Warning :
Readers!Chara—AU!TeikouHighschool—Maybe a bit OOC demi kepentingan fanservice—maybe typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Balasan Review no account di bawah A/N di akhir cerita!
.
.
.
.
Pagi ini Hyuuga—wakil ketua klubmu—sudah mencak-mencak di depan laptop dan setumpuk kertas-kertas yang dilansir merupakan surat pembaca.
Kau duduk dengan manis di hadapan Hyuuga, menanti dengan sabar dan tenang untuk mendapatkan tugas berikutnya, mengabaikan suasana tak mengenakkan yang menguar dari sang senior.
Tampaknya, menunggu terlalu lama juga membosankan.
"Jadi?"
"Belum. Tunggu."
"Sudah sekitar 10 kali Hyuuga-san mengucapkan hal yang sama."
Hyuuga mendelik tajam tak suka, "Diam, Daho! Tidak bisakah kau lihat bahwa aku sedang menyortir segala sesuatunya di sini?"
"Tentu saja aku bisa melihatnya, Hyuuga-san." jawabmu tenang. "Tetapi terlalu lama juga tidak baik, bukan?"
Hyuuga kehabisan kata-kata. Ia baru ingat bahwa akan tidak ada habisnya berdebat denganmu yang notabene menempati urutan nomor satu junior yang paling kurang ajar versi seorang Hyuuga Junpei.
Darimana kau tahu? Oh, silakan berterima kasih kepada Izuki Shun yang tidak sengaja kelepasan berbicara.
"Ya, ya, ya. Aku tahu dan sekarang cobalah untuk bersabar sebentar lagi."
Kau mengangguk saja dan mengamati Hyuuga yang kembali berkutat dengan pekerjaannya—masih lengkap dengan ekspresi beserta aura yang sama tidak menyenangkannya.
Seluruh anggota klub sepertinya sudah mempertanyakan mengapa suasana hati Hyuuga sudah seburuk—atau bahkan lebih buruk—nilai-nilai ulangan yang biasa didapat oleh Aomine Daiki pada Hyuuga sendiri. Alih-alih mendapatkan jawaban yang diinginkan, Hyuuga malah akan semakin mencak-mencak dan merutuk sebal. Ia dengan seenak jidat segera mempersilakan untuk bertanya langsung kepada kekasihnya. Hyuuga tidak mau menjelaskan.
Tetapi karena mendapat tatapan datar terus-terusan darimu, akhirnya Hyuuga menyerah (ingat, kau adalah adik kelas paling menyebalkan menurutnya). Diambilnya secarik kertas kecil yang sudah tak berbentuk dan menyodorkannya kepadamu.
Sebuah memo.
Berisi ultimatum untuk mengendalikan seluruh aktivitas klub. Tertanda Aida Riko di pojok kanan bawah.
Seluruh itu yah maksudnya adalah mengurus percetakan, merancang anggaran, mengedit artikel, hingga menyortir keinginan para pembaca setia dari Teikou yang sudah pasti menggunung jumlahnya, serta memberikan tugas kepada para anggota seperti saat ini.
Menolak sudah pasti tidak mampu, mengeluh saja harus tidak ada perempuan itu dulu. Hyuuga sangat mengerti apa itu definisi ultimatum dan ia tidak ingin mati muda.
Ia menghela napas, namun sorot matanya berubah menjadi—sedikit—lebih cerah.
"Sudah menemukan apa tugasku, Hyuuga-san?"
Hyuuga menampakkan seringai dan mengangguk puas, "Kurasa bagian ini cocok untukmu."
"Jadi?" tanggapmu kelewat datar.
"Kau akan menulis artikel tentang idola para perempuan sepertimu di luar sana."
Hening. Kau tidak segera menjawab. Kau sedang sibuk mengecek apakah indera pendengaranmu sudah mulai menurun kualitasnya atau ini disebabkan oleh otakmu yang sudah salah mengolah data yang baru saja ditransfer oleh reseptormu.
"Hyuuga-san tahu aku tidak senang bercanda."
Hyuuga mengerutkan kening, "Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku sedang bercanda?"
Kau terdiam, sedang menimbang-nimbang dalam hati walaupun ekspresi sedingin es masih terpaku di wajahmu, "Baiklah. Jika itu serius maka aku akan menyanggupinya."
"Kau harus menyanggupinya, Daho!" Hyuuga memijit pelipisnya pelan, "Yang jelas, kau hanya memiliki waktu hari ini dan dua hari kemudian untuk menyusun artikel ini."
Alis tipismu berkedut.
"Dan kali ini kita akan meliput Nijimura Shuuzou."
Kali ini ganti kedua belah bibirmu mengerut kecil.
.
.
.
.
Kuroko no Dating Simulation :
Love Report!
Nijimura Shuuzou x Readers!
.
.
.
.
Day 1 report : April 10, 2015
Jika kau ingin jujur, kau akan mengutarakan pikiranmu bahwa kau agak keberatan dengan artikel yang akan kau bawakan kali ini. Bukan tanpa alasan. Kau jarang meliput dari seorang narasumber. Biasanya kau kebagian artikel di mana kau menuliskan pengamatanmu mengenai suatu hal. Agar lebih mudah untuk dideskripsikan, artikel yang kau tangani biasanya memiliki komposisi yang lebih berat dan jarang sekali mengharuskan dirimu untuk berinteraksi dengan narasumber. Tentu saja menulis di kolom artikel idola yang belum lama ini digagas keberadaannya agak menyulitkan dirimu.
Namun kau tipikal orang yang menjunjung tinggi profesionalitas, tidak ada alasan yang begitu bagus untuk menolak.
Tadi Hyuuga berkata bahwa kau harus menyerahkan artikelnya dua hari lagi. Berarti kau tidak memiliki alasan untuk berleha-leha, bukan?
Kau tentu tahu Nijimura, namun hal itu berbanding terbalik jika kau ditanya mengenai latar belakangnya. Jadi sekarang kau menatap desktop laptopmu lamat-lamat. Memindai identitas Nijimura Shuuzou yang menjadi narasumbermu untuk artikelmu kali ini pada situs sekolah.
Kesan pertamamu kepada Nijimura adalah ia lumayan hebat.
Ia mengikuti program akselerasi yang membuatnya dapat menyelesaikan studinya lebih cepat dari teman sepantarannya. Namun tampaknya hal ini tidak menyurutkan ambisinya untuk menggeluti bidang di samping akademik. Terbukti ia berhasil menyabet beberapa prestasi pula di bidang non-akademik; olahraga.
Menjabat sebagai kapten basket Teikou contohnya dan membawa menjadi juara nasional saat Interhigh dan Winter Cup. Pernah memenangkan beberapa kejuaraan karate saat masih berada di sekolah menengah pertama dan pada awal tahun pertamanya di Teikou. Menjadi lawan tanding dengan sukarela dalam latihan tenis meja pada klub tersebut. Yang terakhir adalah dirinya terdaftar sebagai salah satu anggota Komite Pendidikan Jasmani di Teikou.
Mencengangkan mengingat betapa banyaknya waktu yang tersita dalam kegiatan belajar mengajar dalam kelas akselerasi.
Kau mengulum senyum tipis. Tidak terlalu buruk sepertinya, pikirmu. Sedikit senang karena artikelmu mungkin akan sukses seperti artikelmu yang lain.
Bukan menyombong, kau hanya merasa cukup senang dengan informasi dasar yang kau himpun kok.
Kau menilik tepi kanan bawah, mendapati di sana sudah menunjuk pukul lima sore. Merujuk pada jadwal kelas XII yang tadi sempat kau intip, kelas akselerasi seharusnya sudah selesai melakukan kegiatan belajar mengajar.
Mengalihkan laptopmu ke dalam mode hibernasi, memasukkannya ke dalam tas dan segera keluar dari ruang klub untuk menuju gedung yang dibangun terpisah dalam kawasan Teikou ini.
Khusus untuk siswa seperti Nijimura, dibangun tidak lebih dari sepertiga besar kawasan milikmu karena kapasitas siswa akselerasi memang tidak seberapa. Dilansir karena ingin siswa-siswi yang mengikuti program tersebut tidak terusik fokusnya, karena tuntutan untuk memiliki fokus dan kemampuan di luar batas.
Langkah-langkah tegas segera susul-menyusul gemanya saat kau melintasi koridor sepi. Tangan kananmu mengecek kantung blazer-mu apakah secarik kertas berisi inti-inti pertanyaan yang telah kau buat untuk Nijimura dan sebuah pensil mekanik berada di sana.
Beres.
Lurus saja dan lintasi tepi lapangan sepak, maka taman milik gedung berlantai dua tersebut akan terhampar di depan mata.
Kembali menapaki lorong-lorong, matamu berusaha mencari-cari kelas tujuanmu. Agak sulit karena siswa akselerasi berbondong-bondong keluar area sekolah, dengan berdesakkan. Acap kali kau terpaksa berhenti sebentar menunggu lenggang, atau memilih jalan memutar.
Sebenarnya jika diingat kembali, hal ini terjadi karena kesalahanmu juga. Mengapa kau memasuki area ini tepat saat bel pulang berbunyi?
Akhirnya kau menemukan barisan kelas XII yang bertotal 3 kelas. Jika ia tidak salah, Nijimura adalah siswa kelas XII-A. Mudah untuk ditemukan, itu berada di ujung koridor sana.
Setelah setengah berjalan menuju tujuan, kau sadar akan sesuatu.
Bahwa koridor berisi kelas XII ini tidak mungkin akan sesenyap ini.
Keraguanmu terbukti sudah ketika kau mengintip kelas XII-A. Sunyi dan kosong. Bahkan meja dan kursi tertata begitu rapi.
Selang beberapa menit kau menyadari sesuatu dan mendecih pelan. Betapa bodohnya kau karena lupa bahwa pada minggu ini kelas XII diliburkan seluruhnya.
.
.
.
Bukan kau namanya jika kebuntuan seperti ini memutuskan asa.
Kau segera menyusun rencana untuk mendata alamat Nijimura dan menandatangi kediamannya untuk melakukan rangkaian wawancara singkat dan ringan.
Setelah dipikir, sepertinya agak tidak sopan jika langsung bertamu begitu saja kepada senior.
Jadi kau di sini, berada di sebuah bangku di taman, menghela napas kecil dan berpikir keras apa yang harus kau lakukan.
Kau menengadahkan kepala dan menatap kepingan lazuardi di atas sana. Awan di sana bergelung dan begitu menggemaskan bentuknya maupun warnanya.
Terbayang potret Nijimura di sana dan beberapa fakta yang telah kau ketahui. Kemudian kau tercenung.
Mengapa tidak terpikirkan olehmu untuk mencarinya di hall basket khusus first string Teikou?
Tidak lupa kau berterima kasih kepada awan yang berbentuk agak bulat—bisa disebut seperti bola basket—yang langsung mengingatkanmu kepada salah satu kemungkinan di mana Nijimura berada.
Ah tetapi… Apakah iya Nijimura-san benar-benar berada di sana?
.
.
.
"Permisi, Ah! Midorima-san!"
Midorima yang sedang bersiap untuk menembakkan bolanya mengurungkan niatnya dan membalas tatapanmu yang sedang berada di ambang pintu, "(your name)?"
Midorima yang notabene merupakan teman sekelasmu berjalan menghampirimu, "Ada apa, nanodayo? Tumben sekali kau ke sini."
"Doumo." ucapmu. "Apa Nijimura-san, ada?"
Ia mengernyit, heran mengapa kau mencari Nijimura namun urung mengutarakan keheranannya, "Tunggu sebentar."
Midorima kemudian berlari melintasi lapangan dan kau melihatnya berbicara dengan seseorang berambut hitam di ujung sana. Orang itu kemudian menatapmu; ke arah Midorima menunjuk.
"Kau mencariku?" tanya Nijimura saat menghampirimu.
Kau mengangguk kecil lalu membungkukkan badanmu sedikit, "Yoroshiku onegaishimasu, Nijimura-san."
"Eh, o-oi!" Nijimura terkejut. "Tidak perlu seperti itu! Lagipula, kenapa?"
Kau mengangkat badanmu kembali dan menatap Nijimura datar.
"Bisakah kita mencari tempat yang lain? Aku ingin berbicara denganmu."
Nijimura makin heran saja.
.
.
.
"APA?!"
Kau diam saja sembari mengangguk kecil.
Nijimura menatapmu horror beserta tidak percaya, "Serius? Aku?"
"Tentu, Nijimura-san."
Ia kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidaklah gatal sama sekali, "Ah… Uhm... Bagaimana ya? Aku sudah sering diwawancara saat memenangkan kejuaraan, tetapi jika untuk kolom idola, rasanya…"
"Aku tidak akan bertanya macam-macam kok." ucapmu. "Mungkin aku hanya akan bertanya apakah kau memiliki kekasih, bagaimana kriteria wanita idamanmu, dan semacam itu."
Nijimura melongo.
"Bagaimana, Nijimura-san?"
"Itu malah yang terburuk, (your name)!" sanggah Nijimura cepat dengan satu oktaf yang lebih tinggi dari sebelumnya. "Oh ya ampun, rasanya aku tidak akan sanggup."
"Kau berlebihan Nijimura-san. Kau kan hanya perlu menjawab saja."
Hening. Dahi Nijimura mulai berkedut kesal.
"Hei, hei…"
"Jadi," potongmu, "kapan aku bisa memulai wawancara?"
.
.
.
"Bocah sialan…"
.
.
.
Day 2 report : April 11, 2015
"Ah, (your name)!"
Kau menengok, "Ada apa, Hyuuga-san?"
"Umm… Warui! Kemarin aku lupa memberitahumu bahwa Nijimura biasanya masih datang latihan klub basket." ia kemudian duduk di bangku di sebelahmu. "Apakah kau sudah bertemu dengannya?"
Kau menatap Hyuuga sengit, "Oh terima kasih membuatku bingung bagaimana cara bertemu dengannya, tapi aku sudah membuat janji dengannya siang ini."
Kau kemudian membereskan laptopmu dan beberapa kertas yang masih berserakan di mejamu, "Aku permisi, Hyuuga-san."
Hyuuga melongo melihatmu ngeloyor begitu saja dari ruang klub surat kabar Teikou tersebut.
"ARRGHH! Kenapa kau harus ke luar kota, Riko?!"
Erangan frustasi Hyuuga masih dapat tertangkap indera pendengaranmu dan sukses membuatmu menyeringai kecil.
.
.
.
"Lama menunggu?"
Kau mendongak dan mendapati Nijimura sedang menatapmu sambil terengah-engah, "Telat 25 menit."
Nijimura mengerucutkan bibirnya sembari mendudukkan dirinya di hadapanmu yang sedang menyeruput coklat panas milikmu, "Setan cilik sialan. Tidak memberikan kelonggaran sedikitpun."
Kau menaikkan alismu, "Setan cilik?"
"Akashi Seijuurou."
"Oh."
Nijimura berdehem, "Sudah lama?"
"Aku pun tadi telat, dari klub dulu."
Nijimura mengernyit, "Kenapa tidak menghampiriku? Jadi kau tidak perlu menungggu."
"Tidak terpikir."
"Astaga… Tidak perlu dingin seperti itu." Nijimura mendengus. "Klubmu sedang mempersiapkan edisi berikutnya?"
"Begitulah." jawabmu pendek. "Oleh karena itu aku hanya memiliki waktu dua hari untuk mewawancaraimu."
"Hm…" Nijimura tengah sibuk membalik-balik lembar menu. "Mengapa diberitahu mendadak?"
"Aida-san keluar kota, sedang Hyuuga-san melupakan bahwa kolom idola belum terurus sama sekali dari bulan lalu." jelasmu panjang lebar. "Ia baru mengingatnya saat membaca surat pembaca kemarin."
Nijimura mendengus kembali, "Lalu di surat pembaca itu sebagian besar meminta untuk diriku yang dimuat dalam edisi bulan ini?"
"Yup."
"Jadi, bisakah kita mulai?" tanyamu setelah Nijimura selesai memesan menunya.
"Boleh saja." jawab Nijimura. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
Kau yang sudah daritadi stand by di depan laptopmu kembali melirik ke arah desktop dan menyuarakan pertanyaan yang ada di sana, "Aku akan mulai dengan biodata diri terlebih dahulu. Benarkah kau lahir pada tanggal 12 Juni, Nijimura-san?"
"Salah," jawabnya, "Waktu itu sekolah salah memasukkan dataku, yang benar 10 Juli."
Suara ketikkan keyboard terdengar, "Baiklah. Bagaimana dengan golongan darah?"
"A."
"Umur?"
"17."
Kau menatap Nijimura sangsi, "Kau terlihat pendek untuk seukuran umurmu, Nijimura-san."
Nijimura tersedak teh lemon—yang baru saja datang—miliknya, "Hei? Apa-apaan itu! Tinggiku 192 senti, oke?"
"Walau begitu, kau tetap pendek." jawabmu kalem. "Tinggimu sama dengan Aomine-san dan berbeda 3 senti dari Kise-san, bahkan Midorima-san lebih tinggi darimu."
Alis Nijimura berkedut kesal, "Hei… Hei… darimana kau mengetahui tinggi kedua anak itu dengan persis?"
"Biodata di website sekolah." jawabmu tenang sambil menyesap cokelatmu lagi.
Nijimura kehilangan kata-kata dan memijit pelipisnya pelan, "Sudahlah, apalagi?"
"Berat badan?"
"Um… 75? Entahlah aku lupa."
"Kau lumayan ringan, Nijimura-san."
Tatapan sengit kembali dilayangkan kepadamu, "Kau ingin meledekku lagi, begitu?"
"Tenang, Nijimura-san." tandasmu. "Kurasa kau adalah orang yang mudah sekali terpancing amarah, ya?"
Nijimura menghela napas panjang, mengabaikan pertanyaan retorik yang keluar darimu, "Apalagi?"
"Kurasa cukup untuk biodata, Nijimura-san." Kau lalu menutup laptopmu. "Selesaikan saja makanmu terlebih dahulu."
Nijimura mendesah lega sembari menyendokkan kuah miso ke dalam mulutnya, "Kau tidak makan?"
Kau menggeleng perlahan.
"Oh iya, (your name)."
"Ya?"
"Kurasa sehabis aku menghabiskan makananku, aku akan pulang."
Kau mengernyit heran, "Kenapa?"
"Belajar." jawab Nijimura singkat, "Menghadapi ujian akhir Senin besok."
"Hari Senin adalah Kimia dan hari berikutnya adalah Biologi." ujarnya lagi. "Aku tidak terlalu pandai, kecuali di Matematika."
Kau kembali mendecih karena melupakan hal sepenting itu. Bagaimana bisa kau melupakan jadwal ujian akhir?
Kau mencatat dalam hati apa mata pelajaran yang Nijimura sukai tadi lalu terdiam sebentar sebelum mengangguk mengiyakan untuk diperbolehkan pulang.
"Bisakah aku menemuimu besok?"
.
.
.
Nijimura mendesah keras. Tangan kirinya ia cengkramkan di pinggang sedang tangan kanannya mengacak-acak rambutnya asal.
"Oh Tuhan," katanya, "kita sudah berjanji untuk mengadakan wawancara besok, 'kan?"
Nijimura mengerang, ia benar-benar ingat di angka berapa jarum pendek dan jarum panjang di kamarnya mengarah. "Ini sudah pukul 8 malam, apa yang kau pikirkan, sih?"
"Bolehkah aku masuk terlebih dahulu?" ucapmu mengabaikan seluruh gerutuan yang terlontar dari mulut seniormu. "Aku akan menjelaskannya di dalam, Nijimura-san."
"Baik." sahut Nijimura setelah sekian kalinya menghela napas. "Kuharap kau membawa alasan yang cukup memuaskan."
Tuan rumah mempersilakanmu untuk masuk ke dalam apartemen sederhana miliknya setelah sekian menit menahanmu di ambang pintu tanpa terbesit sedikitpun untuk mengampunimu. Dibawanya kau masuk ke ruang keluarga yang tampaknya dijadikan satu sebagai ruang tamu pula.
Kau meletakkan tasmu di atas meja dan duduk di atas zabuton walaupun terdapat sofa di sana. "Aku akan membuatkan minum, tunggulah di sini sebentar, (your name)."
Kau mengangguk.
Selang beberapa detik setelah Nijimura luput dari pandangan, kau menyapu pandangannmu ke sekeliling ruangan. Tidak terlalu banyak perabot. Hanya ada sofa, meja, televisi dan ah!
Lemari besar. Berisi beragam piala dan penghargaan di sana.
Kau bangkit dari tempat dudukmu dan segera menghampiri lemari kaca tersebut. Mengamati label-label ataupun tulisan-tulisan yang terukir pada piala, medali maupun sertifikat di sana. Salah satu contohnya adalah adanya empat buah piala serta medali yang ia sabet dari kejuaraan basket nasional tingkat sekolah menengah atas dua tahun terakhir ini.
Terbesit di benakmu untuk mengambil buku kecil dan pensil mekanikmu untuk mencatat semua prestasi yang telah Nijimura raih. Bukankah ini bagus? Berarti artikelmu akan semakin lengkap, bukan?
Kau tersenyum kecil sedang tanganmu dengan sibuk mencatat. Tidak mengeluh walau banyak, bahkan yang terjadi padamu malah sebaliknya; semakin senang jika semakin banyak.
"Hei, kau sedang apa?"
Kau yang tengah asyik berjengit kaget. "Ah, Nijimura-san jangan mengagetkanku begitu."
Tanpa mengindahkan pertanyaan Nijimura yang baru saja ia lontarkan, kau malah meneruskan kegiatanmu. Tanggung. Tinggal beberapa lagi maka selesai.
Nijimura meletakkan dua cangkir teh di atas meja lalu menghampirimu yang masih berkutat di depan lemari kaca tanpa teralihkan fokusnya sedikitpun, "Mencatat prestasi yang telah kuraih?"
"Iya. Baru terpikirkan tadi." jawabmu tanpa melihat lawan bicaramu. "Aku merasa beruntung karena telah datang ke sini, Nijimura-san."
"Peduli amat kau merasa beruntung atau tidak. Kau seharusnya meminta izin kepadaku terlebih dahulu, Bodoh!" dengan sekali sentakkan, jari Nijimura sukses menyarangkan setilan tajam pada bagian belakang kepalamu.
Hal itu sukses membuatmu mengerang kesakitan dan berbalik menatap tajam Nijimura yang tingginya terpaut kurang lebih 30 senti darimu, "Nijimura-san tidak perlu menyentilku seperti itu. Sakit."
Kau menggosok bagian kepalamu pelan dan mengerucutkan bibirmu kecil yang sontak mengundang tawa dari Nijimura.
"Maafkan aku," ujar Nijimura sembari menepuk-nepuk kepalamu layaknya menganggapmu sebagai anak kecil, "silakan lanjutkan."
Kedua belah bibirmu masih menampakkan kerutan, "Aku sudah selesai, Nijimura-san."
"Duduk dulu jika begitu dan ceritakan kepadaku mengapa kau tega menggangguku malam-malam begini."
Nijimura berjalan mendahuluimu dan duduk di atas zabuton yang berada di sisi meja yang berlawanan dengan tempat di mana kau duduk tadi. Kau hendak mengikuti, namun matamu menangkap beberapa buah pigura yang berjejer di dalam lemari kaca.
Ada potret saat ia menjadi juara dalam karate ataupun potretnya bersama Kiseki no Sedai beserta Kuroko Tetsuya dan Momoi Satsuki.
Namun bukan potret tersebut yang menyita daya tarikmu.
"Hei, kau sedang melihat apa?" tanya Nijimura heran karena kau urung untuk duduk sambil menyesap teh yang telah ia buat bersamanya.
"Ini keluarga Nijimura-san?" tanyamu sembari menatap lekat-lekat pigura yang menyimpan potret berisi lima orang: dua orang dewasa, Nijimura, dan seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan yang masih tanggung umurnya.
"Iya." jawab Nijimura. "Itu keluargaku, (your name)."
Kau akhirnya melepaskan pandanganmu pada potret tersebut dan memutuskan untuk duduk di seberang Nijimura, "Kukira Nijimura-san tinggal sendiri." ujarnya. "Tidak ada sepatu atau sandal yang kuduga selain milik Nijimura-san saat di beranda tadi."
Nijimura tersenyum kecil sebelum terkekeh, "Kau pengamat yang baik rupanya." ia menyesap tehnya lalu memainkannya di jarinya. "Aku memang tinggal sendiri kok."
Kau mengernyit, jarimu memegang menyelimuti tubuh cangkir milikmu, kau hanya ingin merasakan kehangatan di sana, "Keluarga Nijimura-san… di mana?"
Nijimura tidak segera menjawab dan kembali menyesap tehnya dengan mata terpejam, "Amerika, Los Angeles."
"Los Angeles?"
Jauh. Jarak yang terbentang antara Tokyo dan Los Angeles itu tidak dapat dipungkiri lagi jauhnya. Mendengar hal ini, kau malah teringat dengan Kagami Taiga—salah satu teman sekelasmu yang baru saja pindah. Bedanya, Kagami dari New York lalu pindah ke Jepang.
Nijimura meletakkan kembali cangkirnya di atas saucer, "Ayahku sakit, (your name)." jawabnya. Akhirnya keluargaku memutuskan untuk pindah ke sana dan menemani ayah yang menjalani rangkaian pengobatan di sana."
Kau diam. Tahu bahwa hal ini agak sensitif untuk dibicarakan.
"Aku tidak ikut pindah karena aku baru saja mendaftar ke Teikou." terangnya lagi. "Sedangkan kedua adikku baru saja lulus sekolah dasar."
Kau menatap pantulan dirimu di permukaan likuid berwarna cokelat kemerahan tersebut, tidak mau matanya beradu pandang pada manik obisidian seniornya, "Oh… maafkan aku, Nijimura-san."
Nijimura menaikkan alis mata kanannya, "Kau bisa meminta maaf? Tidak kuduga." tambahnya sarkas.
"Tentu saja aku bisa!" kau mengerucutkan bibirmu. "Aku manusia."
Nijimura terkekeh, "Iya, iya, kau tidak perlu meminta maaf."
Kemudian Nijimura kembali melakukan gestur menyebalkan—menyentilmu di kepala, namun kali ini di dahimu. Sontak saja disambut dengan erangan tidak suka dari mulutmu.
"Ah, Nijimura-san menyebalkan."
"Memangnya kau pikir kau tidak menyebalkan?"
"Lebih menyebalkan Nijimura-san!"
Nijimura kembali terkekeh, "Lalu? Mengapa kau datang ke sini selarut ini?"
Kau yang masih kesal, menjawab dengan ketus, "Sesukaku. Apa masalah Nijimura-san?"
"Ini rumahku, Bodoh!" sahut Nijimura tak kalah ketusnya.
Kau hanya membalas menatap tajam, dan Nijimura meladenimu dengan menatap balik dengan tajam pula.
Sampai akhirnya kau menyerah—walau tidak mau mengakuinya, "Jadi kukira lebih baik jika aku menyelesaikan tugasku hari ini dan Nijimura-san bisa fokus untuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir nanti."
Nijimura termenung, dalam hati turut memikirkan alasanmu, "Lalu? Darimana kau tahu alamatku?"
"Midorima-san."
"Oh bocah itu." Nijimura mencatat dalam hati akan mengomeli habis-habisan adik kelasnya itu.
Kau menyesap tehmu, meninggalkan keheningan hingga tehmu benar-benar habis.
"Nijimura-san?" Kau menangkap basah Nijimura yang sedari tadi memperhatikanmu terus.
"A-Ah ya?"
"Jadi… Selepas dari Teikou, Nijimura-san akan ke LA?"
Nijimura mengangguk, "Yap. Alasanku untuk mengikuti kelas akselerasi pun karena ayahku. Tidak tenang aku di sini tanpa mengetahui perkembangan ayahku."
"Penggemar Nijimura-san akan kecewa mendengar ini." ucapmu yang disambut kekehan tawa dari Nijimura.
Kau menatap Nijimura, penuh harap, "Bolehkah aku menyertakan hal ini dalam artikelku?"
Nijimura meletakkan kedua tangannya di lantai dan membuatnya menopang tubuhnya, "Tentu saja. Apapun yang kau tahu boleh kau jadikan artikelmu."
Kau mengulum senyum, "Terima kasih, Nijimura-san. Nijimura-san sangat membantuku."
Nijimura terkejut.
Ya ampun, kau tersenyum.
.
.
.
"(your name)."
"Ya?" kau mengalihkan pandanganmu sebentar dari layar laptopmu. "Ada apa Nijimura-san?"
Nijimura bangkit dari duduknya dan menatapmu, "Sebaiknya kau pulang. Ini sudah benar-benar larut."
Kau yang tidak sadar menatap layar laptopmu sekali lagi. 9.58 PM.
"Ah ya ampun, Nijimura-san! Maafkan aku!" kau berujar panik sembari merapikan barang-barangmu.
Nijimura malah tertawa, "Tidak apa-apa. Kuantar kau pulang."
"Tidak perlu." jawabmu singkat. "Aku sudah merepotkan."
Nijimura berkacak pinggang, "Dasar deh. Sudahlah, yuk!"
Namun takdir berkata lain.
Sesaat setelah Nijimura membuka pintu apartemennya, angin kencang berdesir menyapanya, kilat menyambar dan gemuruh menggelegar.
"Oh tidak… Jangan katakan…"
Benar saja.
Tidak lama kemudian, hujan deras turun menyapa.
"Kurasa kau tidak bisa pulang, (your name)." ujarnya. "Aku bertaruh bahwa hujan ini tidak akan berhenti dalam kurun sejam-dua jam saja!"
.
.
.
"Kau bisa menggunakan kamar ini, (your name)." Nijimura membuka pintu kamar adik perempuannya. "Bersih, kok. Tenang saja."
Saklar ditekan dan cahaya lampu neon sekejap menerangi seluruh penjuru kamar.
Tidak terlalu banyak perabot karena sudah sebagian besar dipindahkan menurut penjelasan Nijimura. Hanya terdapat single-bed, meja nakas, lemari pakaian dan meja kecil di tengah ruangan. Benar apa yang dikatakannya olehnya. Kamar ini bersih seperti selalu ditempati.
Kau menatap Nijimura cemas sembari memegang tasmu erat-erat di dada, "Apakah benar tidak apa-apa?"
Nijimura tersenyum, kemudian mengangkat tangan kanannya untuk menyentil dahimu lagi. Kali ini kau hanya mengerang pelan. "Kamarku ada di sebelah, jika butuh apa-apa bilang saja, oke?"
Kau mengangguk kecil lalu membungkukkan badanmu, "Terima kasih."
Ia mengacak-acak rambut hitam sebahumu, "Jangan lupa hubungi orang tuamu. Oyasuminasai, (your name)."
"Oyasuminasai."
Bunyi bedebam terdengar—suara khas pintu ditutup. Fokusmu teralih kepada jendela kamar, menampakkan betapa hebatnya titik air menyerbu di luar sana. Suara angin menderu dan menerpa buku jendela sepertinya akan menjadi lagu penghantar tidurmu.
Kamar asing, dingin, dan suasana tak mengenakkan.
Kau bergidik. Dengan segera memilih untuk menyampirkan balutan sweater ke atas meja lalu berbaring nyenyak di atas ranjang yang dahulu selalu direbahi oleh adik Nijimura. Memejamkan mata, sengaja membiarkan seluruh memori yang kau himpun pada hari ini bergerumul dan terangkai menjadi sebuah cerita. Dengan begini, kau akan lebih mudah menyusunnya esok hari.
Ah omong-omong, kau merasa harus tidur cepat. Besok hari terakhir kesempatanmu meliput Nijimura. Kau harus memastikan bahwa data yang kau kumpulkan mencapai kategori cukup plus memuaskan.
Ponsel biru tua diraih. Jari-jari tangan kanan menari lincah di atas keypad, mengetikkan sejumlah kata agar orang tua tidaklah khawatir. Kau memijit tombol kirim, kemudian meletakkan serampangan di atas nakas.
Kini kau harus benar-benar tidur.
.
.
.
Suara memekakkan telinga masih saja bergaung di luar sana. Kau suka suara air yang menetes jatuh membasahi bumi, namun tidak dengan gelegar petir dan gemuruhnya.
Kilatan-kilatan cahaya selalu menembus tirai merah muda tipis yang menggantung menutup penglihatan melalui jendela. Jarak antara kilat satu dengan yang lain tidak sampai 10 menit dalam satu jam terakhir ini, menurutmu. Bumi bergetar, membuat lantai dan ranjang turut serta.
Gila.
Hujan ini semakin menjadi-jadi saja.
Kau benar-benar yakin bahwa sebentar lagi tepat dua jam setelah titik air pertama bertemu tanah.
Tidak bisa tidur.
Berisik, silau, gemetar.
Kakimu menuruni seprai dan menjejak lantai dingin. Sensasi-sensasi menyengat terasa jelas. Tidak menyurutkan niatmu untuk mengetuk pintu mahoni di sebelah.
Kamar Nijimura, tentu saja.
Tidak peduli, kakimu sendiri yang menuntunmu ke sana. Mencari kehangatan. Jika kau seperti ini terus, kau malah akan tidak bisa tidur sebelum awan pembawa hujan pergi dari langit.
Ketukan pertama. Tidak terdengar jawaban.
Kau menggenggam selimutmu erat, berusaha mengetuk lagi.
Ketukan kedua. Nijimura membuka pintunya dengan wajah segar dan penuh heran.
"E-eh? Kau belum tidur?" tanyanya beruntun. "Dan—oh astaga! Jika kau melihat ke cermin maka kau akan melihat vampir di sana!"
Kau menggenggam telapak besar Nijimura, "Boleh masuk, Nijimura-san?" gigi bergemeletuk, mengundang wajah simpati dari Nijimura.
Ia tidak berkata apa-apa. Lengannya yang terbentuk itu melingkar di punggung dan pundakmu, "Tentu."
Pintu tertutup.
Sayup-sayup, alunan musik klasik terdengar. Teredam oleh gemuruh hujan di luar sana, menyebabkan dentingan-dentingan piano beserta gesekkan dari busur berjuang keras untuk mempertahankan eksistensi suaranya.
"Boleh aku tidur… di sini?" kau mengucek matamu sembari duduk di tepi ranjang Nijimura, musik yang mengalun dari ponsel Nijimura mulai membuaimu.
Nijimura duduk di kursinya, memutar kursinya untuk menatapmu sembari tersenyum, membiarkan punggungnya terpapar lampu belajar, "Tidurlah, (your name)."
Kau nyamankan posisi tubuhmu, perlahan-lahan merendahkan posisimu hingga akhirnya benar-benar terbaring. Menghadap Nijimura.
Menyerap ingatan terakhir bahwa dibalik siluet Nijimura terdapat buku-buku bertebaran di atas sana. Membuatmu kagum sekaligus membulatkan tekad untuk membalas segalanya.
Rangkaian kata selamat tidur menjadi pemisah kami malam ini. Tepat tengah malam saat itu.
.
.
.
"Takut, eh? Kau seperti adikku saja."
.
.
.
Day 3 report : April 12, 2015
Tubuh Nijimura berjengit. Matanya yang terpejam mengernyit sebagai bentuk respon terhadap tembusnya cahaya matahari pada kelopaknya.
Matahari.
Pagi atau siang?
Nijimura sontak terbangun—dengan mata dibuka seadanya. Mukanya kemerahan karena sudah terlalu lama menindih tangan. Kuapan muncul berikutnya, mengabaikan rasa sakit pada punggung dan bokong karena tertidur dalam posisi terduduk. Gosokkan mata adalah kegiatan terakhir Nijimura sebelum memandang keluar jendela yang entah mengapa telah tersibak tirainya.
"Selamat siang, Nijimura-san."
Yang dipanggil berjengit kaget. Sepertinya tidak ingat dengan segala rentetan kejadian yang menimpa dirinya.
Dan oh, sedetik kemudian ia ingat seluruhnya. Kecepatan yang memuaskan untuk mengumpulkan begitu banyaknya informasi sesaat setelah terbangun.
"(your name)." masih mengucek mata. "Pagi."
Kau bangkit dari tepi kasur dan menyentuh pundak Nijimura pelan, "Bersihkan dirimu, Nijimura-san. Aku ada di ruang keluarga."
Nijimura yang belum sepenuhnya terbangun itu keheranan. Tetapi segala sesuatunya ia tepis dan mengiyakan saja perintahmu.
Kemudian ia menyampirkan selimut yang melingkari punggung dan kakiknya, lalu melontarkan begitu saja di atas kasur sebelum masuk ke kamar mandi dalam.
Tidak terpikir olehnya bahwa ia semalam terlelap tanpa mengenakan keduanya.
.
.
.
"(your name)!" seru Nijimura sembari membuka pintu ruang keluarga. "Aku ingin membelikan makanan, kau tunggu sebentar oke?"
Kau membalas tatapan Nijimura datar, "Tidak usah repot-repot, Nijimura-san."
Ia mendecih sembari menjejalkan beberapa lembar uang kertas ke dalam jaketnya, "Kau tamuku. Ayolah!"
Kau tetap menggeleng, "Aku sudah makan, Nijimura-san."
Alis Nijimura terpaut setelah berkedut, "Bukan alasan yang tepat untuk mengelak, (your name)."
Masih sedingin es, "Aku tidak berbohong, Nijimura-san. Apakah aku terlihat berbohong?"
Jawabannya tidak. Dan Nijimura menggaruk kulit kepalanya pelan, "Oke. Jadi kau makan apa tadi?"
Alih-alih menjawab, kau malah ngeloyor pergi melewati Nijimura dan meninggalkan ruang keluarga. Dahi Nijimura semakin berkerut. Niat membuntutimu batal karena kau sudah kembali membawakan sebaki yang terisi makanan dan minuman.
Lebih tepatnya nasi goreng, telur, kecap, beserta susu.
Nijimura menatap baki yang sekarang di depannya tanpa berkedip.
Nasi goreng.
Mimpikah ia melihat makanan itu sekarang?
"A… uhm…"
"Aku memasakkan ini Nijimura-san." terangmu sembari mengangkat baki tersebut lebih tinggi tanpa takut membuatnya oleng atau tumpah. "Aku tahu aku kurang ajar karena telah menggunakan dapur.
Kau kembali membuat gestur menyodorkan makanan sebelum menariknya pendek kembali, isyarat agar baki ini diambil alih.
Masih dengan wajah tercengang, Nijimura dengan gemetar mengambil baki tersebut dan menatapnya lekat-lekat.
"Ini… kau yang buat?"
Kau hanya mengangguk kecil sebelum mendahului untuk duduk di atas zabuton yang sama seperti semalam, "Aku sudah makan duluan tadi, lapar."
Lawan bicaramu mendengus lalu menaruh baki tersebut di atas meja. Lagi-lagi di zabuton yang sama.
"Ah iya, Nijimura-san. Sebaiknya kau tidak lupa untuk mengunci pintu rumahmu."
Nijimura yang baru saja ingin menyuapkan cicipan pertamanya, mengurungkan niatnya. "Memangnya aku lupa, ya?" Sesaat kemudian matanya terbuka lebar menyadari sesuatu, "Kau tadi keluar dari sini?!"
Kau mengangguk, "Aku ingin membeli bahan makanan, Nijimura-san. Kulkasmu sudah kosong melompong."
Nijimura tercenung sekian detik. Lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda, "Selamat makan…"
Kumpulan butiran nasi tersebut masuk ke dalam rongga mulut Nijimura. Dikunyahnya pelan-pelan dan membuatmu semakin penasaran—sensasinya makin menggelitik.
"Buruk?"
"Buruk."
Kau sudah siap-siap melontarkan helaan napas kecewa, wajah Nijimura menampakkan raut serius, "Buatanku kalah dengan milikmu, (your name). Ini buruk sekali."
Detik berikutnya kau tengah menonjok Nijimura tepat di bisep kirinya. Ia balas terkekeh.
Dengan wajah berseri tentu saja.
.
.
.
"Tidak ada yang tertinggal, bukan?"
Kau mengangguk sembari menyampirkan tasmu di bahu kirimu setelah mengenakan sweatermu. Berjalan menghampiri Nijimura di hadapan pintu kamar adiknya lalu menutup mahoni yang ia punggungi.
"Aku pulang sesiang ini gara-gara Nijimura-san kesiangan." ucapmu sarkas sembari berjalan mendahului Nijimura menuju beranda.
Bibir Nijimura mengerucut tidak suka disertai tangannya yang bertolak di pinggang yang ditutupi kaus putih kasual. "Mengapa tidak membangunkanku? Salah sendiri."
Kau menatap Nijimura, Aku tidak tega, Nijimura-san.
Nijimura mengernyit aneh, "Kenapa?"
"Ah tidak." kau telah selesai mengenakan sepatu kanvasmu. "Terima kasih, Nijimura-san."
Kau membungkukkan badanmu lagi, "Aku akan menyusun artikel tentang dirimu sebaik mungkin."
Nijimura tersenyum, "Baiklah."
"Aku pergi sekarang, Nijimura-san."
Ah.
"(your name)! Tunggu!"
Kau yang sudah membelakangi Nijimura, menoleh ke belakang. Lengkap dengan ekspresi bingung, "Ada apa, Nijimura-san?"
Nijimura berdehem dan menghela napas pendek.
"Boleh aku meminta alamat e-mail-mu?" sentilan kembali bersarang di dahimu.
.
.
.
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu."
.
.
.
Published Day and Final Examination Day : April 13, 2015
Nijimura menilik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Pukul 7. Sebentar lagi ujian akan dilaksanakan.
Jantungnya menjadi berdegub kencang tiba-tiba, teringat kembali tentang sambutan pagi yang penuh dengan motivasi dari ibu kepala sekolah. Setidaknya hal ini tidak membuatnya gugup, melainkan bersemangat untuk meraih yang terbaik.
Ah tapi gugup juga.
Mana ada siswa yang dalam hitungan menit akan menjalankan ujian yang paling berpengaruh dalam pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dan karier tidak gugup sama sekali? Bahkan untuk seorang Nijimura, bisa saja hal itu dapat terjadi—seperti sekarang.
Nijimura menghela napas.
Entah mengapa ada yang kurang.
"Nijimura, kenapa kau melamun?"
Pikirannya buyar. Sikap duduknya langsung menegak mendengar namanya disebut-sebut. Nijimura menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang telah menyapanya tadi—saat ia melamunkan apa yang kira-kira tertinggal olehnya.
Namun bahunya kembali melemas setelah ia mendapati sesosok yang sangat ia kenal baik di sana, "Huh, ternyata hanya kau, Imayoshi." Nijimura kembali berleha-leha di atas bangkunya.
"Hei semangat, dong!" Nijimura kemudian merasakan segulung kertas menimpuk wajahnya—yang sudah jelas dalangnya siapa. "Ayolah, kau masuk surat kabar hari ini, ingat?"
Nijimura terlonjak kaget dan menatap garang Imayoshi, "Hei tidak perlu memukul—eh?"
Imayoshi berkata bahwa ia masuk surat kabar hari ini.
"ASTAGA! IMAYOSHI TERIMA KASIH!"
Imayoshi menatap Nijimura nyalang—dengan mata terbuka. Wajahnya shock karena tiba-tiba Nijimura berteriak segembira itu di depan wajahnya. "O-Oi…"
Dengan kecepatan yang luar biasa cepat, Nijimura mengambil alih surat kabar—yang sepertinya milik Imayoshi—yang telah digulung olehnya untuk memukulnya tadi. Kolom-kolom lain diabaikan, hanya satu kolom yang akan ia buka.
Kolom idola.
Dan Nijimura menemukannya.
Berjudul "Pelangi, Atlet Genius dan Pelajar Teladan".
Nijimura shock, oke. Ia tahu arti nama keluarganya adalah pelangi. Tetapi jika dipaka untuk sebuah judul kolom idola… rasanya…
Imayoshi yang sudah pulih ikut nimbrung membaca artikel tersebut, "Kau harus membacanya hingga akhir." ujar Imayoshi dengan logat Kansai-nya yang khas. "Aku sudah membacanya tadi."
Nijimura tidak menanggapi ucapan Imayoshi yang entah mengapa sekarang tengah terkekeh geli, namun ia mengiyakan dalam hati.
Dipindainya baris per baris. Di sana tidak ada informasi yang terlalu mencolok. Semua yang tertera di sana adalah informasi yang telah ia jawab dalam hari dimana si reporter meliput dirinya.
Ada sih yang mencolok. Fotonya sedang mengenakan jersey Teikou, dengan wristband yang dikenakan di lengan kirinya—hampir mencapai siku. Ugh. Nijimura malu sendiri melihat potret dirinya berada di halaman ini.
"Sudah selesai bacanya?"
Nijimura mengangguk, "Kupikir sudah. Semuanya sama persis dengan apa yang kukatakan."
Imayoshi kemudian menyeringai. Tangannya segera membalik halaman berikutnya. "Nih. Coba kau baca yang ini."
Alis Nijimura mengerut.
Detik kemudian ia terperangah.
Kebiasaan Buruk Nijimura Shuuzou
What the hell?!
1. Sensitif. Amarah mudah sekali terpancing.
2. Kejam. Tidak memiliki rasa kasihan.
3. Suka mengumpat dan memberi julukan kasar.
4. Ceroboh. Rumah tidak dikunci.
5. Sering menyakiti orang. Hobinya adalah menyentil orang lain.
6. Bangun kesiangan.
7. Membuat tamunya kelaparan.
8. Suka menyalahkan orang lain.
9. Menganggap remeh orang lain
10. Tukang gombal.
Nijimura shock. Sedang Imayoshi tertawa terpingkal.
Kemudian bel berbunyi. Tanda bahwa waktu ujian sudah dimulai.
Sepanjang mengerjakan soal ujian, Nijimura gondok. Ia pesimis akan mendapatkan hasil bagus saat graduation nanti.
.
.
.
END
.
.
.
A/N Tsukki :
Bertemu lagi, minna! *lambai-lambai*
Pertama-tama, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena—lagi-lagi—apdet lelet, lebih lelet dari siput manapun *nunduk* Saya butuh motivasi agar tidak lagi menunda-nunda pekerjaan…
But, ya memang. Fic pada chap ini saya dedikasikan untuk seluruh siswa kelas XII di seluruh Indonesia yang minggu ini menjalani UN! Semangat mengerjakan! XDD Saya dan reader yang lain yakin kalian pasti bisa! Oiya, fic ini khususnya saya dedikasikan untuk Schnee-Neige!:'3 Nei semangat UN-nya~
Oiya, untuk karakter, saya mohon maaf. Ide ini sudah ada bahkan sebelum chap 2 saya buat termasuk karakternya. Jadi untuk yang telah me-request, saya mohon maaf. Di chap selanjutnya, maybe Nei akan menampilkan karakter yang kalian minta ;)
Cerita tambahan ada di bawah, balas review dulu ya xD
Balasan review no account :
To Sekiryuu :
Hai lagi~
Iyah itu dihipnotis :'3 jahat sekali itu abang-abangnya main hipnotis-hipnotis orang, eh malah salah sasaran lagi malah ingatan yang hilang :'3 Kita senasib kok, saya juga sering bgt digituin xD Ah untuk apdet asap, Tsukki minta maaf karena tidak bisa merealisasikan (tabok aja :'v) *kemudian pasang kembali sayapnya*
To megane-chan :
Aww setia yah kamu /heh untuk pertanggungjawaban, silahkan pada Nei ya~ xD #truskabur Whoaa, terima kasih, akan Tsukki sampaikan pada Nei;) Ahahaha, itu ceritanya serangan balasan lah ya /? Dan selamat untuk megane-chan! Chap ini benar-benar Nijimura x'D apakah kamu cenayang? /bukan
.
.
.
.
First Day, Passed.
Beberapa rumus kimia masih menempel di otak Nijimura. Menggelayut manja, tak sudi dibuang begitu saja demi digantikan dengan rumus-rumus Matematika yang digunakan untuk besok.
Nijimura tidak peduli.
Hatinya masih sakit. Shock karena tulisan nista yang ditulis olehnya.
Tangannya membuka ponsel pintarnya, ingin membuka e-mail, lalu mengomelinya habis-habisan dengan tuntutan pencemaran nama baik.
Sakit hati itu merubah sistem kerja otak.
Alih-alih membuka fitur compose,yang dipijitnya malah outbox.
.
To : (your name)
From : me
Terima kasih untuk brunch-nya tadi. Maaf telah membuatmu kerepotan untuk ke pasar swalayan pagi-pagi.
Oh iya, kau sepertinya kelupaan sesuatu.
Kau pernah berkata padaku ingin bertanya mengenai apakah aku memiliki kekasih atau bagaimana kriteria wanita idamanku. Benar?
Jawabannya tidak. Aku tidak memiliki kekasih.
Untuk bagaimana kriteria wanita idamanku…. Uhm mudah saja.
Aku suka wanita yang jago memasak.
Jadi, jika kau rajin latihan atau apalah itu. Kurasa aku tidak akan segan menjadikanmu sebagai istrimu pada masa depan nanti.
Ahahaha, bercanda.
But, for your information, menu favoritku adalah nasi goreng; kau memasakkan menu itu untukku pagi—atau siang?—ini, bukan?
Anyway, selamat bekerja, (your name)! :D
.
Nijimura meneruskan membaca sambil tersenyum-senyum sendiri.
.
To : me
From : (your name)
Aku ingin berterima kasih pula kepada Nijimura-san telah mengizinkanku tidur di kamar Nijimura-san malam tadi. Sungguh, terima kasih.
Ah, Nijimura-san benar. Aku lupa. Terima kasih karena telah menjawab.
Mungkin aku menerima tawaranmu apabila Nijimura-san berhenti untuk menyakiti kepalaku dengan sentilan-sentilan menjengkelkan itu, Nijimura-san. Dan soal sarapan tadi, tidak masalah. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku.
Terima kasih, Nijimura-san. Selamat belajar kembali. Semoga sukses.
P.S. Aku memiliki kejutan untukmu di surat kabar nanti.
.
Nijimura mengunci ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.
Kemudian ia tersenyum, megurungkan niatnya untuk memarahinya.
