WRONG DESTINY
Chapter 6
By
Mgr. Zhao
Cast : EXO member, ex-EXO, and other
Pairing : HunHan-KrisHan
Rate : M, M-Preg Contains
Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin
.
.
"Aku tidak menyangka akan senikmat ini melakukan seks denganmu, Pangeran Luhan,"
Ucap Shixun yang sedang memakai jubah tidurnya di samping ranjang yang ia gunakan untuk memperkosa Luhan. Luhan pingsan setelah kejadian itu. Ia terkulai lemas. Shixun memandangi wajah Luhan yang kelelahan. Dengan rasa kemanusiaan Shixun yang masih tersisa, ia melepaskan ikatan di kedua tangan Luhan juga kain yang ia gunakan untuk menyumpal mulut Luhan. Kemudian dengan hati-hati Shixun merapikan ranjang dimana Luhan masih tertidur dan mengusap bekas air mata di wajah Luhan. Tak lupa menyelimuti tubuh Luhan dengan kain selimut dan memandangi wajahnya lagi sambil menunggu matahari terbit sepenuhnya.
"Kau sangat cantik kalau dilihat seperti ini. Seandainya kau bukanlah calon yang akan dinikahkan dengan Wufan keparat itu, kau tidak akan menderita seperti ini. Akupun tidak akan berlaku kasar kepadamu," ucap Shixun sambil membelai wajah Luhan.
"Aku yakin kau sangat dijaga, Luhan. Aku yakin perangaimu indah. Tapi takdirmu yang buruk. Hahaha," Shixun tertawa di sela bicaranya.
"Kasihan sekali kau, rusa manis. Namun begini saja belum cukup bagiku. Aku harus memastikan kau benar-benar mengandung anakku sebelum mereka tetap menikahkanmu dengan Wufan keparat itu," sambung Shixun sambil mengelus perut rata Luhan.
"Karena dengan begitu mereka akan membatalkan pernikahan kalian. Dan aku akan menjadi penonton pertama yang menyaksikan kerajaan Wu hancur perlahan, walaupun harus hancur bersama dengan kerajaan Lu. Hahaha,"
"Aku bahagia, Luhan. Aku bahagia! Aku berhasil membalas dendam diriku atas ibuku kepada Wu Yi Guan, si tua bangka keparat itu. Ia memang pantas hancur!"
'BRAKKK'
"SHIXUN!"
Shixun menoleh ke belakang di mana ia mendengar pintunya dibuka paksa dan suara seseorang memanggil namanya. Ia melihat Wufan yang membelalakkan matanya kaget melihat apa yang ia lakukan bersama calon pengantinnya. Shixun juga melihat tiga orang pengawal yang mengikuti Wufan di belakangnya, sama kagetnya dengan Wufan.
'Cih, pengganggu datang,' ucap Shixun dalam hati. Shixun tiba-tiba merasakan hawa panas menyelimuti kamar yang ia tempati. Ia ingin menyapa sang kakak. Namun belum sempat ia berdiri tegak, Wufan menyerangnya. Wufan meraih kerah pakaian Shixun, menyerobot ke arahnya membuat Shixun terpojok langsung ke dinding.
"Wufan? Selamat pagi, kakakku," Shixun menyapa Wufan seperti tidak ada sesuatu apapun yang terjadi. Ia tersenyum meremehkan kepada Wufan. Seakan ia tahu bahwa ia sudah menang.
"Jangan basa-basi, Shixun. Apa yang sudah kau lakukan kepada Luhan!?" lain Shixun, lain pula Wufan. Wufan tersulut dalam emosi. Ia membentak Shixun.
"Aku? Aku hanya bersenang-senang bersamanya. HAHAHA," Shixun tertawa lebar setelah menyelesaikan kalimatnya.
'BUGGH'
Wufan memukul wajah Shixun. Ia lakukan hal itu berulang kali, namun Shixun sama sekali tidak membalas atau menghindar dari pukulannya.
"Berani-beraninya kau melakukan hal yang buruk kepada Luhan!"
'BUGGH'
Tak cukup satu pukulan melayang ke arah wajah Shixun. Wufan terlihat begitu marah. Matanya menatap Shixun yang terjatuh di bawahnya dengan menyalang. Nafasnya terengah-engah menahan amarah. Sedangkan Shixun masih tak bergeming. Ia hanya menatap Wufan masih dengan tatapan meremehkan.
"Yang Mulia Pangeran Wu, tahan emosi Pangeran. Pangeran Muda Wu adalah adik Pangeran sendiri," ucap Kepala Pengawal Junmian yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran itu sambil menahan Wufan yang ingin melayangkan pukulannya lagi. Wufan mengatur nafasnya. Ia sangat marah akan hal yang baru saja ia lihat.
Wufan merasa senang Luhan sudah ditemukan. Tapi apa yang ia lihat malah membalikkan perasaan senangnya. Marah, kecewa, dan sedih ketika ia mengetahui bahwa Shixun melakukan hal yang buruk terhadap Luhan.
"Boxian, Jingxiu, cepat bawa Pangeran Lu ke kamarnya!" perintah Junmian kepada dua pengawal bawahannya.
"B-BAIK!" seru keduanya.
Boxian dan Jingxiu langsung mengangkat tubuh Luhan, tak lupa mereka membungkusnya dengan selimut. Boxian yang melihat ada bercak darah di sprei yang ditiduri oleh Pangeran Lu langsung kaget. ia terpaku dan ingin menangis di tempat rasanya.
"Boxian apa yang kau lakukan? Ayo cepat!" bisik Jingxiu yang melihat Boxian terdiam.
"B-baik," jawab Boxian. Akhirnya Boxian dan Jingxiu membawa Pangeran Luhan keluar dari kamar Pangeran Shixun.
"Apa itu Pangeran Lu?"
"Oh Dewa! Apa yang terjadi padanya!?"
"Apa benar Pangeran ditemukan di kamar Pangeran Muda Wu?"
"Bagaimana ceritanya Pangeran Lu bisa di kamar Pangeran Wu Shi Xun?"
"Kenapa ia hanya memakai selimut? Kemana pakaiannya?"
"Oh Dewa dan nenek moyang!"
Suara jeritan dan bisikkan terdengar dari orang-orang yang melihat Jingxiu membawa Pangeran Lu yang dicari dengan hanya dibalut selimut putih. Jingxiu juga Boxian tidak mempedulikan orang-orang itu. Mereka harus cepat-cepat membawa Pangeran Lu ke kamarnya. Boxian dan Jingxiu mendoakan Pangeran Lu baik-baik saja. Jingxiu berdoa dalam hatinya semoga Pangeran Shixun tidak melakukan hal yang membahayakan Pangeran Luhan selama Pangeran Luhan bersamanya.
Lain Jingxiu lain pula Boxian. Dari awal Boxian mendengar Raja Lu membaca surat bahwa Luhan mengadakan pertemuan di tempat menginap keluarga Wu, hatinya merasakan hal yang buruk terjadi kepada Luhan. Benar saja. Ia ingin menangis atau setidaknya ikut memukul wajah sang Pangeran Muda Wu yang telah melakukan hal tidak senonoh kepada Pangeran Lu. Tanpa diberi tahupun Boxian sudah tahu apa yang dilakukan Shixun kepada Luhan. Namun, ia tidak habis pikir bahwa yang melakukan hal itu kepada Luhan adalah Pangeran Shixun. Adik dari calon suami Luhan sendiri. Sebenarnya apa salah Luhan? Boxian melihat Luhan yang dibawa Jingxiu dengan mata berkaca-kaca.
'Ini semua salahku,' ucap Boxian dalam hati. Boxian mulai menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya saja ia tidak membiarkan Luhan pergi malam itu. Seandainya saja ia bisa lebih tegas kepada Luhan. Seandainya saja ia tidak tertipu lagi oleh tipuan jahil yang Luhan buat. Pasti Luhan tidak akan mengalami nasib buruk seperti ini.
.
"Bagaimana Wufan? Terkejut dengan apa yang kau lihat?"
'BUGGH'
"Luhan tidak bisa menjadi pengantinmu, Wufan. Ia akan mengandung anakku...,"
'BUGGH'
"...dan ini adalah awal kehancurannya. Kehancuran kerajaan Lu dan kerajaan Wu,"
'BUGGH'
"KAU DAN TUA BANGKA ITU AKAN HANCUR, WUFAN!"
'BUGGH'
"Aaaaargh...,"
'BUGGH'
Sementara itu, Wufan dan Shixun masih berkelahi di kamar Shixun. Shixun terus menanyakan dan berucap tentang segala hal yang berkenaan dengan kehancuran kerajaan. Hal itu tentu membuat Wufan semakin tersulut emosinya dan semakin membabi buta memukuli Shixun. Shixun sama sekali tidak terlihat membalas atau bahkan berusaha menangkis pukulan Wufan. Namun, Shixun tertap tersenyum meremehkan Wufan.
Wufan sudah tak mampu berkata-kata. Hatinya begitu hancur ketika melihat orang yang dicintainya disakiti. Hatinya bertambah sakit ketika ia harus menerima kenyataan bahwa adiknya sendirilah yang menyakiti orang yang ia cintai. Padahal baru beberapa hari Wufan bertemu dengan Luhan. Tak pernah ia bertemu dengan orang berperangai sebaik dan sehalus Luhan. Wufan sudah berjanji untuk melindungi Luhan dengan segenap jiwa di dalam hatinya. Tapi bahkan sebelum ia bisa melindungi Luhan, Luhan sudah hancur terlebih dulu.
"WU SHIXUN!"
Ketika Wufan siap untuk melayangkan pukulan kepada Shixun entah untuk yang keberapa kalinya, suara Ayah mereka terdengar. Raja Wu terlihat begitu marah. Sepertinya ia sudah tahu apa yang terjadi.
.
.
"Oh Dewa... Luhan anakku...huu...huu...,"
Permaisuri Lu menangis dengan keras begitu ia melihat Luhan yang dibawa oleh Jingxiu. Tangisnya semakin menjadi ketika Jingxiu membawa Luhan semakin dekat dan melihat Luhan tidak memakai pakaian apapun, hanya sehelai kain selimut. Ia melihat Luhan begitu rapuh dan lemah.
"Luuhaan, apa yang terjadi, nak? Huu..huu...," Permaisuri langsung memeluk Luhan yang terbaring di ranjang.
"Aku selalu menjagamu. Hiks... Berdoa untukmu agar Dewa dan nenek moyang menjagamu di dalam lindungan mereka. Tapi kenapa mereka membiarkanmu mendapat petaka seperti ini, Luhan!? Huu...hu...,"
"Istriku, kendalikan emosimu," Sang Raja menenangkan sang Permaisuri. Mencoba untuk meredakan tangisnya. Walaupun ia sendiri terguncang atas keadaan Luhan saat ini. Ia hanya melihat Luhan yang sedang diperiksa oleh tabib istana sambil berdoa semoga tidak ada apa-apa yang terjadi pada Luhan.
"Dimana kalian menemukan Luhan!? Hiks... Siapa!? Siapa yang berani melakukan ini pada anakku!?" Permaisuri yang tadi terduduk langsung terbangun, melepaskan tangan Raja yang ada di pundaknya, dan menatap menyalang pada Jingxiu dan Boxian yang masih berlutut di depan kamar sang Pangeran Lu. Boxian dan Jingxiu hanya berpandangan ketika ditanya seperti itu. Mereka sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya. Tapi mereka mengingat posisi mereka. Jabatan mereka hanya sebagai pengawal. Mereka takut lancang untuk mengatakan yang sebenarnya.
"KENAPA KALIAN DIAM SAJA!? Huu...huu... Siapa orangnyaa... Hiks...," Sang Ratu terjatuh terduduk kembali karena Jingxiu dan Boxian tidak menjawab pertanyaannya.
"Pengawal Bian, Pengawal Dou, jawablah. Katakan yang sebenarnya," sang Raja menahan tubuh sang Ratu yang lemas dan berbicara kepada kedua pengawal yang sudah membawa Luhan itu.
"H-hormat kami, Yang Mulia Raja. Maafkan atas kelancangan kami. Kami menemukan Pangeran Lu di kamar Pangeran Muda Wu, Yang Mulia. Se-sekali lagi maafkan kami, Yang Mulia. Maafkan atas kelancangan kami berkata seperti ini," Boxian menjelaskan dengan bersujud dan berbicara terbata-bata. Saking takutnya ia kepada Raja. Ia takut dituduh memfitnah Pangeran Muda Wu oleh Raja. Jingxiu pun ikut bersujud.
"APA!? Jangan mengatakan hal sembarangan atas keluarga Wu!" Raja tidak percaya atas apa yang Boxian katakan. Ia tidak mudah percaya, karena ia sendiri sudah menganggap Kerajaan Wu sebagai saudaranya, tidak mungkin Raja Wu menghianati dirinya.
"Hor-hormat hamba, Yang Mulia Raja. Tapi, benar apa yang dikatakan Pengawal Bian. Hamba dan Pengawal Bian serta Kepala Pengawal Jin mencari Yang Mulia Pangeran bersama dengan Pangeran Wu, Yang Mulia. Kemudian kami m-menemukan Pangeran ada di dalam kamar Pangeran Muda Wu, juga...Pangeran Muda Wu ada bersama Pangeran Lu," Jingxiu menjelaskan sejelas yang ia bisa. Jingxiu akui ia sangat takut sekarang, tapi ia tidak mungkin membiarkan Boxian dituduh memfitnah sementara yang Boxian jelaskan adalah kenyataan.
"Brengsek! Apa-apaan ini!?" Raja mulai berang setelah mencerna apa yang ia dengar dari kedua pengawalnya.
"Kalian berdua! Katakan pada Raja Wu aku ingin bertemu dengannya sekarang! Bawa juga kedua Pangeran Wu bersamanya! CEPAT!"
Seketika Boxian dan Jingxiu langsung keluar dari kamar Pangeran Lu dan menuju tempat Raja Wu setelah mereka mendengar perintah Raja. Kini Raja Lu emosi karena merasa dihianati oleh orang yang sudah ia percaya dan ia anggap seperti saudaranya sendiri. Ia ingin mendengar penjelasan dari Raja Wu atas kejadian ini.
"Y-yang Mulia...," suara Tabib Istana Yang mengalihkan perhatian sang Raja dan Permaisuri. Sedari tadi, Tabib Istana Yang memeriksa keadaan Pangeran Lu.
"Ada apa, tabib Yang? Hiks... Adakah yang kau ingin katakan tentang keadaan anakku?" Permaisuri bertanya tak sabar karena Tabib Yang tidak mengatakan apapun walau Raja dan Permaisuri sudah menatap ke arahnya. Ia terlihat gelisah dan tidak enak diri. Tabib Yang meremas-remas tangannya sendiri.
"Tabib Yang?" Permaisuri mendekati Tabib Yang dan bertanya lagi. Sekilas ia melihat Luhan sedang dipakaikan pakaian oleh dayang istana.
"Y-yang Mulia Permaisuri, maafkan hamba. Hamba sudah memeriksa keadaan Yang Mulia Pangeran. Pangeran sekarang demam dan hamba menemukan sesuatu yang sangat buruk, Yang Mulia,"
"Apa itu, Tabib Yang. Cepat katakan!" sang Raja yang mendengarpun angkat bicara. Sementara Permaisuri hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan dan kembali menangis, ia menyebut nama Dewa di sela tangisnya.
"Maafkan hamba, Yang Mulia Raja. Hamba menemukan banyak bercak di tubuh Pangeran Lu dan...dan lubang kemaluan Pangeran terluka, Yang Mulia," Tabib Istana Yang langsung bersujud begitu selesai mengatakan hal tersebut, takut kalau Raja marah kepada dirinya.
"Hamba menemukan bercak darah di selimut yang tadi digunakan Pangeran, Yang Mulia. Maafkan atas kelancangan hamba, Yang Mulia," sambung Tabib Yang sambil tetap bersujud.
"Oh, Dewa...," tanpa diduga Permaisuri langsung jatuh pingsan begitu mendengar penjelasan sang tabib. Permaisuri pastilah sangat kaget dan lemas ketika mendengar anaknya yang ia sangat sayangi dan lindungi bagaikan giok yang indah akan menjadi seperti ini. Sontak sang Raja langsung menahan tubuh Permaisuri supaya tidak jatuh ke lantai kemudian menidurkannya di ranjang.
"Yang Mulia Raja Wu ingin menghadap!" teriak seorang pengawal dari luar kamar Pangeran Lu. Raja Lu yang mendengarnya pun langsung menuju keluar kamar untuk menemui orang yang ia tunggu-tunggu. Begitu Raja Lu keluar dari kamar Pangeran Lu, ia langsung berhadapan dengan Raja Wu yang menatapnya dengan tatapan bersalah. Namun, Raja Lu tetap tidak bergeming. Ia tetap menatap sang Raja Wu dengan tatapan tajam. Terlebih lagi melihat kedua Pangeran Wu yang berdiri di belakang Raja Wu. Raja Lu tetap tidak merendahkan tatapannya ketika melihat Pangeran Muda Wu Shi Xun yang babak belur entah kenapa.
"Ada yang harus kau jelaskan, saudaraku, Raja Wu," Raja Lu berkata dingin dan melangkahkan kakinya menuju ruang pertemuan kecil yang ada di luar kamarnya. Raja Wu beserta kedua Pangeran Wu mengikuti dirinya.
.
"Aku rasa tidak perlu berbasa-basi lagi. Kita langsung saja ke intinya. Kau harus menjelaskan sesuatu kepadaku, Wu Yi Guan," ucap Raja Lu dengan nada dingin dan datar, segera setelah mereka berempat sampai di tempat pertemuan kecil milik Raja Lu.
"Pertama-tama, aku memohon maaf kepadamu atas perlakuan anakku, Wu Shi Xun, yang tidak pantas kepada anakmu, Pangeran Lu Han," ucap Raja Wu sambil menunduk. Menunjukkan rasa bersalahnya kepada Raja Lu.
"Jadi benar apa yang aku dengar? Wu Shi Xun yang melakukan ini kepada anakku?" tanya Raja Lu. Raja Lu mengalihkan tatapannya ke satu titik dan tetap. Ia tidak mau menatap Raja Wu ataupun kedua Pangeran Wu. Ia merasa sangat sakit hati dan dikhianati.
"Aku mohon maaf sekali lagi. Aku mengakui bahwa ini adalah salah anakku, Lu Gang,"
"Kau, Wu Shi Xun. Apakah Ayahmu tidak mengajarkanmu etika?" tanpa menjawab permintaan maaf dari Raja Wu Guan, Raja Lu Gang malah bertanya kepada Shixun. Ia masih tidak menatap kepada orang yang ia ajak bicara.
Mendengar hal itu, Raja Wu Guan kemudian menundukkan kepalanya. Ia bisa merasakan bahwa Raja Lu sudah sangat kecewa kepadanya, sampai ia tidak menerima permintaan maaf yang ia ajukan. Raja Wu sangat malu saat ini. Kentara sekali dari pertanyaan Raja Lu kepada Shixun bahwa Raja Lu mulai meragukan dirinya. Raja Lu mulai mempertanyakan tentang etika yang diajarkan olehnya kepada Shixun. Secara tidak langsung, itu merupakan sindiran halus yang Raja Lu berikan kepada Shixun yang tidak bermoral dan juga kepada dirinya, sebagai seorang Raja, yang tidak mampu menjaga etika sang anak.
"Huh, apa perlu etika di kehidupanku yang munafik seperti ini?" Shixun menjawab pertanyaan Raja Lu dengan pertanyaan balik. Namun, ia bertanya dengan nada menantang dan tidak ada sopan santun. Membuat Raja Lu mendelikkan pandangannya ke arah Shixun yang kini sedang mengangkat sebelah bibirnya, meremehkan.
"Aku tidak tahan terus berusaha dan berlagak menikmati kehidupan ini. Aku ingin membalaskan dendamku atas ibuku. Aku ingin membuat semua orang di Kerajaan Wu yang selama ini tidak mempedulikan ibuku, menderita dan merasakan apa yang aku rasakan. Mereka harus membayar nyawa ibuku yang sudah mereka ambil. Mereka harus membayar kebahagiaan masa kecilku yang mereka musnahkan. Seharusnya aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi karena mereka...karena mereka ambil nyawa ibuku, AKU KEHILANGAN KEBAHAGIAAN ITU! DAN UNTUK MEMBALASKAN DENDAMKU, ETIKA SAMA SEKALI TIDAK DIPERLUKAN!" Shixun mulai marah, ia menatap sang Raja Lu dengan tajam seakan menantang dirinya.
"Lalu sekarang? Aku menemukan apa yang aku butuhkan. Aku menemukan cara membuat Kerajaan Wu dan seluruh isinya hancur! Melalui perjanjian itu! Aku harus bisa mengambil kesempatan itu dengan baik. Hahahaha,"
"Wu Shi Xun!" Wufan memotong perkataan Shixun yang sudah seperti orang gila. Shixun sudah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, mungkin.
"Dan aku berhasil. Sedikit lagi aku berhasil. Setelah Luhan hamil, ia tidak akan mungkin menikah denganmu, keparat!" Shixun menunjuk Wufan yang hanya bisa menahan dirinya untuk tidak bertindak diluar kesopanan di hadapan Raja Lu.
"Lalu, perjanjian yang kalian harapkan akan menjadikan kebahagiaan, akan kubuat menjadi kebalikannya. KALIAN SEMUA, KERAJAAN LU DAN KERAJAAN WU AKAN MENDAPAT PETAKA. KERAJAAN SUDAH PASTI AKAN HANCUR KARENA PETAKA ITU. HAHAHA,"
Shixun tertawa puas setelah selesai berbicara. Wufan yang terduduk di sampingnya membelalakkan mata mendengar semua penuturannya. Adiknya, telah menghancurkan orang yang ia cintai. Wufan tahu benar, Luhan pasti akan hamil. Lelaki yang 'diberkahi' pasti akan mengandung setelah ia dibuahi untuk pertama kali. Mengingat hal itu, Wufan mengepalkan tangannya erat dan tetap menahan amarahnya. Ingin sekali ia memukul adiknya sekarang.
'BRAKK'
Raja Lu tiba-tiba menggebrak meja. Wajahnya sudah memerah menahan amarah.
"PENGAWAL! PENJARAKAN WU SHI XUN! CAMBUK DIA!" perintah sang Raja Lu dengan penuh amarah kepada pengawal yang menunggu di depan pintu ruang pertemuannya.
"Wu Yi Guan, aku ingin berbicara empat mata denganmu,"
.
TBC
.
Anyeong, yeorobun ^^ Zhao is back.
Gimana chapter 6 nya? Membingungkan kah? Atau bikin greget gara-gara Shixun makin menjadi? Atau...sedih karena TBC-nya? Muehehe.
TBC masih mengganggu, ya, dari Chapter kemarin. Bahkan dari Chapter awal kayaknya. Udah berusaha dipanjangin, chingu. Tapi udah terlanjur ketemu 'titik penasaran'-nya. Hehe. Salahkanlah 'titik temu' yang membuat penyakit TBC Zhao nggak bisa sembuh. (Sampe ada yang bilang di Review, kalo TBC = TuBerColosis. Siapa, tuh, orangnya? Zhao udah ingetin, biar Zhao cium/? Hahaha XD)
Ngomong-ngomong Chapter 5 kemarin, ada yang nanya 'Zhao, Dou Jing Xiu sama Jin Jun Mian itu siapa?'. Nah, kalo yang 'ngeh pasti tau deh mereka siapa. Hehe. Yup, Dou Jing Xiu itu Do Kyung Soo (D.O) dan Jin Jun Mian itu Kim Joon Myeon (Suho). Kok, namanya bisa beda banget? Hehe, karena itu emang nama Mandarinnya mereka. Let's enjoy with Mandarin, pengyou-men! ^^ Sedangkan untuk Wu Yi Guan dan Lu Huan Gang, mereka Other Chara.
Thanks for your review for the last chapter. Your review is so precious. I love you all. :) /hug you one by one/ Pertahankan terus, ne ^^ Hihi. Gomawo. Seperti biasa, Zhao akan balas review bagi yang punya akun via PM, yah. :) Terakhir, Zhao minta review dan respons lagi dari kalian, dear. Biar Zhao lebih semangat lagi lanjutnya. Sekalian Zhao minta correction kalo ada TYPO. Hihiw:)
So, see you next chapter. I love you all :*
.
.
Salam Cinta,
HUNHAN
