Kesleo
Jihoon menghentakan kakinya berjalan memasuki kamar Soonyoung yang berantakan. Lihat saja banyak baju yang berserakan di lantai kamar. Ada beberapa di lantai, ada juga yang menggantung di pintu lemari, dan beberapa juga ada yang berserakan di kasur tepatnya di kaki kekasih malasnya itu.
Jihoon mendengus, sebelum mengambil baju-baju yang berserakan. Lalu dimasukan ke dalam ember baju kotor yang ada di pojok kamar. Setelah selesai, Jihoon berjalan mendekati kasur Soonyoung. Tangannya menepuk keras pipi kekasihnya itu.
"Ya! Kwon Soonyoung palli irona!" pekik Jihoon menepuk-nepuk kasar pipi dan bahu telanjang Soonyoung. "Aigoo malasnya."
"Aku masih ngantuk, Jihoon-ie." suara serak Soonyoung terdengar masih dengan matanya yang terpejam. Kemudian Soonyoung membalikan badannya jadi menghadap Jihoon.
Belum sempat Jihoon kembali berteriak, Soonyoung sudah menarik tangannya, hingga terbaring di depan kekasih menyebalkannya itu. Soonyoung langsung mendekap erat Jihoon. Menyelusupkan kepala kekasih imutnya ke dadanya, masih dengan mata yang terpejam. Membuat Jihoon meronta. Memukul lengan Soonyoung dengan brutal. Dia tidak bisa bernafas sungguh. Lagipula Soonyoung juga bau keringat, mana tidak pakai baju. Jihoon merasa ingin pingsan sekarang juga.
Soonyoung hanya tersenyum tipis merasakan pukulan-pukulan sayang dari kekasih. Dia malah mempererat pelukan dan semakin menyamankan dirinya. Membuat Jihoon semakin brutal memukul tangan dan badan Soonyoung. Kakinya juga kini menendang-nendang kaki kekasih menyebalkannya itu. Hingga,
"Argh!"
Soonyoung memekik kesakitan dan langsung melepas pelukannya. Soonyoung berguling menjauhi Jihoon, kemudian memeluk kaki kanannya yang terasa sakit. Membuat Jihoon menatapnya dengan wajah bingung.
"Ada apa?" kepala Jun menyembul dan langsung mendapat tatapan yang berbeda dari dua orang di kasur. Jihoon menatap dengan bingung dan Soonyoung menatap memelas dengan wajah kesakitannya.
"Jihoon menendang kakiku yang kesleo, hyung." Adu Soonyoung dengan merengek. Membuat Jihoon mendengus sebal, setelah mendudukkan badannya.
"Siapa suruh memelukku seperti tadi? Aku kan tidak bisa nafas." Jihoon membela diri dengan wajahnya yang kesal setengah mati. Hei jelas itu bukan salahnya.
Jun hanya mengangguk dengan wajah malas. Sudah pasti Soonyoung yang memulai duluan. Sudah hafal dia dengan tingkah saudara sepupunya itu. "Yasudah, aku mau pergi dulu ya." Jun memamerkan senyumnya yang membuat Soonyoung mendengus.
"Oh iya Jihoon-ie tolong kau urus si bayi besar itu ya." Soonyoung memandang sebal sepupunya itu. "Kalau dia melawan, hajar saja. Kekuasaan ada di tanganmu." Jihoon mengacungkan jempolnya seraya tersenyum lebar pada Jun. "Aku pergi."
Bibir Soonyoung langsung mengerucut, setelah kepala Jun menghilang. Nasibnya menyedihkan sekali. Sudah di tendang kekasih manisnya, dan sekarang sepupunya malah menjerumuskannya pada kekasihnya yang galak. Apa Jun Hyung tak sayang padanya?
"Soonyoung-ie," Soonyoung menoleh horror, setelah mendengar suara Jihoon. Sedangkan Jihoon sedang menatap sebal dirinya.
"Kau bau cepat mandi!" Jihoon berseru kencang menunjuk pintu kamar mandi. Membuat Soonyoung menatapnya kesal.
"Kakiku sakit, Jihoon-ie. Kau tadi menendang kakiku yang kesleo." Soonyoung balas berseru dengan wajahnya yang kesal. Pergelangan kaki kanannya memang sejak tadi berdenyut-denyut sakit. Seperti ada yang menusuk-nusuk dengan jarum.
Jihoon mendekati Soonyoung, setelah mendengus. Tangannya kemudian menarik kaki Soonyoung dan memangkunya. Jari-jari mungil Jihoon mulai memijat pergelangan kaki Soonyoung yang terkilir. Seketika senyum langsung menghiasi wajah Soonyoung.
"Kenapa bisa seperti ini sih?" suara Jihoon terdengar kesal. Tapi Soonyoung yakin kalau Jihoon sedang khawatir. Soonyoung paham, kekasihnya memang tidak bisa langsung mengekspresikan rasa khawatirnya. Jihoon itu tipikal perempuan galak dengan segala rasa perhatiannya yang tersimpan rapat. Hanya muncul pada orang-orang tertentu saja.
"Aku terjatuh saat latihan kemarin, sepertinya kurang pemanasan." Soonyoung menjawab, setelah mendudukkan badannya menghadap Jihoon. Senyum masih menghiasi wajah tampannya. Membuat Jihoon menatapnya dengan sebal.
"Makanya kalau pemanasan yang benar. Kalau seperti ini siapa juga yang repot?" Soonyoung hanya terkekeh melihat kekasihnya yang cemberut. Wajah Jihoon yang kesal terlihat manis.
"Manis sekali, Jihoon-ieku ini." Soonyoung mencubit gemas kedua pipi bulat Jihoon hingga memerah. Setelah itu terdengar jeritan kesakitan. Jihoon memencet kakinya yang bengkak dengan tidak berperasaan.
"Sakit Jihoon-ie," Jihoon memasang senyum manisnya yang sangat menyebalkan dimata Soonyoung. Soonyoung memang sudah sering dikasari Jihoon. Tapi yang ini benar-benar tidak berperasaan. "Kau benar-benar ya, yeoja tapi kasar sekali pada kekasih sendiri."
"Siapa suruh menggangguku? Sudah baik aku urut kakimu itu." Jihoon mendelik sebal. Soonyoung benar-benar menyebalkan. "Sudah sana kau mandi! Bau." Jihoon mendorong-dorong bahu telanjang kekasih menyebalkannya.
Yang didorong bukannya beranjak, malah menarik si pendorong ke dalam pelukannya. "Walaupun bau, kau tetap suka kan?" Jihoon memukul lengan Soonyoung dengan wajah kesalnya. Berani sekali Soonyoung menggodanya dengan wajah menyebalkan seperti itu.
"Kau bau mana tidak pakai baju lagi. Keringatmu nempel di bajuku tau." Soonyoung tertawa pelan dan semakin mempererat pelukannya. Jihoon hanya tersenyum pelan dan semakin menyamakan diri dalam pelukan kekasihnya. Walaupun menyebalkan, Soonyoung tetap kekasihnya dan Jihoon menyukai pelukan hangat Soonyoung.
"Ini keringat pekerja keras tau. Aku bekerja keras untuk sekolah kita, seharusnya kau hargai." -dan aku juga bekerja keras membuatmu nyaman bersamaku.
review jangan lupa yaaaa^^
