"Nee… Nee… Aku dengar kabar lho!"

"Kabar apa?"

"Kamu tahu tidak, ada anak kelas satu yang dua minggu lalu berulang tahun?"

"Siapa ya? Kamu tahu tidak?"

"Em… aku tidak tahu tuh."

"Sama… aku pun begitu"

"Aku tahu namanya, kenapa aku bisa lupa ya, duh. Kalau tidak salah, di namanya ada unsur warnanya. Tapi aku lupa warna apa."

"Ah kau ini, Payah!"

"Padahal kami kan ingin tahu juga!"

"Maaf! Aku lupa! Hehehehe."

"Duh, memangnya ada apa sih dengan dia?"

"Aku dengar dia membuat pesta…"

"Hah? Bukannya hal itu sudah biasa?"

"Tetapi yang ia buat berbeda…"

"Apanya?"

"Karena pestanya disebut sebagai 'Pesta yang Tidak Terlihat'!"

Kau kemudian terbahak dalam hati mendengar percakapan konyol para perempuan penggosip yang baru saja kau lalui di koridor.

"Bisa tidak ya kabarnya diperaneh sedikit lagi? Menjadi 'Pesta yang Tidak Pernah Ada' contohnya," kau malah bermonolog sambil diiringi tawa-tawa tertahan dari bibirmu, yakin bahwa mereka tidak akan mungkin mendengarnya,

"Ah atau tidak seperti pesta ulang tahun Akashi-kun yang terlalu ketat untuk dimasuki," kau tertawa hambar mengingat kejadian yang tidak begitu menyenangkan yang kau alami bersama temanmu yang juga anggota klubmu.

Lalu kau berhenti—namun tawamu masih belum dapat dihentikan—sejenak. Menatap papan nama "Klub Surat Kabar Teikou" dihadapanmu. Kau pun jadi deg-degan. Masalahnya, hari ini adalah pembagian tugas untukmu untuk menentukan apa yang harus kau liput.

"Ah masuk sajalah."


Warning :

Readers!Chara—AU!TeikouHighschool—Maybe a bit OOC demi kepentingan fanservice—typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.

.

.

.

.

Kuroko no Dating Simulation :

Love Report!

Aomine Daiki x Readers!

.

.

.

.


Kau menganga hebat saat Aida Riko yang notabene adalah kakak kelasmu memberitahukan apa tugasmu kali ini.

"Aku?" Kemudian kau tergagap, "Aku diberikan kesempatan untuk mengisi kolom artikel baru? Kolom yang itu?!"

Riko mengangguk mantap, "Kau sanggup, 'kan?"

Kau meneguk ludahmu, "Aku tidak yakin…"

"Kau harus sanggup, (your name)," ralat Riko sekaligus menyeringai kepadamu dan membuatmu bergidik ngeri.

"Ta-tapi, kau tahu 'kan aku tidak terlalu pandao melakukan pendekatan dengan lelaki?" elakmu sekali lagi sambil membayangkan bagaimana nasibmu apabila kau benar-benar harus mengemban amanat sesulit ini.

Yah sikapmu itu kalau tidak terlalu malu ya terlalu kasar.

Riko menyandarkan punggungnya di bangku khusus untuk wakil ketua klub, "Artikel bulan lalu juga temanmu yang mengerjakan, bukan? Ayolah kau salah satu yang terbaik."

Kau mendengus, "Artikel yang waktu itu malah kau yang ambil alih, benar kan senpai?"

Kemudian Riko tertawa licik tanpa mengindahkanmu, "Pokoknya kau harus kerjakan. Titik,"

Oh baiklah. Kau menyerah. Demi eksistensi klubmu tercinta yang baru saja kembali naik daun berkat artikel laknat tersebut, kau harus rela melakukan apapun.

Riko tampak sibuk memilah-milah kertas dari salah satu mapnya lalu menyodorkan selembar data siswa.

Kau mengernyit heran sembari meraihnya, "ini apa?"

"Targetmu."

Kau memicingkan matamu dan berusaha mengenali targetmu.

Kuroko Tetsuya. Kelas 1-B, salah satu first string di tim basket SMA Teikou—wuih lumayan juga!

"Mengapa datanya sangat sedikit?" kau kembali menganalisis berkas tersebut, "kami sama-sama kelas satu, tapi kok rasanya aku belum pernah liat orang ini ya?"

"Ini salah satu keistimewaan dirinya," Riko kemudian tersenyum misterius, "Kuroko-kun juga memiliki banyak fans lho."

Kau hanya manggut-manggut walau tidak mengerti. Memang sih, jika dilihat-lihat, Kuroko lumayan imut dan keren dengan rambut berwarna biru muda dan tampangnya yang terlihat begitu polos, Tapi kok aku belum pernah melihatnya, ya?

"Um… Apa yang harus kuliput darinya, senpai?" tanyamu sembari menatap cewek yang tidak kalah tomboy denganmu dihadapanmu.

Riko berdeham, "Ia berulang tahun seminggu yang lalu dan kudengar ia membuat pesta."

"Hum… Lalu?"

Eh tunggu. Rasanya kok seperti déjà vu?

"Dan menurut kabar yang beredar," ia menjeda sebentar perkataannya, "Pestanya ini tidak biasa."

Demi apa? Kau menatap wajah kakak kelasmu sembari melongo, "Maksud senpai adalah 'Pesta yang Tidak Terlihat' itu?!"

"Tepat sekali!" sahut Riko, "kalau kau sudah tahu, cepatlah buat artikel yang berisi kebenaran tentang pesta itu."

"Hah? Serius, nih?"

Riko bangkit dan mendorongmu keluar dari ruang klub, "Ah sudahlah ikuti saja kataku."

"E-Eh, senpai! Tunggu!"

"Nah, oh iya, jangan lupa untuk menyisipkan fakta-fakta tentang Kuroko-kun, oke? Kutunggu artikelmu tanggal 15 Februari, nanti."

Gila!

15 Februari kan minggu besok!

Kau memandang pintu klub dengan nanar.

"Duh, mulai darimana?"

.

.

Sepertinya ini karma untukmu karena telah meledek perempuan-perempuan yang bergosip di koridor tadi.


Day 1 report : 9 February 2015

Kau menatap bekalmu datar. Sekeras apapun kau berusaha untuk makan dengan hikmat, bayangan orang itu selalu menghancurkan nafsu makanmu. Ide bagaimana untuk dapat mengorek informasi dari empunya mengenai pestanya saja belum muncul di benakmu sedikitpun.

Kau mengutuk Kuroko Tetsuya yang membuatmu tidak sanggup untuk melahap bekalmu hari ini.

"Hei, kau kenapa, (your name)?"

Kaget dan refleks, kau menengok ke arah kananmu dan mendapati sosok gadis bersurai pink sedang mengamatimu.

"Lho, Momoi? Kok kau ada di kelasku?"

Alih-alih menjawab pertanyaanmu, dia malah duduk di kursi yang berada tepat di hadapanmu, "Memangnya tidak boleh?" lalu ia menyeringai, "Aku habis meminjam catatan, kok!"

Lalu kau hanya ber-oh-ria, sebelum kau menepuk dahimu keras-keras karena membiarkan fakta penting sekecil ini luput dari perhatianmu.

Momoi menautkan alisnya kebingungan, "(your name)?"

"Kuroko Tetsuya!" kau bangkit sembari mengebrak meja dan tak lupa setengah berteriak dengan wajah berbinar, "Ya! Ya! Kuroko Tetsuya!"

Hening.

"E-Eh-Eh? A-ad-ada ap-pa dd-dengan Tett-tsu-kun?" jawab Satsuki gelagapan.

"Beritahu aku tentang dirinya!" selamu antusias dan pertanyaanmu malah membuat Momoi makin merona, "Kau manager klub basket, bukan?!"

Momoi bangkit dari bangkunya dan malah berjalan menjauhi dirimu namun masih tetap menghadapmu, "Ja-jangan tanyakan Tetsu-kun padaku! Aku tidak tahu apapun!"

"Eh? Tapi kan kau—"

"A-Aku ke kelasku dulu," pamit Momoi tergesa dan masih salah tingkah, "Dah, (your name)!"

Kau melongo dibuatnya.

.

.

Lah, aku kan hanya bertanya.


Day 2 report : 10 February 2015

Masuk? Tidak? Masuk? Tidak? Masuk? Tidak? Masuk? Ti-Ah! Masuk atau tidak nih?

Kau melongokkan kepalamu dari luar dan menjulurkannya sedikit demi sedikit ke dalam lalu menarik kepalamu cepat. Kemudian kau mengambil napas panjang lalu mengulangi kegiatan itu dari awal. Iya, begitu saja terus. Seperti bumi yang selalu berevolusi terhadap matahari.

Sebegitu panaskah udara siang hari ini? Keringat dinginmu telah mengalir sejak kau memutuskan untuk mengendap-ngendap masuk ke dalam gym untuk "nguntit" sekaligus mencari sosok Kuroko Tetsuya.

"Masuk? Tidak? Masuk? Tidak? Masuk? Ti-AHHH!"

Tiba-tiba sebuah benda bulat berwarna oranye melambung menghantam kepalamu dan membuatmu terjatuh ke belakang karena hilang keseimbangan.

Tapi, kau malah sempat-sempatnya berdelusi bahwa Kuroko Tetsuyalah yang akan menghampirimu, meminta maaf, lalu kau dapat melakukan pendekatan padanya untuk artikel minggu depan.

Ah benar kan? Ada orang yang berlari menghampirimu. Itu pasti Kuro—

"HEI! Apa yang kau lakukan di sini, hah?!"

—Maaf?

Kau mengerjap-ngerjapkan matamu dan mendapati bahwa yang berdiri di hadapanmu bukanlah sosok yang kau harapkan.

Tinggi, besar, hitam, dan bersurai biru tua. Terlalu kontras apabila dibandingkan dengan sosok Kuroko.

Dan lagi ia malah meneriakimu alih-alih meminta maaf kepadamu karena bolanya telah mengenaimu secara tidak sengaja. Cukup. Hal ini membuat singa betina yang tertidur di dalam tubuhmu sebentar lagi akan terbangun.

"Duh! Kemana bola itu?"

Sebelum ia berlari untuk mencari bola basket yang tadi ia lambungkan, kau dengan gesit berdiri dan meraih kerah bajunya.

"H-Hoi! Apa-apaan kau?!" serunya kaget.

"Kau tidak punya sopan santun?!" serumu balik, marah, "Bolamu sudah mengenaiku! Kau tidak punya mulut untuk mengucapkan kata maaf, ya?"

"Lepaskan aku," jawabnya dingin sambil menghempaskan tanganku kembali ke sisi tubuhku, "salahmu karena berdiri di depan pintu seperti itu. Aku ingin mencari bolaku sebelum Akashi memarahiku. Jangan halangi aku."

Kau sudah ingin membalas perkataannya lagi, sebelum sebuah suara menginterupsi kalian berdua.

"Aomine-kun, kau lama sekali."

Kalian saling berpandangan lalu, "Hwah! Siapa kau?!/Tetsu?!"

Kau menatap pemuda itu dengan tatapan horror dan jari telunjukmu menunjuk-nunjuk sembari bergetar, "K-kau s-siapa? K-kau muncul begitu saja!"

Ia menatapku datar, "Aku sudah di sini sejak tadi."

Glek. Kok serem, ya?

"Aomine-kun, bolamu mana?" tanyanya kepada sosok yang dipanggil "Aomine" itu.

"Aku tidak tahu, Tetsu," ia mengacak rambutnya kesal sembari celingak-celinguk mencari bola itu.

Oh jadi yang jelek namanya Aomine, dan yang menyeramkan ini namanya Tetsu?

Tunggu.

Hei!

Kau kembali memandang horror keduanya.

Kemudian kau menunjuk Aomine dan berhasil mendapatkan perhatian darinya, "J-jadi? K-kau Aomine Daiki? Power Forward klub basket kita?!" Kau nyaris berteriak setengah tak percaya.

"Huh? Kalau iya memangnya kenapa? Hah?"

Serius? Demi apa?

Sekarang gantian kau menunjuk takut-takut sosok pemuda yang memiliki postur tubuh lebih kecil dan berkulit putih serta bersurai biru laut itu, "Da-dan k-kau…."

Ia masih menatapmu datar, "Kuroko Tetsuya, salam kenal."

Kau melongo dan detik berikutnya kau kabur karena hatimu berdetak tak karuan, meninggalkan mereka yang saling pandang karena heran melihat tingkahmu.


Day 3 report : 11 January 2015

Kau tidak bisa konsentrasi sama sekali. Ucapan-ucapan semua guru yang hari ini mengajar di kelasmu hanya sekadar lewat di telingamu, intinya kau tidak mendapatkan ilmu apa-apa sedari tadi.

Setiap saat kau sibuk menyusun rencana untuk bertemu Kuroko, menyusun pertanyaaan-pertanyaaan yang ingin kau lontarkan kepadanya, dan ingin segera bertemu dengannya. Kau selalu melirik jam tanganmu ataupun jam dinding di kelasmu dengan gelisah.

Cepat pulang! Cepat pulang!

Kedua kata tersebut kau rapal hingga rasanya mulutmu secara otomatis melontarkan mereka hingga bel pulang berbunyi.

Dan sepertinya waktu berpihak kepadamu.

Kau bangkit lalu buru-buru membereskan mejamu.

"(Your name)! Chotto!"

Kau mendelik begitu mendengar namamu dipanggil oleh seseorang yang ternyata adalah sang ketua kelas.

"Ada apa?" tanyamu cepat, "Aku sedang terburu-buru, jadi cepat saja."

Dia menatapmu sedikit tajam, "Jangan bilang kau lupa bahwa hari ini kau piket?"

"Benarkah?" tanyamu tidak percaya.

"Lalu kau juga bertugas untuk membawa buku-buku kami ke ruang guru bukan?"

He?

"Oh iya, kau juga dipanggil oleh penjaga perpustakaan karena kau sudah berjanji untuk ikut merapikan perpustakaan karena kau tidak sengaja menyenggol rak buku kecil hingga terjatuh minggu lalu, 'kan?"

Kau merasa kedua kakimu melemas hingga rasanya tak sanggup untuk berdiri.

Ia menaikkan kacamatanya lalu menyeringai jahil, "Pastikan seluruh tugasmu selesai sebelum kau mengerjakan urusanmu yang itu, Nona Reporter." dengan santainya, ia pergi meninggalkanmu yang masih terbengong-bengong.

Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melanjutkan artikelku?

.

.

Jam dinding menunjukkan pukul 07.30. Kemudian kau menghela napas dan membenahi lengan bajumu sebelum mengenakan rompimu kembali yang sedari tadi kau tautkan di sekitar pinggangmu.

"Arigatou, (your name). Aku benar-benar terbantu," ujarnya, "Maaf membuatmu pulang larut seperti ini."

Kau mengulas senyum kepada si penjaga perpustakaan yang telah membuatmu tertahan untuk menyelesaikan "tugas indah" milikmu, "Tidak apa-apa, sensei," sahutmu sembari membungkukkan tubuhmu, "Saya permisi."

Kau menghela napas keras, lelah akan semua pekerjaan yang baru kau selesaikan. Tidak mungkin kau dapat bertemu dengan Kuroko pada jam segini. Terpaksa kau tunda lagi pekerjaanmu yang sudah mendekati tenggat waktu untuk diserahkan.

Masih lumayan jika kau sudah memiliki beberapa informasi berharga. Nah ini? Kau baru mendapatkan informasi yang sangat perlu dipertanyakan kebenarannya.

Dengan cepat kau menekuri koridor lantai dasar sembari melayangkan pikirmu kepada "tugas indah" milikmu. Yang kau inginkan sekarang hanyalah cepat pulang, mengerjakan tugas, istirahat, dan sedikit keajaiban.

DUK DUK DUK

Kau spontan berhenti dan mengalihkan perhatianmu untuk mencari sumber suara itu.

Gotcha! Suara itu berasal dari gym!

Kau mengernyit sembari memperhatikan gym yang berada tak jauh dari tempatmu sekarang yang masih terang-benderang kondisinya.

Kakimu secara otomatis membawamu untuk mendekati gym dan mengintip siapa yang masih latihan sampai larut seperti ini. Hal ini malah membuat jantungmu menjadi berpacu lebih cepat.

"Kuroko-kun, kah?"

Kau membayangkan keajaiban yang akan kau alami apabila benar Kuroko yang sedang berlatih hingga selarut ini.

PATS

Lampu gym tiba-tiba padam dan membuatmu kaget setengah mati. Pasalnya kau benar-benar dalam kondisi hanya tinggal selangkah lagi benar-benar masuk ke dalamnya. Kau merutuk. Terkikis sudah harapanmu bahwa terdapat keajaiban yang mempertemukan antara kau dan Kuroko.

Kau menyipitkan matamu untuk melihat lebih jelas jauh ke dalam gelap. Kemudian sosok misterius yang sedari tadi kau ingin ketahui identitasnya sedikit demi sedikit kelihatan lekuk tubuhnya.

Dan cahaya yang masuk ke dalam gym dari luar menimpa wajahnya dan membuat otakmu seketika beku dan mulutmu sulit mengatup karena terkejut, "A-Aomine?"

"Huh?" sedikit keterkejutan tergambar di wajah gelapnya mellihat keberadaanmu di sini.

Oh, great. Ini sih kesialan, bukannya keajaiban seperti yang kau harapkan.

.

.

"Kau serius mau makan itu semua?"

Aomine melirikmu tajam lalu mendengus, "Aku lapar."

"Ya tapi…" Kau menatap horror tumpukan teriyaki burger di hadapanmu, "bukankah ini terlalu banyak?"

Alih-alih menjawab, ia malah meraih satu bungkus lagi dan melemparkannya kepadamu.

"Tuh."

"Ha?"

"Kau mau, 'kan? Ambil dan diam saja," jelas Aomine malas.

"Aku tidak mau kok!" lalu kau menaruh burger itu kembali ke sisi Aomine, "jangan geer gitu, deh! Aku juga sudah pesan menu untukku sendiri."

Aomine mengembalikan lagi kepadamu lalu membalas, "Hanya segelas vanilla milkshake memangnya cukup? Tidak usah sok diet."

Kesal? Sangat! Kau mengatur emosimu sambil menyerukan kata sabar, (your name), sabar… di dalam hati berulang kali. Sebenarnya kau sangat ingin menonjok manusia hitam di depanmu ini, tapi yah… sebagai perempuan—yang penampilannya agak jauh dari perempuan biasa—dan seorang pelajar yang baik-baik, kau membuang jauh-jauh ide tersebut walaupun tangan sudah gatal.

Lalu kau memutuskan untuk menerima saja pemberian darinya. Dan dengan—sangat—sungkan, kau mengucapkan terima kasih yang segera dibalas dengan ejekan yang sangat menyebalkan.

"Kalau kau mau, ambil saja daritadi. Tidak usah sok-sok menolak segala," seringai pun terulas di wajahnya yang sudah—sangat—mengesalkan itu.

Untung saja kantung kesabaranmu masih tersisa sedikit.

Kau memilih untuk diam saja dan mulai memakan burger pemberian dari Aomine.

Keheningan terjadi selama beberapa menit. Yang ada di antara kalian berdua hanyalah suara kunyahan ataupun sesapan dari minum masing-masing. Tidak ada yang ingin membuka percakapan kembali, yah setidaknya untuk sesaat.

"Kenapa kau menyukai vanilla milkshake?"

Kau menaikkan alis matamu sebelah, "Yah… karena di sini vanilla milkshakenya enak."

Aomine mendengus, "Seperti Tetsu saja."

"Tetsu?" tanyamu lagi, "Kuroko-kun maksudmu?"

"Siapa lagi?" tanya Aomine retorik dengan wajah malas seperti biasa.

Kau berdeham, "E-Ehm, jadi? Kuroko-kun suka vanilla milkshake?"

"Sangat."

Aura bunga-bunga kemudian keluar dari tubuhmu. Oh ya Tuhan, mungkin ini bukanlah pertemuan kesialanku! Kau mencatat dalam hati tentang fakta tak terduga yang baru saja kau dapatkan dari sosok di depanmu ini.

Selang sedetik berikutnya, kau menghujam Aomine dengan lirikkan-lirikkan horror. Niatnya sih ingin memberikan semacam sinyal agar diberikan fakta-fakta tentang Kuroko lagi. Namun sayangnya Aomine salah mengartikan sinyal tersebut dan malah balas melirik tajam.

"Kau kenapa, sih?" tanyanya dengan nada kesal.

Harus bisa mengorek informasi darinya! Kau mencamkan hal tersebut kuat-kuat dan tidak mau mengulang kesalahan yang sama seperti bersama Momoi tempo hari lalu.

"Bolehkah aku bertanya-tanya sedikit tentang… uhm… Kuroko-kun?"

Aomine menaikkan satu alisnya, "Tetsu? Untuk apa?"

"Bu-bukan apa-apa, sih…"

Oke. Ini sih namanya bohong. Kau ingin jujur, namun jauh di dalam lubuk hatimu kau ingin investigasimu tidak terbongkar kecuali oleh sang target sendiri.

"Jika kau memberitahuku, aku akan menjawab apapun pertanyaanmu," Aomine malah melontarkan penawaran sembari melahap potongan burger terakhir miliknya dengan santai, "Bagaimana?"

Galau akut tingkat dewa. Beritahu atau tidak? Kali ini bergilir untuk menjadi rapalan mantra di dalam hatimu. Ya Tuhan, mengapa makhluk ini selalu menyusahkanmu, sih?

Setelah pertimbangan selama beberapa menit dan hasutan-hasutan dari makhluk yang ada di hadapanmu, kau akhirnya memutuskan untuk menyerah. Kau beberkan alasanmu mengejar Kuroko Tetsuya, mengapa Momoi tidak bisa membantumu, dan akhirnya alasan mengapa kau bertanya kepadanya.

"Sudah, kan?" Tanyamu sambil berusaha menyembunyikan wajahmu yang kemungkinan sudah memerah karena malu, "Nah beritahu aku sekarang!"

Aomine tidak kunjung menjawab lalu malah menyeringai aneh, "Ups! Sepertinya aku harus pulang," ia bangkit dan menarik tasnya dengan cepat, "Kau yang bayar, ya!"

HAH?! Hoi, dia tidak bercanda, 'kan?

"O-OI! AOMINE!"

Aomine membalik badannya dan tersenyum mengejek sebelum berlari keluar Maji Burger.

Bingung, terkejut, kesal, marah telah bercampur menjadi satu. Raut wajahmu sudah terlalu rumit untuk digambarkan.

Kemudian kau mengalihkan pandanganmu ke arah dompetmu dan menelisiknya dengan miris.

Mulai detik itu, kau mengoceh untuk menumpahkan kekesalanmu kepada seorang Aomine Daiki dan menyatakan betapa kesalnya dirimu telah memberitahu mengapa kau begitu gencar dengan hal berbau Kuroko.

Oh iya, dan juga mengenai dompetmu yang menipis secara tiba-tiba akibat dari perbuatan oknum yang—SANGAT—tidak bertanggung jawab.

Kemudian kau menarik kata-katamu tentang kemungkinan bahwa pertemuanmu dengan Aomine kali ini mungkin saja adalah sebuah keajaiban.


Day 4 and 5 report : 12 and 13 February 2015

Hanya tinggal dua hari lagi sebelum kau menemui Riko untuk menyerahkan artikel. Gelisah? Pasti. Jika dipikir-pikir, kau belum mendapatkan informasi yang benar-benar layak untuk menjadi komposisi artikel. Hari ini sudah hari kelima, Tuhan!

Sumpah. Ini adalah artikel tersulit yang pernah kau kerjakan selama ini.

Dan kau sekarang sedang berjalan mondar-mandir di dekat gym dengan gelisah. Pasalnya, sudah sedari tadi kau di sini dan tidak ada satupun anggota klub basket yang masuk ke dalam untuk latihan.

Parahnya, sudah dua hari kau begini terus. Menunggu hingga larut namun tidak ada hasil.

Dan lebih bodohnya, kau tidak memastikan ada latihan atau tidak hari ini kepada Momoi setelah kemarin tidak mendapat hasil apapun. Rasanya kau ingin mengutuk dirimu sendiri karena sudah sedemikian ceroboh. Sekarang sudah sore dan ponselmu mati, kau tidak bisa menghubungi Momoi sekarang.

Kau mengacak-acak rambut hitam sebahumu kesal. Rambutmu yang sudah berantakan kini makin terlihat kacau.

Lalu kau memutuskan untuk pulang saja.


Final Day : 14 February 2015

Kau bergelung di dalam selimutmu, mencoba untuk melanjutkan tidur di sabtu pagi ini.

Kurang tidur semalaman karena mencoba untuk menyusun artikel dari fakta-fakta yang telah kau kumpulkan dan mencoba untuk mengemukakan hipotesis tentang pesta yang menjadi topik utama dalam artikel tersebut siapa yang tidak lelah?

Ah walaupun kau telah berusaha semaksimal mungkin, tetap saja hasil yang kauperoleh sangatlah biasa-biasa saja. Catat, sangatlah biasa-biasa saja. Malah menurutmu itu artikel yang tidak layak untuk dipublikasikan ke khalayak ramai, terutama pada bagian utama artikel tersebut.

Kau mengerang perlahan namun masih dalam kondisi mata terpejam. Kau bahkan melupakan semua kejadian tentang Aomine yang mengganggu hidupmu seminggu terakhir ini.

Lagipula untuk apa kau memikirkan Aomine? Ada hal yang harus kau selesaikan dan juga lebih penting daripada dia.

Kau membuka matamu dan menatap kalender duduk yang berada di atas nakas. 14 Februari, hari ini Hari Valentine dan besok kau sudah harus menyerahkan artikelmu.

Kau menertawakan dirimu dalam hati karena bisa-bisanya kau terpuruk di hari di mana biasanya para wanita bergembira karena cokelat pemberian mereka diterima oleh lelaki pujaan hati mereka.

"Bagaimana jika aku membeli cokelat untuk diriku sendiri?"

.

.

Mau dikatakan bahwa kau terlalu miris sampai-sampai membeli cokelat untuk diri sendiri, biarkanlah orang-orang berkicau sesuka hati mereka. Cokelat memang jurus terbaik untuk memulihkan pikiran yang sedang terpuruk.

Semua ini gara-gara Riko-senpai, Kuroko-kun, Momoi, dan Ahomine.

Ah, kau segera menepiskan pemikiran tersebut jauh-jauh. Sebagai seorang reporter, memang inilah resiko yang harus dihadapi. Sikap profesional harus dijunjung tinggi-tinggi, duh.

"Selamat datang."

Hawa sejuk berhembus menggantikan hawa dingin dari luar. Segera saja kau langkahkan kakimu menuju rak bagian makanan dan minuman ringan agar kau dapat cepat pulang dan menikmati semuanya lebih cepat.

Dan, Bum! Voila!

Lautan remaja menyelimuti rak bagian tersebut. Apalagi jika bukan untuk hunting cokelat untuk pasangan masing-masing atau lawan jenis yang disuka?

Ah sepertinya kau kurang pagi karena telah diserobot oleh mereka, mereka, mereka, dan mereka. Ya ampun, padahal ini baru pukul sebelas.

Rasa kesal sudah mulai menjalari kepalamu lagi. Apakah iya aku harus menunggu sekian lama hanya untuk mendapatkan beberapa bungkus cokelat?

Rasanya seminggu ini tumpukan dosamu semakin banyak saja. Jika kau ingat-ingat, seminggu ini penuh dengan gerutuan dan makian yang keluar dari mulutmu.

Akhirnya kau memutuskan untuk mengumpulkan segenap tenaga untuk menerobos masuk ke dalam kerumunan muda-mudi di depanmu. Hasilnya? Terpental-pental tanpa mendapatkan apapun.

Kesal kuadrat, namun tekadmu sudah keburu bulat.

Sekali lagi kau mencoba untuk menyelinap, bukan menerobos seperti tadi. Perjuanganmu selama kurang lebih 15 menit akhirnya terbayar, kau akhirnya mendapat dua bungkus cokelat dari target awal yang berjumlah empat bungkus.

Tidak ada waktu untuk bermuram durja. Kau harus cepat-cepat menyingkir dari serbuan remaja kerasukan cokelat ini.

Tapi tampaknya nasib baik tidak berpihak kepadamu.

Setelah berhasil keluar dari kerumunan tersebut, kau tidak sengaja menabrak seseorang dalam pelarianmu dan membuat kedua cokelat yang kau bawa terbanting keras ke lantai.

Intinya, cokelat hasil jerih payahmu patah.

Kau berjongkok menatap nanar kedua benda berharga tersebut dengan setitik air mata terbesit di ujung mata serta mulut bergetar merapal, "cokelatku… cokelatku…" Bahkan tidak terbesit ide di otakmu untuk meminta maaf kepada orang yang telah kau tabrak tadi.

"Ano… sumimasen…"

Kau menoleh patah-patah dengan wajah yang masih lengkap dengan ekspresi kehilangan yang luar biasa.

"Bagaimana jika aku ambilkan lagi sebagai ganti cokelatmu yang sudah patah itu?"

Kau terkejut dengan tawaran tersebut dan seketika wajahmu menampilkan ekspresi yang berbeda setelah menyadari siapa yang telah kau tabrak tadi.

.

.

"Terima kasih atas pembeliannya."

Kau mengangguk cepat sembari mengambil kembalian yang ia berikan dan segera berjalan menghampiri sosok pemuda yang sedang menunggumu.

"Um… Kuroko-kun terima kasih," ucapmu malu-malu, kemudian kau berjalan beriringan dengannya keluar dari toko swalayan tersebut.

"Doumo," balas Kuroko sambil tersenyum tipis.

Wajahmu sedikit memerah melihat senyuman yang ditunjukkan oleh Kuroko "Em… Ano… Kalau tidak keberatan, bolehkah aku meminta waktumu sebentar?"

Kuroko memandangmu dengan wajah datarnya, "Ada apa?"

"Aku ingin berbincang denganmu sebentar," jawabmu mantap sembari menatap penuh harap ke arah Kuroko.

"Bagaimana ya…" Kuroko mengusap dagunya, "Aku tidak yakin aku memiliki banyak waktu."

Hatimu berdebar-debar sekali. Duh ini kesempatan emasmu yang tidak boleh kau lewatkan sama sekali.

Kau meneguk air liurmu, "Em… Bagaimana jika aku hanya berbincang denganmu hingga perempatan nanti? Tidak akan lama."

Kuroko diam dan kau masih menatapnya penuh harap, "Mengapa tidak?" sahut Kuroko pada akhirnya.

Yatta! Senang sekali rasanya Kuroko menyetujui permintaan yang kau ajukan. Yosh!

"A-arigatou…" balasmu perlahan, "Em.. Memangnya Kuroko-kun ingin kemana?"

Lawan bicaramu masih mempertahankan wajah tripleknya, "Rahasia… em, namamu?"

"Panggil saja, (your name)," balasmu cepat.

Lalu Kuroko kembali tersenyum tipis, "Itu rahasia, (your name)-san."

Kau cemberut, "Oh… ayolah!"

Kuroko hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Baiklah," putusmu sambil berputus asa, "Kau sudah memiliki pacar?"

Kuroko terkejut lalu memasang wajah yang kembali datar, "Belum."

Haduh… Kau merasa perbincangan seperti ini sepertinya akan sulit sekali. Bagaimana bisa ia hanya memasang wajah datar setiap ditanya oleh berbagai pertanyaan?

Kau berdeham, "Baiklah…" lalu sepertinya kau teringat sesuatu, "Kau benar-benar menyukai vanilla milkshake?"

"Iya."

"Terutama vanilla milkshake dari Maji Burger?"

"Iya."

Tuhkan. Responnya benar-benar minim. Lalu kau mengacak rambutmu frsutasi.

Sudahlah. Kau merasa sudah cukup untuk berbasa-basi. Kau berpikir lebih baik langsung saja menanyakan topik utama untuk artikelmu.

Kemudian kau menarik napas, "Ulang tahunmu kapan, Kuroko-kun?"

"31 Januari."

Kau terbengong sesaat. Huwah, jadi benar ia berulang tahun dua minggu yang lalu. Lalu kau mengangguk-angguk senang.

Bagus! Jika pertanyaan setelah ini terjawab maka selesailah sudah.

"Em.. Kau mengadakan pesta?"

Kuroko diam saja seperti tidak mendengar pertanyaanmu.

Kau mengerutkan kedua alismu, "Kuroko-kun?"

"Ah iya? Maaf apa yang kau tanyakan barusan?" Ah ternyata benar ia tidak mendengarkanmu.

Jantungmu berdegup lebih kencang, "Em… Apakah kau mengadakan pes—"

DRRT DRRT

"—ta?"

"Hai'. Kuroko di sini."

Kau berteriak frustasi di dalam hati. Mengapa bisa-bisanya ada orang yang menelepon Kuroko tepat di saat yang kritis seperti ini?

Perasaanmu benar-benar nge-down, rasanya iseng-iseng mendengar percakapan Kuroko pun tidak sanggup.

Jika kau adalah bukan kau, sepertinya kau sudah akan menangis tersedu sekarang.

"(your name)-san?"

Eh sudah selesai?

"Ah iya?"

"Maaf sepertinya aku harus pergi sekarang," ujar Kuroko terburu-buru, "Sampai bertemu lagi!"

"EH?! T-Tapi…"

Kau memandang punggung Kuroko yang sedang berlari menjauhi dirimu tidak percaya. Kuroko sudah benar-benar pergi!

Oh ayolah! Mengapa ia harus pergi di saat pertanyaan yang begitu penting sedang kau ajukan?

Tuhan… Apa nasibku tidak bisa lebih baik lagi?

Lalu kau tertawa miris di sepanjang jalan.

.

.

.

Menulis, mencoretinya asal, disobek, diremas, kemudian dilempar, lalu kembali menulis.

Begitu terus sampai ruang tamu rumahmu bertransformasi menjadi tong sampah raksasa. Untung saja ibumu sedang tidak ada di rumah, jadi kau bisa bebas mengubah rumahmu menjadi apapun, termasuk menjadi tong sampah.

Hanya tinggal 9 jam lagi hari ini akan terlewat. Berarti kesempatanmu untuk membuat artikel dan sebagainya hanya tinggal 9 jam.

Gila.

Dapat informasi darimana?

Kau membanting pensilmu dan mengerang frustasi. Jangankan memiliki kontak Kuroko, kau saja tidak memiliki kontak anak klub basket.

Ada sih sebenarnya, namun ia pasti tidak dapat ditanya.

Masih terekam betul bagaimana polah Momoi saat ditanya tentang Kuroko tempo hari lalu. Sekeras apapun kau memaksa, pasti kau hanya akan mendapat penolakan.

Kau menenggelamkan kepalamu di atas buku yang telah kau sobek tadi. Terbayang sudah bagaimana ekspresi Riko saat menerima artikelmu yang bahkan tidak pantas disebut artikel. Padahal Riko bilang bahwa kau adalah salah satu reporter yang terbaik. Kau kembali mengerang saat mengingat perkataan Riko.

Ah andai saja aku tidak menerima permintaan Riko-senpai.

TOK TOK TOK

"SIAPAAA?" Kau berteriak kesal. Untung saja teriakanmu teredam oleh buku yang berada tepat di hadapan mulutmu.

Kau menengadahkan kepalamu malas. Siapapun itu, ia benar-benar memilih waktu yang salah untuk bertamu ke sini. Oh atau sedang menjadi nasib buruknya karena bertamu ke sini sekarang.

TOK TOK TOK

"Ah berisik," kau malah kembali menelungkupkan kepalamu dan tiada niatan untuk membuka pintu.

TOK TOK TOK

"ARGH!" Kau melirik tajam ke arah pintu, "Oh ayolah! Pulang sana!"

Namun tampaknya seseorang di balik pintu tersebut tidak mau mengikuti kemauanmu.

TOK TOK T—

Kau membuka—atau mungkin boleh dikatakan menarik dengan sekuat tenaga—pintu rumahmu sebelum sang tamu menyelesaikan ketukannya dengan emosi.

"HOI! KAU BISA PULANG TIDAK SIH?"

Sepersekian detik berikutnya, kau terkejut mengetahui siapa yang bertamu sekaligus sedang berada di hadapanmu sekarang.

"A-Aomine?"

"Begini caramu menyambut tamu, ya?"

Glek. Bagus. Kata-kata tersebut berhasil menohok hatimu.

"Dan apa-apaan dengan penampilanmu?" hujam Aomine lagi sembari memperhatikanmu dari atas ke bawah. Sepertinya ia melihat penampilanmu yang mirip setengah zombie.

Bagus. Kata-katanya kali ini bukan menohok hatimu. Namun kembali membuka kantung kesabaranmu yang benar-benar tersisa sangat sedikit.

"Pulanglah!" ujarmu dingin, "Aku sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menerimamu sebagai tamu."

Aomine menatapmu tajam, "Aku tidak peduli. Kau harus menerimaku."

"Arrghhh! Kenapa sih kau tidak bisa membiarkan hidupku tenang sedikit?!" erangmu frustasi sembari menatap Aomine yang lebih tinggi darimu sekitar 30 senti, "Sekarang katakan apa maumu!"

Kau menggaruk kepalamu frustasi, Tuhan, apalagi kesialan yang akan kudapatkan hari ini? Rasanya kau ingin terisak saja.

"Ganti pakaianmu," ujar Aomine singkat.

"Hah?"

"Sudah lakukan saja."

"Untuk apa?"

"Sudah kubilang, lakukan saja."

"Beritahu aku!"

"Tidak mau."

Kau menatap lelaki yang masih eksis di depanmu kesal. Heran dengan apa yang ada di otaknya sekarang ini.

Kemudian kau menghela napas, lelah berdebat terus lalu kau menyingkir dari pintu masuk, "Masuklah. Kau bisa menungguku di dalam."

Tanpa diperintah dua kali, Aomine masuk sembari mengekorimu.

"Apa-apaan dengan ruangan ini?" tanyanya sembari memelototi seluruh penjuru ruangan yang telah terkotori oleh kertas.

Kau berbalik dan menatapnya sengit, "Tak usah berkomentar," lalu kau meninggalkan Aomine dan masuk ke ruangan berikutnya, "Kau ingin minum apa?"

"Tidak usah. Cepat ganti bajumu saja."

Dan kau tidak lagi menyahut dan dengan cepat masuk ke kamarmu.

.

.

.

Aomine memandangmu lalu menyeringai, "Kau terlihat lebih baik."

Kau cemberut. Padahal menurutmu kau menjadi biasa saja, kau hanya mengenakan celana panjang hitam beserta sweater rajutan berwarna putih dan topi rajutan berwarna abu-abu, tidak lupa dengan tas kecil berwarna abu-abu yang kau selempangkan di tubuhmu.

"Nah beritahu aku kita akan ke mana," tuntutmu memaksa.

"Ikut saja," Aomine menarik tanganmu dan membuatmu tidak sempat menolak.

.

.

.

"Jadi? Untuk apa kita ke lapangan basket?" tanyamu. Setengah alismu terangkat menanti penjelasan dari Aomine.

Kemudian Aomine mengambil bola basket yang entah mengapa berada di situ dan memainkannya di jarinya, "One on one."

"Ha? Kau memintaku untuk bermain denganmu?"

Sepertinya Aomine sudah sinting meminta seorang anggota klub surat kabar melawan seorang ace dari klub basket.

"Lakukan saja."

Akhirnya kau menurutinya dan mengamatinya dengan siaga. Setidaknya kau tahu tekhnik-tekhnik dasar bermain basket walau tidak pernah secara langsung mempraktekkannya.

Tidak perlu ditanya, Aomine dapat melewatimu dengan mudah dan mencetak poin dengan lay up andalannya.

Dan sialnya, kau sempat terpana melihatnya mencetak poin seperti itu. Ah begini ya permainan seorang ace?

Namun kau tetap mendecak kesal sedangkan Aomine menyeringai meledek. Tapi kau malah tidak terima dan jadilah kalian melakukan hal tersebut beberapa kali yang hasilnya sudah dapat ditebak.

"Jika di sini ada Tetsu," ujar Aomine tiba-tiba sebelum memasukkan bolanya melalui gerakan formless shoot, "Ini menjadi lebih mudah."

"Kenapa?" tanyamu yang lagi-lagi tidak dapat menahan serangan Aomine.

"Aku ini cahayanya, sedangkan dia adalah bayanganku."

Kau terdiam. Sebenarnya masih kurang paham apa maksudnya, namun sepertinya kau bisa mengerti.

"Memangnya, Kuroko-kun mendapatkan posisi apa?" tanyamu sambil mencoba untuk mendribel. Ah sialnya bola itu malah terlepas dari kontrolmu.

"Bukan seperti itu," Aomine menangkap bola itu dan berjalan mendekat dan membenarkan kuda-kudamu agar dapat mendribel dengan benar. Kemudian ia memberikan bolanya kepadamu dan menyentuh tangan kananmu dengan posisi tubuhnya yang berada di belakangmu, "Kau dorong bola itu dan jangan terlalu kuat, atur tenagamu."

Dengan arahan darinya dan dibantu untuk mengontrol bola lewat tangannya, akhirnya kau bisa mendribel selama beberapa saat tanpa terlepas.

"Huwah, aku bisa, Aomine!" serumu sembari tersenyum senang.

Perlahan, Aomine melepaskan tangannya dan membiarkanmu untuk mendribel sendiri, "Nah sekarang cobalah untuk berjalan."

Kau mengangguk kemudian mencobanya perlahan, "Aku bisa!"

Aomine kemudian tersenyum, "Cobalah lari-lari kecil, tidak usah terburu-buru."

Kau menarik napas kemudian mencobanya perlahan dan ternyata kau bisa melakukannya dengan lancar. Kau menjadi terlalu semangat dan berlari-lari tanpa henti.

Sampai akhirnya kau terpeleset dan hilang keseimbangan.

GREB

"Sudah kubilang jangan terburu-buru," ujar Aomine, kemudian ia membantumu kembali berdiri yang tidak sampai jatuh tadi dengan tangan kirinya di punggungmu, "Kau lupa ini masih musim dingin?"

Kau terpaku, bisa dikatakan sekarang kau hampir berada di pelukan Aomine sama seperti saat ia mengajarimu mendribel tadi, "A-ah terima kasih," ucapmu sembari memalingkan wajahmu agar tidak terlihat Aomine.

Berikutnya kau merasakan tangan besar miliknya mengelus lembut kepalamu, "Tapi tadi kau sudah bagus kok, latihan terus maka kau pasti bisa lebih baik."

"H-hum…" kau malah tidak berani mengangkat wajahmu yang pasti sudah memerah sekarang.

Aomine kembali memainkan bola basket itu dan mencoba beberapa gerakan lagi. Ah hal itu makin membuatmu terpana saja.

"Oh iya, tadi kau menanyakan posisi Tetsu, ya?"

Kau terkejut, "Hum, ya."

"Dia tidak memiliki posisi."

"Hah?" tanyamu heran, "Kok bisa?"

"Tugasnya adalah menjadi pemain yang tidak terlihat."

Duh, kau menjadi semakin tidak mengerti.

Dan ditengah permainan, tiba-tiba Aomine menghentikan dribelnya.

"Kenapa berhenti?"

"Memangnya kenapa? Sudah mulai menikmati, hm?" tanya Aomine yang tentu bersama terpatrinya seringai di wajahnya.

Wajahmu menjadi merah padam, "E-Enak saja!"

"Cepat ikut aku atau kita akan tertinggal kereta."

.

.

.

Kau memandang gerbang megah yang berada di depanmu sambil tercengang, "Hei."

"Ya?"

"Kau yakin kita ke sini?"

"Tentu saja," jawab Aomine sambil mendengus, "Ayo masuk, aku sudah membeli tiketnya."

Kau malah makin tercengang. Duh untuk apa Aomine mengajakku ke taman bermain?

Tetapi kau menurut saja dan mengekori Aomine. Dan oh Tuhan! Taman bermain ini hampir menjadi lautan manusia! Dimana-mana kau melihat sepasang remaja sedang menunjukkan keromantisan mereka, duh dasar deh.

Hebatnya lagi, sepertinya mereka terlalu fokus kepada pasangan masing-masing tanpa mengindahkan lingkungan sekitar. Kau sudah berkali-kali tertabrak dan tidak ada satupun dari mereka yang meminta maaf.

Dan kau baru sadar bahwa kau sama sekali belum pernah menjejakkan kaki di taman bermain ini.

Kau menjadi ketakutan dan dengan tergesa merapatkan dirimu serapat mungkin dengan Aomine, lalu mencengkram sweaternya erat, takut sewaktu-waktu kau terpisah darinya.

"Hm? Ada apa?"

"T-Tidak, lanjutkan saja."

Aomine menatapmu lalu mengulurkan tangan kirinya, "Genggam saja kalau kau takut terpisah denganku. "

Kau terperangah dan dengan takut-takut menggenggam pergelangan tangannya.

Aomine malah menurunkan tanganmu sampai ke telapak tangannya, "Untuk apa kau meletakkan tanganmu di situ?" kemudian Aomine menggenggam tanganmu, erat.

"Tidak apa-apa, nih?" tanyamu takut-takut sembari menatapnya, "K-kita seperti…"

"Pasangan maksudmu?"

"U-uhm."

Aomine mendengus, "Jangan terlalu banyak berpikir."

Kemudian keheningan mengambil alih hingga Aomine mengajakmu masuk ke dalam sebuah restoran.

"Kau belum makan, bukan?" tanyanya kepadamu saat kalian sudah duduk di salah satu tempat yang agak tertutup dari sisi manapun.

"Belum, kurasa."

Ya Tuhan, aku baru sadar aku belum makan sedari pagi.

Aomine menatapmu aneh, "Sudahlah pesan saja makanan, apa saja."

"Jangan bilang kau akan menyuruhku untuk membayar semuanya lagi?!" serumu dibarengi tatapan horror.

"Kalau kau tidak cepat-cepat memesan, mungkin iya," goda Aomine.

Kau meneguk air liurmu dan cepat-cepat memesan. Tidak bisa kau bayangkan dompetmu kembali menipis karenanya.

Tanpa kau sadari, Aomine tertawa kecil melihatmu begitu panik setelah mendengar godaan darinya.

.

.

.

Aomine mengambil ponselnya dan melihat waktu yang tertera di layar.

"Sudah waktunya, ya?"

Kau yang sedang menyesap vanilla milkshake milikmu hikmat menjadi mengubah fokus kepada Aomine, "Waktunya apa?"

Kemudian Aomine merenggangkan kedua tangannya, "Akan kuberitahu nanti."

Kau mengernyitkan dahimu, "Hei serius!"

"Aku juga serius kok."

"Huh," kau putuskan untuk kembali menekuni vanilla milkshakemu ketimbang meladeni Aomine.

Beberapa menit kemudian, Aomine tiba-tiba tersenyum lalu terkekeh.

"Kau kenapa sih?" Kau menatap Aomine sedikit ngeri, siapa juga yang tidak kaget saat keadaan hening tiba-tiba orang yang bersamamu tertawa tanpa alasan jelas.

Aomine menatapmu lalu menepuk-nepuk bagian sofa yang tidak ia tempati, "Duduk di sini."

"Hah?"

"Ayo cepat!"

Kau beringsut cepat dan duduk di sebelahnya, "Ada apa sih?" bisikmu.

"Coba kau lihat itu," Aomine menunjukkan jarinya ke arah meja-meja makan yang ada di tengah restoran.

Namun kau mengalami kesulitan, pandanganmu dihalangi oleh berbagai tanaman buatan dan beberapa pilar penyangga, "Aku tidak bisa melihatnya!" ujarku.

"Bergeser ke arahku," ujar Aomine menanggapi, "Dari sini aku dapat melihatnya jelas."

Kau sudah bergeser namun masih tidak dapat melihat jelas, "Huh! Kau kan tinggi!"

"Kau kurang dekat. Dari situ tentu saja kau masih tidak dapat melihatnya."

Kau melirik ke samping kirimu, ya ampun harus sedekat apa sih? Tanganmu saja sudah hampir menyentuh tangan Aomine.

"Ini sudah dekat!"

Aomine menatapmu tak sabar dan akhirnya menarik dirimu nyaris ke dalam pelukannya.

"Eh, o-oi!"

"Sst," ia mengangkat jari telunjuknya dan didekatkan di depan bibir, "sekarang coba kau lihat."

Kau mengalihkan pandangan ke arah yang tadi ditunjukkan oleh Aomine. Kau menyipitkan matamu untuk melihat lebih jelas.

Eh?

"A-Ah, i-itu kan…" Kau menatap Aomine dengan pandangan tidak percaya dan kembali menatap ke arah tengah restoran.

"Iya, itu mereka," sahut Aomine sambil tersenyum puas.

Kau menganga tidak percaya, "T-tapi…"

"Ambil gambarnya lalu kita keluar dari sini."

.

.

.

Kau menatap layar ponselmu lekat-lekat, masih tidak percaya bahwa itu adalah mereka.

Aomine kemudian menepuk pundakmu sambil terkekeh, "Sebegitu tidak percayakah kau?"

"Tentu saja!" serumu, masih dengan mata yang melekat di layar ponsel, "A-aku tidak menyangka mereka…"

"Sama, kok," sahut Aomine, "Aku juga."

Kau terdiam. Rasanya ada yang aneh dari nada yang dilontarkan oleh Aomine, "Padahal kukira… Kalian berpacaran," ujarmu sambil menatap Aomine.

Aomine memandangmu dengan alis terangkat, "Aku?"

"Hum… iya," jawabmu lamat-lamat, "Aku sering mendengar rumor yang menyatakan kalian begitu dekat."

"Aku dan Momoi itu hanya teman dekat, tidak lebih," jawab Aomine santai.

Kau diam saja. Jelas-jelas tadi ada nada kesedihan dalam nada bicara Aomine.

"Kita ke mana lagi?" tanyamu.

Aomine nyengir, "Kereta gantung."

.

.

.

Waktu berlalu dengan cepat. Rasanya tadi matahari masih membubung tinggi, namun sekarang kau sudah dapat melihat gugusan bintang dengan sangat jelas.

"Kau tidak bisa diam, ya?"

Kau mendelik dengan cepat, "Kenapa sih? Aku kan hanya melihat saja."

Aomine mendengus, "Seindah itukah?"

"Sangat," jawabmu cepat, "Andai saja aku membawa kamera."

"Baguslah jika kau suka."

Kau spontan menatap Aomine yang sekarang sedang ikut-ikutan berdiri di sampingmu dan memandang keluar jendela, "Nee… Aomine…"

"Hm?"

"Untuk hari ini… arigatou."

Kau menatap Aomine malu. Tidak enak rasanya tadi kau membentak-bentak dirinya saat menjemputmu tadi.

"Tidak perlu," sahut Aomine, "aku juga ingin meminta maaf."

"Eh? Untuk apa?" tanyamu sambil memandang kembali taman hiburan, "Kau sudah mengajariku bermain bakset, mentraktirku makan, dan mengajakku ke sini."

Aomine menghela napas, "Memangnya kau pikir tidak meminta maaf setelah tidak sengaja membuat bola mengenai kepala seseorang dan memaksa untuk membayari semua makananmu itu sopan, hah?"

"Ya tapi, kan…"

"Lagipula aku ingin membantumu."

"Huh?"

"Yah," Aomine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "kau sudah berusaha keras untuk mendapatkan artikel yang bagus mengenai Tetsu, namun aku seringkali menghambatmu. Maafkan aku."

Kau diam saja. Tidak yakin harus merespon apa.

"Jadi," Aomine berdeham, "apa yang ingin kau ketahui? Semoga saja aku bisa membantumu."

Kau menatap Aomine lagi, "Kau yakin?"

"Cepat saja."

"Um baiklah," ujarmu, "Kemarin dan dua hari yang lalu mengapa klub basket tidak latihan?"

"Kami latih tanding," jawab Aomine singkat, "jangan bilang kau menunggu Tetsu di gym?"

Kau kemudian terkekeh, "Iya… Mau bagaimana lagi?"

Aomine mendengus, "lalu?"

"Kau tahu darimana rumahku?"

"Momoi."

"Kau tahu darimana bahwa hari ini mereka akan jadian di sini?"

"Tetsu. Ia memberitahuku rencananya."

Kau menatap kaca di depanmu kesal. Oh, jadi itu alasannya mengapa Kuroko terlihat terburu-buru sehabis membeli cokelat di pasar swalayan.

"Em… Bagaimana dengan pesta ulang tahun Kuroko-kun?"

Aomine menatapku, "Maksudmu yang disebut-sebut sebagai 'Pesta yang Tidak Terlihat' itu?"

"I-iya…"

Kemudian Aomine tertawa, "Astaga, mengapa kalian menyebutnya seperti itu?"

"Mana kutahu!" Serumu kesal ditambah Aomine tidak berhenti tertawa, "Ah mou jangan tertawa!"

"Baiklah, baiklah," jawab Aomine pada akhirnya, "itu sebenarnya juga hanya perayaan ulang tahun sederhana yang kami adakan di gym."

"Lalu?" Kau berdebar-debar menanti jawabannya. Kau ingin tahu apa sebabnya disebut seperti itu.

"Lalu seseorang masuk ke dalam gym dan melihat benda-benda seolah-olah sedang ada pesta di situ," jelas Aomine, "Nah orang itu melihat banner bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun, Kuroko!'."

Kau hanya manggut-manggut.

"Tapi tidak ada satu orang pun di sana."

Kau terkejut, "Lantas? Kalian sedang ke mana?"

"Ruang ganti," Aomine tertawa lagi, "Diomeli pelatih karena mengotori gym."

Demi apa? Kau menatap Aomine tidak percaya, "Serius?"

"Iya," jawab Aomine berusaha meyakinkan, "Lalu kami buru-buru membereskan semua benda-benda tersebut lalu bergegas pindah ke rumah Tetsu."

"Dan?"

"Ternyata orang itu masuk ke dalam gym lagi dalam waktu yang relatif singkat sedangkan kami semua sudah tidak ada di sana," Aomine tertawa lagi, "Bagaimana?"

Kau masih memasang ekspresi tidak percaya.

Lalu kau merasa kakimu lemas dan menghempaskan dirimu di bangku yang tersedia di dalam, "Ah ternyata hanya itu…" erangmu, "Oh ya ampun aku kira ini benar-benar menjadi berita yang besar."

Aomine duduk di sebelahmu sambil terkekeh, "Jangan terlalu dipikirkan."

"Bagaimana tidak?!" erangmu lagi, "Huh.. kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?"

"Tidak seru."

Kau menatap tajam wajah Aomine yang terlihat makin mengesalkan saja, "Sudah ah…"

"Hei, tapi setidaknya kau mendapatkan berita besar untuk artikelmu, 'kan?"

"Yeah," jawabmu, "Semua orang pasti akan tercengang mengetahui bahwa mereka telah menjadi sepasang kekasih."

"Aku setuju."

Kau mendesah perlahan, memandang jutaan bintang yang terlihat dan city light di bawahnya. Sekarang kau sedang memikirkan bagaimana caramu menyelesaikan artikel tepat waktu.

"Aomine."

"Hm?"

"Kau menyukai Momoi?"

Hening.

Kau mengusap rambutmu perlahan, "Tidak perlu kau jawab, kok. Lupakan saja."

Hah. Kenapa aku malah menanyakan hal itu? Dasar bodoh, bikin sakit hati saja.

Eh?

Astaga apa yang sedang kupikirkan?

"Bohong apabila aku tidak merasa kehilangan."

Kau menatap Aomine dalam diam, menanti kalimat yang akan terucap berikutnya.

Menanti rasa sakit hati yang akan muncul, kurasa.

"Jadi?"

"Apa?" Aomine malah balas bertanya sambil menatapmu bingung.

Kau memutar bola matamu perlahan, "Yah… Kau sebenarnya menyukainya atau tidak."

Aomine menghela napas panjang, "Sepertinya kau sangat berharap bahwa aku menyukai Momoi, ya?"

Kau terkejut, "E-Eh b-bukan itu!" nah kau menjadi gelagapan, "M-maaf, aku hanya ingin tahu."

"Oh, jadi kau ingin tahu siapa yang kusukai?"

Jackpot. Nah sekarang kau sudah tertangkap basah.

"Ti-tidak juga."

Aomine terkekeh, "Lucu juga melihat seseorang yang memaki-makimu di hari pertama bertemu sekarang malah gelagapan seperti ini."

Kau memalingkan wajahmu memandang keluar sana, menghindari tatapan dari Aomine, "Jangan menggodaku terus, ukh…"

Kau kemudian mengacak rambutmu kesal dan polahmu mengundang tawa dari seseorang yang duduk di belakangmu.

Ahomine sialan.

Kau terus saja memikirkan betapa bodohnya kau dan bagaiman bisa kau menjadi seperti ini.

"(your name)."

Panggilan dari Aomine membuat pikiranmu buyar. Kau terkejut mendapati Aomine memanggilmu dengan namamu, bukan dengan "Hei" atau apapun itu, "Eh? Kau tahu namaku?"

"Tentu saja bodoh," jawab Aomine cepat.

Kau benar-benar tidak menyangka bahwa Aomine mengetahui namamu. Memikirkan hal ini membuat pipimu memanas.

"J-jadi, ada apa?"

Detik berikutnya kau sudah berada di pelukan Aomine. Tangan kanannya mengusap kepalamu lembut dan tangan kirinya dipergunakan untuk mengeratkan pelukannya. Wajahmu yang sekarang sangat terkejut bersandar pada dada bidang milik Aomine.

"People fall in love in mysterious way, (your name)," bisik Aomine tepat di telingamu, "Jadi tolong jangan tanya mengapa aku menyukai dirimu."

"A-Aomine?" kau mendongakkan kepalamu untuk melihat wajah Aomine yang sedang tersenyum kepadamu.

"K-kau—hmph.."

Aomine mengunci bibirmu dengan bibirnya, memaksa kau untuk tidak menyelesaikan kalimatmu. Dan tidak puas hanya memaksamu tidak menyelesaikan perkataanmu, Aomine mendesakmu hingga kau merasa kewalahan.

Pukulan kecil yang kau daratkan pada dadanya pun tidak digubrisnya, malahan ia semakin memperdalam aktivitasnya dan mengeratkan pelukannya.

Akhirnya ia mengakhiri ciuman panjang tersebut dan membiarkan kau mengisi paru-parumu dengan udara sebanyak mungkin.

"K-kau i-ngin membunuhku, hh…" ujarmu sambil terengah-engah, entah mengapa ciuman tadi menyedot habis energimu dan membuatmu kembali menyandarkan kepalamu di dadanya.

"Ho? Tapi tadi kau lumayan, kok," bisik Aomine jahil, "Sepertinya kau sangat menikmatinya, ya?"

Wajahmu menjadi merah padam sembari memukul punggung Aomine pelan, dan membuat pemuda itu tertawa.

"Nee… Aomine…"

"Hm?"

"Kau mencuri ciuman pertamaku."

"Kau juga mendapatkan ciuman pertamaku, (your name)."

Kau memukul punggung Aomine sekali lagi, "Nee… iro iro arigatou, na…"

Aomine mengacak rambutmu pelan kemudian mengecup dahimu lembut, "Nah sepertinya kita sudah harus pulang jika tidak ingin tertinggal kereta."

.

.

.


EPILOG~


Hari ini adalah hari penentuan apakah benar artikel yang kau sudah kirimkan melalui e-mail kepada Riko kemarin benar-benar akan dimuat.

Di sepanjang koridor sekolah kau hanya berpikir bagaimana nasibmu, apakah pembaca menyukainya, ataukah tidak jadi di publikasikan, atau bagaimana—ARGH!

Situasi di dalam kelasmu ribut. Hal ini malah membuatmu semakin berkeringat dingin.

Akhirnya kau membuka pintu kelasmu dengan gerakan patah-patah, "O-Ohayou…"

Seketika kelasmu menjadi hening dan mereka semua memandang ke arahmu, "E-Eh ada apa ya?"

"(your name)!"

"Selamat!"

Ha?!

Kau memandang dengan tampang cengo satu persatu temanmu, "Hei kalian kenapa sih?"

"Aduh! Tidak usah malu-malu begitu deh," salah seorang temanmu menyikutmu di pinggang sembari membawa koran sekolah, "Baca deh."

Ternyata yang ditunjukkan oleh temanmu adalah kolom idola. Kau dengan cermat membaca baris per baris yang tertera di sana.

"Semuanya normal, kok," katamu. Di sini tertulis persis seperti artikel yang kau kirimkan ke Riko, "Nee, apa yang salah?"

"Duh!" temanmu menggerutu, "lihat baik-baik dong dua paragraf yang terakhir!" Kau hanya menurut dan…

Apa?!

Tertulis di sana bahwa kau telah jadian dengan Aomine Daiki. Lengkap dengan momen bahwa kau bergandengan tangan dengan Aomine saat di taman hiburan.

Detik berikutnya, kau merasa bahwa sepertinya kau terkena serangan jantung tiba-tiba.

.

.

Sudah tahu 'kan itu tabiat siapa?


END~


A/N Tsukki : Huwoo! Akhirnya bisa apdet-ssu! Pokoknya happy birthday untuk Kuroko tercintaku ;;3 maafkan daku ini bisa telat 22 hari lamanya hehehe xD

Okeh untuk reviewers, terima kasih banyak! Kami seneng banget menerimanya x3 akan dibalas lewat PM yah! Untuk yang telah mem-fav dan mem-follow, juga arigatou! x3 Semoga chap ini memuaskan, ya! Setelah sebulan lebih tidak apdet huhu.

Oh iya, untuk apdet berikutnya, seperti biasa gatau kapan apdet dan siapa pairingnya. Kami mulai sibuk sama ujian-ujian nih :'(

Nah, akhir kata, semoga kalian menikmati~