WRONG DESTINY

Chapter 7

By

Mgr. Zhao

Cast : EXO member, ex-EXO, and other

Pairing : HunHan-KrisHan

Rate : M, M-Preg Contains

Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin

.

.

"Ini semua karena aku, Jingxiu. Seandainya aku tidak membiarkan Luhan keluar malam itu, ia tidak akan menjadi seperti ini. Hiks...," terlihat di sebuah ruang sudut kerajaan, Boxian sedang meangis karena perasaan bersalah yang sangat. Ia bersama dengan Jingxiu yang juga tak kalah kalutnya dengan dia.

"Boxian, jangan salahkan dirimu. Tidak baik," Jingxiu mencoba menghibur temannya.

"Tapi ini memang kesalahanku, Jingxiu. Malam itu, kan...,"

"Pengawal Dou, apa kau disini?" suara seseorang menginterupsi pembicaraan keduanya. Orang itu membuka kasar pintu ruang yang ditempati Jingxiu dan Boxian sekarang, yang tidak lain adalah kamar pengawal. Jingxiu dan Boxian pun melihat ke sumber suara.

"Ah. Selamat siang, Pengawal Dou. Aku Kepala Prajurit Piao dari Kerajaan Wu. Aku mencarimu untuk memberitahukan bahwa kau dipanggil oleh Kepala Pengawal Jin,"

Jingxiu dan Boxian langsung berdiri ketika orang itu membicarakan maksudnya datang mencari Dou Jing Xiu. Jingxiu yang tidak mengetahui apa sebabnya dipanggil Kepala Pengawal Jin, membelalakkan mata bulatnya. Namun, ternyata bukan hanya dirinya yang membulatkan mata. Boxian yang masih di sampingnya pun ikut membulatkan matanya. Ia membulatkan matanya karena yang datang adalah Kepala Prajurit yang ia sukai.

"Selamat siang, Kepala Prajurit Piao. Aku mengerti akan perintahmu. Tapi, kenapa harus kau yang memberitahukan padahal kau berasal dari Kerajaan Wu?" Jingxiu bertanya sambil menundukkan kepalanya. Hal itu karena ia menghormati Kepala Prajurit Piao yang mempunyai jabatan lebih tinggi darinya.

"Kebetulan aku sedang mengawasi daerah Kerajaan Lu setelah insiden tadi pagi. Tidak sengaja aku bertemu dengan Kepala Pengawal Jin Jun Mian yang kelihatannya sangat kerepotan. Tiba-tiba saja beliau mendekatiku dan meminta bantuanku untuk menyampaikan amanatnya padamu," Kepala Prajurit Piao menjelaskan.

"Baiklah. Aku akan segera menghadap kepadanya. Terimakasih, Kepala Prajurit Piao. Selamat siang," tanpa menunggu lama, Jingxiu langsung menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Kepala Prajurit Piao dan keluar menuju tempat Kepala Pengawal Jin Jun Mian berada.

Sepeninggal Jingxiu, mendadak suasana menjadi hening. Kepala Prajurit Piao yang berdiri di ambang pintu masih melihat keluar, ke arah Jingxiu yang berlari untuk menemui Kepala Pengawal Jin. Sedangkan, Boxian yang masih berdiri di samping ranjang hanya menatap Kepala Prajurit Piao yang sangat ia kagumi. Dalam hati, Boxian memuji ketegasan suara saat Kepala Prajurit Piao memberi amanat pada Jingxiu tadi, yang otomatis menambah nilai ketampanannya di dalam hati Boxian.

"Ekhm. Maaf, apakah Pengawal Kerajaan Lu tidak tahu tentang pentingnya sirkulasi udara?" tiba-tiba saja Kepala Prajurit Piao bertanya dan menoleh ke arah Boxian. Hal itu membuat Boxian sangat kaget.

"E-eh? Maaf, Kepala Prajurit Piao. Aku akan membuka jendelanya," Boxian menjawab Kepala Prajurit Piao dengan gugup.

Seandainya Kepala Prajurit Piao tidak bertanya, mungkin Boxian tidak akan sadar bahwa jendela kamar pengawal masih tertutup. Setiap pagi, Boxian pasti akan membuka jendela kamar pengawal. Tapi karena tadi pagi ia sangat panik, ia tidak bisa melakukan itu. Sejak kejadian tadi pagi, semua orang istana sangat ricuh menanyakan kabar pangeran. Seluruh Kerajaan juga masih belum kembali ke aktifitas normalnya. Seakan-akan Pangeran Lu-lah yang harus lebih diperhatikan, yang harus dipentingkan. Mereka mengesampingkan kegiatan mereka sendiri demi mencari Pangeran Lu sejak pagi dan tidak ada yang sempat mengerjakan sesuatu apapun. Termasuk Boxian, untuk membuka jendela kamar pengawal sekalipun.

"Jangan berlaku seolah-olah matahari menyalahkanmu dan tidak mau menyinari dirimu karena kau bersalah," tepat setelah Boxian membuka jendela terakhir, Kepala Prajurit Piao berbicara dan masuk ke dalam kamar pengawal.

"M-maaf?" Boxian bingung atas perkataan Kepala Prajurit Piao, ia pun bertanya.

"Namamu Bian Bo Xian, bukan?" Kepala Prajurit Piao menoleh ke arah Boxian yang kini ada di sebelah kirinya. Keduanya saling menatap. Demi Dewa dan para nenek moyang, Boxian seakan kerdil berdiri di samping Kepala Prajurit Piao yang bertubuh tinggi.

"Iya, Kepala Prajurit Piao," Boxian menjawab sambil menunduk karena tak kuat menatap Kepala Prajurit Piao.

"Panggil aku Chanlie. Aku tidak begitu suka panggilan formal. Ngomong-ngomong, aku sudah mendengar semuanya. Kau yang menjaga kamar Pangeran Lu pada malam kejadian. Aku yakin kau pasti merasa bersalah," Chanlie berbicara sambil duduk di pinggir ranjang yang kebetulan adalah milik Boxian.

"Aku merasa sangat bersalah. Ini kesalahanku," Boxian ikut duduk di samping Chanlie. Iapun menceritakan semuanya. Dimulai saat Pangeran Lu pergi untuk menemui Pangeran Wu, sampai saat ia menemukan Pangeran, kemudian mengantarkannya ke hadapan Raja dan ia dimaki-maki karena keadaan Pangeran Lu. Boxian sampai menangis ketika menceritakannya kepada Chanlie. Chanlie mendengarkan Boxian dengan baik, sesekali ia akan mengusap punggung Boxian untuk menenangkannya.

"Jangan salahkan dirimu seperti ini. Semua ini adalah takdir. Bagaimanapun semua yang terjadi di muka bumi ini sudah ditentukan oleh Dewa, bukan begitu?" Chanlie berucap setelah Boxian selesai menceritakan semuanya.

"Pangeran Lu adalah orang yang baik. Tidak mungkin Dewa begitu tega untuk menjatuhkan petaka kepadanya. Hiks...,"

"Hey,...," tiba-tiba saja Chanlie memeluk Boxian.

"Kau mengatakan bahwa biasanya tidak terjadi apa-apa saat Pangeran Lu menemui Pangeran Wu. Tapi, semalam ia celaka. Itu adalah takdir yang dituliskan Dewa untuknya. Kau harus yakin, dibalik semua kejadian ini pasti ada sesuatu yang indah yang menunggu Pangeran Lu. Sudah tidak ada gunanya kau menyalahkan dirimu karena hal yang terjadi. Waktu tidak akan berputar ke masa lampau, kan?" Chanlie menjelaskan dengan hati-hati sambil membelai kepala Boxian yang masih dipeluknya. Boxian menjawab pertanyaan Chanlie dengan anggukan.

"Nah, kau tahu itu. Kesalahan memang diperlukan seseorang untuk mengoreksi dirinya sendiri agar ia lebih baik. Kalau kau ingin menebus rasa bersalahmu sekarang, berjanjilah pada dirimu untuk menjaga Pangeran Lu lebih baik lagi. Mengerti?"

"Ya, aku mengerti," Boxian menjawab sambil tersenyum.

"Bagus," Chanlie tersenyum karena respon Boxian. Ia menunjukkan senyum senangnya yang khas dan ceria. Ia merasa hatinya menghangat karena melihat Boxian tersenyum. Ia belum pernah merasa sebahagia ini ketika melihat orang tersenyum karena dirinya, kecuali senyuman Ibunya dan Ayahnya. Chanlie tidak memperdulikan perasaan itu, ia tetap tersenyum.

Boxian yang masih dalam pelukan Chanlie merasa baikan sekarang. Ia sungguh tak menyangka. Kepala Prajurit Piao Chan Lie dari Kerajaan Wu yang selama ini ia kagumi dan hanya bisa ia lihat dari jauh, sekarang memeluk dirinya. Boxian merasa sangat nyaman dalam pelukan Chanlie. Jika boleh Boxian egois kepada Dewa, Boxian akan mengatakan kepada Dewa untuk menghentikan waktu sekarang juga agar kehangatan pelukan Chanlie yang ia rasakan saat ini tidak menghilang begitu saja.

"Chanlie...," Boxian memanggil nama Chanlie dengan lirih. Masih tetap dalam pelukan Chanlie.

"Ya?"

"Terimakasih," Boxian mengeratkan pelukannya kepada Chanlie dan menoleh menatap mata Chanlie yang juga menatap matanya.

"Aku melakukan apa yang aku bisa lakukan," Chanlie tersenyum lagi. Chanlie dan Boxian yang tadinya bertatapan, sekarang makin mendekatkan diri. Mempersempit jarak di antara mereka. Terasa bagaikan ada kupu-kupu berterbangan di dada keduanya. Namun keduanya malah menikmati perasaan itu. Mereka makin mempersempit jarak sampai keduanya bisa merasakan nafas orang di depannya. Keduanya mulai memejamkan mata saat bibir mereka hampir bersentuhan.

"BOXIAN!"

Teriakan seseorang yang tiba-tiba datang membuat Boxian dan Chanlie menjauhkan jarak mereka seketika. Keduanya terlihat panik dan kecewa karena ada yang mengganggu mereka. Namun, kepanikan dan kekecewaan juga dirasakan oleh orang yang baru datang, walaupun dengan alasan yang berbeda.

"Boxian! Boxian!"

"Hey, ada apa denganmu, Jingxiu? Berbicaralah dengan benar, atur nafasmu dulu," Boxian menenangkan orang itu, yang ternyata adalah Jingxiu. Jingxiu terlihat sangat panik. Terlihat dari nafasnya yang tersengal-sengal.

"Aku mendengar kabar buruk, Boxian...tentang Luhan...," Jingxiu berucap sambil tetap tersengal-sengal. Matanya membulat menatap Boxian di depannya.

"Apa? Apa? Ada apa dengan Luhan?" Boxian yang mendengar kata 'Luhan' langsung ikut panik.

"Luhan...Luhan...jika ia hamil, ia akan dinikahkan dengan Pangeran Muda Wu Shi Xun," Jingxiu mengatakan semuanya dengan cepat. Sontak hal itu membuat Boxian tiba-tiba membatu. Bahkan Chanlie yang sedari tadi melihat keduanya dengan bingung, membelalakkan kedua matanya.

"Apa!? Kau bercanda, Jingxiu," Boxian bertanya memastikan.

"Tidak, Boxian! Aku mendengarnya sendiri. Ketika di jalan kembali ke sini setelah menghadap Kepala Pengawal Jin, aku melewati ruang pertemuan Raja. Aku mendengar sendiri percakapan Raja Wu dan Raja Lu, juga bagaimana Raja Lu memutuskan untuk menikahkan Luhan dengan Pangeran Muda Wu jika ia hamil...,"

"...,"

"Bahkan setelah perbincangan mereka, Raja Lu memerintahkan Kepala Pengawal Jin untuk mengutus beberapa pengawal untuk mengumumkan pembatalan atas undangan pernikahan Pangeran Lu dan Pangeran Wu Yi Fan yang sudah disebar sekarang juga,"

.

.

Di dalam sebuah ruang pertemuan, Raja Lu Huan Gang dan Raja Wu Yi Guan terlihat sangat serius berbicara. Mereka duduk berhadapan dan dibatasi oleh meja tanpa jamuan di tengah-tengah mereka. Sedari tadi, Raja Wu Yi Guan berkali-kali bersujud dan membungkukkan badannya. Ia terlihat begitu merasa bersalah. Sedari tadi juga, Raja Wu yang lebih banyak berbicara. Sedangkan Raja Lu hanya akan meresepon sekenanya saja.

Jika kita mau mendengar dari dekat, Raja Wu sedang menceritakan bagaimana Wu Shi Xun bisa menjadi seorang pembangkang seperti sekarang. Dimulai dari hubungan Raja Wu dengan selir, sampai dengan pembunuhan selir itu dan akhirnya Shixun memberontak.

"Aku senang kau masih menghargaiku dengan bercerita jujur kepadaku. Aku turut prihatin dan berduka atas pengalaman buruk kerajaanmu. Tapi, kau pasti sudah tahu apa yang terjadi dengan putraku Pangeran Lu, Wu Yi Guan. Bagaimana pertanggung jawabanmu atas perilaku putramu yang sudah melanggar norma dan moral?"

"Aku sungguh meminta maaf atas perbuatan Wu Shi Xun, putraku. Aku sungguh menyesalkan perbuatannya. Sungguh aku malu. Aku sebagai orang tuanya, berjanji akan menghukumnya dan mendidiknya lebih baik lagi. Tetapi, seandainya kau ingin menghukumnya, wahai saudaraku, aku menerima hukuman apapun yang akan kau berikan padanya," ucap Raja Wu sambil bersujud karena merasa sangat malu dan menyesal.

"Putramu sungguh membuatku murka, Wu Guan. Aku menahan amarahku sejak tadi ia berucap tanpa mengatur lisannya. Aku sangat tidak menyukai bagaimana ia bertingkah laku di hadapanku tadi. Seakan ia membuang kesopanannya," Raja Lu berucap dengan nada dingin.

"Ma-maafkanlah anakku, Lu Gang," lagi, Raja Wu bersujud di hadapan Raja Lu.

"Aku sungguh tak bisa memaafkannya dengan mudah, Wu Guan. Saat itu aku lepas kendali dan memutuskan untuk mencambuknya. Aku tidak ingin meminta maaf atas keputusanku saat itu. Aku sebagai orang tua korban di sini. Bagaimanapun, aku sungguh sakit hati. Harusnya ia dikebiri saat itu juga. Tapi aku sadar, bukan hakku untuk menghukumnya seperti itu karena Ayahnya adalah seorang raja juga, sama sepertiku. Aku yakin kau mempunyai cara sendiri untuk mendidiknya. Lebih dari itu, aku menaruh curiga pada Keluarga Wu bahwa ada yang sedang kalian rencanakan dibalik semua ini,"

"Aku pasti akan menghukumnya ketika sampai di Kerajaan Wu nanti, Lu Gang. Aku berjanji. Aku juga menerima atas hukumanmu yang kau berikan kepadanya, Lu Gang. Kemudian, aku berani bersumpah tidak ada sesuatu apapun yang kami rencanakan, Lu Gang," Raja Wu bersujud lagi.

"Aku percaya padamu, saudaraku. Lalu, diluar hal itu. Bagaimana dengan perjanjian kita untuk menikahkan kedua pangeran pertama dan menjalankan petuah nenek moyang? Putraku, Pangeran Luhan adalah lelaki yang 'diberkahi'. Kau pasti tahu akan hal itu. Dan mengingat apa yang telah putra keduamu lakukan, kau pasti juga tahu apa resiko yang akan terjadi pada putraku," Raja Lu menghela nafas. Ia bertambah penat sekarang.

"Aku menghormati pendirianmu yang tidak melupakan hal itu, saudaraku. Melaksanakan petuah nenek moyang adalah hal yang penting, mengingat apabila hal itu tidak kita laksanakan maka kerajaan kita berdua akan mendapat bala," jawab Raja Wu.

"Kau benar, Wu Guan. Bagaimanapun kita pasti berusaha untuk melaksanakan hal itu,"

"Benar, Lu Gang. Tapi, aku yakin kau bukanlah orang awam terhadap kitab dimana Dewa menyatakan bahwa 'setiap manusia yang Dewa titipkan ciptaan kepadanya, haruslah terikat dengan manusia lain yang membuat Dewa menitipkan ciptaannya kepada manusia itu'. Itu berarti...,"

"Setiap orang yang hamil, harus terikat dengan orang yang menghamilinya. Dengan kata lain, apabila Luhan hamil, ia harus menikah dengan Shixun," Raja Lu menyela perkataan Raja Wu dan menatapnya.

"Benar. Selain itu ada pernyataan Dewa yang lain, yaitu 'apabila seorang manusia mengandung tanpa terikat dengan siapapun, maka ia akan menjadi orang yang dikutuk Dewa selama masa hidupnya dan keturunannya'. Bukan begitu, Lu Gang? Aku yakin, kau tidak menginginkan Pangeran Lu untuk menjadi orang seperti itu,"

"Kau benar, Wu Guan. Aku juga mengingat pernyataan Dewa, bahwa 'setiap titipan Dewa yang lahir akan memberi kebahagiaan dan menangkis semua petaka'. Tapi, aku ragu, Wu Guan," ucap Raja Lu.

"Apa yang kau ragukan, saudaraku? Seperti yang kau katakan barusan tentang pernyataan Dewa, apabila anak yang dikandung Pangeran Lu lahir, kelahirannya yang akan menangkis semua petaka. Marilah kita terus berdoa yang terbaik. Agar apapun keburukan yang terjadi pada kerajaan kita, Dewa akan bantu menangkis semua itu,"

"Kau benar, Wu Guan. Kita harus berpikir sesuai dengan kenyataan apa yang telah terjadi saat ini. Keadaan putraku pun tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan petuah nenek moyang. Sungguh, aku siap apabila sesuatu yang buruk terjadi pada Kerajaan Lu. Tapi demi putraku, Luhan, aku sungguh berserah pada Dewa," Raja Lu merendahkan pandangannya. Ia menunduk.

"Aku pun siap apabila sesuatu terjadi pada Kerajaan Wu. Aku berserah pada Dewa. Kita akan saling membantu, Lu Gang," ucap Raja Wu.

"Kau benar, Wu Guan. Tapi pernikahan antara putraku dan putra keduamu hanya akan terjadi apabila Luhan hamil. Walaupun aku yakin benar, Luhan akan hamil. Baiklah kalau begitu. Aku harap kita bisa tetap bersaudara ke depannya, Wu Guan," Raja Lu berdiri dari duduknya, diikuti oleh Raja Wu.

"Akupun berharap seperti itu, Lu Gang,"

Setelah pembicaraan mereka berakhir, keduanya keluar dari tempat pertemuan. Tanpa menunggu lama, Raja Lu memerintahkan salah satu dari kedua pengawal yang berjaga di depan pintu untuk memberikan amanatnya kepada Kepala Pengawal. Ia beramanat untuk mengutus beberapa pengawal dan memberi pembatalan atas undangan pernikahan Pangeran Lu dan Pangeran Wu kepada seluruh orang istana dan masyarakat kerajaan sekarang juga.

Raja Lu dan Raja Wu terus berdoa kepada Dewa di dalam hati supaya kerajaan mereka tetap selamat, karena mereka adalah Raja yang bertanggung jawab. Keduanya berjalan bersama menuju suatu tempat setelah selesai dengan pertemuan itu. Meninggalkan ruang pertemuan milik Raja Lu yang tadi menjadi saksi bisu pembicaraan mereka. Juga, seorang pengawal yang ternyata berpura-pura menjaga tempat pertemuan milik Raja Lu dan dengan cerdiknya menguping semuanya dari awal sampai akhir pembicaraan. Ialah Jingxiu.

.

.

'CTARR'

'CTARR'

"AAARGH!"

'CTARR'

"AAAAAARGH!"

Terdengar suara cambukan yang sangat kencang juga teriakan seseorang yang sangat menyakitkan. Di balik jeruji besi, seorang laki-laki dengan tangan tergantung dan telanjang dada sedang dicambuk oleh seorang pengawal kerajaan. Begitu terlihat jelas bekas cambukan di badan lelaki itu. Namun, sang pengawal tanpa rasa belas kasihan masih terus mencambuk tubuh yang walaupun ditutupi bekas cambukan, masih terlihat atletis itu. Sang lelaki yang dicambuk tidak melakukan perlawanan, ia hanya menerima perlakuan sang pengawal walaupun kelihatannya ia sudah mulai kehabisan tenaga. Kepalanya tertunduk dan terantuk ke kanan dan ke kiri searah dengan cambukan yang ia terima di tubuhnya.

"YANG MULIA RAJA LU DAN RAJA WU DATANG!"

Komando seorang pengawal yang melihat Raja Lu dan Raja Wu datang. Mereka mengunjungi penjara bersama beberapa pengawal. Penjara yang sempit, berhawa dingin, dan sedikit penerangan itu tidak mencegah mereka untuk menemui seseorang di dalam penjara itu. Seluruh kegiatan terhenti hanya untuk memberi hormat kepada keduanya. Termasuk cambukan yang tadi dilakukan oleh pengawal kepada seorang lelaki. Setelah sampai di sel yang mereka inginkan, Raja Lu buka suara.

"Kau, Wu Shi Xun, kami ingin bicara denganmu,"

.

TBC

.

Anyeong, yeorobun~ Zhao again. Hehehe.

Nah, ngomong-ngomong tentang Chapter ini, muncul cast baru, ya. Siapakah gerangan? Pasti udah ketauan, lah, ya. Munculnya pas banget sama tanggal ulang tahunnya. Happy birthday, Piao Chan Lie (Park Chanyeol). Semoga makin panjang...umurnya. XD

So, gimana chapter ini? Masih kurang panjang? Udah bukan rahasia lagi, ya, kalo Zhao emang akut banget penyakit TBC-nya. Bisa ditebak, deh, abis ini pasti banyak yang doain Zhao supaya bisa cepet sembuh dari penyakit TBC di kolom Review. Hehe. Gomawo, chagi-deul/? Semoga kalian tetap mendoakan Zhao supaya penyakit Zhao cepat hilang^^.

Yang paling mencolok dari review chapter kemarin, selain word-nya kurang panjang, yaitu cara ketawanya Shixun. Zhao nggak menyangka itu yang menjadi sorotan. Zhao juga nggak bisa bayanginnya si Shixun bisa ketawa jahat banget kaya yang di chapter kemaren. Mungkin terlalu OOC. Sekali-sekali biar dia seneng. Tapi sekalinya seneng malah langsung dicambuk. :P Mian Shixun.

Ok deh, langsung aja. Thanks for your reviews, dear. As I wrote on my replies for your reviews, "I really appreciate it,". Ya, itu karena Zhao memang benar-benar menghargai review kalian. Karena dengan review atau sekedar tanggapan, seorang 'writer' -or in this case I can say 'author'- akan merasa dihargai. :) I am in love with your reviews, all. Semuanya jadi mood maker Zhao. Bikin semangat banget. Sesuatu, gitu. Hehe. Saranghae. As usual, Zhao balas di PM, ne :) Let's check it out.

Last, untuk chapter ini jangan lupa respons dan review kalian, sayang. 1 review akan menambah 1 kata untuk chapter depan. XD #apaini

See you next chapter. :) I love you. Wo ai ni men...

.

Salam Cinta,

HUNHAN