WARNING: TYPO, ALUR YANG BOSAN, KATA-KATA TIDAK MENARIK DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA. FLAME? BOLEH! ASAL BERMANFAAT, OKAY? :)

.

.

Autumn In My Heart

by AishaMath

Summary :

"Nak Sasuke, bolehkah aku menitipkan anakku padamu beberapa waktu? Ia harus melihat betapa berwarnanya dunia ini meskipun kadang terasa tak adil."

.

.

"Ya, jadi begitu lah, Nak. Kulihat kondisi psikis Sakura belum pulih sepenuhnya. Jadi aku memutuskan agar dia lebih fokus pada proyek kita dari pada bekerja di rumah sakit. Kuharap itu akan membuatnya lupa dengan ketraumaannya."

"Bukankah harusnya dia lebih menghadapi masalahnya? Dibandingkan harus melarikan diri seperti ini,"

"Hahaha, itu benar. Tapi kuanggap ini bukanlah suatu pelarian diri. Melainkan agar pandanganya lebih luas terhadap hidup ini. Anak itu... waktu mudanya terlalu banyak dihabiskan untuk hal yang serius. Aku ingin sesekali ia bisa menghirup udara segar di luar sana. Menghabiskan waktu mudanya layaknya wanita normal. Dengan begitu, ia akan lebih paham bahwa dunia ini luas, tidak sempit seperti rumah sakit ini." Dokter Haruno menghela nafasnya.

Sasuke menatap dalam-dalam lekaki di hadapannya. Ia tahu betul kekhawatiran dan kecemasan yang tergambar jelas di raut muka dokter itu.

"...Nak Sasuke," panggil Dokter Haruno. Sasuke terkesiap.

"Bolehkah aku menitipkan anakku padamu beberapa waktu? Bawalah ia kemana pun kau bisa meskipun saat itu kau sedang tidak membutuhkannya. Ajarilah ia sedikit tentang bisnis, dan ajaklah ia bergabung meskipun ia tidak memiliki kemampuan di bidang itu. Anakku harus bisa melihat betapa berwarnanya dunia ini meskipun kadang terasa tak adil," lanjut dokter Haruno.

.

.

Perkataan dokter Haruno terngiang dalam ingatan Sasuke. Ia melamun sambil sesekali menggoyangkan ayunan yang didudukinya dengan pelan. Membuat wanita cantik yang duduk di sebelahnya sedikit bingung.

"Ano..." panggil wanita di sebelahnya.

Lamunan Sasuke buyar. "Ah, gomen. Aku melamun," katanya.

"Tidak apa. Sepertinya menjadi menjadi seorang presdir itu benar-benar menguras pikiran ya," ledek Sakura sambil tertawa kecil.

"Ahaha! Ne, kau meledekku?" Sasuke ikut tertawa. Sepertinya tadi ia menunjukkan wajah yang begitu serius hingga membuat teman bicara meledeknya.

"Mana mungkin aku berani meledek seorang presdir? Apalagi yang satu proyek denganku," Sakura bertingkah seolah-olah ia tidak bersalah. Meskipun begitu, ia tersenyum.

"Ahahah!" Sasuke tidak sanggup menahan tawanya. Ia sedikit malu, geli, dan lucu.

Tapi entah kenapa, dan entah sejak kapan mereka berdua jadi leluasa berbicara. Seperti sudah kenal begitu lama. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat di bandara. Saat itu Sasuke terkejut dan agak cemburu karena wanita yang ia taksir ternyata adalah wanita yang dilamar sahabatnya. Dan saat itu Sakura sedikit deg-degan karena bertemu dengan seorang Sasuke Uchiha yang pertama kali membuat hatinya bergetar hanya dengan sekali pandang, sekaligus mengkhawatirkan keberangkatan tim Dokter Gaara ke Palestina. Sebenarnya Sakura sendiri bingung dengan suasana romansa dalam hatinya.

"Ne, Dokter Sakura," panggil Sasuke. Hatinya bergetar memanggil nama itu.

"Hm?" Sakura menoleh.

Sasuke diam sejenak mempertimbangkan keinginan ayah Sakura untuk memfokuskannya ke proyek mereka.

"Um... apa kau bersedia untuk lebih fokus ke proyek ini?" tanya Sasuke ragu.

"Maksudnya lebih fokus?"

"begini," Sasuke membetulkan duduknya, "...kira-kira apa kau keberatan untuk libur beberapa waktu dari pekerjaanmu di rumah sakit ini dan fokus untuk menyelesaikan proyek kita dengan cepat?" lanjutnya.

Sakura diam sejenak mendengar pertanyaan itu. Sasuke tahu tentu saja tidak mudah bagi seorang dokter ahli seperti Sakura yang memang merasa hidup saat di rumah sakit. Ia juga khawatir Sakura akan seperti ikan yang keluar dari aquariumnya. Namun ini semua demi memenuhi permintaan ayah Sakura sendiri.

"Apakah... pekerjaanku di rumah sakit ini mengganggu proyek kita? Aku bisa jamin akan tetap fokus pada proyek ini meskipun aku juga bekerja di sini. Bagiku, rumah sakit itu seperti aquarium bagi ikan-ikan," jawab Sakura tersenyum di akhir kalimatnya.

Sasuke terlonjak mendengar perkataan akhir Sakura. "Aquarium bagi ikan-ikan? Bukankah tadi aku juga berumpama seperti itu?" batinnya.

"Oh, begitu ya. Tapi jika kau seekor ikan, apa kau tak mau mencoba hidup di lautan bebas? Mungkinkah kau akan menghabiskan waktu hidupmu hanya di aquarium saja? Di dalam lautan sana, kau akan melihat betapa indahnya sebuah laut. Kau juga akan bertemu dengan bermacam-macam spesies ikan yang bisa menjadi temanmu ataupun musuhmu. Saat kau memiliki teman baru, bisa jadi kau akan bahagia. Saat bertemu musuh, kau akan bertambah kuat jika kau tidak menyerah. Apakah dokter Sakura tidak mau mencoba hidup yang seperti itu?" Sasuke belum menyerah untuk membuat dokter di hadapannya luluh.

Sakura tertegun. Kalimat-kalimat Sasuke seolah-olah menampar hatinya agar bangun dan tidak terus-terusan berada dalam zona nyaman. Sakura terdiam agak lama. Ia terharu sekaligus kagum dengan pria di sampingnya. Kalimat yang terucap dari mulut seseorang merupakan cerminan hati. Dengan Kalimat tadi membuat Sakura yakin pria di sampingnya merupakan seorang yang tangguh. Tidak heran bila di usia muda seperti ini ia sudah menjadi salah satu presiden direktur di perusahaan raksasa Jepang. Sakura merasa malu dengan dirinya sendiri.

"Um... dokter Sakura, aku tidak bermaksud memaksamu. Maafkan aku." Sasuke merasa tidak enak.

"Ah, tidak!" kata Sakura cepat. "Kau benar. Harusnya aku mencoba hal-hal yang baru. Karena manfaatnya juga tidak kalah baik." lanjut Sakura tersenyum. "Bisakah kau beri aku waktu selama 2 hari? Untuk mempersiapkan diriku matang-matang," pinta Sakura.

Sasuke nyaris tidak percaya. Namun ia lega akhirnya mampu membujuk hati dokter di depannya ini. "Baiklah. Aku senang mendengarnya," katanya tersenyum.

.

.

Di sudut kafe itu, terlihat dua orang wanita cantik sedang duduk berhadapan. Wanita yang satu sedang asyik menyeruput secangkir coklat panas di hadapannya. Dan yang satunya lagi hanya diam sambil melemparkan pandangan keluar. Membuat wanita di depannya sedikit sebal dengan sikapnya yang cuek.

"Kau mengajakku ke mari hanya untuk menemanimu melamun? Hn?" tanya wanita yang tadi menyeruput secangkir coklat panas. Membuat wanita di depannya yang berdiam diri itu segera menoleh padanya.

"Ah, gomen, Ino." katanya. Kemudian mengambil segelas jus di depannya dan meminumnya beberapa teguk. Menghiraukan sedotan yang tercelup manis di gelasnya.

Wanita yang bernama Ino itu mendesah. "Ternyata dokter Sakura itu sama saja ya dengan yang lain," ledeknya. Wanita yang dipanggil "dokter Sakura" itu hanya diam sambil kembali meneguk jusnya. "Ne, sepertinya patah hatimu begitu dalam ya, Sakura." katanya sambil menatap serius dokter cantik di depannya.

"Entahlah..." kata dokter itu mendesah. "Aku juga tidak tahu apa yang hatiku rasakan sekarang," lanjutnya.

Wanita bernama Ino itu menyilangkan tangan di dadanya. "Oke, aku mengerti. Tidak salah kau mengajakku untuk menemanimu di sini. Karena kau memang sedang butuh seorang psikologi sepertiku," katanya percaya diri. Kemudian ia meneliti raut wajah dokter di depannya yang sekaligus merupakan sahabatnya. "Sekarang, ceritakan semua perasaanmu padaku sekarang. Semuanya." katanya lembut namun memaksa.

Sahabatnya yang bernama Sakura itu menatapnya sebentar. Kemudian menarik napasnya dalam-dalam, berusaha membuat aliran darahnya mengalir normal. "Ino, kau tahu kan aku ini wanita seperti apa?" katanya kemudian.

Ino mengangguk. "Ya. Kau seorang wanita langka dengan segudang karirmu," katanya.

"Aku pikir juga begitu. Tapi seperti perkataanmu tadi, aku itu ternyata sama dengan wanita lain." kata Sakura. Ino masih diam, membiarkan sahabatnya mencurahkan segala isi hatinya.

"Aku pikir aku tidak akan pernah merasakan "suka" atau "cinta" pada seorang lelaki. Menurutku itu perasaan tidak berguna yang menghalangi banyak wanita untuk fokus pada karirnya. Tapi... tepat setelah aku menyelesaikan program spesialisku dan setelah orang tuaku mengungkit masalah pernikahan, semuanya berubah." Sakura sedikit gemetaran karena mengingat kejadian yang menimpanya.

"...Semuanya berawal dari kejadian itu. Waktu itu setelah pengumuman kelulusanku ayahku tidak sengaja hampir menabrak seorang anak kecil di tengah jalan. Tapi ada seorang lelaki yang cepat meraih anak itu. Dan syukurlah dia selamat. Saat itu aku tidak berniat sedikit pun mengetahui siapa lelaki itu, tapi entah kenapa wajahku seperti bergerak sendiri dan bola mataku dengan berani melihat wajahnya." Sakura mempraktikkan kejadian itu dengan antusias. Membuat psikolog cantik di depannya tersenyum geli.

"...Dan kau tahu, dia juga melihatku. Baru pertama kalinya, dan secara tidak sengaja, aku bertatapan dengan seorang lelaki yang membuat jantungku berdebar-debar. Seperti ini, loop-dup-loop-dup-loop-dup-loop-dup!" tangan Sakura memperagakan jantungnya yang kembang kempis dengan cepat. Ino, mau tidak mau menutup mulutnya karena geli.

"Ino, aku salah tingkah seperti dirimu saat kau berhadapan dengan senior Sai saat SMA dulu!" Sakura makin antusias. Perkataannya sukses membuat pipi Ino bersemu merah.

"Rasanya saat itu aku ingin menggenggam jantungku agar berhenti bergetar tak menentu. Tapi setelah aku tahu siapa lelaki itu jantungku seperti mau meledak karena aku begitu senang. Dan aku terkagum-kagum padanya meskipun aku hanya melihatnya di TV."

Ino mengernyitkan dahinya. "Kau menyukai... artis?" tanyanya menduga-duga."

"Dia bukanlah artis di dunia hiburan. Tapi dia adalah artis di dunia bisnis." kata Sakura tersenyum kagum. Ino menebak-nebak siapa lelaki yang dimaksud Sakura. Tiba-tiba matanya melebar sempurna.

Sakura tersenyum, "Putra terakhir Uchiha Group!" kata mereka bersamaan. Ino menutup mulutnya yang menganga. "Oh, kami-sama!" serunya tak percaya.

"Tapi, Ino!" kata Sakura mengagetkan Ino. "Saat itu juga ada seorang lagi yang membuat jantungku juga berdesir." Ino kembali antusias mendengarkan.

"Setelah kejadian itu aku mengantarkan anak kecil itu ke rumahnya. Dia tinggal di Uchiha Boarding School. Saat itu pengurus asrama mereka bercerita bawa anak itu sudah ditinggal pergi orang tuanya. Tapi ada seorang lelaki yang menganggapnya seperti anak sendiri. Anak itu menyebutnya dengan sebutan "Papa". Dan kau tahu?" Sakura menatap mata Ino serius. Membuat yang ditatap menjadi semakin penasaran.

"...lelaki yang dipanggil "Papa" itu adalah lelaki... yang aku katakan padamu adalah sosok lelaki impianku." Sakura terlihat senang sekaligus galau. Ino kembali menutup mulutnya sambil menunggu kelanjutan cerita Sakura.

"Dia seorang dokter genius yang baru saja selesai mengambil subspesialis bedah anak di Jerman. Dia tidak kalah tampan dengan putra Uchiha Group. Dan juga kharismatik. Ia terkenal begitu ramah pada anak-anak. Saat ia permisi pulang, lagi-lagi, hanya karena terkejut mendengar klakson mobilnya mataku tidak sengaja menatapnya. Sialnya, dia juga menatapku. Ino, aku kembali berdebar-debar." ujar Sakura tak percaya.

"Selanjutnya, pertemuanku dengannya lebih sering terjadi. Kami melakukan operasi lambung bersama. Ino, dokter itu keren sekali!" Sakura berdecak kagum.

"Dia benar-benar genius. Aku juga sempat bertukar pikiran dengannya tentang dokter hebat dan baik itu seperti apa. Dia itu... benar-benar lelaki yang aku khayalkan selama ini. Beberapa hari berikutnya ia datang lagi ke rumah sakitku. Dan kau tahu... sebelum ia pulang ia menyatakan perasaannya padaku. Ino, dia melamarku! Tapi aku diam saja. Aku tidak tahu harus bagaimana saat itu." Suara Sakura sedikit meninggi. Sedangkan Ino masih serius mendengarkan.

"Aku galau. Aku masih memikirkan putra Uchiha Group yang kutemui itu. Aku tahu itu konyol. Aku bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Lelaki itu bahkan mungkin sudah melupakanku dan bahkan ia tak tahu namaku. Tapi begitulah yang aku rasakan." Hati Sakura berkecamuk mengingat kegalauannya.

"...tapi ketika dokter genius itu ke Palestina bersama utusan yang lain, tiba-tiba saja aku merindukannya. Aku juga cemas dengan kepergiannya. Entah kenapa hatiku jadi mantap menerimanya. Tapi... tidak berapa lama setelah itu dia pergi meninggalkanku dan semua yang mencintainya." Mata Sakura berkaca-kaca.

"Dia tertembak pistol dan pelurunya mengenai organ vitalnya. Saat ia dilarikan ke rumah sakit milikku, langit seakan runtuh di atas kepalaku. Saat itu aku blank dan tidak bisa berpikir apa-apa. Aku tidak bisa memberikan penanganan genius seperti yang dokter itu lakukan. Aku hanya pasrah karena tahu harapan hidupnya tinggal secuil. Padahal kalau aku lebih berusaha mungkin aku bisa membuat jantungnya sedikit lebih terpaju lagi. Tapi aku menyerah Ino..." Suara Sakura parau. Air matanya menetes tanpa disadarinya. Ino terenyuh melihat sahabatnya itu.

"...Aku, untuk pertama kalinya kehilangan pasienku. Semua itu karena kesalahanku. Aku merasa gagal menjadi seorang dokter. Tiap kali aku bertemu pasien, aku jadi takut. Aku ketakutan luar biasa... apa yang harus kulakukan?" Kepala Sakura bertumpu pada genggaman tanganya. Ia terisak.

Ino segera mendekati Sakura dan dan memeluknya erat. Ia tahu. Ia tahu perasaan sahabatnya ini. Kebanyakan dokter akan trauma saat pertama kali kehilangan pasiennya. Apa lagi jika pasien itu orang berharga baginya.

"Aku tahu perasaanmu, Sakura. Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Hargai dirimu sendiri. Itu terjadi karena kehendak Tuhan. Kau hanyalah seorang dokter, dan kau bukan Tuhan!" tegas Ino. Sakura terkesiap.

"...jangan terlena dengan pujian orang-orang padamu. Hingga membuatmu lupa bahwa kau hanyalah manusia biasa." lanjutnya. Ia melepaskan pelukannya. Menatap Sakura yang tertegun dengan perkataannya.

"Aku hanya seorang dokter dan manusia biasa..." lirihnya. Sepertinya kalimat itu sedikit menyadarkannya.

Ino mengangguk. "Ya, kita semua hanyalah manusia biasa. Yang punya segudang kelemahan. Karena itu, berusahalah untuk menerima kelemahan itu. Banyak hal yang memang di luar jangkauan manusia," kata Ino. Tangannya mengusap air mata Sakura.

Sakura tertegun agak lama. Ada rasa tenang yang mengalir lembut dalam hatinya. Gumpalan batu yang menyumbat hatinya perlahan sirna. Sebenarnya ia hanya butuh dukungan dan kepercayaan kembali atas kegagalannya.

"Ne, sekarang bagaimana perasaanmu?" tanya Ino lembut. Tangannya menggenggam tangan Sakura.

Sakura perlahan tersenyum. "Ino, hatiku terasa ringan." katanya.

Ino ikut tersenyum. "Syukurlah. Ingat, jangan pernah menyalahkan dirimu sepenuhnya. Terimalah kalau itu memang menjadi kelemahanmu," nasihat Ino.

Sakura menunduk. "Kau benar. Mungkin aku lebih sering menghargai perkataan orang dari lain dari pada diriku sendiri," katanya lirih.

"Belum terlambat untuk meminta maaf pada dirimu," kata Ino menenangkan.

"Ya..." Sakura memeluk Ino. "Terima kasih, Ino." lirihnya pada sahabatnya itu.

Adegan curhat kedua insan itu ternyata berlangsung cukup lama tanpa mereka sadari. Sehingga memaksa mereka untuk kembali karena jam tayangnya masing-masing. Sebelum Ino memasuki mobilnya, Sakura menahannya sebentar karena masih ada yang mengganjal di hatinya.

"Ino," panggilnya.

Ino menoleh dan menutup kembali pintu mobilnya. "Ya, ada apa nona muda?" tanyanya ramah.

"Sejujurnya, rasa sedihku karena takut berjumpa pasien lebih besar dari pada kesedihanku atas kepergian Gaara. Apa aku... tidak serius menaruh perasaan padanya? Tapi benar aku merasa kehilangannya. Hanya saja kehilangan pasien terasa lebih menakutkan. Dan aku juga... masih menyimpan rasa pada putra Uchiha itu." ujar Sakura.

Ino tersenyum. Tahu bahwa Sakura meragukan perasaannya pada Gaara. "Sakura, mungkin kau merasa sudah jatuh hati pada dua orang pemuda itu sekaligus. Tapi ingat, suka dan cinta itu berbeda. Jika kau menyukai sesuatu kau akan berusaha untuk memilikinya, beda halnya dengan mencintai. Kalau kau sudah mencintai sesuatu kau akan terus menjaganya dan berusaha membuatnya bahagia meskipun kau terluka." ujar Ino.

"...Kau tidak perlu merasa bersalah. Terkadang kita butuh waktu untuk memahami hati kita sendiri. Semua ada hikmahnya, Sakura." lanjutnya lagi.

Sakura terpana. Kata-kata Ino terdengar begitu indah di telinganya dan membawa kedamaian di hatinya. "Ino... terima kasih banyak," katanya terharu. Tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihnya.

"Sama-sama, Sakura. Berjanjilah padaku untuk tidak lagi menyalahkan dirimu sepenuhnya." kata Ino tersenyum.

"Hn. Aku akan berusaha menepati janjiku," kata Sakura yakin.

"Good! Kalau begitu aku kembali ya, sepertinya Sai sudah menungguku." kata Ino riang.

"Hn. Hati-hati, Ino!" seru Sakura.

Ino memasuki mobilnya. Kemudian membuka kaca jendela dan melambaikan tangannya pada Sakura. "Sampai jumpa lagi ya. Kalau ada apa-apa katakan padaku yaa!" ia berteriak sambil melaju.

Sakura tertawa kecil. "Dasar Ino! Demo... arigatou ne!"

.

.

Dua hari ternyata terasa lama sekali bagi Sasuke. Lama waktu yang diberikan Sakura itu membuatnya resah. Takut jika dokter yang membuat jantungnya berdesir itu berubah pikiran. Hari ini tepat dua hari. Mulai dari bangun tidur sampai saat ia sedang memakaikan dasinya ini pikirannya masih resah. Matanya melirik handphone berkali-kali. "Sial, kenapa aku susah sekali memakai dasi ini!" kesal Sasuke dalam hati. Yang sejak tadi melipat dan membongkar kembali dasinya. Tiba-tiba matanya menajam melihat handphonenya bergetar. Hanya keluarga dan pelayan pribadinya lah yang tahu nomor pribadinya. Gaara juga. Dan... seorang wanita yang dianggap spesial baginya. Jadi ia bisa menebak-nebak siapa yang menghubunginya.

Sasuke meraih handphonenya. "Siapa?" jantungnya berdegub penasaran. "Aku harap ini dari dia," Sasuke membuka layar kunci. Saat tahu siapa yang mengirim pesan padanya, rasanya ia ingin lompat!

"Ohayou. Suminasai, Sasuke-sama. Aku memutuskan untuk libur dari rumah sakit sampai keperluanku pada proyek ini selesai. (Sakura Haruno)."

Sasuke tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan kegembiraannya saat membaca pesan itu. Wajahnya sumringah. Pikirannya melayang. Segera dirapikan kembali dasinya yang ternyata cukup mudah. Sepertinya karena begitu memikirkan Sakura sampa ia tidak berkonsentrasi memakai dasi. Setelah melihat dirinya cukup tampan di depan cermin ia meraih handphonenya kembali dan membalas pesan Sakura. Kemudian beranjak keluar hendak membawa dokter itu ke luar dari aquariumnya dan bermain di lautan bebas−kira-kira seperti itulah khayalan mereka.

Di dalam mobil itu Sasuke begitu canggung. Ia duduk di sebelah pelayan pribadinya di depan, Pak Teuchi. Di belakangnya Sakura asyik berbincang dengan teman barunya yang merupakan sekretaris pribadi Sasuke. Shizune namanya. Ia sengaja membawanya untuk menemani dan membantu Sakura menangani proyek mereka.

"Apa setelah ini kita langsung mengadakan rapat?" tanya Sakura.

"Kita rapat siang nanti. Apa kau keberatan kalau aku mengajakmu ke Uchiha Boarding School sebentar?" tanya Sasuke.

"Tidak masalah. Ke mana saja boleh asal aku tidak merepotkan," jawab Sakura tersenyum.

"Hn." angguk Sasuke singkat. Padahal hatinya cukup jelas berkata, "Kau justru membuatku senang!"

Mereka sampai di sekolah asrama Uchiha yang luas. Sakura, Sasuke, masuk ke gedung ditemani Shizune. Di sana mereka langsung bertemu Ayame, sang pengawas asrama. Dan di sambut antusias olehnya. Bel berbunyi. Anak-anak berhamburan ke luar dari kelas mereka.

"Selamat datang, Sasuke-sama, Sakura dan Shizune-san. Senang bertemu kalian." sambut Ayame.

"Senang juga bisa bertemu denganmu kembali, nona Ayame." balas Sakura ramah.

"Sepertinya anak-anak sedang istirahat ya," kata Sasuke.

"Benar. Naruto juga sepertinya sedang bermain. Meskipun tidak seceria dulu," kata Ayame. Ada rasa sedih di akhir kalimatnya.

"Kalau begitu kami akan melihat-lihat mereka dulu. Sekalian bertemu Naruto," kata Sasuke. Ayame mempersilahkan. Kemudian ketiganya mengikuti Sasuke menyusuri ruang-ruang kelas.

Sakura terpana sejenak melihat suasana sekolah ini. Ruangan kelasnya begitu indah. Mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Kelas-kelas mereka begitu unik. Dan di dalamnya terdapat elektronik canggih. Setiap kelas memeliki ukiran dinding yang berbeda-beda. Elit. Itu kata yang cocok untuk mendeskripsikan sekolah asrama ini dengan singkat.

"Sakura," panggil Sasuke.

"Hm?" Sakura menoleh.

"Benarkah kau tidak keberatan untuk berlibur sebentar dari pasien-pasienmu?"

Sakura diam sejenak. "Mungkin aku butuh sedikit udara segar sebelum kembali kepada mereka. Sepertinya aku juga masih trauma karena kehilangan pasienku," ujarnya.

Sasuke bergetar hebat. Ingatannya melayang pada sahabat yang disayanginya itu, Gaara. "Aku mengerti. Kau kehilangan orang yang berharga bagimu dan sekaligus pasienmu. Pasti berat sekali." katanya. Aura duka menyeruak ke hatinya.

"Mungkin rasa sedihku tidak seberapa dibandingkan denganmu. Kau kehilangan orang yang sedari dulu berharga untukmu. Bagaimana pun aku baru baru mengenal Gaara beberapa hari. Dan saat aku kehilangan pasienku itu aku trauma berlebihan hingga aku takut, bahkan memegang stetoskopku sendiri." Tangan Sakura bergetar.

"Ya, aku benar-benar kehilangannya. Dia bukan hanya sahabat, tapi juga saudara bagiku. Dia orang yang mengubahku. Kami kenal sejak kecil. Awalnya kami hanya berteman karena kebutuhan akademis di sekolah. Gaara pintar seperti yang kau tahu. Tapi lama-kelamaan dia menjadi sosok yang begitu nyaman bagiku."

"Dulu aku tidak suka keluargaku. Mereka sibuk dengan bisnis hingga membuatku kesepian. Gaaralah yang selalu setia dan menghiburku. Pertama kali aku membawanya ke tempat ini dia tidak ingin pulang. Dia menangis melihat anak-anak tidak beruntung di sini. Saat itu aku bahkan tidak peduli pada keluargaku apalagi anak-anak di sini. Tapi dia tidak menyerah untuk membuatku peduli. Dia selalu berkata "Bersyukurlah atas keberuntungan yang kau miliki."

"Aku tidak mengerti dengan keberuntungan yang dia maksud. Aku merasa sama sekali tidak beruntung. Tapi dia terus membuka hatiku. Sampai aku menyadari begitu banyak kelebihanku dibandingkan mereka. Aku memiliki semua yang tidak anak-anak ini miliki. Sejak itu aku bertekad untuk berbagi kebahagiaan yang aku punya. Dan aku mengikuti alur bisnis keluargaku yang ternyata, mereka sudah memiliki tekad ini dari dulu. Kupikir visi "untuk berbagi kesejahteraan bersama" hanyalah cara perusahaan kami memikat hati konsumen. Tapi aku salah. Apalagi sejak mengetahui bahwa sebagian keuntungan perusahaan adalah untuk kepentingan sekolah ini. Juga untuk membantu ribuan orang tak beruntung di dunia."

Sakura terkesima mendengar cerita Sasuke. Demikian juga Shizune meskipun ia sudah tahu cerita itu. "Oh, luar biasa! Mulia sekali! Aku benar-benar beruntung dipertemukan dengan orang-orang seperti kalian!" serunya takjub.

Sasuke tersenyum. "Kau juga luar biasa. Karena itu jangan sia-siakan kekuatanmu. Di luar sana ada ribuan orang yang membutuhkanmu." kata Sasuke.

Sakura tersadar dengan kalimat Sasuke. Ia membenarkan kalimat itu. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya atas ketraumaan dan ketakutannya. "Kau benar," katanya tersenyum.

"Setelah kepergiaan Gaara, tiap kali aku merasa kehilangan aku selalu berkunjung ke mari. Mungkin aku hanya kehilangan satu saudara, tapi anak-anak ini, mereka bahkan kehilangan seluruh keluarga mereka. Meskipun begitu, mereka tetap senang tinggal bersama teman-teman baru mereka di sini. Tempat ini mengajarkanku ada banyak sekali orang yang penderitaannya lebih berat dari kita." kata Sasuke sambil terus mengamati anak-anak di sekolah itu. Beberapa dari mereka memberinya sapa dan ucapan salam.

Sakura tertunduk malu mendengar perkataan Sasuke. "Harusnya... aku menyadari ini dari awal." lirihnya.

Sasuke melihat Sakura yang menyesal. "Kau sudah sadar sekarang. Lakukanlah yang terbaik sebagai hukuman atas penyesalanmu," katanya tersenyum. Tampan sekali.

Sakura menatap Sasuke. Jantungnya berdesir. "Dengan senang hati aku akan menjalankan hukumanku," katanya mantap. Ditambah dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Membuat pangeran Uchiha di sampingnya, ikut berdesir.

.

.

To be continued

Gak nyangka udah setahun lebih ninggalin fanfic ini. Nggak tahu deh apa ceritanya nyambung atau nggak. T_T

Mohon masukannnya, Minna-san. Arigatou. ^_^