WRONG DESTINY

Chapter 10

By

Mgr. Zhao

Cast : EXO member, ex-EXO, and other

Pairing : HunHan

Rate : M, M-Preg Contains

Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin

.

.

Satu Bulan Kemudian...

"Yang Mulia Pangeran Lu, kuatkanlah diri Pangeran. Dewa akan selalu bersamamu. Doakan Ayah dan Ibumu agar mereka tetap bahagia di surga,"

"Terimakasih, Bibi. Aku akan mendoakan mereka. Aku akan baik-baik saja,"

Suasana duka begitu terasa di Kerajaan Lu. Semua orang di sana mengenakan pakaian berduka. Walaupun ini adalah hari kedua sejak kematian almarhum dan almarhum sudah dimakamkan, masih banyak sanak saudara yang berada di Kerajaan Lu. Tentunya untuk memanjatkan doa-doa dan menghormati almarhum.

Berduka?

Kerajaan Lu?

Ya. Tepat dua hari yang lalu, Raja Lu dan Permaisuri Lu meninggal dunia. Di hari yang sama. Di waktu yang sama. Belum ada yang tahu siapa yang menyebabkan mereka meninggal. Tiba-tiba saja Luhan mengingat bagaimana hancur hatinya ketika ia menemukan sendiri Ayah dan Ibunya yang sudah tiada.

.

FLASHBACK

"Pengawal Han, apakah Raja dan Permaisuri sudah ada di dalam?" Luhan bertanya pada Pengawal yang menjaga pintu Ruang Kebesaran Raja.

Pagi itu, Luhan mencari Permaisuri, ibunya sendiri. Biasanya, pada pagi hari Ibunya akan menjemputnya di kamar sebelum ia menuju ke Ruang Kebesaran Raja untuk sekedar ikut mengantarkan sarapan atau berbincang sedikit. Tapi pagi ini, Permaisuri tidak datang menemui Luhan. Entah karena apa. Luhan berpikiran bahwa Ibunya langsung menuju Ruang Kebesaran. Tapi dari apa yang ia dapat, tidak ada Ibunya maupun Ayahnya di Ruang Kebesaran itu.

"Hormat hamba, Yang Mulia. Yang Mulia Raja dan Permaisuri belum masuk ke dalam, Pangeran," jawab Pengawal.

"Begitu. Baiklah. Terimakasih, Pengawal Han," Luhan mengucapkan terimakasih kepada Pengawal yang telah menjawabnya dan segera melangkahkan kakinya menjauhi Ruang Kebesaran.

"Kenapa belum ada? Apakah Ayah dan Ibu masih di kamar? Ah, ya. Mungkin saja,"

Dengan penuh semangat, Luhan menuju ke kamar keduanya. Entah kenapa pagi ini ia merasa khawatir karena Ibunya tidak mengunjunginya pada pagi hari seperti biasanya. Padahal Ibunya sangat cerewet akan dirinya. Hal ini sangat membuat Luhan malu karena ia sudah menikah sekarang. Tapi begitulah Permaisuri Lu. Ia begitu khawatir akan Luhan. Apalagi Luhan sedang mengandung sekarang.

Permaisuri begitu memperhatikan Luhan. Ia akan menanyakan apakah Luhan tidur nyenyak pada malam hari. Kemudian ia akan memperhatikan pakaian apa yang Luhan kenakan pada hari ini. Makanan apa yang dijadikan menu sarapan untuk Luhan. Semuanya ia perhatikan. Tidak mau anaknya kekurangan sesuatu apapun. Walaupun terkadang Shixun yang masih di kamar mereka pada pagi hari juga menjadi sasaran kecerewetan Permaisuri, tapi Luhan sangat menyayangi Permaisuri, Ibunya.

Dengan banyaknya perhatian yang Ibunya berikan setiap hari kepadanya, ketidakhadiran Ibunya pagi ini di kamarnya otomatis membuatnya begitu khawatir. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Luhan mencengkeram dadanya yang entah kenapa begitu berdebar ketika ia semakin dekat dengan kamar Ayah dan Ibunya.

"Selamat pagi, Ayah, Ibu. Ini aku, Luhan," Luhan mengucapkan salam sebelum ia masuk ke kamar Ayah dan Ibunya. Tidak ada yang menjaga kamar Raja dan Permaisuri.

Luhan memasang telinga selagi ia menunggu Ayah atau Ibunya menjawab salam darinya. Tapi hampir 10 detik berlalu, tidak ada jawaban dari dalam. Luhan pun memanggil keduanya lagi.

"Ayah, Ibu, bolehkah aku masuk?" tanya Luhan.

Luhan sedikit menempelkan telinganya di pintu kamar Ayah dan Ibunya setelah 5 detik tidak mendapat jawaban. Kelihatannya Ayah dan Ibunya sedang benar-benar sibuk jadi mereka tidak mendengar Luhan, atau jangan-jangan mereka sakit.

"Ayah, Ibu, maaf aku masuk,"

Akhirnya Luhan memutuskan untuk langsung masuk. Ia sudah sangat khawatir dengan kedua orang tuanya. Dengan pelan ia menggeser pintu kamar orang tuanya. Ia melakukannya dengan hati-hati dan pelan-pelan. Ia melirik ke dalam kamar ketika pintu sudah terbuka. Keadaan di dalam kamar sangat tenang. Akhirnya Luhan membuka lebar pintu kamar itu dan masuk ke dalam. Ia terus berjalan sampai ia mendekati ranjang dan melihat siluet dua orang yang sedang tidur.

"Mereka masih tidur?"

Luhan mempercepat langkahnya ketika kaget mendapati orang tuanya masih tertidur padahal matahari sudah nampak seutuhnya.

"Ayah, Ibu,"

Luhan memanggil keduanya ketika ia sampai di tepi ranjang. Tapi Raja dan Permaisuri tidak bergerak. Mereka tetap tidur.

"Ayah, Ibu, hari sudah mulai siang. Bangunlah,"

"...," tetap tidak ada jawaban.

"Ayah...Ibu...," Luhan mengguncang bahu Ayahnya untuk membangunkannya. Luhan sudah sangat bingung karena keduanya sama sekali tidak bergerak.

"Ayah, hari sudah siang. Ayah...,"

Detik berikutnya, air mata Luhan mulai menggenang dipelupuk mata. Ayahnya sama sekali tidak bergerak walaupun ia sudah mengguncang bahunya keras-keras. Tidak mungkin jika Ayahnya...

Dengan perasaan campur aduk, Luhan memberanikan diri untuk memeriksa detak jantung Ayahnya. Ia memegang pergelangan tangan Ayahnya dan mencari detak jantungnya melalui nadi. Tapi yang terjadi... Luhan sama sekali tidak merasakan detakan. Ia pun tidak merasakan nafas Ayahnya. Dada Ayahnya begitu tenang. Tidak bergerak naik turun seperti halnya orang tidur pada umumnya. Begitu pula dengan Ibunya ketika Luhan memeriksa nadinya.

"Tidak mungkin...hiks...Ayah...Ibu...hiks...Ayaaaah...bangun...,"

Luhan lemas seketika. Namun ia paksakan tubuhnya untuk bergerak keluar kamar memerintahkan siapapun untuk memanggil tabib.

"Yang Mulia Pangeran, apa yang terjadi?" tanya Tabib Yang ketika ia sampai di kamar Raja dan Permaisuri.

"Tabib Yang...hiks...Ayah dan Ibu tidak bernafas...,"

Berikutnya, Tabib Yang langsung mengambil alih keduanya. Tabib Yang panik bukan main karena mendengar pernyataan Pangeran yang kini menangis begitu deras. Tapi Tabib Yang melakukan semuanya dengan hati-hati. Ia mencari detak jantung dan nafas keduanya dengan seksama. Walaupun pada akhirnya ia menemukan hasil yang sama dengan Luhan. Tabib Yang membelalakkan mata. Sontak hatinya langsung terasa sesak.

"Hiks...Tabib Yang, apa yang terjadi?" Luhan bertanya seketika ia melihat Tabib Yang berhenti dari kegiatannya.

"...,"

"Tabib Yang...hiks...jangan katakan kalau mereka...hiks...Ayaaaaah...Ibuuuu," Luhan langsung memeluk Ayah dan Ibunya yang kini terbujur kaku di ranjang.

"Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi, Yang Mulia Raja dan Permaisuri, sudah tiada,"

Perasaan Luhan begitu hancur karena mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan. Luhan memeluk jenazah Ayah dan Ibunya dengan erat. Menangis sambil mendekap mereka. Luhan tentu begitu terpukul karena kenyataan ini. Ayah dan Ibunya meninggal bersamaan. Meninggalkannya sendirian.

"Ayah...Ibu...kenapa kalian meninggalkan aku? Hiks...jangan tinggalkan aku...hiks...kumohon bangunlaah!"

"Ayah, Ayah seharusnya ada di Ruang Ayah sekarang, hiks...bukan tidur seperti ini... Hiks...hiks...Ibu, Ibu lebih memilih tidur daripada bertemu Luhan pagi ini? Hiks...apakah...hiks...apakah aku merepotkan Ibu sampai Ibu lebih memilih tidur? Hiks...bangun, Bu...,"

Luhan mengguncang badan keduanya bergantian. Meskipun hasilnya mustahil. Ia masih tidak percaya orang tuanya telah tiada. Padahal Luhan ingat betul mereka masih bercengkerama bersama semalam. Mereka bercengkerama penuh bahagia. Tapi kenapa seakan-akan Dewa sedang mempermainkan Luhan? Dewa yang memberikan kebahagiaan itu, tapi Dewa juga yang merenggutnya. Luhan begitu hancur kerenanya.

"Pangeran, kami akan mengurus jenazah Yang Mulia Raja dan Permaisuri. Hamba akan memeriksa apa penyebab keduanya meninggal, Yang Mulia Pangeran," ucap Tabib Yang.

Luhan masih tak rela melepaskan keduanya ketika ia ditarik menjauh oleh pengawal yang sedari tadi menyaksikan kejadian ini. Luhan menangis meraung-raung begitu tak rela kehilangan keduanya.

Pada sore harinya, Luhan mendapat kabar bahwa Ayah dan Ibunya meninggal karena diracuni. Racun itu dimasukkan ke dalam teh yang dibawakan kepada keduanya sebelum mereka tidur. Karena racun itu, keduanya meninggal pelan-pelan ketika sedang tertidur.

Luhan yang masih terpuruk tak mampu berkata apa-apa. Namun Shixun yang saat itu bersama dirinya, langsung memerintahkan siapapun orang yang menyiapkan teh dan mengantarkannya ke hadapan Raja dan Permaisuri Lu untuk dipejara. Upacara pemakaman untuk Raja dan Permaisuri pun langsung dilaksanakan saat itu juga.

FLASHBACK END

.

Setelah upacara pemakaman itu, sanak saudara langsung berdatangan. Sampai hari ini pun masih. Mereka begitu menghormati Raja Lu serta Permaisuri. Selama hidupnya, Raja dan Permaisuri Lu sangat bijaksana. Mereka mengayomi rakyat dan patut menjadi panutan bagi siapapun. Hal itu membuat semua orang merasa sangat kehilangan, termasuk rakyat. Bahkan ada beberapa orang perwakilan rakyat yang mengunjungi Keluarga Lu. Mereka begitu bersimpati pada keluarga yang ditinggalkan, terutama Luhan. Mengingat Luhan adalah anak satu-satunya dan ia sedang hamil saat ini.

Tangis duka terpecah dimana-mana. Semua orang begitu berduka. Padahal, bulan lalu baru saja sang Pangeran menikah. Tapi sebulan kemudian orang-orang malah harus dihadapkan pada kenyataan pahit yang membuat mereka begitu terpukul dan kehilangan.

Ya. Semua orang begitu kehilangan.

Tetapi, mungkin tidak berlaku untuk seseorang yang sekarang berada di dalam kamar. Ia menggunakan pakaian berwarna putih. Wajahnya terlihat sumringah ketika ia menuang arak ke cawan kecilnya.

"Bersulang, untuk keberhasilanku menyingkirkan mereka yang mencoba bermain-main denganku. Hahaha,"

Lelaki itupun meminum arak di cawannya sampai habis dalam sekali teguk dan langsung bangun dari duduk setelahnya. Ia sedikit merapikan pakaiannya dan mengganti wajah sumringahnya dengan wajah sedih dan berduka. Seakan-akan ia sedang memakai topeng.

.

"...Lu...,"

"...Pangeran Lu...,"

"Pangeran Lu?"

"A-ah, ya?"

Luhan tiba-tiba tersentak ketika ada suara yang memanggilnya. Ia terlalu larut dalam bayang-bayang ketika ia menemukan Ayah dan Ibunya tidak bernyawa lagi. Ia terlalu serius mengingatnya sampai tidak tahu bahwa ada orang di dekatnya dari tadi sampai ia dipanggil berkali-kali seperti tadi. Tapi setelah melihat siapa yang memanggilnya, ia malah mematung. Tetapi ia mengenyampingkan perasaan itu. Luhan bersikap sewajarnya.

"Se-selamat siang, Pangeran Wu,"

Orang itu adalah Pangeran Wu, atau kita bisa panggil dia Wufan. Wufan sangat tampan memakai pakaian putih. Berbeda dengan Luhan yang memakai pakaian hitam karena ia adalah keluarga langsung dari almarhum. Luhan memanggil Wufan dengan Pangeran Wu. Karena mereka yang memutuskan. Luhan tidak mau mengurangi kesopanannya. Tidak lain karena di antara mereka sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Terlebih karena Luhan sudah menikah dan mengingat perjanjian mereka tempo lalu, keduanya memutuskan untuk mengubur perasaan mereka dalam-dalam.

"Selamat siang, Pangeran Lu. Maaf bila aku mengganggu. Kelihatannya, Pangeran sedang tidak enak badan," Wufan berbicara dengan tenang. Sedang Luhan, ia menunduk berusaha untuk tidak menatap Wufan.

"Terimakasih atas perhatiannya, Pangeran Wu. Tapi, aku dalam kondisi baik," Luhan membalas dengan tetap menunduk.

Wufan miris mendengar Luhan yang berusaha untuk memanggilnya dengan sebutan 'Pangeran Wu' dan berbicara formal kepadanya. Tak dipungkiri semua ini membuat hubungannya dan Luhan menjadi kaku. Ia akui itu karena ia sendiri merasa tak nyaman menyebut Luhan dengan 'Pangeran Lu'. Bukan karena tidak punya rasa hormat atau kesopanan, tapi ia merasa hal ini malah membuat semuanya terlihat terpaksa.

"Aku tahu kau berbohong, Lu," akhirnya Wufan bicara lagi. Kali ini tidak dengan formal. Ia memelankan suaranya.

"Bukankah seharusnya 'Pangeran Lu', begitu?" Luhan malah membalas dengan bertanya.

"Aku tidak suka. Maaf. Aku hanya tidak mau kita merasa kaku. Aku tahu kau juga merasa begitu,"

"...," Luhan hanya terdiam.

"Panggilan atau sebutan tidak akan membuat perasaan berubah, Lu. Aku jamin itu,"

"Baiklah," akhirnya suasana di antara keduanya melembut.

Sambil menyandarkan tubuh kepada pagar dan melihat kolam ikan di depan mereka, pembicaraanpun berlangsung.

"Aku kira kau sudah pulang sejak kemarin, Pangeran Wu, em...maksudku...Wufan," Luhan memulai pembicaraan.

"Ayahku sangat kehilangan Ayahmu. Orang yang sudah ia percaya bagaikan saudara sendiri. Berita ini membuat Ayahku sangat terpukul. Ia masih ingin di sini,"

"Maaf,"

"Kau tidak seharusnya meminta maaf. Ini bukan salahmu. Aku ingin menemuimu sejak kemarin. Kau terlihat begitu terpukul. Tapi rasanya tidak mungkin karena Shixun selalu ada di sampingmu," Wufan menatap Luhan di sampingnya. Tetapi selanjutnya ia memalingkan pandangannya. Tidak seharusnya ia menatap orang lain yang sudah menikah.

"Omong-omong, bagaimana kabarmu?"

"Aku baik. Kau sendiri?"

"Baik juga. Kau yakin kau baik? Wajahmu terlihat pucat. Sejak kemarin aku melihatmu,"

"Terimakasih sudah memperhatikanku, Wufan. Tapi aku benar-benar baik-baik saja," Luhan tersenyum lembut.

"Apakah 'ia' bersikap lembut padamu?" Wufan bertanya dengan memelankan suaranya. Luhan tentu saja tahu siapa yang Wufan sebut dengan 'ia'.

"Ia...bersikap baik. Sangat baik," Luhan menjawab dengan suara lirih.

Luhan mengingat semua yang telah Shixun lakukan kepadanya setelah mereka menikah. Terlebih pada saat malam itu. Malam dimana Shixun mengungkapkan pada dirinya bahwa ia hanyalah sebuah alat untuk membantunya menghancurkan Kerajaan. Luhan tentu sakit hati. Bahkan Shixun menampar dan memukulnya.

Sebulan bersama dengan Shixun, jujur, membuat Luhan menderita. Shixun memang jarang memukul Luhan. Setelah kejadian malam itu, Shixun malah tidak pernah kasar secara fisik kepada dirinya. Shixun tidak pernah menyuruhnya untuk tidur di luar atau di lantai. Shixun tidak pernah melarang Luhan makan apapun yang ia ingin. Shixun juga tidak pernah 'memperkosa' Luhan lagi. Tapi, Shixun sering menyakiti Luhan melalui batinnya. Memang Shixun tidak pernah memukulnya, tapi Shixun selalu berbicara menyakitkan kepada Luhan. Memang Shixun tidak pernah menyuruhnya tidur di luar atau di lantai, tapi Shixun selalu membisikkan kata-kata yang membuat Luhan menangis semalaman.

"Kalau kau ingin bercerai denganku, cepatlah gugurkan bayi itu,"

Itu adalah salah satu perkataan Shixun yang membuatnya sakit hati. Luhan ingin menangis mengingatnya. Tetapi ia tidak ingin menangis di hadapan Wufan. Ia berusaha kuat di hadapan semua orang. Ayah dan Ibunya sekalipun. Ia tidak pernah memberitahukan bagaimana cara Shixun menyiksa hatinya.

"Kau melamun lagi, Xiao Lu," tiba-tiba suara Wufan terdengar lagi.

"Tidak. Aku tidak...,"

"Aku sudah memanggilmu berkali-kali tetapi kau tidak merespon,"

"Maaf,"

"Kau makan dengan baik?"

"Ya?" Luhan bingung dengan pertanyaan Wufan. Kenapa tiba-tiba Wufan bertanya seperti itu.

"Apa kau makan dengan baik? Kau terlihat kurus,"

"Aku makan tiga kali sehari, Wufan. Seperti biasanya,"

"Begitukah? Bayimu...kau harus menjaganya," Wufan menegakkan badannya.

"Aku tahu dari raut wajahmu apa saja yang sudah dilakukan Shixun padamu. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan karena aku tidak berada di dekatmu dan aku bukan siapa-siapamu. Tapi, karena kau yang memilih untuk kuat dan berdiri sendiri," Wufan memegang bahu Luhan kemudian memeluknya. Sontak hal ini membuat Luhan panik.

"Jangan seperti ini, Wufan," Luhan berontak di pelukan Wufan. Ia ingin melepaskan diri. Untung di sekitar mereka sedang sepi.

"Kenapa kau memaksakan dirimu untuk menerima pernikahan itu, Luhan? Padahal jika kau tidak menikah dengan Shixun, aku rela menikahimu. Walaupun aku harus membesarkan anak Shixun,"

"Wu-Wufan...,"

"Oh! Beginikah tingkah istri dan kakakku dibelakangku!?"

Terdengar satu suara yang membuat Luhan dan Wufan melepaskan pelukan dan menjauh. Keduanya sungguh kaget dan tidak menyangka bahwa si pemilik suara ada di tempat mereka.

"Shi-Shixun...," Luhan terbelalak dan panik melihat Shixun yang kini ada di hadapannya.

"Kau! Masuk ke kamarmu! Sekarang!" bentakkan Shixun membuat Luhan cepat-cepat pergi dari tempatnya dan menuju ke kamar.

Shixun marah. Matanya nyalang menatap Wufan. Begitu pula dengan Wufan. Akhirnya mereka berdua saling menatap dengan amarah. Beberapa lama kemudian, Shixun memilih membalikkan badannya untuk pergi dari tempat itu. Ia memilih untuk menahan diri dan tidak bertengkar dengan Wufan. Tapi, belum sempat ia melangkah, sebuah tangan menahan pundaknya dari belakang dan membuatnya berhenti di tempat.

"Kau sudah menyakitinya, Shixun," Wufan berkata dengan nada dingin.

"Lalu apa masalahmu? Kenapa kau berani menyalahkanku di saat perbuatanmu sendiri juga salah?" tanpa membalikkan badan Shixun menjawab.

"Luhan milikku! Jangan berani kau menyentuhnya lagi!"

Shixun membalikkan badan dan mengatakan hal itu sambil menatap Wufan dengan marah. Iapun meninggalkan Wufan sendiri.

.

'BRAKKK'

Suara pintu ditutup dengan kasar membuat Luhan kaget. Ia melihat ke arah pintu dan melihat Shixun yang berjalan ke arahnya. Raut wajah Shixun dan langkah cepatnya membuat Luhan yakin bahwa ia sedang marah saat ini. Hal itu membuat Luhan takut.

"Kau berani mencurangiku?" Shixun mencengkeram lengan Luhan. Bertanya dengan nada keras.

"Kau berani berpandangan dengannya!? Kau berselingkuh saat aku tak ada!? JAWAB AKU!" Shixun mengguncang tubuh Luhan pertanda tidak sabar akan jawaban Luhan.

"I-Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Shixun. Aku tidak berselingkuh dengannya. Wufan hanya...,"

"Oh! Kau memanggil Wufan dengan nama dan kau masih mengelak berselingkuh dengannya!?"

'PLAKK'

Shixun langsung menampar Luhan begitu ia selesai berkata dan membuat tubuh Luhan terhuyung ke arah dinding.

"Kau tahu apa kesalahanmu, bukan?"

Luhan yang memegang pipinya, tahu kenapa Shixun mengatakan hal itu padanya. Memang tidak seharusnya Luhan memanggil Wufan hanya dengan nama. Seharusnya ia memanggil Wufan dengan sebutan 'Pangeran Wu', seperti yang seharusnya dilakukan orang yang tidak mempunyai hubungan apapun. Dan Luhan yang panik, melakukan kesalahan dengan menyebut pria lain hanya dengan nama di depan suaminya.

"Aku...minta maaf, Shixun. Maafkan aku...hiks...," Luhan tiba-tiba bersujud di depan Shixun dan menangis meminta maaf. Luhan begitu takut melihat Shixun marah. Ia berharap Shixun memaafkannya. Tapi yang terjadi selanjutnya malah membuat Luhan semakin takut.

"Bangun! Kemari,"

Shixun membentak Luhan kemudian menarik bahunya agar ia berdiri. Setelah itu dengan tidak sabaran, Shixun melempar Luhan ke ranjang. Luhan yang diperlakukan seperti itu hanya bisa memegangi perutnya untuk melindungi janin di dalamnya.

"Kau tahu hukuman apa yang harus diberikan kepada istri yang berselingkuh, Luhan?"

Suara Shixun membuat Luhan merinding. Begitu mengintimidasi dan menusuk. Luhan yang tahu bahwa Shixun tidak suka pertanyaannya tidak dibalas, menjawab pertanyaan Shixun dengan terbata-bata.

"Di...telanjangi di depan umum...hiks...atau di hukum mati...,"

'SRAKK'

Terdengar suara kain yang ditarik kasar. Shixun menarik lepas celana Luhan dan celana dalamnya dengan kasar setelah Luhan menjawab. Kemudian melempar celana itu entah kemana. Setelah itu, Shixun memposisikan tubuh Luhan untuk sedikit menungging.

"Kau benar. Tapi aku merasa kasihan denganmu karena kau sedang hamil. Aku tidak akan melakukan hukuman itu," Shixun membelai bokong Luhan. Sedangkan Luhan malah mencengkeram sprei.

"Tapi aku melakukan hukuman lain!"

'PLAKK'

"Aaaaakh...!"

Tiba-tiba Shixun memukul bokong Luhan dengan keras sampai Luhan berteriak. Inikah yang Shixun maksud dengan hukuman yang lain?

"Jangan berteriak! Atau kau mau ada orang lain yang tahu!?" Shixun membentak.

'PLAKK'

'PLAKK'

"Hnggghhhh! Khh!"

Shixun kembali memukul berkali-kali. Sedangkan Luhan hanya bisa mencengkeram sprei dengan keras. Ketika ia butuh pelampiasan dari rasa sakit yang ia rasakan, ia menggigit sprei itu untuk meredam suaranya.

"Kau harus menyadari kesalahanmu, Luhan!"

'PLAKK'

"Hnnnnh!"

"Kau selingkuh di belakang suamimu dan kau masih membela orang itu!? Kau tahu siapa aku, kan!? Kau tahu aku suamimu, kan? JAWAB AKU!"

"Hiks...aku mengerti, Shixun,"

'PLAKK'

"Aaahh...maafkan aku...hiks,"

'PLAKK'

"Akuuhh...aku berjanji tidak akan mengulangi...hiks...lagi...,"

"Kau kira aku percaya begitu saja?" Shixun bertanya setelah 30 kali memukul bokong Luhan. Hal itu tak ayal membuat bokong Luhan memerah. Luhan pun menjatuhkan diri ke sebelah kiri dan membelakangi Shixun. Ia masih sesenggukkan karena hukuman yang diberikan Shixun. Sedangkan Shixun yang masih marah hanya melihatnya begitu saja. Nafas Shixun masih tersengal-sengal.

Seakan belum puas, Shixun menindih tubuh Luhan dan mencium bibirnya dengan ganas. Luhan yang diperlakukan seperti itu sontak berontak dan menghindari ciuman Shixun yang memaksa itu. Tapi tenaga Shixun yang lebih kuat, membuat usaha Luhan tidak berarti apa-apa.

"Shixun, apa yang kau lakukan?"

"Jadilah istri yang baik, Luhan,"

Shixun menahan tangan Luhan di atas kepala. Hal itu menjadikan Luhan sulit untuk bergerak. Tapi hal ini sangat menguntungkan bagi Shixun. Shixun mendapatkan bibir Luhan dengan mudah dan menciumnya dengan kasar.

"Eumhhh, lephh...has...,"

Luhan yang memberontak malah membuat Shixun semakin berkeinginan untuk mengungkungnya dan membuatnya tak berdaya. Shixun menggigit bibir bawah Luhan dan menghisapnya. Begitu terus menerus seakan bibir Luhan menyajikan kenikmatan yang begitu patut ia sesap.

Tangan kanan Shixun bergerak melepas pakaian yang Luhan kenakan. Sedangkan tangan kirinya tetap menahan tangan Luhan di atas kepala. Butuh waktu lumayan lama untuk melepas pakaian atas Luhan karena Luhan terus memberontak dan menggerakkan tubuhnya untuk menghindar. Tapi perlahan tapi pasti, Luhan telanjang pada akhirnya.

"Aku mohon lepaskan aku, Shixun...hiks...,"

"Aku ingin mengingatkanmu siapa yang berhak atas dirimu, Luhan. Agar kau tak mencurangiku lagi. Kau harus mengingatnya dengan benar, hm?"

Shixun menyelesaikan perkataannya dengan nafas berat. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin menyentuh Luhan setelah ia melihat bokong telanjangnya serta kulitnya yang putih dan mulus. Hal itu membuat Shixun bernafsu dan birahinya naik.

"Aku akan melakukan ini dengan cepat, jadi menurutlah,"

"Janganhh...aaahh...,"

Luhan mendesah ketika Shixun menjilat putingnya. Shixun juga memainkan benda itu dengan lidahnya. Shixun akan menyesapnya dan menghisap seakan bayi yang menyusu pada ibunya. Sesekali ia akan menggigit puting Luhan dan membuat Luhan mendesah tertahan karenanya.

"Shixun...nnhh...,"

Lenguhan Luhan membuat Shixun semakin semangat melakukan hal-hal erotis kepada Luhan. Luhan masih berusaha melepaskan diri dengan membalikkan badannya memunggungi Shixun. Tapi yang terjadi malah Shixun kembali menindihnya dari belakang membuat Luhan mau tak mau harus menumpu badannya pada kedua tangan dan lututnya.

Shixun mulai menggerakkan tangan ke tubuh bagian selatan Luhan. Shixun begitu menikmati semua hal yang ia lakukan dan sensasi ketika ia menyentuh tubuh Luhan yang menyengat tubuhnya, membuat Shixun ingin melakukan hal yang lebih kepada Luhan.

"Aaahh...ssshh...,"

Luhan mendesis tepat saat Shixun meremas penisnya yang sudah basah karena precum. Entah kenapa Luhan menjadi terangsang ketika Shixun mempermainkan tubuhnya. Shixun menciumi tengkuk Luhan saat Luhan tak sengaja menggerakkan pinggulnya ke belakang dan mengenai penis Shixun yang masih terbungkus celana. Luhan berbohong apabila ia mengatakan bahwa penis Shixun masih tertidur. Luhan bisa merasakan bagaimana kokohnya penis Shixun walaupun terhalang kain celana.

Shixun menggerakkan tangannya yang lain untuk menyentuh puting susu Luhan dari belakang. Ia mencoba menggoda Luhan dengan meraba perutnya terlebih dahulu. Kemudian naik ke atas perlahan-lahan. Setelah Shixun menemukan titik sensitif Luhan tersebut, Shixun langsung memilinnya. Menekannya dan mempermainkan puting Luhan dengan sedemikian rupa dan akhirnya membuat Luhan menggelinjang geli.

"Shixun...nghhh...,"

"Kau menginginkanku? Hm?" Shixun mencium bibir Luhan lagi.

"Aku...mmhh...akan menjadi istri yang baik,"

"Cih, aku harap kau benar-benar menepati perkataanmu. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Luhan," Shixun meremas penis Luhan dengan gemas setelah itu.

"Aaahhh...ahhh...," Luhan mendesah kembali. Bukan desahan yang terpaksa seperti sebelumnya. Desahan kali ini terdengar seakan Luhan...menikmatinya?

"Siapa yang sekarang memeluk tubuh telanjangmu, Luhan?" Shixun bertanya berbisik kepadanya. Dengan malu-malu Luhan menjawab.

"K-kau...,"

"Kau? Siapa 'kau'?" Shixun bertanya kembali karena tak puas dengan jawaban Luhan. Ia mencubit puting Luhan sebagai isyarat.

"Anghh...Shixunnhh...,"

"Benar. Siapa yang sekarang sedang mempermainkan tubuhmu, hm?"

"Shi-Shixunhhh...,"

"Shixun? Siapa dia?" Shixun bertanya sambil mengeluarkan penisnya dari celananya. Perlahan ia menggesekkan penisnya ke bokong Luhan dan membuat Luhan memejamkan mata.

"Dia...mmmh...suamiku...,"

"Oohh...Luhan pintar sekali. Sekarang haruskah Shixun memasukkan penisnya ke dalam lubang Luhan untuk menghukum Luhan yang berselingkuh?"

"Eumhh...," Luhan mengangguk.

"Hukum Luhan, Shixun," Luhan menggigit bibirnya setelah mengatakan hal itu.

Luhan sudah tidak ingat bahwa ini adalah hukuman karena sentuhan Shixun sangat memabukkan bagi dirinya sedari tadi. Mata Luhan terpejam ketika Shixun memasukkan kejantanannya ke lubangnya. Luhan merasa sakit, ngilu, walaupun tak sesakit saat Shixun memperkosanya.

"Sshh...Luhan harus mengingat bahwa Shixun adalah suami Luhan, mengerti?"

"Y-yaa...ahhhh...Shixunnhhh...aahh...,"

Luhan mendesah saat Shixun menghentakkan penisnya ke dalam tubuh Luhan. Shixun merasakan kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan. Tanpa sadar iapun merindukan sensasi ini. Tubuh Luhan yang tersentak ke belakang membuat Shixun memeluknya erat. Luhanpun menggenggam tangan Shixun yang memeluknya dengan erat. Setengah mencengkeram karena Luhan butuh pelampiasan untuk rasa nikmat yang ia rasakan sekarang.

"Aahh...Shixunnhh...,"

"Luhan...hhh...,"

Luhan menyebut nama Shixun disetiap hentakkan yang Shixun berikan. Sesekali Luhan akan menyempitkan lubangnya sendiri dan hal ini membuat Shixun yang berbalik menyebut namanya dengan suaranya yang seksi bagi Luhan.

Shixun tak tinggal diam. Dengan tangan kanannya yang terbebas, ia memanjakan penis Luhan dari luar. Memijatnya lembut, mengocoknya cepat, dan sesekali akan meremasnya dengan tempo yang tidak beraturan.

Luhan yang tidak mampu menahan sensasi yang ia rasakan, terantuk ke depan dan menumpukan berat tubuhnya pada lengannya. Tangannya kini sudah lemas dan mungkin tak butuh beberapa menit lagi untuk menunggu Luhan meletakkan kepalanya di atas sprei.

"Shhh...Shixun...aaaahh...,"

Di tiga hentakkan selanjutnya, Luhan benar-benar tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya dengan tangan. Shixun berhasil menumbuk titik kenikmatannya dan melakukan itu berkali-kali. Sementara Luhan, tangannya hanya bisa meremas sprei di samping kepalanya yang terkulai di sprei. Nafasnya tersengal menerima semua yang Shixun lakukan padanya.

Shixun terus memompa kemaluannya dengan semangat. Untuk sejenak ia melepaskan tangannya dari puting dan penis Luhan untuk membuka pakaiannya sendiri. Ia melakukan itu tanpa berhenti menggerakkan penisnya ke dalam tubuh Luhan seakan-akan ia akan sangat rugi jika ia berhenti dari kegiatannya itu.

Setelah bajunya terlepas, Shixun langsung memeluk Luhan dari belakang. Shixun menciumi tengkuk Luhan yang mempunyai aroma lembut dan memabukkan. Belum puas hanya dengan mencium, Shixun kemudian menggigit dan menghisap tengkuk Luhan. Menyesap kulit Luhan dengan perlahan. Shixun melakukannya di beberapa tempat dan akhirnya meninggalkan bekas-bekas merah keunguan di sekitar tengkuk dan punggung Luhan. Setelah Shixun puas melakukan hal itu, ia akan menggapai bibir Luhan dan menciumnya.

"Aaahhh...,"

"Mmmhh...Luhan...,"

Shixun semakin mempercepat gerakannya ketika ia merasa bahwa ia akan orgasme. Luhan menggenggam tangan Shixun dengan erat menunjukkan bahwa ia juga berada dalam kondisi yang sama dengan Shixun. Dengan nafas yang memburu, keduanya saling mengejar dalam kenikmatan. Shixun balik menggenggam tangan Luhan dan mengeratkannya.

Luhan yang merasa gerakan Shixun semakin cepat, mencoba untuk mengimbanginya. Suara-suara yang tercipta dari kulitnya dan Shixun yang beradu makin membuatnya serasa di surga. Luhan sudah tidak bisa menahan lagi, ia menundukkan kepala kemudian menengadahkan kembali kepalanya. Mulutnya terbuka seakan ingin menambah pasokan oksigen ke dalam paru-parunya. Kemudian...

"Shixun...aaahhh...,"

"Aaaaaargh...,"

Keduanya mencapai puncak bersamaan. Shixun merasakan kenikmatan yang sangat ketika ia melepaskan benihnya ke dalam tubuh Luhan untuk kedua kali. Ia masih memejamkan matanya untuk menikmatinya. Begitu pula dengan Luhan. Luhan benar-benar merasakan hangatnya sperma Shixun yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia menggenggam erat tangan Shixun yang juga menggenggam erat tangannya. Luhan tak peduli sprei yang menjadi kotor karena spermanya sendiri.

Setelah itu tubuh mereka ambruk bersamaan ke ranjang. Shixun masih memeluk Luhan dan tidak melepas penisnya yang masih tertanam di dalam tubuh Luhan. Dengan seperti ini mereka bisa merasakan deru nafas masing-masing. Luhan mulai memejamkan matanya dan tertidur pelan-pelan. Sedangkan Shixun, ia masih memejamkan mata tapi menjaga agar dirinya tidak tertidur.

Setelah beberapa lama, Shixun merasakan nafas Luhan yang teratur dan menganggap Luhan sudah tertidur. Ia memutuskan untuk melepaskan dirinya dari Luhan. Shixun melakukan itu dengan pelan meski pada akhirnya tetap membuat Luhan melenguh karenanya.

Shixun mendudukkan dirinya dan bersandar pada kepala ranjang. Ia melihat ke arah Luhan yang tertidur dengan posisi miring membelakanginya. Shixun akui Luhan bisa memberikan kenikmatan yang sangat ketika di ranjang. Walaupun setelah itu Luhan akan tertidur lemas seperti ini, tapi Shixun cukup dimabukkan dengan pelayanan Luhan di atas ranjang.

Tunggu.

Pelayanan?

Bukankah Shixun yang memaksa Luhan untuk melakukan ini?

Seakan ada yang bertanya pada dirinya, Shixun menjawab dalam hati.

'Cih, ini memang bukan pelayanan. Ini hanya hukuman. Ya. Hukuman karena ia sudah berani bermain mata di belakangku,'

'Tapi kenapa tadi terasa begitu alami? Ia begitu rela saat aku melakukannya kepadanya?'

Terus dan terus. Shixun terus bertanya dan menjawab dalam hatinya sendiri. Ia mengalihkan pandangan dari Luhan. Tiba-tiba saja ia mengingat kejadian Luhan bersama Wufan tadi. Ia masih mengingat bagaimana Wufan memeluk Luhan.

Shixun yang waktu itu baru keluar dari kamarnya dan ingin menuju ke ruang dimana semua orang berkumpul untuk berdoa untuk almarhum. Tapi yang dilihatnya malah membuat hatinya panas. Wufan dan Luhan sedang berbicara berpandangan di pinggir kolam. Kemudian apa yang dilihat Shixun selanjutnya makin membuat panas hatinya bergejolak. Ia membelalakkan mata melihat Wufan tiba-tiba memeluk Luhan.

Walaupun ia tahu Luhan berusaha untuk menolak Wufan tapi ia tetap tidak peduli. Jangankan berpelukan seperti tadi. Berbicara atau sekedar berdekatan dengan pria lain pun ia sudah tidak suka. Terlebih lagi apabila pria lain itu adalah Wufan. Entah kenapa ia begitu menganggap Wufan sebagai ancamannya terhadap Luhan. Seakan-akan Wufan akan merebut Luhan apabila Shixun tidak menjaganya dengan baik dan membiarkan Wufan berdekatan terus dengan Luhan.

Emosi dan ego yang memakan Shixun malah membuat Shixun beringas dan menghukum Luhan seperti tadi. Sungguh Shixun tidak bermaksud untuk memukuli Luhan tadinya. Tapi darahnya benar-benar panas ketika Luhan menyebut Wufan di depannya hanya dengan nama. Ia takut mereka masih berhubungan di belakangnya. Shixun membenci hal itu. Hanya ia yang boleh Luhan panggil hanya dengan nama. Tidak dengan pria lain.

'Kenapa aku begitu tidak suka apabila mereka berdekatan? Kenapa aku begitu takut?' monolog Shixun dalam hati.

Entah kenapa Shixun tiba-tiba berpikiran seperti itu. Hal itu otomatis berada di dalama otaknya. Ia begitu takut kehilangan Luhan. Ia begitu marah ketika Luhan berdekatan dengan orang lain. Tapi apa sebabnya?

'Cih, aku suaminya. Wajar jika aku berlaku seperti itu. Seorang istri memang seharusnya tidak boleh seperti itu kepada pria lain,' ucap Shixun dalam hati pada akhirnya.

Shixun mengalihkan pikiran dari pembicaraan bodoh di dalam otaknya. Ia sekarang memandang lurus ke arah Luhan yang tertidur. Shixun memandangi punggung Luhan dari atas sampai bawah. Ia bisa melihat hasil karya yang ia buat di punggung Luhan tadi. Tak bisa dibilang sedikit memang. Tapi Shixun ingin menertawakan dirinya sendiri karena tanda itu.

Kemudian pandangannya beralih semakin ke bawah, ke arah bokong Luhan yang ia pukuli sebelumnya. Masih terlihat begitu merah. Apakah ia keterlaluan? Luhan terlihat begitu kesakitan. Ia meringkukkan tubuhnya. Kepalan tangannya ia dekatkan ke mulut seperti orang kedinginan. Tapi pada nyatanya, Luhan sama sekali tidak kedinginan. Ia hanya merasakan sakit yang sangat pada bokongnya.

Terlebih lagi setelah Shixun memukuli bokong Luhan, ia memaksa Luhan untuk melakukan seks dengannya. Walaupun pada akhirnya tidak terlihat seperti pemaksaan, tetap saja akan sangat menyiksa melakukan seks dengan bokong yang sakit seperti itu.

Perasaan sesak tiba-tiba saja menyelimuti ruang hati Shixun. Tangannya tiba-tiba terkepal seakan ia menyesal atas perbuatan yang telah ia lakukan kepada Luhan. Shixun berpikir ia sudah keterlaluan. Ia bahkan marah dan menghukum Luhan atas kesalahan yang bukan Luhan lakukan sendiri. Bukankah ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Luhan menolak Wufan yang memeluknya? Tapi kenapa Shixun masih menghukumnya? Sebegitunyakah, rasa kecemburuan Shixun terhadap Wufan yang bisa memeluk Luhan?

Cemburu?

Benarkah itu yang Shixun rasakan? Orang berdarah dingin dan pendendam seperti Shixun bisa merasakan cemburu? Apakah itu benar?

Shixun menggelengkan kepalanya berkali-kali kemudian mengacak rambutnya. Ia menghilangkan semua pikiran itu dari dalam otaknya. Iapun menyelimuti tubuh Luhan. Menyelimuti bokong Luhan yang memerah karena pukulannya dengan pelan-pelan.

"Shixun...,"

Luhan menggumam. Hal itu membuat Shixun melihat wajah Luhan apakah Luhan terbangun atau tidak. Tapi ternyata Luhan masih tertidur. Mungkin hanya gurauan tidur, pikir Sehun.

"Shixun..., m-maafkan aku...,"

Luhan kembali bersuara. Suara Luhan yang bergetar membuat Shixun terdiam untuk mendengar baik-baik apa yang Luhan katakan.

"Aku akan berusaha menjadi...istri yang baik untukmu. Ampuni aku,"

Kata-kata yang Luhan ucapkan malah membuat Shixun benar-benar terpaku dan meremas tangannya sendiri.

'Apakah ini yang disebut dengan menyesal?' tanya Shixun dalam hati.

.

.

Tiga Bulan Kemudian...

Tiga bulan sudah berlalu. Selama itu pula tidak ada pemimpin di Kerajaan Lu. Seharusnya, Putra Mahkota atau putra pertama Raja yang mengambil alih kepemimpinan ini. Tapi, mengingat Putra Mahkota satu-satunya sekarang menjadi istri orang lain dan sedang hamil, ia tidak diperbolehkan untuk memimpin kerajaan. Shixun yang merupakan suaminya, meski bukan keluarga Lu, sempat diberi perintah untuk memimpin Kerajaan Lu. Tapi ia menolak dengan alasan tidak mengerti seluk beluk Kerajaan Lu dengan benar. Akhirnya, untuk sementara, kepemimpinan di Kerajaan Lu diambil alih oleh adik dari Raja Lu yang selama ini menjabat menjadi penasehat Raja.

"Aku rasa aku harus memindahkan barang yang tak terpakai ke gudang. Kelihatannya kamar ini mulai penuh," kata Luhan sambil melihat-lihat ke kanan kiri di dalam kamarnya. Iapun keluar dan kembali ke kamar dengan membawa sebuah kotak kardus berukuran sedang yang akan ia gunakan untuk menampung barang-barang yang tidak terpakai.

Luhan sudah benar-benar menjadi ibu hamil sekarang. Ah, haruskah kita menyebutnya dengan pria hamil. Tidak, tidak. Sebutan ibu hamil sudah cocok untuknya, kok.

Ya, Luhan sudah benar-benar menjadi ibu hamil. Luhan selalu mempunyai banyak permintaan setiap harinya. Terkadang, permintaan itu bukanlah apa yang seharusnya ia minta. Hanya akibat dari perubahan perasaan dan temperamen orang yang sedang hamil.

Luhan terasa lebih keras kepala dari sebelum ia hamil. Biasanya apabila orang yang sedang hamil tidak dilaksanakan permintaannya, maka ia akan menangis atau setidaknya akan marah dan sinis kepada sekitarnya. Tapi Luhan berbeda. Ia akan berusaha mendapatkan sesuatu yang ia minta apabila tidak ada yang mau atau tidak ada yang bisa mengabulkan permintaannya.

Luhan juga akan balik marah apabila ia dimarahi karena masalah permintaannya. Walaupun pada akhirnya Luhan yang akan menangis dan meminta maaf kepada orang yang ia marahi karena merasa bersalah. Tapi setelah dimaafkan ia akan berlaku biasa seolah tidak ada yang terjadi. Sungguh keras kepala. Mungkin karena ia mengandung anak Shixun. Sifat seorang bayi menurun dari orang tuanya dan bisa mempengaruhi orang yang mengandungnya, bukan?

Hubungannya dengan Shixun membaik. Bukan membaik seperti suami istri pada umumnya. Yang dimaksud membaik adalah Shixun kembali menjadi Shixun yang bertindak baik hanya sebagai kedok. Walaupun sekarang Shixun lebih pendiam karena ia tidak lagi mengatakan kata-kata kasar untuk Luhan. Tapi Luhan sudah cukup senang karena itu. Setidaknya mengurangi stres.

"Ah, laci ini isinya apa? Berdebu sekali,"

Luhan yang sedang mengeluarkan isi laci-laci di kamarnya terlihat mengkritik sebuah laci yang ia ketahui adalah milik Shixun. Dengan sabar ia menarik laci itu untuk mengeluarkannya dan bisa ia taruh di meja. Karena dengan perut Luhan yang semakin membesar itu, akan lebih mudah jika ia mengerjakan semua hal sambil duduk daripada ia harus berdiri membersihkan laci yang letaknya satu jengkal di atas kepalanya itu.

Luhan mengeluarkan semua barang di laci itu untuk kemudian ia susun kembali. Pelan-pelan ia melakukannya agar tidak keliru dan menghilangkan barang yang siapa tahu berharga.

Ada banyak kertas-kertas yang entah apa tulisannya karena tintanya sudah mulai buram. Luhan memutuskan untuk tetap menyimpan kertas itu di laci, siapa tahu penting untuk Shixun. Kemudian ada tiga botol yang ia tahu botol itu adalah botol obat cair dari tampilannya. Satu persatu Luhan baca tulisan di kertas yang ditempel di obat itu.

Botol pertama. Alkohol. Mungkin Shixun butuh ini apabila ia terluka.

Botol kedua. Obat merah. Sama fungsinya dengan yang pertama.

Botol ketiga...

"Botol obat apa ini?"

Tidak ada tulisan apapun untuk obat ini. Hanya sebuah botol kaca kecil seukuran jari kelingking dan berbentuk kotak panjang. Warna botol ini bening dengan kayu yang dimasukkan ke mulut botol dan berfungsi sebagai tutupnya. Cairan di botol yang tersisa kurang dari seperempatnya juga bening.

Akhirnya Luhan yang penasaran, memutuskan untuk menyelesaikan membereskan laci cepat-cepat kemudian menuju ke tempat Tabib Yang untuk menanyakan obat apa ini. Tabib Yang yang berpengetahuan tinggi pasti tahu apa isi botol ini.

Luhan begitu bersemangat ketika ia berjalan menuju tempat Tabib Yang dan menanyakan apa cairan yang terdapat di dalam botol. Tabib Yang pun membuka botol itu dan mencium aromanya. Hanya sekali, kemudian menutupnya kembali. Tabib Yang menaruh botol itu di meja dan menatap Luhan dengan wajah serius. Dahinya berkerut, kedua alisnya hampir bertemu. Raut wajah seperti itu membuat perasaan Luhan tidak enak. Benar saja, apa yang dikatakan Tabib Yang membuat dirinya kaget bukan main.

"Ini racun, Yang Mulia Pangeran,"

.

.

TBC

.

Annyeong, yeorobun. Zhao again, here! Kali ini Zhao fast-up!

Cerita di Chapter ini banyak dilongkap-longkap, ya. Pertama, 1 bulan. Terus, 3 bulan kemudian. Jadi totalnya Luhan udah hamil 4 bulan, ya. Soalnya kalo Zhao nggak skip begitu nanti nggak selesai-selesai. Hehehe.

Langsung aja, yah. Soal review chapter kemaren. Wuidiih. Makin kesini makin kece dan gokil review-nya. Gomawo, dear. I really really appreciate it, loh. :) Topik belum berubah dari review-review kemaren yang ngebahas tentang Sehun yang super nyebelin dan BARBAR. Hehehe. Kata siapa, ya, Sehun itu barbar? (Kamu! Ya, kamu, mei-mei. Zhao-jie bawa 'BARBAR'-nya kesini, soalnya gokil. Hahaha. You're my style! 8D). Terus ada juga reviewer yang benar-benar memperhatikan Zhao dari cara penulisan sampai pemilihan kata. Zhao nggak bakal bosen chingu satronin. :P . Zhao malah seneng, kok. Tetapi, lebih dari itu, review kalian SEMUANYA sangat berharga bagi Zhao. Zhao baca satu-satu, kok, dear. As usual, Zhao bales via PM, okay? ;)

Oh, iya. Sekitar beberapa hari yang lalu Zhao iseng-iseng baca FF ini dari Chapter 1. Alhasil Zhao shock! Kenapa? Karena ternyata Zhao melakukan sejumlah typo di beberapa tempat. Hiks. Zhao menyesal. Mianhae :( So, untuk kali ini Zhao butuh bantuan kalian untuk memperhatikan penulisan dan tata bahasa Zhao yang masih acak adut. Semoga kedepannya Zhao nggak begini lagi, ne. :)

Okay, last... Review, yaa... Zhao is waiting.

See yout next chapter.

.

.

SALAM CINTA,

HunHan