Warning :
Readers!Chara—AU!TeikouHighschool—Maybe a bit OOC demi kepentingan fanservice—maybe typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Balasan Review no account di bawah A/N di akhir cerita!
.
.
.
.
Kau menatap hampa layar televisi. Berbanding terbalik dengan gambar bergerak yang dirangkai membuat cerita penuh warna, matamu malah abu-abu. Kosong.
Tak lama kemudian, tanganmu membanting remote ke sembarang arah. Suara pecah karena terhantam lantai disusul tangis cempreng khas bocah perempuan manapun bergema di seluruh penjuru rumah, bahkan suara dari kotak hitam di hadapanmu dengan mudah dikalahkan olehmu.
Tangis yang tiap detik makin mengeras membuat ibumu yang ada di dapur tergopoh-gopoh lari menghampirimu. Masih lengkap dengan centong di kiri dan pisau di kanan serta peluh di wajah.
"Sayang, kau kenapa?"
Kau tak mau menjawab. Mogok sekaligus kesulitan untuk bicara karena sesenggukan berlomba-lomba untuk keluar dari mulut kecilmu—dan jangan lupakan hidung yang sudah mulai mengeluarkan lendir.
Ibumu pasrah. Ia meletakkan centong dan pisau di meja di hadapanmu lalu memutar mata meniti ruang keluarga guna mencari petunjuk apa yang menyebabkanmu yang biasanya cool kini malah nangis tak keru-keruan macam ini.
Remote hancur lebur. Benda berbentuk persegi panjang dan memiliki banyak tombol berguna di tubuhnya itu kini sudah tidak berbentuk lagi. Walau sudah pasti tidak dapat diselamatkan, ibumu tetap bersyukur karena mendapat petunjuk pertama.
Tangisan yang kini sudah agak—sedikit—mereda membuat suara dari kotak hitam yang sedari tadi diabaikan terdengar lamat-lamat. Ibumu mengalihkan atensi pada televisi lalu mengernyit; mencoba berpikir.
Dan oh, sekarang ia sudah tahu.
"Ah. Ini bukan anime yang biasanya (your name)-chan tonton, ya?"
Tangisanmu kembali meledak, membuat ibumu menutup kuping rapat-rapat spontan karena intensitas tangis membludak tiba-tiba.
Dan tingkahmu tadi cukup jelas untuk diartikan sebagai ya.
Ibumu mendesah lelah sembari menggeleng-gelengkan kepala. Jika sudah menyangkut anime kesayangan, kau itu seperti menjadi pribadi yang lain. Dan ibumu seringkali mengangkat tangan duluan dan menyerahkan masalah ini langsung kepada suaminya; ayahmu.
Lalu ibumu mengambil centong dan pisau yang terabaikan tadi, menaruh mereka pada posisi yang seharusnya, mengambil ponsel, dan menghubungi ayahmu untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi dan menyuruhnya untuk memberikan solusi.
Jadilah pada malam itu ayahmu setelah pulang dari kantor menghampirimu yang masih terisak dan sedang mengurung diri di kamar. Tanganmu ditarik lembut oleh tangan besar ayahmu; mengajakmu untuk mengikutinya. Meski berkali-kali menolak (dengan menarik tangan keras-keras atau memukul-mukul ayahmu), akhirnya kau menyerah lalu mengekori ayahmu dengan tangan sibuk mengusap-usap mata.
Ayahmu mendudukkanmu di atas sofa di ruang keluarga. Di depan televisi mengesalkan tadi.
Ia menyalakan DVD player dan memasukkan sekeping CD yang sepertinya baru dibeli. Televisi ikut dinyalakan dan ia duduk di sebelahmu sembari menggenggam sebuah remote—yang jelas-jelas baru.
Ayahmu kemudian tersenyum tipis sembari mengacak rambutmu pelan, "Ayah tahu bagaimana rasanya ketika anime favorit mencapai episode terakhir…"
Kau terisak pelan, "(your name)… tidak… suka… hiks… menyebalkan…"
"Nah," ayahmu menyela, "bagaimana jika kita tonton film kartun yang ayah baru beli? Cukup favorit, lho!"
Kau menurut saja dan tiba-tiba layar memunculkan judul dan sosok si tokoh utama.
"AYAH AKU TIDAK SUKAA!"
Kau menangis lagi namun ayahmu malah memangkumu erat; mengisyaratkan untuk diam lalu menonton saja.
Lagi-lagi kau terpaksa menurut.
Kau tetap menonton walau dapat dipastikan wajahmu selalu mengerut dan bibirmu mendecih tidak suka pada setiap adegan yang dipertontonkan.
Hingga…
Sang Ibu Peri menyihir si tokoh utama lalu merubah gaun compang-campingnya menjadi gaun putih yang sangat indah lengkap dengan sepatu kaca menghiasi kakinya. Labu ikut disihir menjadi kereta kuda, para tikus kecil dimantrai agar menjadi kuda-kuda putih gagah, anjingnya membukakan pintu untuknya, serta kudanya sendiri menjadi manusia dan kusir untuknya.
Kau melongo. Terpukau.
Untuk pertama kalinya, kau menyukai film kartun dengan tokoh utamanya perempuan dan temanya mengangkat percintaan. Padahal biasanya, kau hobi dengan anime bertema peperangan, kekerasan, dan tokohnya sebagian besar lelaki tampan.
(Kalau kata kakak sepupumu, kau juga sudah menampakkan potensi untuk menjadi fujoshi. Alhasil kakakmu dihajar ibumu sebelum kau sempat bertanya apa arti fujoshi itu sendiri.)
Cinderella terkutuk. Sejak saat itu, kau memburu film kartun bertema serupa.
Tiba-tiba sesuatu mengganggu penglihatanmu. Seberkas cahaya menyilaukan terpancar dari televisi dan membuatmu terpaksa menutupi mata dengan lengan dan menutup matamu rapat-rapat.
Saat kau membuka mata, langit-langit kamar menjadi objek yang pertama kali masuk dalam indera penglihatanmu.
"Mim… pi?"
Kau menengok ke samping kiri; ke jendela. Sepertinya cahaya dari sanalah yang membuatmu membuka mata.
Kau menguap lebar-lebar, bangun terduduk, lalu menggaruk kepalamu yang tidak gatal sama sekali. Kau lirik weker yang terletak di nakas. Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan membuatmu kembali membaringkan diri.
Detik berikutnya, kelopak matamu yang sudah tertutup rapat tadi membelalak lebar.
"HEEEEEEE?!"
.
.
.
.
Kau berhenti terengah-engah sembari memegangi kedua lutut. Setelah mengambil napas dan menghembuskannya panjang demi mengisi paru-paru yang rasanya sudah terkuras, kau melirik jam digital yang tertera pada layar sentuh ponselmu.
Kemudian kau malah bersiul sendiri; kagum karena bisa tiba dalam waktu kurang lebih dua jam.
Ponsel yang kau genggam dimasukkan kembali ke dalam tas kulit kecil yang diselempang di bahu dan kau menatap poster besar yang berada di atasmu sembari tersenyum.
"Yosh! Aku siap!"
Dimasuki olehmu pintu kaca otomatis perlahan bersama sejumlah orang yang baru saja tiba seperti dirimu. Suhu rendah dari pendingin ruangan di dalam menyapa kulit sembari membawa aroma halus yang benar-benar nyaman untuk dihirup lama.
"Wah…"
Kakimu berhenti melangkah ketika sudah menjejak sejauh kurang lebih dua puluh meter dari pintu tadi. Kau buru-buru menutup mulut yang mulai detik tadi tak berhenti membuka-menutup dengan kedua tangan.
Decak kagum pun terlontar silih berganti. Matamu berbinar mendapati beragam busana yang telah dibagi menjadi beberapa kategori di hadapanmu. Mungkin lebar ruangan ini sekitar seratus meter dan sekarang ruangan ini telah disulap menjadi gudang—versi apik dan rapi—pakaian raksasa!
Kau menilik kategori-kategori yang dituliskan pada atas booth-booth di situ. Setelah menemukannya, kau menuju pada booth-booth berkategorikan ready-to-wear.
Matamu tak kuasa bergulir ke kanan atau ke kiri untuk ikut memindai beragam busana seperti orang-orang lainnya. Decak kagum masih belum dapat terlepas di bibir dan sesekali mengulas senyum manis di paras. Atau parahnya, tangan dan kakimu pun turut bermain guna meramaikan ekspresi pada wajah.
Kakimu seringkali tidak dapat menahan godaan untuk mendekat dan mengamati busana-busana tertentu yang benar-benar menarik untukmu dari dekat, barang sejengkal contohnya. Jika sudah seperti ini, biasanya kau akan memekik girang apabila menemukan sesuatu yang menarik sekaligus memotret untuk mengambil beberapa gambar dari busana tersebut.
(Bahkan sejenak kau lupa bahwa kau sedang berada di depan publik, mengingat tingkahmu sedari masuk sama sekali tidak difilter.)
"Mou, jangan tersenyum mengerikan seperti itu dong-ssu! Kita lagi di aula, lho!"
Satu tepukan di bahu dan dua kalimat yang dilontarkan penuh dengan nada tak suka serta protes membuyarkan lamunan indah yang sejak tadi singgah.
Tak sampai sedetik, wajahmu yang sempat mengerut kembali dihias senyum lebar.
"Oh! Kise!" tangan kananmu mengepal dan memberi tonjokkan halus pada bahu lebar lelaki semampai yang tengah berdiri di hadapanmu tersebut sembari berpura-pura menampakkan wajah serius dan garang. "Lama!"
"Heeee… maaf-ssu." Kise menyengir lebar sembari menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. "Habis, (your name)-cchi kesiangan lagi. Aku tadi 'kan harus ikut briefing untuk runway nanti."
Kau terkekeh perlahan, "Jangan mengumbar aibku, dong!"
Kise mendesah perlahan—tidak tahu apa yang sebaiknya ia jadikan sebagai tanggapan mengenai perangaimu. Padahal aku sudah mau bersusah payah mencarimu di aula raksasa ini-ssu, gerutunya dalam hati.
Tiba-tiba Kise memiringkan kepalanya. Iris madunya berpendar lalu bergerak dari atas ke bawah. Mulai dari ujung rambutmu hingga ujung sepatu yang kau kenakan ia amati tak terkecuali dengan saksama.
"Hoi, Kise! Apa-apaan?"
Kau yang sedang asik memindai blazer cokelat keemasan di hadapanmu (kau mengabaikan Kise begitu saja dan langsung melanjutkan kegiatanmu sendiri) merasa risih karena menyadari tatapan menyelidik Kise yang terlalu kentara menurutmu.
Seperti pedofilia mengawasi anak kecil yang imut di taman kota? Mungkin saja.
"Em… kau sedikit berbeda-ssu…" kedua alis milik Kise hampir bertaut; bingung. "Apa ya?"
Mendengarnya, kau menghentikan kegiatanmu lalu mengerjap sebentar. Kau ikut memindai dirimu sendiri; mencoba mencari tahu apa kira-kira hal berbeda yang dimaksud oleh salah satu teman terdekatmu itu.
Sekejap, kau terkesiap, "Ah… mungkin sepatuku? Aku mengenakan heels hari ini."
Dalam hati kau tertawa miris karena terpaksa mengenakan heels akibat sepatumu lupa kau cuci semalam.
Kise mengerjap kaget lalu ikut mengamati kedua sepatu yang membungkus kedua kakimu. Wajahnya berseri cerah, "Wah, benar! Biasanya lars, bukan? Sepertinya akan hujan malam ini-ssu."
Kau mengangguk singkat dan mengabaikan Kise lagi dengan menjauhinya beberapa langkah demi menemui karya-karya desainer yang lain.
Kise yang berada di belakangmu menghela napas panjang sekaligus merengut lalu melirik arloji perak miliknya. Seketika wajahnya pucat pasi dan dengan panik mengejarmu lalu mengamit lengan kirimu.
"Gawat-ssu! Runway sebentar lagi dimulaaaii!"
Kau menoleh cepat dengan wajah panik, "Haaa?! Terus bagaimana denganku? Aku masih mau lihat!"
"Aaah, mou! Lihat-lihat bisa nanti, pokoknya kau harus cari tempat dudukmu dan aku akan ke belakang panggung!"
Jalan menuju ruang sebelah yang digunakan untuk pelaksanaan runway di mana Kise akan turut serta sudah dipadati penonton. Kise—terima kasih kepada kaptennya yang tidak pernah membiarkannya absen barang sekali dari menu latihan penuh kenikmatan buatan Si Raja Setan itu sendiri—berhasil menyalip mereka semua dengan lihai tanpa menabrak.
"Jangan lupa foto aku, ya-ssu~" Kise mengedipkan sebelah mata kemudian melambaikan tangannya sebelum memasuki sebuah pintu yang bertuliskan 'Staff Only' di sana.
Oh, sifat narsis Kise sepertinya sudah bangkit. Kau hanya mendengus.
Kau merogoh salah satu kantong dalam tas kecilmu dan mengeluarkan sebuah tiket dengan tulisan VIP yang kentara. Dengan langkah malas, kau berjalan menuju antrean yang terpisah—khusus untuk tamu-tamu VIP—menyerahkan tiket pada penjaga, lalu masuk dengan langkah terseret.
Kau mungkin memang suka mode, tetapi tidak dengan runway.
Lama dan membosankan. Duduk tegak di depan sana berjam-jam (terima kasih pada bibimu yang merupakan salah satu designer ternama di Jepang memberikan tiket VIP pada pagelaran acara fashion seperti ini untuk duduk di barisan paling depan—jika perlu—dan secara cuma-cuma pula) dengan terpaksa—ayolah, kau tidak ingin tersorot kamera dengan punggung melekuk jelek. Belum lagi dengan musik asing yang dialun dan para model yang hanya berjalan monoton di atas sana. Semua itu tentu membuatmu mudah terbuai 'kan?
Intinya, kau benci runway tetapi tetap menonton karena tidak ingin mendengar ocehan bawel dari bibimu. Oh ya. Khusus runway yang satu ini, kau tidak mendapatkannya dari bibimu, namun dari Kise Ryouta yang merengek supaya dirimu menonton.
(Maklum sih. Ini runway pertamanya, tentu saja Kise gugup juga dan entah mengapa malah dirimu yang diajak.)
Hubunganmu bersama Kise? Ah, hanya teman. Tak lebih, tak kurang—menurutmu sih.
Saat SMP dulu, kau pernah sekali ikut menonton pemotretan rancangan baju musim panas buatan bibimu. Siapa sangka malah modelnya adalah Kise yang notabene adalah adik kelasmu yang populernya bukan main?
(Kise juga tidak menyangka bahwa kakak kelas urakan semacam dirimu adalah penikmat mode yang sedang belajar mendesain langsung dengan bibimu pula.)
Doakan saja semoga kau tidak tertidur dalam runway kali ini.
Jadi kau duduk manis persis di samping panggung—paling depan tentu. Memutuskan untuk memainkan ponsel sembari menunggu acara dimulai.
Tak perlu menunggu hingga berkarat, pembawa acara mulai menggaungkan suaranya. Model-model yang sudah dipoles di belakang panggung mulai keluar seirama dengan alunan melodi yang entah apa sembari memamerkan garmen yang melekat pada tubuh mereka.
Kau coba mengingat-ingat urutan Kise yang telah dibocorkan kepadamu melalui pesan terakhirnya tadi malam.
Lupa. Dan kau tidak berusaha mengingat lebih jauh.
Kau mulai memainkan ponselmu kembali. Tujuan utamamu menonton runway kali ini hanya untuk melihat Kise, tak lebih. Toh, gilirannya masih lama. Ya ampun! Bahkan ini baru wanita ketiga yang keluar dari belakang panggung.
(Seingat dirimu sih—karena kau jarang memerhatikan pula—biasanya giliran wanita terlebih dahulu hingga selesai, baru setelah itu giliran pria dan berpasangan.)
Aplikasi chatting kau pijit dan dalam sekejap kau asyik sendiri tanpa memedulikan apa yang terjadi di sekitarmu.
Sebenarnya tak masalah jika hanya beberapa menit. Tetapi kau itu memang keterlaluan. Saking asyiknya, kau melewatkan bagian pria sama sekali. Yang sempat tertangkap oleh kedua matamu hanyalah helai rambut pria terakhir yang akan meninggalkan panggung.
Kau mengerang. Ini berarti kau harus tinggal lebih lama, begitu? Baiklah, selamat tinggal rencana kabur diam-diam, kau harus tetap tinggal karena Kise akan merajuk apabila kau tidak memotretnya. Kau tertawa miris tanpa suara.
Abaikan yang lain. Akun sosial media yang berjerit-jerit minta segera dibuka harus diabaikan. Tanganmu standby untuk memotret melalui lensa kamera ponselmu kapan saja.
Ini kesempatan terakhirmu, (your name)!
Satu persatu, mereka (yang kini berpasangan) keluar untuk memanjakan mata penonton sekali lagi.
"Satu…"
"Dua…"
"Tiga…"
"Empat…"
"Lima…"
"Enam…"
"Tujuh…"
"Dela—Ah mou! Kise urutan keberapa, sih?! Astaga…"
Tanganmu sudah mulai pegal karena terlalu lama menggantung di udara untuk siap-siap memotret.
Ketika mulutmu sudah ingin mengeluarkan desisan kembali, kau berhenti dan matamu melebar tak percaya.
Astaga! Sejak kapan Kise Ryouta setampan itu? Sejak kapan?
Kau histeris sendiri.
Dan yang lebih membuatmu tercengang adalah wanita yang dipasangkan dengan Kise.
Wanita itu—entah siapa namanya—dibalut dengan gaun biru—haute couture, terlalu mirip dengan Cinderella.
Bukan wajah. Bukan gaya rambut. Bukan karena Kise. Tetapi karena gaun itu.
.
.
.
Alih-alih memotret, kau malah melongo seperti orang bego.
.
.
.
.
Kise merajuk itu sebuah kiamat.
Kau tertawa hambar.
Hampir sepanjang hari kemarin kau habiskan untuk membujuk Kise agar tidak merajuk dan mau menemanimu keliling aula. Ini memang salahmu karena tidak memotret Kise dan terlalu kaget dengan apa yang kau lihat, tetapi tidak perlu merajuk sampai seperti itu juga 'kan?
Kau mendengus. Pada akhirnya kau tidak menemukan siapakah desain gaun itu dan pulang sangat larut kemarin.
Kau terkekeh miris.
Matamu yang sekarang sebelas-dua belas dengan mata panda rasanya semakin perih saja.
Ya, karena kedatangan heboh orang itu dengan tanda mejamu digebrak keras yang jelas sangat disengaja.
"(your name)! Hoi! Kau mendengarkanku tidak?"
Kau mengerling malas lalu memangku kepala dengan sebelah tangan, "Berisik ah, Riko. Jangan bawel, deh."
Satu jeweran yang cukup menyakitkan bersarang pada telinga kananmu, "Heh. Begini-begini aku ketuamu, lho!"
"Riiikoooooooooooo…" kau menonjok pelan lengan Riko untuk menyingkirkan jari-jemarinya dari daun telingamu yang sudah dipastikan agak kemerahan sekarang. "Aku mengantuk dan sedang tidak mood, nih! Sana ah, pergi! Jangan ganggu."
Kau membaringkan kepalamu membelakangi Riko di atas meja tanpa alas. Tanganmu mengibas-ngibas ke arahnya; menyuruhmu pergi, "Syuh!"
Kedua lengan Riko disilang di depan dada, "Hm… Pembangkang rupanya. Anak nakal sepertinya perlu diberi hukuman…"
Kau mendelik mendengar itu, namun itu tidak cukup untuk membuatmu membalikkan posisi kepalamu untuk kembali menatap Riko, "…aku tidak senakal itu hingga perlu diberi hukuman…"
"Kemarin itu pertemuan penting, Buodoh!" buku tulis milikmu yang tadi terabaikan di atas mejamu melayang dan menghantam keras kepalamu. "Lalu kau juga kabur seenak jidat dan mengabaikan 325 pesan dariku serta 67 panggilan dari Jun—ah, Hyuuga-kun maksudku!"
Gerutuan terlontar dari mulutmu dan kau menggumam tak jelas, "Mmhmmm, aku sudah bilang bahwa kemarin ada acara keluarga."
"Acara keluarga atau kencan berdua dengan Kise-kun di pagelaran busana seharian?"
Dan pertanyaan penuh intonasi sarkas tersebut lagaknya berhasil membuat kepalamu (yang masih menempel di atas meja) berbalik menghadap Riko sembari menggembungkan pipi tanda kesal, "Tahu darimana?"—tentang ke pagelaran busana seharian tentu, bukan bagian kencannya.
"Tentu saja Kise-kun yang baik hati, tidak sombong, ramah, tampan dan jujur." Riko membusung.
Kau mendengus mencibir, "Jujur apanya. Jelas-jelas dia memperdaya salah satu reporter tersayang milik klub dan bersekongkol dengan ketua klub yang piciknya bukan main bulan lalu."
Bukannya tertohok hatinya atau apalah, si target sindiran malah tertawa menyebalkan seperti: "Ho-ho-ho…" dengan sebelah tangan menutup mulut dengan gaya elegan layaknya ibu-ibu bangsawan.
"Dia menyandang status sebagai kekasih bassist famous plus tampan Teikou sekarang dan artikel kita sukses besar." Riko tersenyum setan. "Jadi, apa salahnya?"
Kau mendecih lalu kembali memutar kepala untuk membelakangi Riko.
"Aku kasihan pada diriku sendiri karena memiliki ketua tirani seperti dirimu untuk dipatuhi setiap perkataannya."
"Oh, sayangnya kau juga harus mematuhi apa perkataanku selanjutnya."
Bahumu bergidik. Jika Riko sudah mengenakan kata pada kalimat dengan penuh penekanan, maka mati sudah.
"Hukuman akibat kabur dari pertemuan terakhir dan membohongiku serta membangkang seperti tadi…"
Tanpa perlu memiliki mata di bagian belakang kepalamu, kau sudah tahu bahwa Riko tengah tersenyum setan dari telinga hingga telinga dan sedang mendekatkan kepalanya dengan kepalamu.
"Kau akan bertugas pada prom night kelas 3 pada Hari Sabtu besok~"
Setelah membisikkan kalimat dengan nada menyebalkan, Riko melenggang pergi ke luar kelas dengan riang, meninggalkan dirimu yang—
"HA?!"
—melongo seperti orang bego untuk yang kedua kalinya.
.
.
.
.
Kuroko no Dating Simulation :
Love Report!
Mibuchi Reo x Readers!
.
.
.
.
June 27, 2015
1st Try : 06.30 p.m.
"Ini nomor anda, Nona."
Kau mengangguk dan tersenyum tipis. Kartu persegi bernomor 36 kau simpan baik-baik dalam saku tas.
"Baiklah, ayo kita pergi."
Ketika membalik badan untuk mengajak, kau malah tertegun mendapati mereka bergeming dan terpukau melihat pantai lewat kaca agak tebal yang dijadikan untuk setengah dinding lobi.
Kau mengalihkan pandangan pada sumber cahaya jingga yang tengah pergi bergantian dengan langit malam dan terkekeh kecil, Hebat juga Bu KepSek seleranya.
"Nara, Hakisha, Kenra," tegurmu kemudian mengulas senyum tipis, "jangan berlama-lama. Aku bertaruh panorama yang lebih fantastis akan terjamu di sana malam ini."
Mereka bertiga lalu tertawa malu dan mengekorimu menuju taman yang dipilih menjadi tempat perhelatan prom night malam ini.
Kau menatap layar ponselmu lalu membalik badan untuk menatap adik kelasmu, "Baiklah. Lebih baik kita berpencar sekarang. Terserah kalian ingin bagaimana melakukannya, yang jelas tolong jangan lupa bahwa ini bukan acara kita dan kalian masih kelas 1."
Kenra—yang merupakan satu-satunya laki-laki—mengangguk mantap. Sedang Nara dan Hakisha mengucap: "Siap!"
"Kalian sudah memperkirakan apa dan siapa yang akan kalian amati dan wawancarai?"
"Sudah."
"Pertanyaan?"
"Sudah."
"Jangan lupa untuk mencatat apapun yang sepertinya menarik untuk dijadikan bahan artikel."
"Iya!"
Kau mengangguk puas, "Baiklah. Kukira cukup dan kalian akan baik-baik saja."
Setelah mengucap kata penambah semangat, mereka bubar.
Kau menghela napas lelah. Memang kejam sekali Riko itu, ya. Dipaksa untuk meliput pada prom night sih tidak apa (walau tetap saja menyebalkan), tetapi dia malah menugaskanmu tugas tambahan untuk mengisi kolom idola bulan ini! Terlebih lagi, kau tidak tahu yang mana narasumbermu!
Mibuchi Reo itu seperti apa?
Kau menatap miris e-mail terakhir yang dikirimkan oleh Riko tadi sore. Hanya berisi nama narasumber tanpa embel-embel deskripsi lain. Kata-kata penyemangat dari Riko saja rasanya seluruhnya bermakna ejekan.
Belum lagi kau disuruh untuk memimpin anak kelas 1 (Nara, Hakisha, dan Kenra) pula dalam kegiatan meliput dan diliput pada malam ini untuk edisi spesial Bulan Juni yang bertajuk prom night dan segala tentang kelulusan kelas 3. Ke mana Riko dan Hyuuga? Kau menjamin 100% bahwa mereka ingin kencan malam ini dan akhirnya kau dilimpah tugas begini.
Kau melirik lagi jam digital pada layar ponsel.
Sebentar lagi pembukaan acara dan berbagai sambutan serta pengumuman akan dimulai. Kau buru-buru mengambil kursi kosong yang letaknya terbelakang. Wawancara atau penulisan artikel lain baru bisa dilakukan setelah ini, karena tentu tidak sopan berkeliaran di saat ini dan acara pembukaan sudah menjadi tugas Kenra untuk diliput.
Jadi kau memutuskan untuk mengedar pandang dan mencari sosok yang kau kenal untuk membantu.
.
.
.
.
2nd Try : 08.07 p.m.
"(your name)?"
"Um, Imayoshi."
Imayoshi mengulas senyum, "Hisashiburi."
Kau duduk di sebelah Imayoshi, "Ya, ya. Selamat untukmu omong-omong."
Dalam hati kau tidak rela sih sebenarnya karena teman sekelas saat 6 tahun di SD lulus lebih dulu darimu dan berhasil menyabet nilai tertinggi. Kau mendumel dalam hati.
"Terima kasih." jawabnya sembari menyeringai. "Jadi? Ada apa kau menghampiriku begini?"
"Kenal Mibuchi Reo?" tanyamu langsung pada intinya.
Imayoshi tertegun sebentar, "Waah, kau tahu aku di kelas aksel yang bahkan berbeda gedung."
Kau kemudian melirik ke arahnya sembari mendengus, "Namun aku juga tahu kualitas otakmu itu mampu mengingat apapun dan siapapun walau hanya melihat sekilas dan sekejap mata."
Imayoshi kemudian terkekeh, "Sasuga, (your name). Kau masih sering melebih-lebihkan diriku ternyata."
"Cerewet, ah." kau merengut. "Yang lebih penting, dia sekarang di mana?"
"Hum… Aku belum melihatnya sejak tadi dan sekarang pun masih, Nona Desainer."
Dahimu berkedut kesal dan jarimu segera mencubit lengan Imayoshi keras, "Imaayoshiii, aku serius."
"Sakit, hei." Imayoshi mengelus-elus lengan kanannya setelah menyingkirkan tanganmu terlebih dahulu. "Aku serius, dan ia baru saja lewat di belakangmu tadi."
"Kenapa tak bilang?!" kau langsung membalik badan dan berusaha menerka yang mana sosok bernama Mibuchi Reo itu. "Imayoshiii, yang mana?"
"Yang sedang ke meja sebelah sana." tunjuknya.
Kau tidak bisa mengikuti gerakan telunjuk Imayoshi yang tengah mengikuti Mibuchi Reo itu sejujurnya. Dan kau tidak merisaukan hal itu. Jika kau tidak bergegas maka kau pasti akan kehilangan Mibuchi, bukan?
Jadi kau bangkit dengan mata yang masih mengarah meja yang ditunjuk Imayoshi tadi, "O-oh, okee… terima kasih. Aku pergi dulu.", dan juga berpura-pura bahwa kau sudah tahu dengan tepat sosok yang ditunjuk olehnya.
Imayoshi tersenyum tipis, "Selamat berjuang."
Kau mengangguk dan melambaikan tanganmu.
"(your name)!"
Kau berhenti dan membalik badan 90°.
"Kau cantik sekali hari ini, Nona Reporter, omong-omong." masih dengan seringai khas terpampang di wajahnya.
Kau mengerjap sebentar lalu menyeringai sembari meledek, "Terima kasih banyak, Tuan Tak Bisa Melek, kau juga tampan hari ini."
.
.
.
.
3rd Try : 08.12 p.m.
Jadi, di mana dia?
Kau tengah berjalan cepat menuju meja yang ditunjuk oleh Imayoshi tadi. Tapi kok rasanya jauh sekali, ya?
Kau mendengus. Kalau kau tidak mengenakan heels, mungkin kau sudah berlari macam orang gila sejak tadi. Dan Imayoshi tadi sengaja ya memanjang percakapan untuk mengulur waktu agar Si Mibuchi Reo ini menghilang, begitu?
Andai Imayoshi tahu bahwa aku tidak tahu yang mana yang ia tunjuk tadi…
Benar-benar, deh. Andai Riko memberitahumu sehari sebelum acara bukannya malah setelah sampai ke villa ini, mungkin kau sudah tahu bagaimana wajah Mibuchi Reo beserta data-data dasar seperti tanggal lahir atau semacamnya. Mengapa juga sih database sekolah tidak bisa dibuka selain dari lingkungan sekolah? Tahu tidak sih Si Riko, bahwa mencari seseorang di dunia maya terutama sosial media juga perlu waktu?
Dan akhirnya kau sampai.
Kau mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tiba-tiba wajahmu memucat.
"Wah… kok… perempuan semua…"
Kau panik. Mibuchi Reo jelas-jelas nama seorang lelaki (dan memang lelaki) dan tidak ada satupun lelaki di sini.
Sialan, jangan-jangan tadi Imayoshi membohongiku?
Tatapan nyalang diputar mencari kemungkinan sosok Mibuchi Reo. Nihil.
Tidak-tidak. Imayoshi tidak akan berbohong. Walaupun dia termasuk orang yang paling mencurigakan dan misterius dan menyebalkan, tetap dia tidak akan berbohong!
Kau berusaha berpikir positif. Bagaimanapun, kau mempercayai Imayoshi.
Mungkin dia sudah pergi.
Jadi kau mengatur napas, menghirup lalu menghembuskan perlahan. Kau memantapkan hati untuk melangkahkan kaki tepat ke belakang seorang kakak kelas yang sekarang tengah sibuk memainkan ponselnya.
"A-ah, ano—"
Dan kau tertegun.
Kakak kelas yang tadi ingin kau panggil menoleh. Ia membalikkan badannya dengan sempurna dan memperlihatkan dirinya penampang depan.
Astaga, aku tidak salah lihat, 'kan?
Gaun itu.
Gaun biru yang benar-benar sama persis dengan yang dipakai oleh pasangan Kise dalam runway pagelaran busana minggu lalu. Tidak salah lagi.
Kau meneguk ludah. Bagaimana, nih? Gaun ini atau… Mibuchi-senpai?
Kernyitan heran dan bertanya-tanya tergambar jelas di wajah Si Kakak Kelas.
"M-maaf… senpai… membeli gaun ini di mana?"
Dan setelah kalimat itu meluncur mulus dari bibirmu, kau ingin menghantam kepalamu ke tembok.
Sungguh, kok! Sebenarnya kau ingin menanyakan keberadaan Mibuchi Reo atau bagaimana ciri-cirinya. Namun astaga! Persetan dengan Mibuchi Reo! Itu gaun yang itu lho! Biarlah. Yang jelas ia harus tahu darimana senpai yang tengah berdiri di hadapanmu mendapatkan gaun itu dan siapa yang mendesain gaun itu.
Dan akhirnya hatimu menang dan logika kau potong sementara.
"He?" mata hijau yang dilengkapi dengan bulu mata panjang miliknya mengerjap heran mendengar pertanyaanmu, "Ini?"
"I-iya!" kau menatapnya kelewat antusias kemudian membungkuk, "Maafkan aku apabila kurang ajar seperti ini, tetapi aku ingin tahu!"
"Tidak apa-apa, kok~ Gaun ini buatanku, aku yang merancangnya."
.
.
.
.
"Ha?" kau tercengang, "Se-serius?"
.
.
.
.
"Serius, kok." katanya sambil tersenyum. "Memangnya kenapa?"
Kau tergagap, "E-ee… tunggu! Sebelum itu, apakah gaun ini adalah gaun yang dipamerkan saat runway di pagelaran busana minggu lalu?"
Ganti dia yang terkejut, "Kau menontonnya? Ah… i-iya benar."
"Yang dipasangkan pula dengan remaja yang berambut kuning?"
"Benar…"
Kau tidak tahu harus berbicara apa… Lemas rasanya seluruh tubuh.
Bayangkan saja! Kau jatuh cinta dengan gaun indah sedari seminggu yang lalu dan pulang dari pagelaran tanpa mengetahui siapa desainernya. Lalu tiba-tiba seseorang memakai gaun itu dan ternyata orang itu pula yang mendesainnya, dan lebih parahnya lagi orang itu adalah kakak kelasmu sendiri.
Merasa tolol, iya. Merasa bahagia, juga iya.
Deg. Deg. Deg.
"Senpai… boleh aku tahu siapa namamu?"
Deg. Deg. Deg.
Kau tatap dia penuh harap.
Mulai dari rambut sebahu dengan poni yang lebih pendek, kulit putihnya, alis tipisnya, kedua matanya, hidung mancungnya, bibirnya…
Tung… gu.
Lengan dan badannya berotot? Bahkan dadanya… rata? Tingginya… Hei berapa tingginya?! Dan… jakun? HEI ITU JAKUN?!
Jangan bilang dia…
"Boleh," ia tersenyum manis. "Namaku Mibuchi Reo."
.
.
.
.
.
Demi apa dia trap…?
.
.
.
.
4th Try : 08.32 p.m.
"Aa… sou…"
Kau tertawa garing. Rasanya kau ingin terjun dari tebing di sisi pantai sebelah sana atau kalau perlu dari villa ini saja.
"Jadi, namamu?"
"Aaa… Etto… (your name) desu. Y-yoroshiku…"
Mendengar gaya bicaramu yang terputus-putus disertai wajah panik membuat dahi Mibuchi berkedut aneh; bingung. "Apa kau baik-baik saja?"
"Iya! Aku baik-baik… saja."
Mibuchi menghela napas, "Ada sesuatu yang menganggumu?"
ADA DAN ITU KAUU!, kau menjerit dalam hati.
DAN ASTAGA SUARANYA BENAR-BENAR LAKI-LAKI!
Kau menggelengkan kepala pelan sembari meringis dalam hati. Rasanya air mata buru-buru ingin keluar dan dirimu telah menjadi orang tertolol sedunia.
Kau memang lumayan suka dengan karakter-karakter trap di anime (walau pasti tidak seluruhnya). Namun rasanya apabila bertemu di dunia asli…
.
.
.
"Reo-nee~~"
.
.
.
Kau dan Mibuchi spontan menengok. Pemuda berambut kuning seperti Kise (walaupun dengan potongan rambut pendek) melambai-lambaikan tangannya sembari berlari.
Dan seorang pemuda juga mengikutinya dari belakang…
Tunggu, benarkah orang yang mengikuti pemuda itu juga pemuda lainnya? Badannya… rasanya mustahil bagi pemuda berusia kisaran 17 tahun. Itu otot berseliweran di mana-mana (tidak seperti Mibuchi yang tidak terlalu kentara), kulit hitam legam, potongan rambut yang… aneh?, serta apa-apaan janggut dibiarkan memanjang begitu?!
"Hei, lama sekali kalian! Huh."
Pemuda berambut kuning tersebut sampai lebih dulu lalu menggaruk kepala bagian belakang yang kau jamin tidak sedang gatal, "Ahahaha, gomen, gomen. Eikichi tadi memaksa untuk makan dulu sebelum ke sini."
"Mou! Kau kan tahu jika ia sudah makan takkan bisa dihentikan!" Mibuchi menuding pemuda yang satu lagi dengan wajah kesal.
Tiba-tiba tawa dari pemuda itu meledak.
"AHAHAHAHAHAHA REO APA-APAAN DENGAN KOSTUMMU? HAHAHAHAHAHAHAHA!"
Akhirnya ada yang menyuarakan pikiranku… walaupun gamblang sekali sih, kau tertawa miris dalam hati.
"Tidak sopan! Sudah bagus aku memakainya!"
Disamping perdebatan antara orang itu dan Mibuchi, pemuda berambut kuning itu malah menatapmu aneh—entahlah, tajam atau dingin atau lainnya.
"Nee, kau siapa?" tanyanya sembari memiringkan kepalanya.
Jeng jeng.
Atensi yang tadinya berputar-putar saja pada ketiga pemuda—yang entah mengapa mencurigakan semua—di hadapanmu seketika berpusat pada dirimu seluruhnya.
Kau tersenyum kikuk, "A-ah, salam kenal. Saya (your name), kelas 2-C, senpai."
Mibuchi terkejut, "Ara, pantas saja kau memanggilku senpai dan rasanya aku tidak pernah melihatmu."
"U-um… iya."—dan menurutmu jawaban ini sudah yang paling natural.
"Ne, ne, Reo-nee!" pemuda yang daritadi selalu memanggil Mibuchi dengan sebutan Reo-nee kembali antusias.
"Apa, Kou-chan?"
"Kenapa kau tidak menyadari hal itu sejak ia pertama kali memanggilmu 'senpai'?" pemuda itu—yang sepertinya bernama Kou—menatap bingung Mibuchi.
Mibuchi berkacak pinggang, "Ck! Kou-chaan! Lupa ya jika banyak sekali yang memanggilku 'senpai' walau seangkatan?"
Awalnya Si Kou-chan ini terkejut, dan sekejap kemudian senyum polos terpampang di wajahnya, "Ehehe, gomen, Reo-nee~"
(Kau melihatnya bukan sebagai interaksi antar teman, tetapi malah seperti anak-ibu.)
Si Pemuda Besar (yang dipanggil 'Eikichi' maksudnya) yang sedari tadi tidak terlibat pembicaraan kembali tertawa, "Huh, Koutarou. Padahal kau sendiri memanggil Reo dengan embel-embel '-nee'"
Koutarou terkejut sebelum ia terkekeh kecil. Kemudian ia memperhatikanmu kembali. Wajah bingung dan yang boleh kau bilang agak menyeramkan saat menanyaimu pertama kali tadi kini digantikan dengan wajah ramah penuh cengiran girang, "Mengapa anak kelas 2 sepertimu bisa ada di sini?"
"Saya dari—"
"Tunggu, (your name)-chan."
.
.
.
EH? NAMA KECILKU?!
.
.
.
Kau yang terkejut karena Mibuchi memanggil namamu dan tiba-tiba menyela omonganmu membuatmu bungkam.
Tiba-tiba saja lengan Mibuchi terangkat dan jemarinya meraih daun telinga Koutarou.
"Perkenalkan dirimu dulu sebelum bertanya-tanya, Kou-chan!" ia sepertinya menarik telinga Koutarou keras. Dengan mengabaikan teriakan kesakitan dari Koutarou, ia menatap Eikichi juga. "Kau juga, Ei-chan!"
Koutarou meringis sebal, "Oke, oke Reo-nee!" ia kemudian menegapkan badan lalu berdehem keras, "Hayama Koutarou! Salam kenal, (your name)~"
Kau tersenyum, "Salam kenal, senpai."
"Hayama atau Kou tidak apa-apa." ia mengedipkan sebelah matanya dan kau lebih memilih opsi pertama.
"Ehem." seperti halnya Hayama, ia berdehem yang sepertinya ia pikir akan membuatnya semakin keren (padahal tidak keren sama sekali menurutmu). "Nebuya Eikichi, terserah ingin memanggilku apa."
"Ah, iya—"
"Ne, ne, (your name)! Jadi ada apa kau ke sini?" Hayama yang sepertinya sengaja memotong ucapanmu kembali berbinar matanya.
"Untuk meliput acara prom night kalian," kau tersenyum kikuk lalu melanjutkan dengan suara agak direndahkan dan memalingkan wajah, "dan juga untuk meliput seseorang dalam kolom tokoh idola."
.
.
.
"TOKOH IDOLA? KOLOM YANG ITU?!"—dan sepertinya ucapanmu tentang ini kurang pelan.
.
.
.
Hayama dan Nebuya histeris lalu mencekcokimu beragam pertanyaan dan permintaan untuk meliput mereka pula.
Mibuchi geleng-geleng kepala, "Mattaku…"
Dan makin lama pertanyaan mereka masuk mode high tension.
"Ne, ne, ne, siapaaaa? Beritahu kami!"
"Koutarou benar! Siapa siapa?"
"Apakah aku? Ya kan? Aku kan?"
"Jangan geer dulu, Hoi! Pasti aku!"
"Apasih? maniak otot sepertimu pasti tidak memiliki penggemar!"
"HEH APA-APAAN?! Memangnya kau punya?!"
"Ahh," Hayama menyisir poninya hingga tengkuk dengan jemarinya, "Cowok keren dan menyenangkan macam aku pasti banyak penggemarnya!"
Eikichi muntah, "Mimpi!"
.
.
.
Sementara dirimu…
.
.
.
"Mibuchi-senpai, tolong akuu!" kau mencicit setengah menjerit.
Tetapi yang kau dapatkan hanyalah Mibuchi yang hanya tertawa tanpa mau membantu.
.
.
.
Dan seperti yang di drama atau novel roman picisan, sekonyong-konyong seorang pelayan yang tengah membawa bergelas-gelas minuman tersandung dan kehilangan keseimbangan.
Tapi kali ini bukan si pria yang melindungi si wanita.
Jadi dalam kasus dirimu, kau yang kebetulan melihat itu dalam sepersekian detik (terima kasih kepada refleksmu yang bekerja sangat baik) segera menarik Mibuchi agar minuman itu tidak mengenainya dan sebagai ganjarannya, kau kehilangan kelayakan pakaianmu.
"Oh my…"
Ketiga orang lainnya hanya bisa mematung.
.
.
.
.
5th Try : 08.55 p.m.
Kau mematut diri sembari cemberut.
Jika terciprat sedikit mungkin tak masalah. Namun bagian rokmu itu hampir basah seluruhnya oleh cairan lengket berwarna merah serta jinggga. Dan lebih parahnya lagi gaunmu itu berwarna putih!
Moodmu sudah menghilang entah ke mana. Kalau kau tidak memiliki saraf yang merasakan rasa sakit di sekujur tanganmu, mungkin kau sudah menonjok cermin di hadapanmu untuk pelampiasan.
Tidak marah atau apa sih. Namun rasanya tetap saja mengesalkan.
Kau merampas tisu dari gulungannya yang kebetulan tersedia di situ sembari mendengus. Kau mengelap tangan dan kaki yang basah sehabis kau cuci di kamar mandi ruang ganti tersebut dan mengelap sepatumu yang terkena impak dari kejadian naas tadi.
Singkatnya, setelah kejadian itu kau dibawa ke sini oleh Mibuchi dan ia menyuruhmu untuk membersihkan diri. Lalu ia sendiri pergi keluar meninggalkanmu tanpa bicara apa-apa dan belum kembali hingga sekarang!
Ke mana sih senpai…, batinmu.
Tetapi ya, kau mana bisa keluar dengan keadaan kacau seperti ini? Mau tak mau harus menunggui Mibuchi kembali.
Dan tiba-tiba pintu diketuk dan suara Mibuchi terdengar dari luar, "(your name)-chan, boleh aku masuk?"
Kau menghembus napas lega lalu mengangguk, "Silakan."
Suara kenop pintu diputar, kemudian pintu berderit karena engselnya bergerak, dan diakhiri dengan suara pintu ditutup. Kau menatap lekat-lekat sosok yang kau yakini sebagai Mibuchi Reo masuk ke dalam ruang ganti.
Mungkin saat pertama kali bertemu kau hampir tidak dapat mengenali bahwa Mibuchi seorang lelaki tulen, dan sekarang malah kebalikannya. Kau bahkan tidak percaya bahwa Mibuchi dapat cross dress sedemikian baik hingga tak dapat dikenali bagi yang jarang atau tidak pernah bertemu.
Lupakan soal "Gaun Cinderella". Yang berada di satu ruangan bersamamu sekarang seorang pangeran saking tampannya dan membuat moodmu kembali berjaya.
Rambutnya yang mencapai tengkuk itu dikuncir, gaun feminim kini berganti setelan formal hitam yang sangat pas di tubuhnya, dan wajahnya kini makin memikat saja.
Ganteng amat, Mas…
"Sudah selesai?" tanyanya ramah.
Kau mengangguk cepat, mengenyahkan luapan perasaan aneh tentang targetmu.
Ia tersenyum tipis lalu menyodorkan sebuah bungkusan besar, "Sebagai permintaan maaf dan rasa terima kasihku. Semoga cocok."
Matamu melirik antusias. Jadi kau menerimanya dan dengan perlahan membuka pemberian dari Mibuchi.
Dan ketika bungkusan itu terbuka seluruhnya, kau tidak yakin harus merespon apa.
"Akan kutunggu di luar, ya, (your name)-chan."
Seiring dengan bergemanya pintu tertutup, kau divonis terkena asma dadakan disertai dengan tumpahnya setitik air mata bahagia.
.
.
.
.
.
Sepertinya Cinderella menghantui hidupku terus, ya?
.
.
.
.
6th Try : 09.12 p.m.
Rasanya wajahmu mulai panas.
Bukannya ingin narsis, tetapi kau merasa bahwa gaun ini pas sekali di tubuhmu—setelah berputar kanan, berputar kiri, balik badan, atau diam di tempat dilakukan berulang-ulang selama lima menit terakhir.
"Hwaa…"
Bahkan bibirmu mulai senyam-senyum sendiri.
Kau cepat-cepat mengemasi gaunmu dalam bungkusan gaun pemberian Mibuchi. Membereskan meja rias kau lakukan selanjutnya sebelum mengenakan sepatumu menyampirkan tas kecil milikmu.
"Kau lama sekali, (your name)-chan." ucapnya setelah kau keluar dari ruang ganti tadi. Ia tersenyum, "Ayo kita ke lobi dulu."
"Mmhm," balasmu, "Maaf…"
"Tidak, tidak apa-apa~" ia jalan duluan dan kau berjalan di samping dirinya, "Oh, (your name)-chan, kurasa gaunnya pas ya? Kau cocok sekali mengenakannya."
Mibuchi mengedipkan matanya, membuatmu menjadi lebih salah tingkah.
"T-terima kasih…"
Kau menjerit dalam hati sebenarnya. Pokoknya segala kelakuan Mibuchi setelah dia bertranformasi menjadi cowok ganteng benar-benar bikin hati melambung ke udara tanpa ingin menjejak tanah lagi—walaupun sederhana tetap akan menjadi istimewa rasanya. Jadilah kau sepanjang jalan membuang muka demi menutupi bibir yang daritadi masih senyam-senyum tak jelas.
Mibuchi sendiri tak peka sepertinya.
Kakak resepsionis mengambil bungkusan itu dan menaruhnya di lokermu (ya, lokermu. Karena kau telah menitipkan laptopmu tadi sore.)
Mibuchi melirik jam tangan hitam—yang sepertinya mahal karena terlihat begitu berkilau di matamu—miliknya, "Yuk, (your name)-chan! Sebaiknya kita bergegas."
"Eh?" kau buru-buru memasukkan nomor lokermu. "Kita mau ke mana?"
Alih-alih menjawab terlebih dahulu, ia malah mengamit tanganmu dan menggandengmu di sepanjang koridor yang kau masih ingat adalah rute menuju taman.
Ia kemudian tersenyum misterius.
Dan kau langsung mendapat firasat buruk.
.
.
.
.
.
"Dansa!"
.
.
.
.
7th Try : 09.20 p.m.
"Well," kalian berdua berhenti di dekat air mancur tengah, "kita tepat waktu sepertinya."
Setelah mengedar pandangan ke sekeliling, Mibuchi sekali lagi mengecek jam tangannya.
Benar. Tak lama kemudian dua orang yang dapat kau kenali sebagai pembawa acara sejak acara pembuka naik ke atas panggung.
Pujian dan candaan atas penampilan sebelumnya—yang entahlah apa dan siapa—dilemparkan. Kemudian mereka berdua saling menatap lalu mengedip jenaka—yang entah bagaimana kau bisa melihatnya dari jarak yang lumayan jauh mengingat di sini juga ramai—sembari melempar senyum satu sama lain.
"Baiklah. Bagaimana jika kita langsung saja ke puncak acara, Minnaaaa?!"
"OOOOOSSSSHHH!"
Tak tanggung-tanggung, pertanyaan yang dilontar oleh pembawa acara yang perempuan disambut riuh hingga tangan-tangan terkepal menonjok udara. Kau yang menyaksikan sendiri keantusiasan mereka jadi bergidik ngeri melihatnya. Wajah semuanya benar-benar penuh senyum dari telinga hingga telinga. Tak lupa semangat masih dikantongi oleh mereka.
Mereka berdua turun panggung, acara benar-benar akan dimulai sebentar lagi.
"(your name)-chan, bagaimana jika kita ikut?"
"H-he?" kau dibuat spontan menengok dan malah berhadapan dengan wajah Mibuchi yang entah bagaimana bisa menyiratkan bahwa hal ini bukanlah masalah besar.
"E-eh… Tapi kan…"
Cowok. Cewek. Berdansa di prom night.
Kau jadi gugup sendiri. Sekejap langsung memasuki mode salah tingkah.
"Santai saja~ Kalau kau tidak bisa, akan kuajari caranya."
BUKAN ITUU!
Lagi-lagi kau menjerit dalam hati. Jika kejadian menguntungkan yang menimpamu ini adalah shoujo manga, wajahmu mungkin akan digambarkan penuh dengan garis-garis miring dan daerah sekitar kepalamu akan digambar asap oleh mangaka-nya.
Kau jadi bertanya-tanya apakah semua lelaki setidak peka ini hingga tak bisa menebak hal masuk akal lainnya mengapa seorang perempuan yang bahkan tak punya hubungan apapun dengannya gugup bila diajak dansa olehnya?
"B-bukan, senpai… aku—"
Terlambat.
Musik sudah dialun.
Telapak tangannmu pun sudah diraih olehnya.
"Bolehkah aku berdansa bersama denganmu, Nona?"
Lagi-lagi wajahmu gagal untuk mempertahankan warna normal. Mibuchi sudah mengeluarkan senjata pamungkasnya—senyum maut miliknya. Kau mau apa?
Kau mengangguk pelan, namun matamu belum mau mengikat kontak dengan matanya. Dan sepertinya Mibuchi malah menikmati hal itu—dilihat dari cara dirinya tersenyum tipis dan matanya memandangmu yang sempat kau tangkap dari ekor matamu.
Tangannya ia sampirkan di pinggangmu dan tanganmu otomatis meraih bisep lengan atasnya.
Sial…
Mereka semua yang kini tengah berada di taman serentak turut meramaikan suasana. Menggandeng pasangan masing-masing, entah itu lawan jenis bahkan sejenis pun banyak (khusus untuk yang masih sendiri sepertinya), dan ikut mengikuti alunan musik yang diputar.
Gerakan mereka terlalu bervariasi hingga ingin membuatmu geli. Benar-benar mengocok perut karena memang asal-asalan ditarikan (sepertinya yang paling parah adalah Nebuya dan Hayama—yang entah mengapa menjadi sebuah pasangan—yang gerakannya benar-benar seperti orang kesetanan). Tapi toh tidak apa, ini memang acara untuk melepas penat sekaligus salam perpisahan sementara atau selamanya kepada para guru serta teman-teman yang telah mengisi hari-hari mereka selama tiga tahun lamanya—pengecualian dua tahun untuk yang mengikuti akselerasi.
Tapi sepertinya Mibuchi benar-benar serius.
Langkah kakimu seperti dipaksa selaras dengannya yang entah mengapa malah menjadi lebih mudah untuk ditarikan. Gerakan tubuhnya benar-benar mengikuti alunan musik dan luwes.
Kau dibuat heran sendiri. Sebenarnya yang ada dihadapanmu ini seorang desainer atau pedansa handal?
"Rasanya seperti ada butiran salju di sekitar kita…"
Kau mendongak, menatap Mibuchi yang tengah mengedarkan pandangan kepada khalayak ramai di sekitar kalian.
"Butiran salju...?"
"Iya." ia memandangmu lalu tersenyum. "Perwujudan dari musik ini."
Waltz klasik, jika kau tak salah. Agak aneh juga sih apabila diputar di acara dan tempat seperti ini, namun nyatanya semuanya menikmatinya.
Tetapi butiran salju?
Sekonyong-konyong tiga orang yang mengenakan baju mencolok melesak masuk ke dalam kerumunan. Seakan terhipnotis, semua yang berada di sekitarnya—termasuk kau—menyingkir ke pinggir taman itu, seraya menghentikan sejenak aktivitas semula.
Dan ketiganya mulai menggerakkan tubuh gemulai mereka. Para kakak kelas yang tadi terkejut langsung menandak girang dan kembali bergerumul ke tengah taman. Ada yang masih melakukan ribuan varian gerak, ada pula yang mencontoh gerakan para penari tersebut.
Mibuchi yang melihatmu tak beranjak diam saja. Kau tengah memperhatikan mereka semua.
Rasanya makin tak asing.
"Sepertinya aku tahu lagu ini…"
Mibuchi menatapmu terkejut, "Oh ya?"
"Emm… Rasanya waktu kecil aku sering mendengarnya…" kau mengerutkan kening, "Apa ya?"
Mibuchi mengerjapkan matanya. Tawa kecil meluncur mulus dari bibirnya.
"Ehh… kenapa ketawa?"
Masih tidak berhenti setelah sekian detik tertawa tanpa memperlihatkan gigi, kau mulai cemberut.
"Senpaai!"
"Waltz of the Snowflakes."
Kau terdiam.
Snowflakes…
"Ah, pantas saja."
Kau melepaskan genggaman tanganmu dan sepenuhnya mengalihkan perhatianmu kembali pada penari-penari itu dan kakak-kakak kelasmu. Kau sesekali mendongak ke langit yang sedang cerah-cerahnya mengingat musim telah berganti.
"Kurasa aku mulai bisa melihat butiran salju yang Mibuchi-senpai katakan tadi."
.
.
.
.
.
8th Try : 09.41 p.m.
Sungguh sulit dipercaya bahwa fakta kau mengenal lagu itu dari salah satu seri Barbie terkenal pada masa kecilmu keluar mulus dari bibirmu tanpa ragu. Mungkin kau setengah sadar saat mengatakan hal itu pada Mibuchi.
Rasanya memalukan serius, saat kau mengumbar hobi saat masa kecil dulu.
Walaupun kau tidak tahu persis letak bagian memalukannya di mana.
Ia tertawa kecil, "Kukira kau mengenalnya dari kontes balet atau orkestra." dan ia tertawa lagi, "Tak kusangka malah Barbie."
Kau mendecih sembari membuang muka, "Acara semacam itu 'kan membosankan."—dan membuatku ngantuk.
Mibuchi terkekeh, "Nutcracker sepertinya aku pernah menontonnya." katanya sembari memasukkan parfait stroberi yang dilelehi vanilla miliknya untuk kedua kalinya. "Tapi aku tidak ingat sama sekali."
Kau mengerjap, "Senpai pernah menontonnya?"
Ini nih.
"Tentu saja."
Kebiasaan yang biasanya laki-laki tak lakukan malah dilakukan olehnya.
Kalian kemudian makan dalam diam.
Omong-omong soal makan, parfait yang tadi diambilkan oleh Mibuchi untuk kalian berdua benar-benar enak. Yah untung saja kakimu sempat lecet—Heels memang musuhku!—saat terjatuh sehingga kau tidak jadi meneruskan dansa yang sempat terinterupsi oleh kedatangan para penari yang sepertinya dipilih oleh Bu Kepala Sekolah. Jadilah kau bisa merasakan parfait seenak ini!
(Sebenarnya parfait itu tersedia di salah meja di taman tadi, namun kau urung mencoba karena merasa tak enak dengan yang lain.)
Ya, dan sebagai gantinya kau dibawa ke pinggir villa yang terlepas dari hingar-bingar taman. Ditambah dengan terlihat jelas panorama pantai malam hari dan angin darat yang berhembus sejuk merujuk dingin.
Maksudnya apa, sih?
"Daritadi ada yang mengangguku." ucapnya, lagi-lagi seraya menyuap parfait yang entah suapan keberapa.
"Apa?" kau ikutan menyuap milik dirimu sendiri.
"Kau bilang kau ada wawancara untuk tokoh idola, 'kan?"
Kau mengerjap.
Mengerjap lagi.
Lagi.
"…sial, aku lupa."
Panik. Daritadi keasyikan sih, sampai lupa tujuan utama mencari Mibuchi. Padahal daritadi orangnya ada di sisimu terus.
Gimana ya, ngomongnya?
Lirik Mibuchi, ia balas menatap.
"Sana, gih. Nanti kau ketinggalan kereta terakhir lho."
Kau menggeleng.
"Em…"
Gelas kaca menempel pada pipimu, menghantarkan dinginnya es krim di dalamnya. Mibuchi menekan gelasnya pelan; mengusel-ngusel pipimu.
"Kita bisa ngobrol lagi nanti, gimana?"
"Ihh," kau menggeser lengan Mibuchi, "apasihhh."
Mibuchi tergelak—dengan anggun, "Ya sudah sana."
"Senpai mengusirku?"
"Hei, bukannya mengusir…"
"Aku ditugasi mewawancarai Senpai, kok!" katamu sambil nyengir.
Mibuchi mengerjap.
"Aku?"
Kau mengangguk pasti, "Iya, kok benar. Keberatankah bila aku wawancarai?"
"Heeee..." Mibuchi menyeringai. "Baiklah. Tapi sebagai gantinya aku ingin meminta sesuatu padamu."
Kau menaikkan alis; meminta penjelasan lebih.
Mibuchi tertawa. Ia menyendokkan parfaitnya dan langsung menyuapkannya padamu yang membuatmu mau-tidak mau terpaksa menerima.
"Mulai sekarang saja."—dan malah sambil menyendokkan bagian terakhir parfaitnya ke dalam mulutnya sambil mengerjap jahil. "Apa yang ingin kau ketahui, Nona Reporter?"
Kau sampai lupa bernapas.
.
.
.
.
.
.
.
Tadi itu… indirect kiss?
.
.
.
.
9th Try : 10.07 p.m.
"Sudah cukup?"
Kau mengangguk sembari mengetik beberapa baris kalimat di aplikasi memo di ponselmu. "Lebih dari cukup."
"Jadi sekarang apa?"
Kau berpikir, "Hm… Kembali ke taman?"
"Ah, nanti saja."
Kau mendengus. "Eh, aku baru ingat."
Mibuchi menengok ke arahmu, "Apa?"
"Etto…" kau menggaruk pipimu yang tak gatal.
.
.
.
"Mibuchi-senpai memiliki hobi cross-dress?"
.
.
.
Tawa Mibuchi meledak, ia memalingkan badannya—berusaha untuk tidak memperlihatkan wajahnya sekarang, "Astaga! Mana mungkin!"
"Ah, mou! Sudah dong tertawanyaa!"
Malu sampai ubun-ubun rasanya.
"Habisnya Mibuchi-senpai sempat berdandan jadi cewek, sih… pakai gaun ini pula…"
"Aku tidak pakai yang itu tadi." katanya di sela-sela tawanya.
"Heeee? Terus?"
"Yang kau kenakan salah satu yang kubawa." katanya. "Sebenarnya untuk kutunjukkan pada anggota klub, tapi karena kejadian itu, mau diapakan?"
Bibirmu mengerut ke bawah, "Ah, aku mengacaukan semuanya!"
Kemudian pipimu ditarik.
"Jangan berpikir begitu." ujarnya.
"Habisnyaa…" katamu sambil mengelus pipimu sebal.
Telunjuk Mibuchi ditempelkan di depan bibirmu. Mulutmu bergeming otomatis.
"Yah, kalau tentang aku yang memakai sih, salahkan saja pada Ei-chan serta Kou-chan." Mibuchi terkekeh, "Aku kalah main batsu-game, jadi ya itu sebagai hukumanku."
Kau melongo.
Kalau kau jadi Mibuchi, mana sudi kau memakai pakaian yang begitu di prom night seperti ini. Apalagi ini cuman hukuman di permainan. Padahal ini adalah salah satu acara yang kau akan ingat seumur hidup, lho! Kau menggelengkan kepalamu lelah. Sebenarnya apa sih yang ia pikirkan?
"Ada-ada saja…"
Kau meraih kembali ponselmu dan membuka kuncinya. Wajahmu memucat pada detik berikutnya.
"Oh… jangan bilang…"
Mibuchi menoleh, "Ada apa?"
"Ponselku mati…"
"Padahal daritadi kau pegang, lho. Masa tak sadar?" Mibuchi ikut menilik ponselmu. "Tidak bawa power bank?
Kau menggeleng.
"Senpai, boleh aku meminjam ponselmu?"
Mibuchi segera merogoh kantong celananya, "Silakan."
"Trims!" kau menerima dengan senang hati.
Setelah beberapa waktu mengetik baris demi baris laporan baru—tentang mengapa Mibuchi mengenakan gaun saat porm night—ia mengangkat wajahnya.
"Aku mengirim e-mail kepada alamatku boleh?"
Mibuchi tampak terkejut, namun sepintas kemudian ia menyeringai, "Aku sih dengan senang hati. Tapi secara tak langsung kau memberikan alamat e-mail-mu kepadaku, lho."
Wajahmu mulai memberontak untuk berganti warna kembali.
"T-tidak apa-apa, kan?"
"Kau siap menerima e-mail tiap jam dariku kalau begitu?"
"E-Eeh?" kau menggugup. "Senpai kesannya seperti penguntit… lho…"
Mibuchi menepuk puncak kepalamu pelan, "Bercanda. Kirim saja."
Kau menghembus napas lega. Opsi kirim di layar kau sentuh.
"Tapi aku mungkin rajin mengirimu e-mail, lho, walau tidak setiap jam."
"He?"
Mibuchi mengambil ponselnya yang berada dalam genggamanmu. Sembari memasukkannya ke kantong celananya, ia tersenyum jahil. "Kau mengorek informasi tentang diriku. Sebagai gantinya, aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Bagaimana, (your name)-chan?"
"E-Eh…"
Inikah yang namanya pernyataan cinta terselubung?
.
.
.
"A-aku tidak keberatan…"
.
.
.
Mibuchi tersenyum lalu mengacak rambutmu pelan. "Anggap saja malam ini adalah kencan pertama kita."
.
.
.
.
Final Try : 10.20 p.m.
"(your name)-senpai!"
Kau yang tengah memejamkan mata lantaran Mibuchi tengah mencubit-cubit pipimu gemas terlonjak kaget. Serangan yang dilancarkan Mibuchi pada pipimu juga spontan berhenti.
"E-Eh? Nara?!"
Nara berhenti di belakangmu beberapa jengkal, kemudian ia membungkuk singkat.
"Senpai, sebaiknya kita pulang sekarang." katanya, "Kenra dan Hakisha juga sudah selesai."
"O-oh baiklah." kau mengenakan heels-mu pada kakimu yang sedari tadi bertelanjang.
"Senpai sudah selesai juga, 'kan?"
"Sudah, kok." katamu sembari bangkit dan tersenyum. "Kau duluan saja, nanti aku menyusul ke lobi."
Nara mengangguk dan tersenyum sopan pada Mibuchi yang dibalas serupa pula oleh pemuda itu sebelum ia beranjak dari situ.
Kau tersenyum kikuk sembari mengalihkan matamu ke mana-mana.
"Uhm, terima kasih banyak untuk malam ini, Senpai."
Mibuchi ikut bangkit lalu tersenyum sembari berkacak sebelah pinggang, "Mibuchi saja, jangan kaku begitu."
"Baiklah, Mi-mibuchi-san…"
Ia kemudian menggandengmu menuju kembali ke taman yang sepertinya masih ramai, "Akan kuantar sampai lobi."
"Tidak usaahh! Mibuchi-san sampai taman saja.
Ia memandangmu, "Tidak apa?"
Kau mengangguk sebagai balasannya.
"Oh ya, kapan aku bisa mengembalikan gaun ini?" tanyamu ketika telah sampai ke ujung taman di depan koridor untuk menuju lobi.
"Tidak usah." ia melambaikan tangannya. "Untukmu."
"HAAAA?"
Mibuchi mengernyit, "Jangan teriak."
"T-tapi 'kan—"
Satu kecupan kecil pada puncak kepala memutus kalimatmu. Ia kemudian berbisik: "Hati-hati, (your name)-chan." tepat di telingamu. Ia tersenyum lalu berbalik sembari melambaikan tangannya, berjalan meninggalkanmu memasuki hingar-bingar pesta lagi.
Hatimu berdesir.
.
.
.
.
.
Begini ya, rasanya saat Cinderella menghabiskan malam bersama Pangeran?
END
1. Untuk istilah-istilah fashion, saya hampir semuanya tahu dari HAUTE milik Aratte. Bagi yang penggemar Shingeki no Kyojin, terlebih RiRen, silakan mampir ke ff ini bila berminat:3 Bagi yang tidak tahu arti istilah-istilah tersebut, mohon maaf saya kurang baik dalam menjelaskan karena pengetahuan saya juga masih cetek. Jadi saya sarankan silakan cari sendiri:'33
2. Waltz of the Snowflakes milik Tchaikovsky, silakan diputar~ saya sedang searching di google waltz yang enak dipakai untuk berdansa, malah ketemu ini yang ternyata jadi soundtracknya Barbie Nutcracker yang dulu sering saya tonton:''33 masa kecil saya selain penuh anime, juga penuh dengan princess dan para barbie x3
A/N Tsukki :
Tsukkika-desssuuu~~ *pake logatnya Izaya(?)*
Yah... Sepertinya sudah kedua kalinya saya apdet begini ya... *lirik Aomine* eh apa semua chap yang saya pegang apdetnya lama semua? :'v Penghujung Juni banget inimah... Sebenarnya pgn hari Minggu (sekalian sama episode terakhirnya gitu), tapi kok malah jadinya jam 1 pagi begini *guling-guling*
BTW KUROBAS ABIS ;;w;; sebagai orang yang ga ngikutin manganya, rasanya hati kayak diapain gitu.. blm lagi pake acara delay segala yha:'3 padahal saya udah nungguin dari saur:'''D #ngapain malah curhat
btw lagi, maaaaaaaafff banget untuk para penggemar abang Niji yang baca chap 4 kemarin:'d komentar kalian benar-benar membantu menyadarkan saya! entahlah di chap 6 ini ketebus apa engga sama Reo:')
Seperti biasa, ada epilog di bawah~
P.S. jika masih ada yang melihat "porm night" bukannya "prom night", beritahu saya karena ini typo ambigu sangat #didepak
Balasan review no account :
To Sabilla Foster :
Emang bener banget... o/o sampe Tsukki screen terus disebar kemana-mana keunyuan dia x'33 #beneran
To Kurotori Rei :
setuju sama Rei xD tsunderenya kalo sama cewek ga nahan abis dan Nei bikin dia tambah menarik x33 sudah lanjut ya(?)
.
.
.
.
Published Day : First Impression
"RIKOOOOO-CHAAAN!"
Suara itu bergema bersamaan dengan suara pintu terbanting.
Semua yang tengah berada di dalam ruang klub menoleh sembari ancang-ancang untuk berteriak: "BERISIK, OI!". Namun semuanya urung karena:
"Oh! Hayama-kun, Nebuya-kun! Masuk-masuk~"—pemimpin mereka lebih dulu menyerobot keinginan mereka.
Jadi mereka berdua masuk dengan santai sambil menebar senyum bodoh di muka tanpa menyadari segelintir orang di sana masih menatap mereka berdua dengan tatapan membunuh (Hyuuga yang tukang marah-marah tidak ada di sini, jadi ia tidak termasuk.)
"Mana, mana yang telah kau janjikan kemarin?" Hayama menggebrak meja Riko saking semangatnya. Ia bahkan rela ke sekolah di saat ia libur begini.
Riko menyeringai kemudian tangan kanannya mengambil sesuatu di laci meja dan melambai-lambaikannya, "Nih! Silakan~"
"Whoaa… Hei, Koutarou! Cepat buka!"
"Sabar, sabar!"
Halamannya ketemu. Dan ia tak bisa menahan gelak tawanya saat melihat foto Reo-nee tercintanya hampir setinggi halaman dan beberapa foto lain yang meng-close-up dirinya.
Setelah membaca sepintas, wajah Koutarou kelihatan kecewa.
"Ah, Riko-chan… Kalau cuman begini sih kami sudah tahu!"
"Ah, masa?" Riko memangku kepalanya sembari menyeringai. Tangannya maju dan membalik ke halaman berikutnya. "Yang ini bagaimana?"
"Eh ada lagi?" Nebuya terkejut.
.
.
.
.
.
"EEEHHH?! REO/REO-NEE LAGI PDKT?"
—keduanya shock membaca artikel yang bertajuk: "Cinta Bersemi di Prom Night! Akankah Pangeran akan Meminang Cinderella-nya Dalam Waktu Dekat?"
.
.
.
.
Published Day : Second Impression
"Hoi." Nijimura menggetok kepala temannya itu dengan tinjunya. Kemudian ia duduk di seberangnya dan menaruh baki makanannya di meja. "Dingin, tuh!"
"Berisik."
Nijimura mengerjap. "Kau kenapa, Imayoshi?"
"Tidak. Tidak apa-apa." bibir Imayoshi menekuk—sedikit—ke bawah, dan Nijimura bergidik.
"Cerita, dong! Serem tahu kau begitu."
Alih-alih menjawab, Imayoshi malah menegak minumannya dan menghabiskan makanannya yang memang tinggal sedikit.
Dengan gerakan menghentak, Imayoshi berdiri sembari membawa baki makanannya.
"Eh hoi! Kau mau pulang?"
Diam sebentar, "Tidak. Sebaiknya kau cepat selesaikan makanmu dan temani aku ke Game Center."
"Haaah? Kau kesurupan apa, Imayoshi?"
"Tidak kesurupan." katanya sembari mulai berjalan membelakangi Nijimura, "Hanya saja aku sedang kesal dengan pacarmu dan seseorang yang bernama Nara hari ini."
Nijimura melongo. Memangnya perempuan itu salah apa? Seingatnya mereka ke sekolah hari ini karena ingin membeli koran sekolah yang merilis edisi khusus prom night kemarin Sabtu dan pacarnya itulah yang memberikannya kepada mereka berdua. Lagipula, siapa pula Nara? Nijimura gagal paham.
Dahinya mengernyit ketika menyadari sesuatu.
Koran milik Imayoshi yang diberikan pacarnya itu sudah lecek dan ditinggalkan begitu saja di meja di hadapannya.
.
.
.
.
Published Day : Third Impression
"Kise-kun?"
Kise menghentikan makannya dan mendongak. "Ah, Riko-senpai!"
"Boleh aku duduk di sini?"
"Ah, silakan-ssu."
Alih-alih kembali makan, Kise malah termenung dan memperhatikan Riko yang sudah mulai memakan makan siangnya.
"Nee… Riko-senpai…"
"Hm? Adha aphfa?" tanyanya dengan udon yang penuh di mulutnya.
"Akhir-akhir ini, teman-temanku banyak yang jadian…" katanya memulai. "Bulan ini dengan Mibuchi-senpai (belum sih, tapi kan lagi pendekatan), bulan lalu dengan Kasamatsu-senpai, bahkan Aominecchi, Kurokocchi dan Momocchi juga sudah!"
Kise mulai mewek sembari membaringkan kepalanya di meja sembari uring-uringan.
"Riko-senpaaii! Aku harus bagaimana-ssu?"
"Cari pacar lah."
"Tapi banyak yang menginginkan diriku-ssu! Aku tidak tahu harus memilih siapa, Riko-senpaaaaiiii!"
(Sempat saja narsis walaupun sudah berurai air mata buaya seperti itu.)
"Hm…" Riko melanjutkan makannya sembari tersenyum setan. Senyum setan yang itu.
"Tenang saja Kise-kun, aku yakin kau akan segera menyusul mereka."
Dan dengan bodohnya, Kise langsung tersenyum cemerlang tanpa memikirkan apa yang akan datang padanya di kemudian hari.
END (LAGI)
