Warning :
Readers!Chara—AU!TeikouHighschool—Maybe a bit OOC demi kepentingan fanservice—maybe typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.
.
.
.
.
.
Selamat pagi,
Kasamatsu mengernyitkan kedua alis tebalnya ketika membaca dua kata pembuka sebuah surat yang ditemukannya di dalam loker sepatunya ini.
Aku... sudah lama memerhatikanmu dan pada akhirnya aku menyukaimu...
Sepasang mata pemuda bersurai hitam itu terbelalak. Ini surat cinta!
Ugh, aku tidak tahu harus bilang apalagi—seseorang yang biasanya cerewet bukan berarti bisa lancar saat menyatakan cinta, kan—tapi intinya begitu.
Tanpa sadar, Kasamatsu menutup wajahnya yang memerah dengan sebelah tangannya yang bebas. Malu. Walau si penulis surat ini tampaknya juga menulis suratnya dengan malu-malu sih.
Jadi, mau tidak kamu jadi pacarku?
Bruk!
Seorang gadis bersurai cokelat gelap berdiri tak jauh dari Kasamatsu menjatuhkan setumpuk dokumen yang berhamburan karena beberapa diantaranya keluar dari mapnya. Dengan sigap Kasamatsu berusaha gentle dan membantu gadis itu mengambil kertas-kertasnya—walau dalam hati setengah mati menahan gugup. Gadis itu hanya menunduk dan memunguti perlahan. Sangat perlahan sampai jemari lentiknya dengan sengaja menjulur ke arah Kasamatsu dan menyentuh surat cintanya.
Kasamatsu yang sadar pun terperanjat kaget dan refleks menjauh. Bukan karena sadar surat cintanya disentuh-sentuh orang lain, tetapi karena gadis itu yang terlalu dekat dengannya!
"Aa... ah ini.. kertas-kertasmu... Kukembalikan..." Ucap Kasamatsu lirih seraya menyodorkan setumpuk kertas yang sudah dipungutinya dengan asal. "Mungkin tidak sesuai dengan urutan yang sudah disusun sebelumnya, atau kertas-kertas ini bukan berasal dari map ini, tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Hati-hati ya." Pesannya—berusaha—profesional.
Gadis itu tetap menunduk. Ia mengambil tumpukan kertas dari Kasamatsu dengan sedikit kasar. "Terima kasih." Ucapnya dingin.
Lalu gadis itu berlari dan menghilang dari hadapan Kasamatsu dengan cepat. Tidak memberikan kesempatan kepada pemuda itu bahkan hanya untuk sekedar melihat wajahnya.
Kasamatsu mendecak pelan, sedikit mengomentari ketidaksopanan anak sekarang, lalu perhatiannya kembali ke surat cintanya yang nyaris dilihat oleh gadis tak sopan tadi. Tidak ada nama pengirimnya. Maksudnya... ini surat kaleng berisi pernyataan cinta?
Seringai tiba-tiba terbentuk di wajah Kasamatsu. Ah, ini pasti ulah anak-anak band lagi, sengaja mengirimkan surat cinta bohongan untuknya yang tak biasa berhadapan dengan gadis, begitu prasangkanya.
Jadi, Kasamatsu menyimpannya baik-baik di dalam tasnya. Ini pasti hanya ulah iseng teman-temannya. Pasti.
.
.
.
.
.
Kuroko no Dating Simulation :
Love Report!
Kasamatsu Yukio x Readers
.
.
.
.
.
Brak!
Kamu menatap kertas-kertas yang kau jatuhkan sembarangan ke atas mejamu di kelas. Telingamu memerah, wajahmu memanas, jantungmu berdetak keras. Melepas lelah, kamu pun duduk di kursimu dan membereskan kertas-kertas itu seraya menata hatimu yang tak karuan.
Lalu tiba-tiba terbayang wajah seorang senpai yang baru saja membantumu membereskan kertas-kertasmu yang sempat berhamburan di dekat loker sepatu. Wajahnya merah, tampak kemalu-maluan, serta terlihat heran dengan sepucuk surat dengan kertas berwarna kuning manis di tangannya. Surat itu surat cinta.
Surat darimu.
"Aaaaakh! Baka, baka, baka, bakaaaa!" Jeritmu frustasi ketika ingatan itu terus berulang dalam otakmu. Seorang pemuda berponi belah tengah yang tengah bercanda ria dengan kumpulan anak laki-laki di pojok kelas pun berhenti tertawa dan mulai memusatkan perhatiannya padamu. Ia pun meninggalkan komunitasnya dan menghampirimu yang tampak frustasi.
Mulutnya membulat ketika melihat tumpukan kertas yang kau bawa. "Oi, (your name), tugas dari klub surat kabar nih? Banyak amat!" Komentarnya.
Kamu menatapnya dengan nanar. Pikiranmu masih tentang kejadian tadi. Kasamatsu-senpai. Membaca. Surat. Cinta. Darimu.
Darimu, tapi bukan untuknya!
"Heei~ (your name)~ Jangan bengong dong~" Pemuda bersurai hitam itu mengibaskan tangannya di depan wajahmu. "Frustasi sekali kelihatannya, ya. Gara-gara semua tugas ini?"
Bayangan-bayanganmu akan kejadian tadi pun buyar dengan kibasan tangan pemuda itu. "Mmm... Tidak juga. Tapi, hei, Takao." Kamu menarik tangan pemuda berponi belah tengah itu dan memaksanya duduk di hadapanmu. "Aku mau cerita. Serius, ini penting banget."
Mata elang Takao mengerling jahil. "Waduh, tidak biasanya nih serius. Ada apa? Ada apa?" Sambutnya ramah. Kalian memang termasuk teman yang sangat dekat di kelas kalian, bahkan terkenal sebagai duo ribut dan penceria suasana.
"Ini bukan soal kertas-kertas tak beraturan ini—dan oh ya ini bukan tugas tapi dokumen lama tak terpakai yang harus kubuang. Ini. Soal. Kecerobohanku. Lagi." Tegasmu, namun sedikit terdengar panik.
"Kamu belum ngumpulin tugas?" Tanya Takao standar.
"Nggak sesepele itu masalahnya." Jawabmu gemas.
"Edisi kemarin ada yang salah cetak fatal? Misalnya di artikelmu kau menuliskan fakta yang salah?" Tanya Takao, meningkatkan kadar kegawatan masalahmu.
Kamu cemberut. "Well... Itu nyaris terjadi, tapi tentu saja aku tidak mengulanginya lagi! Ini berhubungan dengan... surat cinta yang kukatakan akan kuberikan kemarin."
Wajah Takao mendadak sebal. "Jangan bilang kamu menghilangkannya setelah aku rela menghabiskan bonus teleponku hanya untuk memberimu saran yang ujungnya tak kau pakai juga?"
"Memang bukan itu masalahnya. Surat itu ada, dan aku meletakkannya di loker." Koreksimu.
"Ah..." Takao mendesah lelah. "Aku tahu. Kamu pasti meletakkannya di loker yang salah."
Aura gloomy mendadak muncul di sekitarmu. "Be.. benar..." Kamu pun menelungkupkan wajahmu ke meja. "Huhuhu... Apa yang harus kulakukan nih, Takao... Suratnya sudah dibaca pula, sama yang punya loker."
Takao menggeser kertas-kertasmu agar kamu bisa leluasa berfrustasi ria di atas mejamu. Ia pun iseng melihat-lihat isi dokumen-dokumen lama klub surat kabar itu. "Kamu pasti nyantumin nama di situ, kan? Pasti dia tahu kok kalau itu bukan untuknya dan kalau dia baik—dan mengenalmu—sebentar lagi pasti surat itu akan kembali ke tanganmu. Habis itu minta maaf deh."
"Nggak! Aku sama sekali nggak nyantumin nama siapapun di surat itu! Eh, tapi ada namaku sih di amplopnya, tulisannya kecil—habis aku malu!" Sangkalmu panik.
Ekspresi Takao seakan mengatakan wtf.
"(your name), ini sih udah parah banget cerobohnya." Dakwanya sambil terus melihat-lihat dokumen yang kau bawa. "Makanya hati-hati sedikit lah, (your name). Oh iya, siapa pemilik loker yang salah sasaran itu?" Tanya Takao. Ia tampak berhenti di sebuah kertas dengan sebuah foto di kiri atasnya.
"Ummm... Kamu jelas kenal sih, Takao. Kasamatsu-senpai, gitaris di klub band-mu." Jawabmu ragu. "Orangnya... Galak tidak? Aku harus meluruskan salah paham ini."
Takao tiba-tiba memandangmu tidak percaya. "Wah, wah, serius tuh? Kalau begitu, sekalian dong?"
Ekspresi bingung tercetak di wajahmu. "Sekalian apa?"
Selembar kertas yang tadi baru saja dibaca pun dibaliknya. "Ini tugasmu bulan ini kan? Meliput Kasamatsu-senpai untuk kolom idola?"
Seluruh inderamu mendadak kaget maksimal melihat kertas di tangan Takao. Kamu ingat, sebelum kamu menjatuhkan kertas-kertas ini di dekat loker, kamu memang sempat diberitahu bahwa rincian tugasmu ada di antara berkas-berkas ini. Dan kamu juga tahu kalau itu tentang kolom idola. Tapi... Kasamatsu Yukio? Itu baru kejutan. Apalagi setelah orang itu menjadi objek salah sasaran surat cintamu!
"Demi apa..." Ucapmu lirih. "Takdir... iseng banget..."
Takao terkekeh pelan. "Takdir... pilihan kata yang bagus. Yah, aku cuma bisa bilang semangat ya. Kasamatsu-senpai orangnya agak susah buatmu." Ia pun bangkit dari duduknya lalu pergi kembali ke belakang setelah memberikan kertas tugasmu kembali.
"Susah kena—"
"Kiritsu!—Berdiri!"
Kamu mendadak berdiri mendengar perintah itu. Pandanganmu kini lurus ke depan. Rupanya sudah ada guru jam pertama di sini.
"Rei!—Beri salam!"
Tubuhmu membungkuk dengan setengah hati lalu memberi salam seraya masih memikirkan masalah liputan.
"Ohayou gozaimasu!—Selamat pagi!"
.
.
.
.
.
Day 1 Report : May 7th, 2015
Riko menatap kamu yang menyodorkan selembar kertas tugas dengan sebuah foto di sisi kiri atas. Surat tugas.
"Etto... Riko-senpai... Aku boleh minta tuka—"
"Tidak." Jawabnya tegas.
Kau memandangnya lemas. "Aku kan belum selesai bicara, Senpai."
"Aku tahu kamu pasti tidak mau mengerjakan artikel ini, kan? Tapi aku sudah memutuskan bulan ini harus kau yang mengerjakannya." Tegas Riko.
Bibirmu maju sedikit, cemberut. "Palingan cuma hitung kancing. Kumohon... Kak Tsuki pasti mau membantuku, aku sendiri deh yang akan memintanya."
Riko berdecak kesal. "Tiiidak. Pokoknya tidak boleh ada tukar-tukar tugas. Bahkan aku sendiri pernah mengerjakan artikel ini kok sebagai debut kolom ini. Nah, sekarang kamu berjuang ya meliput si gitaris klub band itu. Deadline tengah bulan Mei."
Rasanya kau ingin menangis. Mungkin kalau kau ceritakan alasan kenapa kau mau tukar tugas, Riko bisa saja berbaik hati, tetapi alasannya itu yang terlalu memalukan! Lagi pula Riko kan orangnya peka dengan gosip, nanti malah gawat kalau ia tahu siapa yang sebenarnya disukainya!
Kau menghirup napas banyak-banyak. Inhale, lalu exhale. Mencoba mengorganisir apa yang harus kau lakukan untuk mengatasi masalah ini. Mengajukan tukar tugas sebagai salah satu cara melarikan diri dari masalah... ditolak. Yah, melarikan diri dari masalah kan memang tidak baik. Lalu? Langsung saja menghampiri orangnya dan bilang 'Halo senpai, aku yang mengirim surat cinta yang kau temukan di loker, tapi maaf sebenarnya aku salah kirim hehehe dan aku minta izin untuk mewawancaraimu untuk kolom idola surat kabar—
Cukup! Tindakan itu nggak banget! Dan apa pula itu hehehe? Kesannya merasa tidak bersalah sekali!
Kedua kakimu mulai melangkah menjauhi ruangan klub surat kabar seraya berpikir. Kamu terlalu serius berpikir sampai tidak memerhatikan kemana selanjutnya kamu berjalan. Lama-kelamaan kamu mulai merasa sedikit frustasi karena tidak tahu harus berbuat apa dan akhirnya mulai memerhatikan sekelilingmu. Rupanya kakimu membawamu menuju ke lorong gedung ekskul. Ya, sekolahmu yang berbentuk segilima terbuka memiliki sebuah teritori tempat ruangan-ruangan ekskul berada—termasuk klub surat kabar yang ada di lantai dua. Bahkan fasilitas-fasilitas outdoor juga ada di teritori itu. Dan kini kamu tahu-tahu saja sudah berada di belakang gym sekolah yang biasa dipakai anak-anak ekskul olahraga.
"Waduh, kok aku malah ke sini. Sudah ah, sebaiknya kususun lagi rencana yang bagus di rumah." Gumammu lemas. Siang ini cukup panas, mungkin segelas lemonade dingin dan pendingin ruangan di kamarmu cukup mengembalikan mood-mu untuk memecahkan masalah. Itu rencanamu, sampai tiba-tiba sesosok pemuda bersurai kuning muncul membawa sebotol minuman isotonik dan bertemu mata denganmu yang baru saja ingin pergi dari situ. Kise Ryouta.
Wajahnya lelahnya mendadak ceria begitu melihat kamulah orang yang ada di belakang gym itu. "(Your name)-cchi! Hisashiburi!—lama tidak bertemu! Padahal kita satu lantai ya kelasnya, hahaha! Eh, apa kabar? Masih sibuk banget banget banget sama klub surat kabar ya? Hm, hm, calon jurnalis satu ini rajin sekali!" Cerocos Kise.
Senyummu miring sebalah. "Ha—eh iya juga ya, Kise-kun! Aku baik-baik aja kok! Tugas juga tidak seberat itu sih..." Matamu refleks miring ke samping begitu mengingat sebenarnya kamu tidak baik-baik saja dengan tugasmu. " ... Kise-kun sendiri gimana? Lagi istirahat latihan basket ya?"
Kedua pipimu mendadak memanas, dan rona merah mulai menampakkan warnanya di wajahmu. Gerakan menyapamu juga jadi mendadak kaku karena tidak biasa berbohong. Dengan kata lain, kamu salah tingkah, dan Kise menangkap keanehan gestur tubuhmu itu.
"Iya, Akashicchi hari ini sedang baik hati karena istirahatnya dikasih waktu empat puluh lima menit. Aku pengap sama udara gym jadi aku keluar saja sebentar. Eh ketemu kamu. Duduk yuk, di kursi lesehan dekat koridor menuju lapangan ekskul berkuda. Dari sana bisa melihat langit sore yang lagi cerah ini tapi tetap teduh lho!" Kise mengajakmu dan langsung menggamit tanganmu tanpa izin. Kalian pun berlari kecil menuju tempat yang dituju dan duduk manis, sambil menatap langit sore berdua.
Rasanya kamu mau mati meleleh saja.
"(Your name)-cchi mau minum? Ini masih ada sisanya." Tawar Kise yang menyodorkan botol minuman isotoniknya.
Kamu menggeleng pelan. "Aku tidak haus kok, Kise-kun. Makasih." Lalu langsung menyesalinya saat itu juga. Gila saja menolak ciuman tidak langsung dari orang yang selama ini kau sukai diam-diam!
Ya, kau sukai diam-diam. Kise Ryouta. Mantan teman sekelas selama tiga tahun di SMP dan pemuda yang paling sering curhat kepadamu nomor dua setelah Takao Kazunari. Lagipula, siapa sih yang tidak suka dengan Kise Ryouta yang sangat memesona itu?
Ah, kamu jadi ingat lagi soal surat cinta salah alamatmu kan.
Kise tersenyum hambar. "Yaaah, (Your Name)-cchi lagi bad mood ya? Tadinya aku mau curhat lagi sih, tapi nggak apa deh. Mungkin sekarang (Your Name)-cchi yang mau curhat sama aku? Sini, aku siap dengerin!" Tawarnya antusias.
Ini... kesempatan buat ngasih kode kalau kamu suka sama Kise kan ya?
"Jadi... begini Kise-kun, aku menaruh surat cinta ke loker sepatu orang yang kusuka... Tapi dengan cerobohnya aku malah salah dan orang lain yang menemukan surat itu. Aku mau ambil sih, tapi nggak enak banget rasanya kan PHP sama orang yang ngambil. Lagipula kurasa—lebih tepatnya berharap sih—orang itu cuma menganggap suratnya itu lelucon. Bagaimana ya? Apa sebaiknya aku buat surat baru saja... atau..." Kamu pun menatap kedua manik honey lemon Kise dengan penuh harap. "Kukatakan saja langsung pada orangnya sekarang kalau aku suka padanya?"
Kise tidak menatap balik matamu, ia malah berpikir keras. "Hebat sih (Your Name)-cchi mau langsung confess ke orangnya sekarang, tetapi kupikir ada baiknya kamu luruskan dulu salah pahamnya dengan orang yang menerima suratmu kan? Apa kamu tidak kenal orangnya?"
Kamu hampir saja menggigit bibirmu dengan gemas. Ya tuhan! Pemuda cantik ini tidak sadar!
"Mmm... Aku kenal sih, namanya Kasamatsu Yukio, senpai kita. Dia anggota ekskul band—"
"Eeeh? Kasamatsu-senpai? Serius, (Your Name)-cchi?" Potong Kise sebelum deskripsimu selesai.
"Uh, iya... Memangnya kenapa?" Tanyamu polos.
Kise menepuk jidatnya. "(Your Name)-cchi, kamu harus cepat-cepat meluruskan salah paham ini! Berani taruhan, Kasamatsu-senpai pasti percaya sama isi suratnya! Pasti! Ayo ayo temui dia!" Desak Kise tiba-tiba.
Cemberutmu muncul. "Iya, iya... tapi kan tidak harus sekarang... Lagipula tadi katanya kamu mau curhat, Kise-kun? Mumpung istirahatmu belum habis, kan... Kita juga sudah lama tidak ngobrol." Ajakmu.
"Duuh..." Keluh Kise. "Kamu berurusan dengan Kasamatsu-senpai yang super galak tapi polos tahu! Lebih baik kamu cepat luruskan masalah ini, (your name)-cchi! Soal curhatanku nanti saja! Nah, sekarang cepat temui Kasamatsu-senpai!"
Super galak? Waduh! Tapi... polos? Aneh-aneh saja.
"Iya iya iya, Kise-kun! Sebentar aku tanya Takao dulu, orangnya sedang sama dia tidak di studio." Balasmu seraya mengetik cepat di chat room -mu dengan Takao.
Lalu balasannya datang dengan cepat.
Tadi dia marah-marah di studio! Gara gara ngerasa anak band ada yang isengin dia pake surat cintamu itu—kayaknya dia nggak sadar ada namamu di amplopnya—terus begitu tau bukan anak band yang isengin dia langsung blushing parah dan percaya bener-bener kalo surat cinta itu buat dia!
Wajahmu memucat. Mati aku, pikirmu. Jadi gadis pemberi harapan palsu, dong!
Sekarang telat, (your name). Dia udah pulang dari tadi—habisnya nggak fokus latihan sih gara-gara salah tingkah! Iya emang orangnya begitu kok. Makanya besok cepatlah langsung kasih tau yang sebenarnya!
Tentu saja! Besok, pokoknya besok harus ketemu Kasamatsu-senpai!
"Ne, Kise-kun, ternyata Kasamatsu-senpai hari ini sudah pulang. Besok deh, aku pasti langsung ketemu dia!" Lapormu kepada Kise yang harap-harap cemas. Lagipula kan sekalian mengerjakan tugas artikel kolom idola dari Riko.
"Sip, nanti kalau sudah kamu luruskan baru deh langsung saja tembak orang yang kau suka, (Your Name)-cchi. Jangan sampai terlalu lama terus jadi hilang keberanian dan pakai surat-suratan lagi, hahaha... eh Aominecchi!" Kise melambai pada sesosok gelap yang sedang berlari kecil ke arah kalian.
"Ooi, Kise! Akashi mendadak baper nih! Ayo masuk gym buruan nanti guntingnya keluar!" Teriak Aomine yang masih dari kejauhan.
"Waduh! Yah, (your name)-cchi aku duluan ya! Good luck!" Serunya panik lalu melesat lari dengan kecepatan zone menuju Aomine sampai akhirnya keduanya berlari ke dalam gym untuk menghadapi Yang Mulia Dipertuan Raden Akashi Seijuurou-sama mode baper.
.
.
.
.
.
Day 2 Report : May 8th, 2015.
Kamu meremas lengan baju Takao erat-erat. Matamu bersirobok dengan tatapan tajam gitaris klub band itu, yaitu targetmu hari ini, Kasamatsu Yukio. Tiga pemuda lainnya yang menjabat sebagai bassis, drummer, dan pianis itu menatap Takao dengan super heran. Mengajak seorang gadis—yang notabene adalah kelemahan leader mereka, Kasamatsu—masuk ke dalam studio latihan mereka benar-benar membangkitkan macan tidur dalam diri Kasamatsu.
"Takao, di sini tempatnya latihan, bukan pacaran." Tegas Kasamatsu sinis. Dia memang bisa galak terhadap laki-laki, tetapi sebenarnya malu juga jika kamu menatapnya dengan takut-takut.
"I.. iya senpai." Takao mulai ciut juga nyalinya. "Hei, (your name), kamu buruan bilang deh sebelum kita semua habis di sini..." Bisik Takao padamu.
Kamu cemberut. Ugh, ini harus dilakukan!
"Ummm... Hajimemashite, Kasamatsu-senpai. Nama saya (your name), teman sekelasnya Takao. Saya ingin membicarakan sesuatu dengan senpai..." Lidahmu jadi geli sendiri karena berusaha bersikap formal karena takut dengan kesinisan Kasamatsu. "Tapi bisa tidak kita... berdua saja?"
Kasamatsu nyaris kejang-kejang. Apa ini? Tiba-tiba gadis yang dibawa Takao mengajaknya bicara berdua? Apa perasaannya saja atau akhir-akhir ini dia populer ya?
Masa bodoh dengan populer atau tidak, Kasamatsu tetaplah Kasamatsu yang gugup dengan para gadis!
"Ti—tidak! Tidak bisa." Jawab Kasamatsu berusaha galak. Kamu mengangkat sebelah alis, menangkap sebuah nada yang lain dengan maksudnya. Jelas sekali kalau pemuda ini sedang malu-malu!
Takao mengedip-ngedipkan matanya.
Singgung soal tugas artikelnya saja, bodoh!
Kamu cemberut, tidak rela dibilang bodoh sekalipun hanya dalam isyarat Takao.
"Saya dari Klub Surat Kabar Teikou dan ingin meliput tentang profil Kasamatsu-senpai. Mungkin tidak sampai yang terlalu pribadi—jika senpai tidak ingin—tetapi saya sih tidak ingin mengganggu latihan klub band dengan wawancara di sini." Jelasmu sok lugas.
"Aku belum hafal nih beberapa lirik yang terakhir jadi belum bisa tes lagi, senpai. Hayama-senpai juga masih sambil menemukan irama yang lebih pas untuk lagu kita, jadiii..." Takao menatap galak ke arah Hayama yang memasang wajah heran. "take your time, senpai."
Kasamatsu memasang ekspresi wtf. Kentara sekali sebalnya karena harus berduaan denganmu.
"Oke, senpai. Jadi mau dimana? Rooftop?" Tanyamu. "Aku paling suka suasananya di situ!"
"A... aku tidak tanya, tahu! Di ruang klubmu sajalah biar cepat!" Ruangan klub surat kabar memang satu lantai dengan studio. "Tidak ada orang kan?"
Kamu menutup mulutmu, pura-pura syok. "A... aku tidak menyangka lho ternyata senpai agresif ya sampai memilih tempat tertutup... kupikir..."
Kasamatsu baru menemukan celah dari kata-katanya. "Bu.. bukan begitu! Aku hanya tidak ingin didengar orang lain... Hei! Kalian berhentilah melihatku seperti itu!" Protes Kasamatsu begitu anak-anak band kompak memandangnya dengan tatapan seperti melihat seorang penjahat kelamin. Kamu hanya tertawa dan menghentikan keisenganmu.
"Bercanda, kok! Ayo, senpai. Tidak lama kok." Ajakmu seraya menggamit tangan Kasamatsu. Pemuda pemalu itu refleks melepaskan tangannya dan memandangmu horor.
Alismu bertaut heran dan kamu menatap Kasamatsu dengan tatapan tersinggung. "Kenapa? Ayo!"
Kasamatsu pun akhirnya mengikutimu perlahan-lahan. Ia memandangmu tajam dari belakang dan menjaga jarak habis-habisan. Kamu tak habis pikir, apa sih maunya pemuda ini?
Kalian pun akhirnya sampai di ruang klub surat kabar. Kau terkekeh malu karena keadaannya agak berantakan lalu mempersilakan Kasamatsu duduk di kursi rapat. "Uhm, mau teh atau minum apa gitu, senpai?"
"Tidak usah, langsung saja." Jawab Kasamatsu cepat.
"Baiklah," kau duduk di hadapan Kasamatsu. "sebelum kita mulai... Aku ingin mengatakan sesuatu kepada senpai."
Wajah Kasamatsu semakin tegang. Kok roman-romannya seperti sedang ingin menyatakan cinta? Jangan-jangan yang memberikan surat cinta di loker itu... anak ini? Pikir Kasamatsu. Ia menelaah fisikmu baik-baik—yah setiap laki-laki kan pasti melihat fisik dulu. Wajahmu tergolong biasa saja, tetapi ekspresimu yang ramah itu membuatmu terkesan manis. Rambutmu kecoklatan dan sedikit bergelombang alami, sesuatu yang sangat jarang ditemui pada anak SMA zaman sekarang. Semakin Kasamatsu memerhatikanmu, semakin ia merasa malu. Apalagi mengingat kenyataan kalau kalian hanya berdua di ruangan klub itu.
"Ugh... Aku tahu sih senpai akan marah, maafkan aku, ya. Yang... yang menaruh surat cinta di loker sepatu senpai itu... aku..." Kamu mengakui perbuatanmu. Kasamatsu pun terlihat terperangah. Wajahnya memerah karena malu.
"Ja.. ja.. jadi...!"
"Tetapi..." Kamu memotong reaksi Kasamatsu. "Aku... ternyata salah menaruh loker. Seharusnya itu kumasukkan ke loker orang lain..." Lanjutmu.
Kasamatsu lebih terlihat kaget lagi. Jadi... ternyata dia objek salah sasaran?
Kamu menautkan kedua telunjukmu sebagai reaksi salah tingkah. "Umm... Maaf ya senpai... Aku benar-benar tidak sengaja... Tapi senpai boleh simpan saja kok suratnya toh aku takkan memberikan yang itu lagi, hehehe..."
Perempatan imajiner muncul di dahi Kasamatsu. Siapa juga yang mau simpan surat salah sasaran?!
"Se.. senpai... Jangan diam saja dong... Tidak merasa di-PHP-in kan?" Tanyamu.
Gigi-gigi Kasamatsu nyaris bergemeletuk. Kalau saja dia ini laki-laki, bisa habis dia ditendang-tendangi. Justru itulah yang dirasakan Kasamatsu, di-PHP-in! Padahal dia sempat berpikir, akhirnya ada juga yang suka. Lumayan untuk menyaingi Kise Ryouta, adik kelasnya yang suka pamer penggemar. Padahal sudah jelas 'kelas'nya beda.
"Tidak, aku tidak merasa di-PHP sama sekali." Jawab Kasamatsu dingin. Kelihatan sekali bohongnya, kamu jadi tidak enak.
"Err... Tapi aku dimaafkan kan?" Tanyamu takut-takut.
Kasamatsu memandangmu tajam. "Ya." Jawabnya tidak ikhlas.
"Kurasa Takao dan Hayama sudah selesai siap-siapnya." Lanjutnya dingin. "Aku pergi."
Wajahmu memucat. Duuh... Dia benar-benar marah!
"Emm... Kalau begitu... Besok ada waktu, tidak? Untuk wawancara..." Tanyamu.
"Tidak." Jawab Kasamatsu judes. Waduh, bagaimana dong nasib artikel kalau begini caranya?
"Ka.. kalau begitu lusa! Lusa!" Tawarmu.
Langkah Kasamatsu terhenti lagi. "Lusa kan hari minggu, Bodoh."
Syok karena dipanggil bodoh, kamu cemberut. "Me.. memangnya kenapa kalau hari minggu? Kita janjian saja bagaimana? Di cafe gitu atau dimana saja boleh..." Tawarmu lagi, pantang menyerah.
Wajah Kasamatsu mendadak memerah lagi. "Janjian? Tidak, tidak usah!"
Kamu mendekat. "Oh ayolah senpai, tidak usah malu-malu! Aku yang traktir—sekalian untuk membayar masalah salah paham ini! Mau dimana?"
Biar malu rupanya diam-diam Kasamatsu ingin ditraktir juga. "Dimana sajalah!" Jawabnya akhirnya. Ia membuka pintu ruangan klub surat kabar.
"Maji burger aja ya? Oke?"
Blam! Kasamatsu menutupnya dengan keras. Kamu tertegun sebentar lalu memperbaiki posisi menutup pintu yang tidak benar.
"Baiklah, kuanggap itu iya."
.
.
.
.
.
Saat kamu menaruh sepatumu di loker keesokan paginya, ada sepucuk kertas di dalamnya berisi alamat e-mail sang gitaris klub band itu.
.
.
.
.
.
Day 3 Report : 10th May, 2015.
"Tolong Chocolate shake satu." Pesanmu di depan kasir.
"Makanannya?" Tanya seorang wanita penjaga kasir.
"Ah, tidak usah. Untuk sementara ini saja dulu, saya sedang menunggu orang." Jawabmu sopan.
Kasir itu tersenyum. "Kencan ya, Dik?" Tanyanya seraya memberikan pesananmu.
Entah kenapa wajahmu memanas. "Ah, bukan kok... Terima kasih minumannya!" Ucapmu sambil memberikan uang pas.
Kamu pun naik ke lantai dua dan memilih tempat duduk yang terbilang sejuk namun pemandangannya memuaskan. Dari sana kamu bisa melihat langit siang yang cerah namun tidak panas menyengat. Ponselmu mendadak bergetar ketika nampan berisi chocolate shake kau taruh di atas meja. Rupanya ada sebuah e-mail dari Kasamatsu.
From : Kasamatsu-senpai
Aku melihatmu di lantai dua.
Senyummu refleks terbentuk ketika membacanya. Kamu jadi tahu kalau Kasamatsu sudah di dekat sini, tetapi isi e-mailnya benar-benar seperti stalker, walaupun dia tidak bermaksud untuk itu.
To : Kasamatsu-senpai
Seram ih kayak stalker! Senpai pesan apa? Aku belum pesan makanan.
Tak lama kemudian balasannya datang.
From : Kasamatsu-senpai
Kamu belum pesan? Oke, sini kupesankan saja sekalian. Mau apa?
Kamu terkikik pelan membacanya. Serius, orang ini sebenarnya kenapa? Dua hari yang lalu Kasamatsu memang masih terlihat sangat galak, tetapi setelah kamu mulai mengiriminya e-mail untuk janjian kencan—eh maksudnya wawancara untuk hari ini, mulai terasa kalau sebenarnya pemuda ini baik kok—dan lembut, kalau di e-mail.
To : Kasamatsu-senpai
Double cheese burger!
Balasannya memang tidak datang, tetapi sebagai gantinya muncul Kasamatsu dengan nampan berisi pesananmu, sebuah beef burger, segelas cola, dan sekantung kentang goreng. Ia pun duduk di hadapanmu dan menaruh nampan tersebut. "Ini pesananmu." Ucapnya.
"Makasih!" Kamu tersenyum cerah. "Habis berapa? Biar kuganti, kan sudah janji mau traktir."
"Tidak usah." Jawabnya seraya memerhatikan penampilanmu hari ini. Kamu menguncir rambut sepunggungmu dengan gaya ponytail yang kamu sembunyikan dengan sebuah topi berbahan jeans. Kau juga memakai kaus pendek berwarna putih ditutup kemeja kotak-kotak dengan warna putih-merah dan membuka semua kancingnya dengan mengikat ujungnya menjadi pita. Sebagai bawahan kau memakai jeans sepanjang lutut yang ujungnya digulung serta sepatu kets putih. "Rambutmu tidak digerai?" Tanya Kasamatsu selesai mengevaluasi.
"Eh?" Kamu memandangnya heran. "Padahal aku sengaja berdandan boyish agar senpai tidak canggung. Aku sudah dengar lho dari Takao~ Padahal tadinya kupikir senpai galak sekali padaku, tapi ternyata hanya karena malu, toh." Jawabmu ceria. Kamu pun melepas kunciranmu dan membiarkan rambut cokelatmu yang bergelombang itu tergerai.
Kasamatsu meneguk liurnya. Iya juga, kalau sekarang kamu tiba-tiba jadi kelihatan manis.
"Kita makan dulu, ya. Nanti wawancaranya direkam saja." Jawabmu seraya mengambil double cheese burger-mu. "Itadakimasu!"
Tak banyak bicara—karena gugup—Kasamatsu langsung melahap beef burger-nya. Selang beberapa menit kemudian makanan pun kandas dan kamu mengeluarkan alat perekammu, siap untuk wawancara.
"Nah, bagaimana kalau sekarang kita mulai dari perkenalan?" Kamu memencet tombol on pada perekam itu. "Silakan, senpai."
"Ehm, namaku Kasamatsu Yukio, kelas 2-6, umur 18 tahun." Ucap Kasamatsu tegang.
Kamu terkikik pelan. "Ih, santai aja tahu, senpai. Cuma rekaman yang akan kudengarkan untuk menulis artikel kok, bukannya radio ataupun akan kusebar kemana-mana."
"Sssh! Terus apa?" Tanyanya.
"Hmm... Apa ya? Ah, bagaimana keadaan band-mu sekarang? Kudengar senpai adalah leader-nya kan? Kalian sering tampil di berbagai festival budaya—dan bahkan sampai sekolah lain kadang mengundang kalian—itu berarti kalian cukup terkenal ya, di luar! Tidak terpikir ingin membuat album?" Tanyamu.
"Wah, itu terlalu jauh sepertinya. Kami sering tampil juga di luar lebih karena Takao. Anak itu ternyata diam-diam menjadi 'artis Soundcloud' dan memiliki banyak penggemar di internet. Ia juga lumayan terkenal di sekolah lain dan akhirnya memboyong klub band ini sampai bisa tampil di berbagai festival budaya. " Jawabnya lugas. Sepertinya rasa gugupnya perlahan menghilang.
Kamu menyeruput chocolate shake-mu sesekali. "Ooh, begitu. Memang kudengar Takao suka mengumbar suaranya di internet. Bagus sih, memang. Tapi aku pribadi lebih suka permainan gitarnya Kasamatsu-senpai."
Kasamatsu mendadak menutupi wajahnya dengan punggung tangannya, malu. "A.. apaan sih! Justru aku yang paling biasa saja, tahu!"
"Oh ya, bagaimana dengan lagu kalian sendiri? Kalian punya beberapa—istilah kerennya—single yang sudah pernah ditampilkan, bukan?" Tanyamu. "Kabarnya itu buatan senpai, kan?"
"Uh, ya, memang benar itu buatanku." Jawabnya dengan senyum dipaksakan. "Di waktu luangku aku suka bermain gitar sendiri dan tiba-tiba saja kalau teringat suatu kejadian tahu-tahu aku sudah membuat lagu. Biasanya yang membuat nada untuk keyboard dan drumnya itu Hayama."
Kamu menepuk jidat tiba-tiba. "Lho kok malah jadi tanya-tanya soal band! Maaf, maaf senpai. Hm, kalau begitu sekarang aku akan menanyakan pertanyaan yang sedikit pribadi ya." Izinmu.
Kasamatsu mengangguk.
"Bagaimana dengan... tipe gadis yang disukai? Kasamatsu-senpai pernah pacaran tidak? Aah.. tapi dari sikapnya sepertinya tidak pernah, hehehe..." Tanyamu dengan sedikit menyindir.
"Memang tidak pernah, tapi aku suka dengan gadis yang serius." Jawabnya tegas seraya menatap wajahmu.
"Hm~ Susah juga ya, kan gadis yang serius itu tipenya banyak... Lebih spesifik lagi gimana, senpai?" Tanyamu mulai berani lebih jauh.
Ekspresi sang gitaris klub band itu mulai masam. "Pokoknya begitu. Memangnya buat apa sih harus lebih spesifik segala?"
"Eeeh~ Ini kan untuk penggemar-penggemarmu, senpai. Aku menulis artikel tentangmu dalam kolom idola karena permintaan mereka, tahu. Siapa tahu kan senpai,bisa ada yang cocok jadi pacar?" Jawabmu lugas.
"Tidak. Pokoknya begitu." Tegas Kasamatsu.
"Baiklah, baiklah~ Padahal Kise-kun saja baik sekali lho sama penggemar-penggemarnya." Dalihmu.
"Ya aku jangan disama-samakan dengan si bishounen itu!" Protes Kasamatsu.
Kamu tertawa miris. "Iya deh, iya, senpai. Hm, kalau dipikir-pikir memang tidak bagus juga ya kalau terlalu baik sama penggemar. Kan jadi susah kalau ada orang lain yang mau menyatakan cinta—walaupun bukan penggemar—ya." Gumammu dengan pandangan yang melayang ke langit.
Ah, sekarang Kasamatsu paham.
"Jadi... surat itu untuk Kise, ya?" Tanyanya, lebih ke arah menggumam sendiri.
"Hah? Oh, surat yang nyasar ke loker senpai? Iya, itu sebenarnya untuk Kise, hehehe..." Jawabmu jujur. "Aku sudah lama berteman sama dia, tetapi malah pada akhirnya menyatakan lewat surat. Entah kenapa akhirnya malah nya... sar..." Kasamatsu mendadak berdiri dari kursinya.
"Senpai?"
"Aku ke sini bukannya untuk mendengarkan curhatanmu, ya." Jawabnya dingin. "Aku pulang."
Lalu pemuda berbadan tegap itu pun berlalu dari Maji Burger.
"E..eh... tunggu senpai!" Kamu mengejarnya secepat mungkin, tetapi lari orang yang punya basic atlet memang beda kecepatan larinya. Ia berhasil hilang dari pandanganmu semenit kemudian. "Wawancaranya... belum selesai! Aaah! Dimana dia?"
Kasamatsu baper. Kamu pun mengangkat kedua bahu karena heran, dan akhirnya pulang setelah mematikan perekam suara.
"Tenang saja, kan masih ada lima hari lagi..."
.
.
.
.
.
Day 4 Report : 11st May, 2015
Kamu menggembungkan pipimu dengan cemberut di depan studio klub band.
"Maaf, (your name). Kasamatsu memang tidak datang latihan hari ini." Ucap Hayama yang menyambutmu.
"Kenapa, senpai?" Tanyamu.
"Katanya sih besok ulangan matematika." Jawab Hayama irit-irit.
Kamu menatap Hayama curiga. "Hayama-senpai hari ini kenapa? Kok tidak ceria?"
"Ah? Be.. begitu ya? Hehehe..." Ia terlihat salah tingkah. "Habisnya aku sedang latihan terus tiba-tiba kamu interupsi sih. Eh, tapi doakan kami ya, sedang buat lagu baru nih. Rencananya juga diusahakan supaya bisa bikin album!"
Fokusmu sukses teralihkan. "Serius? Wah, semangat ya! Nanti aku pasti beli albumnya!"
"Makasih! Nah, sekarang kami mau latihan dulu. Semoga berhasil dengan artikelnya, (your name)." Tanggapnya sebagai formalitas, lalu menutup pintu studio.
Selang tak berapa lama kemudian samar-samar terdengar klub band sedang latihan dan terdengar juga petikan gitar khas Kasamatsu! Kamu pun cemberut.
"Bagaimana caranya mau sukses buat artikelnya kalau dihalang-halangi bertemu narasumbernya..."
.
.
.
.
.
Day 5 Report : 12nd May, 2015
Kali ini kamu berniat langsung menyergap Kasamatsu sepulang sekolah di depan kelasnya. Sebenarnya ingin minta bantuan Takao, sih. Sayangnya intelmu yang satu itu sedang sakit hari ini. Pelajaran terakhirmu adalah seni rupa, jadi mudah saja kalau ingin segera pergi selepas bel karena gurunya terkenal tak suka menunda-nunda pulang. Sementara pelajaran terakhir Kasamatsu—setelah kau cari-cari—adalah matematika, yang justru terkenal sering 'memakan' jam pelajaran.
Lalu, inilah dia. Teman-teman sekelas Kasamatsu beberapa ada yang sudah berhamburan keluar kelas. Lama kelamaan jumlahnya makin sedikit sampai akhirnya sepi. Sepertinya tidak ada orang lagi.
Jangan bilang... Kasamatsu hari ini tidak masuk?
Sret sret sret
Suara itu mematahkan dugaanmu. Kamu pun mengintip lewat jendela dan mendapati Kasamatsu sedang menghapus papan tulis. Sendirian.
Kesempatan!
"Permisi~! Ah, akhirnya ketemu senpai juga! Sedang piket, ya~?" Kamu pun masuk dengan ceria dan membuat Kasamatsu terperanjat kaget melihatmu.
"Ih kayak lagi lihat setan aja! Kok piketnya sendirian?" Tanyamu lagi.
Kasamatsu tetap fokus pada papan tulisnya. "Yang lainnya tidak masuk." Jawabnya singkat.
"Oh, begitu... Mmm... Kemarin maaf ya aku tiba-tiba jadi curhat soal Kise-kun..." Kamu meminta maaf sambil mengambil sebuah sapu. "Aku bantuin ya, tapi senpai maafin aku. Atau... sebagai gantinya kali ini benar kutraktir deh, nikujaga. Kata Kise-kun, makanan kesukaan senpai itu nikujaga."
Ekspresi Kasamatsu mengeruh mendengar nama Kise disebut-sebut. "Tidak usah."
"Duh, jangan merasa tidak enakan begitu dong, senpai. Tidak apa-apa, kok. Habis ini ke studio, nggak? Sebentar aja, lanjutin lagi wawancara yang kemarin yuk, senpai!" Ajakmu dengan baik-baik.
Tiba-tiba sesosok pemuda bersurai kuning lewat di depan kelas Kasamatsu. "Eh, (your name)! Sedang apa di sini? Ini kan kelasnya Kasamatsu-senpai?"
Refleks kamu menaruh sapumu dan menghampiri pemuda itu. "Kise-kun~! Ah, ini aku niatnya mau wawancara Kasamatsu-senpai untuk kolom idola surat kabar Teikou."
"Heee? Aku juga mau, ssu! Kok aku belum pernah diwawancara sih, (your name)-cchi. Kurokocchi saja sudah, dan sekarang malah Kasamatsu-senpai!" Protes Kise.
Kamu mengangkat kedua bahu. "Tidak tahu, ya. Riko-senpai yang minta aku liput Kasamatsu-senpai. Mungkin sekarang semua orang sudah bosan padamu, Kise-kun~ Fufufu..."
Brak!
Kasamatsu menaruh penghapus papan tulisnya dengan kasar di atas meja. Ia pun mengambil tasnya dan keluar dari kelas. "Sudah ya. Aku pulang." Lalu ia pun berlari dengan cepat dan meninggalkanmu dengan Kise di depan kelasnya.
"Lho, senpai? Ah, kelasnya kan masih kotor! Gimana sih!" Keluhmu sebal dan masuk lagi ke dalam kelas bersama Kise. Kelasnya memang masih lumayan kotor. "Kise-kun, bantuin dong... Kamu kan tidak ada kerjaan?"
Kise mengusap tengkuknya. "Ehehe... Aku... banyak kerjaan ssu! Adios!" Lalu Kise pergi secepat mungkin. Kamu menghela nafas berat. Melihat kelas yang kotor begini tentu saja kamu tidak tahan kalau tidak membersihkannya.
"Sudah tidak dapat wawancara, terpaksa membersihkan kelas orang pula! Hu uh!"
.
.
.
.
.
Keesokan paginya ada sebuah novel terbitan lama yang langka di dalam loker sepatumu dan sebuah notes kecil.
Kata Takao, kamu menginginkan ini. Terima kasih sudah membersihkan kelasku.
Dan kamu segera membalasnya seakan lupa dengan teknologi surat elektronik.
Aku butuh ketemu kamu, dimana saja.
.
.
.
.
.
Day 6 Report : 14th May, 2015
Tidak terasa deadline yang tampaknya jauh itu sekarang sudah sedekat ini. Besok. Namun, kali ini bukan itu yang membuatmu gelisah, melainkan Kasamatsu yang pemalu itu tiba-tiba datang ke kelas saat istirahat makan siang dan mengatakan suatu hal yang biasanya tidak diucapkan selancar itu oleh orang tsundere sepertinya.
"Pulang sekolah nanti kutunggu di gerbang sekolah. Masih mau wawancara kan?"
Tiba-tiba saja setelah menghindarinya, bersikap kesal sendiri tidak jelas, pemuda itu malah menawarkan jadwal wawancara. Memang enak sih, jadinya kan tidak perlu mengejar-ngejar lagi. Apalagi deadline sudah dekat. Akan tetapi... rasanya aneh saja.
Alhasil pelajaran kimia jam terakhirmu semua buyar.
Selepas bel dan guru pergi, kau sempat mengintip ke arah gerbang dari jendela kelasmu yang kebetulan mengarah ke sana. Belum ada siapa-siapa di sana, tentu. Namun lima menit kemudian Kasamatsu datang dengan napas terengah-engah lalu menunggu di gerbang.
Yah, kamu tidak punya pilihan lain selain menghampirinya. Butuh sekitar sepuluh menit sampai akhirnya kamu sampai di gerbang dan mendapatinya dengan wajah merah malu-malunya.
"Hai." Sapanya. "Cepat, maunya dimana?"
Kamu hanya terpaku memandangnya.
"Hei. Ja.. jangan-jangan... Yang surat di lokerku waktu itu kamu salah taruh lagi ya? Jadi maksudnya untuk Kise? Oh.. jadi... aku salah lagi. Wawancaranya sudah tidak butuh ya." Cerocos Kasamatsu dingin.
"Bukan, bukan begitu." Kamu menyangkal prasangka Kasamatsu. "Itu benar untuk senpai. Dan benar juga aku masih butuh wawancara untuk artikelku. Akan tetapi... bukan itu semua yang ingin kubahas. Aku hanya ingin tanya, sebenarnya senpai kenapa? Tiba-tiba menjauhiku lalu marah-marah sendiri tidak jelas. Kalau memang ada yang salah dengan cara wawancaraku atau malah tidak suka diwawancara tinggal bilang saja!"
"Aku..."
"Mungkin kemarin pertanyaanku terlalu bersifat pribadi atau apa, tapi setidaknya kan aku sudah minta maaf, senpai. Bahkan aku sendiri belum tahu apa salahku, dan tolonglah apresiasi sedikit! Besok sudah deadline-ku untuk artikel dan aku benar-benar serius mengerjakan artikel ini, walau mungkin ini tidak berarti apa-apa buat senpai. Kalau ada sesuatu, tolong katakan saja langsung!" Lanjutmu tegas seraya menahan kekesalan yang ada dalam dirimu. Yah, sebenarnya itu saja kekesalanmu sudah meluap-luap dalam kata-kata.
Kasamatsu memalingkan wajahnya yang memerah lalu menatapmu dengan serius. "Baiklah, akan kukatakan. Aku.. aku kesal dengan Kise. Lebih banyak gadis yang menyukainya dari pada aku dan itu termasuk kamu dan terutama itu... membuatku kesal. Tapi tidak juga! Akh! Aku tidak suka kalau kamu menyukai bocah itu—bukan karena apa-apa!—tapi kan lebih baik kamu itu dengan... dengan... dengan..."
"Dengan?"
"De... denganku!" Lanjutnya setengah mati. "Aaah! Aku sudah tidak sanggup lagi!" Teriaknya. Ia pun berlari ke dalam sekolah lalu tak terlihat lagi dalam pandanganmu.
Kamu merasakan wajahmu mendadak memanas dan jantungmu berdebar cepat. Ingin sekali rasanya kamu mengejarnya, tetapi kamu tidak sanggup. Seluruh tubuhmu lemas dan terkejut, tetapi... ada secercah perasaan senang yang meluap-luap di sana.
Kesimpulannya, hari ini kamu tidak dapat informasinya, namun mendapatkan kata-kata yang membuat hatimu menghangat sepanjang hari.
.
.
.
.
.
Deadline : 15th May, 2015
Riko mengirimimu sebaris e-mail : Hari ini deadline artikelmu.
Kamu mendadak kehilangan selera makan siangmu. Padahal hari ini kamu sudah susah payah bangun pagi dan membuat sendiri bekal komplit sejak jam lima pagi.
Dan entah kenapa main dish-nya jadi nikujaga.
Dan entah kenapa juga hari ini bekalnya bawa dua.
"Ne, Kok bekalnya belum diberikan ke Ki-chan, (your name)?" Tanya Satsuki yang ikut makan bersamamu di kelas.
Kamu memandang Satsuki heran. "Ki-chan?"
"Iya, kamu mau kasih bekalnya ke Ki-chan, kan? Semua orang juga tahu kok kalau kamu suka sama Ki-chan~" Jawabnya iseng. "Ngomong-ngomong, setahuku sih Ki-chan sukanya onion gratin soup lho, bukan nikujaga."
Mendengar kata nikujaga diucap Satsuki, Takao yang makan di meja seberang mendadak menengok. Kamu pun jadi salah tingkah. "Ah, em.. Satsuki, kamu sendiri ke kelasku ada apa?"
"Oh iya! Tetsu-kun~" Satsuki pun teringat tujuan utamanya lalu menghambur ke meja Kuroko, teman sekelasmu sekaligus pacarnya. Kamu pun lega dan kembali memandang bekal itu.
Mau dipikir-pikir sampai berapa kali pun juga... kalian harus bicara, kan?
Akhirnya kamu memutuskan bangkit dari mejamu lalu izin dengan teman-temanmu untuk pergi sebentar. Mereka tidak banyak tanya dan membiarkanmu pergi dengan dua bekalmu—walau sebenarnya heran juga. Kamu pun bergegas menuju kelas Kasamatsu yang cukup jauh, takut bel masuk akan segera berbunyi.
Sampai di sana, tanpa basa-basi kamu langsung melupakan statusmu sebagai adik kelas dan dengan berani masuk ke kelas Kasamatsu yang juga di dalamnya para siswa sedang makan siang lalu menghampiri meja pemuda itu.
"Senpai, ini hukumanmu karena meninggalkanku sendirian di gerbang."
Pluk, dan kamu menaruh bekal buatanmu di atas mejanya yang sudah berisi nasi bekalnya sendiri.
"Ini nikujaga. Buatanku. Harus dimakan sampai habis." Perintahmu, mati-matian menahan degup jantungmu.
Seisi kelas pun teralihkan fokusnya karena melihat seorang anak kelas satu masuk ke dalam kelas mereka—dan langsung melakukan aksi berani memberikan Kasamatsu sebuah bekal!
Kasamatsu buru-buru membereskan bekalnya lalu membawa bekalnya dan bekal yang kau berikan serta menarik tanganmu keluar dari kelas, sebelum kalian menarik perhatian orang lebih banyak lagi.
"Ini.. apa-apaan?" Tanyanya kaget.
"Tidak tahu. Tapi... ini semua gara-gara senpai, tahu! Sudah artikelku jadinya belum selesai, kemarin aku ditinggalkan sendirian, dan aku berdebar-debar terus setelah itu, tahu! Pokoknya, tiba-tiba aku mau buat ini dan makan saja! Aku tidak mau tahu." Kamu menjawabnya dengan mati-matian menahan malu. Rasanya mau meledak saja.
Pun dengan Kasamatsu. Dia menatapmu setengah tidak percaya. Walau begitu, ia membawa bekalmu ke kursi panjang di samping-samping kelas dan duduk di sana—masih sambil menggenggam tanganmu. Ia baru melepas genggamannya setelah duduk dan membuka bekal darimu yang berisi nikujaga. Ia pun memakannya dengan lahap.
"Ini enak. Jauh lebih enak dari pada bekalku." Komentarnya.
Kamu tersenyum mendengarnya.
"Aku ingin punya istri yang bisa memasak nikujaga seenak ini." Lanjutnya, seraya memandangmu—yang tentunya dengan wajah memerah.
"Lho," kamu jadi merasa malu. "Memangnya tidak malu ngomong straight forward begitu?"
Sadar, Kasamatsu langsung menutup mulutnya. "Kan bukan berarti kamu!"
"Oh... Ya sudah, aku mau menikah dengan Kise-kun saja." Dalihmu seraya membuka bekalmu dan melahap nikujaga-mu yang belum habis.
"Paling-paling dia ngelamarnya salah rumah." Balas Kasamatsu asal. "Terus habis itu selang dua hari berikutnya dia balik lagi dan bilang salah ngelamar orang, Ha."
"Hidoi! Serius ah!" Ucapmu kesal.
Ekspresi Kasamatsu sedikit masam mendengarnya. "Eh... jangan.."
"Kenapa? Suka-suka dong..." Sangkalmu.
"Bukannya tadi kamu bilang—secara tidak langsung—kalau kamu.. kamu suka..."
"Suka sama senpai?" Lanjutmu.
"Jangan dikatakan sejelas itu, dong!" Protesnya malu.
Kamu tertawa renyah. "Gimana ya? Aku sangat mengagumi Kise-kun~"
Wajah Kasamatsu menegang mendengarnya.
"Tapi mungkin bisa suka sama senpai kalau mau membantuku menyelesaikan artikelku hari ini?"
Kasamatsu mendengus kesal, lalu mencuri ciuman di keningmu.
.
.
.
.
.
"Tuh, biar tambah suka."
.
.
.
.
.
Published day : 20th May, 2015
Ketika kamu membuka loker sepatumu pagi ini, kamu menemukan sebuah surat kabar Teikou edisi terbaru dengan cover klub band Teikou.
"Uwaa~ Keren bangeet~ Asyik, asyik, aku mau baca kolom—Ah!"
Tiba-tiba seorang gadis yang merupakan bosmu di klub datang menyambar surat kabar tersebut. "Ups, maaf~ Aku salah taro!"
Kamu kaget dan memandang Riko dengan heran. Memangnya kasus salah taruh surat cinta yang kau lakukan itu sudah tersebar kemana-mana ya, sampai Riko pun menyindirmu begitu?
"Hei Kise, ini jatahmu!" Riko melempar surat kabar itu ke arah Kise yang baru saja menaruh sepatunya di lokernya yang tak jauh dari lokermu. Ia menangkapnya dengan sukses.
"Terima kasih ssu!" Kise melihat surat kabar itu dan kebetulan saja tiba-tiba Kasamatsu baru datang dan masuk ke ruang loker. "Ne, Kasamatsu-senpai! Aku salah ambil! Ini harusnya untukmu!" Kise pun melempar surat kabar itu ke arah Kasamatsu dan sukses ditangkap olehnya.
Ia menangkapnya dengan bingung. "Ada apa, sih?"
"Ehehe..." Kise terkekeh pelan. "Tidak ada apa-apa, kok. Ayo, Riko-senpai. Kita tinggal dua orang yang baru kasmaran ini ssu~!"
Kamu pun menghampiri Kasamatsu untuk melihat surat kabar Teikou edisi terbaru itu dan sudah tidak menggubris tingkah Riko dan Kise yang aneh, dan tidak mendengar gumaman Kise yang sudah berlalu dari pandangan mereka.
"Untung mereka tidak tahu ya kalau aku yang menaruh surat itu di loker Kasamatsu-senpai dan Riko-senpai yang sengaja membuat tugas artikel tentang Kasamatsu-senpai untuk (your name) ssu!"
.
.
.
.
.
End.
.
.
.
.
.
A/N : Minna kok aku doki doki ya :'') Kasamatsundere bener-bener unyu dibuat fluff aaaaa~~~ maafkan ya kalau aku gagal fluff di sini Oh iya~ This chapter is special for my partner Tsukikka Fleur yang habis kelar UN kemarin-kemarin~ /telat update/.
Semuanya, stay tune ya karena habis ini giliran Tsukki untuk nulis chapter depan *evil grin*
Akhir kata... Do you satisfied with this chapter? :3
