WARNING: TYPO, ALUR YANG BOSAN, KATA-KATA TIDAK MENARIK DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA. FLAME? BOLEH! ASAL BERMANFAAT, OKAY? :)
.
.
Autumn In My Heart
by AishaMath
Summary :
"Dokter Sakura, maaf, hatiku memilihmu."
.
.
Bedah laparoskopi dimulai. Operating lamp dinyalakan. Menyorot tubuh Konohamaru yang terkulai lemas karena efek obat bius. Gaara mulai membuat empat lubang (key hole surgery) berdiameter 1 cm di bagian perut Konohamaru. Salah satu dari lubang itu digunakan untuk memasukkan laparoscope sebagai pencahayaan selama operasi berlangsung, sedangkan lubang yang lain digunakan untuk memasukkan alat-alat bedah lainnya. Kiba dan Hinata segera menginsuflasikan gas karbon dioksida ke dalam rongga di perut Konohamaru. Tujuannya agar perut membentuk rongga sebagai tempat bekerja dan untuk menciptakan lapangan operatif yang baik. Setelah mendapat inisial dari Gaara, Sakura segera memasukkan laparoscope ke salah satu lubang. Matanya melihat tajam ke monitor di depannya. Mencari sel kanker yang bertindak sebagai pembunuh. Dapat! Sel kanker ditemukan. Pengangkatan sel kanker segera dilakukan. Dengan cekatan tangan Gaara memainkan alat-alat bedah seperti graspers, scissors, clip applier dan lain-lain ke dalam tubuh Konohamaru. Tidak heran jika dokter yang lain ingin bertepuk tangan ketika dua puluh menit kemudian ia berhasil mengangkat sel-sel kanker itu. Operasi sukses!
.
.
Tiga puluh menit kemudian pintu itu akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar dari ruang operasi itu. Baru saja mendongakkan wajahnya, ibu pasien bernama Anko langsung menodong dirinya dengan beribu pertanyaan.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja 'kan, Dok? Apa dia bisa sembuh?"
"Operasi berjalan lancar, Bu. Kami akan selalu memberikan yang terbaik untuk pasien-pasien kami. Semoga Tuhan segera menyembuhkan anak ibu. Ibu boleh masuk ke dalam sekarang, keadaan Konohamaru sudah membaik." ujar sang dokter sambil tersenyum. Menambah ketampanan di wajahnya.
"Terimakasih Ya Tuhanku. Terimakasih, Dok." kata Anko lagi.
"Sama-sama, Bu."
Anko masuk ke dalam ruangan bersama dokter Gaara yang tadi mengabarinya. Di dalam ruangan itu ada Sakura yang sedang mengelus-elus rambut Konohamaru yang tertidur. Kasih sayang terpanjar jelas di wajah cantiknya. Membuat Gaara tertegun melihatnya. Dokter Kiba dan Hinata mempersilahkan Anko untuk melihat keadaan Konohamaru.
Melihat anaknya terkulai lemas, air mata Anko berlinang. Dipeluk dan diciumi anak itu seolah-olah tak mau berpisah selamanya. Seisi ruangan menjadi senyap melihat adegan yang pilu itu.
"Maafkan ibu, Nak. Ibu tidak bisa menjagamu dengan baik," kata Anko dalam isaknya.
"Bu, segala sesuatu itu sudah ada takdirnya. Datangnya penyakit ini memang sudah kehendak Yang di atas." ujar Gaara menenangkan.
"Benar. Semua ini bukan salah siapa-siapa. Ibu jangan sedih lagi, ya. Satu atau dua hari lagi Konohamaru sudah bisa pulang kok." lanjut Hinata sambil mengelus-elus pundak Anko dengan lembut.
"Te-terimakasih, Dokter."
.
.
"Terimakasih atas kerjasamanya, Dok. Semuanya berjalan lancar." ujar Sakura pada Gaara yang berada di sebelahnya. Mereka sedang menuju pintu luar untuk mengantar Gaara pulang.
"Sama-sama. Senang bisa bekerja sama dengan para dokter di sini. Kalian semua luar biasa." puji Gaara.
"Luar biasa apanya, Dok? Justru kami lah yang masih banyak belajar dari Dokter Gaara."
"Yah, intinya kita sama-sama belajar."
Kemudian keduanya saling tersenyum. Dibalut hati segan dan malu.
"Gaara!"
Mendengar namanya dipanggil, Gaara pun menoleh ke asal suara.
"I-ibu?"
Tidak percaya dengan apa yang dilihat, ia pun segera mendekati ibunya yang juga diikuti Sakura. Keduanya mencium tangan sang ibu.
Gaara memperhatikan ibunya dengan seksama. Tatapannya menunjukkan 'Apakah ini benar ibu?'
"Gaara, kamu ini kenapa sih? Melihat ibu kok seperti melihat hantu saja." kata ibunya.
"Kenapa Ibu bisa di sini?"
"Ya sama seperti kamu, mengoperasi pasien. Tadi pihak RS Haruno menghubungi ibu, katanya di sini butuh dokter bedah toraks. Karena tahu kamu ada di sini, jadi ibu mengajukan diri." jawab Karura riang. Matanya sibuk melirik wanita yang di sebelah Gaara.
"Ibu ini ada-ada saja," ujar Gaara sedikit tertawa.
"Gaara, dokter cantik di sebelahmu ini Sakura Haruno, ya?" pertanyaan Karura membuat Sakura terlonjak ketika namanya disebut.
"Selamat malam, Dokter Karura!" salam Sakura sambil memberi ojigi.
"Oh, selamat malam juga. Kamu anggun sekali, Nak? Kamu kah Sakura Haruno?"
"Terimakasih, Bu. Iya benar, saya Sakura Haruno." jawab Sakura sambil tersenyum.
"Padahal sudah lama kamu menjadi mahasiswa kesayangan ayah Gaara, tapi baru kali ini ibu bisa bertemu denganmu. Senang bisa bertemu denganmu, Nak. "
"Saya juga senang sekali bertemu dengan ibu." ujar Sakura sopan.
"Ya Tuhan, anak ini cerdas dan anggun sekali! Cocok sekali dengan Gaara." Batin Karura. Matanya sesekali memandang ke arah Sakura dan Gaara bergantian. Membuat dua insan itu menjadi canggung.
"Ibu," panggil Gaara memecah kekakuan di antara mereka.
"Eh, iya ada apa, Sayang?"
"Ibu sudah selesai? Kita pulang yuk!"
"Yuk!" jawab Karura sambil menggandeng lengan anaknya.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Dok." kata Gaara pada Sakura.
"Baik. Terimakasih sudah banyak membantu. Ibu juga hati-hati ya,"
"Iya, Nak. Sampai bertemu lagi,"
Sakura menunggu mereka hingga keduanya menghilang dari pandangan.
"Kalau bersama ibunya, dokter Gaara kelihatan manja sekali." gumamnya tersenyum.
.
.
"Anak ibu belum tidur?"
"Belum Bu, masih banyak yang harus aku kerjakan. Esok lusa aku 'kan harus menggantikan ayah ke Palestina." jawab si anak sambil memeriksa berkas-berkas di mejanya.
"Tapi kamu harus istirahat. Ibu tidak mau kamu sakit," mendengar nada bicara ibunya yang mulai cemberut, sang anak pun membalikkan badannya. Mendekati ibunya dan menggodanya seperti biasa.
"Anak mana sih yang bisa sakit kalau dirawat oleh seorang ibu yang cantik dan baik seperti ini?"
"Hahaha, kamu ini!" sang ibu ceria kembali.
"Ibu tidak usah cemas, sebentar lagi aku tidur kok."
"Sebenarnya ada yang mau ibu bicarakan padamu, Gaara."
"Hm?"
"Begini, saat ini kakakmu Temari sudah bersama Shikamaru sedangkan Kankurou sudah bersama Matsuri. Lha, kamu bersama siapa?"
"Aku bersama ibu."
"Hahaha, aduh kamu ini kok bercanda terus sih? Ibu serius. Masa sih kamu belum punya calon?" tanya Karura penasaran.
"Calon? Memangnya ibu ingin calon yang seperti apa?" Gaara balik bertanya.
"Umm… kalau bisa sih yang seperti dokter Sakura Haruno." Mendengar perkataan ibunya jantung Gaara terasa seperti ditinju.
"… dia itu cerdas, baik, cantik, anggun lagi!" puji ibunya. Gaara terdiam sejenak.
"Oh, ja-jadi ibu ingin yang s-seperti itu," kata Gaara gerogi. Jantungnya berkontraksi dengan tidak stabil. Sakura Haruno adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat jantungnya berdesir ketika nama itu disebut.
"He-eh. Masa sih kamu tidak tertarik sedikit pun padanya?"
Mendengar jawaban ibunya Gaara hanya nyengir sambil tertunduk. Kalau ibunya meneliti raut wajahnya sekarang maka ibunya akan tahu bahwa hatinya sedang berkata, "Aku cukup tertarik padanya, Bu."
"Gaara, kok diam sih?" tanya ibunya sambil mencubit lengannya.
Karena terkejut spontan ia berkata, "Iya, Bu. Aku tertarik!"
"Benarkah? Akhirnyaaa!" sang ibu langsung memeluk si anak yang terperangah. Gaara menelan ludah pahit. Hatinya mengutuk apa yang baru saja ia katakan.
"Iya, akhirnya…" gumam Gaara lemas.
"Nah, sekarang kamu tidur dulu. Besok langsung katakan padanya,"
"Nani? B-besok, Bu?"
"Tentu! Jadi kapan lagi? Lusa kamu sudah ke Palestina, sedangkan hari-hari berikutnya kamu pasti full terus. Mau tahun depan? Keburu tua dan keburu diambil orang! Hihihihi! Ya sudah, ibu tidur dulu. Good night, Sayang."
Pintu bercat putih itu pun akhirnya tertutup sebelum Gaara sempat mengejar ibunya.
"Gawat! Kenapa aku bisa berkata begitu?" pekiknya pelan. Ia mondar-mandir di kamarnya. Hatinya gusar. Ia memukul pelan kepalanya sebagai tanda penyesalan.
"Selamat ya, Adikku. Akhirnya kau menikah juga! Hahahaha!"
Gaara menoleh ke asal suara. Didapatinya dua orang kakaknya yang sedang terpingkal-pingkal menertawakan dirinya di depan pintu.
"Sudahlah, tidak usah galau begitu. Kalau butuh bantuan katakan saja pada kami." ujar Temari.
"Hahaha, memang sudah saatnya Gaara. Masa kau mau jomblo seumur hidup?" timpal Kankurou.
"Tapi Kak, ini terlalu mendadak!" keluh Gaara.
"Mendadak apanya, Adikku? Seharusnya kau memang sudah memikirkannya dari dulu. Ya sudah, persiapkan dirimu. Oke?" kata Kankurou meninggalkan kamarnya.
"Selamat tidur, Adik kecilku!" ujar Temari sembari menyusul Kankurou.
Kini hanya tinggal Gaara yang seorang diri di kamarnya. Pikirannya galau luar biasa. Sebenarnya bukan tidak mau, tapi ia merasa kalau dirinya belum siap. Apalagi ia dan Sakura belum lama saling kenal. Gaara berusaha menenangkan dirinya. Membiarkan energi positif masuk ke tubuhnya. Mau tidak mau, ia harus siap menghadapi hari esok.
.
.
Aston Martin itu tiba pagi sekali. Ya, sesuai dengan janji pada ibunya tadi malam. O, tidak! Pada dasarnya Gaara memang memiliki tujuan ke RS Haruno karena terkait hal medis. Langkahnya gontai seperti biasa. Wajahnya teduh namun yakin. Sehingga banyak orang yang senang memandangnya. Termasuk tuan Haruno sendiri.
"Nak Gaara,"
Mendengar namanya dipanggil, Gaara menolehkan wajahnya. Didapatinya seorang lelaki berjas putih berawakan sedang.
"Dokter Haruno? Selamat pagi, Dok. Maaf membuat anda menunggu," ujarnya sambil berjabat tangan dengan Tuan Haruno.
"Ah, tidak kok. Aku baru satu detik di sini. Hahahaha!" jawab Tuan Haruno tertawa. Gaara tersenyum geli. Mencetak lesung di kedua pipinya yang membuatnya semakin terlihat aduhai.
"Mari, Nak. Kita bicarakan soal itu," ajak Tuan Haruno padanya.
"Jadi, banyaknya korban sekitar seribu jiwa. Benar begitu?" tanya tuan Haruno sambil mempersilahkan Gaara duduk.
"Benar, Dok. Dalam hal ini Jepang akan bekerja sama dengan Indonesia untuk membantu Palestina dalam sektor pertanian, imigrasi dan medis. Untuk masalah medis akan dikirimkan sebanyak sepuluh dokter dari Jepang dan lima belas orang dari Indonesia. Utusan dari Kyoto sendiri adalah ayah saya, dokter Sabaku, namun beliau meminta saya untuk menggantikannya sebagai ketua tim dari Kyoto. Sebab beliau sudah berjanji dengan pemerintah Jepang untuk mendatangi beberapa seminar kedokteran di Hokaido." ujar Gaara panjang lebar.
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Kyoto akan mengirim empat orang utusan. Rencananya saya akan memilih tiga orang dokter dari pusat pengobatan Kyoto yaitu saya sendiri dan kedua kakak saya, karena mereka adalah dokter spesialis orthopedi dan spesialis onkologi radiasi. Sedangkan satu orang lainnya akan saya rekrut dari rumah sakit ini karena sudah berpengalaman. Kalau Dokter menyetujuinya, saya akan meminta dokter spesialis penyakit dalam untuk bergabung." lanjut Gaara.
"Hmm… begitu. Aku sih setuju saja. Tapi apakah para dokter itu harus laki-laki?"
"Lebih diutamakan laki-laki. Sebab semua dokter yang akan diutus ke sana harus berjaga-jaga dengan sebuah senjata. Kalau dokternya seorang perempu-"
"Hei, anakku Sakura juga bisa memegang senjata. Dia juga pintar memanah. Kalau dia mendengar penuturanmu, kau pasti sudah diusir dari sini karena dianggap meremehkan perempuan. Hahaha!" ujar dokter Haruno tertawa. Tidak tahu kalau anaknya, Sakura sedang mendengar pembicaraan mereka dibalik pintu. Meski terdengar samar-samar, ia tahu bahwa ayahnya sedang membangga-banggakan dirinya di depan Gaara. Membuatnya jadi malu.
"Oh, benarkah?" Mendengar tanggapan Gaara, Sakura menempelkan telinganya lebih erat ke pintu.
"...sepertinya dia dokter yang hebat. Boleh juga kalau diajak ikut," ujar Gaara bercanda. Membuat tawa Tuan Haruno aktif kembali. Mereka tidak tahu kalau kalimat itu sukses membuat wajah Sakura merah padam.
"Ya, ya benar. Apalagi kalau dikaitkan dengan rencanamu semalam. Hahahah!" dan untuk kesekian kalinya Sakura harus menggeleng-gelengkan kepalanya karena sikap ayahnya. Namun hatinya juga penasaran tentang rencana yang mereka maksud.
.
.
Setelah sekian lama Gaara mondar-mandir di rumah sakit dan berulang kali mengadakan rapat dengan para dokter, akhirnya diambil kesimpulan bahwa dokter yang diutus dari RS Haruno adalah laki-laki. Tidak mengikutsertakan Sakura karena ia sedang full of schedule. Bukan hanya mengobati pasien tapi ia juga ada jadwal mengajar di fakultas kedokteran Kyoto untuk menggantikan dekannya- ayah Gaara sendiri. Gaara melirik arloji di tangannya. Pukul lima lewat tiga puluh menit. Sudah saatnya ia kembali.
"Pip-pop-pip-pip-pip-" ponselnya bordering. Ternyata dari ibunya.
"Halo, Bu."
"Halo, Sayang. Apa rapatnya sudah selesai? Tadi ketua tim dokter dari Shizuoka menghubungi ke sini. Dia menanyakanmu,"
"Benarkah? Rapatnya sudah selesai, Bu. Aku akan kembali sekarang," ujarnya.
"Ya, sudah. Jangan lama-lama ya, Sayang."
"Iya, Bu."
Hampir saja Gaara menutup teleponnya, suara teriakan ibunya kembali berkicau.
"Halo, Gaara, Gaara tunggu sebentar, Sayang!"
"Ya, ada apa, Bu?"
"Ehem, bagaimana? Sudah kau katakan padanya? Hihihihi,"
Awalnya Gaara bingung apa yang dimaksud oleh ibunya, tapi setelah sekian detik otaknya mencari sinyal barulah ia mengerti. Tiba-tiba kepalanya terasa berat.
"Gawat!" pekiknya dalam hati.
"Halo, Gaara?"
"Eh, iya, sebentar lagi, Bu. Tadi tidak sempat," jawabnya sedikit gusar. Berharap ibunya tidak kecewa.
"Oh, begitu. Ya sudah, ibu tutup teleponnya ya, Sayang. Good luck, Anakku."
"A-arigatou, Kaa-chan."
Gaara menyandarkan tubuhnya ke dinding. Keringat bercucuran deras di wajahnya. "Aku lelah sekali." keluhnya dalam hati.
"Tunggu, bagaimana dengan itu?!" Tiba-tiba tubuhnya semakin melemas. Keringatnya terproduksi lebih banyak. Panas. Gaara membuka jasnya. Kemudian memejamkan matanya sebentar untuk mencari solusi.
"Sumimasen, Dokter Gaara."
Gaara membuka matanya enggan. Lelah. Tapi ketika melihat siapa yang menyapanya, tubuhnya kembali terkesiap.
"Ya, a-ada apa, Dokter Sakura?" jawabnya tergagap.
"Tadi ayahku bilang dokter yang akan diutus ke Palestina dari rumah sakit ini akan menemuimu jam delapan malam nanti. Tidak masalah 'kan, Dok?"
"Tidak. Tidak masalah kok." jawabnya berusaha tersenyum.
"Syukurlah. Dokter Gaara sedang apa di sini?" tanya Sakura.
"A-aku…" kalimatnya terputus. "… bisa dikatakan sedang menunggumu," lanjutnya dalam hati.
"Aku mau pulang," jawabnya.
"Oh, mari saya antarkan. Dokter Haruno baru saja menemui pasien jadi beliau menyuruhku untuk mengantarmu."
"Terima kasih."
Keduanya ke luar dari rumah sakit dan menuju parkiran. Selama perjalanan mereka hanya diam. Canggung. Segan. Malu. Gaara melirik wanita yang berada di sampingnya. Lebih tepatnya di samping dan di belakangnya. Entah wanita itu yang sengaja melambat-lambatkan jalannya ataukah dirinya yang terlalu cepat berjalan. Entahlah. Namun setelah dipikir-pikir akhirnya ia siap menyatakan isi hatinya sekalipun ditolak mentah-mentah. Atau bahkan ditampar sekalipun. Ia siap. Semuanya demi ibu tercinta.
"Dokter Sakura," panggilnya.
"Ya Dok," jawab Sakura yang segera menyamai langkahnya dengan Gaara.
"Apa biasanya kau memang menyetir sendiri?"
"Iya. Tapi terkadang saya pulang dengan ayah atau ibu saya."
"Begitu. Kalau boleh saya tahu memangnya kekasih atau suami Dokter tidak pernah menjemput ataupun mengantar?"
Mendengar pertanyaan itu, Sakura tersipu malu.
"S-saya belum punya kekasih, Dok. Terlebih lagi suami," jawabnya sambil tersenyum kecut.
"Kalau begitu bolehkah saya mengatakan sesuatu padamu?" Gaara menghentikan langkahnya.
"Silahkan, Dok." jawab Sakura santai. Masih tidak mengerti ke mana arah pembicaraan itu.
"Sebelumnya maaf kalau saya lancang, tapi… apakah Dokter menerima kalau saya mencalonkan diri menjadi pasangan hidup Dokter untuk selama-lamanya? Dokter Sakura, maaf, hatiku memilihmu." ujar Gaara tanpa menatap sedikit pun wajah Sakura. Pandangannya sedikit tertunduk. Matanya memperhatikan cengkraman erat tangan Sakura yang berada di dalam kantong jas dokternya. Gaara tahu Sakura pasti terkejut. Suasana diantaranya senyap. Kontras sekali dengan suara riuh anak-anak yang berlarian di sekitar mereka.
"Kita hampir sampai," ujar Gaara memecah kesunyian. Ia segera mempercepat langkahnya yang terasa berat.
Sakura mengikuti langkah Gaara. Tubuhnya gemetar. Kakinya lemas. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Dan mukanya memerah. Gaara membuka pintu mobilnya. Sebelum masuk ia menatap Sakura sebentar sebelum akhirnya menunduk kembali.
"Maafkan aku, Dokter Sakura. Sekali lagi maafkan aku," ujar Gaara dengan suara berat.
Sakura memberanikan diri untuk melihat Gaara. Sesak. Ia tundukkan kembali wajahnya. Sebenarnya bukan tidak mau, namun ia sedikit terkejut. Sehingga tidak tahu harus berkespresi bagimana. Ia juga merasa tidak pantas. Dan belum yakin dapat mencintai Gaara sepenuh hati. Di dasar hatinya, ternyata terukir nama Sasuke Uchiha. Tiba-tiba wajah dermawan pemuda itu berkelebat dalam pikirannya. Sakura galau. Sebab ia juga sulit menolak permintaan Gaara.
"Saya terima jawabannya kapan pun Dokter siap. Terima kasih telah banyak membantu. Permisi." ujar Gaara tersenyum. Mencetak lesung di kedua pipinya. Indah sekali. Setidaknya senyuman itu mampu membuat hati Sakura sedikit damai walau hanya sekejap.
"It-itterasai, Dok." balas Sakura yang juga tersenyum.
Aston Martin itu bergerak perlahan. Melewati Sakura yang semakin tertunduk. Sakura memberi ojigi. Kemudian menatap mobil itu hingga menjauh.
"Dokter Gaara, apakah hatiku juga benar-benar memilihmu?" tanyanya dalam hati.
.
.
To be continued
.
.
Huwoooo~ romancenya garing yak? Aduh, sori banget yaaa~ soalnya author gak punya pengalaman ama yang namanya cinta-cintaan! *Readers: jadi ngapain lo buat yang romance?* Hehe saya juga lupa kenapa. #PLAK#. Permintaan saya di akhir tetep sama, minta kritik, saran, unek2, ato apalah! Sekian, ja ne. :)
.
.
Ket :
Bedah laparoskopi : Bedah laparoskopi adalah suatu tehnik pembedahan dimana operasi pada perut dilakukan melalui sayatan kecil, biasanya 0,5 – 1,5 cm yang juga merupakan bagian dari teknik endoskopi.
Laparoscope : suatu alat berupa sistem lensa teleskopik yang terkoneksi dengan video kamera dan sumber cahaya (xenon), yang digunakan untuk pencahayaan pada saat pembedahan di dalam rongga perut.
Itterasai : Hati-hati
Konbawa ; Selamat malam
