A/N : Hai minna! Schnee di sini! Buat yang males mampir ke profil kami, silakan baca A/N ini hehe. Jadi di akun La Fleur de Neige ini ada dua author yaitu Tsukikka Fleur dan Schnee-Neige. Kami buat ceritanya bergantian per-chapter, dan kali ini giliran Schnee yang nulis :3 Oh iya kami tidak bilang kalau kami menerima request tapi chapter ini datang idenya berkat request Mell Hinaga Kuran ^^. Terima kasih! Selamat menikmati~

.

.

.

.

.


Warning :

Readers!Chara—AU!TeikouHighschool—Maybe a bit OOC demi kepentingan fanservice—maybe typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Balasan Review no account di bawah A/N di akhir cerita!


.

.

.

.

.

"Onii-chan! Onee-chan! Tunggu aku!"

Seorang gadis dan pemuda berusia tiga belas tahun menoleh ke arah suara yang memanggil mereka berdua. Sang pemuda tersenyum melihat sang pemilik suara. Sang gadis menahan geli melihat sang pemilik suara yang sedang mengejar mereka.

"Sudah kelas enam tapi masih memakai panggilan begitu? Duh, kapan sih kamu dewasa?" Sindir sang gadis dengan nada jenaka.

Sang pemilik suara merengut. "Ugh, aku kan hanya memanggil begitu kepada Riko onee-chan dan Teppei onii-chan saja!"

Sang pemuda mengelus puncak kepala sang pemilik suara. "Iya, iya. Biarlah si kecil ini tetap punya sisi manis, Riko."

"Hehehe..." Sang pemilik suara terkekeh kesenangan ketika tangan besar sang pemuda membelai surai hitam lebatnya. "Tapi, aku bukan anak kecil, Onii-chan! Kita kan cuma beda satu tahun, huh! Sombong sekali! Mentang-mentang sebentar lagi pakai seragam SMP!"

Sang gadis dan sang pemuda yang dipanggil Riko dan Teppei itu saling memandang, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, jadi kamu iri sama seragam SMP kita?" Tanya Riko tak percaya. "Kamu benar-benar anak kecil!"

Wajah sang pemilik suara sontak memerah karena malu. "Te.. tentu saja tidak! Aku hanya suka seragam SMP kalian, itu saja! Tinggal satu tahun kok, huh, aku kan bisa bersabar." Bantahnya.

Melihat gelagat itu, lagi-lagi Teppei membelaimu lagi. "Baiklah, nanti aku akan jadi orang pertama yang melihatmu berseragam SMP ini!"

Sang pemilik suara tersenyum.

.

.

.

.

.


Kuroko no Dating Simulation :

Love Report!

Kiyoshi Teppei x Readers!


.

.

.

.

.

Lalu kamu terbangun.

Sosok 'Riko onee-chan' dan 'Teppei onii-chan' seketika hilang dari pandanganmu. Yang ada malah sebuah ponsel pintar yang bergetar di atas ranjangmu dan sayup-sayup meneriakkan nada dering alarm sejak setengah jam yang lalu. Menyadari digit angka yang tercetak di ponsel itu, kedua matamu yang berpendar sayu mendadak bagai tersengat listrik beberapa volt.

"YA TUHAN, AKU NYARIS TERLAMBAAAT!"

Setelah berteriak kolosal, kau pun berlalu ke kamar mandi dan mandi koboi. Secepat mungkin bersiap-siap sambil curi-curi menghirup aroma sarapan pagi yang untungnya belum dingin. Lalu turun dari kamarmu di lantai dua sambil menenteng tas dan sweater yang belum sempat kau pakai. Akhirnya duduk di depan meja makan dengan sup makaroni yang masih mengepul hangat.

Siap sarapan.

"Itadaki—what?"

Seorang gadis bersurai cokelat pendek tersenyum di hadapanmu seraya bertopang dagu.

"Sarapan paginya bisa cepat? Setengah jam lagi kita masuk dan perjalanan butuh waktu lima belas menit, kan?" Tegurnya sedikit bernada absolut. Ah, itu Aida Riko. Seniormu di klub surat kabar Teikou High School, sekaligus teman masa kecilmu. Tinggal di komplek sebelah namun hanya berbeda sepuluh rumah. Lalu, kenapa tiba-tiba dia bisa ada di meja makanmu dan menyeruput susu hangat dengan santai?

Ibumu datang membawa segelas kopi hitam. "Ara ara, Kamu sudah ditunggu Riko-chan, (your name). Ayo cepat selesaikan sarapanmu supaya tidak terlambat."

Tanpa menunggu perintah lain lagi, mau tak mau kamu pun menghabiskan semangkuk sup makaroni yang mulai menghangat itu kurang dari tiga menit. Setelahnya, kau pun meminum susu yang sama seperti diminum Riko yang disediakan di samping mangkuk supmu.

"Ada sisa susu tuh, di bibirmu." Tunjuk Riko. "Haaah... Tidak berubah ya. Kamu ini."

Dengan cepat kau usap bekas susu itu. "Tidak usah diingatkan juga akan kuusap kok! Hu uh." Gerutumu sambil memakai sweatermu.

Riko tertawa pelan mendengarnya. Setelah kamu siap, kalian berdua pun pamit dan berjalan bersama menuju ke sekolah. Seolah tidak ada hal yang harus dijelaskan, Riko berjalan santai sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Kau menatap Riko curiga. "Apa yang senpai inginkan dariku?" Tembakmu langsung.

Riko mendadak berhenti mengetik, lalu menatapmu dengan senyum yang ada maunya. "Wah wah, intuisimu tajam juga ya ,(your name). Santai saja..."

"Santai... wah aku jadi makin curiga nih, Senpai. Jangan-jangan... ini ada hubungannya dengan artikel untuk surat kabar Teikou bulan ini?" Tanyamu langsung.

"Yup, benar sekali. Berterimakasihlah padaku karena aku sampai repot-repot menjemputmu berangkat sekolah hanya demi menyampaikan tugas muliamu ini." Jawabnya dengan cengiran nakal.

"Repot apanya..." Kau terbayang Riko yang barusan menumpang sarapan. "Dapurnya kenapa lagi sampai harus numpang ke rumahku, Senpai?"

Wajah Riko sempat memucat mengingat apa yang terjadi pada dapurnya. "Yah, pokoknya aku cuma tidak sengaja merusakkan toaster hehehe... Jadinya tidak bisa sarapan."

Kau tersenyum miris mendengarnya. Untung cuma toaster, belum dapurnya yang meledak. Senpai sekaligus teman masa kecilmu ini sejak dulu memang memiliki suatu chemistry tidak baik dengan ruangan bernama dapur. Entah kenapa. Saat pertama kali memasak dulu bahkan Riko pernah hampir meledakkan kompor dan nyaris membuat dapurnya kebakaran seutuhnya.

"Benar cuma toaster kan? Jangan sampai membakar dapur di rumah barumu lho, Senpai. Cukup rumah yang dulu saja yang punya bekas tindak kejahatanmu, hehehe..." Guraumu. Riko cemberut.

"Tenang saja, sejak aku pindah ke Tokyo dan masuk SMA aku sudah lumayan mahir memasak, kok." Dalihnya. "Eh, tunggu. Aku kan ingin memberikanmu tugas! Kok kita malah ngomongin hal lain? Kau ini..."

Kau terkekeh pelan. "Baiklaah. Kali ini aku kebagian menulis artikel apa?"

Wajah masam Riko berubah cerah kembali. "Tolong tulis artikel tentang idola bulan ini ya, (your name)! Targetmu..."

"Apa? Idola? Tunggu tunggu tunggu...! Artikel yang isinya ngebahas cowok-cowok populer? Serius? Aku yang disuruh buat nulis itu?" Potongmu kelewat antusias.

"Hm, ya. Jadi, targetmu..."

"Siapa? Siapa, Senpai? Bulan-bulan lalu kita sudah memuat... emm... Hanamiya Makoto dan Kuroko Tetsuya! Wah, semuanya berhubungan dengan basket! Jangan-jangan aku akan kebagian Kise Ryota yang model itu ya? Atau jangan-jangan Nijimura Shuuzou-senpai? Atau.. malah Akashi Seijuurou-sama? Waaaaa... Aku tidak... sabar..." Mendengar cerocosanmu, Riko menatapmu galak. Kau pun segera menghentikannya, walau matamu jelas tetap berbinar antusias.

"Dengarkan aku dulu. Bulan depan kelas tiga kan ujian akhir, tentu saja bulan ini penuh Try Out! Mana mungkin kita akan mengganggu kelas tiga, bodoh. Targetmu kelas dua, namanya Kiyoshi." Jelas Riko.

Mendengar nama itu, kau mengerutkan alismu. "Seangkatan dengan Senpai dong? Kiyoshi? Sepertinya... aku pernah dengar..."

Ganti Riko yang terkejut melihat reaksimu yang bingung. "Kamu... tidak kenal, (your name)? Serius?"

"Aku... seperti pernah dengar namanya..." Kau berusaha mengingat-ngingat seseorang bernama Kiyoshi yang mungkin dimaksudkan Riko. "Tapi aku lupa. Rasa-rasanya tidak ada yang namanya Kiyoshi. Itu nama keluarga?"

Riko menepuk jidatnya. Reaksimu tampak alami dan tidak dibuat-buat. Baginya, aneh bahwa kamu tidak mengenal Kiyoshi ini.

"Eeh... berarti kalau begitu aku tidak kebagian orang terkenal dong, Senpai? Kok si Kiyoshi ini bisa masuk dalam list kolom 'Idola' di surat kabar kita? Uugh..." Gerutumu tak puas. Padahal sudah ada sederet cowok keren yang siap kau wawancarai dalam benakmu.

"Mm... ya... Dia murid baru, sih. Mantan pemain basket terkenal Uncrowned Kings yang satu generasi sama Hanamiya. Begitu masuk ke sini tentu saja langsung terkenal. Kamu benar-benar tidak ingat, (your name)?" Tanya Riko lagi.

"Lho, kan Riko senpai tahu aku tidak begitu mengikuti dunia basket, apalagi semasa SMP. Aku saja tahu kalau Hanamiya itu mantan Uncrow.. apalah itu dari artikel kita dua bulan lalu. Kenapa sih sepertinya si Kiyoshi ini tenar sekali ya?" Tanyamu balik.

Ekspresi Riko meragu. "Uuh... ya lumayan. Nah, sekolah sudah kelihatan, tuh. Oh iya, batas waktunya cukup lama kok, sampai akhir bulan Maret. Sengaja sedikit kumundurkan untuk mengikuti timing dari acara besar sekolah kita, yaitu ultah si ibu kepala sekolah tanggal dua puluh Maret."

Kau lega mendengar jangka waktu yang panjang, karena sekarang bahkan bulan Maret baru saja dimulai. Kabarnya sih para penulis artikel kolom Idola yang terdahulu selalu mendapat deadline kejam dari Riko.

"Baik! Tapi, kalau aku berhasil menulis artikel bulan ini, lain kali pakai aku untuk menulis idola yang kuinginkan ya, Senpai?" Tawarmu.

Kalian pun akhirnya sampai di sekolah dan terpaksa berpisah di koridor depan ketika kamu menawarkan syaratmu. Riko hanya menjawabnya dengan kibasan tangan tak berminat lalu berlalu menuju kelasnya. Kau hanya mengangkat bahu mendengarnya lalu berjalan dengan ceria menuju kelasmu sendiri.

"Ah, nanti juga bisa dibujuk lagi. Tapi... siapa ya si Kiyoshi ini?" Kau pun merasakan dadamu berdesir hangat. "Kenapa rasanya begitu familiar..."

.

.

.

.

.

"Apa ini ada hubungannya dengan mimpi aneh tadi malam ya?"

.

.

.

.

.

Day 1 report : March 1, 2015

Kamu masuk ke dalam kelas dan mendapati beberapa anak sudah datang. Sebagian besar dari mereka sedang menekuni sebuah buku tulis dan buku cetak yang cukup tebal. Matematika. Kamu tersenyum puas, untung semalam masih ingat untuk mengerjakannya. Masih ada sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai, kamu memutuskan untuk mengeluarkan notesmu sebagai reporter surat kabar. Berencana menuliskan strategi dan jadwal untuk mengerjakan artikel Idola.

"Tidak mungkin, Satsuki! Itu pasti orang yang kau kenal!" Seorang gadis menggebrak meja yang ada di depan mejamu dengan semangat. Ada tiga orang gadis yang berkumpul di sana. Penghuni aslinya adalah Momoi Satsuki, gadis yang sedang diteriaki.

Alih-alih marah karena terganggu, kau malah penasaran dengan obrolan mereka. "Ada apa, sih? Kok sampai gebrak meja segala?"

Gadis yang memukul meja Satsuki itu meminta maaf. "Eh, maaf mengganggumu, (your name). Ini, tadi si Satsuki cerita. Semalam dia memimpikan kencannya di hari valentine dengan pacarnya, si Kuroko Tetsuya. Tapi, tak jauh dari mereka entah kenapa Satsuki merasa ada orang yang mengintainya di tengah kencan malam hari itu."

"Ck.. ck.. Sudah kencan cuma di mimpi, masih diganggu pula. "Gurau gadis yang satunya.

Kau dan kedua teman Satsuki pun tertawa, sementara sang korban tertawaan hanya bisa menggembungkan pipinya.

"Tapi aku tidak tahu dia siapa! Beneran deh! Cuma samar-samar aja dan berbaur dengan kegelapan." Bela Satsuki.

Kedua teman Satsuki dan kamu saling berpandangan. Sepertinya memikirkan orang yang sama. Lalu kalian bertiga tertawa terbahak-bahak lagi.

"Itu sih pasti Aomine Daiki... Gimana sih kamu." Ujarmu gemas.

"Coba pikir, siapa lagi sih yang seremang itu? Tapi dia seksi sih, hehehe..." Lanjut salah seorang gadis yang tadi memukul meja.

Wajah Satsuki pun berubah cerah bak meneriakkan 'Eureka!'. "Iya juga ya. Pasti Dai-chan."

"Nah, makanya berarti benar tadi, di dalam mimpi itu pasti hanya akan muncul orang-orang yang kamu kenal. Soalnya itu kan berasal dari daya khayal atau pengalaman kita sendiri." Jelas salah seorang gadis.

Kau pun teringat mimpi anehmu semalam. Di mimpi itu kau sedang mengejar Riko dan seorang anak laki-laki berambut coklat keabuan yang tidak kau kenal. Bahkan kau memanggilnya—dan Riko—dengan sebutan manja Onii-chan untuknya dan Onee-chan untuk Riko. Seumur-umur, rasanya tidak pernah kamu memanggil Riko dengan sebutan itu selama dua tahun kalian tinggal berseberangan. Memang sih, kamu tidak ingat walau Riko pernah bilang kalau kau dan dia menjadi teman kecil semasa kau dulu tinggal di Kyoto. Apa mungkin si anak laki-laki yang kau panggil Teppei onii-chan di mimpi itu juga teman kecil yang tidak kau ingat?

Ah, lagi-lagi dadamu berdesir hangat. Ada apa sih?

"Oh iyaaa... Satsuki, kan kamu manajer tim basket. Kudengar katanya ada anak baru di kelas dua yang mantan pemain basket terkenal! Kamu tahu tidak?" Tanya salah seorang teman Satsuki.

"Ooh... Aku tahu. Dia itu anggota Uncrowned King, satu generasi sama Hanamiya Makoto di zaman SMP dulu." Jawab Satsuki kalem.

Oh iya! Satsuki mungkin saja tahu banyak soal si Kiyoshi yang akan kau liput!

"Namanya Kiyoshi kan, Satsuki?" Tanyamu mendadak antusias. "Dia kelas berapa? Sekarang ikut tim basket lagi, nggak?"

Baru saja Satsuki memikirkan jawabannya, seorang temannya yang tadi memukul meja memotongmu. "Yang penting dulu! Dia ganteng nggak, Satsuki?"

Kamu menyikutnya pelan. "Ish, dasar genit nih... Ayo Satsuki jawaaab..."

Satsuki menggaruk pipinya, lalu tersenyum miris. "Wah kalau kelas aku tidak tahu... Aku cuma tahu dia kelas dua, tapi tidak tahu yang mana. Yang jelas sih sekarang belum ada tambahan anggota klub basket. Umm... ya bagiku yang tampan cuma Tetsu-kun, sih! Hehehe..."

"Anak ini nggak normal... Padahal jelas-jelas seisi tim reguler tampangnya oke punya begitu..." Komentar salah seorang teman Satsuki. Kau pun tertawa. Sayang sekali kamu tidak bisa memeras informasi dari Satsuki.

Kriiiiiiiiiing—!

Bel masuk pun berbunyi. Semua langsung bersiap karena pelajaran pertama Matematika yang (gurunya) terkenal mematikan. Kau pun terpaksa menunda perencanaan dan fokus belajar kalau tidak ingin notesmu dihancurkan. Lagipula, kan masih banyak waktu sampai akhir Maret nanti, pikirmu.

.

.

.

Pulang sekolah ini kau memutuskan untuk menanyai Riko perihal kelas si Kiyoshi. Saat makan siang tadi kau sibuk merancang strategi sambil makan dan memutuskan untuk mengenal si Kiyoshi dulu sebelum mewawancarainya. Supaya artikelnya jadi lebih bersahabat, pikirmu. Dan hal penting pertama tentunya kamu harus tahu dong di kelas mana si Kiyoshi itu berada?

Jadi, kamu membuka pintu kelas Riko dengan percaya diri dan langsung menutupnya ketika sepasang matamu bersirobok dengan tatapan tajam guru matematikamu tadi pagi.

Rupanya ada kelas remedial sore ini. Bodohnya, kau tidak menyadari kertas tanda pengadaan remedial itu padahal ditempel jelas di depan pintu. Pantas saja si guru killer yang mengawas tampak murka.

Kau mengintip dari jendela. Tampak Riko pun ikut andil dalam remedial itu. Serius? Si jenius Riko juga? Berarti soal-soal sang guru memang keterlaluan.

Well, toh kau bisa mengirim e-mail ke Riko nanti. Berarti hari ini kamu bisa bersantai sedikit lah. Mungkin mengajak Satsuki karaoke asyik juga. Berarti kamu harus menghampiri Satsuki yang masih ada di lapangan basket indoor. Kesempatan nih, pikirmu. Siapa tahu kebagian lihat tim reguler latihan.

Dengan riang kau berjalan menuju lapangan basket indoor di lantai satu. Sesekali kau menyapa beberapa senpai yang kau kenal yang masih berlalu-lalang di koridor kelas dua itu. Kau pun turun tangga dengan semangat dan melihat seorang pemuda sedang meneliti peta sekolahmu yang tepat berada di hadapan tangga.

Hari gini masih ada yang lihat peta sekolah? Pikirmu. Kau tertawa di dalam hati. Kau pun mengabaikan pemuda itu dan berjalan melewatinya, namun sebuah tangan besar kau rasakan menahan tanganmu.

"Maaf, lapangan basket indoor ada di mana, ya?" Tanya sang pemilik tangan yang menahanmu. Kau pun refleks berbalik ke belakang dan mendapati seorang pemuda tegap setinggi sekitar seratus sembilan puluh sentimeter tengah memandangmu dengan kaget.

Sepasang mata obdisianmu meneliti sang pemuda. Wajahnya... rasanya tidak asing... Jantungmu bereaksi kencang ketika menatapnya. Namun, kamu tetap tidak bisa ingat siapa pemuda tampan di hadapanmu ini.

Pemuda itu menunjuk wajahmu dengan terkejut. "(Your name)? Wah! Tidak menyangka bisa ketemu kamu secepat ini!"

Kamu mengerutkan alis, heran. Pemuda tak dikenal ini tampaknya menunggu-nunggu bisa bertemu denganmu. Memangnya aku seterkenal itu, ya? Pikirmu.

"Eh... maaf... kamu siapa ya?" Tanyamu berusaha sopan karena tak yakin kalau orang ini adalah teman seangkatanmu.

Ganti orang itu yang memandangmu heran. "Memangnya aku berubah banyak ya sampai kamu tidak mengenaliku?"

Berubah banyak? Wajahnya memang sedikit kau kenali, tapi sungguh rasanya kau tidak bisa mengingat siapa pemuda aneh—tapi tampan—ini.

"Mu... mungkin?" Kau berusaha membuat orang yang harusnya kau kenali ini sedikit tidak sakit hati. "Maaf, hehe."

Pemuda itu tersenyum hangat. "Kamu sama sekali tidak berubah, (your name)... Tapi malah tidak mengenaliku. Payah."

Kau jadi semakin merasa bersalah. "Ugh... maaf. Aku memang pelupa, kadang-kadang."

"Tapi kalau ini sih sudah keterlaluan namanya kalau tidak mengenaliku." Pemuda itu berdecak heran lalu melihat jam tangannya dengan gelisah. "Wah sudah jam segini. Yah, kapan-kapan temani aku ke lapangan basket indoor ya?"

Pemuda itu pun pamit lalu dengan tangan besarnya yang hangat, tiba-tiba saja ia membelai rambutmu dengan lembut. Menimbulkan suatu sensasi nostalgia yang menggetarkan tubuhmu. Lalu ia berlalu pergi, dan menghilang dari koridor.

Tunggu... tunggu... tunggu... jangan-jangan... pemuda itu...

"Te... Teppei Onii-chan?"

.

.

.

.

.

Day 2 report : March 2, 2015

Kamu masih tidak percaya dengan apa yang terjadi kemarin. Setelah mendapat tugas dari Riko, alih-alih bertemu dengan sang target dan mulai melancarkan reportasi, kau malah bertemu dengan pemuda tak dikenal yang ada di mimpimu. Pemuda yang kau panggil Teppei onii-chan.

Jika saja saat ini tidak sedang ulangan fisika, kau pasti akan menggebrak meja saking frustasinya. Pemuda tampan itu memang mirip dengan si Teppei—onii-chan—dalam mimpimu, hanya saja terlihat lebih dewasa. Terlebih pemuda itu tampak mengenalmu baik—dan di dalam mimpi kau memanggilnya Teppei onii-chan pula—dan kau sama sekali tidak mengingat masa lalu apapun tentang sang pemuda kecuali bayang-bayang mimpimu. Jangan-jangan itu sebenarnya cuma panggilan ingatanmu?

Untung hari ini ulangannya cuma Dinamika Partikel yang kau kuasai, pikirmu lega. Dengan cepat kau dapat menyelesaikan ulangan esai sepuluh soal itu dan keluar kelas duluan. Kamu pun mengajak salah seorang teman Satsuki yang kemarin memukul meja lalu berniat makan bersama di kantin karena sudah selesai ulangan fisika duluan.

Kamu memesan satu set box lunch dan dia memesan satu cheese burger. Kalian pun makan berhadapan di meja kantin yang masih lengang.

"Hei, tadi kamu nomor lima apa? Lawannya sentrifugal itu sentripetal kan? Sentripetal yang mengarah ke pusat kan?" Tanyamu untuk memastikan jawaban yang kau ragukan.

Gadis itu hanya menyengir lebar. "Aku keluar duluan karena sama sekali tidak mengerti. Payah, aku hanya ingat gaya normal dan hukum newton. Salah juga sih bukannya belajar kemarin malah karaoke sama Satsuki."

Wah, padahal kemarin kau kan juga ingin karaoke. Ini semua gara-gara si Teppei onii-chan kamu pun jadi lupa.

"Ooh... Eh tapi ternyata benar ya katamu kemarin yang soal mimpi. Dua hari yang lalu aku memimpikan seorang anak laki-laki yang kupikir aku tidak kenal, soalnya aku memang tidak ingat siapa dia. Tapi kemarin aku ketemu sama cowok yang ternyata anak yang ada di dalam mimpiku." Ceritamu.

Mata gadis itu berbinar. "Wah! Jangan-jangan jodohmu, nih~ Siapa? Siapa?"

Tanpa sadar pipimu memanas. "Apa, sih. Tidak mungkin ah. Lagipula walaupun muncul di mimpi sebenarnya aku tidak begitu ingat wajahnya dan bahkan tidak kenal."

"Namanya? Kelas berapa?" Tanyanya antusias.

"Ummm... kalau di mimpi sih aku memanggilnya Teppei..." Jawabmu dengan sedikit menyembunyikan embel-embel onii-chan.

Gadis itu tampak berpikir-pikir. "Kok aku tidak pernah dengar ada anak sekolah ini yang namanya Teppe... Eh tunggu! Serius namanya Teppei?"

Kamu pun mengangguk. "Iya, aku juga tidak pernah tahu lho ada anak di sekolah ini yang namanya Teppei."

"Ck.. ck.. ck..." Gadis itu pun menepuk bahumu. "Jelas saja kamu tidak tahu. Kemarin pas di sekolah Satsuki cuma menyebut nama Kiyoshi saja, sih."

Kiyoshi?

Tunggu... Maksudnya...

"Ma.. maksudmu... Kiyoshi yang kita bicarakan kemarin itu... namanya Kiyoshi Teppei?" Tanyamu untuk memperjelas.

"Yup. Absolutely." Jawabnya mantap. "Eh, harusnya aku dong yang kaget kalau kamu punya kenalan orang terkenal begitu!"

Kau menggeleng. "Bukan, bukan gitu. Masalahnya, aku ini sama sekali tidak ingat—"

Kursi panjang kantin yang kau duduki tiba-tiba bergetar. Kau pun menoleh dan mendapati seorang pemuda tegap yang kau temui kemarin tengah menaruh satu set box lunch-nya yang masih utuh dan duduk di sebelahmu. "Hai, ada apa panggil-panggil namaku?"

Matamu membelalak kaget lalu mendadak sekujur tubuhmu memanas. Jantungmu kembali berdetak kencang seperti saat kemarin kalian bertemu. "Ti... tidak. Tidak ada apa-apa..."

Teppei tertawa lalu membelai rambutmu dengan lembut. "Ck, kamu ini. Masih suka juga menu ini. Kangen jatah makan siang SD ya?"

Kamu menatapnya heran. SD? Orang ini mengenalmu sejak SD? Kok kamu tidak ingat, ya?

"Ehem. Sepertinya... aku gabung dengan Satsuki saja ya, (your name)?" Gadis itu pun mengangkat makanannya dan mengerling iseng padamu.

"Eh...!"

"Ah, maaf. Temannya (your name) ya? Saya Kiyoshi Teppei, kelas 2-7. Teman kecilnya si (your name) ini nih." Teppei memperkenalkan diri.

Gadis itu pun tersenyum sopan. "Saya Kurokawa Ayumi, teman sekelas (your name). Salam kenal, Kiyoshi senpai. Saya pamit dulu."

"Waa! Ayumi! Tu—tung—ah dia pergi..." Keluhmu setelah berusaha menahan Ayumi.

Teppei terkekeh jahil. "Lho, kenapa? Kamu gugup bertemu denganku lagi? Lucunya..."

Kamu cemberut mendengarnya. "Ish, aku kan bukan anak kecil. Lagipula... emm... maaf ya, Kiyoshi senpai... Aku benar-benar tidak mengingatmu..."

Lunch box milik Teppei pun mulai dijamah oleh sang pemilik. "Hm, kamu tidak memanggilku seperti dulu lagi, nih?" Godanya.

"Hah?"

"Pura-pura tidak tahu ya..." Teppei menghabiskan kunyahannya lalu berbisik tepat di telingamu. "Teppei onii-chan..."

Refleks, kau pun berusaha menggeser posisimu menjauhi Teppei. Sialnya kau malah sedang duduk di ujung kursi dan jika kamu bergeser sudah pasti akan jatuh. Melihat kemungkinan itu Teppei semakin gencar menggodamu dan kembali berbisik di telingamu. "Hei, (your name)... Kok wajahmu memanas sih... Bukankah kita biasa melakukan ini...?"

Mendengar provokasi itu, jantungmu berdetak semakin dan semakin cepat. Entah sudah semerah apa wajahmu saat ini. Suara itu... rasanya... terdengar begitu merdu dan...

Tunggu. Demi apa kamu dan si Teppei ini biasa melakukan hal begini? Sebenarnya hubunganmu dengan orang ini apa, sih?

Teng—teng—teng—!

"Be.. Bel masuk!" Pekikmu keras. Setengah isi kantin langsung mengalihkan pandangannya kepada kalian. Memanfaatkan kelengahan Teppei, kamu pun mendorong tubuhnya menjauh dengan pelan. "Habis ini aku matematika nih, sama Sayaka sensei yang killer lho! Ma.. makanya... aku pergi dulu! Dah, Senpai!"

Secepat kilat kau pun 'melepaskan diri' dari Teppei. Senpai itu hanya tersenyum jahil ketika melihatmu pergi. Sepertinya ia mendapatkan reaksi yang sesuai dengan keinginannya. Atau mungkin hanya merasa geli karena kebohonganmu ketahuan telak karena Sayaka sensei yang dibicarakan sebenarnya akan mengajar kelasnya.

.

.

.

.

.

Day 3 report : March 3, 2015

Harus. Harus hari ini!

Kau berjalan dengan langkah tegas menuju kelas Riko. Gadis pemaksa—tapi baik sih—itu pasti tahu sesuatu soal target artikelmu yang ternyata sangat diluar dugaanmu. Bukan hanya karena dia ternyata Teppei onii-chan yang ada di dalam mimpimu, tetapi juga karena pemuda itu bersikap seakan-akan kamu miliknya saja!

Kepalamu tak henti mengawasi koridor kelas dua. Takut-takut kalau pemuda tampan itu mendadak muncul dan tahu-tahu saja kamu dijahili lagi seperti kemarin. Untung saja aman dan sepi. Pada jam makan siang seperti ini tentu saja sebagian besar siswa sedang berada di kantin atau kelas masing-masing untuk makan.

Lalu kamu bertemu seorang pemuda berkacamata yang sudah tidak asing lagi. "Siang, Hyuuga senpai." Sapamu sopan.

Hyuuga menoleh. "Oh, (your name). Tumben di koridor kelas dua?"

"Hehehe..." Kamu tersenyum miris. "Mau ke kelas Riko senpai, biasalah soal artikelku."

Mendadak wajah galak Hyuuga jadi lebih ramah. 'Direktur utama' Klub surat kabar itu memang terkenal tegas dan disiplin serta suka dengan 'karyawan' yang rajin dan berdedikasi. "Oh, baguslah. Buat yang cakap, ya."

Kamu mengangguk—berusaha terlihat yakin. Padahal dalam hati ketar-ketir.

"Riko ada di kelas, omong-omong." Ucapnya. "Selamat berjuang."

Kamu pun melambaikan tangan padanya, lalu berterima kasih atas informasinya. Kau pun melanjutkan berjalan dan tak terasa akhirnya sampai juga di depan kelas Riko. Perlahan, kau ketuk pintu kelas itu, lalu membukanya.

"Permisi... Riko senpai a... da?"

Jantungmu seketika ribut ketika sosok sekitar seratus sembilan puluh sentimeter yang kau hindari malah berdiri di depan subjek yang kau cari.

"Oh, (your name)! Sini!" Sapa sosok itu dengan ceria.

Wah, kamu tidak bisa memberikan respon yang lebih baik selain berdiri mematung di dekat pintu kelas Riko.

Alih-alih panik, Riko malah menyambutmu dengan ceria juga. "Hei, (your name)! Pas sekali, ayo sini!"

Langkah tegasmu seketika menjadi ragu setiap langkahnya. Takut-takut kau dekati meja tempat keduanya mengobrol. Suasana kelas Riko yang agak ribut membuat kalian tidak terlalu jadi pusat perhatian.

"Umm... Riko senpai... si... Te... eh Kiyoshi senpai ini... kenapa ada di sini?" Tanyamu sambil sesekali melirik sosok pemuda sehat yang menjulang tinggi itu.

"Ooh.. sudah ingat? Kamu ini benar-benar pelupa parah ya. Sampai-sampai waktu itu juga aku sempat kau lupakan. Untung ada ibumu yang membuatmu insyaf." Komentarnya, tidak menjawab pertanyaanmu.

Kamu tertawa hambar. "Uh, soal itu maafkan aku. Tidak usah diungkit-ungkit lagi, dong..."

Teppei yang berdiri di sebelahmu bertanya, "lupa? Ada apa sih sebenarnya?"

"Huff..." Riko menghela nafas untuk bernostalgia. "Dia ini nih ya, bisa-bisanya melupakanku lho saat pertama kali aku pindah ke daerah sini satu tahun lalu. Padahal kita kan teman masa kecil yang sangat dekat. Dan setelah aku main ke rumahnya, dia baru ingat ketika ibunya bercerita soalku dulu sepanjang satu bab."

"Hehehe..." Kamu terkekeh pelan. "Itu juga aku masih belum yakin benar lho aku mengingat semua itu."

Riko memandangmu galak. Kamu tersenyum tak berdosa lalu tertawa lagi. "Bercanda, senpai. Melihat sikap begitu sih aku yakin pasti kok kalau senpai itu teman kecilku hehehe... Apalagi di mimpiku juga ada Riko senpai dan bahkan aku memanggilmu Riko onee-chan dan... dan... dan..." Kau mendadak gelagapan. Gawat. Mimpi berikutnya kan tentang...

Teppei menarik kursi yang kosong lalu duduk dan menatapmu. "Dan apa?"

Bola matamu pun jadi tak fokus dan melirik kemana-mana. "Umm... ya pokoknya aku jadi yakin saja hehe..."

Riko dan Teppei saling berpandangan. "Sudahlah, kamu itu tidak pandai bohong, (your name)." Komentar mereka bersamaan.

Kau mengerucutkan bibirmu.

"Well... pokoknya aku tidak ingat sama Kiyoshi senpai—maaf saja. Serius!" Balasmu sungguh-sungguh.

"Hmm..." Riko tampak berpikir keras. "Kayaknya kita harus kerumahnya, Teppei. Kamu tidak sibuk kan besok?"

Teppei menepuk lututnya. "Berterimakasihlah kepada takdir, berkatnya aku punya banyak waktu luang."

"Jangan begitu, ah." Sekilas wajah Riko terlihat sendu. "Besok ibumu tahan di rumah ya, (your name). Bersiaplah, kami akan ke rumahmu besok!"

Wajahmu memucat. "Waa... jangan tiba-tiba begitu dong, Senpai! Rumahku kan tidak bisa seenaknya di-reserve begitu." Tolakmu.

"Ck, jomblo aja belagu." Komentarnya pedas. "Lagipula kamu tuh yang seharusnya tidak bisa seenaknya melupakan teman masa kecilmu begitu saja, tahu!"

Hati kecilmu tertancap. Dua-duanya tepat sasaran.

"Ssh, Riko." Tegur Teppei lembut. "Tenang saja, (your name). Ini bisa membantu artikelmu kok."

Ah, jadi dia sudah tahu perihal artikel yang akan menulis tentangnya itu.

"Ugh... baiklah..." Kau melirik jam tanganmu karena gugup. "Eh, istirahat sudah mau habis jamnya. Aku balik ke kelasku ya!"

Tangan besar Teppei yang hangat lagi-lagi mencegahmu kabur. "Tunggu, ayo sama-sama." Ajaknya dengan senyum maut.

Rasanya mau meleleh aja saking malunya.

Tanganmu menepis tangannya kasar. Demi apapun ini bukannya nggak suka, lho! Cuma malu!

Teppei malah tertawa pelan. "Nggak mau gandengan tangan sama onii-chan?"

"Ng—nggak!" Tolakmu cepat lalu berjalan cepat keluar kelas. Teppei pun menyusulmu dengan mudah. Begitu pemuda itu menyejajarkan jalannya denganmu, kau pun mulai berjalan biasa lagi. Rupanya benar-benar menyanggupi permintaan pemuda itu untuk bersama-sama.

Kalian pun berjalan dengan hening menyelimuti langkah. Kelasnya ada di ujung koridor kelas dua di lantai dua, sementara kelasmu di lantai satu—yang sebenarnya tepat di atasnya. Kalian akhirnya sampai di depan kelas Teppei, namun kamu tidak menghentikan langkahmu, begitu juga dengan dirinya.

Kau berhenti. "Senpai kok nggak masuk kelas?"

"Soalnya ada yang belum nerusin ceritanya." Jawabnya simpel.

Bibirmu kembali mengerucut. "Sebentar lagi bel lho, Senpai."

Tanpa kau sangka-sangka, Teppei mendekatimu lalu mengusap kepalamu pelan. "Kamu sudah besar lho, (your name). Melarikan diri terus tidak baik, lho."

"Ak—aku tidak melarikan diri!" Jawabmu kelewat cepat dan keras.

Teppei menghela nafas berat. Kali ini dia hanya menepuk puncak kepalamu dengan lembut. "Aku tahu, kamu tidak mungkin melupakan aku. Atau Riko. Kelihatan sekali kalau kamu sebenarnya hanya menelan mentah-mentah cerita ibumu dan Riko tentang teman masa kecil."

Kamu terdiam.

"Pasti ada sesuatu, kan? Kamu memang pelupa—dan kadang menjadikanmu terlihat manis—tapi tidak sampai bisa melupakan kami yang teman masa kecilmu. Aku yakin itu." Tegasnya.

Tatapan bersalah pun tercetak jelas di wajahmu.

"Ingat-ingatlah, (your name). Dan, oh ya, kita ketemu di mana sebelum pergi ke rumahmu besok?" Tanyanya.

"Umm... Kurasa di ruang klub surat kabar saja. ." Jawabmu pelan.

Senyum hangatnya pun kembali. "Deal. Kalau begitu, sampai jumpa (your name)!"

Kau mengangguk. Dalam benakmu kini berkecamuk apa yang dipesankan Teppei barusan. Namun, segera kau tepis pikiran itu untuk sementara, kalau tidak kau pasti takkan bisa melewati sisa hari ini dengan tenang dan penuh dengan pikiran yang cukup membebanimu itu. Apalagi memikirkan soal artikelmu, takkan sanggup!

Tapi tenang saja, kan deadline-nya masih panjang.

.

.

.

.

.

Day 4 report : March 4, 2015

Kamu berjalan ke ruangan klub surat kabar sepulang sekolah dengan hati yang berdebar. Sebelum tidur kemarin, kau sudah memikirkan soal kata-kata Teppei kemarin. Selama ini memang sebenarnya ada yang aneh dengan dirimu, terlepas dari sifat pelupamu. Kamu pindah dari kota lamamu ke Tokyo ini sejak lulus ujian akhir sekolah dasar. Ibumu berkata kalau Riko adalah teman masa kecilmu yang sangat dekat denganmu saat SD, tapi yang kau ingat tentang masa SD hanyalah ingatan samar soal kamu yang cukup merasa senang bersekolah di sana.

Ah, tapi rasanya ada suatu perasaan sedih yang tertinggal di penghujung waktu dirimu akan pindah ke Tokyo. Apa ya?

Rambut hitammu kau acak-acak karena frustasi. Kenapa sih kamu tetap saja tidak bisa ingat? Pikirmu.

Dan di saat kebimbangan itu melanda perjalananmu menuju ruangan klub surat kabar di lantai satu, tampak Teppei berjalan terburu-buru ke arahmu dengan ekspresi yang... sulit dijelaskan. Matanya berusaha terlihat tidak sedang terjadi apa-apa, tapi gesturnya kelihatan sekali ingin segera pergi dari situ.

"Kiyoshi sen—"

"Oh, (your name)! Nah, sekarang kita langsung saja ya ke rumahmu! Maaf aku tidak punya banyak waktu!" Sapanya dengan ramah yang sedikit dipaksakan.

"E..eh... gitu. Tapi... Riko senpai mana?" Tanyamu. "Umm... Aku sudah menyiapkan pai apel, lho. Jadi Riko senpai tidak boleh masak di rumahku."

Sebenarnya ini cukup lucu, tapi Teppei menahan rasa gelinya mendengar komentarmu. "Sudah, sudah. Riko sedang banyak tugas..." Ucap Teppei yang sempat terlihat sedikit sedih. "Jadi sekarang kita saja, ya?"

Kamu memandang Teppei dengan curiga. Akan tetapi, mungkin saja Riko tiba-tiba harus mengurus artikel lainnya. Biarpun deadline masih panjang, tapi ia harus mengurus seluruh artikel dan memastikan semuanya sempurna, makanya mungkin saja kalau ia sibuk. Kamu jadi teringat artikelmu sendiri.

Ah, siapa tahu nanti di rumah bisa sekalian tanya-tanya. Lagi pula Teppei kelihatannya baik.

Kalian pun pergi ke rumahmu hanya berdua. Sepanjang perjalanan, kamu hanya bisa sesekali memandang Teppei yang sibuk dengan ponselnya. Ia begitu fokus terhadap ponselnya seakan-akan sedang diburu waktu.

"Ano... Kiyoshi-senpai ada acara, ya?" Tanyamu yang sedikit terganggu dengan tingkah Teppei.

Teppei tampak salah tingkah. "Hah? Ah, oh, acara? Hm, tidak kok."

Bibirmu mengerucut lagi. "Kalau ada acara, tidak usah juga tidak apa-apa, senpai."

Senyum hangat Teppei pun kembali. Tangan besarnya kembali terangkat untuk mengacak-acak rambutmu. "Tidak ada acara, kok. Aku tadi sedang chatting dengan Riko dan dia tidak perlu ke sini."

"Karena sibuk?" Tanyamu polos.

Teppei membalasnya dengan senyum sekilas.

Lalu setelahnya kalian pun berjalan dalam diam menuju rumahmu.

"Tadaima!" Teriakmu seraya membunyikan bel rumah. Namun tidak ada jawaban. Kau memencet bel sekali lagi dan kali ini lebih keras. Aneh, seharusnya ada ibu dan adikmu di rumah.

"Kenapa, (your name)?" Tanya Teppei yang berdiri di belakangmu.

Kau menjawab dengan segan. "Se.. sepertinya tidak ada orang di rumah... Tunggu ya Senpai, aku mau ambil kunci..."

"Di pot bunga? Ini, sudah kuambilkan." Potongnya santai sambil menyodorkan kunci rumahmu.

Kau menatapnya horor. "Ki.. Kiyoshi senpai kok tahu?! Jangan-jangan selama ini senpai adalah stalker..."

"Ssh, bukan, bukan... Dulu kan kamu sering ditinggal, jadi ketika kami main ke rumahmu, kamu sering mengambil kunci dari pot bunga. Ternyata kebiasaan keluargamu sampai sekarang belum berubah..." Sangkal Teppei.

"Uhm, gitu ya. Tapi aku sama sekali tidak ingat..." Gumammu lirih. Kau membuka pintu dan mempersilakan Teppei masuk.

"Yah, pelan-pelan saja." Hiburnya dengan senyum miris. Kalian pun masuk ke dalam rumah dan mendapati sepiring pai apel hangat di atas meja terhidang dengan sepucuk surat.

(Your name), maaf ibu dan adik tiba-tiba harus ke rumah sakit. Ada teman ibu yang baru saja kecelakaan. Pai apelnya sudah ibu hangatkan, dan kalau waktunya makan siang kamu bisa masak sendiri, kan? Ibu pulang sore nanti.

PS : Jangan biarkan Riko masak ya, nak!

Kamu dan Teppei pun tertawa melihat post script ibumu. Bakat merusak dapur Riko rupanya sudah dikenal baik ibumu. Kalian pun duduk berhadapan di meja makan setelah menaruh tas di sofa ruang tamu. Kamu mengambil pisau dan siap memotong pai apel ketika tiba-tiba kamu melihat ada yang salah.

Teppei memandangmu heran. "Ada apa, (your name)?"

Kau menaruh pisaumu ke meja. "Tidak, aku hanya merasa ada yang salah... Oh!" Dengan cekatan, kau berjalan ke kursi Teppei dan memaksanya berdiri.

"Saat makan, kita harus rileks tahu." Omelmu seraya mengendurkan dasi Teppei yang masih dipakainya rapi. Kamu pun melepaskan dasi itu dan menaruhnya di meja makan. "Kalau begini kan lebih baik. Oh ya, kancing paling atas juga harus..."

Ketika tanganmu menyentuh kancing paling atas kemeja Teppei kau tertegun. Pemuda itu tengah memandangmu dengan semburat merah tipis di kedua pipinya. Tak terasa detak jantung Teppei yang berdetak keras mulai merambat ke tubuhmu dan membuat pipimu memanas.

"Waa... aaaa... aku... hanya... hanya... maksudku... ugh..." Kau mulai tergagap dan melepaskan tanganmu dari kancing tersebut, namun tangan besar Teppei menahan tanganmu.

Ia tersenyum. "Aku mengerti. Hanya saja aku sedikit kaget saat mengetahui bahwa ternyata sekarang kamu makin agresif, ya."

Wajahmu semakin memerah mendengarnya. "Bu... bukan begitu! Aku... aku..."

Kalimatmu berhenti. Wajahmu memanas, jantungmu berdetak kencang, tubuhmu lemas, tanganmu digenggamnya erat, sungguh tidak ada lagi yang bisa kau pikirkan dengan jernih sekarang. Teppei onii-chan yang cuma kau kenal dalam mimpi dan baru kau ingat selama empat hari ini sudah bisa membuatmu begitu salah tingkah. Bahkan, rasanya kau pun jadi semakin sulit bernafas.

Teppei melepaskan salah satu tanganmu lalu melepas kancing paling atas kemejanya. Ia pun mendekatkan wajahnya ke arah wajahmu. "Wajahmu memerah, (your name)."

Kau memalingkan wajah ketika wajah Teppei semakin mendekat. "Aku tahu. Ma.. makanya... Teppei Onii-chan..."

Setelah menyebutkan panggilan itu, selang beberapa detik setelahnya tiba-tiba kau melihat wajah Teppei yang semakin mendekat dan merasakan sesuatu yang lembut menyapu bibirmu perlahan. Awalnya manis dan lembut, tapi lama kelamaan bibirmu dikulum dengan panas sampai kau kali ini benar-benar kesulitan bernafas.

Bibir itu pun terlepas lalu memberikan ruang bagimu untuk bernafas sebanyak-banyaknya. Deru nafasmu bercampur dengannya, lalu tampak wajahnya yang sangat memerah. Berani taruhan wajahmu dua kali lipat lebih merah dari pada ini. Jantungmu pun serasa akan mencelos keluar. Kamu kaget luar biasa, tapi juga merasa begitu tersanjung dengan sentuhan barusan.

"Ki... Kiyoshi senpai?"

Teppei tersentak mendengarnya. Kamu kembali memanggilnya dengan Kiyoshi senpai. Ia pun menyadari bahwa panggilan lamamu barusan hanya karena keceplosan semata. Ia menutupi wajahnya yang memerah lalu segera pergi menyambar tasnya ke ruang tamu. Kamu pun mengejarnya dan mendapati Teppei sedang memakai sepatunya dengan terburu-buru.

"Kiyoshi senpai?"

Teppei diam. Ia memegang ranselnya kuat-kuat dan tampak sedikit bergetar.

"Maaf... aku pulang..." Ucapnya lirih. Setelahnya ia pun berlari pulang dan menghilang dari pandanganmu.

Tubuhmu yang lemas tidak dapat menopang massa tubuhmu lebih lama lagi. Kau pun jatuh terduduk seraya memegangi wajahmu yang memanas. Tidak tahu harus bereaksi apa. Marahkah? Sedihkah? Senangkah? Kesalkah? Entah.

Kenapa tiba-tiba tadi kamu bisa-bisanya memanggilnya Teppei onii-chan? Kamu benar-benar tidak sengaja—dan mungkin juga terbawa suasana—memanggilnya begitu. Akan tetapi, yang lebih penting itu kenapa tiba-tiba Teppei menciummu?

Kamu sama sekali tidak ingat masa lalumu soal Riko—walaupun berpura-pura tahu soal itu—maupun Teppei, namun reaksi tubuhmu sama sekali berbeda. Rasanya seolah kamu sebenarnya sangat mengenal mereka—terutama Teppei yang lebih spesial. Kenapa? Sukakah kamu dengannya di masa lalu yang sering dibicarakannya itu?

Jangan-jangan... justru bukan hanya kamu yang suka padanya... ia pun juga suka padamu! Makanya ia menciummu barusan, kan? Mungkin sekarang ia tiba-tiba pergi karena tindakannya memang terlalu tiba-tba.

Setelah mengumpulkan tenagamu, kamu pun bangkit lalu melirik ke arah meja makan. Ada pai apel yang mulai dingin di sana. Kau pun mulai memotong-motongnya lalu membungkusnya.

"Aku harus memberikan pai apel ini kepadanya." Gumammu pelan. "Lagipula aku harus memastikan apa maksudnya tadi. Ia pasti belum jauh. Mungkin tertahan di stasiun. Aku harus menyusulnya. Harus."

Selepas itu kau secepatnya memakai sepatumu dan berlari keluar setelah buru-buru mengunci pintu dan melempar kuncinya ke pot bunga terdekat. Sosoknya sudah tidak terlihat, tapi ia pasti ke stasiun. Stasiun cukup dekat dari sini dan ia pasti tidak tinggal di sekitar sini, makanya pasti ia harus menggunakan kereta. Kau pun berlari dan terus berlari menuju stasiun. Ternyata usahamu bukannya tanpa hasil, pemuda itu tampak sedang berdiri di depan mesin penjual minum sambil menggenggam kartu langganan keretanya.

Kau menggigit bibir. Memutuskan akan memanggilnya apa. Lalu berlari lebih cepat dan menyeberang jalan.

"Teppei Onii-chan!"

Tampak sosok tegap Teppei yang berbalik dan melihat ke arahmu dengan ekspresi kaget. Kamu tersenyum, dan bersiap memanggilnya lagi. Namun teriakannya dan sebuah benturan keras yang terasa kemudian membuat duniamu runtuh seketika.

"Awas, (your name)!"

.

.

.

.

.

Day 5 report : March 18, 2015

Bunga sakura merah muda yang tumbuh lebat di halaman rumah sakit tertiup angin kecil. Beberapa helai kelopaknya lepas dan melayang-layang melewati jendela kamarmu. Melihatnya, kamu tersenyum. Indah. Walaupun sebenarnya akan lebih indah jika saja tubuhmu sehat.

Kamu memandang gips yang membalut tangan kananmu dengan sendu. Satu-satunya tangan yang bisa kau gunakan dengan baik kini bahkan tak dapat kau gerakkan. Pun dengan kaki kananmu yang juga dibalut gips yang lebih tebal. Karenanya kau kini hanya bisa duduk setengah berbaring di ranjang rumah sakit yang berbau antiseptik. Akan tetapi ini sebenarnya masih lumayan, jika mengingat selama dua minggu sebelumnya kamu hanya bisa terbaring tanpa kesadaran dengan status koma.

Hari itu, ketika kamu menyeberang jalan, lampu pejalan kaki baru saja menyala aman dan rupanya sebuah truk kelepasan mengerem dan menabrakmu keras. Untung hanya bagian kanan tubuhmu yang menerpa aspal begitu keras dan membuat kaki serta tangan kananmu patah. Kesadaranmu hilang selama dua minggu, namun nyawamu masih dapat diselamatkan.

Kriet...

Pintu kamarmu terbuka perlahan. Tampak Teppei di sana tersenyum dengan membawa sebuah kotak makanan. "Selamat siang, (your name). Aku bawakan lemon madu buatan teman sekelasmu, Kagami Taiga."

Kamu menerima lemon madu itu dengan senang hati. "Terima kasih! Lemon madunya Kagami-kun yang terbaik~! Ngomong-ngomong, bagaimana bisa lemon ini ada padamu?"

Teppei mengusap tengkuknya dengan sedikit salah tingkah, "yah... aku tadi mampir ke klub basket Teikou, lalu berkenalan dengannya. Tadinya lemon itu untuk tim basket sih, tapi karena dia buat banyak jadilah satu kotak ini dia titipkan untukmu."

Wangi lemon madu menggelitik hidungmu. "Hmm~ sedap! Umm... Teppei Onii-chan.. aku bisa minta tolong seperti biasa?"

Dengan tanggap, Teppei pun mengambil sendok lalu mulai menyuapimu. Merepotkan memang, tapi makan dengan tangan kanan adalah prinsipmu, dan ia mengerti soal itu. Kau pun mulai mengunyahnya dengan senang. Siapa yang tidak senang kalau disuapi oleh orang yang kau suka?

"Eh, (your name), kamu barusan memanggilku Teppei Onii-chan... Apa kamu sudah ingat?" Timpalnya sedikit heran.

Senyum miris pun timbul di wajahmu. "Ehehehe... maaf aku dulu benar-benar tidak ingat, Onii-chan. Jadi, ketika akhirnya aku siuman dokter bilang kalau ia menemukan ada sesuatu yang aneh dengan ruang penyimpanan memoriku. Katanya seperti ada beberapa ingatan yang hilang, tapi bukan karena benturan kecelakaan atau apa, tapi karena hipnotis!"

Alis abu Teppei mengerut. "Hipnotis?"

Kamu mengangguk yakin. "Iya. Aku ingat waktu pindah ke Tokyo di hari-hari pertama, aku gampang tersesat. Uh, ya tahu sendirilah bagaimana aku ini. Lalu ketika itu aku tertarik dengan pelukis jalanan dan memutuskan untuk melihatnya melukis. Eh dia malah memaksaku untuk dilukis dan aku tidak mau. Rupanya saat itu entah dia kesal karena tidak ada pelanggan atau bagaimana, pokoknya dia menghipnotisku. Bukannya membuatku menurut malah jadinya ada ingatanku yang hilang."

Teppei tergelak mendengarnya. "Serius? Kamu ini benar-benar berbahaya kalau dilepas sendirian!"

"Ughh..." Kamu merengut sebal. "Memangnya aku ini apa? Binatang buas?"

Tawa Teppei terdengar semakin keras. Untunglah di bangsal untuk dua orang ini tidak ada orang lain yang dirawat selain dirimu.

"Oh iya, walaupun aku sudah ingat, aku tidak mau lagi memanggil begitu!" Tegasmu.

"Hm, iya, iya, (your name) memang sudah besar, sampai bisa masih hidup setelah ditabrak truk yang besar juga." Kelakarnya.

Cemberutmu tambah panjang. Namun, biar begitu kamu tetap menyukai Teppei. Kali ini lega rasanya mengetahui bahwa kamu bisa mengingat betapa dulu mendengar tawanya lepas seperti ini begitu menyenangkan. Dulu ia begitu sering mengorbankan dirinya untuk melindungimu maupun Riko, dan lebih sering mempersembahkan senyum miris yang membuatmu khawatir.

Tapi, dulu kamu tidak tahu perasaannya. Sekarang, setelah ia menciummu semuanya jelas. Pipimu jadi memerah lagi kalau mengingatnya.

"Permisi... Apa kabar (your name)?" Tiba-tiba seorang pemuda berkacamata membuka pintu bangsalmu bersama seorang gadis yang kau kenal baik, Riko. Kau menyambut mereka dengan senyum ramah.

"Baik, Hyuuga senpai. Yah, setidaknya sudah lebih baik!" Ujarmu riang.

Riko maju lalu mencubit pipimu. "Ittai!" Pekikmu.

"Ini nih balasan buat anak yang ceroboh. Berani taruhan semuanya bukan cuma salah si supir truk." Goda Riko.

"Hidoooi! Itu benar-benar kecelakaan kok! Untung Teppei Oniisenpai—cepat membawaku ke rumah sakit sehingga keadaannya tidak jadi makin parah." Pujimu seraya tersenyum hangat ke arah Teppei. Namun pemuda itu tampak hanya membalasnya dengan getir sambil sesekali mencuri pandang ke arah Hyuuga.

Pasti ada sesuatu di antara mereka, pikirmu.

"Oh ya Pahlawan, ini ada biskuit dan cookies untuk tuan putrimu. Tenang saja, ini patungan klub surat kabar kok, bukan buatan Riko." Ucap Hyuuga sambil meletakkan sebuah bingkisan di atas meja. "Semoga cepat sembuh."

Mendengar sebutan tuan putri itu membuatmu salah tingkah. "Aaa... Makasih, Senpai."

Riko menyentuh gips di tanganmu. "(your name), kapan gipsmu ini bisa dilepas?"

"Umm... kata dokter kemungkinan tercepat aku bisa melepasnya lusa—karena selama koma rupanya penyembuhan tulangku cukup cepat. Kenapa memangnya?" Tanyamu polos.

Seringai jahil muncul di wajah manis Riko. "Hmm~ berarti masih sempat ya menyelesaikan artikel?"

Wajahmu pucat seketika. Artikel! Baru saja kehidupanmu terasa begitu indah. Ah, tapi kan Teppei ada di sini terus, tinggal menanyainya saja lalu merangkum artikelnya sebelum deadline.

"Kutegaskan ya, kita akan mencetaknya tanggal dua puluh satu, supaya berita soal ultah si kepala sekolah tidak basi. Oh ya, sayang sekali, tapi kamu jadi tidak bisa ikut pestanya ya dengan keadaan seperti itu..." Kata Riko.

"Hah? Pesta apa?" Tanyamu.

"Pesta buat pasangan-pasangan macam mereka..." Sindir Teppei jahil dengan senyum yang janggal. "Selama kamu koma, rupanya dua anak ini malah jadian, (your name)." Jelasnya.

Keduanya pun salah tingkah dan Hyuuga menatap Teppei tajam. Kamu tertawa kecil melihat reaksinya, tapi tidak lagi ketika menangkap sorot mata Teppei.

"Ya sudah, pokoknya istirahatlah yang cukup dan jangan lupa artikelnya, (your name). Teppei, jaga dia! Awas kau kalau sampai anak ceroboh ini kenapa-kenapa lagi!" Ancamnya.

"Iya, akan kujaga dia baik-baik. Dengan taruhan nyawaku kalau perlu." Sahut Teppei santai.

"Oh oh manisnya si iron heart ini! Ayo Riko, kita pergi." Ajak Hyuuga. Lalu keduanya pun pergi dan membiarkan keheningan menyelimutimu dan Teppei yang berdua di ruangan itu.

Teppei menutup kotak makan lemon madu yang sudah habis lalu menaruhnya di meja. Ia kembali duduk di samping ranjangmu lalu menatapmu serius. "Nah, karena ternyata kamu masih harus menulis artikel tentangku, bagaimana kalau kubantu? Ayo, tanyai apa saja yang mau kamu muat di artikel dan rekam—karena tanganmu tidak bisa menulis. Kita kan sudah lama nggak ketemu sejak kamu lulus SD waktu itu dan pastinya jadi banyak dong yang kamu tidak tahu soalku yang sudah puber ini? Hehehe..." Ledeknya.

Kamu menatapnya datar. "Yah, ingatanku kini sudah kembali dan mungkin memang banyak yang berubah darimu—terutama ya wajahmu yang tampan itu."

"Tumben ngomongnya nggak sambil malu-malu lagi seperti dulu." Timpalnya iseng.

"Tapi, ternyata aku salah dalam satu hal." Kau mengacuhkan omongan Teppei dan mulai gelisah. Sesekali menggigit bibirmu pelan. Bahkan kalau tidak kau tahan air matamu pasti akan tumpah ruah.

Sedih rasanya sekarang, setelah menyadarinya, lalu mengingat kembali sensasi yang diberikan Teppei saat ciuman itu terjadi.

"Hm, apa itu?" Tanyanya.

Kamu memaksa tersenyum. "Ya... sampai kapanpun kamu memang hanya menyukai Riko senpai kan?"

Ia tertegun. Jelas sekali kalau ucapanmu barusan benar.

Matamu mulai berkaca-kaca. "Aku salah. Waktu itu... sebelum aku pergi menyusulmu ke stasiun dan kita akan makan pai apel, walau ingatanku belum kembali, tapi kamu membuatku mengira.. kamu membuatku menyangka... kalau... kalau kamu... menyukaiku..." Ucapmu lirih.

Air mata pun mulai menetes satu-satu. "Aku lupa, Onii-chan. Sungguh, betapa bodohnya kalau aku mengira kalau kamu menyukaiku. Bahkan sampai ingatanku kembali pun aku masih mengira... tapi aku tahu dari reaksimu ketika Riko dan Hyuuga senpai datang barusan... kalau kamu memang tidak pernah berhenti menyukainya, kan?"

"(Your name)..." Panggilnya lirih.

"Aku rasa kejadian waktu itu memang cuma mimpi. Atau mungkin kamu cuma terbawa suasana dan saat itu pun pasti kau membayangkan sedang menghadapi Riko senpai. Yah, konyol rasanya mengingatnya dan mengetahui seberapa besar aku berharap saat itu terjadi..." Lanjutmu dengan nada yang semakin lirih. Air matamu pun sudah tidak dapat kau tahan lagi. Kau membiarkannya mengalir, seperti pengakuanmu terhadap pemuda yang sempat kau lupakan itu.

"Rasanya lebih baik kalau saat itu aku tidak pernah mengingatmu lagi, Onii-chan." Ucapmu lagi.

Sebuah tangan besar pun mengusap air matamu yang mengalir. "Jangan begitu, (your name). Kamu sudah berprasangka terlalu jauh..." Hiburnya.

Kamu mengangkat kepalamu dan menghadapi wajahnya yang berada dekat denganmu. "Berprasangka apanya? Jujur sajalah! Kamu memang tidak pernah mengatakannya, tapi aku tahu, Onii-chan. Aku tahu kalau kamu sangat menyukainya sejak dulu!"

Tangan besar Teppei pun merengkuh tubuhmu perlahan ke dalam dekapannya. Hati-hati sekali memikirkan tanganmu yang masih di gips.

"Ya, aku memang menyukai Riko. Dulu, bahkan mungkin saja sampai saat ini. Tapi, aku mencintaimu (your name). Sungguh. Tahukah kamu betapa takutnya aku ketika kamu koma dua minggu? Rasanya seperti dua tahun! Aku tidak mau kehilanganmu." Akunya.

Kau membelalak kaget.

"Bukan hanya itu, kamu pikir aku sejahat itu sampai berani menciummu kalau aku tidak mencintaimu? Dan satu hal lagi yang perlu kutegaskan, kamu bukan pelampiasan karena Hyuuga sudah mengambil Riko. Aku mencintaimu bahkan sebelum mereka jadian!" Tegasnya.

Jantungmu masih tetap berdetak tak karuan walau Teppei sudah melepaskan dekapannya. Kau menatapnya tidak percaya dan malu luar biasa.

"Benarkah?" Hanya itu yang bisa kau ucapkan.

"Ck.. ck... Teppei menggelengkan kepalanya lalu mengelus rambutmu dengan sayang. "Kamu ini benar-benar manis... Bisa-bisanya kamu masih belum percaya juga. Memangnya mau dibuktikan dengan apa?" Tanyanya iseng sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajahmu.

Pipimu memanas, tahu ke mana arah pembicaraan itu.

Lalu, sebelum sebuah bibir menyapu lembut bibirmu perlahan, kamu berbisik lirih di telinganya.

"Aku mencintaimu, Teppei Onii-chan..."

.

.

.

.

.

"Oh iya, soal artikelmu, bagaimana kalau aku membantumu menulisnya dengan berita yang sensasional?"

.

.

.

.

.

Published Day : March 21, 2015

Hari ini surat kabar Teikou akhirnya terbit setelah seluruh staf—minus dirimu yang baru keluar dari rumah sakit malam nanti—dibuat bekerja sangat keras. Artikelmu tiba di waktu yang sangat kritis, persis sebelum semua bahan dibawa ke percetakan. Riko mengomelimu habis-habisan di telepon, tapi untungnya ada Teppei yang siap melindungimu di situ.

"Kamu tahu tidak, artikelmu itu tiba lima menit sebelum dibawa ke percetakan!" Omel Riko untuk yang kesekian kalinya.

"Sssh, jangan teriak-teriak dong Senpai. Aku loudspeaker nih, dan di tirai sebelah sekarang ada orang lain dan dia baru saja makan siang walau sudah sesore ini. Pasiennya susah dibuat makan lho, jadi..."

"Apa peduliku! Ugh, kuharap tadi Koganei memeriksa artikelmu dengan baik dan tidak menurunkan kualitas surat kabar kita. Aku jadi belum sempat kan melihat berita yang pastinya melaporkan jadiannya kamu dengan si iron heart itu, deh." Cerocosnya lagi.

"Hei, aku dengar, Riko." Timpal Teppei.

"Ya, ya, ya. Sudah ya, sekarang aku mau membaca artikelmu dulu. Edisi kali ini terjual luar biasa laris dan untunglah masih ada satu di sini. Selamat pacaran deh kalau begitu." Ucap Riko sebelum ia memutuskan teleponnya.

Riko pun membuka satu demi satu halaman untuk mencari letak artikelmu berada. Di halaman itu tertera foto Teppei yang lumayan besar serta beberapa informasi pribadi seperti nama lengkap, golongan darah, ulang tahun, dan lain-lain. Setelah dibaca lebih lanjut ternyata ada juga masa lalu Teppei semasa SMP yang berteman dekat dengan Hyuuga dan Riko di klub basket lalu lutut Teppei yang cedera setelah pertandingan penting. Sampai sekarang ia masih belum bisa maksimal main basket dan karena itulah dia hanya sesekali mampir ke sana dan tidak bisa bergabung dulu dengan klub basket Teikou yang punya standar ketat.

Setelah masa lalu itu, ada beberapa kutipan dialog dari Teppei yang mengatakan soal tipe gadis idealnya, tapi pada akhirnya di dialog itu ia menyebutkan kalau ia telah mencintai seorang gadis. Hanya dengan ciri-cirimu tanpa menyebutkan nama sama sekali.

"Haah... payah. Dua anak ini bukannya mengumumkan hubungan mereka di artikel ini..." Komentar Riko. Tetapi, tidak apalah. Ia sudah lama mengetahui perasaanmu terhadap Teppei dan lega setelah tahu bahwa pemuda yang sempat menyukainya itu akhirnya menjadi pacarmu.

Riko membalik halaman terakhir artikelmu dan bersiap menemukan halaman artikel soal pesta ulang tahun kepala sekolah yang ditulisnya, tapi ia malah menemukan tulisan lain bertajuk 'PLUS PLUS' yang membuatnya hampir jantungan karena malu.

Sebuah artikel pendek dengan judul 'Akhirnya Ketua Klub Surat Kabar dan Wakilnya Jadian Juga! Selamat Hyuuga Junpei dan Aida Riko!'.

.

.

.

.

.

End.

.

.

.

.

.

A/N Schnee :

Finally selesai juga minna! Ini berhasil kuselesaikan sebelum US dan semoga bisa memuaskan kalian sepanjang bulan maret ini, ya!

Ready to Review?


Balasan review no account :

To Sekiryuu :

(Chapter 1) Schnee : Salam kenal Sekiryuu! Tidak apalah baru yang penting kan sempat ;) Cieee terbang ayo sini turun lagi biar pas cowok-cowok kece lain muncul di chapter baru bisa terbang lagi! Iya sih Hanamiya emang parah nyebelin banget jahat gitu liatnya pertamanya, akhirnya kepikiran kalo si badass ini bisa dibuat sweet jadinya badai banget emang ya 3

(Chapter 2) Tsukki : Terima kasih sudah membaca dan mereview! *bows* Aduhh turun dongg sampe terbang dua kali gitu, mereka berdua memang sangar-sangar manis kok X33 Untuk Midorima/Kise ditampung dulu yaa, mungkin mereka agak lama direalisasikan hehe, dan semoga di chap ini sekiryuu-san akan terbang lagi ya (?)