedang menciumi celana dalamnya yang berhasil Shixun lepas. Luhan merasa jijik akan hal itu. Luhan menendang-nendangkan kakinya ke arah Shixun dan memberontak untuk dapat melepaskan dirinya. Namun Shixun yang melihat itu hanya tertawa pelan dan turun dari ranjang. Ia berdiri di samping ranjang untuk kemudian melepaskan celananya sendiri. Tak sengaja Luhan lihat kejantanan Shixun yang berukuran tidak kecil dan terlihat basah pada bagian kepalanya tengah berdiri mantap seakan sudah siap untuk menyerang dirinya. Luhan menitikkan air matanya lagi. Luhan tidak sanggup untuk membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya setelah ini.

"Hnnnghh...kkh...,"

"Haha. Teruslah seperti itu. Kau hanya akan membuat dirimu sakit sendiri, Pangeran Lu," Shixun berkata setelah ia melirik pergelangan tangan Luhan yang memerah karena gesekan tali yang mengikat tangannya.

"HNNNGGHH! NGGHH!"

Tanpa Luhan sangka di detik selanjutnya Shixun meremas kejantanannya. Meremasnya berulang-ulang dan mengurutnya dengan gerakan teratur membuat Luhan ingin berteriak namun ia tak bisa. Shixun terlihat sangat menikmati kegiatannya dan merasa puas karena kejantanan Luhan yang makin mengeras dan membesar meskipun tak sebesar miliknya. Sampai akhirnya ia memposisikan dirinya diantara kaki Luhan begitu Luhan berhenti dari gerakan memberontaknya, mengangkat pinggul Luhan, dan mulai menanamkan kejantanannya sendiri ke dalam lubang Luhan.

"Aghh..," Shixun menggeram begitu penisnya masuk ke dalam diri Luhan. Ia merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu memabukkan dan mendorong dirinya untuk melakukan lebih. Shixun terus memejamkan matanya sambil menikmati. Luhan begitu sempit dan terasa menjepit dirinya. Begitu hangat dan lembab di dalam sana membuat Shixun tidak sabar ingin memasukkan semua miliknya ke dalam sana.

"Aaah...,"

"AAAANNNNNNGHH!"

Luhan berteriak saat Shixun mendesah dan memasukkan semua miliknya ke dalam lubang Luhan dengan kasar. Luhan menangis sejadi-jadinya saat merasakan sakit yang sangat pada lubangnya. Ia merasa dirinya terbelah dua oleh pedang yang ditusukkan secara paksa. Luhan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada lubangnya sekarang. Tapi Luhan yakin, robek.

"Oohh..., kau sangat sempit, Lu," Shixun berucap namun Luhan mendiamkan hal itu. Ia hanya bisa menangis mengingat dirinya terikat dan mulutnya disumpal dengan kain.

"Aaahh...," Shixun mulai menggerakkan dirinya keluar masuk dan saat itu juga ia mengeluarkan desahannya lagi. Shixun melakukannya dengan cepat dan penuh nafsu tanpa mempedulikan Luhan yang makin deras menangis karena merasakan sakit. Shixun terus melakukan apa yang ia suka kepada tubuh Luhan. Memompa kemaluannya lebih dalam dan menghentak-hentak mencari kepuasan yang entah seperti apa.

Luhan pasrah dengan semua yang Shixun lakukan kepada dirinya. Ia pikir sudah terlambat untuk melakukan apapun dan melepaskan diri. Tidak ada artinya lagi ia melawan. Tinggal menunggu Shixun melepaskan benihnya dan dirinya juga kerajaan akan hancur.

"Kau berdarah, Luhan sayang. Eengghh...,"

Perkataan Shixun membuat Luhan menatap mata Shixun yang baru saja mengalihkan pandangannya dari area bawah tubuh Luhan. Mereka saling bertatapan. Luhan menatap Shixun menggunakan tatapan memelas dan sedih. Sedangkan Shixun yang saat ini sedang dilanda kenikmatan menatap Luhan dengan tatapan penuh birahi.

Luhan terisak di setiap hentakan yang Shixun lakukan. Tetapi di detik berikutnya ia menahan nafas atas perlakuan Shixun yang mengocok kemaluannya. Hal ini membuat Luhan harus menahan desahannya.

"Hnghh...hhh...,"

"Nikmat bukan? Mmmh...ahhh...," Shixun bertanya disela kegiatannya. Ia terus menggerakkan kemaluannya keluar masuk tubuh Luhan sambil mengerjai kejantanan Luhan.

Hampir 25 menit kejadian itu berlangsung. Luhan bahkan sudah sempat mencapai puncak kenikmatannya. Sekarang Shixun memompa penisnya semakin gencar ke lubang Luhan. Merasakan setiap pijatan yang diberikan oleh rektum Luhan yang berkedut dan mendesah ketika ia merasakannya. Luhan juga bisa merasakan bagaimana penis Shixun yang bertambah besar di dalam dirinya sekarang. Shixun juga merasakan bahwa ia akan mencapai puncak kenikmatannya. Ia menggerakkan dirinya semakin cepat.

"Annnghh...hhh...,"

"Luh...hanh...Aahhh...,"

Tak sampai 3 menit kemudian, keduanya mencapai titik puncaknya bersamaan. Sperma Luhan keluar dan berceceran di perutnya juga ke perut Shixun yang sedang memeluknya. Shixun menghentakkan dirinya sedalam mungkin dan melepaskan benihnya di dalam tubuh Luhan. Shixun menikmati sensasi ketika ia mengeluarkan spermanya dan bagaimana rektum Luhan masih terasa memijatnya ketika itu. Shixun menjatuhkan dirinya ke samping Luhan yang masih terikat dengan tidak mencabut penisnya dari diri Luhan. Sedangkan Luhan yang terkulai dan berada di ambang kesadarannya masih bisa merasakan bagaimana sperma Shixun yang masuk dan mengalir ke dalam tubuhnya. Terasa hangat namun hatinya sakit. Luhan memanggil-manggil nama Wufan di dalam hatinya sampai ia tak sadarkan diri.

.

.

Masih di malam yang sama, di taman belakang Istana Lu. Wufan masih menunggu Luhan bersamaan dengan angin yang berhembus lembut namun terasa menusuk kulitnya. Dada Wufan terus berdebar mengingat Luhan yang entah kenapa tidak datang ke taman malam ini. Wufan merasa was-was dan khawatir. Sesekali ia akan melihat ke arah bulan yang bulat penuh dan bersinar terang. Hatinya begitu rindu dengan Luhan. Ia seakan bisa mendengar Luhan yang memanggil dirinya.

"Luhan...,"

.

TBC

.

.

Hai, ni hao. Zhao is updating. Bener-bener fast update saking semangatnya (sekalian nge-pas-in moment malam Jumat) :P Hehe. Ini buat ngebayar update chapter depan yang kayaknya bakal lebih lama dari biasanya karena Zhao mulai sibuk =_=. Belom tentu Zhao masih kuat ON via PC atau laptop malam hari, sedangkan kalo siang harinya Zhao pasti g bisa ON untuk update. Mian. Tapi Zhao tetap bagi waktu, kok. Zhao harap nggak mengurangi readers dan semangat me-review kalian :)) Gomawo. Saranghae. Wo ai ni. :3

Langsung aja, Zhao ucapkan terimakasih bagi chingu-deul/pengyou-men yang masih ngikutiin Wrong Destiny sampai saat ini, juga buat yang review dan semangatin Zhao. As usual, ya. Zhao akan bales via PM.

Terus, Zhao minta respond kalian untuk Chapter ini. Karena Zhao yakin di Chapter yang ini pasti ada kekurangan. Typo-kah? Atau terlalu membosankan-kah? Terlebih lagi ini fokus-nya ke bagian NC, yang bahkan Zhao g tega buat bikinnya. Haha :D Tapi, review yang datang selama ini bikin Zhao menjadi tega /lah. Jadi, Zhao minta reviewnya, OK? Mari saling bekerja sama :)

See you next chapter :)

.

.

Salam Cinta,

HUNHAN