WARNING: TYPO, ALUR YANG BOSAN, KATA-KATA TIDAK MENARIK DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA. FLAME? BOLEH, ASAL BERMANFAAT. OKAY? :)
.
.
Autumn In My Heart
by AishaMath
Summary :
Tuhan memang Maha Mengetahui cara membahagiakan hamba-hamba-Nya.
.
.
"… arus globalisasi akan terus berjalan. Kita tidak dapat melawannya, tapi kita hanya bisa menyikapinya dengan baik dan benar. Walau demikian tentu tidak menjadi alasan bagi kita semua untuk melupakan kasih sayang antarsesama. Sudah hampir seratus tahun Uchiha Group memegang peranan penting dalam ekonomi Jepang. Kami akan terus berusaha memberikan yang terbaik. Dan malam ini ada seseorang yang juga ikut mencoba memberikan yang terbaik. Dia itu putraku sendiri, Sasuke Uchiha." Fugaku mengakhiri pidatonya. Tepuk tangan yang meriah membanjiri ruangan itu. Apa lagi saat nama Sasuke Uchiha disebut.
Sasuke bangun dari tempat duduknya. Memberi ojigi dan naik ke atas podium. Sebelum memulai pidatonya, Sasuke terlebih dahulu melihat kedua orang tuanya, juga kakaknya. Setelah tersenyum pada mereka barulah ia memulai pidatonya. Semua yang ada di ruangan diam. Ingin menyimak pidato dari pangeran cerdas itu.
"All praises be to God, the lord of the world and the master of the day after. Peace and solutation be upon to our prophet. Thanks for giving me a chance to stand up in front of you. And thanks for my parents and all of my family who always support me. Hampir sembilan puluh tujuh persen manusia di dunia ini menginginkan kekayaan. Jujur, kekayaan memang membuat jantung setiap umat berdebar-debar," Sasuke tidak melanjutkan pidatonya karena melihat para audience tertawa mendengar kejujurannya. Ia sendiri pun tersenyum.
"… kekayaan sejati bukanlah kekayaan melimpah yang hanya dimiliki sendiri, tetapi kekayaan sejati adalah ketika sedang kekurangan namun masih bersedia untuk berbagi. Kekayaan yang kita miliki adalah mutlak milik Tuhan. Tugas kita hanya mengelola dan memanfaatkannya dengan baik."
"Tujuan utama berdirinya Uchiha Group adalah untuk berbagi kesejahteraan dengan seluruh umat di dunia ini. Dan juga untuk kemajuan negara kita. Karena itu kami selalu berusaha keras memberikan yang terbaik dengan mengedepankan kesejahteraan bersama. Join with us. Let's we make this world smile. Wipe their tears and we will happy together." Sasuke mengakhiri pidatonya.
Seluruh tamu besar yang hadir dalam acara itu berdiri bertepuk tangan. Kagum luar biasa. Fugaku dan seluruh presiden direktur dari masing-masing bidang naik ke atas podium dan berbaris rapi. Fugaku dan Sasuke berdiri paling depan.
"Dengan ini kami resmikan Sasuke Uchiha menjadi Presiden Direktur Uchiha Group bidang industri," ujar Fugaku.
Sasuke memotong pita merah di depannya sebagai tanda peresmian menjadi presiden direktur bidang industri. Tepat setelah pita merah itu terbelah dua, suara tepuk tangan menggema seisi ruangan.
Sasuke memeluk kedua orangtuanya yang hanya tersenyum lebar karena tidak tahu bagaimana mengekspresikan kebahagiaan mereka. Sedangkan Itachi dengan cepat ia memeluk Sasuke dan meneriakkan kata "selamat". Tamu-tamu hebat yang hadir pada malam hari itu berlomba-lomba untuk menyalami Sasuke.
Seluruh stasiun televisi juga berlomba-lomba menyiarkan acara itu. Sehingga tidak heran jika keluarga Haruno juga menyaksikan acara besar itu walaupun melalui televisi.
"Padahal baru saja kita bertemu dengannya," kata Nyonya Haruno. Tidak menyesal telah bertemu dengan pangeran luar biasa itu.
"Iya, Bu. Ayah suka sekali dengan apa yang disampaikannya tadi." tambah suaminya.
Bagaimana dengan Nona Haruno? Ia juga sedang menyaksikan acara luar biasa itu bersama kedua orangtuanya. Nona Haruno yaitu dokter Sakura Haruno hanya terdiam. Ia tidak tahu kenapa hari ini ia dipertemukan dengan orang-orang luar biasa seperti dokter Gaara dan Presdir Sasuke. Tidak hanya itu, mereka berdua juga tampan. Membuat nona muda itu diam-diam ingin memiliki salah satu dari mereka. Entahlah, yang jelas hari ini Tuhan benar-benar membuatnya bahagia di hari bahagianya.
.
.
Sasuke lega. Ia mengucapkan syukur berkali-kali atas kesuksesan acaranya. Kini ia menghampiri hidangan lezat di depannya.
"Kau masih hebat seperti dulu," suara seorang laki-laki mengagetkan Sasuke. Ia kenal betul suara itu. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Suara orang yang dikenal dengan sebutan "Papa" oleh anak-anak di asrama Uchiha.
"Sudah kembali dari Jerman ternyata," kata Sasuke santai.
"Seharusnya kau bertanya tentang keadaanku dulu," jawab laki-laki itu.
Sasuke terkekeh. Ia membalikkan tubuhnya. Dan didapatinya seorang lelaki berwajah tampan. Rambutnya cepak seperti dulu. Warna kulitnya juga tidak berubah, putih pucat. Hanya tinggi badannya saja yang bertambah. Kini tingginya menyamai tinggi Sasuke. Wajahnya masih teduh dan kalem. Lelaki itu tersenyum. Sasuke menatap lurus wajahnya sambil tersenyum pula.
"Apa kabar, Gaara?" tanyanya. Yang ditanya tidak menjawab. Tapi segera mendekati Sasuke dan memeluknya. Sasuke membalas pelukan sahabatnya itu.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." bisiknya.
Setelah melepas pelukan, mereka pun saling bertatapan. Melihat keadaan satu sama lain. Keduanya tertawa.
"Kenapa tampangmu tidak berubah, Sasuke? Tampan, tapi aku bosan melihatnya." kata Gaara sambil menahan tawanya.
"Kau pikir kau banyak berubah? Tawamu masih seperti yang dulu. Tawa orang yang sok jaga image! Gayamu juga tidak berubah. Padahal kau baru saja kembali dari salah satu negara yang mendominasi pengaruh globalisasi." ujar Sasuke.
"Bukankah tadi ayahmu sendiri yang bilang, kalau kita harus menyikapi arus globalisasi dengan baik dan benar?" balas Gaara. Sukses membuat Sasuke tersipu malu.
"Dasar otak Jerman!" seru Sasuke. Kemudian merangkul sahabatnya itu. Keduanya tertawa kembali.
"Kau tidak mengajak Naruto ke acaraku?" tanya Sasuke. Kini mereka berada di teras lantai dua ratus Hotel Granvia.
"Tidak hanya Naruto, sebenarnya aku juga ingin mengajak semua anak-anak untuk datang ke acaramu. Tapi aku rasa tempat setinggi ini tidak aman untuk mereka. Terlalu tinggi. Mereka juga harus belajar karena besok harus sekolah." ujar Gaara.
"Yah... seperti biasa kau selalu bijaksana dalam segala urusan," kata Sasuke.
Gaara tersenyum. "Apa bedanya dengan dirimu?"
"Tentu beda. Kau lebih baik dariku. Kau lah mengajariku arti kebaikan. Karena dirimu jugalah aku ada di tempatku sekarang ini." kata Sasuke sambil menatap luas pemandangan di depannya.
"Kau berada di tempat yang seharusnya kau memang ada, Sasuke. Bukan aku, tapi kekuatan dirimu sendiri lah yang membawamu ke sini," jelas Gaara.
"Apapun itu, arigatou. Aku tidak akan pernah menyesal bertemu sahabat seperti dirimu, Gaara." ujar Sasuke tersenyum.
"Aku juga, Tuan Presdir." balas Gaara dengan sedikit penekanan di akhir kalimatnya.
Sasuke tertawa sejenak. Sebelum akhirnya memukul pelan lengan sahabatnya itu. "Kau mengejekku?"
"Yang benar saja, aku memujimu, Tuan Presdir." Lagi, Gaara menggoda sahabatnya itu.
"Sial! Kemari kau, akan kupukul wajahmu yang tampan itu!" Sasuke tertawa sambil mengejar Gaara yang berlari. Keadaan mereka seperti anak-anak yang bermain kucing-kucingan. Riang sekali.
Malam itu terasa indah bagi Sasuke. Di hari istimewanya hadir pula orang-orang yang istimewa baginya. Tuhan memang Maha Mengetahui cara membahagiakan hamba-hamba-Nya.
.
.
"Kalau saya boleh tahu, sudah berapa lama gejala ini muncul?" tanya dokter Sakura pada pasiennya.
"Kira-kira sudah lima bulan, Dok. Lima bulan yang lalu, saya menyadari seperti ada sesuatu di bagian dinding perut Konohamaru. Saya pikir itu bukan apa-apa. Tapi seminggu yang lalu saya terkejut melihat Konohamaru muntah darah begitu banyak dan mengeluarkan tinja berwarna hitam." ujar Anko yang merupakan ibu dari Konohamaru. Wajahnya dihiasi kesedihan dan keputusasaan.
"Oh, begitu. Segala sesuatu bisa menjadi pelajaran bagi kita. Kejadian ini mengajari kita untuk tidak boleh menganggap sepele masalah kesehatan. Menurut diagnosa saya, sepertinya Konohamaru mengidap penyakit kanker lambung. Gejala penyakit ini untuk stadium awal memang susah untuk dideteksi karena tidak memberi ciri khas apa-apa. Dan jalan satu-satunya harus diperiksa oleh dokter. Nah, untuk gejala yang dialami Konohamaru sepertinya sudah stadium lanjut karena sudah jelas sekali tanda-tandanya." ujar Sakura setenang mungkin.
Sebenarnya hatinya juga sesak karena melihat penderita penyakit ini adalah anak kecil. Penyakit ini jarang sekali ditemukan pada anak kecil, namun dua puluh lima persen memang sering menyerang usia di bawah lima puluh tahun. Sakura mengelus-elus pundak Anko terisak dalam tangisnya. Di pangkuannya ada Konohamaru yang hanya diam dan sedang memainkan kancing baju ibunya.
"Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Ibu jangan sedih, ya? Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Konohamaru." ujar Sakura lembut.
"Tapi… kami bukanlah orang yang banyak uang, Dok." ujar Anko lemas.
"Bu, rumah sakit ini akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk siapa pun. Lagipula rumah sakit ini 'kan memiliki banyak keringanan untuk masalah-masalah yang seperti itu. Di rumah sakit ini, kalau tidak memiliki uang tidak akan menunda atau mengurangi pengobatan." ujar Sakura tersenyum. Seakan ada secercah cahaya yang masuk ke dalam relung hatinya, Anko pun tersenyum.
"Terimakasih, Dok. Terimakasih banyak." ucap Anko sedikit lega.
"Nanti malam ibu datang ke sini lagi, ya. Akan ada pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter bedah anak. Di rumah sakit ini ada lima orang dokter spesialis bedah anak, tapi kelima-limanya sedang menangani pasien yang lain. Jadi, saya perlu menghubungi Pusat Pengobatan Kyoto dulu untuk menyewa dokter ke sini. Anak ibu akan baik-baik saja. Tapi dengan syarat, Konohamaru harus minum obat yang saya beri. Konohamaru mau minum obat dari dokter 'kan?" tanya Sakura pada Konohamaru.
"Mau, Dok." jawab Konohamaru semangat.
"Yosh, anak pintar! Semoga cepat sembuh, ya!" kata Sakura lagi.
Tidak lama kemudian ibu dan anak itu pun pulang. Sakura senang bisa membantu mereka. Ia segera menghubungi Pusat Pengobatan Kyoto, meminta bantuan dokter bedah anak yang ada di sana.
.
.
Sebuah Aston Martin berhenti di parkiran. Pengemudi dan penumpangnya turun dari mobil mewah itu.
"Akhirnya bisa kembali lagi," ujar si Pengemudi tersenyum.
"Ibu juga senang kau bisa bekerja di sini lagi, Gaara. Yuk, masuk!" ujar sang ibu yang merupakan penumpangnya. Ia menggandeng tangan anaknya dan memasuki gedung yang bernama Medical Center of Kyoto.
Saat mereka masuk, semua dokter dan pegawai serempak mengucapkan, "Selamat datang, Dokter Gaara!"
Gaara terpana sejenak. Sebelum akhirnya tersenyum lebar melihat rekan-rekannya menghambur menyalaminya bahkan merangkul dokter hebat itu.
"Senang bisa bertemu kalian lagi." ujarnya.
Tidak sampai lima menit para insan itu bernostalgia, mereka kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Dokter Gaara," seorang wanita berbaju putih menghampiri Gaara.
"Ya. Ada apa, Nona Shizune?"
"Barusan pihak rumah sakit Haruno menghubungi kita. Mereka sedang membutuhkan dokter spesialis bedah anak karena kebetulan seluruh dokter bedah anak yang ada di sana sedang full. Kira-kira apakah Dokter siap untuk diutus ke sana?" tanya Shizune.
"Aku siap," ujar Gaara mantap.
"Baiklah, Dok. Saya akan beri tahu pihak rumah sakit Haruno."
"E…tapi, siapa dokter yang akan bekerja sama dengan saya nanti?"
"Ah, maaf saya lupa. Di sana ada dokter Sakura Haruno yang mendampingi anda."
Seperti ada yang bergetar di hati Gaara. Sejenak ia diam. Sebelum akhirnya mengakhiri pembicaraan dengan Shizune.
"Baru saja tiba, anak ibu sudah mau pergi lagi." ujar Karura pada anaknya.
"Ibu jangan bilang begitu, nanti aku kepikiran ibu terus," ujarnya sambil tersenyum manja.
Ibunya pun ikut tersenyum. "Hati-hati ya, Sayang. Lakukanlah yang terbaik."
"Pasti, Bu. Aku pamit, ya." Setelah mencium tangan ibunya Gaara pun segera pergi.
.
.
Sakura masih menunggu di ruangannya. Kelakuannya seperti orang salah tingkah. Ia masih tidak percaya akan bekerja sama dengan dokter Gaara. Ia segan pada dokter genius itu. Sebenarnya Sakura juga merasa malu pada tingkahnya sendiri. Bagaimanapun juga jatuh cinta adalah hal yang agak tidak mungkin baginya. Tunggu, jatuh cinta? Sakura tidak akan mau mengakuinya. Saat ini ia hanya mau mengaku bahwa dirinya sedang kagum pada seorang dokter muda yang hebat. Cukup. Tidak lebih dari itu.
"Kringgg…!" lengkingan suara telepon di ruangan itu mengagetkannya.
"Halo,"
"Maaf, Dokter. Saya ingin memberi tahu kalau dokter Gaara sudah tiba."
Sakura kaget bukan main. Namun ia segera menguasai dirinya.
"Baiklah, terima kasih." Dengan cepat Sakura memanggil beberapa dokter bedah umum yang akan bekerja sama dengannya untuk menyambut kedatangan dokter Gaara.
Gaara masuk ke RS Haruno dengan langkah gontai. Ia tidak sadar sedang ditunggu oleh Sakura dan dokter yang lain. Dengan memberanikan diri Sakura menyapanya.
"Selamat pagi, Dokter Gaara."
"Pagi," Gaara mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Spontan wajahnya yang tadinya putih pucat jadi sedikit merona.
"Terima kasih sudah datang. Silahkan ditandatangani, Dok." ujar Sakura memberi sebuah map pada Gaara sebagai pembuktian atas kesediannya bekerja sama dengan pihak rumah sakit Haruno. Setelah menandatangi berkas-berkas di map itu, Sakura dan dokter yang lain membawanya ke ruang diskusi.
"Jadi sudah berapa lama dan apa saja gejala yang timbul?" tanya Gaara.
"Menurut informasi yang diberikan oleh ibunya, gejalanya muncul lima bulan yang lalu, Dok. Ditandai dengan adanya massa pada dinding perut si anak. Seminggu yang lalu si anak mengalami mengalami hematemesis yang diiringi dengan melena. Menurut diagnosa saya sepertinya si anak menderita kanker lambung. Tapi saya belum memeriksanya melalui endoskopi, karena saya pikir biar dokter Gaara sendiri yang memeriksanya nanti." jelas Sakura panjang lebar.
Gaara tersenyum. Hatinya memuji kecerdasan Sakura. Ternyata predikat cumlaude yang diraih dokter itu tidak main-main.
"Baiklah. Menurut informasi yang diberikan, saya setuju dengan dokter Sakura bahwa si anak terserang penyakit kanker lambung. Tapi sebelumnya kita juga harus memastikan ada tidaknya bakteri Helicobacter pylori penyebab kanker tersebut. Dan juga mencegah adanya penyebaran kanker." ujar Gaara.
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita segera lakukan persiapan operasi," kata dokter Kiba yang disetujui oleh dokter Hinata.
Keempat dokter itu keluar dari ruangan diskusi. Sakura berjalan di samping Gaara. Matanya sedikit menoleh pada dokter tampan di sebelahnya. Merasa diperhatikan, Gaara pun menoleh pada Sakura. Yang dilihat jadi sedikit salah tingkah.
"Dokter Sakura, apa ada yang ingin kau bicarakan lagi denganku?" tanya Gaara.
"Deg!" Jantung Sakura berdesir. Ia sedikit terlonjak.
"I-iya, ada yang ingin aku tanyakan padamu," katanya memberanikan diri.
"Oh, silahkan saja." jawab Gaara santai.
"Aku ingin tahu bagaimana pendapat seorang dokter hebat sepertimu tentang dokter yang baik itu seperti apa?" tanya Sakura.
Gaara yang mendengar pertanyaan Sakura terdiam sejenak. Sebelum akhirnya tertawa kecil. Membuat ketampanan wajahnya semakin jelas.
"Kenapa kau menyebutku seorang dokter hebat?" Gaara balik bertanya.
"Bukankah kau sudah menyelesaikan program subspesialismu dalam waktu singkat di Jerman? Kudengar kau juga termasuk salah satu dokter ahli di Jepang." jelas Sakura.
Gaara tersenyum lagi. "Apakah hanya karena itu kau menyebutku dokter hebat?"
Sakura terdiam. "Jadi karena apa lagi?" tanyanya dalam hati. Wajah Sakura menunjukkan kebingungan. Membuat Gaara yang melihat ekspresinya jadi tertawa kecil. Pipi Sakura sedikit merona melihat Gaara yang menertawakan dirinya.
"Gomen ne, aku membuatmu bingung," kata Gaara masih menunjukkan ekspresi geli.
"Hehe, iya aku memang bingung," ujar Sakura polos.
"Begini, menurutku dokter hebat itu adalah dokter yang tidak hanya mampu mengobati jasmani seseorang, tapi juga mampu mengobati rohaninya. Karena terkadang, penyakit itu timbul dari sisi rohani seseorang. Dan dokter yang baik itu adalah dokter yang melakukan semua yang terbaik untuk pasiennya tanpa membeda-bedakan siapa yang diobati." jelas Gaara tersenyum.
Sakura terpana mendengar penjelasan Gaara. "Sugoi ne!" pujinya dalam hati. Ia yakin Gaara adalah dokter yang hebat dan baik. Kalau tidak mana mungkin ia bisa memberikan definisi seperti itu?
"...tapi masing-masing orang punya pendapat sendiri. Kalau menurutmu dokter yang hebat dan baik itu seperti apa, Dokter Sakura?" tanya Gaara.
"Yang seperti dirimu," batin Sakura. "Sepertinya aku punya pendapat yang sama denganmu," jawabnya kemudian.
Gaara mengangguk, "Aku harap kita bisa menjadi dokter hebat dan baik itu," katanya.
"Aamiin." jawab Sakura tersenyum.
.
.
To be continued
Tidaaa~k! Fic apaan ini? Ngga tau deh ceritanya kenapa konohamaru bisa jadi anaknya Anko. Pake acara ngga punya uang segala lagi! Padahal aslinya konohamaru kan cucu hokage! Wkwkkwwkwkwkwk! :D
Mohon masukannya ya, minna-san! :)
.
.
Ket :
Endoskopi : Alat kedokteran yang digunakan untuk memeriksa organ dalam tubuh (khususnya saluran cerna) secara visual sehingga dapat dilihat melalui layar monitor.
Hematemesis : Muntah darah yang banyak.
Melena : Tinja yang kehitaman.
Ojigi : Salam/tanda hormat dengan membungkukkan badan.
