WRONG DESTINY
Chapter 11
By
Mgr. Zhao
Cast : EXO member, ex-EXO, and other
Pairing : HunHan
Rate : M, M-Preg Contains
Author' Note : Semua cast dalam FF ini menggunakan nama Mandarin
.
.
"Ini racun, Yang Mulia Pangeran,"
Begitu kaget Luhan mendengar ucapan dari Tabib Yang tadi. Tabib Yang menjawab pertanyaannya dengan begitu yakin setelah ia memeriksa obat ini sendiri. Luhan ragu. Tapi Tabib Yang tidak mungkin salah. Tabib Yang adalah tabib kepercayaan kerajaan sejak sebelum Luhan lahir. Ia juga dikenal sebagai Tabib terbaik. Tidak mungkin ia melakukan kekeliruan. Seharusnya Luhan tidak perlu ragu akan hal itu lagi.
Tapi justru ketidak raguannya yang menjadi penyebab hatinya menjadi was-was seperti sekarang. Setelah mendengar jawaban dan penjelasan panjang lebar dari Tabib Yang tentang obat yang Luhan bawa, Luhan langsung pergi kembali menuju kamarnya. Ia menggenggam erat obat itu di tangannya.
"Dalam dosis tertentu racun ini bisa menyebabkan kematian, Yang Mulia. Racun ini akan membuat jantung berhenti berdetak secara perlahan-lahan dalam jangka waktu tertentu, sehingga orang yang diberi racun tidak akan ketahuan diracuni karena efeknya tidak langsung terjadi,"
Obat yang digenggam Luhan ternyata adalah racun yang sangat berbahaya. Orang yang diberi racun ini tidak akan ketahuan kalau ia diracuni. Dalam bayangan Luhan, berarti orang yang diberi racun hanya akan mati tanpa tanda apapun, seperti orang biasa yang tertidur. Sontak pikiran Luhan tertuju pada orang tuanya. Kematian mereka begitu tenang. Pagi hari Luhan menemukan mereka dengan keadaan terbujur kaku, tertidur tenang, tidak seperti orang keracunan.
"Setelah mati, orang yang diberi racun pun tidak akan menunjukkan tanda apapun seperti mulut berbusa atau bau almond dari mulutnya. Sehingga agak sulit untuk mendeteksinya,"
Luhan terus memperhatikan perkataan Tabib Yang saat itu. Luhan begitu hancur ketika Tabib Yang mengatakan hal selanjutnya.
"Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran. Tapi jenis racun ini sama dengan jenis racun yang menyebabkan Almarhum Raja Lu dan Permaisuri meninggal,"
Bagai disambar petir Luhan mendengarnya. Bukan karena ia kaget Ayah dan Ibunya meninggal karena diracuni. Luhan sudah tahu hal itu sejak sore hari mereka meninggal. Tapi ada satu hal yang membuat Luhan sangat kaget dan lemas.
"Shixun...,"
Luhan menyebutkan satu nama saat ia memikirkan hal itu. Ya, Shixun. Luhan bertanya-tanya kenapa racun ini bisa ada di laci Shixun? Apakah Shixun sengaja menyimpannya? Lalu apabila racun ini sama dengan racun yang diberikan kepada orang tuanya, kenapa racun ini ada pada Shixun? Apakah Shixun yang...
Luhan menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan hal bodoh itu. Luhan tidak boleh berperasangka buruk. Sambil memegangi perutnya, Luhan berjalan makin cepat ke kamarnya.
Dalam perjalanan, Luhan kembali membuat spekulasi. Apabila benar racun ini yang digunakan untuk membunuh orang tuanya, maka racun ini diberikan sebelum orang tuanya tidur. Kemudian ketika kedua orang tuanya tidur, racun ini melemahkan detak jantung mereka dan akhirnya mereka meninggal dalam tidurnya. Mungkinkah seperti itu?
Lalu, jika memang benar seperti itu, kenapa racun ini ada di laci Shixun?
Pertanyaan ini menjadi poin utama dari seluruh pertanyaan Luhan. Luhan terus menerus memikirkan kenapa hal ini bisa terjadi. Luhan mengeratkan genggamannya pada botol itu.
"Apakah aku harus menanyakannya pada Shixun?" Luhan bertanya kepada dirinya ketika ia berada tiba di depan kamarnya. Iapun membuka pintu.
"Dari mana kau?"
Suara yang sangat Luhan kenal terdengar begitu Luhan menutup pintu kamarnya kembali. Luhan yang mendengarnya langsung terpaku di tempat. Ia tidak menyangka Shixun sudah berada di kamar. Ia bingung dan hanya bisa menatap Shixun. Seluruh pertanyaan di dalam otaknya seakan tiba-tiba bercampur aduk membuat ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Kenapa kau diam saja? Dan...apa yang kau pegang itu?"
Shixun mendekat kepada Luhan dan memicingkan mata kepada benda yang ada di genggaman Luhan. Luhan pun tersadar dan langsung menyembunyikan benda yang merupakan botol racun itu ke belakang tubuhnya.
"Ti-tidak, ini bukan apa-apa,"
"Tunjukkan padaku, Luhan," Shixun yang tidak suka ada sesuatu yang disembunyika darinya, kemudian memaksa Luhan untuk memberi tahunya benda apa itu.
Mereka berebut botol itu. Shixun berusaha menggapai botol yang Luhan sembunyikan di belakang tubuhnya. Tapi Luhan tetap keras kepala tidak mau memberikannya kepada Shixun. Walaupun jelas tenaga Shixun lebih kuat. Pada akhirnya, Shixun berhasil merebut botol itu.
Luhan langsung menatap mata Shixun yang kini memandang botol racun di tangannya. Shixun melebarkan matanya sebentar sebelum kemudian mengerutkan dahi dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri yang tiba-tiba terasa kering. Kemudia ia memasukkan botol itu ke pakaiannya. Iapun bertanya pada Luhan.
"Dari mana kau mendapatkan botol itu?" Shixun bertanya sambil menatap Luhan.
"A-aku...aku mendapatkannya dari lacimu," Luhan menjawab dengan takut-takut.
"Untuk apa kau membuka laciku?"
"Tadi aku berniat untuk membawa barang-barang yang tidak terpakai di kamar ini ke gudang. Lalu aku membereskan laci dan menemukan itu di lacimu,"
"Ck," Shixun berdecak kesal karena penuturan Luhan.
"Lupakan tentang botol obat ini," ucap Shixun pada akhirnya sambil berlalu dari hadapan Luhan.
"Shixun...," Luhan memanggil Shixun sebelum ia sempat membuka pintu untuk keluar kamar. Dengan memberanikan diri, Luhan mengucapkan apa yang ingin ia utarakan kepada Shixun.
"Aku ingin bicara denganmu. Sekarang,"
Disinilah Luhan dan Shixun sekarang. Masih berada di dalam kamar. Duduk berhadapan menggunakan bantal duduk sebagai alas dan dihalangi oleh meja kecil di tengah-tengah mereka. Kamar mereka yang sepi menciptakan suasana syahdu di antara keduanya. Namun aura dari Luhan dan Shixun yang masing-masing merasakan rasa yang bertolak belakang itu, malah membuat hawa di kamar ini menjadi sesak dan terasa penuh. Luhan menatap Shixun dengan rasa penasaran di dalam hatinya. Sedangkan Shixun menatap Luhan dengan perasaan was-was seakan tidak ingin rahasia dalam dirinya diketahui Luhan.
"Shixun,"
Satu suara Luhan keluarkan dan membuat Shixun menarik nafas.
"Botol itu, kenapa bisa ada di lacimu?" pertanyaan Luhan yang merujuk langsung pada intinya membuat Shixun menarik nafas untuk kedua kalinya. Mata Luhan memandang Shixun dengan sayu dan penuh harap. 'Jujurlah.' Begitulah arti pandangan itu.
"Untuk kepentinganku sendiri. Suatu saat nanti mungkin aku akan membutuhkannya," Shixun akhirnya menjawab walaupun butuh jeda sedikit dari pertanyaan yang Luhan utarakan. Jawaban Shixun yang tenang namun lama itu malah membuat Luhan ragu dan memutuskan untuk mencari cara lain untuk membuat Shixun jujur.
"Jawab pertanyaanku dengan cepat, Shixun," kata Luhan.
"Kenapa botol itu bisa ada di lacimu?" Luhan mengulang pertanyaannya.
"Untuk kepentinganku sendiri. Suatu saat nanti mungkin aku akan membutuhkannya," Shixun juga mengulang jawabannya dengan cepat. Begitu pula dengan pertanyaan berikutnya.
"Kau tahu obat apa itu?"
"Racun,"
"Bagaimana kau bisa mendapatkan racun?"
"Aku membawanya dari Kerajaan Wu dari dulu,"
"Sebotol penuh?"
"Ya,"
"Untuk apa racun itu?"
"Suatu saat nanti aku akan membutuhkannya,"
"Membutuhkannya untuk apa?"
"...," Shixun tidak menjawab. Mata Shixun mulai bergerak ke sembarang arah untuk tidak menatap mata Luhan.
"Apakah racun itu sudah kau gunakan?"
"Belum,"
Jeda tiga detik sebelum Luhan melanjutkan pertanyaannya. Ia merasa janggal dengan jawaban Shixun.
"Kau yakin belum kau gunakan?" Luhan mengulang pertanyaannya dengan tangan terkepal dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Shixun karena ia tidak percaya dengan jawaban Shixun.
"Ya! Memangnya apa yang bisa aku lakukan dengan racun itu? Kenapa kau terus menanyaiku mengenai racun itu? Apa kau menuduhku telah membunuh orang dengan racun itu!?" Shixun tiba-tiba meninggikan suaranya. Ia merasa telah disindir. Otomatis membuatnya kalap dan merasa tidak suka.
"Kau terjebak, Shixun," ucap Luhan pada akhirnya.
"Apa?" Shixun bertanya dengan lirih.
"Aku minta kau keluarkan botol itu,"
"Apa maksudmu! Kau memerintahku!?" Shixun hampir menggebrak meja dan wajahnya memerah.
"Aku bilang keluarkan! Letakkan di tengah meja!" Luhan juga ikut meninggikan suaranya.
Luhan menahan tangisnya karena ia tahu Shixun sudah berbohong dan akhirnya membuat ia emosi. Namun tak disangka, Shixun menurutinya. Ia mengeluarkan botol itu dari bajunya dan meletakkannya di atas meja.
"Kau lihat isi botol itu, Shixun. Apakah masih penuh?" tanya Luhan.
Tidak ada jawaban dari Shixun. Shixun hanya menatap botol itu. Dalam hati, Shixun sudah tahu kenapa Luhan mengatakan bahwa ia terjebak. Ia pun mengerti bahwa kenyataannya memang ia terjebak. Shixun tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Kejahatan yang ia lakukan pasti akan ketahuan. Tapi ia tidak menyangka bahwa Luhan sendirilah yang harus mengetahuinya.
Bukan Shixun namanya jika ia menyerah begitu saja dan melakukan semua hal dengan ceroboh tanpa persiapan apapun. Ia sudah menyiapkan rencana untuk menutup mulut siapapun yang mengetahui hal ini dan bagi Shixun, menutup mulut Luhan adalah rencana yang paling mudah yang ia siapkan.
"Isi botol itu sudah hampir habis. Aku pernah menggunakannya. Sekali. Tidak. Dua kali dalam sekali pakai, juga dalam waktu yang sama, dan aku...berhasil menghilangkan dua nyawa dalam semalam,"
Shixun menjelaskan dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Ia menatap Luhan dengan tatapannya yang menusuk dan membuat Luhan melebarkan mata mendengarkan penjelasannya yang menurut Luhan tidak ada bedanya dengan psikopat. Shixun mengakui kejahatannya begitu mudah.
"Itu kan, yang ingin kau dengar?" tanya Shixun kemudian dengan senyum miring.
Luhan masih mencerna kata-kata Shixun. Ia merekam dalam otaknya. Shixun mengatakan bahwa ada dua nyawa yang ia bunuh dalam semalam. Dua nyawa itu, jangan-jangan adalah orang tua Luhan.
"Apakah y-yang kau bunuh...," Luhan mencoba bertanya mengenai perkiraannya namun ia terbata-bata. Ia terlalu takut untuk menanyakan hal itu.
"Benar. Mereka adalah orang tuamu,"
'BRAKK'
"Aargh...,"
Suara kayu yang berbenturan dengan badan terdengar bersamaan dengan suara teriakan tertahan. Shixun kini terbaring di lantai dengan Luhan yang ada di atasnya. Setelah Luhan mendengar pernyataan Shixun bahwa yang ia bunuh adalah orang tua Luhan, Luhan makin melebarkan matanya. Setelah itu semua kejadian terjadi begitu cepat.
Tiba-tiba saja Luhan menyerobot ke arah Shixun yang ada di seberang meja kecil yang membatasi mereka. Seakan lupa dengan perutnya yang membesar, Luhan mencengkeram kerah Shixun dan mendorongnya sampai akhirnya Shixun jatuh terbaring dan ia menindih Shixun sekarang.
"Kau...berani-beraninya membunuh mereka!" Luhan berucap sambil menatap nyalang kepada Shixun.
"ORANG SEPERTIMU TIDAK PANTAS HIDUP, SHIXUN!"
'BUGH'
Satu pukulan mendarat di wajah tampan Shixun. Shixun hanya mengikuti arah pukulan yang Luhan berikan sampai kepalanya tertoleh ke arah kanan.
"KAU TIDAK MENGERTI ARTI ORANG TUA, HAH!? KAU SUDAH MERAMPAS MEREKA DARIKU!"
'BUGH'
'BUGH'
"Kau membuatku marah, Shixun!"
'BUGH'
"Aku membencimu!"
Luhan memukul Shixun berkali-kali di wajahnya. Luhan benar-benar kaget mendengar perkataan Shixun. Benar-benar seperti disambar petir di siang bolong. Ia tidak tahu harus apa. Tubuhnya seketika melemas. Namun kata-kata Shixun yang terus terulang di otaknya tiba-tiba saja memacu emosinya naik dan membuat dirinya kalap seketika. Dirinya bagai kehilangan kendali dan akhirnya menarik tubuhnya untuk mendorong Shixun dan memukulinya terus seperti ini.
Luhan seakan tak mempedulikan kehamilannya sekarang. Yang ia inginkan saat ini adalah bagaimana caranya Shixun sebagai orang yang telah membunuh orang tuanya bisa merasakan kesakit hatiannya. Shixun harus mendapat balasan atas apa yang ia lakukan kepada orang tua Luhan.
Tapi karena kehamilan itu pula Luhan tidak bisa melampiaskan amarahnya lebih banyak lagi sehingga tubuhnya lemas dan ia menangis begitu deras pada akhirnya. Luhan menutup wajahnya dengan kedua tangannya membuktikan bahwa hatinya benar-benar hancur sekarang. Ia terus menangis dengan posisi masih menduduki perut Shixun.
"Hiks...kau...kenapa kau membunuh mereka?" dengan terisak Luhan berbicara.
"Apakah kau tidak tahu mereka sangat berharga untukku? Aku menyayangi mereka lebih dari apapun, Shixun...hiks... Tapi kemudian kau...kau membunuh mereka. Kau hidup tenang selama ini setelah melakukannya. Kau tidak memikirkan orang yang kau penjarakan. Kenapa kau begitu jahat, Shixun? Hiks...kenapa?"
"...," tidak ada jawaban dari Shixun.
"Aku sedih karena kehilangan mereka, tapi kau hanya berpura-pura di balik topengmu agar rencana yang kau lakukan tidak ketahuan, dan sekarang...hiks...yang aku dapatkan sekarang tambah membuatku sedih. Setelah kau ketahuan, kau mengatakan semuanya dengan mudah seakan kau tidak mempunyai salah apapun! Seakan tidak ada yang terjadi! Harusnya kau yang mati!"
Air mata Luhan semakin deras dan mengalir melalui sela-sela jari tangannya. Sesekali ia akan terisak namun tetap berbicara lagi.
"Kenapa harus membunuh mereka!? Hiks...hiks...kenapa harus kau yang membunuh mereka? Kau suamiku sendiri, Shixun. Kenapa kau begitu tega? Tidak cukupkah selama ini kau menyiksaku dengan perlakuan dan kata-katamu? Dengan perbuatanmu dari sebelum kita menikah dulu?"
"Apakah kau tidak ingat bahwa aku sedang mengandung? Kau ingat anak siapa ini, kan? Anakmu, anak kita tidak mungkin senang ayahnya menjadi pembunuh, Shixun...hiks...,"
Akhirnya Luhan melepaskan tangkupan tangannya pada wajahnya. Ia memukuli dada Shixun berulang kali.
"Kenapa kau begitu senang menyiksaku!?"
"Kau bisa merasakannya?"
Luhan berhenti memukuli Shixun ketika ia mendengar suara Shixun.
"Apa?"
"Kau bisa merasakannya sekarang, kan? Perasaan kehilangan orang tua?"
Shixun menolehkan kepalanya dan menghadap Luhan. Ia menatap Luhan yang tiba-tiba hanya diam terpaku memikirkan pertanyaan Shixun.
"Bagaimana, Luhan? Apakah rasanya sakit?"
Suara Shixun makin merendah seakan ia tak mampu berbicara. Matanya menyipit menatap Luhan mendalam. Bibir Shixun bergetar.
"Apakah kau sekarang membenciku yang sudah kau ketahui sebagai pembunuh orang tuamu? Kau bilang harusnya aku yang mati, kan?"
"Aku juga begitu, Luhan. Aku membenci orang yang sudah membunuh ibuku! Harusnya orang yang membunuhku saja yang mati!"
Shixun meninggikan nada suaranya walaupun ia masih terbaring di lantai dengan Luhan yang berada di atas tubuhnya. Gigi Shixun bergemeletuk. Wajah Shixun memerah. Air mata Shixun mulai keluar. Akhirnya Shixun melupakan rencana yang sudah ia persiapkan untuk membungkam mulut Luhan agar ia tidak memberitahukan kepada siapapun tentang hal ini. Tentang Shixun yang ternyata pembunuh orang tuanya. Hal ini sudah melenceng jauh.
"Kau masih beruntung, Luhan! Kau masih bisa bersenang-senang bersama orang tuamu selagi mereka hidup. Tapi aku? Apa yang aku lakukan saat Ibuku masih hidup? Aku bahkan tidak tahu bahwa dia adalah Ibuku sebenarnya. Jangankan untuk bersenang-senang bersamanya. Melihat pun itu hanya sesekali! Hiks...,"
"Ibuku hanya seorang selir. Seorang selir dengan pangkat Bin*! Kau pasti tahu apa artinya, kan? Ibuku adalah selir dengan pangkat terendah! Hanya akan mendapat pengakuan apabila Raja sudah menidurinya. Untuk mendapatkan hal itu ia harus berusaha bagaimanapun caranya agar Raja mau menidurinya. Lebih daripada itu, tidak semua selir berpangkat Bin akan menjadi selir yang diakui. Kebanyakan dari mereka hanya akan dijadikan sebagai pemuas satu malam setelah itu dilupakan begitu saja. Setiap aku belajar tentang kerajaan, aku selalu mengatakan dalam diriku sendiri bahwa selir dengan pangkat Bin hampir sama dengan wanita murahan!"
"Kau juga pasti tahu bahwa keluarga Kerajaan tidak akan begitu saja memberikan dukungan kepada seorang pelayan yang kastanya lebih rendah daripada mereka. Apalagi selir berpangkat Bin, Luhan? Mereka juga pasti tidak akan mudah menerima selir dari pangkat yang lebih rendah untuk masuk ke dalam keluarganya, apalagi untuk melahirkan anak Raja!"
Luhan menyingkir dari tubuh Shixun dan Shixun bangun untuk duduk. Air matanya menetes makin deras. Sama halnya dengan Luhan. Luhan mendengarkan Shixun dengan kepala tertunduk dan duduk melipat kakinya dengan rapi. Ia menangis membayangkan bagaimana bila apa yang terjadi pada Shixun malah terjadi pada dirinya.
"Kau tidak seharusnya menangis, Luhan. Akulah yang harusnya menangis meratapi nasibku yang buruk dan menyedihkan ini. Sangat menyedihkan karena aku mengetahui kenyataan bahwa ia Ibuku adalah setelah ia meninggal. Aku bahkan tidak pernah memeluknya. Aku tidak pernah mendengar suaranya. Aku tidak pernah makan masakan buatannya. Aku tidak pernah tidur dengan belaian dari tangannya. Hiks...,"
"Aku merasa sangat durhaka padanya, Luhan. Aku bahkan tidak pernah mendoakannya. Aku bahkan mengatainya wanita murahan ketika aku belajar. Aku tidak pernah menyelimutinya ketika malam tiba. Pasti ia kedinginan setiap malam karena kamar selir pada waktu itu hanya diberi lantai tanpa penghangat. Terkadang aku merasa aku berdosa karena aku menyimpan dendam untuk orang yang sudah membunuhnya. Aku tahu Ibu pasti tidak menyukai hal itu. Ibu pasti kecewa jika tahu aku berkelakuan seperti ini,"
"Tapi kemarahan dalam hatiku begitu membuncah mengalahkan rasa berdosa itu. Hiks. Aku ingin mereka tahu bahwa ada seseorang yang sangat mencintai orang yang mereka bunuh. Mereka tidak tahu kenyataan bahwa hatiku sangat sakit ketika tahu Ibuku sebenarnya sudah mati karena dibunuh. Hiks... Aku tidak suka mereka berlaku seakan tidak ada yang terjadi,"
"Aku merindukan Ibu...hiks...Ibu...Ibu...,"
Pelan-pelan kepala Luhan terangkat. Ia menoleh ke arah Shixun di sampingnya yang sedang menangis. Suara Shixun begitu menyakitkan. Air mata keluar melalui celah jari tangannya yang menutupi wajahnya. Shixun begitu terlihat frustasi saat ini.
Dengan perasaan sayang dan iba, Luhan menghadap ke arah Shixun. Ia memposisikan diri untuk lebih mendekat kepada Shixun. Perlahan Luhan menarik tangan Shixun yang menutupi wajahnya dan menariknya sehingga membuat Shixun menyandar di dadanya. Shixun masih menangis ketika Luhan membelai rambutnya. Luhan benar-benar tidak menyangka dibalik sikap dan pembawaan Shixun yang keras dan angkuh ternyata menyimpan rasa sakit yang mendalam.
"Luhan...hiks...aku menyesal...,"
Air mata Luhan bertambah deras ketika Shixun berkata. Suara Shixun begitu menyakitkan di telinganya. Sakitnya sampai ke hati. Bukan karena Luhan beranggapan bahwa Shixun tidak tahu diri karena mengucapkan kata 'menyesal' setelah ia menghilangkan nyawa orang lain. Bukan karena itu. Tapi karena Luhan bisa merasakan ketulusan itu dari ucapan Shixun.
Tiba-tiba Shixun bangun dari posisinya yang bersandar pada Luhan dan bersujud di depan matanya menetes ke lantai.
"Maafkan aku, Luhan. Maafkan aku,"
Luhan hanya bisa melihat Shixun karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Shixun yang tidak mendapat jawaban dari Luhan pun merasakan sakit hati yang sangat menusuk.
"Aku mohon, Luhan. Aku mohon. Aku terima apabila kau menghukumku. Matipun aku rela. Ampuni aku...hiks...,"
Ia tahu semuanya tidak akan semudah ini. Luhan tidak akan begitu baik untuk memaafkannya yang sudah membunuh orang tuanya dengan sengaja. Apalagi Shixun hanya menangis sedari tadi kemudian ia bersujud seperti ini. Sungguh klise. Brengsek. Tidak tahu diri. Muka tebal. Apapun itu, semuanya adalah kata-kata yang pantas Luhan ucapkan untuk Shixun.
"Kau ingin mati, Shixun?"
Luhan angkat bicara.
"Sungguh kau ingin seperti itu?"
"Aku...apapun...apapun hukumanmu. Akan aku terima. Asal kau mengampuniku. Aku mohon, Luhan,"
Shixun semakin dalam menyujudkan badannya kepada Luhan. Keningnya sudah menempel di lantai. Air mata yang ia teteskan sudah menggenang di bawahnya.
"Kenapa kau begitu mudah melakukan semuanya? Kau memperkosaku, kau yang membuat kita menikah, kau juga yang membunuh orang tuaku. Hiks...lalu sekarang, kau ingin mati? Kau begitu mudah melakukannya seakan semua itu adalah hal-hal kecil. Seakan semuanya hanya permainan,"
"Aku tahu kalau kau ingin menebus kesalahanmu. Aku tahu kau menyesal. Tapi kalau kau ingin mati sebagai hukumanmu, kau pengecut, Shixun. Kalaupun aku harus membunuh dirimu, aku akan membunuh dirimu setelah menyiksamu, kau tahu?"
Setelah Luhan menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja ia merasa janin di dalam perutnya bergerak. Luhan langsung memegang perutnya, walaupun tidak terasa sakit.
'Tidak, nak. Ibu bukan memarahimu,' ucap Luhan dalam hati.
"Lihat aku," Luhan memberi perintah kepada Shixun. Shixunpun mengangkat kepalanya. Mata mereka saling bertatap sekarang.
"Kau bersalah, Shixun. Bagaimanapun kau harus dihukum. Siapapun kau. Pangeran, suamiku, siapapun itu. Aku memang anak dari orang yang telah kau bunuh. Tapi, kerajaan ini masih mempunyai Raja. Aku akan melaporkan ini kepada Raja. Beliau yang berwenang menjatuhkan hukuman kepadamu. Aku harap kau bisa menerima hukuman apapun yang diberikan olehnya,"
Luhan mengambil botol racun yang sudah tergeletak di lantai karena keributan tadi. Kemudian ia tarik tangan Shixun dan menaruh botol itu untuk digenggam oleh Shixun. Sambil menahan air mata yang ingin menetes kembali, Luhan berkata.
"Aku ingin kau mempertanggung jawabkan ini semua di depan Raja. Aku akan berlaku sebagai saksi. Sekarang juga, Shixun,"
Ucapan Luhan membuat tubuh Shixun menegang. Luhan menyuruhnya untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Atau lebih sederhananya, menyerahkan diri kepada Raja sebagai tersangka. Tapi Shixun sudah siap. Ia akan melakukan apapun untuk menebus kesalahannya.
.
.
"Benarkah kau yang telah melakukan ini, Wu Shi Xun?"
Pertanyaan Raja Lu Hui penuh dengan penekanan dan amarah yang ditahan. Sebagai adik dari seorang korban yang dibunuh, tentulah ia sangat marah ketika ia menemukan siapa pembunuhnya. Namun, semua kemarahan dan emosinya tertahan oleh wibawanya sebagai Raja.
"Benar, Yang Mulia. Saya yang telah melakukan semua itu. Saya mohon ampun, saya juga siap menerima hukuman apapun yang Yang Mulia berikan," ucap Shixun sambil bersujud.
Suasana di ruang singgasana begitu sepi. Hanya ada Raja Lu Hui, Shixun, Luhan, dan dua orang pengawal Raja. Raja Lu Hui terdiam begitu mendengar ucapan Shixun yang kini masih bersujud bahkan menempelkan keningnya ke lantai.
'Mudah sekali anak ini meminta maaf ketika ia sudah membunuh kakak dan kakak iparku. Ia kira kesalahannya hanyalah sebatas mencuri mangga?' ucap Raja Lu Hui dalam hati.
Jujur, ia begitu marah. Ingin sekali ia maju ke depan menghampiri Shixun kemudian memukuli anak itu sampai ia babak belur. Sampai mati kalau perlu. Tapi ia yakin kakaknya tidak akan senang ia berlaku seperti itu. Ia sebagai Raja, harus tetap menjalankan hukum.
"Aku menghargai kemauanmu untuk mengakui kesalahanmu, Pangeran Wu Shi Xun. Bahkan kau membawa Pangeran Luhan sebagai saksimu. Aku juga yakin kau sudah mempertimbangkan ini semua. Kau pasti tahu hukuman apa yang akan kau terima, kan?"
Shixun membeku mendengar pertanyaan Raja Lu Hui. Ia jelas tahu apa hukumannya bagi orang yang sudah membunuh. Shixun mendadak berkeringat dingin. Begitu pula dengan Luhan.
"Aku bertanya padamu, Pangeran Muda Wu!"
"S-saya tahu, Yang Mulia,"
"Apa hukuman itu?"
"Siapapun yang sudah menghilangkan nyawa Raja atau Permaisuri...harus dihukum mati, Yang Mulia," ucap Shixun pada akhirnya sambil mengepalkan tangan. Ia bersujud makin dalam.
"Kau benar. Aku akan melakukan eksekusi tiga hari dari sekarang. Aku juga akan mengabarkan kepada Raja Wu bahwa putranya akan dieksekusi," ucap Raja Lu Hui sambil berdiri. Luhan yang mendengar hal itu langsung mengangkat kepalanya yang tertunduk sedari tadi ia masuk ke ruangan itu bersama Shixun. Ia kaget, namun ia bingung. Luhan bukan tidak tahu hukuman apa yang akan Shixun terima atas kesalahannya. Tapi entah kenapa di dalam hatinya ia merasa tak rela kalau Shixun harus mati.
Ia melihat Shixun yang gelisah dalam sujudnya. Tangan Shixun terkepal kemudian ia lepaskan lagi. Pundak dan punggungnya terlihat naik turun. Berulang-ulang seperti itu.
"Ada apa, Pangeran Muda Wu? Kau takut mati?"
"...tidak, Yang Mulia,"
"Pengawal, bawa Shixun ke penjara! Persiapkan semua hal untuk eksekusi mati tiga hari lagi. Selain itu keluarkan dayang istana yang ditahan selama ini karena tuduhan pembunuhan itu,"
"SIAP, YANG MULIA!" jawab dua pengawal yang ada di sana ketika Raja selesai memberi perintah. Keduanya langsung menggamit lengan Shixun dengan kasar dan membawa Shixun ke penjara. Sedangkan Shixun, hanya pasrah ketika diperlakukan seperti itu. Wajahnya menunduk, matanya menatap ke arah lantai dengan pandangan kosong, pundaknya pun turun seperti ia sudah tak punya harapan hidup.
Luhan yang sedari tadi terdiam saja, melayangkan pandangannya ke arah Shixun. Manik matanya mengikuti gerak tubuh Shixun. Tiba-tiba saja Luhan merasa tak rela Shixun dibawa ke penjara. Apalagi ia akan dihukum mati tiga hari lagi. Dada Luhan terasa sesak. Mendadak air matanya menetes. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah Shixun dihukum mati. Bahkan sampai tubuh Shixun menghilang dan pintu tertutup kembali, Luhan tetap tidak mengalihkan pandangannya dan tetap terdiam di tempat
"Apakah masih ada yang ingin dibicarakan, Pangeran Lu?"
Pertanyaan Raja Lu Hui dengan suaranya yang lantang membuat Luhan menoleh ke arahnya. Luhan menggigit bibir bawahnya. Ia yang sedari tadi berdiri, berjalan untuk lebih mendekatkan dirinya ke arah Raja Lu Hui sambil bertanya.
"Yang Mulia Raja Lu, apakah harus Shixun dihukum mati?" tanyanya.
"Pangeran Luhan, aku mohon panggil aku dengan 'Paman'. Aku melaksanakan semua ini dengan hukum, Pangeran Luhan. Semua sudah ada aturannya," jawab Raja Lu Hui. Ia menyuruh Luhan untuk memanggilnya dengan sebutan 'Paman'. Karena memang ia adalah paman Luhan. Ia yang dulunya penasehat Raja, kini menjadi Raja sementara untuk menggantikan Ayah Luhan yang meninggal.
"Tapi, Paman. Shixun sendiri yang mengakui kesalahannya. Kenapa harus dihukum mati?"
"Ia sudah menghilangkan nyawa Raja dan Permaisuri, Pangeran,"
"Kenapa harus secepat ini? Bahkan dayang yang waktu itu dituduh bersalah tidak dihukum mati secepat ini. Jangka waktu untuknya adalah 5 bulan. Kenapa untuk Shixun hanya 3 hari?"
"Itu karena 5 bulan masa tenggang adalah waktu yang diberikan sesuai dengan Peraturan Kerajaan untuk orang yang akan dieksekusi mati. Tapi untuk Pangeran Wu Shi Xun, karena ada bukti yang memberatkan dirinya bahkan ia sendiri yang memberi tahu, maka tidak perlu menunggu waktu lama lagi,"
"Tapi...,"
"Pangeran Lu, apakah kau berpikir karena ia adalah suamimu atau ia Pangeran Muda dari kerajaan rekan mendiang Ayahmu, maka akan ada keringanan? Siapapun dia, pelayan kerajaan, putra Raja, atau pahlawan sekalipun, tidak akan ada keistimewaan yang diberikan!"
Luhan tersentak mendengar penjelasan pamannya. Pamannya benar. Bukan berarti Shixun akan mendapat keringanan karena ia adalah suaminya atau pangeran dari kerajaan rekan Ayahnya. Dari suara pamannya yang mulai meninggi, ia tahu bahwa pamannya ini emosi. Ia sangat marah. Luhan mengerti akan hal itu. Tapi sesuatu di dalam diri Luhan terus mendorongnya untuk memperjuangkan Shixun.
"Paman...hiks...,"
"Maaf, Pangeran Luhan. Paman rasa tidak ada yang perlu diperjelas lagi,"
"Raja Lu Huan Hui. Hamba mohon pikirkan sekali lagi untuk hukuman mati bagi Wu Shi Xun. Hamba mohon, Yang Mulia," tiba-tiba Luhan menjatuhkan dirinya tepat di hadapan pamannya sendiri. Bahkan ia menggunakan sebutan formal. Luhan merendah dan menyebut dirinya dengan 'hamba'. Luhan bersujud sambil menangis.
"Panggil aku 'Paman', Pangeran,"
"Hamba mohon, Yang Mulia. Hamba mohon. Hiks. Shixun sudah mengakui kesalahannya di depan Yang Mulia sendiri. Ia bahkan bersujud meminta maaf di depan Yang Mulia. Sebelum ini pun ia sudah meminta maaf kepada hamba. Hamba tahu ia begitu menyesali kesalahannya. Hiks...,"
"Hamba mohon, Yang Mulia. Yang Mulia memang benar, tidak ada yang bisa mendapat keringanan atas kesalahannya. Tapi, Yang Mulia. Hamba benar-benar tidak tahu apa yang harus hamba lakukan jika ia tidak ada. Anak hamba...hiks...anak hamba pasti akan bertanya kemana Ayahnya. Hamba tidak mungkin bisa menjawabnya, Yang Mulia," Luhan tetap bersujud dan memohon kepada Raja Lu Hui.
"Ini bukanlah untuk hamba ataupun Shixun. Tapi ini untuk anak hamba. Hamba mohon, Yang Mulia. Bukalah sedikit hati nurani Yang Mulia. Hamba mohon...hiks...,"
"Hamba berani bersumpah bahwa Shixun sangat menyesali kesalahannya. Apabila ia mengulanginya lagi, hamba berani dihukum mati untuk mempertanggungjawabkannya, Yang Mulia,"
"Tidak semua orang mau mengakui kesalahannya, Yang Mulia. Tapi Shixun, ia sama sekali tidak menolak ketika hamba memintanya untuk mengakui kesalahannya kepada Yang Mulia. Hamba mohon berilah keringanan, Yang Mulia,"
"Baiklah. Aku akan mempertimbangkan keringanan untuk hukuman Shixun," ucap Raja Lu Hui pada akhirnya. Hal itu membuat Luhan mengangkat kepala dari sujudnya. Senyum pun sedikit mengembang di bibirnya.
"Tapi tidak sekarang. Aku ingin Shixun menyesali kesalahannya di penjara terlebih dahulu sebelum akhirnya aku ikhlas untuk meringankan hukumannya,"
.
.
TBC
.
.
Annyeong~
Ketemu lagi sama Zhao. Udah hampir 2 bulan Zhao nggak update. Adakah yang masih inget dan kangen sama FF ini? Hehe.
Mianhae Zhao nggak bisa fast-up, soalnya bener-bener sibuk sama urusan duniawi. Mianhae, dui bu qi. :( Tapi Zhao nggak akan nelantarin FF ini. Toh FF ini udah selesai, cuma terhambat masalah waktu dan ketersediaan jaringan untuk update. :P Kalo update langsung sampe selesai nggak lucu, dong. Sedangkan kalo Zhao update tanpa bales review rasanya nggak afdol. Hehe
Okay, Zhao nggak bisa ngomong banyak. Langsung aja, Zhao ucapkan terimakasih banyak buat chingu-deul, yang udah review di Chapter sebelumnya. Juga buat kamu kamu yang masih nanyain 'kapan update' lewat PM, review, atau dari medsos lainnya. Saranghaeyo~ Untuk chapter ini Zhao minta reviewnya lagi, yah. Gomawo.
See you next chapter.
Salam Cinta,
HUNHAN
