Jealous
Jika kalian bertanya hal yang paling dibenci Jihoon tentang kekasih sipitnya, jawabannya adalah saat Soonyoung tebar pesona. Seperti saat ini, Soonyoung tampil ditengah lapangan sepak bola sekolahnya dengan dance berkonsep seksi. Soonyoung hanya memakai kemeja putih-basah karena keringat- sebagai atasannya tanpa dikancing. Hei, Jihoon saja yang berstatus sebagai pacarnya belum pernah melihat perut kotak-kotak Soonyoung dengan keringat yang menetes seperti itu, tapi kekasih sipitnya malah mengumbar-ngumbar di depan banyak orang. Mana teman-teman perempuannya histeris dengan mata berbinar lagi. Menyebalkan sekali. Jika Jihoon tahu konsep dance untuk lomba kali ini, tidak akan dia urut kaki Soonyoung yang kesleo tempo hari.
Jihoon mengerucutkan bibirnya menatap panggung di bawah sana. Teriakan teman-teman perempuannya benar-benar membuat moodnya turun. Sudah tidak konsen lagi siswi imut itu menonton pertunjukan dance groupnya Soonyoung.
"Lihat saja ya nanti kau, Kim Mingyu." Jihoon melirik Wonwoo disebelahnya yang sedang meremas botol plastik kosong. Kedua matanya menatap tajam Mingyu yang hanya memakai jaket baseball sebagai atasannya. Memamerkan dada bidang dan perut kotak-kotaknya.
Jihoon bergedik merasakan aura membunuh dari Wonwoo. Sahabatnya yang tinggi bak model itu memang terlihat kalem, tapi akan terlihat menyeramkan saat marah. Seperti malaikat saat baik dan iblis saat marah. Ya seperti itu.
"Untung saja Jun Oppa sudah kuliah." Jihoon mendengus mendengar desahan Minghao. Kalau Jun Oppa masih sekolah di sini juga, dia akan dance seperti itu, bahkan lebih parah dari ini.
Wajah Jihoon terus saja ditekuk selama perlombaan dance sampai selesai. Bahkan saat ini, saat dia dengan Soonyoung jalan pulang. Membuat Soonyoung mengerutkan keningnya. Bahkan Jihoon tidak mau disentuh.
"Jihoon-ie," Soonyoung memanggil Jihoon dan hanya mendapat dehaman dari kekasih imutnya. Soonyoung maju satu langkah berdiri tepat di depan kekasihnya, sehingga membuat Jihoon berhenti dan menatap sebal Soonyoung.
"Ada apa hm?" Soonyoung bertanya dengan nada lembut. Tangan kanannya mengusap pipi bulat kekasihnya. Namun langsung ditepis dengan kasar. Soonyoung tersenyum tipis kemudian. "Badmood?"
"Minggir!" bukannya menjawab, Jihoon malah mendorong lengan kekasihnya. Berusaha menyingkirkan badan besar Soonyoung dari hadapannya. "Kubilang minggir, Soonyoung!"
Soonyoung tersentak begitu melihat mata sipit kekasihnya. Jihoon menatapnya tajam dan tadi membentaknya. Jihoon benar-benar marah.
Jihoon kembali melangkahkan kakinya, setelah berhasil mendorong Soonyoung yang bergeser beberapa langkah. Jihoon berjalan lurus ke depan tanpa memperdulikan Soonyoung yang sedang mengacak rambutnya frustasi.
"Jihoon-ie," Soonyoung berbalik mengejar Jihoon yang sudah jauh di depan. "Kau marah padaku?" tanya Soonyoung setelah berada di samping Jihoon. Jihoon hanya meliriknya tanpa ada niatan menjawab.
Soonyoung mengusap wajahnya frustasi. Sungguh, Jihoon yang diam seperti ini, lebih mengerikan dari yang biasanya galak. Dan Soonyoung benar-benar tidak tahan lagi.
"Jihoon," Soonyoung memanggil dengan tegas. Tangannya menarik lengan Jihoon agar berhenti di depannya. "Sakit, Soonyoung. Lepaskan!"
Jihoon berhenti dengan kepalanya yang tertunduk. Tangannya berusaha melepaskannya cengkraman Soonyoung pada lengannya. "Lepaskan!" bukannya melepaskan Soonyoung malah mencengkram lebih kuat.
"Lee Jihoon berhenti!" Soonyoung membentak dengan nada pelan. Membuat Jihoon berhenti meronta. Kepala siswi imut itu juga makin menunduk.
"Jelaskan apa salahku, Jihoon! Jika kau diam seperti ini mana aku tau kesalahanku." Soonyoung menatap sendu pucuk kepala kekasihnya. Tangannya bergerak mengangkat dagu Jihoon, lalu menatap lembut kedua mata berair kekasihnya. "Jangan diam seperti ini, chagiya."
"Aku marah, Soonyoung." Suara Jihoon terdengar pelan, namun Soonyoung masih bisa mendengarnya. Tangan Soonyoung beralih mengusap lembut pipi bulat Jihoon. "Marah kenapa hm?"
"Karena," Jihoon terdiam sebentar. Siswi imut itu terlihat sedang mencari jawaban yang tepat, agar Soonyoung tidak menertawainya nanti. "tadi di lapangan." Jihoon menjawab dengan bisikan. Namun Soonyoung dapat membaca gerak bibirnya. Setelah mengerti titik permasalahannya, Soonyoung terkekeh pelan.
"Yeojaku jealous eoh?" Jihoon memukul kesal lengan Soonyoung. Wajah imutnya kini memerah padam. Soonyoung sekarang sudah menertawakannya. Menyebalkan sekali. "Kau menyebalkan."
Soonyoung makin tergelak setelah mendengarkan pekikkan Jihoon. "Kau pikir, kau ini tidak punya kekasih, seenaknya memamerkan tubuhmu."
Soonyoung terdiam sebentar, setelah mendengar dengusan kekasih imutnya. Jihoon marah karena konsep dancenya tadi. Sudah seharusnya Jihoon marah padanya. Soonyoung sudah memiliki Jihoon dan malah memamerkan badan pada orang banyak. Soonyoung jadi merasa tidak menghargai Jihoon sebagai kekasihnya. Memang tidak seharusnya Soonyoung mengiyakan konsep usulan adik kelas menyebalkannya itu. Sudah sepantasnya Jihoon marah.
"Maafkan aku ya, Jihoon-ie." Soonyoung berucap dengan pelan. Jihoon dapat melihat mata sipit Soonyoung yang penuh dengan penyesalan. "Ini bukan konsepku, ini konsep Mingyu sungguh. Seharusnya aku tidak menerima konsepnya." Jihoon dapat merasakan hembusan nafas yang menerpa wajahnya. Soonyoung benar-benar terlihat merasa bersalah.
Senyum manis terlukis di wajah imut Jihoon. Tangan kanannya bergerak menuju pipi kekasih sipitnya. "Memang seharusnya tidak kau terima, pabbo!" Kemudian mencubit gemas pipi Soonyoung.
"Lain kali, kau beri tau dulu padaku. Aku ini kan pacarmu, mana rela badan pacarku dipamer-pamer depan banyak orang." Soonyoung tersenyum menatap haru kekasihnya. Kemudian memeluk erat Jihoon.
"Maaf, maafkan aku, sungguh aku tidak akan mengulanginya lagi." Jihoon tersenyum mendengar bisikan Soonyoung. "Aku pegang janjimu." Kemudian melepas pelukan Soonyoung.
"Nah sekarang belikan aku es krim sebagai hukumannya." Jihoon berucap dengan mata berbinar-binar. Membuat Soonyoung terkekeh pelan seraya mengusap pucuk kepala kekasih manisnya.
"Kenapa es krim? Nanti lehermu sakit, dua minggu lagi acaranya." Jihoon mengerucutkan bibirnya. Tangannya bergerak memainkan tali selempang tasnya. Terlihat benar-benar menggemaskan. Dan Soonyoung mati-matian menahan tangannya agar tidak mencubit kedua pipi bulat kekasihnya.
"Aku ingin sekali. Jebal Soonyoung-ie." Soonyoung mendengus sebal setelah mendengar nada memohon kekasihnya. Mana pakai puppy eyes lagi. Jihoon memang paling tahu kelemahannya. Dengan berat hati Soonyoung menganggukkan kepalanya. Membuat Jihoon langsung bersorak gembira, kemudian menarik tangan Soonyoung untuk kembali berjalan.
aku kembali yeyeyeyey siapa yang nungguin?
seneng deh liat reviewnya makasih banyak ya udh mau review /bow/
terus reviw yaaa ditunggu lho review dari kalian...
