WRONG DESTINY

Chapter 5

By

Mgr. Zhao

Cast : EXO member, ex-EXO, and other

Pairing : HunHan-KrisHan

Rate : M, M-Preg Contains

.

.

"Aduuh, Pangeran Lu kemana? Kenapa belum kembali? Ini sudah hampir pagi," ucap seorang pengawal kerajaan bernama Boxian. Ia terlihat kebingungan bolak-balik di depan kamar Pangeran Lu. Sangat lucu memang melihat seorang pengawal berbadan kecil dengan berpakaian besi dan membawa tombak tetapi mondar-mandir kebingungan sambil melayangkan pandangan ke segala arah. Tapi janganlah menilai sebuah buku hanya dari sampulnya saja. Walaupun badannya kecil, ia ahli bela diri. Belum lagi kemampuan memanahnya yang di atas rata-rata dan otak cerdiknya yang tidak kalah dengan orang yang mempunyai badan lebih besar darinya. Kalau ia tidak hebat, tidak mungkin ia menjadi pengawal kerajaan, kan? Apalagi menjadi orang kepercayaan Raja Lu untuk menjaga sang Pangeran.

"Aduuuh, yaampun. Mana dia?" masih dengan nada kebingungan. Boxian khawatir dengan Pangeran Lu yang belum kembali ke kamarnya padahal hari sudah hampir pagi. Sinar matahari mulai membias di ufuk timur. Seluruh pegawai di istana pun sudah mulai bangun dan mondar-mandir untuk berganti jam bertugas dengan rekannya yang sudah bertugas malam hari.

"Bagaimana ini kalau ketahuan. Aku bisa dibunuh Raja Lu," Boxian masih berbicara sendiri tanpa tahu di belakangnya sudah ada orang lain.

"Pengawal Bian...,"

"Bagaimana kalau Pengawal Dou keburu datang. Bisa ketahuan,"

"Pengawal Bian, ketahuan apa?"

"Aaa, aku mulai mendengar suara Dou Jing Xiu,"

"Bian Bo Xian!"

"Aaaayaaa...ya! Ya!" Boxian terlonjak kaget begitu bahunya ditepuk dan seseorang meneriaki namanya tepat di telinga. Ia memeluk tombaknya dan hampir terjatuh dengan tidak elitnya.

"P-pengawal Dou, sudah sampai?" Boxian berbicara dengan gugup. Tak ia sangka orang yang bernama Dou Jing Xiu yang ia bicarakan sedari tadi sudah datang.

"Tentu, ini sudah jamku berjaga di depan kamar Pangeran Lu. Ada apa? Kau terlihat panik?" Jingxiu bertanya dengan wajah datar. Sudah dikenal seluruh orang bahwa Dou Jing Xiu adalah pengawal yang tegas. Juga merupakan pengawal yang dipercaya Raja untuk menjaga Pangeran Lu. Tinggi badan yang tidak jauh berbeda dengan Boxian tetap tidak mengurangi keseraman tatapan mata bulatnya ketika sedang waspada. Tetapi lupakan hal-hal yang menyeramkan itu ketika melihatnya tersenyum. Mata bulatnya akan bersinar dan bibirnya akan membuat senyum berbentuk hati. Sungguh unik, bukan?

"Kembalilah ke kamarmu. Jangan lupa melapor pada Kepala Pengawal Jin bahwa kau sudah selesai bertugas," kata Jingxiu sambil berdiri tegap memegang tombaknya di samping pintu kamar Pangeran Lu.

"...,"

"...,"

"...,"

"Kenapa masih disini?" Jingxiu menolehkan kepalanya ke kanan, ke arah Boxian yang masih berdiri terdiam memeluk tombaknya dan menatap Jingxiu bagai anak anjing meminta makanan. Jingxiu bingung. Biasanya jika ia datang maka Boxian akan langsung kembali ke kamarnya dengan semangat. Namun ada apa pagi ini?

"Jingxiu...," ucap Boxian lirih masih tetap menatap Jingxiu.

"Hm?" Jingxiu menjawab dengan gumaman dan menatap heran kepada Boxian.

"Aku...ingin berbicara sesuatu kepadamu," Boxian berkata dengan ragu-ragu. Di dalam hatinya, ia takut.

"Apa?"

"Mendekatlah...,"

"Kau ini apa-apaan?" Jingxiu menampilkan wajah bingung dengan matanya yang membelo.

"Mendekatlah, Jingxiu...,"Boxian mendekatkan dirinya kepada Jingxiu. Sedang Jingxiu yang didekati sudah mundur-mundur tak karuan seakan takut Boxian akan...menciumnya, mungkin.

"Kenapa kau malah mundur-mundur seperti ini?" Boxian protes.

"Kau sendiri mau apa?"

"Ya ampun. Sini," Boxian menarik Jingxiu dan membisikkan sesuatu ke telinganya.

"...Pangeran Lu belum kembali dari pertemuannya dengan Pangeran Wu semalam..,"

Jingxiu membelokan matanya lagi ketika Boxian selesai membisikkan perkataannya.

"Apa!? Kenapa bisa? Kau pasti bekerja sama lagi dengan Luhan, kan? Kau ini bodoh atau apa?" Jingxiu mencak-mencak seketika karena ia tahu ini adalah ulah Boxian yang bekerja sama dengan Pangeran Lu. Tapi ia memanggil Pangeran Lu dengan nama saja. Ya, ketiga orang ini memang sudah dekat bagaikan sahabat. Sahabat rahasia tentunya.

"Dia tiba-tiba saja kabur ketika aku lengah. Bagaimana ini, Jingxiu?"

Jingxiu membuka pintu kamar Pangeran Lu. Benar saja. Kamar itu kosong. Jingxiu langsung menutupnya kembali dan melihat ke kanan dan ke kiri takut ada yang melihatnya. Setelahnya ia langsung memelototi Boxian yang kini panik tak karuan.

"A-ah, aku mohon, kau boleh memarahi aku setelah ini. Tapi jangan sekarang. Kita harus menemukan Luhan. Kumohon, Jingxiu. Kepalaku bisa dipenggal kalau begini,"

"Bodoh!" Jingxiu membentak Boxian lalu berjalan ke arah tempat keluarga besar Wu menginap. Boxian mengikuti di belakangnya.

"Jingxiu, kita mau kemana?"

"Mencari Luhan. Kau bilang ia bertemu dengan Pangeran Wu semalam, kan? Setidaknya kita harus cari Pangeran Wu dulu. Dia pasti tahu dimana Luhan," jawab Jingxiu sambil melangkah cepat, masih membawa tombaknya.

Tinggal melewati satu lorong lagi keduanya sampai di tempat keluarga besar Wu, langkah mereka terhenti karena ada seseorang yang memanggil mereka.

"Maaf, permisi. Kalian pengawal kerajaan Lu, bukan?"

Jingxiu dan Boxian terpaku di tempat melihat orang yang mereka cari berada di depan mata mereka sendiri. Pangeran Wu. Ia terlihat baru kembali dari taman kerajaan Lu.

"Hormat kami, Yang Mulia Pangeran Wu. Benar sekali, Pangeran," Jingxiu langsung memberikan hormat kepada Pangeran Wu diikuti dengan Boxian.

"Bolehkah, aku bertanya sesuatu?" jawab Pangeran Wufan.

"Tentu, Pangeran. Dengan segenap hati kami akan menjawab," Jingxiu menjawab.

"Em...apa Pangeran Lu...baik-baik saja? Apakah ia sakit semalam?"

Seketika Boxian dan Jingxiu berpandangan. Wajah mereka menyiratkan kebingungan yang sangat. Akhirnya dengan keberanian, Boxian bicara.

"Maafkan hamba, Pangeran. T-tapi...bukankah Pangeran Lu bersama dengan Pangeran semalam tadi?"

"Apa!?" Wufan kaget.

"M-maafkan hamba apabila perkataan hamba lancang, Yang Mulia Pangeran Wu," Boxian yang menganggap bahwa Wufan marah karena perkataanya langsung menunduk meminta maaf.

"Ah, bukan itu, Pengawal. Maksudku, Pangeran Lu tidak bersamaku semalam tadi. Aku bahkan menunggunya sampai saat ini tapi ia tidak datang sama sekali,"

"T-tapi, Yang Mulia Pangeran. Semalam, Pangeran Lu mengatakan akan bertemu dengan anda, dan Pangeran Lu belum kembali ke kamarnya sampai sekarang. Maka dari itu, kami di sini untuk menanyakan perihal Pangeran Lu kepada Pangeran," Boxian memberanikan diri menjelaskan.

Wufan yang mendengar penjelasan Boxian langsung berpikir keras. Ia memikirkan di mana Luhan. Ternyata firasatnya semalam tentang Luhan itu benar. Seketika ia merasakan hal buruk terjadi pada Luhan.

"K-kami bertanggung jawab atas Pangeran Lu. Maka dari itu, kami akan mencari Pangeran Lu. Tapi, jika Yang Mulia Pangeran berkenan, adakah petunjuk yang Pangeran tahu akan keberadaan Pangeran Lu?" Jingxiu bertanya dengan gugup.

"Ini adalah kesalahan hamba Pangeran. Jika saja hamba tidak membiarkan Pangeran Lu keluar dari kamarnya semalam, maka tidak akan terjadi hal seperti ini. Hamba benar-benar mohon maaf, Yang Mulia Pangeran Wu. Ampuni hamba. Hamba siap dihukum. Ampuni hamba, Yang Mulia Pangeran," Boxian yang menyadari ini kelalaiannya langsung berlutut di hadapan Wufan. Ia merasa sangat bersalah.

"Ini juga kesalahan hamba, Pangeran," Jingxiu ikut berlutut. Ia merasa bertanggung jawab akan Pangeran Lu. Jingxiu dan Boxian merasakan hal yang tak jauh berbeda dengan Wufan. Mereka yang menjaga kamar Luhan. Apabila hal ini ketahuan oleh Raja Lu, maka nyawa mereka bisa langsung dihabisi.

'TANG TANG TANG'

"YANG MULIA PANGERAN LU MENGHILANG!"

"YANG MULIA PANGERAN LU TIDAK ADA DI KAMARNYA!"

Belum sempat Wufan menjawab tiba-tiba terdengar suara lonceng berbarengan dengan teriakan para pengawal kerajaan yang menyatakan Luhan menghilang. Sontak hal ini membuat seluruh orang yang berada di Kompleks Istana Lu, termasuk keluarga besar Kerajaan Wu, keluar dari tempat peristirahatan mereka dan ribut karena kejadian ini. Semua orang panik. Tentu tidak ada yang mengharapkan hal ini terjadi. Hal ini juga membuat Boxian dan Jingxiu panik bukan kepalang. Mereka merasa nyawa mereka akan melayang setelah ini.

"Habislah riwayatku," ujar Boxian dengan suara lirih.

"YANG MULIA RAJA LU MEMERINTAHKAN UNTUK SEMUA ORANG UNTUK MENCARI PANGERAN LU. TANPA TERKECUALI!"

"UNTUK PENGAWAL YANG MENJAGA KAMAR YANG MULIA PANGERAN LU DAN KEPALA PENGAWAL, DIPERINTAHKAN UNTUK MENGHADAP YANG MULIA RAJA LU SEKARANG!"

Perintah seorang pengawal dari menara lonceng membuat semua orang langsung mencari Pangeran Lu. Meski matahari baru saja muncul sepenuhnya suasana istana sudah panas dan gempar karena kabar ini. Begitu pula dengan Boxian dan Jingxiu yang merasa nyawa mereka sudah diujung tanduk. Tinggal menunggu saja sang Raja untuk memberikan perintah hukum pancung atau hukum gantung kepada keduanya.

"Katakan yang sejujurnya, Boxian. Setidaknya dosamu kepada Dewa tidak akan bertambah sebelum kita mati. Aku akan membantumu," Jingxiu menasehati Boxian yang sudah gemetaran.

.

"APA YANG KALIAN KERJAKAN SEHINGGA PANGERAN BISA MENGHILANG!? APA!? BAGAIMANA BISA KALIAN MEMBIARKAN HAL INI TERJADI!" sesampainya di kamar Luhan, Boxian dan Jingxiu serta Kepala Pengawal Jin Jun Mian langsung disambut dengan pertanyaan. Bukan oleh Raja, tapi oleh Permaisuri. Permaisuri Lu merasa sangat terpukul atas kejadian ini. Anak semata wayangnya yang dua hari lagi akan melaksanakan pernikahan menghilang. Ia menangis meraung-raung dengan air mata berlinang di pipinya.

"Luhan...Luhan anakku... Oh Dewa, petaka apa yang kau berikan kepadanya?" sang Permaisuri menangis sambil memeluk bantal anaknya. Ia sungguh merasakan hal yang tidak baik terjadi kepada Luhan.

Pagi ini ketika ia sudah bangun dan ingin bertemu dengan anaknya, Luhan, ia menemukan kamar anaknya kosong melompong. Tanpa pengawal di depan kamar anaknya pula. Sontak ia langsung panik dan membuat pengawal serta dayang yang bersamanya ikut panik. Sang Raja yang saat itu ada bersama Permaisuri langsung memerintahkan tiga orang pengawal untuk memberi kabar dan mencari Pangeran, sedangkan dayang-dayang dan pengawal sisanya ia perintahkan memeriksa kamar Pangeran, siapa tau ada petunjuk di dalamnya.

"Diantara kalian bertiga. Adakah yang mengetahui sesuatu tentang ini?" Raja bertanya dengan sabar kepada Boxian, Jingxiu, dan Junmian, walaupun sebenarnya dadanya begitu sesak dan panas. Ia ingin segera menghukum mati kedua pengawal yang tidak becus menjaga pangeran, juga Kepala Pengawal yang tidak becus mengatur kedisiplinan anak buahnya. Tetapi sebagai Raja, ia harus bijaksana. Tidak bisa sembarang ia membunuh orang.

Pertanyaan Raja membuat Boxian dan Jingxiu saling berpandangan.

"Hormat hamba, Yang Mulia Raja. Hamba Pengawal Bian, yang berjaga semalam di kamar Pangeran. Semalam, Pangeran keluar dan mengatakan ingin bertemu dengan Pangeran Wu. H-hamba sudah mencoba mencegah Pangeran Lu, Yang Mulia. T-tapi ia berhasil lepas dari hamba. Hamba mohon ampun, Yang Mulia Raja," Boxian menjawab sambil bersujud di hadapan sang Raja dengan rasa bersalah yang sangat. Kentara sekali dari nada bicara Boxian, ia akan menangis.

"Hormat hamba, Yang Mulia Raja. Hamba Pengawal Dou, yang bergantian tugas menjaga pagi ini. H-hamba ikut bertanggung jawab atas kejadian ini, Yang Mulia Raja," Jingxiu berbicara sambil ikut bersujud di hadapan sang Raja.

"Hormat hamba, Yang Mulia Raja. H-hamba Kepala Pengawal Jin, bertanggung jawab atas anak buah hamba. Hamba siap dihukum, Yang Mulia," Junmian sebagai Kepala Pengawal pun ikut bersujud.

"KALIAN BERTIGA SAMA SAJA!" belum sempat Raja menjawab, Permaisuri mengamuk kepada ketiganya. Membuat semua orang yang ada di kamar pangeran, termasuk dayang dan pengawal yang memeriksa kamar pangeran tersentak kaget.

"SUAMIKU, APA YANG KAU PIKIRKAN KETIKA MENUGASKAN MEREKA MENJAGA ANAK KITA? Hu..hu... MEREKA SAMA SEKALI TIDAK BECUS," Permaisuri memeluk sang Raja dengan air mata yang semakin deras berlinang.

"KALIAN HARUS DIHUKUM! Huu..hu... KALAU TERJADI SESUATU KEPADA PANGERAN, KALIAN HARUS DIHUKUM MATI! Huu..hu... Luhan anakku...," Permaisuri Lu menangis sejadi-jadinya ketika memaki kepada kedua pengawal dan satu kepala pengawal. Ia beranggapan mereka sangat bersalah sehingga Luhan menghilang. Terlihat sekali ia sangat emosi akan hal ini.

"Yang Mulia Raja, hormat hamba, hamba menemukan ini di atas meja Pangeran," seorang dayang memberikan sebuah kertas kepada Raja. Kelihatannya itu adalah surat.

"Apa ini?" Raja pun membaca tulisan yang tertulis di dalamnya.

"Sepertinya tempat pertemuan biasa sudah ketahuan dan akan banyak penjaga di sana. Bagaimana kalau kita bertemu di tempat lain. Tunggu aku di kamar ketiga di tempat keluarga Wu menginap. –Wufan,"

"Apa-apaan ini? Pengawal Bian, kau pasti tahu apa maksud surat ini, kan!?" Raja Lu bertanya dengan nada tinggi kepada Boxian. Boxian langsung tersentak kaget. Ia teringat akan kata-kata Jingxiu yang menyuruhnya untuk berkata jujur.

"H-hamba hanya tahu Pangeran ingin bertemu dengan Pangeran Wu. Be-beliau tidak memberitahukan hamba apa-apa tentang surat itu ataupun tempat pertemuan mereka, Yang Mulia...,"

"T-tapi, kami sudah mencoba menanyakannya ke Pangeran Wu. Pangeran Wu pun tidak mengetahui di mana Pangeran Lu berada. Beliau mengaku tidak bertemu dengan Pangeran Lu, Yang Mulia," Jingxiu membantu Boxian berbicara.

"Kalian bertiga sudah mengecewakan aku yang mempercayakan Pangeran kepada kalian. Kalian harus dihukum mati setelah ini. Tapi sekarang kalian harus mencari Pangeran Lu sampai ketemu! Jangan coba-coba kabur! CEPAT LAKSANAKAN!"

Raja Lu memerintahkan kepada ketiganya untuk mencari Luhan. Mereka bertiga pun langsung terbirit-birit keluar dari kamar Pangeran Lu dan mencarinya. Sedangkan Raja menenangkan sang Permaisuri yang begitu merasa kehilangan.

.

Sementara itu, di sisi Istana Lu yang lain, Wufan masih mencari Luhan bersama dengan Ayahnya, sang Raja Wu. Raja Wu yang mengetahui Luhan menghilang ikut kewalahan. Ia memikirkan kebahagiaan anaknya. Awalnya ia marah ketika Wufan menceritakan semuanya. Termasuk ia dan Luhan mengadakan pertemuan sembunyi-sembunyi selama masa pingitan mereka. Tapi ia justru kasihan ketika Wufan menceritakannya sampai akhir.

"Yang Mulia Pangeran Wu!" ada seseorang yang memanggil Wufan ketika ia berpisah dengan Ayahnya. Ternyata suara Boxian. Wufan pun menghentikan langkahnya.

"Kau pengawal yang tadi? Ada apa? Apa kalian sudah menemukan Pangeran Lu?" Wufan langsung bertanya kepada Boxian yang datang bersama Jingxiu dan Junmian.

"Hormat hamba, Pangeran. Kami belum menemukan Pangeran Lu. Tapi kami menemukan petunjuk dari kamar Pangeran Lu," Boxian menjawab.

"Hormat hamba, Pangeran. Benar yang dikatakan Pengawal Bian. Ketika kamar Pangeran Lu digeledah, seorang dayang menemukan surat di mejanya. Surat itu kurang lebih menyatakan bahwa Yang Mulia Pangeran Lu diminta untuk menunggu di kamar ketiga di tempat keluarga Wu menginap," sambung Jingxiu.

"Kamar ketiga?" Wufan berpikir. Matanya membelalak setelahnya seolah menemukan titik terang.

"Apa!? Apa kalian yakin?" ia bertanya meyakinkan.

"Hormat hamba. Kami yakin, Yang Mulia Pangeran Wu. Setidaknya itulah yang kami dengar ketika Yang Mulia Raja Lu membaca surat yang ditemukan itu," Junmian menjawab.

"Tidak mungkin," Wufan panik. Dadanya serasa tercekat tiba-tiba setelah mendengarkan kesaksian ketiga pengawal itu. Ia menghalau segala pikiran buruknya tentang adiknya, Shixun.

"Kalian bertiga, ikut aku," perintah Wufan kepada ketika pengawal tersebut.

"BAIK, YANG MULIA PANGERAN," jawab Boxian, Jingxiu, dan Junmian serentak.

Mereka bertiga mengikuti Pangeran Wu yang memimpin di depan mereka. Mereka berlari ke arah yang dituju Pangeran Wufan. Wufan terus berlari. Ia sangat yakin di mana Luhan berada sekarang. Ia senang bisa menemukan Luhan. Namun, hatinya juga menggolak ketika memikirkan hal itu. Ia sangat takut sesuatu yang buruk terjadi kepada Luhan. Wufan tahu siapa yang menempati kamar ketiga itu. Sangat tahu malah. Wufan berdoa dalam hati agar Luhan baik-baik saja, tidak terjadi hal yang buruk kepadanya.

Wufan mempercepat langkahnya ketika ia sampai di lorong tempat kamar ketiga berada. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu kamar itu dengan paksa.

'BRAKKK'

"SHIXUN!"

"Astaga, Dewa...,"

"Yang Mulia Pangeran Lu!"

"Oh, Dewa dan seluruh nenek moyang...,"

.

TBC

Hai, ni hao. :) We meet again :)

Kenapa? TBC mengganggu? Sudah biasa hehehe. Pengen Zhao panjangin cerita per chapternya tapi udah terlanjur ketemu 'titik penasaran' dan 'titik habis' dari chapternya. This topic became number 1 on my review messages.. Zhao really appreciates it. I love you all, karena udah perhatian sama FF Zhao yang ini. Setiap ada yang bilang 'Zhao, ini kurang panjang,' atau semacamnya, Zhao langsung pengen panjangin cerita di Chapter depan. Tapi, setiap Zhao post 1 chapter, pasti Zhao udah siapin sekurang-kurangnya 1 chapter selanjutnya yang udah jadi. So, kalau dirubah atau ditambahin lagi, malah Zhaonya yang bingung. Heheh. Mianhae, yeoreobun :D /bow/ Tapi, Zhao akan berusaha bikin yang lebih panjang lagi, ne. Let's wait. :)

Second topic for this time is... Zhao minta maaf karena keterlambatan update. Bahkan ini udah nyaris seminggu dari Chapter terakhir yang Zhao update. Jeongmal mianhae, feichang dui bu qi. Ini semua karena urusan duniawi yang minta perhatian lebih dari Zhao. Zhao juga harus nonton + dengerin video pembahasan materi selama 1 jam pake bahasa Inggris + buat kesimpulan, tanpa Sub dan CC, selama beberapa hari ini. Sedangkan, kemampuan English saya masih bersajak AB-AB. Termasuk juga signal Wi-fi yang tak beraturan akibat musim hujan sekarang.

Third, mari kita bahas NC di Chapter lalu. Review kalian sangat membuat jiwa Zhao membara #cieelah. Karena jujur, ini bukan pertama kalinya Zhao membuat NC-moment, dan pastinya, NC moment yang Zhao buat pasti kurang HOT. Aigoo. Bukan salah readers dan reviewers, kok, karena Zhao sendiri juga merasa NC yang Zhao buat pasti ada yang ngeganjel. Jadinya, gak All-Out. Terus ada yang minta, NC a-la BDSM. Hohoho. Luhannya bikin Zhao gak tega, chingu. Hiks, I'm not the expert, I'm still on my way to study about that. Hihi. #pleasecorrectmyenglish

Nah, last. I really thank you to your reviews and responses. I really appreciate it. As usual. I need your review for this Chapter. Review dan respon kalian sangat berharga, dear. Jangan lupa saling bekerjasama, ne. :) As usual too, Zhao bales review bagi readers yang punya akun, via PM. :)

Let's meet at the next Chapter. Anyeong :))

.

.

Salam Cinta,

HUNHAN