WARNING: TYPO, ALUR YANG BOSAN, KATA-KATA TIDAK MENARIK, DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA. FLAME? BOLEH, ASAL BERMANFAAT. OKAY? :)

.

.

Autumn In My Heart

by AishaMath

Summary :

"Kalau sudah ada cocok, pasti akan kunikahi."

"Deg!"

.

.

Di ruangan yang cukup lebar dan mewah itu, tepatnya di ruang tamu asrama Uchiha Boarding School berkumpullah beberapa anak manusia. Mereka adalah keluarga Haruno dan anak kecil yang hampir saja mereka tabrak, serta seorang wanita yang menjadi pengurus asrama.

"Syukurlah, ternyata Naruto baik-baik saja." kata wanita yang menjadi pengurus asrama, Ayame.

"Oh, jadi nama kamu Naruto. Bagus, ya?" puji Sakura.

"Iya, Nona. Nama itu adalah nama pemberian almarhum orang tua Naruto." jelas Ayame.

"Nona Ayame, panggil saja aku Sakura." kata Sakura tersenyum.

"Baiklah. O, iya Naruto, sebentar lagi Papa datang lho," kata Ayame pada Naruto.

"Papa? Mama nggak bohong 'kan?" tanya Naruto dengan wajah polos.

"Iya, Papa Gaa-"

"Selamat siang!" Ucap seorang laki-laki tampan berjas putih yang tiba-tiba muncul di depan pintu.

"Eh, itu dia Papa!" teriak Ayame.

Semua mata tertuju pada lelaki yang disebut "Papa" oleh Ayame, termasuk Sakura. Entah apa yang terjadi, Sakura sempat terpaku agak lama menatap si Papa, hingga akhirnya menundukkan wajahnya kembali.

"Apakah dia ayah Naruto?" tanyanya dalam hati.

"Papaaaa!" teriak Naruto. Ia berlari ke arah sang ayah yang ia panggil dengan sebutan "Papa". Si ayah pun segera menangkap tubuh mungil yang sedang berlari ke arahnya lalu memeluknya dengan sangat erat.

"Naluto kangen Papa..." kata Naruto manja, masih dalam pelukan ayahnya.

"Papa juga kangen sekali dengan Naruto. Maaf, ya, Papa baru pulang. Papa sayaaang sekali sama Naruto." ujar sang ayah lembut. Membuat semua orang yang ada di ruangan tersentuh. Terlebih lagi Sakura. Baru kali ini ia melihat sikap laki-laki yang begitu lembut pada anak kecil.

"Hueee…Papaaa…Naluto juga cayang Papaa…" isak Naruto semakin manja.

"Huh, dasar! Anak Papa Gaara kok cengeng!" ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba saja masuk. Wajahnya sedikit mirip dengan Gaara. Ya, karena ia adalah ayah Gaara. Dari nada bicaranya ia memang sedang bercanda.

Gaara yang mendengar perkataan tadi pun segera menoleh pada ayahnya, begitu pula Naruto. Namun tak disangka, ternyata ayahnya malah menggendong Naruto dan mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Gaara yang melihatnya pun tersenyum. "Dasar Ayah…" gumamnya.

"Konnichiwa, Profesor." salam Ayame dan keluarga Haruno bersamaan. Tidak lupa mereka membungkukkan badan sebagai tanda hormat.

"Konnichiwa gozaimasu!" jawab si profesor yang juga membungkukkan badannya.

"Wah, tidak kusangka akan bertemu dengan keluarga dokter Haruno di sini. Hehehe," kata Profesor.

"A-ano… Profesor Sabaku, kami lah yang sebenarnya hampir menabrak, err… Naruto." ujar tuan Haruno sedikit takut.

Gaara yang mendengar penjelasan itu terbelalak. Tanpa sadar mulutnya bergumam dengan suara yang agak keras, "Nani?".

"Gaara!" tegur Profesor ketus.

Gaara yang menyadari teguran dari ayahnya itu pun langsung menyadari kesalahannya.

"Go-gomennasai, tuan Haruno." ujar Gaara sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

"Oh, tidak apa-apa kok. Profesor, jangan ketus begitu pada Gaara. Bagaimana pun juga dia 'kan Papanya Naruto. Wajar kalau khawatir." ujar nyonya Haruno lembut.

"Lho, siapa yang ketus? Itu 'kan teguran! Hahahaha, ups!"

Semua yang ada di ruangan itu pun jadi tersenyum geli melihat tingkah si Profesor yang satu itu.

"Oh, iya, silahkan duduk, Profesor dan juga Papa Gaara," ujar Ayame lembut.

"Ayah Papa, Naluto mau dipangku sama Papa aja," pinta Naruto pada profesor.

"Hahahaha, ups! Gaara, anakmu ini ada-ada saja. Masa sampai sekarang tetap memanggil ayah dengan sebutan "Ayah Papa"? Hahahaha!" Profesor terkekeh.

Sebenarnya Naruto bisa memanggil Profesor Sabaku dengan sebutan "kakek", tidak harus dengan panggilan "Ayah Papa" walaupun maksudnya adalah ayahnya Papa Gaara yaitu profesor sendiri. Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa. Kecuali Gaara yang hanya tersenyum menampakkan gigi putihnya yang rapi. Serta lesung di pipinya yang menambah manis wajahnya. Lagi, Sakura berdecak kagum pada sikap Gaara.

Profesor lalu memberikan Naruto pada Gaara. Dan tentunya diterima hangat olehnya. Gaara mencium rambut Naruto dan mendekapnya erat sekali. Siapa pun yang melihatnya akan terharu.

"Sakura, kenapa kau diam sekali? Seharusnya kau berbangga di hari bahagiamu." ujar professor.

"Ah, tidak ada apa-apa, Prof." jawab Sakura. Ia tersenyum anggun sekali. Lalu menundukkan lagi kepalanya. Tanpa ia sadari, ternyata Gaara juga kagum pada sikapnya. Tidak banyak bicara namun luar biasa cerdasnya.

"Err…Profesor, apakah kalian hanya datang berdua?" tanya tuan Haruno.

"Ya, begitulah. Dari bandara aku dan Gaara langsung menuju kemari. Itu juga atas desakan Gaara. " Profesor melirik Gaara dengan bermaksud menyindirnya. Sayangnya yang dilirik malah bersikap tak acuh.

"Oh… apakah istri Gaara tidak ikut?"

"Hm?" ujar Gaara dan profesor bersamaaan. Keduanya saling berpandangan. Kemudian… "Hahahaha, ups!" tawa profesor meledak. Sedangkan Gaara menghempaskan tubuhnya di kursi dan memegang keningnya, pertanda sangat geli dengan ucapan Tuan Haruno. Sakura yang sekilas melihat tingkah Gaara ikut tersenyum geli.

"Ehem, jadi begini,tuan Haruno, walaupun anak saya yang tampan ini dipanggil "Papa", tapi dia masih jomblo kok! Hehehe, iya 'kan, Gaara?" ujar profesor. Gaara hanya tersenyum malu mendengar penjelasan ayahnya.

"Oh, jadi Gaara belum menikah, ya? Atau…sudah punya calon tapi belum melangsungkan pernikahan?" tanya Nyonya Haruno. Ditanya begitu, Gaara bertambah malu sekaligus geli. Berbeda dengan Sakura yang merasa tenggorokannya tercekat.

.

.

"Semuanya, maaf aku telat." ucap seorang laki-laki tampan pada keluarganya, Sasuke Uchiha. Di ruangan yang lebar serta elegan itu keluarganya sudah menunggunya dari tadi.

"Akhirnya kau sampai juga, Sasuke. Kenapa lama sekali?" tanya ibunya, Mikoto Uchiha, sambil membukakan jas hitam yang dikenakan anaknya. Nada bicaranya sangat lembut.

"Iya, tadi aku mampir ke asrama anak-anak sebentar, Bu."

"Bagaimana anak-anak itu sekarang? Ibu sudah jarang ke sana."

"Baik. Malah semakin baik. Katanya mereka kangen sekali pada ibu."

"Benarkah? Kalau begitu kapan-kapan ibu akan ke sana,"

"Duduklah dulu, Sasuke." kata seorang laki-laki yang usianya sudah agak lanjut namun tampak masih segar. Dia adalah Fugaku Uchiha, ayah Sasuke.

Sasuke menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengurut-urut keningnya. Keringat bercucuran di wajahnya. Meskipun begitu ia tetap kelihatan tampan.

"Kelihatannya kau lelah sekali," kata lelaki yang duduk di sebelahnya. Wajahnya tidak kalah tampan dengan Sasuke. Wajar, karena dia adalah kakaknya Sasuke, Itachi Uchiha.

"Ya... tidak mudah menjalin bisnis dengan orang yang visi misinya tidak sama dengan kita." ujar Sasuke masih menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Jangan menyerah. Biar pun banyak klien yang tidak setuju dengan visi misi kita, Uchiha Group akan tetap melaju. Bisnis kita bukan hanya soal uang, tapi juga tentang kesejahteraan bersama." ujar Itachi.

"Itulah yang ingin aku sampaikan saat pelantikan nanti malam." kata Sasuke yakin.

"Itu baru namanya anak ayah!" ujar Fugaku tersenyum lebar. Bangga pada penerus-penerusnya.

"Oh, iya, kabarnya beberapa hari lagi PBB akan memberikan penghargaan pada perusahaan kita karena telah banyak berpartisipasi membantu negara-negara yang dirugikan, salah satunya Palestina." jelas Fugaku.

"Benarkah? Syukurlah..." gumam Mikoto.

"Palestina ya? Semoga mereka segera memperoleh kemenangan suatu hari nanti. Kondisi mereka semakin memprihatinkan." ujar Sasuke. Itachi dan kedua orang tuanya hanya mengangguk.

"Selamat siang, Tuan. Ini koran khusus yang baru saja diliput," kata seorang pelayan keluarga itu, Izumo.

"Koran khusus?" tanya Mikoto.

"Iya, Nyonya. Ini koran liputan khusus anak berprestasi di negeri ini." ujar Izumo.

"Oh, terimakasih ya," kata Mikoto.

"Sama-sama Nyonya. Saya permisi dulu."

Setelah Izumo pergi, Itachi segera mengambil koran yang diberikan Izumo.

"Para mahasiswa hebat Fakultas Kedokteran Kyoto : dr. Haruno Sakura Sp. PD, dr. Inuzuka Kiba, dan Hyuuga Hinata, Sp.S. Mereka mengambil spesialis dan lulus dengan predikat cumlaude. Peringkat tertinggi diraih oleh dokter Haruno Sakura dengan nilai yang paling sempurna." demikian informasi yang dibacakan oleh Itachi.

"Syukurlah, negeri ini semakin banyak melahirkan dokter-dokter hebat." puji Mikoto.

Tertarik dengan informasi yang dibacakan Itachi, Sasuke ikut melihat koran di sebelahnya. Tidak sengaja dirinya melihat salah satu foto dokter di koran itu.

"Lho, bukankah dia wanita yang tadi?" gumam Sasuke sambil menunjuk foto yang bernama Haruno Sakura. Ingatannya kembali tertuju pada wanita yang baru saja ditemuinya. Seketika itu juga jantungnya kembali berdesir.

"Kau kenal dia?" tanya Itachi.

"Tadi aku bertemu dengannya bersama keluarga. Mobil mereka hampir saja menabrak Naruto,"

Itachi yang mendengar penuturan Sasuke hanya ber-oh ria.

"Ehem! Itachi, Sasuke, ayah mau bicara." ujar Fugaku serius. Suasana menjadi agak hening.

"Kalian berdua tidak lupa kan?" tanyanya.

"Lupa apa, Ayah?" tanya Sasuke dan Itachi bersamaan. Mendengar pertanyaan mereka Fugaku dan Mikoto menghela napas.

"Tentu saja masalah rumah tangga kalian," kata Mikoto.

"Ayah dan Ibu tenang saja. Dalam waktu dekat, aku akan segera mempersiapkan acara pernikahanku dengan Konan." ujar Itachi. Aura bahagia tampak dari wajahnya.

"Bagus. Lalu, bagaimana denganmu Sasuke? Sudah ada calon?" tanya Fugaku.

Sasuke terdiam. Keringatnya terproduksi lebih banyak. Ia membetulkan posisi duduknya dan berusaha menyusun kata-kata.

"Emm… aku …err…" Sasuke terbata-bata. Membuat Itachi yang duduk di sebelahnya terkekeh kecil.

"Ehem! Ayah, Ibu, jujur aku belum punya calon. Sepertinya aku hampir lupa untuk menikah."

.

.

"Kalau masalah calon sih Gaara belum pernah mengatakan apapun padaku," ujar Professsor.

"Gaara, ngomong-ngomong sudah ada calon belum?" tanya ayahnya polos begitu saja.

Gaara menoleh pada ayahnya sebentar. Kemudian kembali memandangi anak mungil di pangkuannya yang tidur dengan pulas sambil mengelu-elus rambut anak itu.

"Sebenarnya…" Kalimatnya Gaara terputus. Semua yang ada di ruangan itu serius mendengarkannya dengan seksama. Apalagi Sakura.

"Sebenarnya, saya belum punya pikiran untuk menikah. Jadi, tentu saja belum punya calon." ujar Gaara tersenyum malu.

Mendengar jawaban Gaara, hati Sakura sedikit lega. Walaupun ia juga bingung untuk apa ia cemas jika Gaara sudah punya calon. Sedangkan Ayame, Tuan dan Nyonya Haruno, terlebih ayah Gaara terbelalak luar biasa.

"Belum kepikiran untuk menikah?" tanya mereka serentak. Mendengar pertanyaan itu Gaara terkekeh kecil.

"Gaara, kau tidak bercanda 'kan? Apa tidak ada wanita yang mengena di hatimu?" tanya ayahnya.

"Memang begitu kenyataannya, Ayah."

"Jadi kau tidak akan menikah?" tanya ayahnya makin penasaran.

"Kalau sudah ada yang cocok, pasti akan kunikahi." ujar Gaara santai.

"Deg!" jantung Sakura bergetar.

"Sudahlah, Profesor. Cepat atau lambat Gaara juga akan bertemu dengan jodohnya." ujar Tuan Haruno menenangkan.

"T-tapi ini…"

"Yang menghadapi masalah seperti itu bukan cuma anda, kok. Kami berdua juga." jujur Nyonya Haruno. Sakura terlonjak kaget sekaligus malu.

"Maksudnya?" tanya Profesor.

"Anak kami, Sakura, kan juga belum menikah. Masalahnya juga sama seperti Gaara, belum kepikiran untuk menikah dan belum ada yang cocok. Iya 'kan, Sakura?" kata Tuan Haruno pada putrinya.

"A-ayah!" pekik Sakura malu.

"Benarkah? Kalau begitu apa kita jodohkan saja mereka?" ceplos profesor.

Sakura terperanjat. Jantungnya berdesir tak menentu. Dilihatnya Gaara. Yang dilihat sedang berbincang-bincang dengan Ayame dan tak lama kemudian Ayame mengangkat tubuh Naruto yang tertidur pulas di pangkuan Gaara ke kamarnya. Sakura lega karena sepertinya Gaara tidak mendengar perkataan ayahnya.

"Ano, Gaara, ayah beserta keluarga Haruno berencana untuk-"

"Profesor, kau yakin akan mengatakannya sekarang? Sebaiknya nanti saja kita bicarakan," ujar Tuan Haruno. Merasa rencana mereka terlalu terburu-buru.

"Tidak apa, lebih cepat 'kan lebih baik." kata profesor yakin.

"Kalau begitu, terserah padamu saja."

Tubuh Sakura gemetar hebat. Napasnya tersenggal-senggal. Rasanya ia ingin segera menghentikan pembicaraan itu. Ia juga ingin marah pada orang tuanya, namun mulutnya terkunci. Kini ia hanya bisa pasrah.

"Naruto tidur pulas sekali," ujar Ayame setelah meletakkan Naruto di kamarnya.

"Syukurlah," kata Gaara tersenyum.

"Gaara, ayah mau bicara. Ehem! Bagaimana kalau-"

"Hip-pop-pip-pip-pop-" ponsel Gaara bordering.

"Ayah, dari ibu." kata Gaara. Ia segera menekan tombol receive di ponselnya. Profesor menghela napas. Lagi-lagi kalimatnya terputus.

"Gaara, sudah sampai di mana, Sayang? Kok lama sekali?" tanya ibunya.

"Ha-halo, Ibu. Aku dan Ayah sedang di asrama. Tadi ada kabar kalau Naruto hampir tertabrak, tapi syukurlah dia baik-baik saja. Maaf Bu, sebentar lagi kami pulang. Sabar sedikit ya, Bu?" kalimat yang begitu lembut untuk seorang lelaki pada ibunya, membuat keluarga Haruno mau tidak mau kagum pada Gaara.

"Iya, Sayang. Tapi cepat, ya? Ibu kangen sekali padamu. Temari dan Kankurou juga di sini sedang menununggumu."

"Iya, Bu. Sebentar lagi kami pulang. Aku juga kangen sekali pada kalian semua."

"Oke, sudah dulu ya, Sayang."

Pembicaraan pun berakhir. Gaara tampak terburu-buru ingin segera pulang.

"Ayah, Ibu dan yang lain sudah menunggu. Sepertinya kita harus pulang sekarang." ajak Gaara

"Ya sudahlah kalau begitu. Tapi, kau tidak ingin melihatnya sebelum pulang?"

"Tentu, Ayah." Gaara segera berlari menuju kamar Naruto. Ia tersenyum. Diciumnya anak angkatnya itu dan merapikan kembali selimutnya.

"Naru, Papa pulang dulu ya. Besok kita ketemu lagi. Papa sayang Naru," bisiknya di telinga Naruto.

Karena terburu-buru Gaara pun segera beranjak ke luar. Dilihatnya Naruto sekali lagi, ia tersenyum. Pintu kamar pun tertutup.

"Ayah, ayo kita pulang. Nona Ayame, Tuan dan Nyonya Haruno, juga Sakura, kami permisi dulu ya." kata Gaara. Mengakibatkan jantung Sakura bergetar karena namanya disebut.

"Oh, iya. Kami juga mau pulang. Maaf ya, tadi membuat kalian cemas terutama Gaara." kata Nyonya Haruno.

"Tidak apa. Kalau begitu kami permisi." lanjut Gaara sambil tersenyum.

Mobil Aston Martin itu mundur perlahan dan berbelok. Kebetulan saat posisi mobil berbelok, Gaara lah yang terlihat jelas karena faktor tempat duduknya. Ia melambaikan tangan. Juga tersenyum manis sekali. Tanpa sengaja bola matanya bertemu dengan bola mata Sakura. "Deg!" jantung keduanya bergetar. Gaara segera menundukkan pandangannya. Demikian juga Sakura. Aston Martin itu pun segera melaju jauh dan menghilang dari pandangan. Sakura merasa dejavu. Dengan siapa ia pernah merasakan yang seperti ini juga? Tiba-tiba wajah tampan Sasuke Uchiha pun berkelebat dalam ingatannya. Membuat hatinya juga berdesir. Tanpa ia sadari ternyata sudah ada dua hati yang hinggap di hatinya.

.

.

To be countinued

Aisha terima apa aja deh yang Minna-san katakan. Memang pada nyatanya fic ini…yah, mampu membuat orang mengantuk, sebal, naik darah, dll. Akhirnya hanya bisa bilang mohon kritik dan sarannya ya…? Thanks. Ja ne! :)