WRONG DESTINY
Chapter 9
By
Mgr. Zhao
Cast : EXO member, ex-EXO, and other
Pairing : HunHan
Rate : M, M-Preg Contains
Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin
.
.
Malam menjelang. Bulan purnama begitu terang menemani bumi. Menambah keindahan warna merah dan emas yang terlihat menyelimuti seluruh Kerajaan Lu. Keindahannya seakan-akan menutupi fakta bahwa angin musim hujan tetap bertiup malam itu. Angin yang bertiup makin terlupakan karena kegiatan di kerajaan yang saat ini begitu sibuk. Semua orang berkumpul di pelataran istana yang luas dan kini bagaikan lautan mawar merah karena digelarnya karpet merah di sana. Begitu ramainya orang-orang tak kalah dengan ramainya hiasan kain sutra dan lampion berwarna merah dan emas di sana-sini. Musik lembut mulai terdengar dibalik sayup-sayup orang yang berbicara. Di salah satu pinggir pelataran, diletakkan bangku-bangku dan satu meja panjang dihadapannya beserta dengan sajian-sajian kecil lengkap dengan buah-buahan dan beberapa botol arak beserta lima cawan kecil untuk meminumnya. Bangku dan meja tersebut dibuat lebih tinggi dari pelataran sehingga siapapun orang yang duduk di sana bisa melihat apapun yang akan disajika di tengah pelataran dengan nyaman.
"Luhan, anakku. Kau sangat menawan," terdengar suara Permaisuri di dalam kamar Pangeran Lu. Kelihatannya Permaisuri baru saja selesai merias Pangeran dengan pakaian yang indah. Mereka tersenyum bersamaan. Selanjutnya, Pangeran Lu berdiri. Membuat semua yang berada di dalam kamar itu tertegun melihatnya. Ia begitu menawan dengan pakaian khas kerajaan berwarna kuning keemasan dan kancing Cina berwarna merah yang dipasang berbaris dari bawah leher melintang ke dada bagian kanannya. Ikat pinggangnya berwarna merah. Di bagian bawah pakaiannya terlihat lukisan teratai abstrak berwarna putih dan dilapisi dengan kain chiffon tipis berwarna keperakan. Anting di telinga kirinya membuat ia makin terlihat bersinar malam itu.
Tanpa banyak bicara, Luhan, Permaisuri, beserta para dayang segera berjalan keluar kamar, menghampiri Sang Raja yang telah menunggu di luar kamar. Kemudian mereka berjalan beriringan untuk bertemu dengan Keluarga Wu yang sudah menunggu tepat di depan pintu yang berhadapan dengan pelataran.
"Hormat kami, Raja Lu," ucap Raja Wu sambil membungkukkan badannya ketika Keluarga Lu sudah berhadapan dengan Keluarga Wu. Mereka pun membalas hormat itu.
"Hormat kami, Raja Wu. Semoga malam ini menjadi malam yang diberkahi dan membahagiakan untuk kedua putra kita," ucap Raja Lu sambi membungkuk hormat.
Kemudian Raja Lu dan Permaisuri memberi jarak kepada Pangeran Lu, yang sedari tadi berjalan di tengah-tengah mereka agar maju ke depan dan memberi hormat kepada Pangeran Muda Wu. Begitu pula dengan Raja Wu. Ketika Luhan dan Shixun berhadapan, keduanya terlihat canggung. Shixun menatap ke arah Luhan, tapi tatapannya terlihat acuh. Sedangkan Luhan masih menunduk. Meski begitu, ia memberi hormat kepada Shixun. Begitu pula Shixun, ia membalas hormat Luhan masih dengan tatapan acuh.
Perlahan Luhan menaikkan pandangannya. Posisinya yang berhadapan dengan Shixun otomatis membawa matanya melihat sosok Shixun dari kaki kemudian terus menuju ke atas. Ia melihat Shixun begitu gagah. Tak dipungkiri memang Shixun tampan. Tingginya tak jauh berbeda dengan kakaknya, Wufan. Apalagi sekarang ia memakai pakaian yang sama persis dengan yang Luhan kenakan. Namun, tanpa kain chiffon dan entah kenapa pakaian itu terlihat lebih gagah dari milik Luhan. Terlihat sekali bahwa pakaian mereka malam ini dibuat berpasangan.
Selain itu, Luhan juga melihat Wufan yang berdiri di belakang Raja Wu. Luhan berusaha untuk menampik perasaannya yang entah kenapa masih saja bisa terpesona oleh Wufan. Sepintas ia melirik Wufan yang hanya menundukkan pandangannya. Menatap dalam ke arah lantai seakan-akan ada koin emas terjatuh, atau membaca tulisan di lantai berkarpet itu.
"Sekarang, kalian berjalanlah berdampingan menuju pelaminan," ucap Raja Wu.
Kemudian Raja Wu membimbing Luhan dan Shixun agar berjalan berdampingan. Dilihat dari sisi manapun, Luhan dan Shixun terlihat sangat kaku satu sama lain. Luhan menjaga jarak dengan Shixun mengingat apa yang sudah Shixun lakukan kepadanya. Shixun yang masih belum menerima sepenuh hati pernikahannya dengan Luhan.
Pelaminan?
Pernikahan?
Ya. Luhan dan Shixun langsung menikah, atau lebih tepatnya, dinikahkan malam ini. Tanpa lamaran, upacara dan ritual menyisir rambut, bahkan Tea Pay sekalipun.
.
Luhan dan Shixun duduk bersama di bangku pelaminan. Masih terlihat kecanggungan di antara mereka. Dari awal acara sampai sekarang mereka sudah berada dipenghujung acara, mereka hanya bicara seperlunya. Itupun sedikit sekali. Jangankan untuk bicara. Duduk di pelaminanpun masih ada jarak di antara mereka.
Shixun dan Luhan pura-pura menyibukkan diri mereka melihat penampilan penari dan mendengarkan irama musik yang mengiringi. Sesekali Shixun akan bertepuk tangan untuk menunjukkan penghargaannya. Tapi Luhan, ia tak bisa menutupi kecanggungannya. Luhan berusaha untuk tidak mempedulikan Shixun di samping kanannya. Tapi kehangatan yang tercipta karena ada seseorang di dekatnya, tidak bisa ia tolak. Kecanggungan mereka membuat Luhan bingung. Ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa untuk melayani orang yang sudah resmi menjadi suaminya sendiri. Ia menghela nafas pelan. Berharap kebingungannya menguap sedikit.
Detik selanjutnya, ia melihat Shixun mengulurkan tangannya untuk mengambil botol arak di meja di depan mereka. Kelihatannya ia haus.
"A-ah, izinkan aku menuangkannya untukmu," ucap Luhan setelah ia menahan tangan Shixun. Shixun hanya melirik Luhan kemudian menarik tangannya. Ia menunggu apa yang Luhan lakukan. Ia melihat Luhan yang begitu luwes mengambil botol arak dan menuangkan isinya ke cawan, kemudian memberikannya kepada Shixun dengan kepala tertunduk hormat. Shixun mengambil cawan itu dan meneguk isinya sampai habis. Tapi entah kenapa matanya terpaku pada Luhan.
"Berikan aku secawan lagi," Shixun berucap setelah ia meletakkan cawan kosong kembali ke meja. Luhanpun menuangkan arak lagi di gelas Shixun. Sebelum Luhan memberikan cawan itu, Shixun lebih dulu menahan tangannya. Shixun mengambil botol arak dan menuangkan isinya ke cawan yang lain. Kemudian memberikannya kepada Luhan. Setelah itu barulah Shixun mengambil cawannya sendiri. Luhan hanya terpaku.
"Minumlah,"
Shixun berucap sambil menghadapkan badannya ke arah Luhan. Ia menatap Luhan dengan mata tajamnya. Shixun mengulurkan tangannya ke arah Luhan dan memberi aba-aba kepada Luhan untuk melakukan hal yang sama dengannya. Kemudian mereka menyilangkan tangan mereka satu sama lain sebelum akhirnya meminum arak itu bersamaan. Terlihat begitu mesra. Ya, hanya 'terlihat'. Sedangkan apa yang terlihat, belum tentu benar kenyataannya seperti itu.
Detik selanjutnya, Shixun menggeser duduknya lebih dekat kepada Luhan yang masih mematung. Lengan mereka bersentuhan. Luhan berjengit. Ia seperti terkena sengatan listrik. Dadanya bergemuruh. Detakannya makin tak karuan saat Shixun makin mendekat dan membisikkan sesuatu kepadanya.
"Berlakulah seperti orang yang menikah. Jangan biarkan orang-orang melihatmu begitu tak menginginkan pernikahan ini. Aku menikah bukan dengan patung, kan?"
Setelah Luhan mendengar apa yang Shixun katakan, dadanya sesak. Ternyata apa yang Shixun lakukan dari tadi hanyalah kedok dan sekarang Shixun menyuruh Luhan untuk berkedok juga. Menyembunyikan perasaan sebenarnya yang tidak ingin menerima pernikahan ini. Luhan begitu sedih. Tetapi ia bingung, kenapa ia harus sedih? Apa yang ia sedihkan? Yang jelas, Luhan tidak tega untuk membohongi semua orang yang hadir di pesta malam ini dengan senyum palsunya.
Luhan sungguh belum bisa menerima pernikahan ini. Ia menahan hatinya. Kalau bukan karena pernyataan di kitab dan kelangsungan hidup kerajaan, atau bahkan karena bayi yang ia kandung, ia rela untuk mati. Atau kabur. Atau menolak mati-matian pernikahan ini bagaimanapun caranya agar ia tidak menikah dengan Shixun. Luhan ingin menangis dan berteriak. Ia ingin menanyakan apa sebenarnya yang ada di pikiran orang tuanya. Tidakkah mereka tahu Luhan masih mengalami trauma atas Shixun. Lalu ada apa dengan pernikahan ini. Terkadang Luhan merasa bahwa dirinya hanyalah alat. Alat yang digunakan untuk mencegah hancurnya kerajaan. Luhan merasa dirinya diperlakukan seperti bola pingpong. Dilempar-lempar dengan mudah. Oh, atau mungkin piala bergilir? Yang apabila ia tidak jadi dimiliki oleh Wufan, maka ia harus dimiliki oleh Shixun.
Setelah pesta ini selesai, pasti Luhan dan Shixun akan tidur sekamar. Lalu apa yang akan Shixun lakukan padanya nanti? Luhan sudah membayangkan malam pertama yang indah. Tapi apabila suaminya Shixun, apakah tetap menjadi indah? Bukan tidak mungkin Shixun akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu. Luhan merinding sekarang. Ia memeluk dirinya sendiri. Air matanya tiba-tiba terjatuh. Ia takut. Ia butuh seseorang yang melindunginya. Lihat saja, ia hanya bisa menunduk dengan air mata menderas sekarang. Ia butuh seseorang yang menghapus air matanya.
Namun, Dewa begitu baik pada Luhan kali ini. Di detik berikutnya Luhan rasakan ada benda lembut yang menyapa pipinya.
"Jangan menangis. Kau begitu bahagia, ya?"
Luhan mengangkat kepalanya. Menoleh ke sebelah kanan, arah datangnya sentuhan itu yang ternyata adalah sapu tangan. Luhan terkejut karena ia melihat Shixun yang memegang sapu tangan itu. Dengan hati-hati Shixun mengusap pipi Luhan. menghapus air mata yang terjatuh di sana. Sekali lagi, Luhan hanya bisa terpaku.
.
Sementara itu di sudut lain istana...
'DOKK' 'DOKK' 'DOKK'
"Hei, yang di dalam! Bisakah dipercepat!? Aku sudah tidak tahan!"
Gedoran pintu terdengar bersamaan dengan suara seorang lelaki yang kini menempel di pintu itu. Dari pakaian yang ia kenakan, bisa kita simpulkan ia adalah pengawal. Sedangkan dari ikat kepalanya, ia adalah Pengawal dari Kerajaan Wu. Tapi apa yang ia lakukan dengan menempel di pintu?
"Aduuuuh, sudah mau keluar. HEEI! CEPAT SEDIKIT! Haah, masa aku harus buang air kecil di pohon lagi?"
Ternyata ia sedang ingin buang air kecil. Namun sepertinya ia mendapat masalah dengan orang yang ada di dalam kamar mandi. Kamar mandi di Kerajaan Lu memang banyak. Sedangkan yang paling dekat dengan posisi orang yang sedang menahan buang airnya adalah kamar mandi di dekat pelataran. Sialnya, kamar mandi ini terisi. Mau tak mau, Pengawal berkulit gelap ini harus menahan buang airnya lebih lama lagi.
'CKLEK'
"Haaaah akhirnya,"
'BRAK'
Setelah pintu kamar mandi terbuka, Pengawal yang bernama Kai itu langsung masuk dan menutup pintu kembali. Sedangkan orang yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, malah bingung. Mata bulatnya terbuka begitu saja. Ia masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tatapan kosong yang tidak bisa diartikan. Sepertinya ia sedang berpikir.
"Kenapa dia lagi?" Pengawal bermata bulat yang kita tahu bernama Jingxiu ini malah bertanya pada dirinya sendiri.
'CKLEK' suara pintu terbuka kembali.
"Hei! Kenapa kau masih disini? Mengintip, ya!?" kemudian disusul dengan suara terkejut seseorang. Pengawal Kai yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap Jingxiu dengan tatapan waspada. Segera ia ambil tombaknya yang ia letakkan di samping pintu kamar mandi, kemudian berjalan pelan menghindari Pengawal Jingxiu.
"Apa-apaan kau? Tidak punya sopan-santun. Menggedor pintu kamar mandi dengan tidak sabaran, menuduhku mengintip, dan sekarang kau menatapku seperti penjahat begitu?" tanya Jingxiu yang kini sudah memegang tombaknya juga. Tatapannya tak kalah waspada. Walaupun masih dengan mata bulatnya.
"Lalu kau membalas menatapku seperti penjahat begitu,"
"Sudahlah. Kenapa aku jadi berdebat denganmu? Lagipula kenapa aku bertemu denganmu lagi, sih?" ucap Jingxiu kemudian. Kelihatanya Jingxiu dan Kai sudah pernah bertemu sebelumnya.
"Oh, kau tidak suka bertemu denganku? Kau kira aku mau bertemu denganmu lagi? Aku selalu sial jika bertemu denganmu. Terakhir aku bertemu denganmu, kau membuatku buang air kecil di bawah pohon. Lalu sekarang kau membuatku hampir mengompol," Kai mengikuti Jingxiu yang berjalan di lorong.
"Aku kira hanya aku yang mengingat kejadian itu. Sepertinya kalau kau mengompol itu lebih bagus," Jingxiu berjalan tegap dan melangkah cepat tanpa mempedulikan Kai.
"Kau senang? Oh, aku tahu. Kau pasti sengaja, kan, berlama-lama di kamar mandi karena tahu aku yang ada di luar?" Kai menarik bahu Jingxiu dari belakang membuat keduanya bertatapan kini. Tatapan Jingxiu yang tanpa ekspresi dan mata bulatnya malah membuat Kai salah tingkah sendiri.
"Aku bahkan tidak tahu kalau di luar ada orang walaupun aku sudah keluar. Kau gelap. Tadinya aku kira kau hanya bayangan,"
Jawaban Jingxiu membuat Kai membelalakkan matanya. Baru kali ini ada yang mengejek kulitnya yang gelap –eksotis-. Kai terpaku karena masih memikirkan kata-kata Jingxiu. Apalagi dua kata terakhir. 'Hanya bayangan'. Jingxiu, segelap itukah Kai?
Tanpa pikir panjang lagi, Kai mengejar Jingxiu yang sudah menghilang di tikungan lorong.
"Hei! Berani-beraninya kau mengejekku! Hei! Pengawal pendek! Heeii!"
.
Akhirnya pesta pernikahan selesai. Bulan yang benderang berada tepat di atas kepala, terlihat kontras dengan warna langit yang terang. Menunjukkan waktu sudah tengah malam. Udarapun begitu dingin. Semua orang sudah kembali ke tempat peristirahatan mereka. Begitu pula dengan pengantin. Shixun dan Luhan kini hanya berdua di kamar mereka setelah diantar oleh orang tua mereka. Kamar mereka penuh hiasan dan pajangan-pajangan yang masing-masing berjumlah sepasang. Melambangkan kebahagiaan dan mengharapkan kelanggengan untuk kedua pasangan.
Sudah seharusnya bagi mempelai untuk melakukan malam pertama setelah pernikahan mereka. Tapi Luhan dan Shixun bahkan enggan untuk mendekati ranjang pengantin mereka yang sudah dihias dan berlapis sprei merah tersebut. Jangankan untuk melakukan malam pertama. Untuk sekedar tiduran dan beristirahat di ranjang tersebut pun rasanya canggung.
Luhan sedang duduk di depan cermin. Ia melihat dalam ke matanya sendiri. Benar yang orang-orang katakan, matanya seperti rusa. Indah, bercahaya, menyorotkan tatapan yang lugu dan penuh pesona. Tapi kenapa takdir tak seindah matanya? Tak seindah parasnya? Takdirnya terasa begitu buruk baginya. Seakan-akan ia hidup hanya untuk tersiksa.
Luhan masih melihat bayangan matanya di cermin saat mata itu berkaca-kaca. Ia meremas pakaiannya yang bahkan belum sempat ia ganti. Bukan belum sempat. Hanya...takut.
'Lihat, hanya untuk berganti pakaianpun aku takut karena ada orang itu,' ucap Luhan dalam hati. Ia harus apa sekarangpun ia bingung. Padahal ia sendiri yang memutuskan untuk menerima pernikahan ini.
"Apa kau mau tidur di sana? Bersihkan dirimu, ganti pakaianmu, dan tidur. Besok pagi kita harus berdoa di kuil nenek moyang, kan?"
Terdengar suara Shixun yang datar. Bisa Luhan lihat pantulan diri Shixun di cermin. Shixun sedang melepas pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian tidur, dan walaupun Shixun berbicara padanya tadi, ia menghadap ke arah lain. Tidak menatap Luhan sama sekali.
"Aku tidak mau repot-repot membangunkanmu," ucap Shixun selanjutnya setelah ia selesai. Shixun menempatkan dirinya di ranjang dan menidurkan tubuhnya pelan-pelan sambil menyelimuti dirinya sendiri. Mendengar derit lembut ranjang yang ditiduri oleh Shixun, Luhan langsung bangun dan melangkahkan dirinya ke kamar mandi. Ia membersihkan wajahnya dengan cepat. Tidak mandi. Ia tidak mungkin mengambil resiko sakit karena mandi di tengah malam dengan cuaca dingin seperti ini. Setelah selesai, ia kembali ke kamar dan menuju lemari tempat pakaiannya di simpan.
Begitu Luhan menemukan pakaian tidurnya, ia segera membuka pakaian yang ia pakai. Tetap menghadap ke lemari. Tanpa mempedulikan sekitarnya. Ia belum sadar jika orang yang berada satu kamar dengannya belum tidur. Bahkan ketika Luhan sudah benar-benar membuka semua pakaiannya dan telanjang, Luhan masih tidak sadar ada mata yang menatapnya begitu serius dari belakang.
"Tubuhmu ramping untuk ukuran laki-laki, bahkan mungkin kau bisa membuat perempuan iri dengan kulit putih dan halusmu,"
Suara Shixun membuat Luhan kaget. Ia memakai pakaiannya dengan cepat dan terburu-buru. Tapi Shixun malah menertawainya ketika ia sudah selesai memakai pakaian tidurnya. Kata-kata Shixun selanjutnya membuat Luhan menghela nafasnya.
"Hahaha. Kau takut aku melihat tubuhmu? Aku sudah melihatnya dengan puas. Bahkan aku sudah bisa menghasilkan bayi di dalam perutmu, kan?"
Luhan tidak mempedulikan ucapan Shixun. Ia menutup kembali lemari, membawa pakaiannya dan mengambil pakaian Shixun yang diletakkan di meja kemudian meletakkannya di keranjang pakaian kotor. Luhanpun menidurkan dirinya di samping Shixun dan menyelimuti dirinya dengan selimut yang sama dengan Shixun, meski menyisakan jarak yang cukup lebar diantara mereka.
Tindakan Shixun selanjutnya sangat membuat jantung Luhan berdetak cepat. Sangat cepat malah. Shixun memeluk Luhan tiba-tiba. Mendekatkan dirinya pada Luhan sampai Luhan bisa merasakan nafas Shixun yang panas di telinganya. Luhan hanya mematung dan mendengarkan Shixun yang bicara.
"Kau tahu, kan. Biasanya bagi pasangan yang menikah, mereka akan diberi sehelai kain putih untuk dibawa di malam pertama mereka. Tidak lain untuk menyeka darah perawan si pengantin wanita dan membuktikan bahwa si pengantin wanita masih perawan atau tidak. Disini kau bertindak sebagai pengantin wanitanya. Untungnya orang tuamu tidak memberikan kain putih. Hahaha, aku akan bingung jika mereka memberikannya,"
Shixun seakan bicara sendiri. Luhan tidak menyahutinya walaupun ia mendengarkan. Ia menggertakkan giginya menimbulkan bunyi gemeletuk.
"Hanya orang bodoh yang membicarakan kesalahannya sendiri,"
"Kau mengatakan itu adalah kesalahanku? Ya. Baiklah. Memang aku yang memperkosamu. Tapi apa alasanku untuk tidak melakukan itu? Kesempatan bagus tidak mungkin datang dua kali, Luhan. Kalau aku menemukan cara untuk menghancurkan kerajaan, kenapa tidak aku gunakan cara itu?"
"Kau terlalu banyak bicara,"
"Terimakasih, kalau begitu,"
"Bisakah kau melepas pelukanmu?"
Jeda beberapa detik sebelum Shixun menjawab permintaan Luhan yang lebih terdengar seperti perintah. Shixun mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah senyum jahat.
"Dengar, Luhan. Jangan kau berpikir bahwa aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku berani bersumpah besok di hadapan patung nenek moyang bahwa aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan denganmu. Tujuanku adalah menghancurkan kerajaan. Bukan menikah denganmu. Tapi, Ayahmu, Raja Lu yang SANGAT SANGAT TERHORMAT, mengancam kau akan tetap dinikahkan dengan Wufan keparat itu apabila aku menolak menikahimu,"
Pernyataan Shixun membuat Luhan terbelalak dan menatap Shixun tajam.
"Aku tidak mungkin membiarkan pernikahan itu tetap terlaksana. Kalian harus hancur,"
Shixun melepas pelukannya pada Luhan dan berbaring, walau tidak membuat jarak dengan Luhan.
"Lalu satu lagi. Sekeras kepala apapun dirimu yang tidak mau menerima pernikahan ini, kau harus sadar kenyataannya. Kau sudah menjadi milikku,"
Perkataan terakhir Shixun membuat dada Luhan semakin sesak. Shixun benar, Luhan tidak bisa menolak kenyataan. Ia sudah menikah dengan Shixun, dan memang benar ia sudah dimiliki oleh Shixun. Walaupun hatinya belum.
.
"Huwekk...huwekk...,"
Luhan kembali mual-mual. Ia tak berhenti memuntahkan isi perutnya walaupun sebenarnya tidak ada yang keluar. Mual yang sudah berhari-hari Luhan derita, memuat tubuh Luhan begitu lemas. Rasanya ia tak mampu berdiri lagi sekarang. Untungnya acara doa di kuil sudah selesai di laksanakan. Jadi ia bisa istirahat.
"Kenapa rasanya sampai seperti ini...huwekkk...,"
Luhan mengeluh sebelum akhirnya muntah lagi. Sebenarnya Luhan malu sekarang. Bagaimana tidak? Ia merasakan mual tepat saat acara makan keluarga baru saja dimulai. Ia hampir memuntahkan makanan yang bahkan belum sempat ia telan di hadapan seluruh keluarga. Keluarga Lu dan Keluarga Wu. Perilaku itu sungguh tidak sopan. Pasti ia akan dianggap tidak menghargai makanan yang sudah dihidangkan.
Setelah merasa lebih baik, Luhan keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamarnya. Sebenarnya ia harus kembali ke ruang makan untuk makan bersama. Mengingat ini adalah acara penting yang dimaksudkan untuk mendekatkan antar anggota keluarga. Tapi Luhan merasa tidak sanggup dan lebih baik jika ia tidak ikut acara itu. Pada akhirnya ia akan kembali mual dan malah membuat semua orang tidak berselera makan.
"Luhan, anakku. Kau tidak apa-apa, nak?" suara Permaisuri terdengar ketika Luhan duduk di bangku di kamarnya. Permaisuri khawatir melihat Luhan.
"Aku tidak apa-apa, bu. Aku hanya mual. Rasanya perutku penuh sekali," jawab Luhan sambil mengelus perutnya.
"Ibu mengerti. Ini karena ada bayi di perutmu. Perutmu pasti akan terasa penuh sehingga kau merasa kembung dan mual," Permaisuri menasihati dan ikut mengelus perut Luhan.
"Kau belum sarapan, Luhan. Kau harus memakan sesuatu. Belum ada yang masuk ke perutmu sejak tadi pagi,"
"Aku ingin, Bu. Tapi aku tidak bernafsu. Lagipula apapun yang aku makan pasti akan keluar lagi,"
"Tapi tidak baik untuk bayimu. Ibu akan buatkan teh jahe hangat untukmu. Itu bisa menghilangkan rasa mual. Setelah itu baru kau makan, ya. Setidaknya bubur pun tidak apa,"
"Nanti saja, Bu. Aku belum ingin," tangan Luhan menahan tangan sang Ibu yang beranjak bangun.
"Tetaplah di sini. Aku ingin dipeluk Ibu," ucap Luhan kemudian membuat Permaisuri menatapnya lembut. Kemudian ia memeluk Luhan. membelai lembut rambut Luhan yang menyandarkan kepala di dadanya.
"Ngomong-ngomong, kenapa Ibu di sini? Bukankah seharusnya Ibu berada di acara makan bersama itu?"
"Acaranya sudah selesai, Pangeran. Mungkin kau muntah terlalu lama tadi sampai lupa waktu, ya? Hm?"
"Hm, begitukah? Aku bahkan tidak tahu berapa lama aku di kamar mandi tadi,"
"Anakku, mungkin ini akan terasa berat pada bulan-bulan pertama. Tapi kau akan terbiasa di bulan selanjutnya. Kau harus menjaga kesehatanmu, menjaga pola makanmu, agar bayimu tidak kekurangan gizi," Permaisuri menasehati Luhan, sambil ia mengingat-ingat masa-masa ia hamil dulu.
"Iya, Bu. Aku akan mengingat nasehat Ibu," jawab Luhan.
"Bu, kalau acaranya sudah selesai, apakah itu berarti Keluarga Wu akan kembali ke kerajaan mereka?" Luhan bertanya, tetap dengan posisi memeluk ibunya.
"Ya, mereka sudah pulang tadi. Kami berbincang-bincang sebentar setelah acara makan selesai. Kemudian mereka langsung kembali. Tentu saja kecuali suamimu, Wu Shi Xun,"
"Begitu,"
Luhan menjawab lemah. Keluarga besar Wu yang menginap di Kerajaan Lu sudah kembali pulang. Itu berarti, Wufan juga. Dalam hati, Luhan menyalahkan rasa mualnya yang tiba-tiba datang tadi. Karena mual ini, Luhan tidak bisa berbicara dengan Wufan lagi.
'Akankah aku merindukanmu, Wufan?' tanya Luhan dalam hati.
.
"Akhirnya kau pergi dari sini, Wu Yi Fan,"
"Kau senang?"
"Bukannya senang. Entah kenapa aku merasa lega tidak ada kau disini,"
Di teras belakang ruang makan, terlihat kedua Pangeran Wu sedang berbincang-bincang. Tapi bukan perbincangan biasa. Perbincangan itu penuh emosi. Penuh dengan rasa cemburu. Penuh dengan rasa dendam. Terlihat dari tatapan mata keduanya.
"Aku harap kau tidak melakukan kekacauan di sini, Shixun," ucap Wufan dengan nada mengancam.
"Cih, aku tidak akan membuat kekacauan di sini. Tidak ada artinya, kau tahu? Satu-satunya tempat dimana aku akan melakukan kekacauan adalah Kerajaan Wu!" Shixun maju satu langkah. Menatap Wufan semakin bengis dan berkata tajam.
"Hal itu tidak akan terjadi. Tapi seandainya terjadi, aku yang akan menghadapimu langsung,"
"Siapa yang takut menghadapimu? Aku akan dengan mudah menghancurkan Kerajaan Wu saat itu. Lihat saja!"
"Omong besar,"
"Hahaha. Kau mengajakku bicara hanya untuk membicarakan hal ini? Kau takut dan ingin memastikan apakah aku akan menyerangmu, agar kau bisa bersiap, begitu? Pengecut sekali,"
Keduanya masih saling menatap. Bahkan semakin detik berlalu, semakin tajam pula tatapan kedua pangeran tampan tersebut. Wajah dan pembawaan Wufan tetap tenang. Sedangkan Shixun, ia sangat meremehkan Wufan. Jelas sekali dari raut wajahnya.
"Luhan," Wufan mengucapkan satu nama.
"Apa?"
"Jangan sampai kau berani menyakiti dia,"
"Cih. Begitu pedulinya kau terhadap dia? Kau masih mencintainya?" Shixun mulai menampakkan wajah bengisnya.
"Bukan urusanmu. Tapi jika kau berani menyakitinya, sedikit saja, KAU AKAN MATI DITANGANKU, Shixun!" Wufan berucap tak kalah bengis. Dengan penekanan di setiap kata, ia menatap tidak kalah tajam dengan tatapan Shixun. Wufan berbicara dengan suara rendah dan dalam.
"Oh. Begitukah? Sebelum aku mati, bahkan kau akan MATI LEBIH DULU DARIPADA AKU, Wufan,"
"Kau!"
"Sebelum kau berkata, ingatlah dulu posisimu sekarang. Siapa dirimu berani mengaturku? AKU SUAMINYA! Apapun yang aku lakukan padanya nanti, bukan urusanmu!"
"Orang yang menyakiti istrinya sendiri, tak pantas disebut suami," Wufan mengepalkan tangannya yang ia taruh di samping badan. Ia menahan diri untuk tidak memukul adiknya sendiri. Ia tidak mungkin menciptakan keributan pada hari dimana seharusnya semua orang berbahagia.
"Sekali lagi aku tegaskan. INGAT POSISIMU! Kau bukan lagi siapa-siapa bagi Luhan. Bahkan jika kau masih 'siapa-siapa' baginya, kujamin kau akan menyesal. Aku suaminya. Aku berhak mengatur dirinya,"
Pernyatan Shixun mengakhiri perbincangan mereka. Shixun segera meninggalkan tempat sedangkan Wufan masih terdiam terpaku. Ia memikirkan semua kata-kata Shixun.
'Aku suaminya. Aku berhak mengatur dirinya'. Begitu kata Shixun. Memang benar, Shixun adalah suaminya. Suami berhak mengatur istrinya. Tampaknya Wufan memang benar-benar harus keluar dari ruang lingkup Luhan dan mengeluarkan Luhan dari ruang lingkupnya.
.
Malam datang. Suara burung hantu saling bersahutan dengan suara jangkrik meski belum larut malam. Udara dingin yang terasa memberi petunjuk bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Semua orang sudah di dalam peristirahatannya. Memilih untuk duduk-duduk di samping perapian yang hangat. Tapi tampaknya hal ini tidak berlaku untuk seorang Pangeran cantik.
Ia sedang melayani suaminya. Menemani suaminya mandi atau bisa juga dibilang memandikannya. Luhan duduk di pinggiran bak besar yang terbuat dari kayu dan dengan lembut menggosok pundak suaminya yang berendam di bak tersebut. Sesekali Luhan akan memijat pundak Shixun dan mengairi pundak dan punggung yang lebar dan kokoh itu dengan air hangat.
Sebelum seorang Pangeran menikah, yang melayaninya adalah dayang dan pengawal. Tapi setelah menikah, yang melayani semua kebutuhannya adalah istrinya. Termasuk mandi, menyiapkan dan memakaikan pakaian, bahkan sesekali istrinya harus memasak untuk Pangeran. Bukan manja. Hanya saja begitulah cara untuk menunjukkan pengabdian dari istri kepada suami.
"Kau begitu baik. Bahkan untuk orang yang sudah menyakitimu," ucap Shixun. Ia memberi pujian kepada pengabdian yang Luhan lakukan sekarang.
"Terimakasih," Luhan menjawab sekenanya.
"Huh, kau masih kaku rupanya. Aku ingin bertanya sesuatu padamu,"
"Apa itu,"
"Kau mencintai Wu Yi Fan?"
Pertanyaan Shixun membuat Luhan terhenyak. Ia menghentikan kegiatannya seketika. Ia berpikir kenapa Shixun harus menanyakan itu kepadanya.
"Tampaknya aku salah bertanya. Aku yakin jawabannya 'ya', kan?" Shixun sedikit mencibir.
"Maaf, sebaiknya kita membicarakan hal lain. Ini terlalu sensitif," ucap Luhan selanjutnya. Ia memilih untuk tidak membahas tentang Wufan.
"Oh, kau benar. Ini memang sensitif. Sensitif untukmu? Ya, kan?" Shixun bertanya, kemudian ia keluar dari bak mandi. Mengeringkan badannya sendiri dengan handuk kemudian memakai jubah mandinya. Luhan mengikuti Shixun yang berjalan keluar dari kamar mandi menuju kamar mereka.
"Tadi aku sempat mengobrol dengan dia," Shixun melanjutkan percakapan. Luhan hanya diam.
"Kelihatannya ia sangat mencintaimu,"
"Kenapa kau membahas masalah ini?" Luhan menjeda perkataan Shixun dengan cepat. Luhan merasa Shixun sengaja mengangkat hal ini menjadi topik pembicaraan mereka. Karena itu, Luhan merasa panas.
"Kelihatannya kau merasa tidak suka aku membahas ini. Kenapa?" Shixun membalikkan badannya. Ia mendekati Luhan yang berada di pinggir ranjang sedang menyiapkan pakaian Shixun.
"Kau tidak suka aku membicarakan tentangnya yang tidak jadi menikah denganmu? Oh, atau kau masih mencintainya?"
Shixun terus-terusan membicarakan tentang Wufan. Kelihatannya ia sedang mempermainkan Luhan sekarang. Terlihat sekali dari nada bicara Shixun yang begitu meremehkan Luhan dan Wufan. Apalagi ketika membicarakan tentang pernikahan mereka yang batal dilaksanakan.
"Pertanyaanmu seakan-akan kau sedang mengejeknya, Shixun,"
"Begitukah? Kau peka ternyata. Hahaha," Shixun tertawa di sela perkataannya. Luhan hanya berjengit. Ia menampik perasaan kesalnya dan berbalik untuk memakaikan pakaian kepada Shixun. Kelihatannya Luhan harus menahan batin ketika hidup bersama Shixun.
"Aku harap kau menjadi istri yang baik, Luhan. Aku tahu Wufan masih mencintaimu," perkataan Shixun selanjutnya membuat Luhan menghentikan gerakannya. Luhan terhenyak. Luhan bukan kaget atas pernyataan Shixun yang menyebutkan bahwa Wufan masih mencintainya. Tapi ia kaget karena Shixun tahu sampai sejauh ini.
"Sebenarnya apa saja yang kalian bicarakan?" Luhan akhirnya bertanya. Ia menatap mata Shixun begitu ia selesai memakaikan pakaian tidurnya dengan rapi.
"Bukan hal yang penting untukmu," Shixun menjawab dengan suara datar dan dingin. Namun hal itu tidak menggoyahkan hati Luhan.
"Kalian berdua membawa namaku dalam pembicaraan kalian. Aku berhak mengetahui apa yang kalian bicarakan,"
"Kenapa? Karena kau masih mencintai Wufan juga?"
"A-apa yang kau katakan?"
"Apa yang aku katakan benar, kan? Kau masih mencintai Wufan,"
"K-kau...,"
"Apa? Kau mau membelanya? Atau kau ingin memukulku seperti waktu itu?" Shixun menantang Luhan yang menatapnya dengan penuh amarah. Entah kenapa hawa di kamar mereka menjadi panas. Seperti ada yang sengaja membakar api kemarahan dan kesedihan di antara Shixun dan Luhan.
"Huh. Aku tidak sabar, Luhan. Aku tidak sabar melihat Kerajaan Wu hancur! Aku sudah tidak sabar melihat orang-orang yang selama ini berbahagia di atas kematian Ibuku mati! Mereka harus mati! Mereka harus menderita!" Shixun membalikkan badannya dan memunggungi Luhan. Ia menatap nyalang ke depan bagaikan singa yang siap mencabik mangsanya. Dilihat darimanapun sangat terasa aura Shixun yang begitu jahat.
Luhan yang melihat Shixun dari belakang hanya bisa menatap Shixun. Luhan mencengkeram bajunya saat ia menatap punggung lebar Shixun yang entah kenapa begitu terlihat menyeramkan saat ini. Shixun terlihat sangat diselimuti oleh dendam. Mungkin saja Shixun sudah kehilangan akal sehatnya.
"Kau gila! Ibumu pasti tidak akan sudi mempunyai anak sepertimu!" tubuh Luhan merosot karena takut. Dadanya terasa sesak sekarang.
"Aku...hiks...aku menyesal menikah denganmu!"
"Kau menyesal menikah denganku!? KAU MENYESAL!?" suara Shixun meninggi membuat Luhan benar-benar takut. Terlebih lagi saat Shixun berjalan mendekati dirinya.
"Kalau kau tidak mau menikah denganku, KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI AWAL!? KENAPA KAU MEMAKSAKAN DIRIMU!? HAH!?" Shixun marah. Ia marah karena perkataan Luhan. Tanpa menahan amarahnya, Shixun mencengkeram kerah pakaian Luhan membuat Luhan berdiri kembali dari duduknya.
"Kalau kau tidak mau menikah denganku, kenapa kau membuatku mengandung anakmu! Kenapa juga kau menerima pernikahan kita!?" Luhan membalas. Ia mendorong Shixun hingga membuat Shixun melepaskan cengkeramannya.
"Kalau bukan karena aku mengandung anakmu, aku tidak akan mau menikah dengan LELAKI GILA DAN PENDENDAM SEPERTIMU!"
'PLAKK'
'PLAKK'
Shixun menampar Luhan dua kali. Di pipi kanan dan kirinya. Kini Luhan terjatuh ke ranjang. Ia memegang pipinya yang begitu terasa panas. Luhan tau ia salah. Ia sudah mencela orang yang sudah menjadi suaminya. Tapi hati Luhan sudah tidak mampu lagi untuk berbohong. Luhan sudah terlalu sakit dan lelah untuk menyimpan kesakit hatiannya.
"Dengar kau, brengsek. Kalau bukan karena aku ingin menghancurkan Kerajaan Wu dengan membatalkan pernikahan kalian, aku juga tidak mau menikah dengan LELAKI MENJIJIKAN SEPERTIMU! Lelaki macam apa yang bisa mengandung, hah? Persetan dengan anugerah Dewa atau apapun itu. PADA ASALNYA TIDAK ADA LELAKI YANG BISA MENGANDUNG. SEANDAINYA KAU BUKAN ANAK RAJA, KAU PASTI SUDAH DIKUCILKAN DAN DIBUANG, LUHAN!"
Hati Luhan mengernyit sakit mendengar kata-kata Shixun. Shixun, suaminya sendiri mengatai dirinya menjijikan. Menjijikan. Menjijikan karena ia bisa mengandung. Luhan menitikkan air matanya. Hatinya sakit karena ia dianggap rendah oleh suaminya sendiri. Luhan mengelus perutnya yang berisi bayi. Ia terus-terusan berkata dalam hati bahwa ia harus kuat. Tapi apa daya. Kata-kata Shixun barusan begitu menusuk tepat ke dadanya. Membuat Luhan lemas tak berdaya. Bahkan untuk melawan kata-katanya pun ia tak bisa.
"Kau! Kau dan bayi di perutmu itu hanya sebagai alat untuk membantuku menghancurkan Kerajaan Wu. Aku sudah tidak sabar melihat semuanya hancur,"
Luhan memejamkan matanya dan menyebabkan air matanya jatuh lebih banyak lagi. Ia menyentuh perutnya. Ia benar-benar merasa sakit hati sekarang. Shixun mengatakan bahwa ia dan bayi yang diperutnya hanya alat. Alat. Alat yang digunakan untuk memenuhi tujuan dan kepuasan Shixun sendiri. Seketika Luhan merasa hidupnya begitu hina dan menderita.
"Tapi aku yakin tidak ada yang akan hancur atau mati,"
Ucapan Luhan yang begitu yakin membuat Shixun menatap Luhan. Ia memicingkan mata terhadap Luhan.
"Yakin? Begitukah? Siapa kau sampai berani-beraninya mengatakan hal seperti itu?"
Shixun bertanya kepada Luhan sambil memposisikan dirinya di atas Luhan yang terbaring di ranjang. Mencari keraguan di mata Luhan yang juga menatap nyalang pada dirinya. Seakan ada sebuah keyakinan yang benar-benar tidak bisa digoyahkan pada diri Luhan.
"Sudah ku duga. Kau buta. Kau hanya manusia yang hidup tanpa tahu apa arti kitab untuk hidupmu,"
"Apa maksudmu? Jangan bertele-tele, jalang! Kau mau membuatku marah, huh!?"
Shixun mencengkeram dagu Luhan kasar karena ia emosi. Ia merasa diremehkan oleh Luhan secara tidak langsung. Luhan yang merasa direndahkan karena Shixun yang mengatainya jalang, menghempaskan tangan Shixun yang mencengkeram dagunya dengan kasar juga.
"Kau tidak pernah tau pernyataan Dewa bahwa 'setiap titipan Dewa yang lahir akan memberi kebahagiaan dan menangkis semua petaka'? Kau tidak pernah membaca kitab, Shixun? Kau sungguh merugi,"
Luhan mengucapkan semuanya dengan jelas. Walaupun suaranya gemetar karena ketakutannya akan Shixun yang menatapnya benci sedari tadi, keyakinan dalam dirinya sudah menelan semuanya.
"Apa kau bilang? Jadi, pernikahan ini adalah jebakan untukku? Begitu maksudmu!?"
Shixun menegakkan badannya setelah mendengar pernyataan Luhan. Nafasnya menjadi tidak beraturan. Ia menggerakkan bola matanya ke sembarang arah, seakan sedang mencari sesuatu. Tapi faktanya, ia sedang kebingungan dan berusaha menyusun semuanya dari awal.
"Jadi begitu? AYAHMU TELAH MERENCANAKAN HAL INI UNTUK MENJEBAKKU DAN BERUSAHA MENGHINDAR DARI PETAKA!? BEGITU!?"
Shixun mencengkeram kerah pakaian Luhan membuat Luhan terbangun dari posisi berbaringnya. Emosi Shixun malah makin membara ketika ia ingat bahwa Ayah Luhan, Raja Lu yang telah membuat ia menjadi menikah dengan Luhan. Ia ingat betul ketika Ayahnya dan Raja Lu datang ke penjara dan memberitahukan bahwa ia harus menikah dengan Luhan. Ia juga masih ingat bahwa ia menolak mentah-mentah perintah itu. Kemudian dari semua itu, yang paling ia ingat adalah saat Raja Lu megatakan bahwa ia akan tetap menikahkan Luhan dengan Wufan apabila ia menolak.
"BRENGSEK!"
'BUGGH'
Suara pukulan terdengar. Shixun memukul Luhan tepat di pipi kirinya. Hal itu membuat Luhan terjatuh ke pinggir ranjang. Terlihat sekali Shixun amarah Shixun sudah di ambang batas. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam, tangannya terkepal marah, dan nafasnya memburu. Shixun benar-benar merasa dipermainkan sekarang. Posisinya sangat terjepit dan tidak ada satupun yang menguntungkan untuknya.
Shixun pikir ketika ia menikah dengan Luhan dan berhasil membatalkan pernikahan Luhan dengan Wufan, maka semuanya akan selesai. Kerajaan akan hancur setelah itu. Tapi ternyata, ada hal lain yang menghambat dirinya.
Namun seperti tidak kehabisan akal, Shixun menyeringai. Seakan ia sudah menemukan cara untuk mengatasi keadaannya yang begitu terjepit.
"Luhan sayang," Shixun tersenyum manis dan mendekati Luhan yang kini sudah memposisikan dirinya di atas ranjang kembali.
"Kau belum mengenalku dengan baik, bukan? Sebentar lagi, aku akan memberimu kesempatan untukmu agar kau mengetahui siapa aku sebenarnya," bisik Shixun. Shixun langsung mencium pipi Luhan yang ia pukul tadi dan tertawa pelan. Hal itu membuat Luhan begitu takut. Luhan merinding dan memeluk dirinya sendiri. Luhan merasakan hal yang tidak baik akan terjadi.
Shixun pun berucap dalam hati.
'Aku akan memberi pelajaran kepada orang yang mempermainkanku,'
.
.
TBC
.
.
Jjan~~ Zhao is back ^^
Zhao updatenya kelamaan, ya? Mianhae, jeongmal. Zhao lagi sibuk banget. Tapi Zhao tetap berusaha buat update, kok. Walaupun update lama, Zhao nggak akan telantarin FF ini. Mohon dukungan dan pengertiannya, yeorobun :)
Di chapter ini ada scene buat Kai sama Kyungsoo, tuh. Sebelumnya Kai udah pernah muncul di Chapter lalu, ya. Terus ada yang tanya, 'Zhao kenapa Kai nggak pake nama Mandarinnya?'. Heum... Kalo mau perhatikan biodata EXO dari awal debut, nama 'Kai' itu diambil dari bahasa China, loh, dear. Terus kenapa Zhao memutuskan untuk tetap pake 'Kai', daripada nama dia Jin Zhong Ren (Kim Jong In), karena kalo nanti dia dipanggil dengan 'Pengawal Jin' bakalan sama kayak marganya Jin Jun Mian (Kim Jun Myeon). Jadi, untuk membedakan, Zhao kasih dia pake nama Kai aja. Arasseo? :) Nice question. :)
Oh iya, start dari chapter ini, pairingnya udah pure HunHan. Beda dari Chapter lalu, yang pairingnya masih HunHan - KrisHan. Mulai chapter ini akan dititik beratkan kepada masalah HunHan, daripada couple KrisHan maupun couple yang lain. (Mianhae KrisHan shipper TT_TT).
Next, buat yang udah review chapter lalu, Zhao ucapkan terimakasih. Semangat dari review yang kalian berikan, nggak terhingga, guys. #alah. Zhao baca review kalian walaupun Zhao nggak sempet update. Karena, review bisa masuk lewat e-mail. Hihihi :) I love you all. Selanjutnya, Zhao minta pendapat, review, respons kalian buat chapter ini. I really appreciate you, dear. :)
As usual, Zhao bales reviewnya via Private Message, okay ;)
See you next chapter.
.
.
Salam Cinta,
HUNHAN
