WARNING: TYPO, ALUR YANG BOSAN, KATA-KATA TIDAK MENARIK, DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA. FLAME? BOLEH, ASAL BERMANFAAT. OKAY? :)

.

.

Autumn In My Heart

by AishaMath

Summary:

"Gaara, semoga saja dokter wanita yang aku temui itu bukan dokter yang ingin kau lamar! Hahaha!"

"Haha, kau ini ada-ada saja!"

.

.

Sepanjang jalan Sakura hanya diam. Matanya menatap kosong bangunan-bangunan megah dari balik kaca mobilnya. Ayahnya yang berada di sebelah kirinya tahu betul apa yang dirasakan putrinya saat ini. Tapi cepat atau lambat Sakura pasti akan menemui yang satu ini, menikah.

"Sakura," panggil ayahnya tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya karena harus berkonsentrasi ke depan. Sepertinya insiden hampir tertabraknya Naruto benar-benar menjadi pelajaran baginya.

"Ya," jawab Sakura enggan.

"Ayah tahu perasaanmu. Tapi ingat, Nak, jangan gara-gara mengejar karir kau sampai melupakan hal itu."

Sakura kaget. Bagaimana ayahnya bisa tahu masalahnya? Namun barulah ia mengerti setelah mengingat kata "rencana" yang diucapkan ayahnya dengan Gaara tadi pagi. Dan ternyata rencana itu adalah pernyataan perasaan Gaara pada sakura. Mendengar nasihat ayahnya Sakura hanya diam. Malu sekaligus galau.

Tapi entah mengapa hatinya memang belum siap walaupun ia juga menaruh perasaan pada Gaara. Ada satu hal yang membuat hatinya ragu dan ia benci sekali perasaan ini. Ia benci jika hatinya mengharap seseorang lain yang jauh, bahkan mungkin tidak pernah memikirkannya sedetik pun. Tidak, bahkan mungkin orang tersebut tidak tahu namanya. Oh, Sakura begitu benci perasaan bodoh ini. Inilah perasaan yang selalu ia cegah kemunculannya. Dan entah mengapa ia begitu lemah untuk mengabaikan perasaan ini. Tidak masalah jika suatu hari ia berjodoh dengan orang tersebut, tapi jika tidak? Sungguh kerugian yang luar biasa bagi Sakura.

"Sasuke Uchiha, awas saja kalau kau memang jodohku. Aku pasti akan memukulmu karena kau sering masuk ke pikiranku. Tapi kalau kita tidak berjodoh, semoga Tuhan tidak akan mempertemukanmu dengan jodohmu sampai kau berusia lima puluh tahun! Heheh," kutuk Sakura dalam hati dengan wajah deathglarenya yang tersembunyi. Jika ibu Gaara mengetahui hal ini, maka label "anggun" yang diberikan padanya pasti segera dicabut. Walaupun begitu, disela-sela kutukannya tadi ia juga berdoa semoga jodohnya memang benar Sasuke Uchiha.

.

.

Gaara memasukkan mobilnya ke garasi dan mematikan mobilnya. Lelah. Segera diraih botol minuman yang ada di sampingnya. Setelah beberapa detik berdiam diri, ia tersenyum. Senang karena ia berhasil menyiapkan masalah keberangkatan ke Palestina. Setelah jauh-jauh belajar di Jerman, tidak mungkin ia mengecewakan ayahnya hanya dengan kegagalan dalam urusan seperti ini. Terlebih lagi ia mampu menyisakan waktu untuk bertemu Naruto. Dan yang lebih membuatnya senang adalah keinginannya selama ini akhirnya terwujud.

Menolong korban-korban yang berjatuhan di Palestina adalah keinginannya dari dulu. Disamping itu ada rasa kagum dalam hatinya terhadap orang-orang palestina tersebut khususnya yang tinggal di jalur Gaza. Walaupun sudah diserang dan dibantai berkali-kali mereka masih tetap bertahan dan tidak menyerah begitu saja menghadapi Israel yang semakin membabi buta.

Gaara turun dari mobilnya. Ia yakin ibunya pasti sudah menunggunya dari tadi. Dengan santai ia memasuki rumahnya. Sepi. Gaara masuk ke kamarnya karena melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Perlahan ia membuka pintu dan dilihatnya seorang wanita cantik yang selalu menyayanginya sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam kopernya. Gaara tertegun sejenak. Kemudian memeluk ibunya dari belakang. Sayangnya itu membuat ibunya terkejut dan tanpa ampun menjitak kepala Gaara.

"Aw! Ibu, sakit!" ujar Gaara sambil menggosok-gosok kepalanya dengan tangan.

"Eh, Gaara? Ya, ampun sayang ibu kira siapa, haha. Kamu sih buat ibu kaget!" ujar Karura tidak sanggup menahan rasa gelinya.

"Hehe, aku kan rindu pada ibu. Oh, iya, aku bisa memasukkan pakaianku sendiri, kok. Ibu tidak perlu re-"

"Repot-repot apanya, ibu kan hanya memindahkan pakaianmu ke dalam koper. Kau berlebihan ah! Gaara, kau sudah makan belum?" tanya ibunya dengan nada bicaranya yang seperti kicauan burung.

"Sudah, kok. Tapi aku mau makan sekali lagi, masakan ibu 'kan berbeda," jawab Gaara membuat ibunya semakin tersenyum.

Di ruangan yang tidak kecil itu, Karura menemani Gaara makan dengan lahap. Diperhatikannya Gaara dengan seksama. Tidak banyak yang berubah dari anaknya itu. Hatinya tetap baik seperti dulu. Mungkin hanya wajahnya saja yang semakin tampan, karirnya yang meningkat dan kharisma yang semakin terpancar dari dirinya. Namun ada perasaan sedih dalam hatinya atas keberangkatan Gaara kali ini.

"Gaara, kau benar-benar siap untuk berangkat besok, Nak?" tanya Karura.

"He-eh," jawab Gaara singkat. Sebab ia sedang berkonsentrasi dengan sup yang sedang dilahapnya.

"Ya, syukurlah. Lakukan yang terbaik ya, Nak." ujar Karura sambil mengusap-usap kepala Gaara.

Gaara hanya tersenyum dan mengangguk ria karena masih berkonsentrasi untuk meminum kuah sup yang tersisa. Karura tertawa kecil melihat tingkah anaknya yang satu ini.

.

.

Pukul 1.30 AM. Sasuke merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perkataan ayahnya dua hari yang lalu masih terngiang dan menghantuinya setiap malam. Tapi kesalahan ini memang datang dari dirinya sendiri. Ya, salahnya sendiri yang telah mengatakan bahwa ia belum punya calon istri bahkan hampir lupa untuk menikah. Dan karena kepolosannya itu ayahnya mengancamnya untuk menjodohkannya jika dalam dua minggu ini tidak ada tanda-tanda kemajuan mengenai kehidupan asmaranya.

"Ck, memangnya aku harus mencari jodoh ke mana? Hmph…" keluh Sasuke dalam hati. Matanya melirik ke kalender, ada bulatan merah untuk tanggal besok. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Segera diraihnya handphonenya dan menghubungi seseorang.

Sambil menunggu rasa kenyangnya reda, Gaara memeriksa kembali perlengkapannya. Termasuk pistol yang harus ia bawa untuk berjaga-jaga di Palestina nanti.

"Pip-pop-pip-pip-" Gaara mengangkat handphonenya. Dan ketika mengetahui siapa yang meneleponnya ia pun tersenyum.

"Ha-" belum sempat ia berkata "halo" si penelepon telah mengomel lebih dulu padanya.

"Gaara, apa besok kau jadi berangkat?" tanya si penelepon yang siapa lagi kalau bukan Sasuke Uchiha.

"Ya, ak-"

"Lalu kenapa kau diam-diam saja seolah-olah tidak ada apa-apa? Kenapa kau tidak menghubungiku!?" Mendengar omelan sahabatnya itu Gaara sedikit menjauhkan handphone dari telinganya. Ia menghela napas sejenak dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Yah… mau bagaimana lagi kau 'kan begitu sibuk, jadi ak-"

"Tapi 'kan-"

"Sasukeee! Berhentilah mengomel! Kau kan sudah berbicara denganku sekarang."

"Ya,baiklah, gomen ne. Gaara, sedang apa kau?"

"Nah, seharusnya kau begitu dari tadi. Aku hanya sedang memeriksa ulang perlengkapan. Sasuke, kenapa kau belum tidur?"

"I-itu…yah, sebenarnya ada sesuatu yang belakangan ini membuatku pusing."

"Hn? Apa perusahaanmu sedang ada masalah?"

"Tidak. Bukan masalah perusahaan, tapi ini masalah… asmara!"

"Asmara? Apa sebentar lagi kau mau menikah?" Gaara sedikit menahan rasa gelinya.

"Menikah apanya?! Aku saja tidak tahu siapa yang harus kunikahi. Gaara, bagaimana ini? Jika aku tidak menemukan calon istri dalam dua minggu ini, ayahku akan menjodohkanku!" ujar Sasuke lemas.

"Hahaha, dijodohkan? Selamat ya, Tuan Presdir!" Gaara terpingkal-pingkal di atas kasurnya. Belum pernah ia tertawa sehebat ini sebelumnya.

"Sialan! Gaara, kau menertawakanku, ya? Hei, kau sendiri memangnya sudah punya calon istri apa?"

Mendengar pertanyaan Sasuke, jantung Gaara sedikit berdesir. Ia lupa ternyata ia sudah melamar anak orang.

"A-aku? Ada. Ibuku menyuruhku cepat-cepat untuk mengatakan perasaanku pada wanita itu tadi sore." Suara Gaara frustasi.

"Ahahahahahaha! Kau juga sama saja ternyata! Intinya kau juga dipaksa oleh orang tuamu 'kan? Kalau aku boleh tahu, siapa wanita itu, Gaara? Kau suka padanya? Heh?"

"Dia itu seorang dokter, sama sepertiku. Besok dia ikut mengantarku di bandara. Nah, lihat saja siapa orangnya. Kalau suka…ya, aku suka padanya. Tapi aku kurang yakin apa aku benar-benar mencintainya."

"Hah? Jadi kau akan menikahi wanita yang tidak kau cintai, Gaara?"

"Yah, mungkin lama-kelamaan bisa. Wajar 'kan kalau aku tidak yakin, kami baru bertemu dua hari yang lalu. Hah… kenapa tidak kau saja ya yang melamarnya?"

"Hahaha, dasar baka! Aku yakin kau bisa mencintainya, dia dokter yang baik 'kan?"

"Tentu. Kalau tidak bagaimana mungkin ibuku sampai tergila-gila padanya. Oi, Sasuke, apa kau pernah menyukai seorang wanita? atau paling tidak seseorang yang bisa membuatmu kagum walau sejenak? atau yang bisa membuat jantungmu berdesir? Yah, setidaknya walaupun tidak ada orang yang kau cintai, ada orang yang kau suka. Dari pada harus menerima perjodohan, menurutku itu malah tidak baik nantinya. Apalagi kalau dia memang bukan tipemu."

"Yang aku kagumi ya? Umm…" Sasuke menerawang sejenak. Tiba-tiba ia teringat wanita yang mobilnya hampir menabrak Naruto. Seketika itu wajah wanita yang tidak dikenalnya itu berkelebat dalam pikirannya. Dan benar, jantung Sasuke berdesir.

"Gaara, ada! Tapi aku tidak tahu siapa dia. Hanya waktu itu pernah bertemu saja. Tapi kalau tidak salah sepertinya dia seorang dokter, karena wajahnya pernah dimuat di koran."

"Benarkah? Bagus kalau begitu. Hanya tinggal mencari di rumah sakit mana ia bekerja,"

"Ya, aku juga memikirkan hal yang sama. Hei, Gaara, semoga saja dokter wanita yang aku temui itu bukan dokter yang ingin kau lamar! Hahahahahaha,"

"Hahaha, dasar kau ini ada-ada saja."

Begitulah perbincangan dua sahabat di malam itu dan perbincangan berakhir ketika jam menunjukkan pukul 02.30 AM.

.

.

Kankurou memarkir Vauxhall miliknya. Di dalam mobil itu ada Gaara dan ibu mereka, sedangkan Temari menaiki mobil lain bersama Shikamaru dan Matsuri. Ayah mereka terpaksa tidak ikut karena harus masih mengisi seminar di luar kota. Masih pukul 7 pagi, sedangkan pesawat mereka baru akan berangkat pukul 9.30. Ya, memang mereka sengaja pergi cepat karena harus memeriksa kembali barang-barang yang akan dibawa. Alasan lainnya yaitu karena ibu mereka, Karura sudah berkicau sejak jam 5 pagi tadi. Padahal kalau seandainya terlambat pun pasti akan ditunggu karena dokter-dokter yang berangkat ke Palestina dari Jepang akan menaiki pesawat khusus. Sehingga tidak ada penumpang lain selain dokter-dokter itu.

"Nah, Bu, masih sepi 'kan? Aku bilang juga apa." ujar Kankurou meledek ibunya. Dan tentu saja ibunya tidak mau kalah.

"Dari pada kalian harus terlambat dan terburu-terburu lebih baik datang cepat walaupun sepi. Kalau kalian tidak datang cepat nanti…bla…bla…ban bocor…bla…bla…bla…habis bensin…bla…bla…"

Kankurou dan Gaara hanya menghela napas. Tidak berani membantah lagi karena kicauan itu sungguh-sungguh membuat gendang telinga bergetar hebat.

"Ibu, sepertinya mereka sudah sampai," ujar Gaara sambil menunjuk ke arah SpeedArt putih milik Shikamaru.

"Ayo kita turun." kata Karura.

.

.

Pukul 8. 45 AM. Bandara sudah lumayan ramai dan sudah ada tanda-tanda kehidupan. Kankurou melirik arloji di tangannya. Masih ada waktu sekitar 45 menit lagi. Ia menghela napas. Bosan sekali rasanya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Shikamaru dan Gaara. Sedangkan Karura, Temari dan Matsuri justru sedang asyik berbincang-bincang. Tidak ada lagi yang harus dilakukan, sebab semua perlengkapan sudah dicek satu per satu dan semuanya lengkap. Dan tidak ada lagi yang harus ditunggu kedatangannya karena semua dokter yang akan berangkat ke Palestina sudah berkumpul di sini. Kecuali mungkin Gaara yang sedang menunggu kedatangan Naruto, Sasuke dan... Sakura.

Untuk memecah kesunyian sesekali mereka berbincang-bincang dengan para dokter-dokter itu. Ya, hal-hal yang tidak yang tidak penting pun jadi bahan pembicaraan demi mencegah rasa bosan dan kantuk yang luar biasa.

Di belahan bumi lain, seorang wanita cantik terpaksa harus berjalan kaki karena mobil yang ia kendarai tiba-tiba mati di tengah jalan. Dengan langkah gontai ia menuju persimpangan jalan untuk mendapatkan taksi. Ya, walaupun persimpangan masih lumayan jauh ia tidak perlu terburu-buru karena ada sekitar 45 menit lagi untuk menuju bandara.

"Papa Sasu, kapan kita campai di tempat Papa Gaara?" tanya Naruto pada Sasuke yang ada di pangkuannya.

"10 menit lagi kita sampai kok di tempat Papa Gaara. Kalau Naru bosan, bernyanyi saja sekali lagi." ujar Sasuke lembut sambil mengusap-usap kepala Naruto.

"Tapi suara Naru sudah sedikit serak, Pa." kata Naruto lucu.

"Oh, hahah! Kalau begitu biar Papa Sasu saja yang bernyanyi. Ehem, I want to change the world…kaze wo kakenukete nani-" nyanyian Sasuke terhenti ketika melihat sosok wanita berjalan kaki tidak jauh di depan mobilnya. Saat mobilnya melewati wanita itu ia bisa memperhatikan jelas wajah sang wanita. Sasuke terperanjat. "Dia?!" pekiknya dalam hati.

"Pak Teuchi, mundur Pak! Sepertinya saya kenal wanita tadi." kata Sasuke pada sopir pribadinya.

"Baik , Tuan."

Mercedes Benz itu pun mundur perlahan. Mengakibatkan si wanita menjadi was-was dan segera menyiapkan serangan jika yang turun dari mobil itu adalah komplotan penjahat.

"Naru, tunggu di sini sebentar, ya." kata Sasuke sambil menurunkan Naruto dari pangkuannya. Kemudian ia segera turun dari mobilnya.

Sakura sudah siap dengan kepalan tangan dan tendangan yang ia miliki. Hanya tinggal dilayangkan saja. Namun siapa sangka kalau yang turun dari mobil itu adalah seorang pria tampan yang selama ini terus mengusik pikirannya. Sasuke berdiri di hadapan Sakura. Keduanya saling menyelidiki satu sama lain. Dan setelah yakin, keduanya spontan berteriak, "Kau?!"

Pertemuan itu sukses membuat keduanya jadi salah tingkah. Apalagi Sakura, ia jadi teringat niatnya untuk memukul wajah Sasuke jika suatu saat lelaki itu menjadi suaminya. Sakura tak bergeming.

"Ya, aku yang waktu itu, Sasuke Uchiha. Bukankah kau dokter itu?" tanya Sasuke pada Sakura.

"I-iya," jawab Sakura singkat. Entah mengapa bibirnya sedikit kelu.

"Sial! Kenapa aku seperti ini? Tidak, tidak boleh seperti ini! Sakura, orang yang sering mengusik pikiranmu ada di hadapanmu sekarang. Jangan bersikap bodoh seperti ini! Ayo, kau kuat, Sakura! Bersikaplah seperti biasa!" teriak hati Sakura memberi semangat kepada dirinya sendiri. Dan syukurlah sekarang ia sudah mampu mengusai dirinya.

"Kalau boleh tahu, kenapa kau berjalan kaki sendirian di tempat sepi seperti ini?" tanya Sasuke.

"Tiba-tiba mobilku mati, jadi aku mau mencari taksi di persimpangan sana," ujar Sakura mulai menampakkan kewibawaannya.

"Memangnya kau mau pergi ke mana?"

"Ke bandara. Temanku akan berangkat jam 9.30 nanti,"

"Kebetulan aku juga mau ke bandara. Kalau tidak keberatan, kau bisa naik mobilku. Di dalam juga ada Naruto, kok." kata Sasuke ramah.

Awalnya sakura ragu. Tapi mengingat taksi yang belum tentu ada di persimpangan itu, akhirnya ia pun setuju. Keduanya segera masuk ke dalam mobil.

"Eh, ada tante Sakura!" kata Naruto.

"Naruto? Ternyata kau juga ikut, ya?" tanya Sakura sambil mengangkat Naruto dalam pangkuannya.

"He-eh," angguk Naruto.

"Memangnya Naru mau bertemu siapa di bandara?" tanya Sakura ramah.

"Mau bertemu cama Papa Gaara, Tante." Mendengar hal itu Sakura terperanjat.

"Iya, Naruto dan aku ingin bertemu Gaara di bandara. Sebentar lagi dia akan berangkat ke Palestina," ujar Sasuke.

"Wah, kebetulan sekali, aku juga mau bertemu dengan dokter Gaara di bandara. Harusnya aku pergi dengan ayah, tapi mendadak beliau harus menangani beberapa pasien yang yang kecelakaan semalam." jelas Sakura.

"Benarkah? Kebetulan sekali." kata Sasuke sambil tersenyum. Sakura pun membalas senyuman itu dan segera memalingkan wajahnya karena takut hatinya segera meledak melihat senyuman manis Sasuke.

Sepanjang jalan Sasuke dan Sakura tidak banyak bicara. Masing-masing hanya berbicara pada Naruto. Entah apa yang dipikirkan dua orang ini tapi sepertinya karena degup jantung mereka yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Atau mungkin karena mereka terlalu senang bertemu sehingga tidak tahu harus bicara apa.

Dan dampak negatif dari kejadian ini adalah Sasuke. Antenanya yang biasa melambung tinggi kini memendek seketika. Sehingga sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa wanita yang dimaksud Gaara ikut mengantarnya di Bandara adalah wanita yang ada di sebelahnya. Justru yang ada dipikiran Sasuke sekarang adalah kejutannya untuk Gaara bahwa wanita yang ada di sebelahnya adalah wanita yang ia katakan mampu membuat jantungnya berdesir.

"Gaara, tunggu aku! Akan kutunjukkan wanita yang kumaksud itu!" kata Sasuke. Rasa riangnya membuatnya tak sabar ingin bertemu Gaara.

.

.

"Halo, Gaara, kau di mana? Aku sudah sampai," tanya Sasuke pada Gaara.

"Benarkah? Masuk saja ke jalan utama, aku tunggu di sana."

"Baiklah kalau begitu," Sasuke mematikan handphonenya.

"Gaara menyuruh kita masuk ke jalan utama. Dia menunggu kita di sana," kata Sasuke pada Sakura.

Sepanjang jalan mereka kembali diam. Namun sepertinya dugaan Sakura benar bahwa orang yang selalu muncul dalam pikirannya itu tidak tahu siapa namanya. Terbukti bahwa dari tadi Sasuke belum memanggil namanya sekalipun. Dan memang benar. Sekarang Sasuke sedang mengingat-ingat nama Sakura. Padahal tadi Naruto sudah memanggil Sakura dengan panggilan "tante Sakura". Entah apa yang membuat otaknya kacau di pagi seperti ini. Mungkinkah cinta?

"Sasuke!" panggil Gaara pada mereka.

"Papaaaaa~!" Naruto segera berlari ke arah Gaara dan segera mendapat pelukan hangat darinya.

"Anak Papa kok lama sekali sih? Papa sudah menunggu kamu dari tadi tahu!" kata Gaara sambil mencubit kecil hidung Naruto.

"Gomen ne, Papa," jawab Sasuke sambil menunjukkan wajah sebalnya.

Gaara hanya tertawa kecil. Lalu kedua saling bertatapan dan berangkulan satu sama lain.

"Dasar kau ini, padahal baru saja kembali tapi sudah pergi lagi! Kapan kau luangkan waktu untukku, heh?" tanya Sasuke bercanda.

"Haha, seperti kau punya banyak waktu saja. Tapi aku sudah menyiapkan agenda untuk hari khusus kita kok, tenang saja." jawab Gaara. Kemudian keduanya saling tertawa. Mereka melupakan Sakura yang dari tadi berdiri dengan penuh tanda tanya. "Sebenarnya mereka berdua ada hubungan apa?" tanya Sakura dalam hati.

"Papa Gaara, tante Sakura juga ikut lho." kata Naruto menyadarkan Gaara dan Sasuke.

Lalu keduanya melihat ke arah Sakura dengan rasa bersalah karena sudah melupakan kehadirannya. Alhasil, tentu hal itu membuat Sakura jadi salah tingkah.

"Ah, Gomennasai, Sakura." ujar Gaara.

"Aku juga minta maaf. Maklum sejak Gaara mengambil sub spesialis di Jerman kami belum pernah meluangkan waktu bersama lagi." lanjut sasuke.

"Oh, tidak apa-apa kok. Lanjutkan saja ceritanya, kenapa berhenti?" jawab Sakura ramah.

"Ya sudah, kalau begitu kita bicara di dalam saja." ajak Gaara.

"Jadi kalau boleh tahu, kenapa kalian bisa pergi bersama?" tanya Gaara.

"Tadi tiba-tiba mobilku mati, kebetulan Sasuke lewat dan mengajak untuk pergi bersama ke sini." jawab sakura.

"Oh, begitu. Maaf ya, sepertinya aku sudah merepotkanmu untuk membawakanku berkas ini."

"Eh? Tidak kok, sama sekali tidak repot." kata Sakura sambil tersenyum.

Sasuke melirik Gaara. Tatapannya seolah-olah mengatakan, "Gaara, wanita yang kumaksud adalah yang ini!"

Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat para dokter berkumpul. Melihat siapa yang datang, Karura pun histeris.

"Sakura, Sasuke, Naruto, ibu senang sekali kalian datang," suara Karura riang sekali.

"Kami juga senang sekali bisa bertemu Ibu di sini. Maaf sudah membuat Ibu menunggu lama." kata Sakura ramah.

"Tidak kok, Nak. Silahkan duduk, Sasuke, juga Sakura. Naruto, mari Ibu gendong, Sayang. Ibu kangen sekali denganmu, Nak." kata Karura sambil menggendong Naruto.

"Sasuke, bagaimana kabar ibu dan ayahmu? Sudah lama Ibu tidak bertemu mereka," tanya Karura pada Sasuke.

"Mereka sehat-sehat saja, Bu. O, iya, ada salam dari ayah dan ibuku untuk Ibu." jawab Sasuke.

"Benarkah? Salam untuk mereka kembali, ya?"

"Hn," angguk Sasuke. Begitulah ruangan itu yang kemudian dipenuhi dengan canda tawa.

"Tok-tok!" Gaara membuka pintu.

"Maaf, Dok, sebentar lagi kita berangkat." kata petugas yang mengetuk pintu tadi.

"Baiklah, terimakasih." kata Gaara.

"Semuanya, bersiap-siaplah. Sebentar lagi kita berangkat," perintahnya.

Para dokter yang akan pergi bersama Gaara pun beranjak dari tempat duduk mereka, demikian juga yang lain.

"Gaara, Temari, Kankurou, tidak ada yang ketinggalan lagi 'kan, Sayang?" tanya Karura.

"Ibu tenang saja, semuanya sudah lengkap kok." jawab Temari.

"Oh, syukurlah. Eh, Naru, kamu kenapa, Sayang?" tanya Karura heran karena Naruto mulai memaksa badannya untuk turun. Gaara yang menyadari itu pun tersenyum dan langsung mendekat.

"Ibu, sepertinya Naruto ingin aku menggendongnya." kata Gaara. Dan benar Naruto langsung jatuh dalam pelukannya.

"Ck! Ck! Ck! Kalian berdua sudah seperti ibu dan anak saja. Gaara, aku tidak bisa membayangkan kalau kau menjadi seorang ibu." kata sasuke sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Spontan semua orang yang mendengarnya tertawa. Termasuk Sakura.

"Dokter Gaara, kita berangkat sekarang." kata petugas yang tadi juga memberitahu Gaara.

"Baik," kata Gaara tersenyum. Kemudian ia segera menurunkan Naruto dari gendongannya.

"Naruto, jangan lupa makan yang banyak ya, Sayang. Papa tidak mau melihat Naru kurus saat Papa pulang nanti. Juga jangan lupa belajar ya, Papa sayang sekali dengan Naru." pesan Gaara kepada Naruto dan kemudian mencium kepala anak angkat tersayangnya itu.

"Ibu, kami berangkat ya." kata Gaara pada ibunya dan segera mencium tangan ibunya diikuti temari dan Kankurou.

"Hati-hati, ya, anak-anakku. Jaga diri kalian baik-baik. Juga jangan lupa untuk selalu mengaktifkan handphone kalian." ujar Karura sambil memeluk anaknya satu per satu. Saat memeluk Gaara entah mengapa hatinya tidak rela. Ada perasaan sedih dalam hatinya atas keberangkatan Gaara kali ini. Segera ditepisnya perasaan ini.

Setelah memeluk ibunya, Gaara berpamitan dengan Sasuke. Tanpa banyak bicara, keduanya saling berpelukan dan menepuk-nepuk punggung lawannya.

"Aku pergi, Sasuke."

"Kembalilah dengan sukses, Gaara."

"Hn,"

Tidak lama setelah itu Gaara berpamitan dengan Sakura. Hatinya bergetar hebat. Demikian juga yang dirasakan oleh sakura. Tidak banyak ekspresi yang dikeluarkan oleh mereka. Hanya saling senyum dan pembicaraan singkat.

"Sakura, mohon doanya, ya."

"Pasti."

"Shikamaru, walaupun aku tidak ada kau jangan bermalas-malasan, ya?" kata Temari pada Shikamaru.

"Mendokusei! Kau juga, jangan kangen padaku, ya!"

"Heh, siapa yang kangen padamu?!"

"Yang benar? Bagaimana kalau iya?" goda Shikamaru. Dan sukses membuat Temari blushing.

"Matsuri, jaga ibu ya?" kata Kankurou pada istrinya.

"Oke! Serahkan saja padaku!"

"Satu lagi, jangan coba-coba untuk selingkuh, ya?"

"Hah?! Kankurou, kau ini bicara apa sih?!"

"Hahahaha!" Kankurou hanya tertawa melihat Matsuri cemberut. Wajahnya seperti boneka.

"Baiklah semua, ayo kita berangkat." kata Gaara. Namun tiba-tiba tangan Sasuke menarik tangan Gaara dan membisikkan sesuatu padanya.

"Gaara, wanita yang ingin kau lamar itu yang mana?" bisik Sasuke. Gaara tersenyum.

"...yang tadi pergi satu mobil denganmu, dialah orangnya!"

"Apa?!" teriak Sasuke dalam hati.

.

.

To be continued

.

Gomen ne, minna-san. Kepanjangan banget ya? Malah ceritanya buruk beginiiiii~ huhuhu, gomen lagi. Oke deh, mohon masukannya ya, minna-san. Jangan segan-segan. Terserah mau yang pedas, hambar, manis, pokoknya masukan yang bermanfaat! Oke itu aja, ja ne! :)