WARNING: TYPO, ALUR YANG BOSAN, KATA-KATA TIDAK MENARIK DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA. FLAME? BOLEH! ASAL BERMANFAAT, OKAY? :)

.

.

Autumn In My Heart

by AishaMath

Summary :

"Apa aku masih bisa mengobati pasien-pasienku? Tidak! Jangan-jangan aku sudah tidak berani bertemu mereka!"

.

.

"Seperti inikah rasanya? Ya Tuhanku, ini benar-benar sakit. Aku… akhirnya akan meninggalkan dunia ini. Ya Tuhanku, terima kasih karena Kau telah mengijinkanku tinggal di bumi-Mu yang indah ini. Semua sudah cukup buatku. Kau memberiku seorang ibu dan ayah yang begitu baik. Kakak yang sangat menyangiku. Sahabat yang selalu setia denganku. Teman-teman yang selalu mendukungku. Dan anak-anak yang menganggapku adalah orang yang berarti untuk mereka. Juga… untuk dia yang sudah mencuri hatiku. Semua itu adalah anugerah yang begitu indah buatku. Hamba-Mu yang lemah ini memohon agar mereka selalu dalam lindungan-Mu dan kasih sayangmu. Hamba tahu kalau cintaku pada-Mu tidaklah sebanding dengan cinta-Mu padaku. Karena itu, maafkanlah hamba-Mu yang berlumur dosa ini…"

Beberapa detik kemudian, dokter muda itu mengehembuskan napas terakhirnya. Ia pergi dengan damai. Meninggalkan jejak indah di hati setiap insan yang mengenalnya. Banyak orang yang kehilangan dirinya. Dan banyak orang yang mendoakannya agar ia mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya. Dokter Gaara, dokter jenius yang kharismatik dan baik hatinya itu, telah kembali kepada kepada Yang Kuasa.

.

.

Sakura melangkahkan kakinya perlahan. Merasa telah berada di depan gedung RS Haruno, ia menghentikan langkahnya. Sejak kematian dokter Gaara, setiap kali ia datang ke rumah sakit miliknya ini aura duka selalu menyeruak ke dalam dadanya. Sebab di sinilah dokter muda itu pergi untuk selama-lamanya. Dan yang lebih menyesakkan adalah dokter itu mati di tangannya. Sakit. Sakit sekali. Sebab dokter Gaaralah yang pertama kali membuat Sakura berani untuk membuka hatinya. Dan di saat ia telah membuka hatinya, dokter itu pergi.

Dokter Gaara adalah orang yang selama ini diimpikannya. Ia memang menginginkan suami seorang dokter yang seperti dokter Gaara. Tapi apa boleh dikata, dokter Gaara bukanlah jodohnya. Dan ia terima itu. Namun, sebenarnya masalah terbesarnya bukan itu. Kejadian seminggu yang lalu itu adalah pertama kalinya Sakura gagal menyelamatkan nyawa pasien. Ia merasa telah benar-benar gagal menjadi seorang dokter. Jika kau adalah seorang dokter muda yang keahlianmu telah dinilai profesional dan menerima banyak acuan jempol dari banyak kalangan, dan jika selama ini kau tidak pernah salah atau pun gagal dalam kerjamu, maka saat kau sekali saja gagal menyelamatkan nyawa pasien, di situlah kau merasa hancur. Seperti yang dialami dokter Sakura.

Sakura memasuki rumah sakit itu. Masih sepi. Ia memang terbiasa datang pagi-pagi. Beberapa orang menyapanya dengan ramah dan hanya dijawab dengan sebuah senyuman ramah olehnya. Hatinya masih terlalu sulit untuk kembali ceria. Kembali ia berjalan menuju ruangannya. Dan dadanya sesak saat harus melewati kamar itu. Kamar di mana ia menangani Gaara bersama dokter yang lain dan saat itu ia gagal menghentikan pandarahan di jantung Gaara, dokter yang menjadi calon suaminya. Sakura menunduk. Langkahnya sedikit dipercepat saat hampir melewati kamar itu. Dan tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya saat melihat sepasang kaki berdiri di depan kamar itu. Sakura menengadahkan kepalanya. Matanya membulat melihat siapa orang itu.

"Kau? Sedang apa di sini?" tanyanya ramah.

Sakura masih menunggu jawaban dari orang itu. Namun tetap saja orang itu tak bergeming. Ia hanya diam. Menatap kosong sebuah kamar di depannya. Sakura mengerti perasaan orang itu. Ia juga merasakan hal yang sama.

"Sudahlah. Ikhlaskan kepergiannya. Dia juga tidak senang kalau kau seperti ini," hibur Sakura. Dan juga berusaha menghibur hatinya.

"Apakah aku seorang sahabat yang baik untuknya? Bahkan di saat-saat terakhirnya, aku tidak mampu melakukan apa-apa…" lirih orang itu.

"Jangan bicara seperti itu. Kau sudah mendoakannya. Dan tentu saja kau adalah sahabat terbaiknya." ujar Sakura berusaha tersenyum.

Mendengar perkataan Sakura, orang yang bernama Sasuke itu menunduk. Berusaha mengiyakan apa yang dikatakannya. Ia melihat ke arah Sakura. Kemudian tersenyum, "Arigatou," katanya.

Sakura membalas senyumannya. Entah kenapa hatinya sedikit lebih tenang.

"Em…" Sasuke melirik bagde name Sakura. Tentu saja ia lupa dengan nama dokter cantik itu.

"Dokter Sakura, kau mau ikut denganku?"

"Huh? Ikut denganmu? K-ke mana?"

.

.

Angin berhembus pelan. Membelai lembut wajah seorang wanita yang sedang menaburkan bunga di atas makam anaknya. Wajahnya memancarkan kehilangan yang teramat sangat. Anaknya yang baru saja kembali membawa segudang ilmu dan baru saja mencicipi kembali masakannya kini harus pergi untuk selama-lamanya.

"Anak ibu memang hebat. Kau benar-benar seorang dokter yang hebat, Anakku. Ibu senang sekali," lirihnya sambil mengelus-elus nisan anaknya. Air matanya bercucuran deras.

"Tidak apa-apa kalau kau pergi lebih dulu dari Ibu. Suatu saat Ibu juga akan menyusulmu. Tunggu Ibu, Nak. Ibu akan berusaha menjadi orang yang baik, agar bisa berada di tempat mulia sepertimu. Ibu sangat menyayangimu, Gaara…" wanita itu sesenggukan hebat. Hampir saja tangisnya pecah kalau sebuah tangan tidak mengusap-usap punggungnya dengan lembut.

Karura, nama wanita itu, segera menoleh ke sampingnya. Dan didapati dua orang anak muda yang juga memancarkan kesedihan yang sama dengannya. Saat Karura menoleh ke arahnya, Sakura tersenyum. Tangannya masih mengusap-usap punggung Karura dengan lembut.

"Sakura, Sasuke…" Karura menatap mereka secara bergantian.

"Sabar ya Bu, semua juga merasa kehilangan Gaara," kata Sasuke lirih.

"Benar, Bu. Semuanya juga mendoakan Gaara," tambah Sakura.

Mendengar penuturan dua insan itu, Karura tersenyum. Akhirnya mereka berdoa bersama dan kemudian saling mengobrol sampai akhirnya Karura harus kembali karena beberapa rumah sakit membutuhkannya sebagai tenaga medis.

"Sakura," panggil Karura sebelum memasuki mobilnya.

"Oh, iya Bu. Ada apa?" jawab Sakura mendekat.

Karura memandang wanita cantik di depannya dan kemudian memeluknya. Pelukan itu, tentu saja dibalas dengan pelukan hangat dari Sakura. Beberapa saat kemudian, Karura melepas pelukannya.

"Jangan bersedih, ya? Mungkin Gaara memang bukan jodohmu. Ibu yakin kau akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Gaara." ujar Karura. Matanya melirik ke arah Sasuke. Yang dilirik berdesir tak menentu.

"Aamiin. Terimakasih, Bu. Aku juga yakin siapa saja yang berjodoh denganku nanti, pasti itu yang terbaik dari Tuhan kita." kata Sakura tersenyum.

Dan lagi, Sasuke berdesir. Namun tentu saja dengan tetap mempertahankan image coolnya. Hati kecilnya berteriak, "Semoga itu aku!" dan hatinya yang lain juga ikutan berteriak, "Berisik! Aku sedang berduka!"

"Kalau begitu ibu duluan, ya?"

"Ah, iya Bu." jawab Sasuke terbangun dari lamunannya.

"Itterashai,"

"Eh?!" Sasuke dan Sakura saling menoleh. Memang tidak jarang jika kita mengucapkan kalimat yang sama dengan orang lain secara bersamaan.

"Duh, kalian berdua kok bersamaan begitu sih?" goda Karura.

"Eh, anu, ahaha! Sasuke, aku duluan yang bilang begitu," gerutu Sakura. Entah kenapa ia jadi salah tingkah. Dan ia berbicara seperti sudah kenal lama dengan Sasuke.

"Enak saja! Tentu saja aku yang duluan," kata Sasuke tidak mau kalah.

"Sudahlah, itu berarti kalian kompak. Sudah dulu ya, ibu harus segera pergi." Karura segera berbalik memasuki mobilnya. Dan mobil itu melaju dengan cepat.

"Ibu Gaara begitu hebat. Padahal baru saja tertimpa musibah yang berat, tapi ia sudah begitu semangat untuk bertemu pasien kembali. Aku juga ingin seperti itu. Tapi… apa aku masih bisa seperti itu?" batin Sakura. Ia menatap kedua tangannya yang gemetar. Sejak ia gagal menyelamatkan nyawa dokter Gaara, ia memang menghindari pasien-pasien berpenyakit berat, apalagi yang berhubungan dengan pembedahan dan jantung. Gagal menyelamatkan nyawa pasien adalah sebuah ketraumaan yang berat bagi seorang dokter muda seperti dirinya.

"Ada apa?" pertanyaan Sasuke membangunkan Sakura dari lamunannya.

"Eh, ti-tidak ada apa-apa. Ayo kita kembali!" jawab Sakura segera berjalan memasuki mobil.

Sasuke hanya menatap Sakura sebelum kemudian juga memasuki mobilnya. Sepanjang jalan mereka hanya diam. Sasuke melirik Sakura. Yang sekarang sedang menatap kedua tangannya kembali dengan tatapan kosong.

"Tanganmu kenapa?" tanya Sasuke kembali fokus ke depan.

"Eh, tanganku? Oh, anu, dingin. ACnya kumatikan saja, ya?" Sakura segera mematikan AC mobil yang sebenarnya tidak dingin.

Sasuke hanya diam. Tahu bahwa Sakura hanya berpura-pura saja.

"Aku tidak memaksamu untuk menceritakan masalahmu. Tapi apa pun itu, hadapilah!" kata Sasuke tegas.

Sakura terlonjak. Perkataan Sasuke tadi seolah-olah menunjukkan ia tahu betul apa yang dipikirkan Sakura.

"Aku…"

"Hadapilah itu dengan tenang," kata Sasuke memutuskan kalimat Sakura. Nadanya terdengar begitu menenangkan.

Sakura kembali diam. Matanya berkaca-kaca menatap tangannya yang gemetar.

"Apa aku masih bisa mengobati pasien-pasienku? Tidak! Jangan-jangan aku sudah tidak berani bertemu mereka. Ya Tuhan, bagaimana ini?" pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepala Sakura.

"Kita sudah sampai," kata Sasuke mengagetkan Sakura.

"Oh iya, terima kasih." Sakura segera melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil. Namun tiba-tiba, perasaan takut itu kembali menyusup ke dalam hatinya. Membuat ia membeku seketika. Ia trauma berat.

"Kenapa ini? Ya Tuhanku, kenapa dengan diriku? Kenapa aku begitu takut?" tanyanya dalam hati.

"Aku harap semua konsep pembuatan produk-produk proyek ini cepat selesai. Paling tidak konsep pentingnya sudah selesai dalam waktu tiga hari. Jadi, seminggu setelah ini kita bisa langsung turun ke lapangan. Bagaimana menurutmu?" tanya Sasuke pada Sakura. Yang ditanya hanya membeku dengan tangan yang sudah membuka sedikit pintu mobil. Sasuke tahu bahwa Sakura pasti masih memikirkan masalahnya.

"Emm…" Sasuke berusaha mengingat-ingat nama dokter di sebelahnya.

"Haruno… sial! Kenapa aku begini? Namanya… aduh, siapa? Ayolah Sasuke… Oh, aku tahu!"

"Ehem! Sakura,"

"…"

"dokter Sakura, kau baik-baik saja?" Sasuke mulai terbiasa dengan nama "Sakura" itu. Entah mengapa nama itu terdengar indah saat diucapkannya. Juga menimbulkan sedikit getaran dalam hatinya.

"…"

"Dokter Sakura,"

"Eh, iya? Kenapa? Kau memanggilku?"

"Iya, aku memanggilmu," kata Sasuke datar.

" Ma-maaf. Aku melamun," kata Sakura tersenyum.

"Kali ia jujur,"

"Sepertinya kita harus segera turun. Dan ada hal yang ingin aku katakan mengenai proyek kita," ujar Sasuke segera turun dari mobilnya diikuti Sakura.

"Kalau aku mendiamkannya, dia pasti melamun lagi," batin Sasuke sambil melirik Sakura.

"Dokter Sakura," panggilnya. Sepertinya ia sudah hafal baik nama dokter itu.

"Ya?"

"Jadi begini, aku harap semua konsep pembuatan produk-produk proyek ini cepat selesai. Paling tidak konsep pentingnya sudah selesai dalam waktu tiga hari. Jadi, seminggu setelah ini kita bisa langsung turun ke lapangan. Bagaimana menurutmu?"

"Itu bagus. Aku akan coba mendesain konsep awalnya,"

"Hn. Kalau butuh sarana dan prasarana apa pun, mohon katakan saja."

Tidak terasa, karena perbincangan itu mereka telah sampai di depan ruang direktur RS Haruno yaitu Tuan Haruno sendiri, ayah Sakura. Kalau saja tadi Sasuke tidak mengajak Sakura bicara, mungkin mereka tidak akan pernah sampai ke sini karena ketraumaan Sakura dengan rumah sakit ini.

"Tok! Tok!" Sakura mengetuk pintu.

"Selamat pagi, Dok. Saya dokter Sakura,"

"Masuk!"

Sakura membuka pintu dan tampak seorang lelaki paruh baya yang sedang terlihat sibuk di mejanya.

"Ada apa, Nak? Sudah bertemu dengan Tuan Muda Uchiha itu?" tanya Tuan Haruno tanpa melihat Sakura sama sekali.

"Ayah, aku datang bersama orang yang Ayah maksud," ujar Sakura tersenyum.

Spontan Tuan Haruno mendongakkan kepalanya. Dengan bantuan kaca mata plusnya, ia mampu melihat jelas seorang anak muda berparas sangat tampan di samping anaknya. Tubuhnya tinggi, putih. Hidungnya mancung, sorot matanya tegas, rambutnya hitam mengkilap. Pakaiannya sangat rapi. Wangi parfumnya tercium sungguh menyegarkan, tidak membuat orang tua seperti dirinya pusing. Aura intelektualnya terpancar dari wajah tampannya. Satu kata untuk anak muda di depannya ini: perfect!

"Selamat pagi, Tuan Haruno." sapa Sasuke dan memberi senyum kepada Tuan Haruno yang kemudian terbangun dari lamunannya.

"Oh! Iya, selamat pagi juga, Tuan Muda Uchiha. Silakan duduk!" kata Tuan Haruno seraya memperbaiki posisi kursi di depannya.

Sasuke terkekeh kecil. "Tuan Haruno, jangan panggil aku tuan muda," katanya kemudian.

"Hahaha! Baiklah, Nak. Nah, mari kita bicarakan proyek itu. Sejak hari itu kita tidak pernah bertemu lagi, ya?"

"Benar. Tapi Tuan tenang saja, aku tidak lupa kok!"

"Tidak lupa apa? Wajahku? Ah, wajah tua seperti ini memang tidak sulit untuk diingat. Hahahaha!"

Mendengar gurauan itu, Sasuke dan sakura tentu saja ikut tertawa. Ruangan itu menjadi hangat seketika. Penuh canda tawa, namun perencanaan proyek tetap berjalan dengan baik. Yang dibuat kagum berkali-kali di sini tentulah Sakura dan Tuan Haruno. Sebab, berkali-kali mereka harus dibuat bungkam dengan ide-ide luar biasa dari pangeran Uchiha itu.

Biasanya, Sakura begitu ambisius untuk memenangkan ide-idenya. Namun kali ini entah mengapa saat pangeran Uchiha itu mengutarakan ide-idenya, ia setuju-setuju saja. Dan ia tidak melepaskan inderanya ke tempat lain hanya untuk merekam pangeran itu. Entah untuk merekam ide-idenya, cara bicaranya, tatapan matanya, ataupun gerak-geriknya. Semua terlihat luar biasa di mata Sakura. "Profesional!" pujinya dalam hati.

.

.

Sakura masuk ke ruangannya. Meninggalkan Sasuke dan ayahnya yang sedang berbincang-bincang. Tidak masalah, sebab perencanaan proyek hari ini memang sudah selesai. Sakura termenung. Tanpa sengaja ia melirik stetoskop yang tergeletak lemas di atas mejanya. Ingin ia raih benda kesayangannya itu, namun lagi-lagi ketakutan itu datang. Sekujur tubuh Sakura bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras dari seluruh tubuhnya.

"Kenapa ini? Ya Tuhan, ada apa denganku?" tanya batinnya. Dan semakin Sakura memberanikan diri untuk menyentuh benda itu, ketakutannya semakin menjadi-jadi. Karena tidak sanggup lagi menghadapi situasi seperti itu, Sakura segera mengambil ancang-ancang untuk pergi. Dengan cepat ia membuka jas putih kebanggaannya dan melemparnya begitu saja. Sakura segera berlari. Berlari keluar dari rumah sakit yang sekarang ini begitu menakutkan baginya.

"Ada apa denganku? Aku tidak mau seperti ini," Sakura berjalan dengan tubuh lemas. Matanya berkaca-kaca. Ia duduk di sebuah ayunan di depan pohon Sakura di halaman rumah sakit. Sakura memejamkan matanya. Menikmati bunga pohon Sakura yang gugur.

"Bagaimana ini? Jangan-jangan aku sudah tidak bisa menjadi dokter lagi. Pasien-pasienku… Ya Tuhan, apa mereka masih mau menemuiku?" Pertanyaan-pertanyaan itu kembali berkecamuk di kepala Sakura. Dan membuat ia kembali tenggelam dalam lamunannya.

.

.

"Bu, aku maunya sama dokter Sakura,"

"Tidak bisa, Sayang. Suster tadi 'kan sudah bilang kalau dokter Sakura sedang sibuk,"

"Tidak mau, Bu. Aku maunya sama dokter Sakura!"

"Aduh! Bagaimana ini?"

Percakapan ibu dan anak tadi tanpa sengaja terdengar oleh Sasuke. Ia tersenyum.

"Sepertinya dia benar-benar seorang dokter yang hebat." batin Sasuke seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah sakit. Ya, dia memang mencari dokter Sakura. Ada hal yang ingin ia bicarakan.

Beberapa detik kemudian, ia menangkap sosok wanita yang sedang duduk di sebuah ayunan dengan wajah lesu. Sasuke menatap wanita itu dari kejauhan. "Dia seperti itu lagi,". Dan tanpa pikir panjang ia segera menuju ke tempat wanita itu berada.

Sakura mengayunkan kakinya perlahan. Sesekali ia tersenyum kecil. Teringat dulu ia juga sering melakukan hal yang sama seperti sekarang ini, saat ia masih TK. Ia selalu menunggu jemputan ayahnya di atas ayunan kecil di TKnya. Walaupun ayahnya selalu telat menjemputnya, ia tetap sabar menunggu. Kalau gurunya bertanya, "Kenapa ayahmu belum menjemput, Sakura-chan?" ia pasti menjawab, "Tidak apa, Bu Guru. Ayah sedang mengobati pasien."

Sejak TK, ia menginginkan profesi yang sama dengan ayah dan ibunya. Dari sejak TK pulalah, ia sudah mengerti bagaimana profesi seorang dokter. "Aku… selalu ingin menjadi dokter yang baik," batinnya. Matanya kembali berkaca-kaca. Sakura terus mengayunkan kakinya sebelum sebuah suara mengagetkannya.

"Permisi Bu Dokter, boleh aku duduk di sebelahmu?"

"Eh? Boleh, silakan sa… lho, kau?

.

.

To be continued

.

Gimana, gimana? Ada kemajuan gak fic saya di chap ini? Soalnya udah lama gak nulis fic jadi kaku gitu rasanya. *Kok curhat?* ne minna, saya mohon kritik dan sarannya yaaa. Dan untuk yang masih bertanya-tanya apa ini fic gaasaku atau sasusaku, lihat aja di main chara yang saya pilih :)

Dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalani. Saya mohon maaf kalau selama ini ada menyinggung perasaan minna-san. Biar puasa saya berkah, gitu lho! Nah, sekian. Ja ne!^^