WRONG DESTINY

Chapter 8

By

Mgr. Zhao

Cast : EXO member, ex-EXO, and other

Pairing : HunHan-KrisHan

Rate : M, M-Preg Contains

Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin

.

.

"Kau, Wu Shi Xun, kami ingin bicara denganmu,"

Suara Raja Lu menggema di lorong penjara yang kini sepi karena kedatangannya bersama dengan Raja Wu. Raja Lu berdiri tegap dan angkuh di depan sel dimana Shixun sedang menjalani hukuman cambuknya. Tatapannya begitu mematikan seakan ia bisa menelan Shixun yang mulai mengangkat kepala ketika mendengar namanya dipanggil. Namun, bukan Shixun namanya jika takut dengan tatapan seperti itu. Ia bahkan menatap Raja Lu yang tadi memanggil namanya dengan lebih menusuk lagi. Arah tatap Shixun membawa matanya untuk melihat sang Ayah, Raja Wu, yang berdiri di samping Raja Lu sambil menatap dirinya begitu penuh rasa kecewa. Namun Shixun, malah tersenyum meremehkan.

"Huh, aku merasa terhormat dikunjungi di penjara oleh dua orang yang TERHORMAT,"

Tanpa diberi tahu, siapapun orang yang mendengar perkataan Shixun pasti menganggap Shixun mengejek kedua orang di depannya.

"Pengawal, lepaskan rantai di tangannya,"

"Baik, Yang Mulia,"

Sahutan kepatuhan dari seorang pengawal terdengar ketika Raja Lu memberi perintah. Tepat setelah menjawab, sang pengawal langsung melepaskan rantai di tangah Shixun yang sedari tadi menggantung dirinya, kemudian mendudukkannya di dipan yang terletak di sudut ruangan.

"Aku dan Raja Wu akan berbicara dengan Wu Shi Xun,"

Suara tegas Raja Lu membuat semua pengawal dan penjaga penjara mematuhi perintah tersiratnya yaitu meninggalkan dirinya dan Raja Wu untuk berbicara dengan sang tahanan, Wu Shi Xun. Pengawal yang mencambuk Shixun pun ikut keluar setelah membukakan pintu sel untuk kedua raja. Setelah semua pengawal meninggalkan sel, kedua raja langsung masuk ke dalam sel tahanan Shixun. keduanya mendekati Shixun yang terduduk tertunduk di dipan.

5 menit pertama, ketiganya hanya diam tanpa bicara. Raja Lu hanya menatap lelaki di depannya, Wu Shi Xun, dengan tatapan benci. Sangat terlihat dari raut wajah sang raja, bahwa ia masih belum memaafkan Shixun atas kesalahannya. Begitupun dengan Raja Wu, ia menatap anaknya dengan penuh kekecewaan. Pastilah begitu. Anak yang ia didik agar menjadi berguna, malah membuat masalah dan mempermalukan kerajaannya sendiri. Sedangkan Shixun? Ia hanya duduk menundukkan tubuhnya. Bukan karena ia menyesal atau menunjukkan rasa hormat terhadap dua orang di depannya. Ia hanya bertingkah seolah-olah tidak ada orang di depannya.

"Kami akan menikahkanmu dengan Pangeran Lu,"

Suara Raja Wu terdengar. Rupanya ia mengerti bahwa kediaman Raja Lu semenjak tadi adalah tanda bahwa ialah yang harus menjelaskan semuanya kepada Shixun. Raja Lu berpikiran, Raja Wu adalah ayah Shixun. Sebagaimana yang sudah dikatakan Raja Wu sebelumnya ketika di ruang pertemuan bahwa Raja Wu akan mendidik Shixun lebih baik lagi. Raja Lu ingin melihat bagaimana cara Raja Wu mendidik Shixun sekarang juga.

"APA!?"

Tepat setelah sang ayah menyelesaikan kalimatnya, Shixun langsung bertanya dan bangun dari duduknya. Ia sangat kaget dengan apa yang ayahnya katakan.

"Apa maksudmu!?"

"Kau harus menikah dengan Pangeran Lu, Shixun. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu," Raja Wu menjawab pertanyaan Shixun.

"Menikah!? Apa-apaan!? Bahkan aku tidak mencintainya. Aku tidak sudi menikah dengannya!" diluar dugaan Raja Wu, Shixun malah menolak mentah-mentah pernikahannya dengan Luhan. Shixun terlihat sangat emosi. Ia sama sekali tidak ingin menikah dengan Luhan. Ia hanya ingin membatalkan pernikahan Luhan dengan Wufan yang akhirnya bisa menghancurkan kerajaan. Bukan. Ini bukan rencana Shixun. Cukup mereka batalkan pernikahan Wufan dan Luhan, lalu kerajaan hancur. Bukan ia yang harus menikah dengan Luhan.

"Untuk apa aku menikahinya? Ia akan ikut hancur bersama dengan kerajaan kalian! TIDAK ADA YANG BISA DIHARAPKAN DARI PERNIKAHANKU DENGANNYA!" Shixun membentak. Ia mulai mengeluarkan amarahnya. Namun sebelum Raja Wu bicara untuk menasehati Shixun, ia lebih dulu menolehkan kepalanya kepada Raja Lu dan menatapnya seakan ingin membunuh.

"Oh, aku tahu. Pasti karena lelaki ini!" Shixun menunjuk wajah Raja Lu.

"Kalian pasti merencanakan sesuatu, bukan!? APA LAGI YANG KALIAN RENCANAKAN!?"

"Wu Shi Xun...," Raja Wu menyela.

"Kalian tidak perlu merencanakan apa-apa lagi. Hey, pak tua. Lebih baik kalian menyimpan tenaga di tubuh yang sudah bau tanah itu dan duduklah di kursi goyang untuk mempersiapkan KEHANCURAN KERAJAAN KALIAN! Aku hanya ingin menghancurkan kerajaan kalian dengan menggunakan Luhan sendiri sebagai penghalangnya. BUKAN AKU YANG HARUS MENIKAH DENGAN LUHAN! AKU TIDAK SUDI MENIKAH DENGAN ANAK DARI ORANG YANG SAMA KEPARATNYA DENGAN WU YI GUAN!" Shixun berbicara dengan suara tinggi tepat di depan wajah Raja Lu. Namun Raja Lu tidak gentar, ia tetap menatap mata Shixun yang sekarang sudah seperti singa yang buas dan menyalang.

"Kalau kau tidak mau, aku akan tetap menikahkan anakku dengan Pangeran Pertama Wu,"

Kata-kata datar Raja Lu sontak membuat Shixun berhenti berbicara dan membatu. Shixun menatap Raja Lu penuh keheranan. Raja Wu ikut bingung. Namun ia yakin Raja Lu pasti punya tujuan dengan mengatakan hal itu.

Raja Lu rupanya sudah mengetahui tujuan utama dari perbuatan Shixun kepada Luhan. Bahkan ia tahu dari Shixun sendiri. Shixun sendiri yang mengatakannya tadi. Hal itu membuat Raja Lu yang tadinya sudah jengah terhadap Shixun, menjadi bertambah jengkel.

'Anak keparat ini bagaikan binatang yang tidak menggunakan akal dalam setiap lakunya,' ucap Raja Lu dalam hati. Ia sudah mengetahui bahwa Shixun menggunakan Luhan, anaknya, untuk mencapai tujuannya sendiri. Bagaikan binatang, Shixun tidak berperasaan. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Itulah Shixun dimata Raja Lu. Shixun meraih kepuasan birahinya juga hasil yang akan didapatnya yaitu kehancuran kerajaan dengan memperkosa Luhan. Sungguh brengsek.

Tapi, semakin cerdik perampok, tentu polisi mempunyai cara lain yang lebih cerdik untuk menangkapnya. Sebagai raja, Raja Lu tidak hanya berpengalaman dalam perang, ia juga terkenal atas kebijakan dalam kata-katanya. Raja Lu memberikan satu tohokan bagi Shixun ketika ia mengatakan akan tetap menikahkan Luhan dengan Wufan apabila Shixun tidak menerima pernikahannya. Dugaan Raja Lu, apabila Shixun benar hanya ingin kerajaan hancur, maka Shixun juga akan menentang pernikahan Luhan dengan Wufan. Bagi Shixun akan percuma ia memperkosa Luhan tapi ia tidak mendapat tujuan utamanya. Kemudian setelah itu, Shixun akan menerima pernikahannya dengan Luhan. Tinggal menunggu saja kata-kata Shixun yang menerima pernikahan dirinya dengan Luhan keluar dari mulutnya sendiri.

Tentu saja hal ini akan gagal apabila Shixun termasuk orang yang sering membaca kitab dan mengerti bahwa pernikahan dan kelahiran titipan Dewa akan menangkis petaka. Tapi dilihat dari watak Shixun, ia bukan seorang ahli kitab atau bahkan ia pasti tidak pernah membaca kitab. Raja Lu semakin yakin dan terus memojokkan Shixun.

"Kau menolak, bukan? Aku akan tetap menikahkan Pangeran Lu dengan Pangeran Pertama Wu. Kau tahu apa artinya itu, anak muda?" dengan suara dingin, Raja Lu bertanya kepada Shixun. Dan, SKAKMAT. Tinggal menunggu pion milik Raja Lu melangkah memakan pion Raja milik Shixun. Dengan melihat raut wajah Shixun dan matanya yang bergerak tak beraturan, Raja Lu sudah tahu bahwa ia 'menang'.

Di dalam hati, Shixun terus memikirkan perkataan Raja Lu. Jika Shixun menolak pernikahan Luhan dengannya, maka Luhan tetap akan menikah dengan Wufan. Shixun pasti sudah tahu artinya apabila Luhan tetap menikah dengan Wufan. Shixun berpendapat bahwa Luhan tidak mungkin hamil. Tapi, Shixun tahu bahwa lelaki yang 'diberkahi' pasti akan mengandung setelah melakukannya untuk pertama kali. Sial! Shixun terperangkap.

"Diam berarti setuju. Aku akan meneruskan hukumanmu dan akan menyelanggarakan pernikahan mereka seperti rencana awal. Terimakasih atas waktumu, Wu Shi Xun," kata Raja Lu sambil membalikkan badan. Bertingkah seolah ia akan meninggalkan Shixun.

"Tunggu! Aku...menerima pernikahan itu," Shixun berkata dengan cepat bahkan sebelum Raja Lu benar-benar membalikkan badannya. Raja Lu menghentikan langkanya dan tersenyum. Pion Raja milik Shixun sudah benar-benar dimakan oleh pion prajurit miliknya.

.

Bulan tidak menyinari bumi pada malam yang dingin ini. Ia berganti tugas dengan rintik hujan yang menjatuhi bumi semakin deras semenjak 30 menit yang lalu. Sepertinya langit sedang bersedih. Seperti suana hati seorang pangeran bertubuh tinggi yang sekarang sedang berada di dalam kamar menginapnya. Terduduk di bawah jendela dengan kepala tertunduk sambil menggenggam erat sebuah gulungan indah terbuat dari kain berserat halus berwarna putih gading, dan dari pita berwarna merah yang tergeletak di samping sang lelaki, mungkin tadinya gulungan tersebut diikat dengan pita itu.

Lelaki itu terlihat frustasi. Walaupun tidak ada bekas air mata di pipinya, matanya menyiratkan kesedihan yang sangat. Ia membuka gulungan yang ia genggam entah untuk yang keberapa kalinya. Ia membaca dua nama yang tertulis indah di sana.

'Wu Yi Fan'

'Lu Han'

Wufan tidak memperdulikan tulisan lain yang tertulis di gulungan itu. Karena semua kata-kata di dalam gulungan yang merupakan undangan pernikahannya itu hanya membuat dirinya sakit hati dan kecewa. Ia ingin menangis, namun ia berpikir positif bahwa semua yang terjadi adalah demi kebaikan Luhan.

'Maafkan aku, Pangeran Wu Yi Fan. Kelihatannya kita tidak bisa melanjutkan pernikahanmu dengan anakku, Pangeran Lu. Kau tentu sudah mengetahui semuanya. Ini semua demi kebaikkan kita semua,'

'Wufan, anakku. Kami melakukan ini bukan tanpa alasan. Semuanya tertulis di kitab. Kau pasti tahu semua pernyataan Dewa tentang titipannya dan apa yang terjadi jika dua manusia yang telah dititipkan tidak menikah,'

Terngiang kata-kata yang tadi sore dikatakan oleh Raja Lu dan ayahnya sendiri kepada dirinya. Pembatalan atas pernikahannya dengan Luhan, terlebih lagi Luhan akan dinikahkan dengan adiknya sendiri apabila Luhan hamil. Hatinya begitu sakit. Walaupun Luhan hanya akan dinikahkan dengan Shixun bila ia hamil, Wufan tahu betul Luhan akan hamil. Itu sudah pasti. Hal itu menambah luka di hati Wufan. Seperti luka terbuka yang disiram oleh air garam. Terasa perih dan menyakitkan.

Wufan menyandarkan kepalanya ke dinding di belakangnya. Ingin ia mengumpat kepada Dewa. Kenapa Dewa tak membiarkan dirinya bahagia bersama orang yang ia cintai. Padahal Wufan sudah sangat yakin kepada Luhan. Ia yakin apabila ia menikah dengan Luhan, ia pasti bisa membina rumah tangga yang harmonis nantinya, walaupun mereka hanya dijodohkan pada awalnya. Wufan berpikir Dewa begitu kejam. Menanam bunga kebahagiaan di hatinya, memberinya pupuk, tapi pada akhirnya Dewa mencabut paksa bunga itu.

Wufan sedih saat melihat keadaan Luhan saat ia ditemukan di kamar adiknya. Ia begitu emosi ketika tahu apa yang adiknya lakukan pada Luhan. Ia sangat khawatir ketika Luhan dibawa oleh pengawal ke kamarnya sendiri. Ia selalu berdoa keselamatan dan kebaikan bagi Luhan walaupun ia tidak di samping Luhan. Tapi yang ia dapat malah hantaman batu besar. Ayahnya dan Raja Lu tiba-tiba ingin bertemu dengan dirinya sore tadi. Mereka membicarakan keadaan Luhan pada awalnya. Wufan sangat lega dan kecewa pada akhirnya karena mendengar kabar mengenai Luhan.

Namun tidak hanya sampai disana kekecewaan Wufan. Raja Lu mengatakan bahwa pernikahannya dengan Luhan tidak bisa diteruskan dan Luhan harus menikah dengan Shixun. Ayahnya juga berkata sedemikian rupa. Wufan tidak bisa menolak hal ini. Ia mengerti apa yang ayahnya katakan mengenai pernyataan Dewa yang tertulis di kitab. Ia tahu akan hal itu. Ia tidak mungkin tega Luhan menjadi orang yang dikutuk. Ia mencintai Luhan. Ia ingi Luhan tetap bahagia. Walaupun dirinya yang tersakiti.

"Luhan, aku begitu mencintaimu,"

Tidak pernah Wufan merasakan cinta pada pandangan pertama. Hanya pada Luhan ia merasakan hal itu. Begitu cepatnya Wufan jatuh hati pada Luhan. Begitu cepat juga Luhan direnggut darinya.

"Kau sedang apa, Xiao Lu? Apa kau sudah baikan? Apa kau memikirkan diriku seperti aku memikirkan dirimu sekarang?"

Wufan berbicara pada dirinya sendiri. Hatinya begitu rindu dengan Luhan.

"Mungkin tidak ada salahnya aku menemuimu sekarang,"

Seperti kata Wufan barusan. Ia ingin menemui Luhan. Ia cepat-cepat bangkit dari duduknya dan segera mengambil mantelnya. Ia mengambil payung miliknya sendiri dan keluar dari kamar.

"Yang Mulia Pangeran, anda ingin kemana? Hujan begitu deras. Biarkan hamba mendampingi Pangeran," seorang pengawal yang menjaga pintu kamar Wufan langsung sigap begitu Pangerannya keluar dari kamar.

"Tidak perlu, Pengawal Kai. Aku bisa pergi sendiri. Aku hanya ingin ke kamar Pangeran Lu. Mungkin agak lama. Sampaikan saja hal itu apabila ada yang mencari diriku. Teruslah berjaga disini," kata Wufan cepat.

"B-baik, Yang Mulia Pangeran," jawab sang pengawal bernama Kai itu.

Wufan langsung membuka payungnya begitu ia berada di pinggir teras dan berjalan cepat menuju kamar Luhan. Tidak ia pedulikan hujan yang begitu deras dan kilat yang menyambar. Basah sedikit tak apa. Asal ia bisa bertemu dengan Luhan dan mengetahui keadaannya. Tak butuh waktu lama, Wufan sampai di depan kamar Luhan. Dua pengawal yang kini berjaga di depan kamar Luhan langsung menyambutnya dengan salam hormat setelah Wufan menaruh payungnya.

"Aku ingin menjenguk Pangeran Lu," ucap Wufan kepada kedua pengawal.

"Hamba perlu meminta izin kepada Yang Mulia Permaisuri di dalam atas keperluan anda, Pangeran Wu," jawab salah seorang pengawal, yang sudah Wufan kenal, yaitu Jingxiu.

"Baiklah, tidak masalah. Aku akan menunggu disini,"

Setelah Wufan menjawab, Jingxiu langsung masuk ke dalam kamar Pangeran Lu dan menyampaikan kepada Permaisuri bahwa Pangeran Wu ingin menjenguk Pangeran Lu. Permaisuripun langsung menuju keluar sebelum memperbolehkan Wufan masuk.

"Selamat malam, Yang Mulia Permaisuri. Salam hormat hamba," Wufan memberikan salam hormat kepada Permaisuri yang keluar kamar Luhan.

"Ada apa kau kesini, Pangeran Wu?" Permaisuri bertanya.

"Hamba ingin menjenguk Pangeran Lu, Yang Mulia. Alangkah bahagianya hamba apabila bisa mengetahui bagaimana keadaanya sekarang. Tapi, itu hanya jika Yang Mulia memberikan hamba izin," Wufan berkata dengan tidak mengurangi kesopanannya sama sekali. Bahkan ia menyebut dirinya dengan 'hamba'. Namun, Permaisuri Lu hanya terdiam menatap Wufan. Wufan yang merasa ia tidak diizinkan bertemu dengan Luhan akhirnya bicara lagi.

"Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Hamba mengerti Yang Mulia Permaisuri pasti tidak memberikan hamba izin karena masalah dengan keluarga hamba tadi pagi. Maafkan hamba, Yang Mulia Permaisuri. Kalau boleh, sampaikan salam hamba untuk Pangeran Lu. Hamba mohon undur diri. Hormat hamba, Yang Mulia," Wufan berkata dengan nada kecewa dan menunduk ketika memberikan hormatnya. Namun ketika ia beranjak untuk mengambil payungnya, suara seorang wanita memanggilnya.

"Pangeran Wufan,"

"Hamba, Permaisuri," Wufan yang merasa namanya dipanggil membalikkan kembali badannya dan menundukkan kepala ketika berhadapan kembali dengan Permaisuri Lu.

"Suamiku sudah menjelaskan semuanya kepadaku. Aku percaya padamu. Aku rasa Pangeran Lu juga membutuhkanmu. Masuklah,"

Setelah mengatakan hal itu, Permaisuri kembali masuk ke dalam kamar Pangeran Lu setelah pintunya dibukakakn oleh pengawal. Ia memanggil tabib istana juga dua seorang dayang yang sedari tadi bersamanya untuk keluar dari kamar Luhan. Memberikan privasi kepada Wufan dan Luhan. Wufan pun memberikan salam hormat ketika Permaisuri Lu meninggalkan kamar Luhan. Tanpa menunggu lama, ia langsung masuk ke dalam kamar Luhan dan menutup pintunya kembali.

Ia mendekatkan dirinya ke ranjang di tengah ruangan. Ia melihat seseorang terduduk di ranjang itu, melihat ke arahnya. Wufan mempercepat langkahnya mendekati ranjang berkelambu itu dan memeluk sosok yang ia rindukan.

"Luhan,"

"Wufan,"

Kedua berpelukan begitu erat. Melepaskan rasa rindu yang membuncah memenuhi hati keduanya. Untuk beberapa menit mereka menikmati kehangatan yang tercipta. Menghirup wangi tubuh pasangannya yang membuat kenyamanan di dalam hati mereka. Bahkan Wufan mencium kening Luhan dan Luhan pun membiarkan hal itu terjadi. Melupakan dinginnya angin dan derasnya hujan diluar.

"Aku merindukanmu, Xiao Lu," ucap Wufan sambil tetap memeluk Luhan.

"Aku juga merindukanmu, Wufan. Sangat merindukanmu. Aku...aku takut, Wufan. Aku takut," Luhan makin mengeratkan pelukannya pada Wufan. Ia merasakan ketakutan yang sangat. Ia pasti masih trauma dengan kejadian yang menimpanya. Wufan yang mengingat hal itu mengepalkan tangannya menahan amarah.

"Tenanglah, Lu. Aku ada di sini. Aku melindungimu," Wufan membalas pelukan erat Luhan dengan belaian lembut pada rambut Luhan. Ia mengucapkan hal itu dengan sepenuh hati. Ia benar-benar akan melindungi Luhan. Walaupun ia tahu semuanya sudah terlambat.

"Rasanya sakit, Wufan. Hiks... Aku takut ia melakukan itu lagi kepadaku. Sakit...hiks... Ia mengikat tanganku, menyumpal mulutku, lalu dia...dia...hiks...," Luhan berkata dengan nada menyakitkan. Ya, menyakitkan bagi Wufan karena ia pasti tahu siapa yang Luhan bicarakan, dan ia tahu apa yang telah dilakukan adiknya itu kepada Luhan. Bahkan dari mulut Luhan sendiri sekarang.

Luhan menangis sejadi-jadinya di pelukan Wufan. Ia menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Sedangkan Wufan hanya mendengarkan. Sesekali ia akan menanggapi dan menghapus air mata Luhan yang terus berjatuhan seiring ia berbicara. Perasaan panas di hati Wufan yang tadinya suda reda malah meluap kembali karena mendengarkan kenyataan sebenarnya dari Luhan. Ia tentu sudah mendengarkan semua dari orang-orang, ayahnya, bahkan Raja Lu sendiri. Tapi hal ini sangat berbeda. Seperti halnya penyelidikan, saksi dari korban sangatlah berarti.

Wufan terus mendengarkan sampai Luhan selesai bercerita dan mengambilkan minum untuk Luhan yang masih sesenggukkan juga menghapus bekas air mata di pipi Luhan dengan sapu tangan lembut di samping ranjang Luhan.

"Aku takut ia akan melakukan itu lagi padaku...hiks... Tapi...tapi...setelah kita menikah nanti, kau tidak akan membiarkan ia menggangguku lagi, kan, Wufan?"

Luhan bertanya sambil menatap Wufan. Wufan terpaku dengan pertanyaan Luhan. Banyak pertanyaan dalam hatinya. Ia bingung. Kenapa Luhan masih membahas pernikahan mereka? Apakah Luhan tidak tahu bahwa pernikahan mereka dibatalkan bahkan utusan kerajaan sudah membatalkan undangan yang sudah disebar ke seluruh penjuru? Apakah Luhan tidak mengetahui bahwa ia akan dinikahkan dengan Shixun, adiknya? Apakah Permaisuri belum memberitahukan hal ini kepada Luhan? Ataukah semua orang sengaja merahasiakan hal ini dari Luhan?

"Wufan?"

"E-eh, iya. Tentu. Aku...aku pasti akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan ia berlaku kasar lagi padamu,"

Pertanyaan Luhan yang tiba-tiba tadi membuat Wufan tersadar dari lamunannya dan menjawab seperti yang kata hatinya inginkan. Ia memutuskan untuk mengikuti Luhan yang tidak tahu menahu tentang masalah pembatalan pernikahan mereka. Mungkin Permaisuri belum memberi tahu Luhan karena Luhan juga belum pulih secara fisik dan psikis. Ia pasti sangat menjaga perasaan anaknya. Begitu pula Wufan ingin berlaku. Ia tidak mungkin menyakiti Luhan secara langsung saat ini dengan memberitahukan yang sebenarnya. Lebih baik seperti ini dulu. Wufan berencana akan menemui Permaisuri setelah ini.

"Kenapa kau panik begitu?"

"Tak apa. Tapi aku bersungguh-sungguh, Xiao Lu. Jika ia berani melakukan itu, aku akan menghukumnya mati," ucap Wufan kemudian.

"Kau tidak akan membunuhnya, Wufan. Tidak akan. Karena ia tidak akan berhasil melakukan itu padaku. Karena...karena akan ada kau yang selalu di sampingku nanti," lagi. Luhan memeluknya lagi.

Wufan bertambah bimbang mendengar penuturan Luhan. 'Karena akan ada kau yang selalu di sampingku nanti', begitu kata Luhan. Namun, Wufan bermonolog sendiri dalam hatinya.

'Xiao Lu, yang akan selalu berada di sampingmu nanti adalah Shixun. Aku tidak mungkin bisa memisahkan kalian berdua karena kalian sudah terikat. Seharusnya memang ia yang melindungimu. Pada saat kalian sudah benar-benar terikat, jika ia berani melakukan hal yang kasar dan tidak pantas padamu, aku bersumpah, aku akan membunuhnya!' kata Wufan dalam hati.

.

Dua minggu telah berlalu semenjak kejadian pemerkosaan yang menimpa Luhan. Semua kegiatan di kerajaan berjalan dengan biasa saja. Semua aktivitas sudah berjalan seperti semula. Keadaan pun mulai normal.

Pagi ini cuaca agak mendung. Cahaya matahari hanya sedikit mengintip di balik awan hitam. Udara yang biasanya membawa bau embun bersamanya, kali ini juga membawa bau air. Kelihatannya akan hujan. Meskipun begitu, keadaan tidak meredupkan semangat orang-orang yang melakukan pekerjaannya pagi hari. Orang-orang mulai mempersiapkan mantel dan payung lebih banyak dari biasanya, juga makanan lebih agar mereka tidak perlu keluar untuk membeli makanan apabila mereka lapar mendadak di saat hujan. Kerajaan juga mulai mengeluarkan persediaan kayu mereka yang bisa dibakar untuk penghangat ruangan. Para dayang akan mempersiapkan pakaian hangat dan mantel hujan untuk seluruh penghuni istana. Permulaan musim hujan sudah membuat beberapa orang mengalami gejala flu dan demam karena perubahan musim.

"Huwekk...huwekkk...,"

Terdengar suara seseorang sedang mengeluarkan isi perutnya di dalam kamar mandi Pangeran. Orang itu adalah si Pangeran sendiri. Sejak semingu lalu, Pangeran Lu merasa ia tidak enak badan ketika bangun pada pagi hari. Ia selalu merasa ingin muntah saat ia selesai meneguk air putih yang disiapkan dayang untuknya. Perutnya begitu terasa penuh. Tapi ketika ia memuntahkannya, yang keluar hanya sedikit cairan. Setelah itu, tidak ada. Beberapa detik setelah ia selesai dan akan beranjak keluar dari kamar mandi, ia kembali merasakan mual dan muntah kembali. Tapi tetap saja, tidak ada yang keluar dari perutnya.

"Kau baik-baik saja, Pangeran Lu, anakku?" tanya sang Permaisuri ketika ia sampai di kamar Pangeran Lu tepat ketika Pangeran keluar dari kamar mandinya. Sang Permaisuri membantu Luhan berjalan karena melihat anaknya sangat lemas.

"Aku baik-baik saja, Bu. Aku hanya merasa sedikit tidak enak badan. Mungkin pengaruh cuaca," jawab Luhan sebisanya dan mengikuti Permaisuri yang mendudukkan dirinya di ranjang kembali.

"Ini sudah dari seminggu yang lalu, anakku. Tidak biasanya kau sakit saat pergantian musim. Wajahmu pucat. Kau harus sarapan. Biar ibu yang suapi, ya?"

"Hmm," Luhan menjawab ibunya.

"Dayang Hwang, cepat ambilkan bubur dan obat untuk Pangeran. Dayang Wei, panggilkan Tabib Yang ke sini,"

Sang Permaisuri langsung sigap memberi perintah kepada dayang untuk mengambilkan sarapan dan memanggil tabib untuk anaknya. Sang Permaisuri sebenarnya bingung. Luhan tidak biasa sakit saat pergantian musim. Wajah pangeran sangat pucat. Permaisuri selalu menyentuh kening Pangeran untuk memeriksa suhu tubuhnya. Siapa tahu terasa panas yang menunjukkan bahwa ia demam atau masuk angin. Tapi Permaisuri tidak merasakan hal itu.

"Kenapa harus memanggil tabib juga?"

"Kau harus diperiksa. Ibu tidak mau apa-apa terjadi padamu. Sudah dari seminggu lalu kau selalu menolak untuk diperiksa tabib. Minumlah dulu, nak," Permaisuri memberikan segelas air putih yang ia isi kembali untuk diminum anaknya. Ia menyadari pasti cairan yang sudah masuk ke tubuh Luhan keluar lagi karena Luhan muntah tadi. Ia memandang anaknya dengan sabar ketika ia meminum air itu.

"Bu, aku ingin muntah lagi," ucap Luhan ketika selesai meminum air.

"Ibu antarkan ke kamar mandi," kata Permaisuri sambil mengantarkan Luhan ke kamar mandi setelah meletakkan gelas.

"Apa yang terjadi padamu, nak? Padahal semalam kau makan dengan menu seperti biasanya," tanya Permaisuri sambil memijat tengkuk Luhan yang berusaha mengeluarkan isi perutnya lagi.

Selesai dari kamar mandi, mereka kembali ke kamar. Ketika Luhan duduk kembali di ranjang, Permaisuri membelai rambut anaknya itu. Permaisuri mulai panik. Kenapa Luhan begini? Sudah seminggu dan terjadi setiap hari. Muntah-muntah padahal ini masih pagi dan perutnya belum diisi makanan sejak makan malam. Hanya air putih, dan itupun dimuntahkan lagi. Wajah Luhan pucat. Awalnya Permaisuri menyangka Luhan demam, tetapi ia tidak merasakan panas di kening Luhan ketika ia menyentuhnya. Apalagi Luhan sama sekali belum pernah sakit di pergantian musim seperti ini. Sama seperti dirinya.

'Tunggu. Waktu itu aku pernah merasa sakit di pergantian musim, dan akhirnya setelah di periksa tabib...aku...,' Permaisuri berbicara dalam hati. Ia langsung melihat ke arah Luhan di pelukannya dengan pandangan gelisah. Kemudian ia menggelengkan kepala.

"Bu, aku belum mengerti kenapa pernikahanku dan Wufan ditunda?" Luhan bertanya dan hal itu membuat Permaisuri bingung menjawabnya. Sebenarnya ini bukanlah kali pertama Luhan menanyakan hal ini. Permaisuri mengingat pertanyaan yang sudah Luhan tanyakan sejak malam sebelum pernikahannya seharusnya dilaksanakan.

'Bu, kenapa tidak ada yang mempersiapkan apapun? Besok aku menikah, kan?'

'Bu, kenapa pagi ini biasa saja? Aku harusnya menikah pagi ini,'

'Kenapa ditunda? Apakah ada yang terjadi di kerajaan?'

'Ditunda sampai kapan? Apakah Wufan juga tahu hal ini?'

Semua dari pertanyaan itu, Permaisuri hanya menjawab sebisanya. Permaisuri tentu tahu bagaimana hasil perundingan suaminya dengan Raja Wu atas masalah yang disebabkan oleh Pangeran Muda Wu kepada anaknya. Karena perundingan itulah ia diperintahkan oleh suaminya untuk jangan memberi tahu Luhan terlebih dahulu sampai pernikahan antara dirinya dan Wu Shi Xun akan dilaksanakan, dengan alasan mencegah Luhan untuk melakukan hal yang tidak diinginkan. Seperti kabur, atau yang lebih buruk, mencoba membunuh bayinya atau dirinya sendiri.

"Bu? Kenapa tidak menjawab?" pertanyaan Luhan memecah lamunan Permaisuri. Kembali ia bingung menjawab pertanyaan anaknya.

"Itu...em...,"

"Permaisuri, ini bubur dan obat untuk Pangeran Lu. Hamba membawa Tabib Yang ke sini,"

"A-ah, Tabib Yang. Aku minta tolong bantuanmu untuk memeriksa keadaan anakku. Ia mual-mual terus sejak tadi,"

Permaisuri bernafas lega bisa menghindari pertanyaan anaknya mengenai hal yang sangat tidak ingin ia bahas. Ia langsung mengalihkan perhatian dengan memanggil Tabib Yang untuk memeriksa Luhan.

"Baik, Yang Mulia Permaisuri. Hormat hamba, Pangeran. Izinkan hamba memeriksa pergelangan tangan Pangeran," ucap sang tabib yang telah berada di samping ranjang Pangeran.

"Silakan," jawab Luhan sambil mengulurkan tangan kirinya. Dengan sigap namun lembut, sang tabib langsung memegang tangan itu dengan tangan kiri, dan menggunakan dua jari tangan kanannya untuk memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Pangeran. Setelah beberapa detik, ia melepaskan tangan itu dan meletakkan tangannya di kening kemudian di leher Pangeran untuk memeriksa suhu tubuhnya.

Biasanya Tabib Yang bisa mengetahui ada apa dengan pasiennya hanya dengan menyentuh denyut nadi dan suhu tubuh saja. Tapi kali ini ia kelihatan agak bimbang. Iapun meletakkan tangannya di perut Pangeran dan memejamkan matanya, entah untuk apa. Hal ini membuat Luhan bingung, sekaligus membuat Permaisuri gelisah.

Akhirnya setelah beberapa lama, Tabib Yang menarik tangannya dari perut Luhan. Iapun membalikkan badannya ke arah Permaisuri yang berdiri menunggu di belakangnya. Menunduk hormat setelah itu.

"Ada apa dengan Pangeran, Tabib Yang?" tanya Permaisuri.

"Hormat hamba, Yang Mulia. Hamba mengucapkan selamat, karena Pangeran sedang mengandung," jawab sang tabib tanpa bertele-tele. Perkataannya sontak membuat Luhan terbelalak, ia langsung menyentuh perutnya.

"Apa kau yakin, Tabib Yang?" Permaisuri bertanya untuk meyakinkan. Hatinya berdebar. Ia senang juga panik akan pemberitahuan yang ia dengar.

"Hamba yakin benar, Yang Mulia," jawab tabib pada akhirnya. Jawaban itu membuat Luhan dan Permaisuri bingung. Permaisuri memandang ke arah Luhan yang menunduk dan memegangi perutnya. Sebagai Ibu tentunya ia tahu apa yang sedang dirasakan anaknya.

"Kalau begitu, terimakasih, Tabib Yang. Kau boleh keluar sekarang, aku ingin berbicara dengan Pangeran," kata Permaisuri dengan disertai senyum terpaksa.

"Baik, Yang Mulia,"

Pintu yang ditutup menandakan Tabib Yang sudah keluar dan kini menyisakan Luhan dan Ibunya di dalam kamar. Keadaan tiba-tiba menjadi dingin. Canggung begitu terasa. Luhan tidak bergerak dari tempatnya, begitu pula sang Permaisuri. Luhan masih memegangi perutnya, entah apa yang ia pikirkan. Sedangkan Permaisuri, ia mencari cara bagaimana untuk memulai pembicaraan dengan anaknya.

"Luhan, makanlah buburnya dulu. Ibu suapi, ya?" akhirnya Permaisuri menemukan cara untuk berbicara dengan Luhan. Ia segera mengambil mangkok berisi bubur yang diletakkan dayang di samping ranjang Pangeran. Ia menyendok bubur itu dan mengarahkannya ke mulut Pangeran. Namun, yang terjadi selanjutnya, cukup membuat Permaisuri membatu. Pangeran malah menolehkan kepalanya ke kanan untuk menghindari suapan tersebut.

"Jadi ini?" ia bertanya.

"Apa, nak?" Permaisuri meletakkan kembali sendok itu ke mangkoknya.

"Jadi ini alasannya kenapa pernikahanku dengan Wufan ditunda?" tanya Luhan dengan nada mencekat. Menunggu beberapa detik dan tidak mendapat jawaban dari sang Ibu, Luhan kembali bersuara.

"Kenapa Ibu tidak menjelaskan ini dari awal? Kenapa Ibu tidak mengatakan bahwa pernikahanku ditunda karena...karena aku pasti hamil akibat kejadian itu?"

"Aku bukan orang yang buta akan kitab, Bu. Aku tahu Dewa menyatakan setiap manusia yang diberi titipan harus terikat," Luhan mulai menangis.

"Karena kalian tahu bahwa apabila aku hamil, maka anak yang aku kandung adalah anak Pangeran Muda Wu. Itu artinya aku harus menikah dengan Pangeran Muda Wu, hiks...bukan begitu, Bu?" Luhan bertanya, ia menolehkan kepalanya dan menatap Ibunya. Ia mulai terisak karena kenyataan begitu menyesakkan dirinya.

"Mungkin saja...bahkan mungkin saja pernikahanku dengan Wufan sudah dibatalkan tanpa sepengetahuanku!? Karena...karena kalian sudah menduga hal ini. Ayah juga pasti sudah menduga hal ini, kan, Bu?" Luhan mencari kebenaran dari mata Ibunya. Tapi sulit, karena sang Permaisuri menundukkan kepala. Memilih untuk tidak menatap anaknya.

"Aku hanya ingin Ibu menjawab satu pertanyaanku. Bagaimana dengan pernikahanku dengan Wufan?" akhirnya Luhan menunduk lagi. Lelah karena tidak mendapatkan tatap mata dengan Ibunya.

"Pernikahan kalian sudah dibatalkan, Luhan. Kami semua sudah menduga kau akan mengandung, nak. Kami tidak mau menyalahi kitab. Kau pasti tahu apa yang Ibu maksud, kan? Kami harus memilih salah satu, diantara kau harus menikah dengan Shixun yang merupakan Ayah kandung dari bayi yang kau kandung, atau tetap menikahimu dengan Wufan dan membiarkan keturunan Shixun berada di keluarga kalian,"

"Memang petuah nenek moyang itu sangat penting. Tapi menurut kitab, apabila seorang manusia mengandung tanpa terikat dengan siapapun, maka ia akan menjadi orang yang dikutuk Dewa selama masa hidupnya dan keturunannya dan setiap titipan Dewa yang lahir akan memberi kebahagiaan dan menangkis semua petaka. Termasuk petaka nenek moyang. Maafkan Ibu karena tidak memberitahukan ini kepadamu. Jangan salahkan Ayahmu atau siapapun. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, nak. Kami takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Maaf, Luhan,"

Permaisuri menjelaskan sebisanya. Akhirnya ia mengatakan yang sebenarnya. Ia hanya tidak ingin ada kesalah pahaman. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Luhan pasti akan mengetahui rahasia antara pernikahannya dengan Wufan cepat atau lambat. Permaisuri mendekati anaknya. Meletakkan tangan di bahu Luhan untuk sedikit meredakan emosi Luhan. Iapun merasa menyesal. Air matanya terjatuh tiba-tiba.

"Begitu? Terimakasih kalau begitu. Ibu benar-benar Ibu yang terbaik," jawab Luhan. Air matanya menetes lagi. Luhan tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Perasaannya campur aduk. Sakit, sedih, sesak menjadi satu. Perasaan itu memenuhi dadanya sampai terasa sakit dan ngilunya terasa sampai seluruh tubuh.

"Luhan,...,"

"Bisakah Ibu meninggalkanku sendiri di kamar? Aku sedang ingin sendiri,"

Kata-kata Luhan memotong pergerakan Permaisuri yang ingin memeluk dirinya. Luhan mengatakan hal itu sambil tetap tidak menatap Ibunya. Luhan begitu sakit hati. Sakit hati sampai membuat seluruh tubuhnya lemas seketika. Merasa tidak ada pergerakan dari Ibunya, Luhan berkata lagi.

"Aku akan memakan buburnya sendiri. Aku benar-benar ingin sendiri, Bu,"

Luhan berkata agar Ibunya keluar dari kamarnya. Ia bersuara lemah dan menahan air mata yang akan menetes entah untuk keberapa kalinya. Kalimatnya bahwa ia akan memakan buburnya sendiri hanyalah sebuah kata-kata belaka agar Ibunya cepat keluar dari kamarnya. Bukan maksud Luhan untuk mengusir Ibunya. Tapi Luhan bersumpah. Sakit hatinya begitu menusuk. Akan lebih baik jika ia mengobati sakit hatinya sendiri.

Akhirnya tanpa berkata-kata, Permaisuri berbalik badan dan berjalan keluar kamar Luhan. Tepat ketika pintu ditutup, air mata Luhan menetes deras. Luhan tetap tidak mengalihkan pandangan dari arah yang ia tatap untuk menghindari tatapan ibunya. Tubuhnya tetap terposisi seperti awal. Saking sakitnya hati Luhan sampai ia tak sanggup untuk sekedar menggerakkan badannya.

"Apa seperti ini takdir Dewa untukku? Kenapa harus terjadi padaku? Hiks... AAAAARGH...,"

Luhan menangis sejadi-jadinya sambil menundukkan kepala. Ia berteriak, berharap rasa sakit yang ia rasakan mereda. Namun, hasilnya nihil. Rasa sakit itu malah semakin menjadi-jadi.

Kepala Luhan yang tertunduk, otomatis membuat matanya menatap perutnya sendiri. Luhan memejamkan matanya ketika melihat perutnya sendiri, dan hal itu membuat air matanya menetes membasahi perutnya yang terhalang pakaiannya. Perlahan Luhan menggerakkan tangannya menyentuh perutnya. Masih rata. Tapi Luhan tahu sembilan bulan kedepan perutnya akan semakin membuncit. Luhan membayangkan bagaimana nanti ketika ia hamil. Pasti aneh.

'Pria mengandung? Menjijikan,' monolog Luhan dalam hati sambil mencengkeram perutnya sendiri. Ini adalah pertama kalinya Luhan mencaci diri sendiri karena ia adalah lelaki yang 'diberkahi'. Luhan tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia selalu berpikir positif, dan menganggap bahwa apabila ia 'diberkahi' maka itu adalah anugerah yang harus ia syukuri.

"Hiks... Kenapa kau harus ada? Hiks...," Luhan memukuli perutnya sambil memaki. Sesekali ia akan mencakar atau mencengkeram kencang perutnya sendiri.

"Pergilah! Hiks... Kumohon...," Luhan masih memukuli perutnya sendiri. Ia tak peduli bahwa perutnya berisi kehidupan yang bahkan masih belum mempunyai ruh. Luhan begitu membenci apa yang terjadi pada dirinya. Ia membenci apa yang ada di dalam perutnya. Bahkan ia membenci dirinya sendiri.

Sungguh. Luhan tidak bermaksud membenci titipan yang telah Dewa berikan kepadanya. Tapi seluruh kejadian yang menimpanya dari awal, begitu membuat emosinya membuncah dan ingin menghilang saja dari dunia ini. Seandainya dari awal Luhan tidak membiarkan dirinya diperkosa oleh Wu Shi Xun, maka tidak akan ada kegemparan yang terjadi di kerajaan. Tidak akan ada yang beselisih paham. Ayahnya tidak akan menutupi kebenaran. Pernikahannya dengan Wufan tidak akan dibatalkan. Ia tidak perlu menikah dengan Shixun. Lebih dari itu, Luhan tidak akan hamil. Berada dalam posisi yang menjijikan seperti ini.

"Ya, benar. Karena aku hamil...hiks...karena aku mengandung anaknya, aku harus menikah dengan Shixun... Tapi kalau aku tidak mengandung anaknya, aku tidak akan menikah dengannya," Luhan berbisik. Ia tersenyum tipis seakan sudah menemukan jalan keluar.

"Aku...harus menghilangkan bayi yang ku kandung...," Luhan berbicara kepada dirinya sendiri sambil mencengkeram perutnya. Setelah ia menyelesaikan kalimatnya ia menolehkan kepalanya ke salah satu sudut kamar dimana di sana terdapat lemari yang terususun dari laci-laci kecil serbaguna yang digunakan untuk menyimpan barang. Dengan cepat, Luhan turun dari ranjangnya dan berlari menuju lemari itu. Ia membuka laci-laci itu dengan sembarangan dan akhirnya membuat suara gaduh. Ia begitu terlihat terburu-buru karena ingin cepat menemukan sesuatu. Ia terus membuka laci-laci itu, sampai akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Gunting.

Ia memegang gunting itu dengan tangan kanan sambil memandanginya penuh arti. Sebelah tangannya mengelus perutnya sendiri. Ia menitikkan air mata sebelum ia melihat ke arah perutnya lagi. Tangannya yang menggenggam gunting mulai gemetaran. Perlahan ia mengarahkan mata gunting itu ke arah perutnya sendiri. Ya. Luhan berencana menggugurkan kandungannya walaupun itu artinya ia harus membunuh dirinya sendiri. Ia bersumpah ia tidak mau menikah dengan Shixun. Ia tidak mau menikah dengan lelaki brengsek itu.

Luhan membulatkan tekadnya untuk benar-benar menusuk perutnya sendiri. Ia menggenggam gunting dengan lebih erat. Ia memejamkan matanya. Namun yang terjadi...

"AAAARGH! Kenapa tidak bisa! Hiks...hiks...,"

Gunting yang ia genggam malah ia lemparkan ke sembarang arah. Ia tidak mampu menusukkan gunting itu ke dirinya. Ia tidak tega. Ia tidak bisa menghilangkan nyawa seseorang yang bahkan belum dilahirkan.

"Maafkan aku...hiks...maaf...,"

Luhan menangis tersedu-sedu dan jatuh berlutut. Ia mengelus-elus perutnya dengan kedua tangan sambil terus mengucapkan maaf. Hati nuraninya mulai terbentuk menjadi hati nurani seorang Ibu. Mungkin karena ia mengandung. Ia tidak mungkin tega membunuh bayi yang tidak berdosa. Harusnya ia bisa merasakan hidup. Ia harusnya bisa melihat dunia. Tapi Luhan sudah berlagak bagaikan Dewa yang ingin menghilangkan nyawanya.

Perlahan Luhan bangkit. Ia berjalan menuju jendela yang sudah dibuka oleh dayang sejak tadi pagi. Ia melihat ke arah bunga-bunga yang tertanam di taman. Mereka begitu indah. Mereka bagaikan tersenyum menghadapi hari. Kemudian Luhan mengarahkan pandangan agak jauh. Ke arah bunga yang layu. Bahkan sudah mati. Bunga itu terlihat sedih. Begitu menyedihkan melihat sebuah kehidupan yang seharusnya ada, tetapi malah hilang.

Luhan membayangkan bahwa bunga-bunga itu adalah bayi yang ia kandung. Seharusnya bayi yang ia kandung bisa terlahir dan menjalani hidupnya. Bayi yang ia kandung juga pasti akan tumbuh menjadi anak yang baik. Seperti bunga yang hidup itu. Tapi jika ia membunuh bayinya. Tentu bayi itu akan sedih. Ia akan kecewa karena kehidupannya direnggut.

Bunga yang layu. Bagaimanapun ia hanyalah bunga. Apabila ia layu, pastilah yang disalahkan adalah manusia yang tidak mengurusnya, tidak menyiramnya, tidak memberinya pupuk. Begitupun bayi. Ia masih belum bisa melakukan apa-apa sendiri. Apabila ia sakit atau meninggal, pastilah yang disalahkan adalah ibunya. Ibunya akan dituduh tidak bisa mengurus bayi, tidak mampu menyayangi. Bagaimanapun Luhan harus mempertahankan bayi ini. Setidaknya sebagai bentuk tanggung jawab karena dia yang mengandungnya.

Luhan mengelus perutnya lagi. Ia ingat ia belum memakan bubur yang tadi dibawakan dayang. Sebenarnya ia tidak lapar, tapi entah kenapa ia ingin sekali memakan bubur itu. Mungkin bawaan bayi yang ia kandung. Akhirnya Luhanpun memakan bubur itu. Anehnya, ia tidak memuntahkannya kembali.

.

"Pengawal Do, bisakah kau temani aku ke tempat Pangeran Wu menginap?"

Pada siang harinya, Luhan meminta Pengawal Do, atau yang selama ini kita kenal dengan Jingxiu untuk menemaninya bertemu dengan Wufan. Luhan merasa, ia perlu bicara dengan Wufan mengenai pernikahan mereka, mengenai kehamilannya, semuanya. Luhan akan membicarakan semua hal itu. Selengkap-lengkapnya. Karena ia tahu, setelah ini ia tidak akan bisa bicara dengan bebas lagi dengan Wufan.

"Tentu, Pangeran Lu. Hamba akan menemani Pangeran," Jingxiu menjawab perintah sang Pangeran, yang walaupun mereka sudah berteman, Jingxiu tetap menjawabnya dengan sopan.

Mereka langsung berjalan bersama menuju tempan Wufan menginap. Dalam perjalanan keduanya hanya diam. Jingxiu yang sudah tahu bahwa Luhan sedang hamil menganggap Luhan menjadi pendiam karena bawaan kehamilannya. Iapun tak berani membuka pembicaraan. Ia tetap berjalan di belakang Luhan, agak ke kanan, seperti halnya seorang pengawal mengawal Pangeran. Dengan membawa tombak di tangan kanan dan memakai pakaian pengawal, Jingxiu tetap waspada. Walaupun mereka masih berada di dalam wilayah istana.

Lama kelamaan, Luhan memelankan jalannya. Membuatnya kini melangkah sejajar dengan Jingxiu. Jingxiu yang menyadari itu langsung ikut melambatkan jalannya. Takut apabila sang Pangeran merasakan sesuatu, bahaya, atau apapun itu.

"Ada apa, Pangeran?" Jingxiu buka suara.

"Tidak. Aku hanya ingin berjalan santai saja. Ngomong-ngomong kita sedang berdua. Jangan panggil aku dengan sebutan Pangeran, Jingxiu," kata Luhan. Ia tetap mensejajarkan langkahnya dengan Jingxiu.

"Baiklah, Luhan," mendengar jawaban Jingxiu. Luhanpun tersenyum.

"Aku dengar kau yang menemukanku saat pagi itu?" Luhan bertanya lagi. Mereka kini benar-benar berjalan sejajar. Seperti halnya sahabat dekat.

"Ya. Lebih tepatnya aku hanya membantu menemukanmu. Aku, Boxian, dan Kepala Pengawal Jin hanya mengikuti Pangeran Wu yang memerintahkan kami untuk mengikuti dirinya,"

"Mengikuti?"

"Ya. Mengikuti. Saat aku dan Boxian memberitahu petunjuk yang ditemukan di kamarmu, beliau langsung membelalakkan matanya. Reaksinya begitu panik kala itu. Aku bisa melihatnya dari matanya. Lalu, ia langsung berlari dan menyuruh kami bertiga mengikutinya. Sampai akhirnya kami semua menemukanmu di kamar Pangeran Muda Wu," Jingxiu menceritakan semuanya pada Luhan.

"Petunjuk? Apakah itu surat palsu yang diberikan oleh Pangeran Muda Wu?" Luhan bertanya lagi.

"Benar. Kau sudah tahu banyak ternyata," Jingxiu terlihat kagum. Ia memandang Luhan penuh makna.

"Aku meminta Dayang Hwang yang menemaniku seminggu ini di kamar untuk menceritakan semuanya. Harusnya aku yang kagum. Cerita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru istana dalam waktu dua minggu saja. Bahkan mungkin sudah keluar istana,"

"Kau salah, Lu. Ini bukan cerita, tapi berita. Bagaimanapun berita adalah hal yang harus disampaikan setepat-tepatnya dan secepat-cepatnya. Berita buruk sekalipun. Kau tahu bagaimana masa pemerintahan Yang Mulia Raja Lu sekarang. Transparan. Terbuka. Kabar sekecil apapun dari istana akan tetap terdengar keluar meski bukan ia sendiri yang menyampaikan pada rakyat. Tidak dipungkiri bahwa Raja Lu adalah orang yang jujur dan bijaksana,"

"Tidak, Jingxiu. Jika harus diberi nama berita, bukankah ini lebih tepat disebut dengan aib? Aku...aku malu. Aku merasa tidak pantas, Jingxiu. Hhh...," Luhan menghela nafas sebelum menyambung kalimatnya.

"... Kau pasti bisa mengerti bagaimana rasanya. Aku tahu kau yang paling peka diantara aku, kau, dan Boxian," Luhan menunduk.

"Aku mengerti. Tapi itulah kenapa aku mengatakan bahwa Raja Lu adalah orang yang bijaksana. Kalau boleh aku menilai beliau, maka yang terlintas di otakku adalah mendidik. Beliau membiarkan rakyatnya menarik kesimpulan dan berita yang mereka dengar. Efeknya, pasti rakyat akan lebih terbuka dengan semuanya. Raja Lu membiarkan berita tersebar. Tapi dengan satu syarat. Berita yang tersebar adalah berita yang sebenar-benarnya. Hal itu juga berlaku untuk warga istana, bukan begitu?"

"Hm. Ya. Itulah Ayahku. Karena itu juga aku sangat menghormatinya,"

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Menikmati angin semilir yang mengiringi jalan mereka yang pelan.

"Luhan, sebenarnya aku bingung harus mengatakan apa terhadap kehamilanmu. Haruskah aku mengucapkan selamat? Atau aku harus bermuram sepertimu?" Jingxiu membuka percakapan lagi. Dengan topik yang berbeda dari sebelumnya.

"Bermuram? Apa aku terlihat seperti itu?" Luhan menghentikan langkahnya tepat ketika mereka berjalan di atas jembatan yang melintangi kolam ikan di taman.

"Sangat jelas, Lu. Apa yang sedang kau pikirkan?" Jingxiu ikut menghentikan langkahnya.

"Maukah kau berhenti sejenak di gazebo itu dan mendengar penuturanku?"

Akhirnya mereka berhenti di gazebo di pinggir kolam. Duduk bersebelahan di sana. Ketika Luhan mulai bicara, Jingxiu mendengarkannya dengan serius. Memang benar yang Luhan katakan, Jingxiu memang yang paling peka di antara mereka bertiga. Luhan, Jingxiu, dan Boxian. Walaupun Boxian yang akan menanggapi suatu masalah yang sudah ada dengan rasa penasaran yang tinggi, tapi Jingxiu lah yang pertama akan menemukan masalah itu. Itu sudah pasti. Selain itu, Jingxiu adalah orang yang tenang layaknya permukaan air. Bersikap dewasa dan sangat tepat untuk diajak bicara serius. Walaupun Boxian juga bisa diajak serius, tapi Boxian bagaikan ombak air. Walaupun begitu, perbedaan lah yang membuat semua hal di dunia ini indah. Luhan menyayangi Boxian dan Jingxiu.

Akhirnya Luhan menceritakan semua keluh kesahnya kepada Jingxiu. Bagaimana perasaannya ketika ia tahu ia hamil tadi pagi. Kemudian ibunya yang mengatakan kebenaran dibalik pernikahannya dan Wufan. Termasuk bagaimana Luhan ingin menggugurkan bayinya dengan membunuh dirinya sendiri. Semuanya Luhan ceritakan. Tanpa ragu Jingxiu akan menceritakannya kepada orang lain.

"Aku tahu kau melakukan sesuatu pasti dengan alasan. Tapi keputusanmu untuk membatalkan menggugurkan kandunganmu adalah sesuatu yang sangat tepat. Percayalah, anakmu nanti adalah balasan atas kesakithatianmu sekarang. Kebahagiaan menunggumu, Luhan. Rawatlah ia dengan baik. Aku juga akan menjaganya. Boxian juga pasti begitu," Jingxiu menanggapi ketika Luhan sudah selesai bercerita. Ia memeluk Luhan erat. Sesekali membelai rambut dan punggung Luhan untuk menenangkannya.

Setelah Luhan tenang, mereka kembali melanjutkan perjalanan yang terasa lama padahal jarak ke tempat menginap keluarga Wu terbilang dekat.

.

"Xiao Lu!"

"Wufan!"

Akhirnya Luhan dan Wufan bertemu. Mereka saling berpelukan erat dan melepas rindu. Seperti layaknya pasangan yang tidak pernah bertemu begitu lamanya. Luhan mencengkeram baju bagian belakang Wufan.

"Kenapa kau malah ke sini? Kau seharusnya istirahat, Lu," kata Wufan setelah ia melepaskan pelukannya.

"Aku rasa aku ingin menjelaskan semuanya kepadaku," jawab Luhan sambil menatap mata Wufan.

"Apa yang harus kau jelaskan? Duduklah, Lu," Wufan bertanya dan ia menarik tangan Luhan untuk duduk di ranjangnya. Mereka duduk bersampingan sekarang.

"Masalah kehamilanku. Masalah pernikahan kita,"

"Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan, Lu. Aku sudah mengerti semuanya. Bahkan mungkin aku mengetahui pembatalan pernikahan kita lebih awal dari dirimu,"

"Wufan?" Luhan meminta penjelasan Wufan.

"Setelah kau ditemukan, Shixun langsung dihukum pada hari itu juga dan pada malam harinya, Raja Lu dan ayahku berbicara denganku masalah pernikahan kita. Mereka menjelaskan semuanya. Ayahmu begitu menyayangimu. Beliau ingin melindungimu dari kutukan. Aku menghargainya, dan akhirnya aku menyetujui pembatalan pernikahan kita. Maafkan aku," Wufan menjelaskan. Ia tetap menatap mata Luhan.

"Berarti pada saat kau menjengukku malam itu, kau sudah tahu semuanya?" Luhan mengingat saat dimana Wufan menjenguknya. Malam itu hujan besar dan Wufan datang hati Luhan yang trauma.

"Ya, aku sudah tahu. Tadinya aku ingin mengatakannya padamu, Lu. Tapi aku berpikir itu bukanlah saat yang tepat. Aku minta maaf sekali lagi,"

Luhan terdiam mendengar penuturan Wufan. Ia berpikir. Sebenarnya Luhan sakit hati karena ternyata ialah yang paling terakhir mengetahui hal ini. Ia merasa dikhianati.

"Kau tetap akan melaksanakan pernikahan itu, bukan? Aku memikirkan bayi di dalam kandunganmu. Pastilah ia sangat kesepian jika tidak punya Ayah nanti,"

Luhan tetap diam. Walaupun ia mendengarkan Wufan berbicara.

"Aku mengatakan aku akan melindungimu. Walaupun begitu, aku tidak akan bisa sepenuhnya melindungimu. Tapi jika suatu saat nanti Shixun menyakitimu lagi, aku jamin aku akan mengetahui itu dengan cepat, dan aku akan membunuhnya. Lalu aku akan menjadi Ayah pengganti untuk anakmu," raut wajah Wufan mengeras. Kata-katanya dan suaranya yang berubah dingin membuat Luhan menoleh ke arahnya.

"Kau ingin menjadi pembunuh?"

"Hanya jika Shixun menyakitimu, Luhan,"

"Wufan...,"

"Aku mencintaimu, Luhan. Aku berharap kebahagiaan selalu bersamamu. Selalu bersama anakmu dan...Shixun,"

"Maukah kau berjanji satu hal padaku?" Luhan bertanya akhirnya.

"Aku akan berjanji apabila aku anggap aku bisa menepatinya," ucap Wufan.

"Lupakan kita pernah saling mencintai,"

Ucapan Luhan membuat Wufan terhenyak. Ia membelalakkan matanya. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Luhan dan mempersempit jarak mereka. Kemudian Wufan mencengkeram bahu Luhan. Menatap mata Luhan mencari kebenaran.

"Apa yang kau katakan? Apa harus aku melupakan itu?"

"Harus. Aku akan menikah dengan orang lain. Kalau kita masih mengingat hal itu, bukankah hanya akan membuat sakit hati?"

"Tidak akan bisa, Luhan. Aku tidak akan bisa melupakan itu,"

"Pangeran Wu! Aku mohon. Aku...aku juga berusaha untuk melupakan itu," Luhan meninggikan suaranya. Ia tidak tahan dengan semua ini. Memang ini keputusan yang bodoh. Tapi setidaknya ia tidak mungkin menghianati suaminya nanti apabila sudah menikah sedangkan ia masih mencintai orang lain. Ia harus belajar mencintai suaminya nanti...Shixun.

"Luhan...," Luhan menghempaskan tangan Wufan yang ingin membelai pipinya. Ia bangun dari duduknya di ranjang Wufan. Memperluas jarak antara dirinya dan Wufan. Ia menunduk.

"Aku harus kembali, Pangeran Wu. Maafkan aku telah mengganggu waktu Pangeran,"

Luhan berucap dan memberikan salam hormat kepada Wufan yang sekarang ia panggil dengan sebutan Pangeran Wu. Kelihatannya Luhan benar-benar memantapkan hatinya. Luhan membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun sebelum ia mencapai pintu, tangan Wufan memeluk pinggangnya dari belakang. Luhan panik.

"Pa-pangeran Wu, maaf," Luhan berusahan melepaskan pelukan itu. Namun Wufan tetap berseikeras memeluknya.

"Xiao Lu, tenanglah. Aku mohon. Aku hanya ingin bicara sebentar lagi denganmu,"

"Apa lagi yang harus dibicarakan?" Luhan tenang pada akhirnya dan ia bertanya. Wufan tersenyum lembut dan meletakkan kepalanya di pundak Luhan.

"Terimakasih kau telah mengisi kekosongan hatiku selama ini. Kau adalah anugerah terindah yang pernah kulihat dan kumiliki walaupun tak selamanya. Kau yang berhasil menangkap hatiku dari pertama kali aku melihatmu akan menjadi milik orang lain. Lalu sekarang kau menyuruhku untuk melupakan cintaku padamu?"

Luhan terdiam.

"Tidak akan, Luhan. Aku tidak akan melupakan cinta kita. Maaf. Aku merelakanmu bersama Shixun. Tapi cintaku belum siap untuk itu. Hatiku masih ingin bersamamu. Maaf, Lu. Aku akan berusaha melupakanmu,"

"Terimakasih, Pangeran Wu. Kau begitu pengertian," jawab Luhan begitu dalam. Ia tersenyum lembut juga dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

"Bolehkah aku memberikan satu syarat sebelum kau menikah dengan Shixun?"

"Apa itu?"

Luhan bertanya, namun Wufan malah membalikkan badannya agar mereka berhadapan dan saling bertatapan.

"Aku menginginkanmu. Sekali saja. Aku begitu tersiksa," ucap Wufan setelahnya. Kemudian Wufan mempersempit jarak di antara mereka. Perlahan dan akhirnya mata mereka terpejam menikmati kehangatan yang tercipta di tengah-tengah mereka.

Wufan dengan berani mencium bibir Luhan. Hanya kecupan singkat. Wufan kira Luhan akan menolak. Namun tidak. Luhan masih memejamkan matanya ketika Wufan melepaskan kecupan itu. Hal itu membuat Wufan kembali mencium Luhan. Wufan memeluk Luhan erat. Keduanya sudah terhanyut dalam ciuman mereka saat Luhan balas memeluk Wufan. Sesekali Luhan akan mencengkeram baju bagian belakang Wufan. Saat itu pula Wufan akan menggigit pelan bibir Luhan dan membuat Luhan mengeluarkan lenguhan tertahan.

Entah bagaimana caranya kedua insan itu sudah berada kembali di pinggir ranjang. Bahkan di detik selanjutnya Wufan sudah berhasil meniduri Luhan ke ranjangnya tanpa melepaskan tautan mereka. Tangan Luhan yang terbebas meremas rambut Wufan karena menahan sensasi yang ia rasakan ketika Wufan mengecupi lehernya dan beranjak turun menuju dadanya.

"Eunghh...Pangeran Wu...,"

Luhan menahan tangan Wufan dengan lemah ketika Wufan menarik kerah pakaiannya dan membuat Luhan memperlihatkan puting bagian kirinya. Tanpa menunggu lama Wufan mengecupi benda itu. Membuat suara kecupan yang terdengar begitu membangkitkan birahi.

"Mmh...kau begitu manis, Pangeran Lu,"

Luhan begitu terhanyut dalam asmara. Ia menikmati itu semua. Bahkan tangan yang tadinya menahan Wufan untuk tidak menarik kerahnya, sekarang malah tergolek lemah tak berdaya. Luhan begitu mencintai Wufan. Wufanpun sama. Namun, Luhan akan menikah dengan Shixun. Ia akan menjadi istri orang lain. Ia harus berbakti pada suaminya. Tapi sekarang ia malah menikmati perbuatan orang lain.

Ini salah. Salah. Luhanpun tersadar dari perasaan hanyutnya. Ia menggelengkan kepala. Memaksa tangannya untuk bergerak dan mendorong bahu Wufan yang kini menindihnya. Ia melakukan itu dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya Wufanpun menyerah. Ia menegakkan tubuhnya dan membiarkan Luhan berdiri. Membenahi pakaiannya sendiri. Wufan hanya terdiam di tempat.

"Maaf...,"

"Maafkan aku,"

Luhan mendongakkan kepala menatap Wufan yang memotong perkataan maafnya.

"Aku juga, Pangeran Wu. Maafkan aku,"

"Pangeran Lu, aku...,"

"Aku berharap setelah ini kita masih bisa berteman, Pangeran Wu," Luhan kini memotong perkataan Wufan dan berkata sambil tersenyum. Senyumnya sangat tulus. Membuat Wufan terpesona kembali.

"Ya, tentu saja, Pangeran Lu,"

Akhirnya mereka berdua menyatakan perpisahan. Perpisahan yang menyedihkan namun menenangkan karena memang keduanya mengerti arti perpisahan ini. Mereka saling mendoakan yang terbaik satu sama lain. Melupakan semuanya walaupun dalam hati, mereka tetap menyimpan semuanya dengan baik, rapi, dan tertutup rapat. Termasuk perasaan mereka.

.

.

TBC

.

.

Annyeong~ Zhao is back! ^^

TBC masih mengganggu? Tentu enggak ya :P Gomawo buat doanya, dear. Akhirnya penyakit TBC Zhao yang selama ini jadi sorotan di review bisa sembuh. Hihihi. Sembuh sampe bener-bener sehat. Semoga sehat terus yaa. Amiin. I love you, all :)))

Zhao nggak bisa cuap-cuap panjang di chapter ini. Heheh. Mianhae. Jadi, langsung aja. Zhao pengen tau pendapat kalian tentang chapter yang ini. Kayaknya review dan respons makin minim. Hiks. Ataukah karena efek minggu-minggu ujian? Btw, buat yang ujian, SEMANGAT! FIGHTING! Do your best! ^^ For the reviews of the latest chapter, as usual, Zhao akan balas via Private Messsage. So, stay tune/?

So, Review juseyo. Mari saling bekerja sama. :)

See you next chapter.

.

.

Salam Cinta,

HUNHAN