WARNING: TYPO, ALUR YANG BOSAN, KATA-KATA TIDAK MENARIK, DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA. FLAME? BOLEH, ASAL BERMANFAAT. OKAY? :)

.

.

Autumn In My Heart

by AishaMath

Summary:

"Aku pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darimu, err…Haruno kecil. Sial, aku lupa lagi namanya!"

.

.

Sasuke terpaku. Otaknya mencerna ulang kalimat yang barusan dilontarkan Gaara. Siapa sangka kewaspadaanya semalam ternyata menjadi kenyataan.

"M-maksud…maksudmu wanita yang t-tadi naik mobil bersamaku? D-dokter itukah?" tanya Sasuke tergagap. Jantungnya berdegup tak menentu. Berharap bahwa Gaara akan menjawab "bukan".

"Iya, Sasuke. Jadi wanita yang mana lagi? 'Kan sudah kubilang kalau wanita itu akan ikut mengantarku di bandara. Kau ini bagaimana sih?" jawab Gaara tersenyum malu. Mendengar jawaban Gaara, Sasuke makin membisu. Seluruh tubuhnya lemas. Pikirannya kacau.

"…Sasuke, kau baik-baik saja?" tanya Gaara mengagetkan Sasuke. Ia sedikit bingung melihat Sasuke yang mendadak diam.

"Ah, iya. Aku b-baik-baik saja, Gaara. Sepertinya dia wanita yang baik. Kurasa kau dan ibumu tidak salah pilih," ujar Sasuke tersenyum kecut. Keringat berpeluh di wajahnya.

"Terimakasih, Sasuke. Semoga kau juga cepat menemukan wanita yang kau maksud," kata Gaara tersenyum

"Hn," angguknya tak semangat.

"Gomen ne, Gaara. Wanita yang kumaksud itu adalah wanita yang akan menjadi istrimu," lirih Sasuke dalam hati. Entah kenapa hatinya begitu perih.

"Baiklah, sepertinya kami harus segera pergi. Sampai jumpa lagi ya, Sasuke." ujar Gaara sambil menepuk bahu Sasuke, kemudian membalikkan badannya.

"Hn, it-"

"Itterashai, Gaara!" seseorang memotong kalimat Sasuke dengan cepat.

Sasuke dan Gaara menoleh ke asal suara. Keduanya terperanjat. "Sakura?!" seru Gaara dalam hati. Walaupun keduanya sama-sama menoleh, ada dua perasaan berbeda yang menyusup ke dalam hati mereka. Gaara, entah mengapa hatinya menjadi begitu senang. Senang sekali. Namun ia segera menguasai dirinya dan dengan sederhananya, ia mengangguk tersenyum. "Kau juga!" katanya. Lalu segera berbalik hendak menaiki pesawat.

Sasuke, yang tadinya sudah mampu menguasai dirinya kini semakin limbung. Ia terdiam. Hatinya semakin perih. Rasa cemburu hadir di hatinya. Ia galau. Bagaimana pun ia tak sampai hati harus cemburu dengan sahabatnya itu.

"Oh, Tuhanku…" lirihnya dalam hati.

Japan Air Lines itu bergerak perlahan. Berjalan. Kemudian berlari. Semakin kencang. Dan terbanglah Japan Air Lines itu membawa para dokter Kyoto. Sasuke dan yang lain melambai-lambaikan tangan mereka. Ya, walaupun rasanya tangannya begitu susah digerakkan.

"B-Bu, maaf sepertinya ak-aku harus kembali," ujar Sasuke pada Karura gemetaran. Kakinya berusaha kuat untuk menopang tubuhnya yang semakin sempoyongan.

"Baiklah, Nak. Kami juga mau kembali. Naruto dan Sakura biar bersama ibu saja. Kau hati-hati ya?" jawab Karura ramah.

"Hn. Kalau begitu aku permisi,"

"Iya Nak, tapi kenapa wajahmu pucat?" tanya Karura cemas.

"Aku tidak apa-apa, Bu." jawab Sasuke cepat. Dan segera pergi meninggalkan Karura dan yang lain. Ia tidak tahan bila harus berlama-lama di dekat Sakura.

Sakura tidak sadar Sasuke telah meninggalkan tempat itu. Hatinya masih cemas dengan kepergian Gaara. Sepertinya ini pertanda bahwa ia sudah jatuh hati pada Gaara. Sejatinya, Gaara memanglah sosok lelaki yang diimpikan Sakura selama ini. Namun yang membuatnya merasa galau untuk menerima Gaara adalah karena karena hatinya yang terus-menerus membuatnya mengingat Presdir tampan yang waktu itu ditemuinya. Namun entah mengapa rasa itu tiba-tiba sedikit memudar dan beralih pada Gaara. Sehingga sangatlah wajar bila ia punya feeling yang kuat terhadap Gaara. Hatinya begitu kuat melarang dokter genius itu pergi.

Sakura masih menatap Japan Air Lines itu walaupun nyaris tidak kelihatan lagi. "Gaara, apakah kita masih bisa bertemu untuk waktu yang lama? Entah mengapa hatiku tidak mengijinkanmu pergi…" cemasnya dalam hati.

Gaara melihat keluar jendela. Hanya gumpalan awan putih yang terlihat. Namun, ia begitu kagum dengan ciptaan Tuhan yang satu ini. Gaara memejamkan matanya. Saat itu juga wajah Sakura berkelebat dalam pikirannya. Membuat jantungnya berdesir tak menentu. "Sakura, kenapa hati ini tidak sanggup seandainya kau menolakku?" lirihnya dalam hati. Ternyata sekarang ia merasakan perasaan yang sama dengan Sakura. Sama-sama mulai jatuh hati.

.

.

Sasuke merebahkankan tubuhnya di kasur. Perlahan tangannya menyentuh keningnya yang ternyata panas. "Apa yang terjadi padaku? Ya Tuhanku, kenapa aku bisa begini? lirihnya dalam hati. Kemudian ia memejamkan matanya. Dan tidak sampai setengah jam, mata itu harus terbuka kembali karena seseorang mengetuk pintu kamarnya.

"Sasuke, buka pintunya, Sayang."

Mendengar suara yang sangat familiar milik ibunya, Sasuke pun berusaha turun dari kasurnya dan membuka pintu kamar. Menampakkan wajahnya yang memerah dengan peluh yang membajiri wajahnya. Matanya sendu. Membuat ibunya, Mikoto, yakin kalau ia benar-benar sedang sakit.

"Sasuke, apa yang terjadi denganmu, Nak? Kau sakit?" tanya Mikoto sembari meletakkan telapak tangannya di kening Sasuke.

"Entahlah, Bu. Mungkin aku hanya butuh istirahat," ujar Sasuke kembali menuju kasurnya. Ibunya tersenyum dan mengusap rambut Sasuke.

"Sasuke, ibu tahu kau sedang ada masalah. Ceritakan pada ibu, Nak."

Mendengar perkataan ibunya, Sasuke langsung terduduk. Dan menggenggam erat tangan ibunya. Matanya menatap serius mata ibunya. Membuat ibunya semakin bertanya-tanya. "Bu, apakah ayah serius akan menjodohkanku bila dalam dua minggu ini aku masih tidak punya calon istri?" tanya Sasuke polos.

Mendengar pertanyaan anaknya, Mikoto terdiam sebentar. Kemudian, "Hahaha!" tawanya meledak.

"Sasuke, Sasuke… apa ini yang membuatmu menjadi demam seperti ini, Sayang? Hahaha," Mikoto menahan perutnya sambil tertawa.

"Bu, aku serius." kata Sasuke dengan nada manja.

"Hah! Ayahmu itu ada-ada saja. Sasuke, ibu ingin bertanya satu hal padamu. Tapi kau harus menjawab dengan jujur, ya?"

"Hn,"

"Apakah ada wanita yang kau sukai?"

Glek! Sasuke menelan ludah pahit. Jantungnya berdebar-debar. Mukanya merah padam. Gerak-geriknya sedikit salah tingkah. Membuat ibunya tidak sanggup menahan geli.

"Hahaha, ternyata benar ada. Sasuke, ibu sudah mengenalmu dari dulu. Jadi kau tidak perlu menutup-nutupinya dari ibu. Katakan, Sayang, siapa wanita itu?"

Sasuke hanya diam. Ibunya masih menunggu jawaban darinya.

"Kau tidak mau memberitahu ibu?"

"…"

"Sasuke?" panggil ibunya lagi. Kali ini Sasuke berusaha jujur.

"A-ano... bukannya aku tidak mau memberitahu ibu. Tapi, aku lupa dengan namanya. Ya, entah kenapa aku selalu lupa dengan namanya," kata Sasuke. Antara sedih dan bingung.

"Kau selalu lupa dengan namanya?" tanya Mikoto tidak percaya. Sasuke mengangguk pasrah. Sedangkan Mikoto hanya melongo dan kemudian terkekeh.

"Sasuke, sedemikan sukakah kau padanya sampai kau selalu lupa dengan namanya?" tanya Mikoto heran sambil mengelus-elus rambutnya yang bergaya emo.

"Tapi, tidak tahu nama belum tentu tidak tahu siapa orangnya 'kan?" tanya Mikoto lagi.

"Ya, aku ingat wajahnya. T-tapi..."

"Tapi?" Mikoto tambah penasaran.

Rahang Sasuke mengeras. Ia kembali gelisah.

"Tapi apa, Sayang?"

Sasuke memejamkan matanya. Rasanya begitu berat ia mengatakan itu. "...D-dia sudah dilamar oleh… Gaara."

"Apa?!" Mikoto terlonjak. "Sudah dilamar oleh Gaara?!" tanyanya tidak percaya.

"Hn," Sasuke mengangguk pelan.

"Gaara sahabatmu?"

"Iya, Bu. Sudahlah aku tidak ingin membahas masalah itu lagi," pinta Sasuke.

Mikoto yang tahu betul perasaan Sasuke saat ini hanya mampu memeluknya. "Sabar ya, Nak. Suatu hari nanti kau pasti akan bertemu dengan wanita yang memang menjadi jodohmu. Jangan bersedih hanya karena kau tidak bisa mendapatkan wanita yang kau inginkan itu. Belum tentu wanita yang kau sukai itu adalah yang terbaik." Nasihat Mikoto pada anaknya. Sasuke hanya mengangguk. Berusaha meyakini kata-kata ibunya.

"O, iya, ada yang mau ibu beritahu," Mikoto melepas pelukannya.

"Hn?" Sasuke mengernyitkan dahinya.

"Kita akan bekerja sama dengan beberapa orang dokter Jepang dan Perancis dalam peluncuran proyek baru di perusahaan farmasi kita. Dari Jepang sendiri, ibu memilih dokter dari kota ini. Dia kepala rumah sakit di Haruno Hospital. Kau tahu 'kan seluruh anggota keluarga Haruno merupakan dokter-dokter yang legendaris? Karena itulah ibu memilihnya." ujar Mikoto panjang lebar. Sasuke hanya mengangguk.

"Bu, kalau bisa aku mau lihat biografi mereka,"

"Tunggu sebentar ya, tadi bukunya ibu simpan di tas ibu," Mikoto keluar sebentar mengambil buku yang dimaksud. Tidak sampai lima menit ia telah kembali lagi.

"Ini," kata Mikoto sembari menyodorkan sebuah buku.

Sasuke mengambil buku itu. Halaman demi halaman ia baca. Membuatnya tidak ragu jika perusahaannya bekerja sama dengan mereka. Sekarang hanya tinggal beberapa halaman lagi. Sasuke ingin segera menutup buku itu, namun entah mengapa tangannya terus bergerak dan membuka halaman selanjutnya. Dan Sasuke terkejut saat melihat foto seseorang di halaman tersebut.

"Ti-tidak mungkin! Lelaki ini 'kan yang waktu itu hampir menabrak naruto?! Jadi ternyata dia... Eh, jangan-jangan…" Sasuke segera membuka beberapa halaman berikutnya. Matanya terhenti pada sebuah foto di empat halaman terakhir buku itu. Foto itu adalah foto seorang wanita yang selama ini mencuri hatinya. Seketika tubuh Sasuke membeku. Sasuke melihat nama wanita itu. "Sakura Haruno". Ia tersenyum. "Ternyata namamu indah," bisiknya dalam hati.

Walaupun selama ini Sasuke tahu tentang keluarga Haruno, ia tidak pernah tahu siapa anggota keluarga itu. Selama ini ia begitu sibuk dengan perusahaannya. Sasuke kembali membuka halaman seterusnya. Ia menemukan sebuah tanda tanya besar yang terbingkai di halaman itu. Sasuke mengernyitkan dahinya. Lalu ia membaca beberapa kalimat di bawah kotak tanda tanya itu. Dan barulah ia paham. Ternyata saat ini keluarga Haruno sedang menanti pasangan untuk keturunan terakhir mereka, Sakura Haruno. Yang dalam kata lain, keluarga besar Haruno sedang menanti kehadiran suami dari Sakura Haruno. Seketika itu Sasuke terbayang wajah Gaara.

"Hah… tidak kusangka kalau wajahmu akan ada dalam buku ini, Gaara." katanya dalam hati. Sasuke memejamkan matanya. Walaupun ada yang terluka di hatinya, tapi melihat sahabatnya senang ia pun senang. Toh, suatu saat ia juga akan menikah dan melupakan Sakura.

"Aku setuju, Bu." ucapnya sambil menutup buku itu.

"Oke. Sepertinya ibu juga harus kembali. Sebentar lagi kita ada meeting dengan klien."

"Hn,"

"O,iya, Sasuke, apa kau melihat foto dari keturunan terakhir mereka?"

Mendengar pertanyaan ibunya, Sasuke terkesiap. Wajahnya bersemu merah. Jantungnya berdebar tak menentu. "A-ada. Memangnya kenapa, Bu?" tanyanya.

"Ah, tidak. Entah kenapa ibu suka melihatnya. Siapa tahu bisa bersanding dengamu, Sasuke. Hahaha,"

"Eh, a-apa? I- Ibu ini bicara apa sih? Mana mungkin aku! Semua anggota keluarga Haruno itu 'kan dokter. Jadi tentu saja calon suami wanita Haruno itu pastinya seorang dokter. Lagipula ibu jangan terlalu berharap, mungkin saja sebentar lagi dia akan menikah." ujar Sasuke sambil kembali merebahkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit kamar mewah itu.

"Ya... jodoh 'kan tidak ada yang tahu," balas ibunya tidak mau kalah.

"Iya, iya. Lagi pula ibu tidak usah cemas kalau nanti aku tidak bersamanya. Sebab aku pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada dia. Dan yang pasti, ibu suka dengannya." kata Sasuke masih menatap langit kamarnya.

"Aamiin, semoga saja, Nak. Ya sudah, ibu pergi dulu ya. Istirahatlah, Sasuke." Mikoto segera menutup pintu dan meninggalkan Sasuke yang masih menerawang di atas kasurnya.

"Andai saja ibu tahu kalau dialah wanita yang kusukai. Ah, sudahlah! Aku pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darimu, err… Haruno kecil. Sial, aku lupa lagi namanya!" gerutu Sasuke dalam hati sambil menepuk jidatnya karena lagi-lagi, ia lupa nama wanita yang disukainya itu.

.

.

Meskipun dipersilahkan beristirahat, Gaara tetap tidak sabar ingin menuju ke Alyn Hospital. Yaitu rumah sakit tempat para korban dari Gaza yang berhasil dilarikan ke Yerusalem. Ia bersama dokter yang lain dipersilahkan untuk menginap di Mamila Hotel. Sebenarnya Gaara agak kurang suka diperlakukan seistimewa ini. Seolah-olah kedatangannya kemari hanya untuk mengobati dan mendapatkan upah yang tinggi. Gaara, yang sejatinya memang begitu tulus ingin membantu, jika tidak dipersilahkan menginap di mana pun, ia siap. Bahkan, ia ingin memberanikan diri untuk terjun langsung ke daerah pusat perang Palestina-Israel, jalur Gaza. Hanya saja tidak sembarangan orang diijinkan masuk ke sana.

Gaara membuka pintu teras samping. Tampaklah kota tua Yerusalem yang ternyata cukup indah saat di malam hari. Dari kejauhan tampak beberapa tanah kosong yang terlihat janggal. Membuat Gaara yakin kalau sebelumnya tanah itu dihuni oleh penduduk. Gaara menghela napas. Memejamkan matanya sebentar sambil mendoakan peperangan Palestina-Israel segera berakhir dengan damai. Kedatangan beberapa orang dokter Jepang dan Indonesia ke Palestina merupakan bentuk solidaritas sesama manusia. Lagi pula, Jepang dan Indonesia telah mengakui Palestina sebagai negara yang merdeka.

Walaupun hanya tiga hari berada di kota suci ini, Gaara berharap kedatangannya beserta dokter yang lain tidaklah sia-sia. Untuk itu ia akan melakukan apapun demi membantu para korban yang terluka parah akibat perang itu. Merasa sudah begitu malam, Gaara masuk kembali ke kamarnya dan menelpon ibunya-yang ia yakin ibunya pun pasti sudah lama menunggu telpon darinya. Dan memang hanya ia yang belum menghubungi ibunya. Sebab kedua kakaknya, Temari dan Kankurou, langsung menelpon ibu mereka ketika baru tiba di bandara. Ya, sebenarnya memang ia sengaja demikian-maksudnya ingin membuat ibunya lebih senang. Sebab jika menelpon ibunya ketika baru tiba di Yerusalem, ibunya pasti akan mempersingkat pembicaraan karena tahu anak-anaknya pasti lelah dan butuh istirahat. Karena itu ia memilih untuk menelpon ibunya di malam hari agar bisa berbicara dengan ibunya lebih lama.

.

.

Hari itu Alyn Hospital benar-benar dipenuhi oleh kesibukan para dokter. Kamar rumah sakit penuh dan jadwal operasi begitu padat. Yang kewalahan dalam hal ini tentu saja para dokter khususnya dokter bedah. Contohnya Gaara, yang sejak pagi tadi tidak henti-hentinya mengoperasi pasien. Setelah selesai mengoperasi pasien yang satu, maka ia harus mengoperasi pasein selanjutnya. Dan begitulah seterusnya. Tidak ada jeda waktu. Sebab jika menunda operasi, kemungkinan besar nyawa pasien tidak akan terselamatkan lagi.

Kebanyakan korban perang harus kehilangan anggota tubuh mereka karena terkena bom fosfor putih yang dilancarkan israel ke wilayah Gaza. Padahal, jelas-jelas penggunaan bom fosfor putih itu dilarang secara internasional. Israel, dengan sadisnya menghujani bom fosfor putih terlarang itu ke wilayah Gaza. Dan selama penggunaan bom fosfor putih itu, tanah, air, dan udara di Gaza dipenuhi serbuk putih beracun. Sehingga menyebabkan wanita yang hamil keguguran, bayi-bayi menjadi cacat, efek luka bakar, dan menyebabkan sebagian besar warga di Gaza menderita kanker serta penyakit degeneratif ganas lainnya. Sehingga tidak heran jika semua dokter baik dari Jepang maupun Indonesia yang ada di Alyn Hospital itu harus bekerja ekstra dalam menangani pasien.

"You're so great, doctor Gaara. I'm truly thankful for your helping," ujar Aisha yang merupakan dokter, sekaligus kepala rumah sakit Alyn Hospital.

"You're welcome, doctor Aisha. But, it is nothing if we compared with the suffering of the Palestinian people," ujar Gaara tersenyum. Ia merasa apa yang dilakukannya tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan rakyat palestina.

"Nothing? It's not true, doctor Gaara. All of Palestinian people are so glad with your arrival here with your friends."

"Really? We also love to meet them,"

"Haha, doctor Gaara, let's we go to the dining room. I think all of your friends have been waiting for us."

"Okay,"

.

Diruangan yang sederhana itu, semua dokter dari jepang dan Indonesia beserta Aisha duduk melingkar menikmati hidangan makan siang. Beberapa orang dari mereka sudah ada yang selesai makan, dan saling mengobrol satu sama lain. Kankurou salah satunya. Ia terlihat begitu antusias saat berbincang dengan dokter Indonesia. Bagaimana pun ia begitu senang telah bekerja sama dengan mereka. Ia mengakui bahwa dokter Indonesia itu hebat. Dan itu pasti. Karena negara lain pun mengakui kecerdasan orang Indonesia. Perbincangan itu pun semakin seru saat Gaara mengobrol dengan Aisha.

"Doctor Aisha, could you tell us anything about this war?" tanya Gaara yang kebetulan memang berada di sebelah Aisha.

"Sure love, doctor Gaara. Yeah…I think you surely know that war is something that avoided by people. The war will probably be a dark record for Palestine. It is very sad when suddenly you lose your family, your home, your child, and everything that you have. And you will see the blood flood in your country. Screams and cries be always heard. You know? It's very hard to me to see the bombs shining in the sky. Like drops of rain. And taking away everyone dear in a blink of an eye…" Aisha memutuskan kalimatnya.

Ia tak mampu lagi membendung air matanya. Kehilangan keluarga, hujan bom, banjir darah, dan segala penderitaan lainnya akibat perang ini, benar-benar menyedihkan bagi rakyat Palestina. Dengan cepat ia hapus air matanya. Menampilkan wajahnya yang tegar kembali. Semua yang menyaksikannya pun ikut merasakan kesedihan yang dialaminya, tak terkecuali Gaara. Seketika itu juga ia teringat Sakura. Seandainya Sakura ikut bersamanya dan mendengarkan cerita ini, pastilah Sakura tidak mau kembali lagi ke Kyoto sampai perang ini benar-benar selesai.

"All of that are so scary. But, this war has made us, Palestinian, stronger and never afraid. All of us are family. And we will never give up until we get the independent's day." lanjut Aisha sambil tersenyum. Semua dokter yang ada di situ bertepuk tangan. Terharu mendengar kegigihan rakyat Palestina.

"Don't worry, doctor Aisha. I believe that Palestine will be the winner in this war." ujar salah satu dokter dari Indonesia bernama Chandra.

"Ya, we will help as much as possible. Palestinian people, die a thousand, born three thousand. Fighting, doctor Aisha!" tambah Anna, yang juga merupakan salah satu dokter Indonesia.

"Thank you very much, everyone!" kata Aisha tersenyum.

Walaupun hanya beberapa hari di Palestina, tepatnya di Yerusalem, Gaara tetap merasa senang. Bertemu dengan orang-orang Palestina, apalagi mampu menolong mereka, menjadi hal yang membahagiakan tersendiri bagi Gaara. Sebab inilah yang diimpikannya dari dulu. Dan ia sangat berterimakasih kepada Tuhan yang telah menjadikannya orang yang berguna bagi orang lain. Hari-harinya di Yerusalem bersama kedua kakaknya dan rekan dokternya sangat mengesankan. Walaupun sesekali ia harus menitikkan air matanya saat bertatapan dengan para korban yang lukanya sungguh mengenaskan.

Tidak hanya itu, ia juga menangis saat Aisha membawanya dan para dokter ke beberapa daerah di Yerusalem yang telah rata dengan tanah. Hatinya basah melihat semua ini. Namun di saat itu juga ia sangat-sangat bersyukur pada Tuhan yang menganugerahinya kenikmatan hidup. Keluarga yang sangat menyayanginya, sahabat yang baik, rumah mewah, makanan yang enak, dan segala karunia Tuhan yang diberikan padanya. Jika selama ini ia banyak mengeluh, maka detik ini juga ia memohon ampun kepada Tuhan dan berjanji akan selalu mensyukuri hidupnya. Dan di sela-sela kesedihannya tadi, ia juga merasa kagum. Sekaligus malu dengan dengan rakyat Palestina yang begitu kuat menjalani hidup seperti ini. Mereka berani. Anak-anak sekalipun. Jiwa mereka kuat, hati mereka teguh. Inilah yang mengakibatkan mereka dapat bertahan walaupun telah bertahun-bertahun berperang dengan Israel.

Selain mengobati pasien di Alyn Hospital, Gaara dan para dokter lainnya juga sempat mengajari beberapa ilmu kedokteran kepada para dokter di Palestina. Seperti teknik membedah yang lebih ringan, cara menggunakan alat-alat kedokteran baru yang disumbangkan kepada mereka, dan cara-cara alami menyembuhkan pasien yang tidak perlu dioperasi. Dan hebatnya, dokter-dokter Palestina itu cepat memahami semua yang diajarkan oleh dokter dari Jepang maupun Indonesia. Walaupun lelah dan jadwal setiap hari penuh, Gaara dan dokter yang lain tetap semangat. Bahkan mereka sedih karena sebentar lagi harus kembali ke negara mereka masing-masing. Tidak terasa, ternyata sudah dua hari mereka di Yerusalem.

.

.

Sakura memainkan lampu tidur di sebelahnya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi dari tadi tangannya digerakkan untuk menghidup-matikan lampu itu secara begantian. Ada sedikit sesal dalam hatinya karena tidak ikut pergi bersama Gaara ke Palestina. Hati kecilnya menyuruh Gaara cepat kembali. Tunggu, apakah ternyata ia sudah benar-benar jatuh hati pada dokter muda itu? Sepertinya begitu. Sakura meraih Blackberry di bawah bantalnya. Dan mencari kontak sang dokter. Dapat! Sakura melihat nama itu. Sangat sederhana. Ia hanya mengetikkan "Dokter Gaara" sebagai nama kontak untuk dokter muda itu. Namun begitu, ia senang melihatnya. Padahal entah untuk apa ia mencari kontak sang dokter? Toh, ia takkan pernah berani menelponnya. Tapi jika dipikir-pikir apa yang dilakukannya itu tidaklah terlalu buruk. Ia hanya ingin memantapkan kembali hatinya atas keputusannya menerima lamaran Gaara.

Lelaki yang selama ini ia impikan, ternyata sebentar lagi akan bersanding dengannya. Dokter Sabaku Gaara, nama yang membuat jantung siapapun bergetar jika nama itu disebut. Sakura teringat pertama kali ia bertemu dengan Gaara. Tepatnya lima hari yang lalu saat di Uchiha boarding school. Saat itu ia menyangka kalau Gaara telah memiliki seorang anak, kemudian ia lega ternyata Gaara masih jomblo.

Saat di rumah sakit, ia senang bisa melakukan operasi bersama dengan Gaara. Dan yang paling berkesan adalah saat Gaara menyatakan perasaannya kepada Sakura di halaman rumah sakit. Saat itu Sakura tidak tahu harus menjawab apa. Tapi saat mengantar Gaara di bandara, perasaannya menguat untuk menerima dokter itu.

Saat ini ia dilanda rindu. Rindu pada sosok dokter Gaara. Dokter muda yang kharismatik itu. Dan ia ingin dokter itu datang ke rumah sakit miliknya setiap hari. Mengajarinya banyak hal, berbagi cerita dengannya, dan ia begitu suka wajah tenang milik Gaara. Ia juga suka cara Gaara memegang alat-alat bedah. Begitu luwes dan tidak kaku. Dan tanpa disadari, ternyata dari tadi Sakura tersenyum-senyum sendiri memikirkan itu. Ia benar-benar menyukai dokter itu.

Diliriknya jam digital di layar BB miliknya. Sudah begitu malam. Ia letakkan kembali BBnya di bawah bantal dan memejamkan matanya. Besok ia tidak boleh terlihat pucat. Sebab, besok ia beserta kedua orang tuanya akan menjumpai sang calon mertua, Karura, untuk mengatakan bahwa ia menerima Gaara sebagai pendamping hidupnya.

Karena sudah sehati, ternyata bukan hanya Sakura yang memikirkan Gaara. Di belahan bumi sana, ternyata Gaara juga memikirkan Sakura. Apa yang dipikirkannya sama persis dengan apa yang dipikirkan Sakura. Bedanya, jika Sakura ingin Gaara pergi ke rumah sakit Haruno setiap hari, Gaara ingin Sakura pergi ke Medical Center of Kyoto setiap hari. Sebelum tidur, ia bedoa seperti biasa. Namun ada tambahan dalam doanya kali ini, ia ingin Sakura cepat-cepat memberi jawaban atas lamarannya kepada Sakura.

.

.

"Hahaha! Apa tidak apa, Karura-san? Gaara 'kan sedang sibuk. Bagaimana jika nanti konsentrasinya buyar karena mendengar berita gembira ini," ujar Nyona Haruno sambil menahan tawa. Sakura tahu itu. Ibunya sedang menggodanya. Membuatnya malu saja.

"Iya, Bu. Lagi pula kenapa kita tidak menjadikan ini sebagai kejutan untuk Gaara saat ia pulang nanti?" usul Profesor Sabaku. Suami Karura.

"Iya sih, tapi kenapa hati ibu ingin mengatakan padanya sekarang ya?"

"Karura-san, itu tadi hanya usulan dari kami kok. Selebihnya terserah pada kalian berdua," kataTuan Haruno.

"Umm, kalau menurutmu bagaimana, Sakura?" tanya Karura pada Sakura yang sedari tadi hanya diam.

"Eh? Kalau saya sih terserah pada ibu saja," jawab Sakura sambil tersenyum malu.

"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahunya sekarang. Tapi sepertinya Gaara sedang sibuk," ujar Karura.

"Kalau begitu beritahu melalui SMSsaja, Karura-san." usul Tuan Haruno.

"Benar juga."

Maka saat itu juga Karura mengirim SMS kepada Gaara. Sebenarnya ia juga ingin menjadikan berita gembira ini sebagai kejutan untuk Gaara, tapi entah mengapa hatinya menyuruhnya untuk memberitahu Gaara segera.

.

.

Gaara mencuci tangannya. Ia baru saja melakukan bedah tulang bersama Temari terhadap seorang bayi yang kakinya patah akibat terjepit rerutuhan bangunan saat berusaha diselamatkan oleh ibunya. Untunglah tulang kaki bayi tersebut tidak patah terlalu parah. Apalagi karena masih bayi, tulangnya akan cepat pulih seperti semula. Runtuhnya bangunan tersebut tentu saja akibat ulah Israel yang menggunakan bom fosfor putih untuk memusnahkan Gaza. Lagi, hati Gaara basah bertatapan dengan yang seperti ini. Seketika itu ia teringat Naruto dan anak-anak asuhnya bersama Sasuke. Gaara menyandarkan tubuhnya di kursi. Tangannya merogoh ponsel touch screen di kantongnya. Satu pesan diterima. Gaara membaca pesan itu.

"Gaara, maaf ibu mengganggumu, Sayang. Ibu hanya ingin memberitahu kabar gembira untukmu. Sakura menerima lamaranmu, Sayang. Selamat ya, Anakku. Cepatlah kembali, Nak. Kami semua menantimu."

Setelah membaca pesan itu, tubuhnya Gaara melemas. "Sakura menerimaku? Benarkah?" tanya Gaara dalam hati. Matanya berkaca-kaca dan seutas senyum bahagia terpancar di wajahnya. Dibacanya pesan itu berulang-ulang. Ternyata isinya tetap sama: Sakura telah menerimanya. Gaara mengatur napasnya. Aliran darahnya kacau. Inilah pertama kalinya ia jatuh cinta. Ia merasakan kebagiaan yang luar biasa di hatinya.

Cinta ini mengalir begitu lembut di hatinya. Tidak banyak basa-basi, tidak ada pemberian sekuntum bunga, apalagi kencan, namun itulah yang membuat cintanya berbuah begitu indah. Cinta yang terpelihara dalam hati yang baik. Gaara memejamkan matanya. Berterima kasih kepada Tuhannya karena doanya semalam begitu cepat dikabulkan. Dan kemudian hatinya berbisik, "Daiksuki dakara, Sakura…". Gaara membuka kembali matanya. Senyuman menghiasi wajahnya yang tampan. Membuatnya terlihat sangat aduhai. Ia beranjak dari kursinya dan hendak menemui Kankurou dan Temari. Sayangnya Kankurou sedang mengoperasi pasein, jadi ia mencari Temari terlebih dahulu.

"Doctor Anna, do you see my sister, Temari?" tanyanya pada dokter Anna yang tadi juga ikut melakukan operasi bersamanya.

"Oh, I think she was carrying the baby to the baby's room,"

"Really? Ah, Thank you, doctor Anna."

"You're welcome,"

Gaara berlari sekencang-kencangnya bagaikan dikejar oleh segerombolan anjing. Yang membuatnya demikian bukanlah karena ia tidak sabar ingin memberitahu Temari kabar gembira yang diterimanya barusan, melainkan karena ia khawatir dengan Temari yang hanya sendiri membawa sang bayi. Bagaimana pun, Yerusalem juga perlu diwaspadai keamanannya.

.

.

Temari berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Saat itu memang sangat sepi. Sebab kebanyakan dokter sedang sibuk menangani pasien masing-masing. Dan beberapa petugas rumah sakit kebetulan sedang tidak berada di dekat lokasi Temari. Namun Temari adalah wanita yang berbeda. Prinsip hidupnya adalah: waspada, namun tidak berarti harus takut. Itulah yang membuatnya tidak pernah merasa khawatir sekalipun harus berjalan sendirian di tempat yang lumayan rawan ini.

"Ada apa, Sayang? Sakit ya? Kamu harus kuat ya? Kaki kamu pasti sembuh kok," ujar Temari sambil mencium bayi yang digendongnya. Walaupun sehari-hari terkenal judes, sebenarnya hati wanita ini sungguh lembut. Sikapnya yang begitu ramah membuat sang bayi tersenyum dan mengoceh dengan bahasa bayi.

"Aih... senangnya me-"

"STOP!" sebuah suara mengagetkan Temari. Dengan cepat ia memutar badannya.

"Tentara Israel?!" pekiknya dalam hati.

"What do you want?" tanya temari dengan suara lantang.

"I know you're Japanese. I'll not kill you," jawab tentara Israel itu.

"Yeah, that's good!" kata Temari dan berjalan kembali dengan santai. Tidak peduli dan tidak takut dengan tentara Israel menatapnya dengan sangar.

"Tch! But, please give the baby to me!" bentak tentara Israel.

Temari sedikit terkejut, begitu pula bayi yang digendongnya. Bayi itu menangis seketika. Untunglah Gaara mendengar tangisan itu ketika jaraknya dengan Temari sudah tidak terlalu jauh. Ia segera berlari dengan cepat menuju sumber suara.

"I'll never give the baby to you! You're so cruel, you know?!" teriak Temari.

"That is not your bussiness, Japanese!". Tentara israel itu segera memasang ancang-ancang untuk menembak sang bayi.

"Leave the baby here, and you can go now!" teriak orang israel itu lagi.

"Idiot! I'll Never Give The Baby To You!" teriak Temari juga. Suasana semakin sengit. Temari meraih pistol dijasnya. Ia berjanji akan melindungi bayi itu sekalipun ia harus mati. Demikian pula tentara Israel itu. Ia akan berusaha membunuh bayi Palestina itu tanpa berniat melukai Temari sedikit pun. Sebab, jika Jepang tahu warga negaranya terluka karena Israel, maka hubungan kedua negara itu akan kacau.

"What Ever! I'll Kill The Baby!" teriak tentara Israel itu dan langsung menembakkan pelurunya ke arah sang bayi. Tembakan itu terlalu cepat sehingga membuat Temari telat menghindar. Dan ia hanya mampu menggeser sedikit tubuhnya.

"Onee-chan, awaaaas!"

"Dor! Dor! Dor!"

Brukk!

Temari terdorong dan terjatuh bersama bayi yang masih dipeluknya. Untunglah posisi bayi itu ada di atas. Temari berusaha bangkit. Berat. Merasa ada yang menindih tubuhnya, Temari mendongakkan kepala. Sungguh menyedihkan. Ternyata Gaara lah yang terkena tembakan itu. Darah mengucur deras di bagian dadanya. Dan darah juga keluar dari mulut kecilnya.

"G-ga-gaara…" Temari gemetaran. Air matanya mengalir deras.

"Onee-chan, kau b-baik-baik saja?" tanya Gaara menahan sakit. Ia yakin, salah satu peluru itu sudah menancap di jantungnya. Dengan kekuatannya yang tersisa, Gaara bangkit dan mengambil pistolnya. Dengan cepat ia membalas tembakan tentara Israel yang sekarang sedikit ketakutan karena telah melukai warga Jepang.

"Dor! Dor! Dor!"

"Akh!"

Satu peluru Gaara berhasil menembus kepala tentara Israel itu. Satu lagi mengenai bagian dada, dan peluru yang terakhir mengenai bagian paha. Setelah penembakan itu, pandangan Gaara mengabur. Darah mengucur semakin deras di bagian dadanya. Kontraksi jantungnya kian melemah. Sehingga ia begitu sulit bernapas.

"…Ya Tuhan, inikah saatnya aku…"

Brukk!

Gaara jatuh disamping Temari yang masih membeku. Tubuhnya bersimbah darah. Wajahnya pucat dan tubuhnya kaku seketika. Temari melirik Gaara di sampingnya. Pandangan di depan matanya sungguh sangat menyedihkan. Dan suara tangisan bayi yang masih dipeluknya begitu mengiris hati. Beginikah yang dirasakan rakyat Palestina? Temari mencoba menyentuh tubuh Gaara. Mengguncangkan tubuh itu walaupun tak ada respon.

"…ra? Gaara? Gaara, bangunlah!" teriaknya dengan suara yang serak. Air matanya membajiri pipinya. Kembali digoncangkannya tubuh itu. Tetap tak bergeming.

"Hiks…hiks… Ya Tuhanku…" Temari lemas. Pikirannya kacau. Ia mengelus-elus rambut Gaara karena tidak sanggup untuk bangkit. Memanggil-manggil namanya dengan isakan yang pilu. Dan berharap agar para dokter segera datang.

Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Temari memicingkan matanya. Ternyata seorang tentara Israel lain datang untuk menolong temannya yang tertembak oleh Gaara tadi. Temari menatap kosong dua tentara Israel yang hendak beranjak pergi itu. Dan tanpa kontrol melalui otak, tiba-tiba ia bangkit dan meletakkan bayi yang dipeluknya. Untunglah bayi itu sudah berhenti menangis. Kemudian ia mengambil pistolnya dan pistol milik Gaara. Dengan amarah yang teramat sangat, ia tembakkan peluru dari kedua pistolnya kepada dua tentara israel itu tanpa ampun.

"MATILAH KAU BANJINGAAAAAN!"

"Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!"

"AAAAAAKH!"

Entah berapa kali ia tembakkan peluru itu, yang jelas walaupun kedua tentara Israel itu telah jatuh, ia masih menembakkan pistolnya sampai pelurunya benar-benar habis. Setelah penembakan itu, ia terdiam. Tubuhnya kembali melemas. Temari limbung dan terjatuh.

Sayup-sayup terdengar suara para dokter berhamburan memanggilnya. Dan teriakan yang paling keras adalah teriakannya Kankurou. Temari menangis. Tangannya mengguncang-guncangkan kembali tubuh Gaara yang bersimbah darah. Satu peluru menancap di jantungnya, dan dua peluru lagi mengenai bagian hati dan perut.

"Gaara, bangunlah… Ayo bangun, Gaara! Gaara! Gaaraaaaa! Gaara, jangan diam saja. Kau bisa mendengarku 'kan, Adikku? Katakan kau masih bisa mendengarku! Katakan, Gaara! Jangan diam saja! Hiks…hiks… Gaara, bangunlah…" Temari mengambil tangan Gaara, dan menggenggamnya dengan gemetaran. Sayang, genggaman itu terlepas lantaran Gaara tak berdaya. Temari terdiam. Air matanya mengalir semakin deras. Dilihatnya kembali wajah Gaara yang pucat dan tubuh yang kaku. Dengan tangan gemetaran ia mendekatkan jari telunjuknya ke bawah hidung mancung Gaara.

"Hiks, hiks, ti... tidak! Tidak mungkin! Gaara… hiks, hiks, TIDAAAKKKK!"

.

.

To be continued

.

Tidaaak! Author macam apa saya ini…Teganya buat Gaara begitu… Gomen ne minna-san, di fic ini saya ngerasa banyak banget kekurangannya. Itu lagi bahasa inggris, ih! Ngga tau deh bener ato ngga grammarnya. Ckckckck! Parah banget! Minna-san, saya mohon saran, kritik, ato yang sejenisnya yah? Saya akan berusaha menulis lebih baik lagi… dan terima kasih ya buat yang mereview fic ini, kalian bener-bener memotivasi saya…!^^. Oke sekian dulu. Ja ne!