Warning :

Readers!Chara—AU!TeikouHighschool—Maybe a bit OOC demi kepentingan fanservice—maybe typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Balasan review no account ada di paling bawah~

.

.

.

.

.

Edisi Nijimura-senpai bagus sekali~ Tapi kapan Kise Ryouta?

Buang.

Bahas Kise Ryouta, dong! Sudah berkali-kali aku kirim surat ini, tapi selalu saja bukan Kise-kun yang kalian bahas!

Buang.

Bulan depan bahas Kise Ryouta dong!

Buang.

Hei, idola sesungguhnya kan Kise-kun milikku! Kenapa kalian tidak memuatnya dalam surat kabar sih?

Menyeramkan. Buang.

Akan kuboikot klub surat kabar kalau kalian tidak juga menampilkan profil Kise-kun! Serius!

Riko mereguk ludahnya berat ketika melihat isi request dari salah seorang murid Teikou itu. Boikot. Sungguh, mengerikan sekali para fans Kise Ryouta ini.

"Hee~ Kenapa ruang klub berantakan begini, Riko-chan~?" Sesosok gadis bersurai hitam tiba-tiba membuka pintu klub surat kabar Teikou tanpa permisi. Riko baru saja akan marah ketika akhirnya diam setelah melihat sosok itu. Kamu, sang sekretaris klub ini—sekaligus tangan kanan Riko—memang diberi kewenangan untuk menguasai ruangan ini juga.

"Aku sedang menyortir request yang sebagian besar tentu saja isinya untuk kolom idola." Jawab Riko singkat sambil membuka-buka beberapa surat lagi dan langsung dihempaskannya begitu saja ke lantai.

Kamu cemberut melihatnya. "Ne, Riko-chan hidoi! Kok malah dibuang dengan kasar begitu! Kamu sudah membacanya baik-baik?"

"Tentu saja." Jawab Riko cepat, namun tidak menghentikan kegiatannya.

Jemari lentikmu berusaha mengambil sebuah surat yang dihempaskan Riko ke lantai. "Hm, yang ini request Kise Ryouta ..." Lalu mengambil beberapa lagi. "Kise Ryouta ... Kise-kun ... Kise Ryouta ... Se .. sebanyak ini yang request Kise?!" Pekikmu terkejut, setelah mengumpulkan surat-surat yang bertebaran di lantai hasil buangan Riko.

"Iya. Makanya aku jadi bingung. Aku memang sudah berniat untuk memuatnya bulan ini, tapi aku jadi ragu sekarang. Dia itu artis terkenal yang profilnya sudah biasa dimuat di berbagai majalah. Aku tidak ingin surat kabar kita kali ini hanya mengulang apa yang sudah disebarkan di media-media lainnya." Jelas Riko.

"Hmm ... Saranku sih, kamu coba saja dulu mewawancarainya—walau kayaknya susah—dan tunjuk reporter yang tahan banting. Itu hanya saran, lho. Terserah Riko-chan mau memakai saranku atau tidak, toh takkan mengubah tugas-tugasku juga ..." Kamu pun selesai membereskan surat-surat yang berserakan di lantai. "Nih, total ada 61 surat lho."

Mulut Riko terbuka lebar. "Maji de?—Serius nih?"

"Serius~ Dan kebanyakan isinya ancaman kan? Kau tahu sendiri. Makanya, turuti sajalah keinginan mereka." Jawabmu santai—tentu saja, karena bukan kamu yang mengurusi masalah ini selaku sekretaris.

"Hmm ... Ngomong-ngomong apa kabar kegiatan klubmu yang segudang itu?" Tanya Riko sedikit sinis.

Kau menggembungkan pipimu. "Mou! Segudang apanya? Cuma tiga kok! Klub panahan sedang libur sebagai istirahat singkat setelah memenangkan kejuaraan tingkat nasional kemarin, klub drama sedang dalam tahap latihan untuk pementasan drama di teater kota dua bulan ke depan, lalu klub surat kabar ini ya aku sedang membantumu membereskan surat-surat ini." Jawabmu lengkap.

"Oh gitu, berarti bisa ya." Ponsel flap Riko dikeluarkannya dari saku roknya. "Moshi-moshi Izuki-kun ..."

Alismu naik sebelah. "Izuki? Kok tiba-tiba telepon Izuki?"

Riko mendekatkan telunjuknya ke bibir, sebuah isyarat untuk diam. "Iya, tugas kalian cuma itu kan? ... Kamu bisa tangani kan? ... Ini penting, aku benar-benar butuh ... Iya, iya, manfaatkan saja junior sesukamu ... Iya, terima kasih Izuki-kun."

Kamu hanya bisa menatapnya bingung. Riko memang terkadang begitu unpredictable.

Flap. Ponsel Riko ditutup dan pembicaraan jarak jauh mereka pun terputus.

"Ne, Riko-chan. Jangan-jangan kamu minta Izuki untuk meliput Kise-kun?" Tanyamu asal.

Riko melempar ekspresi yang-bener-aja-lo ke arahmu. "Nggak lah! Selain akan agak sedikit terlihat homo, kemampuan meliput mereka... benar-benar tidak bisa kupercaya. Ampun deh."

Bibirmu naik sebelah sebagai reaksi menahan tawa. "Ya sudah kalau begitu, aku akan mengecek beberapa dokumen di komputer—" Riko tiba-tiba menahan tanganmu. "—Eh? Apa-apaan ini Riko-chan?"

"Itu tugasnya Izuki-kun mulai sekarang." Jawabnya tegas. Mulutmu spontan membulat dan sepasang matamu melebar dengan syok. "Tunggu, jangan mikir macam-macam dulu, aku bukannya ingin memecatmu atau apa dari klub kok. Dan tentu saja bukan karena aktivitasmu yang banyak itu."

"Lalu?" Kau memiringkan kepalamu, menunjukkan gestur kebingungan. Riko memandangmu dengan tatapan meragukanmu. Kedua tangannya pun terjulur dan mencubit pipi kanan kirimu.

"Ittai—! Berhenti ah, Riko-chan!" Protesmu kesakitan.

Riko memutar pandangannya. "Jangan sok imut gitu ah—ya aku tahu kamu memang jauh lebih feminim dan sejujurnya bergaya begitu pun memang imut buatmu—tapi aku bisa membedakan aktingmu tahu, hei dramaqueen! Kamu sebenarnya sudah tahu kan maksudku apa?" Ucap Riko seraya menyeringai jahat.

Ah, memang sebenarnya kamu sudah tahu sih.

Kamu mengerucutkan bibirmu. "Kau mau menjadikanku reporter untuk artikel Kise-kun ya?"

Anggukan mantap dilakukan Riko sebagai reaksinya. "Kamu kan fans-nya. Bukannya itu seharusnya membuatmu senang?"

"Tidak juga. Bisa berdekatan dengan idola memang menyenangkan, tetapi kalau meliputnya itu lain soal. Jahat banget kamu, Riko-chan. Meliputnya kan susah banget." Jawabmu sebal.

Riko menyeringai jahat. "Iya, memang susah. Pokoknya aku tidak terima kalau isinya biasa saja ya, (your name). Harus luar biasa. Sesuatu yang membuat para fans-nya heboh dan tentu saja bisa meningkatkan oplah surat kabar kita."

Wajahmu terlihat pasrah. "Baiklah, akan kulakukan. Tapi jangan jadikan artikel ini ajang untuk biro jodoh terselubung ya, Riko-chan. Aku benar-benar tidak suka."

Ekspresi Riko terlihat sedikit kaget. Sejujurnya memang ada beberapa yang merupakan setting darinya sih.

"Dan kuingatkan sekali lagi, aku ... sama sekali tidak senang, mendapat tugas ini ..." Ucapmu lirih.

"Sama sekali ... tidak senang ..."

.

.

.

.

.

Kuroko no Dating Simulation :

Love Report!

Kise Ryouta x Readers!

.

.

.

.

.

Day 1 report : Monday, he frienzoned my lovely junior

Perhatian semuanya, ini adalah pertama kalinya kamu meliput seseorang.

Kepalamu pening mendadak. Sebagai seorang sekretaris, selama ini kamu hanya mengerjakan beberapa pekerjaan yang tergolong mudah dan menyenangkan. Misalnya menyuruh wakil sekretarismu, Izuki Shun, untuk mencatat laporan perkembangan artikel-artikel surat kabar. Lalu yang paling beratnya adalah menyusun isi surat kabar Teikou setiap bulannya bersama Riko dan Hyuuga—yang ini nih paling bikin risih dan membuatmu merasa seperti nyamuk pengganggu pasangan itu.

Iya, cuma itu. Hal ini terjadi karena Riko dan Hyuuga berbelas kasihan padamu yang punya dua ekskul lain, terlebih keduanya juga ekskul yang aktif dan punya nama. Luar biasa.

Untuk bulan ini kamu sudah merencanakan akan santai selepas mengambil gelar juara dua nasional dan mengalungi medali perak, lalu berlatih drama dan tampil di teater kota dua bulan lagi. Tak lupa menyiapkan berbagai macam rencana liburan terakhir yang tenang sebelum ujian tahun depan di liburan musim panas. Rencana yang sudah matang dan sangat sempurna, sampai tugas Riko datang dan menyerangnya seperti negara api.

Kamu yang sedang mencoret-coret notes kecilmu—yang biasa digunakan untuk mencatat beberapa kalimat drama yang sialnya sekarang harus diisi tentang data-data luar biasa sang idola—menoleh ke sekelilingmu. Adik-adik kelas mulai memadati ruangan ini. Beberapa di antaranya membereskan dokumen-dokumen lama. Ada juga yang sedang mendiskusikan suatu artikel yang akan dikerjakan berkelompok—ugh enaknya jadi adik kelas yang baru belajar! Ada juga yang sibuk mencari bahan artikel ilmu pengetahuan di komputer. Kamu jadi merasa kikuk sendiri karena tidak terlihat sibuk seperti yang lainnya, padahal ada yang seharusnya kau kerjakan.

Tiba-tiba seorang junior menepuk pundakmu. "Sumimasen, (your name)-senpai. Aku boleh pakai komputer Senpai tidak?"

"Eh, ternyata kamu, Fuyuki. Boleh sih, tapi buat apa?" Tanyamu ramah.

Fuyuki duduk di depan komputer lalu mulai menyalakannya. "Untuk edisi bulan ini aku mendapat jatah untuk mengulas rubrik tentang musik dan aku masih perlu melakukan banyak riset soal itu. Kak (your name) kan tahu aku tidak begitu mengerti tentang musik yang sedang hits kecuali OST drama atau anime."

"Hmm ... iya sih. Hanya saja menurutku lebih baik kamu juga tanya-tanya sama seorang penikmat musik atau semacamnya supaya artikel kita lebih terasa menjiwai sih." Saranmu.

Tawa pelan terdengar dari mulut Fuyuki. "Khas anak drama banget ya, Senpai. Bahasanya menjiwai. Aku juga berpikir begitu dan sehabis latihan klub band nanti juga sudah ada janji dengan Yukio-san yang berjanji akan membantuku mengerjakan artikel ini. Aku tidak mau dong saat bertanya-tanya nanti tidak tahu apa-apa soal musik, makanya aku mau riset dulu."

Alismu mengernyit. "Yukio-san, klub band? Maksudmu si Kasamatsu?"

Fuyuki menganggukkan kepalanya.

"Kenapa harus sama Kasamatsu deh, bukannya kamu juga lebih akrab sama Takao ya? Sepertinya aku mencium sesuatu yang mencurigakan ..." Kamu mendekati Fuyuki lalu menatapnya jahil.

Pipi gadis itu sedikit merona merah. "Duh, Senpai. Baiklah, baiklah. Aku sudah jadian dengannya, sejak bulan mei, hehe."

"Waahh! Menyebalkan! Pantas saja kamu jadi terlihat lebih bahagia, hmmm?" Godamu sambil mencubit pelan pipi kanan dan kiri Fuyuki. Tiba-tiba kau menyadari sesuatu. "Tunggu, bulan mei dulu kalau tidak salah kamu dapat tugas rubrik idola, kan? Di edisi itu pas lagi Kasamatsu kan?"

Tangan Fuyuki yang tadinya sibuk mengetik berusaha melepaskan cubitan isengmu dari pipinya. "Awgh. I .. iyaa. Yah, mungkin bisa dibilang cinta lokasi juga kali ya? Ahaha ..."

Kamu pun teringat tugasmu sendiri dan target liputanmu, Kise Ryouta. "Aku senang sih kalau kamu bahagia, tapi ... Setahuku bukannya kamu suka sama Kise-kun, Fuyuki? Kalian kan cukup dekat ... Walau agak sangsi juga sih si model itu akan pacaran sama kamu."

Fuyuki cemberut. "Iya, aku tahu aku cuma friendzone kok, huh. Dia selalu baik dan menyenangkan sampai aku sempat mengira aku spesial di matanya—ya itu memalukan—tapi kami memang cuma teman dekat. Sudahan ya Senpai, aku mau fokus sama risetku dulu nih, hehe."

Jari lentikmu mengetuk kursi yang diduduki Fuyuki dengan galau. "Ngomong-ngomong soal edisi ini ... Aku dapat tugas menulis rubrik idola tentang Kise Ryouta."

Tubuh Fuyuki langsung berputar seratus dua puluh derajat. Gadis itu memandangmu dengan tatapan heran, kaget, kasihan—intinya, campur aduk. "Ne, Senpai kan sekretaris ... Masa dapat tugas artikel?"

"Nah itu dia, kerjaannya Riko." Jawabmu gusar. "Dia sama sekali tidak memperhitungkan apakah aku bisa menulis artikelnya atau tidak. Huh. Aku kan jadi bingung harus apa. Apalagi ini Kise Ryouta, lho. Berarti harus tulis sesuatu yang luar biasa karena berita tentangnya kan sudah ada di mana-mana."

"Eeh ... Tapi kalau dipikir-pikir justru inilah keuntungan kita dibandingkan media lainnya kan? Kise satu sekolah dengan kita dan tentunya kita punya kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat, kan? Nah, artikel yang ditulis pun jadi lebih legal dan 'menjiwai'—kalau kata Senpai. Ahahaha ..." Jelas Fuyuki. "Lewat artikel itu juga aku bisa mengenal Yukio-san lebih dekat dan akhirnya jadian deh, hehe!"

Kamu menggigit bibirmu begitu mendengar bagian 'mengenalnya lebih dekat'. Ini dia strategi biro jodoh Riko. Akan tetapi, kamu sudah menerima tugas ini dan hanya bisa mengusahakan yang terbaik, sekalipun itu terpaksa mengikuti alur strategi biro jodoh Riko yang tak kau sukai. Kamu sudah meneliti dari bulan pertama rubrik ini keluar, beberapa reporter dikabarkan jadian dengan orang yang diliputnya dalam rubrik itu. Ini jelas sekali ada orang yang mengaturnya. Dan siapa lagi orang itu kalau bukan Riko yang memberi mereka semua tugas-tugas?

Berarti sekarang ... giliranmu ... dengan Kise Ryouta?

Kamu menggelengkan kepalamu cepat. Tidak, tidak akan. Dia itu idola yang asli, idola publik. Mana mungkin bisa jadian semudah jadiannya orang cinta lokasi? Model sekelas dia sih sudah tak terhitung berapa kali bertemu wanita cantik nan talented dalam pekerjaannya. Tidak ada satupun yang dikabarkan menjalin asmara dengannya. Apalagi kamu yang cuma anak SMA biasa dengan tiga ekskul sebagai penyibuk kehidupan remaja.

Riko pasti gila jika ia berpikir kalau biro jodoh yang satu ini akan berhasil. Ya, biar dia lihat sendiri saja kalau biro jodoh yang mengandalkan cinta lokasi semacam ini tak akan selalu berhasil, tekadmu.

"Uuh ... Oke deh. Kupikir aku akan mencoba menyusun strategi dulu di rumah setelah latihan drama. Oh iya, Fuyuki! Dua bulan lagi klub drama akan pentas di teater kota, kamu nonton ya! Harus nonton!" Ujarmu semangat.

"Osu! Tentu saja! Ganbatte ne, Senpai!" Dukung Fuyuki. Kamu pun mengiyakan dan pamit pergi kepadanya dan berlalu menuju ruang klub drama.

.

.

.

.

.

Day 2 Report : Tuesday, he appears as an arrogant prince

Pulang sekolah hari ini, kamu langsung melangkahkan kakimu menuju aula tempat klub drama akan latihan. Kemarin, naskah drama yang akan dipentaskan di teater kota sudah jadi, namun belum sempat dibagikan karena belum difotokopi. Akhirnya latihan kemarin menjadi penjelasan garis besar cerita dan audisi pemeran yang dinilai oleh guru pembimbing dan beberapa alumni. Hari ini naskahnya akan dibagikan dan tentu saja hasil audisinya akan diumumkan. Mengingatnya membuatmu melangkah dengan semangat.

Sebenarnya kamu tidak berharap mendapatkan suatu peran tertentu, tetapi kalau bisa peran yang satu ini harus luar biasa dan menantang, karena ini adalah pentas terakhirmu di masa SMA!

Sesampainya di sana, aula sudah ramai dengan beberapa anak dan barang-barang yang cukup berserakan dimana-mana. Rupanya bagian properti sudah mulai membagi-bagi tugas mereka. Tampak di antara kerumunan itu, dua orang anak seangkatanmu yang merupakan ketua dan wakil ketua klub drama sedang berdiri di atas panggung kayu aula. Mereka sepertinya sudah siap untuk mengumumkan hasil audisi kemarin.

"Ehem. Konnichiwa, Minasan! Hari ini kami akan mengumumkan para pemeran untuk pementasan di teater kota berdasarkan audisi yang telah dilakukan kemarin. Penilaian dilakukan oleh Masako Araki-sensei sebagai guru pembimbing dan beberapa alumni yang akan melatih klub kita. Jadi, aku dan Moriyama murni tidak berpartisipasi dalam pemilihan pemeran ini dan tentunya takkan ada pengutamaan pemeran utama untuk kelas tiga yang akan lulus." Ucap sang ketua klub drama diiringi dengan anggukan sang wakil ketua, Moriyama Yoshitaka.

"Baiklah. Semuanya, siap untuk pengumuman?" Provokasi Moriyama dengan semangat. "Yang dipanggil namanya langsung maju ke atas lalu menerima naskahnya dari Miyaji, ya! Pertama, pemeran utama Kesatria akan diperankan oleh ... Ogiwara Shigehiro!"

Seorang pemuda bersurai coklat bergradasi maju ke depan dengan cengiran malu-malu. Tampaknya ia senang bisa dapat peran utama. Kamu tahu Ogiwara, hanya saja tidak begitu mengenalnya.

"Pemeran utama Putri akan diperankan oleh ... Midorikawa Kayako!"

Seorang gadis manis bersurai hijau lembut maju ke depan dengan senyum puas. Tampaknya ia sudah menduga kalau peran itu akan didapatkannya. Yah, kalau dilihat-lihat anak kelas dua itu memang pantas memerankan seorang putri.

"Lalu ... sekarang pemeran antagonisnya, pemeran penyihir hitam akan diperankan oleh ... (your name)!" Teriak Moriyama.

Mendengar pengumuman itu, kamu tidak terkejut. Pemeran antagonis memang bukan lahanmu seperti biasa, akan tetapi ini malah menjadi membuat segalanya jadi lebih tertantang. Kamu pun maju menghampiri Miyaji dan menerima naskah berisi dialog yang akan kau ucapkan.

"(your name), ini peran penting yang mewakili angkatan kita. Jadi, tolong lakukan dengan baik seperti biasanya, ya. Aku dan Moriyama cuma berperan jadi semacam punggawa pelawak untuk mencairkan suasana seperti biasanya saja, hahaha." Pesan Miyaji setelah memberikanmu naskahnya.

"Tentu saja!" Jawabmu semangat.

Setelahnya, kamu pun berkumpul dengan Kayako dan Ogiwara untuk mendiskusikan naskah dan alur cerita. Sayangnya ruangan itu begitu berisik dengan banyak orang latihan dimana-mana dan membuat diskusi kalian tidak fokus. Kamu mengajak kedua adik kelasmu itu untuk melanjutkannya di perpustakaan, namun rupanya keduanya ada janji sehingga kamu terpaksa mengoreksinya sendirian di perpustakaan.

Kamu mendesah lega. Ogiwara dan Kayako itu mungkin bisa jadi artis yang baik, tapi ketika mereka diajaknya untuk memperdalam dan mengoreksi naskah mereka, keduanya tidak bisa mengikuti dengan baik. Dari pada kamu harus mengajari dari awal lebih baik kau kerjakan saja semuanya sendiri. Toh ini adalah hal yang biasa kau lakukan dengan senang hati.

Lalu, kau datangi tempat langgananmu di perpustakaan. Tempat paling sepi dari perpustakaan sekolah setinggi dua tingkat itu, sebuah meja di pojok ruangan lantai dua yang dikelilingi rak-rak buku berisi buku sastra cetakan lama.

Berlembar-lembar kertas yang disatukan dengan paper clip itu kau letakkan di atas meja tua tersebut. Kamu mulai meneliti naskahnya dan menemukan beberapa bagian yang tidak pas. Bolpoin dengan motif pikachu milikmu mulai beraksi mencoret-coret beberapa bagian tersebut. Tak lupa menuliskan kembali beberapa dialog alternatif yang kau rasa lebih pas dan kemungkinan besar akan terjadi improvisasi seperti apa. Kamu begitu hanyut dalam pekerjaanmu dan tidak menyadari ada seseorang yang datang ke arahmu. Orang yang berniat menjamah daerah rahasiamu di perpustakaan.

Mendadak, kamu menghentikan gerak bolpoinmu ketika sebuah ide terlintas di kepalamu. Kalau diingat-ingat, sepertinya kisah dalam naskah ini cocok dengan beberapa cerita sastra lama yang kau kenal. Mungkin bisa kau jadikan referensi untuk membangun suasana dalam dramanya. Kamu pun bergegas meninggalkan naskah yang telah kau coret-coret lalu menjelajahi rak-rak buku sastra lama dan mencari buku-buku yang kau maksud.

"Uhmm ... Ophelia ... Ophelia ... Sepertinya aku lihat dua minggu lalu ada di sekitar sini ... Hmmm ..." Gumammu sambil terus mencari sampai rak terbawah. "Ah, ini dia. Akhirnya lengkap juga, huft. Sekarang waktunya bekerja lagi~!"

Kamu memeluk tiga buku yang agak tebal lalu kembali ke meja tempatmu bekerja tadi. Kedua matamu melebar begitu mendapati meja itu kosong. Kosong melompong. Padahal seharusnya ada naskahmu di situ.

Meja tua itu pun kau hampiri dengan panik. Kamu menaruh buku-buku referensimu dengan kasar. "Di ... dimana? Naskahnya ... dimana? Bukannya tadi ada di sini? Duh, gawaat ..." Keluhmu seraya mencari-cari di kolong meja. Nihil.

"Apa jangan-jangan tadi kubawa ketika mencari buku dan tertinggal di salah satu rak? Duh, kayaknya tidak, deh. Tapi ... tapi kalau tidak ada di sini mungkin saja kan ya? Uuh ..." Kamu bergumam panik lalu kembali ke rak-rak buku yang tadi kau singgahi. Kau periksa satu-satu, siapa tahu ada di selipan bukunya atau apa, tapi tetap saja hasilnya nihil.

Sebuah suara rendah tiba-tiba memecah kepanikanmu.

"Apa yang kau inginkan dariku, wahai penyihir hitam?"

Gerakanmu terhenti begitu mendengar pertanyaan itu. Tidak, itu bukan pertanyaan. Itu adalah salah satu bagian dialog sang kesatria dari naskahmu! Suara itu berasal dari balik rak sedang kau jelajahi dan kamu langsung mengejar sumber suara itu. Sayangnya tidak ada siapa-siapa di sana.

"Apa yang ingin kau lakukan dengan tubuhku, wahai penyihir hitam? Memasukkanku ke dalam kuali besar itu kah? Memasakku untuk menjadi makanan peliharaan-peliharaan sihirmu, kah? Atau menjadikanku tumbal untuk mengutuk negeri—yang kelak akan menjadi—milikku, kah?" Lanjutnya dengan penghayatan yang pas. Sesaat kamu sempat terbawa dengan suasananya, namun kamu memilih untuk menghampiri si pemilik suara itu. Lagi-lagi ketika kau hampiri tidak ada orang di sana.

"Atau ... kau ingin menyingkirkan diriku dari sisi putriku yang terkasih? Tega kah kamu memisahkan kami yang dipersatukan takdir ini?" Lanjutnya lagi. Kali ini lebih berperasaan.

Kamu menggigit bibirmu. Percuma, kau kejar lagi juga pasti tidak akan ada siapa-siapa di sana. Kamu harus menghitung timing yang tepat agar bisa menangkap sang pemilik suara—

"Jawab aku, penyihir hitam!" Teriaknya. "Oh, apakah sekarang kau akan meminumkanku dengan cairan penghilang suara sang putri duyung karena tak tahan akan pertanyaan-pertanyaanku? Pengecut!"

Gigi-gigimu menimbulkan suara geraman pelan. Kesal. Jika orang ini sebegitu inginnya dibalas, maka ... baiklah! Kamu akan meladeninya!

"Diam!" Bentakmu tiba-tiba. "Kau bahkan tidak punya hak untuk berbicara denganku, kesatria rendahan! Kau pikir aku setamak para panglima yang akan kau pekerjakan kelak nanti, hah? Menguasai negeri seperti itu bahkan bisa kulakukan hanya dengan menjentikkan jari!" Balasmu.

Suara itu kali ini tidak bergerak, tetap berasal dari balik rak di belakangmu. "Hmph, berarti kau terobsesi denganku, bukan? Lepaskan aku! Kau takkan bisa memisahkanku dengan kekasihku!"

Kamu pun berbalik badan dan memukul rak buku dengan sedikit emosional. "Percaya diri sekali kau, makhluk rendahan. Menyebut sang putri dengan sebutan kekasih yang dipersatukan takdir ... Baik kau maupun dirinya tidak akan punya kesempatan saling memiliki!"

Lalu, suasana mendadak sunyi. Suara itu tak lagi membacakan dialog selanjutnya. Kamu pun memutuskan untuk berimprovisasi.

"Namun, aku memberikanmu kesempatan, wahai kesatria yang lancang." Kamu pun membuat gestur sedang mengayunkan tongkat sihir seakan-akan melepaskan ikatan yang membelenggu 'sang kesatria' "Ikatanmu sudah kulepas. Jadi, bagaimana kalau kau maju dan kuajarkan bagaimana rasanya putus asa?" Lanjutmu.

Suasana pun kembali sunyi dan membuatmu kesal. Apa-apaan ini? Jangan-jangan orang yang barusan membuatmu terbawa suasana itu sudah pergi?

"Hmm, jadi ini yang membuatmu begitu sibuk dan melupakanku ..." Kamu menoleh ke arah meja yang kau tinggalkan dan mendapati seseorang sedang berdiri di sela-sela rak buku. Seorang pemuda yang sedari tadi memerankan dialog dengan penghayatan sampai membuatmu ikut terbawa adalah seorang pemuda bersurai kuning yang dikenal hampir semua siswa di sekolahmu karena titel artisnya. Seorang pemuda yang masuk dalam daftar tugas artikel berkedok biro jodoh yang diberikan oleh Riko.

Kise Ryouta.

Ketika menyadari kamu masih dalam posisi aktingmu yang sedang menyihir, kamu langsung melangkah mundur dan menutup separuh wajahmu dengan tangan kananmu karena malu. "Se ... sedang apa kau di sini?"

Berlawanan denganmu yang mundur satu langkah, Kise maju menghampirimu dengan naskahmu di tangannya. "Menerima tantangan sang penyihir hitam." Jawabnya dengan seringai jahil. "Katanya aku disuruh maju melawanmu. Kok malah mundur."

Kamu menatapnya galak sambil menunjuk wajahnya dengan telunjukmu. "Ber .. berhenti ngomongin soal itu, ah! Lagi pula tidak sopan sekali panggilanmu, ya! Panggil aku Senpai!"

"Baiklah, (your name)-senpai—" Ucapnya sambil terus mendekatimu. Kamu heran pemuda itu bisa tahu namamu. "Aku ke sini tadinya hanya ingin menghampiri reporterku, kok."

Begitu pemuda itu berhenti tepat di hadapanmu, kamu menatapnya galak. "Apa biasanya kamu juga sebaik ini, menghampiri satu per satu reporter yang akan meliputmu, ha? Kembalikan naskahku!" Serumu gusar.

Dengan mudah Kise mengangkat naskahmu dan membuatmu tidak bisa menjangkaunya. "Tidak. Aku akan menyita benda yang membuatmu melupakan urusan kita, wahai penyihir hitam." Godanya lagi.

"Maksudmu urusan wawancara? Bisa besok saja tidak? Aku mau menyelesaikan perbaikan naskah itu dulu." Balasmu berusaha tenang, namun masih terdengar kesal.

"Eeeh ... kamu—eh Senpai—bercanda? Yang sibuk itu aku, lho. Tiga hari ke depan aku ada latihan basket, lalu hari sabtu dan mingguku juga ada pemotretan dan shooting iklan. Hanya hari selasa ini aku kosong, dan aku sudah berbaik hati menghampirimu ssu." Jelas Kise.

Kamu menggigit bibir dengan kesal. "Ta ... tapi deadline-nya masih lama kok! Selasa depan, kalau begitu!"

Kise menggeleng. "Memangnya aku tidak butuh istirahat?"

"Uuhh ... Benar juga sih ... Tapi masalahnya aku sendiri selaku sekretaris tidak begitu menguasai bidang liput-meliput ini dan belum belajar banyak ... Jadi kurasa aku belum siap mewawancaraimu. Aku belum ada persiapan, apalagi yang akan kuwawancara seseorang yang sangat profesional, kan?" Kau pun akhirnya mengakui ketidaksiapanmu.

Decakan keluar dari mulut Kise. "Ck, tentu saja tidak akan siap kalau Senpai terus-terusan fokus kepada naskah ini ssu. Akan tetapi ... biarlah. Sepertinya asyik juga melihat Senpai yang sedang fokus dalam dunia sihirnya." Goda Kise lagi sambil menyerahkan naskahmu. Dengan cepat kamu pun mengambilnya dan memeluk naskah itu erat-erat, takut model bersurai pirang itu akan mencurinya lagi.

"Sebagai gantinya, sekarang kutemani Senpai saja ya. Isi ceritanya sepertinya cukup menarik ssu." Pemuda tinggi itu pun mengikutimu yang berjalan perlahan menuju 'meja kerjamu'. Ia duduk tepat di sebelah kirimu dan memandang naskah itu dengan antusias. "Kali ini Senpai jadi peran antagonis ya? Tidak biasanya ..."

Wajahmu menoleh ke arahnya. "Tidak biasanya? Kok tahu?" Tanyamu heran.

"Yah, sedikit banyak sebenarnya aku juga mengikuti pentas-pentas klub drama. Lagipula, di dunia penggemar drama Senpai kan cukup terkenal. Ketika Senpai memerankan drama perang dunia itu yang paaaling kusukai ssu!" Ujar Kise semangat.

"Uhh yaa ... aku tidak menyangka saja kamu punya minat pada drama, sampai kenal aku begitu. Aku cukup banyak memerankan pemeran utama, namun tentu saja tidak ada bandingannya denganmu." Balasmu sedikit merendah.

"Semuanya akan ada waktunya, kok." Nasihatnya. "Omong-omong, yang tadi kita perankan itu kan adegan dimana Senpai menculikku ya. Sebenarnya apa yang terjadi dalam cerita ini sih ... Ini cerita orisinil ya?"

Kamu tersenyum. "Iya, ini cerita orisinil pertama dari kami, asli buatan Kobori. Jadi ... awalnya di sebuah kerajaan ada seorang raja yang hanya punya seorang putri. Putri tersebut punya seorang teman masa kecil laki-laki dari kalangan petani yang sangat akrab dengannya sampai besar. Kedekatan itu pun akhirnya berbuah cinta. Agar dirinya selalu dekat dengan sang putri, anak petani itu pun menjadi kesatria kerajaan sampai akhirnya ia dipercaya sebagai kesatria andalan raja."

Kise tampak mencerna penjelasan awal tersebut. "Prolognya klasik sekali ya, biasa saja."

"Begitukah? Oke, aku lanjut ya. Suatu hari, raja yang semakin tua terkena sakit keras. Semua tabib yang dipanggil untuk menyembuhkannya gagal. Sang putri yang belajar ilmu pengobatan juga mencoba untuk menyelamatkan ayahnya. Ia mencoba menyembuhkannya dengan sihir pengobatan yang baru dipelajarinya, namun hanya bisa merasakan bahwa ayahnya sakit karena kutukan sebuah sihir hitam yang kuat." Lanjutmu.

Senyum Kise mengembang. "Lalu mulai muncul Senpai ssu."

Kamu mengabaikan komentar Kise barusan. "Sang kesatria pun diperintahkan oleh raja untuk pergi menuju kastil duri di ujung dunia bersama pasukannya, dengan janji sebuah pernikahan suci dengan putrinya. Sang kesatria pun bersemangat dan bergegas pergi menuju ujung dunia. Ia melewati banyak rintangan dan bahkan beberapa pasukannya mulai gugur di tengah jalan. Sampai suatu hari di sebuah hutan yang lebat, sang kesatria bertemu dengan seorang gadis pemetik harpa yang sedang membius seisi hutan dengan melodi yang dihasilkannya."

"Woah, Senpai bisa memainkan harpa, ternyata!" Seru Kise.

Kamu menggeleng cepat. "Tidak, tidak sama sekali. Itu bukan aku. Ceritanya itu bawahanku yang kuutus khusus untuk membawa si kesatria mata keranjang itu ke dalam kastilku."

Kise mulai terlihat semakin antusias. "Hmm~ Lalu? Lalu?"

"Ya, akhirnya sampai ke adegan situ deh." Jawabmu ringan. "Jangan tanya lebih banyak lagi, ya. Rahasia dong. Nanti jadi tidak menarik lagi saat kamu menontonnya di teater kota."

"Eeeh ...! Kok gitu sih! Lagi pula siapa bilang aku akan menontonnya?" Protes Kise.

Sebelah alismu terangkat heran. "Oh, gitu ya? Kupikir kamu mau menontonnya. Ya sudah kalau kamu tidak mau."

"Senpai tidak mau membujukku supaya datang?" Tawar Kise.

"Tidak ada kamu juga tidak apa-apa, kok. Lagipula, kamu siapa sampai harus kuharapkan ada di pentasku? Nanti juga kamu sendiri yang rugi karena tidak bisa melihatnya." Balasmu santai. "Nah, aku pergi dulu ya. Terima kasih sudah mau menemaniku latihan."

Kamu berdiri dari posisi dudukmu dan melenggang pergi dari tempat itu dengan cepat. Kise yang masih duduk di tempatnya tengah menatapmu tajam dengan bibir manyun. Begitu menemui tangga kamu langsung bergegas turun dan berlari keluar dari perpustakaan secepat mungkin. Detak jantungmu masih berpacu kencang. Wajahmu yang memerah mulai berhasil menampakkan ekspresi aslinya.

Ya, ekspresi aslinya.

Perlahan, kau melambatkan laju larimu dan mengatur kecepatan detak jantungmu. Beberapa kali kamu menengok ke arah gedung perpustakaan lagi, teringat akan seseorang yang kau tinggalkan di sana. Seseorang yang kau jawab semua pertanyaannya dengan sebuah akting yang tenang dan dingin.

"Untunglah aku diberkati bakat ini, Tuhan ..." Gumammu pelan.

Tak kau sangka, Kise Ryouta benar-benar berbahaya. Sosoknya dari dekat dan aktingnya barusan—walaupun hanya sebatas suara—membuat dirimu terpana. Saat ia benar-benar berakting dengan suatu naskah yang sudah ditentukan, kemampuan aktingnya tak kalah baik dengan aktingnya dalam kesehariannya yang kau lihat.

Ya, aktingnya dalam kesehariannya.

Mengesampingkan hal itu, kamu kembali meyakinkan dirimu untuk tidak jatuh dalam alur biro jodoh buatan Riko.

.

.

.

.

.

Day 3 Report : Saturday, he makes an offer

Selama tiga hari selepas pertemuanmu dengan Kise di perpustakaan itu, kamu menyibukkan dirimu dengan naskah-naskah dramamu. Setelah selesai melakukan beberapa improvisasi naskah tersebut, kamu mengajukannya kepada Kobori selaku penulis asli dan Miyaji. Rupanya keduanya tidak keberatan dan menyerahkannya kepada kenyamanan para pemain saja. Setelah itu kamu berhasil berlatih bersama kedua tokoh utama lainnya—sekaligus mengajari keduanya yang belum berpengalaman menjadi peran besar dalam pementasan yang besar pula—seraya menilai kemampuannya. Kayako sepertinya memang terlahir untuk bersikap bak ojou-sama dan memerankannya dengan cukup baik, namun Ogiwara sepertinya memiliki sedikit masalah.

Awalnya kamu berniat membiarkannya dulu, lalu memisahkannya dengan Kayako selepas latihan setelah tiga hari. Seperti saat ini.

"Ogiwara-kun, sebenarnya kau kenapa?" Tanyamu tegas ketika sedang berlatih berdua dengan Ogiwara karena Kayako belum datang.

Wajah Ogiwara mendadak sedikit merona. "Err... Aku hanya sedikit gugup karena ini peran besar pertamaku, Senpai."

Kamu menggelengkan kepalamu tidak percaya. "Pasti ada alasan lain, kan? Gara-gara Kayako-chan ya?"

Ogiwara berusaha berekspresi polos. "Eh ... Memangnya kenapa dengan Midorikawa? Tidak, tidak ada apa-apa."

"Jangan mengelak, aku itu bisa membaca kebohonganmu dengan jelas, tahu. Aah ... Jangan-jangan karena dia sangat cantik dan menawan sampai kau tidak berani beradu akting dengannya?" Tanyamu lagi.

"Di ... Dia memang cantik sekali sih ... Tapi tidak sampai begitu kok, hahaha ..." Tawa hambar Ogiwara kentara sekali menunjukkan dirinya berbohong. "Tenang saja, Senpai. Aku ... aku pasti kali ini tidak akan melakukan kesalahan lagi."

Pandanganmu terhadap Ogiwara masih ragu, namun kali ini kau coba memercayainya. "Baik, aku percaya. Kuharap kamu bisa mengontrolnya di pentas nanti ya, Ogiwara-kun."

Ogiwara baru saja mengangguk salah tingkah ketika tiba-tiba kau rasakan sebentuk tangan halus memeluk lehermu dari belakang. "Kalau dia melakukan kesalahan terus, lebih baik diganti saja, (your name)-senpai."

Wajahmu memerah begitu mengenali pemilik suara itu. Kamu berusaha melepaskan pelukan itu, namun tangan itu rasanya begitu kuat untuk dilepas secara paksa.

"Kise, lepas." Perintahmu gusar. "Lalu, pergi dari sini. Jangan ganggu klub drama yang sedang latihan, dong."

"Eeeh ... Hidoi ssu! Padahal aku sudah susah payah menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin untuk bertemu Senpai ssu!" Protes Kise. Namun, karena kau memaksa, Kise pun melepas pelukannya juga.

Walaupun masih sedikit berdebar, kamu berusaha bersikap dingin lagi padanya. "Aku baru akan latihan bersama Ogiwara-kun dan Kayako-chan, lagi pula kan kesepakatannya bukan hari ini kita mengadakan wawancara." Tegasmu.

"Memang belum ada kesepakatannya, kan? Makanya ayo kita buat!" Kise menarik tanganmu dengan semangat. "Nah, Ogiwara-san, aku sudah memberikanmu kesempatan untuk berlatih berdua dengan Kayako—siapalah itu—dan mengambil penyihir jahatmu. Selamat bersenang-senang ssu!" Serunya riang.

Lalu Kise berlari sambil membawamu dan menarik perhatian seisi aula yang sedang berlatih maupun mempersiapkan properti. Sementara itu, Ogiwara yang dititipi Kayako hanya bisa meringis begitu menemukan gadis itu tengah berdiri di dekatnya dan memandang Kise Ryouta dengan tatapan seorang gadis yang jatuh cinta.

.

.

.

.

.

Kamu dibawa ke jejeran kursi santai di belakang aula olahraga yang menghadap ke padang rumput luas tempat ekstrakulikuler berkuda sedang berlatih.

"Jadi ... apa maksudmu menculikku ke sini?" Tanyamu sinis.

Kise yang ditanya hanya menampilkan tawa ceria. "Wawancara ssu."

"Kenapa sih kamu ini selalu tiba-tiba? Memangnya kamu mau disuruh shooting atau pemotretan tiba-tiba?" Serangmu.

"Ckckck ... Aku ini profesional. Tentu saja aku tidak akan mau, kecuali sebelumnya aku sudah membatalkan shooting atau pemotretan yang sudah disepakati." Kilahnya.

"Ya kalau begitu aku ini juga profesional. Kita belum ada kesepakatan sebelumnya, ya." Balasmu lagi.

"Bohong ssu. Senpai kan sekretaris. Kemarin juga Senpai bilang belum berpengalaman dalam hal seperti ini." Sanggah Kise dengan senyum puas. Ah sial, kau kena.

Kamu cemberut ke arah pemuda bishounen itu lalu menyerah. Toh ada baiknya juga Ogiwara dibiasakan latihan hanya dengan Kayako agar kegugupannya bisa hilang—itu juga kalau mentalnya bisa mengatasinya. Kau pun sudah membuat beberapa pertanyaan di ponselmu yang kira-kira akan kau ajukan pada Kise, walau rasanya masih pertanyaan yang standar saja. Kondisi ini justru ideal untuk melakukan wawancara dan segera mengakhiri hubungan-mu dengan Kise, kan?

"Uuh baiklah ..." Keluhmu seraya mengeluarkan ponsel pintarmu untuk merekam wawancara kalian. "Kurekam, ya. Nah, sekarang kita mulai wawancaranya."

Setelah menekan tanda rekam, kau pun meraih notes kecilmu yang selalu siap sedia di dalam saku rokmu. "Hhhft ... Baiklah, Kise Ryouta. Apa kabar hari ini?"

Kise memandangmu heran. "Senpai gugup sekali ya? Rasanya seperti kau sedang membawaku ke dalam talkshow atau semacamnya."

"Be ... berisik ah! Sudah, jawab saja!"

"Ahahaha, oke, oke. Kuikuti saja alurnya. Ehem." Kise berdehem pelan. "Kabarku baik, walau kadang-kadang aku merasa jadwalku terlalu padat sampai harus shooting di akhir pekan. Tapi ... tentu saja aku akan selalu ceria demi seluruh penggemarku ssu! Terus dukung aku, ya!"

Kamu menyipitkan matamu sinis. "Kise, jangan terlalu terbawa suasana deh. Ini cuma wawancara biasa."

"Ahaha ... iya, iya. Lalu apa, Senpai?"

"Hmm ... Sebagian besar artikel tentangmu itu selalu menceritakan kehidupan sehari-harimu yang tampaknya begitu 'berkilauan', rencana masa depanmu, kemampuan basketmu, dan seputar gosip tentangmu dan beberapa model remaja, kan? Sebelum bertanya aku ingin memberitahu sekaligus meminta izinmu dulu, karena topik yang akan kutulis untuk artikel ini berbeda dengan yang sudah-sudah."

Kise kali ini diam dan berpikir, kira-kira topik apakah yang akan kamu angkat ke dalam artikel tentangnya.

"Aku ingin menulis tentang Kise di balik topeng itu." Ucapmu.

Sorot mata Kise menegang, lalu ia tertawa hambar. "Maksudnya apa sih, Senpai? Topeng apa?"

"Sekalian aku mengaku deh. Sebenarnya, aku ini salah satu fans-mu. Dan apa yang kukagumi darimu itu adalah topengmu yang kumaksud. Yaitu kemampuanmu menyembunyikan siapa sebenarnya dirimu di balik tingkah artismu yang selalu kau keluarkan itu." Jelasmu. "Itu ... akting yang sangat mengagumkan."

"Akting apa sih, Senpai? Aku ya aku. Kise Ryouta ya seperti ini, tidak ada yang aneh-aneh." Jawab Kise.

"Aku tahu mana yang sandiwara mana yang bukan, Kise. Mengaku saja lah. Kalau kamu tidak mau aku menulis artikel tentang dirimu yang satu itu, katakan saja. Hanya saja aku ingin kamu mengakui kemampuan akting itu di hadapanku. Karena ... itu luar biasa, menurutku." Tanggapmu sekaligus memujinya.

Kise menatapmu ragu. "Sepertinya kata-katanya tidak cocok dengan ekspresinya. Senpai sama sekali tidak kelihatan mengagumiku ssu."

Kamu mengangkat dua bahumu. "Yah, jangan berharap aku akan bertingkah berlebihan seperti para fans-mu yang lain. Aku mengagumimu dengan caraku sendiri. Omong-omong, jangan membelokkan pembicaraan dong."

"Jadi Senpai masih bersikeras kalau aku ini punya kepribadian lain? Baiklah, kalau begitu coba saja keluarkan dia!" Tantang Kise.

Alismu bertaut heran mendengarnya. "Keluarkan ... dia?"

"Ya, keluarkan kepribadianku yang lain itu, yang menurut Senpai ada." Jelasnya. "Kalau bisa, silakan jadikan itu artikel sesuka Senpai."

"Kamu menantangku?" Tanyamu dengan semangat. "Baiklah, ini bukan hanya demi artikelku saja! Tapi kamu juga harus mengakuinya di depanku kalau itulah kepribadianmu yang sebenarnya di balik akting luar biasamu itu!"

"Boleh saja." Jawab Kise santai. "Aku tidak akan menuntut apa-apa dari Senpai kok kalau aku menang. Aku hanya ingin menikmatinya saja ssu."

Kamu sedikit memiringkan kepalamu. "Menikmati ...?"

"Iya, menikmati dipanggil Ryouta oleh Senpai ssu!" Jawabnya riang. "Oh iya, besok siang aku kan ada shooting. Bagaimana kalau Senpai ikut dan mulai memata-mataiku?"

"Heh, Ryouta?" Kamu tidak mengerti apa yang dimaksud Kise. "Oh, besok aku kosong, sih. Tapi kalau kau segitu inginnya kumata-matai, kamu bisa menraktirku makan siang atau malam." Jawabmu.

Pemuda bersurai pirang itu tergelak senang. "Ini sih pemerasan ssu! Baiklah, sampai jumpa besok!"

.

.

.

.

.

Day 4 Report : Sunday, he confessed a piece of himself

Di pagi Minggu yang cerah ini, Miyaji tiba-tiba menyebarkan broadcast SOS.

Dengan terpaksa, kamu meninggalkan tokusatsu favoritmu di televisi lalu meluncur pergi ke gedung aula sekolah yang ajaibnya dibuka. Begitu kau buka pintu besar itu, kau mendapati beberapa anak klub drama sudah berkumpul di sana. Miyaji dan Moriyama yang tak biasa berwajah serius itu sekarang tengah menatap seisi aula dengan tegang seraya meremas kertas naskah dengan gemas. Murid terakhir yang ditunggu pun datang juga dan Miyaji yang mengumpulkan mereka mulai bersua.

"Selamat datang semuanya, maaf aku tiba-tiba memanggil kalian di minggu pagi ini. Dari kondisinya sepertinya kalian sudah paham kalau sedang terjadi hal yang sangat gawat." Ucap Miyaji. Semua pun memandangnya dengan harap-harap cemas.

"Ehm, kita semua tahu kalau jadwal pementasan kita adalah pertengahan September di teater kota." Miyaji tampak terdiam sebentar, seperti tak sanggup melanjutkan. "Kita berlatih dengan santai namun tetap menyiapkan semuanya sejak awal agar kita siap nanti, atau antisipasi dan semacamnya soal musibah atau apa atau semacamnya atau ..."

"Miyaji, sepertinya kau mulai ngawur." Tegur Moriyama. "Langsung saja ke intinya. Jadwal pementasan kita ada sedikit perubahan jadi minggu depan, di teater kota."

Semua orang yang ada di sana syok mendengarnya.

Kamu berusaha tetap tenang. "Mo ... Moriyama, kalian ini kalau ingin latihan jadi pemeran punggawa pelawak tidak usah panggil kami semua dan membuat lelucon dengan berita yang mengejutkan begitu dong ..."

Ketegangan di wajah Miyaji dan Moriyama tidak berkurang. "Kami serius, (your name). Para Sensei dan alumni ditawari oleh pihak teater untuk tampil hari minggu depan menggantikan sebuah kelompok teater terkenal yang batal tampil di hari itu. Tiketnya sudah terjual habis dan kebanyakan dari mereka adalah pengamat dan tokoh-tokoh penting dunia hiburan, jadi ini merupakan peluang besar bagi kita semuanya. Jalan ceritanya tentu akan berbeda dari yang diharapkan para penonton yang sudah membeli tiket, akan tetapi itulah tugas kita untuk membuat mereka terpukau!" Seru Miyaji.

"Genre-nya juga tidak jauh dari kita, sama-sama fantasy. Pokoknya soal urusan dengan penonton itu bukan urusan kita, kita hanya perlu menghibur mereka sebaik mungkin! Latihan tiap hari!" Lanjut Moriyama.

Seluruh pemeran saling berpandangan lalu satu per satu mulai terlihat semangat. "Osu!" Teriak mereka.

"Oh ya, aku mengizinkan kalian melakukan improvisasi dialog sesuka kalian asalkan tidak melenceng jauh dari alur cerita. Aku harap kita tidak sampai harus melakukan ad lib*, akan tetapi tetap bersiaplah dengan berbagai kemungkinan." Ucap Kobori. "Jadi ... semuanya, selamat latihan!"

Suasana aula itu pun sedikit riuh dengan para pemeran yang sibuk menghapal dialog di sana-sini. Ada juga yang baru mempelajari naskahnya. Kamu bersyukur dalam hati, untunglah kamu sudah sempat menghapal beberapa dialog dan tentu saja mempelajari naskahnya. Untuk memerankan latihan sudah bisa sebenarnya, walau harus improvisasi dialog di sana-sini karena tidak hapal mati dialognya.

Setelah dua jam latihan, Ogiwara dan Kayako mengajakmu latihan bersama sambil melihat naskah. Berkat akting Kise di perpustakaan waktu itu, kamu bisa memerankan beberapa bagian dengan baik dan tentunya tidak ada masalah di antara Ogiwara denganmu. Akting pemuda berambut coklat gradasi itu dengan Kayako juga sudah membaik. Kamu berharap untuk seterusnya akan terus membaik sehingga saat pentas nanti semuanya bisa tampil dengan sempurna walau serba mendadak.

Lalu akhirnya adegan itu tiba.

"Apakah ... kamu mencintaiku, penyihir hitam? Karena itukah kau menculikku dan memisahkanku dengan kekasihku?"

Kamu tertegun sesaat ketika Ogiwara mengucapkan dialog itu. Itu adalah dialog asli yang ada di dalam naskah dan Ogiwara sudah menghapalnya sehingga tidak ada improvisasi apapun di dalamnya ... tapi ... rasanya improvisasi Kise saat itu menguasaimu. Ia menciptakan seorang pangeran yang sedikit arogan.

"Tidak ... tentu saja tidak sama sekali." Jawabmu melembut. "Kalian ... takkan pernah bersatu. Takkan pernah!" Kamu berimprovisasi dan menyesuaikan diri dengan karakter pangeran yang diciptakan Ogiwara.

"Kamu tidak bisa melawan takdir kami, wahai penyihir hitam." Lawan Ogiwara. "Aku akan mengajarimu bahwa takdir kami takkan bisa kau patahkan!"

Lalu Ogiwara berpura-pura melepaskan belenggunya dan berakting meraih pedang yang ada di sekitar situ. Ia menerjang maju ke arahmu sementara kamu mengayunkan tongkat sihirmu ke arahnya dan merapal mantra. Namun, tidak terjadi apa-apa pada Ogiwara.

"Sudah kukatakan bukan, sihirmu tak bisa melawan kekuatan cintaku kepada sang putri!" Seru Ogiwara.

Kamu terus merapal mantra lalu kalian pun berakting seakan-akan telah terjadi ledakan kecil di dekat kalian.

"Le ... ledakan apa itu? Apa yang kau lakukan?" Akting Ogiwara panik.

Dengan cepat, kamu menjatuhkan Ogiwara ke lantai dan berpose seakan-akan menindihnya. Kamu menyeringai jahat ketika Kayako datang dan berbisik ke telinga Ogiwara yang mulai salah tingkah. "Lihatlah kekasihmu, wahai kesatria. Ia pasti akan meninggalkanmu sekarang dan ... jadilah milikku. Biar wanita lemah itu tahu artinya dikhianati!"

"Ya~! Cut! Cut! Stop sampai di sini!" Tepat setelah aba-aba itu, seseorang memeluk pinggangmu dan mengangkatmu perlahan dari pose ambigumu bersama Ogiwara. "Jangan berani curi-curi kesempatan ya, Ogi—siapapunlah kamu ini. "

Kamu kaget lalu menoleh dan mendapati Kise sedang mengangkatmu dan membuatmu berdiri ke posisi semula dengan memeluk pinggangmu. Ia melepas lengannya lalu maju menghadang Ogiwara. Ia menggertakkan giginya kesal dan menatap Ogiwara kesal. Sesaat kau kira ia akan menyakiti Ogiwara namun ia malah berbalik dan menghadapmu sama kesalnya.

"Senpai juga jangan terlalu keasyikan dengan anak ini dong!" Protesnya. "Lihat, jam berapa ini?" Tanyanya sambil menunjukkan jam tangan dandy-nya ke arahmu.

"Astaga, jam dua belas! Maaf ... Err ... Tadi Miyaji mendadak kirim pesan SOS lalu deadline -nya tiba-tiba diubah jadi minggu depan dan duh ... kamu pasti bisa paham lah betapa paniknya aku. Jadilah aku langsung latihan. Uuh, tapi kamu memang berhak marah karena aku tidak memberimu kabar ..." Cerocosmu panik karena sesaat lupa janjimu dengan Kise berkat insiden Miyaji.

Kise mengibaskan tangannya. "Oke ... Aku bisa paham deadline dan semacamnya itu, lalu ... pose apa barusan, Senpai?" Tanyanya galak.

"Lho, itu memang tuntutan naskah, kok!" Balasmu lebih galak. "Kalau dalam hal ini aku profesional, ya. Kamu juga kalau shooting diminta untuk mencium pipi pasangan mainmu pasti akan kau lakukan, kan? Selama masih dalam batas!"

"Jadi tadi benar cium di pipi?" Tanyanya terdengar syok.

"Nggak! Tadi cuma ngomong pelan di telinganya Ogiwara-kun!" Belamu. "Lagipula kenapa sih harus protes? Kalau mau kutemani shooting juga, baik, akan kulakukan. Tapi jangan ganggu latihan kami lagi, oke?"

"Aaahh! Curaang ... Aku juga mau dapat peran begitu ssu!" Keluhnya manja.

Kamu memutar pandanganmu. "Astaga Kise, kamu ..."

"Panggil aku Ryouta!" Potongnya cepat. "Aku sudah buka satu kartu lho, jadi panggil aku Ryouta dong, Senpai!"

"Kise ... apa-apaan sih—" mendengar panggilan yang masih sama, Kise memelototimu "—baiklah, Ryouta! Sekarang biarkan kami latihan satu babak lagi, kumohon, dan aku akan menepati janjiku untuk menemanimu ke lokasi shooting tanpa traktiran dan aku akan memanggilmu Ryouta terus dengan syarat kamu tidak boleh mengganggu latihan kami lagi!"

Kise mengalihkan pandangannya darimu dan memandang tajam Ogiwara. "Nggak mengganggu latihan, baiklah ssu."

"Oke. Nah, Kayako-chan, Ogiwara-kun, ayo kita lanjutkan bagian tadi. Maafkan yang barusan ya." Serumu tegas seraya mengarahkan keduanya ke posisi semula dan mengabaikan tatapan penasaran seisi aula yang langsung tertarik karena eksistensi Kise Ryouta yang tiba-tiba di sana.

Setelah itu kamu pun melanjutkan satu babak selama lima belas menit dengan canggung lalu pamit serta meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Ogiwara dan Kayako. Setelah itu kamu menyeret Kise untuk minta izin juga kepada Miyaji dan Moriyama—karena mereka selalu sepaket—untuk membolos latihan hari ini dengan konsekuensi latihan lebih berat di lain hari. Keduanya sih mengiyakan saja, toh mereka sudah percaya pada kemampuanmu yang menurut mereka sudah bagus.

Kalian pun pergi dari aula dan membuat latihan drama dadakan itu kembali pada konsentrasinya. Kamu menarik tangan Kise dengan gemas dan menjauhkannya sejauh mungkin dari aula. Setelah kalian cukup jauh, baru kamu mau melepaskannya. "Nah, sekarang kita pergi ke lokasi shooting-mu. Mulainya satu jam lagi, kan? Masih sempat tidak ya kalau naik kereta ..."

Jemari lentik Kise dengan gesit mengambil sebuah kunci dari kantung celananya. "Tidak usah repot-repot, ada mobilku kok."

"Ah, berarti ada supir atau malah manager-mu ya yang menyetir? Duh, aku jadi tidak enak ..." Gumammu.

"Nggak, aku ke sini sendirian ssu. Tadi aku sudah ke rumahmu tapi mamamu bilang kamu ada di sini. Tenang saja, aku sudah punya SIM kok. Sehabis ulang tahun aku langsung buat ssu!" Ceritanya dengan riang sambil menuntunmu menuju parkiran sekolah.

"Uhm ... Baiklah, aku mau tidak mau harus percaya padamu. Toh kalau kena tilang atau semacamnya juga kamu yang akan rugi~" Ucapmu. Lalu kalian pun sampai di parkiran sekolah yang relatif dekat dengan aula.

Kise menghampiri sebuah mobil buatan dalam negeri miliknya itu lalu membukakan pintu untukmu dulu. "Kamu ternyata lebih takut sama polisi ya dari pada kecelakaan?"

Kamu tersenyum. "Habisnya aku percaya kamu pasti tidak akan berani mengajak orang lain di dalam mobilmu untuk perjalanan jarak jauh jika kamu sendiri tidak mahir melakukannya. Dengan kata lain, kamu bertanggung jawab, sepalsu apapun sikapmu di depan orang-orang."

Pintu pun ditutup Kise dengan elegan lalu ia sendiri masuk ke tempat kemudinya dan menyalakan mesin. "Yang terakhir itu harusnya tidak perlu, tahu. Makasih karena sudah memercayaiku ssu." Serunya girang dengan senyum lebar yang tulus.

Ah, senyum itu mendadak membuatmu berdebar.

"Kamu ... jarang ya membuat senyum seperti itu." Komentarmu tiba-tiba, sedikit tidak sadar bahkan. "Aku suka. Lebih suka lagi kalau kamu memanggilku Senpai, ya."

Kise mulai mengemudikan mobilnya dan mengacungkan jempolnya ketika melihatmu sudah memasang safety belt. "Kalau kita pacaran memangnya aku masih harus memanggilmu Senpai?"

Wajahmu mendadak memerah malu mendengar pertanyaan Kise barusan. "A .. apaan sih kok tiba-tiba jadi pacaran?"

"Habisnya kita sudah dekat sekali dengan fase itu kan?" Tanyanya menggoda. "Kalau iya kamu akan terus membuatku tersenyum seperti tadi lho—dan kamu suka itu kan?"

Kamu mulai gelisah dan menyandarkan punggungmu pada pintu untuk menghindari Kise walau pada akhirnya dihalangi juga oleh safety belt. "Kise—Uh, Ryouta, aku kan memanggilmu begitu demi latihan dramaku yang suka kau kacaukan dan artikel pertamaku. Lagipula ... sikapmu itu tidak wajar tahu, dan kedekatan ini juga tidak wajar ..."

Begitu memasuki jalan bebas hambatan yang mengharuskan kecepatan cukup tinggi, Kise kini sedikit lebih berkonsentrasi pada jalan. "Aku tahu kalau seseorang tertarik padaku kok, dan ketika gadis itu menarik perhatianku juga tentunya akan kusambut—atau bahkan akan kudekati langsung." Akunya.

Seluruh badanmu mendadak panas karena malu. Ya, sebenarnya di samping mengagumi aktingnya dalam kehidupan sehari-harinya, kamu diam-diam mulai tertarik kepada pemuda labil satu ini. Namun mengingat niat licik Riko—atau bisa dikatakan sebagai gengsimu yang tak suka dibilang cinta lokasi—kamu menahan perasaanmu habis-habisan.

Lalu kamu teringat satu nama junior kesayanganmu, Fuyuki. Gadis yang kena friendzone Kise Ryouta.

"Jadi rasanya didekati olehmu itu begini ..." Ucapmu dengan nada sinis. "Ini sudah yang keberapa kalinya kamu berkata begitu? Aku giliran ke berapa?"

Kise melirikmu heran. "He? Keberapa apa? Aku tidak sedang menggombal kok, itu serius."

"Seriusnya sudah sama berapa gadis? Toh akhirnya semua kamu friendzone-in kan?" Tanyamu lebih tegas. "Dengar ya, aku sudah menetapkan pada hatiku kalau ini cuma demi artikel pertamaku dan supaya kamu tidak mengganggu latihan drama pentingku."

Gelak tawa Kise Ryouta yang tulus kembali terdengar. "Ya ampun! Kamu cemburu? Astaga aku ini punya banyak fans ssu. Jelas saja aku harus ramah dengan semuanya. Teman-teman dekatku yang perempuan juga banyak, tapi demi tuhan, sedekat aku dengan mereka pun bahkan tidak ada yang pernah sampai mobilku, (your name)."

"Tapi kamu membuat mereka salah paham kan? Dan kamu menghancurkannya di akhir-akhir, Ryouta, aku tahu." Sanggahmu yang memilih untuk mengabaikan alasan Kise barusan.

Senyum Kise datang lagi, tetapi kini ia serius. "Aku memang melakukannya. Jujur saja, siapa sih pria tampan yang tidak senang disukai oleh gadis-gadis cantik? Aku bukan salah satunya. Jadi, kubiarkan saja mereka salah paham. Tapi kamu salah, karena aku tidak menghancurkan mereka. Lihat saja Fuyukicchi. Ia kan senang jadian dengan Kasamatsu-senpai."

"Aku tidak mau perasaanku dilempar-lempar begitu ke orang lain." Tegasmu, benci dengan jawaban Kise. "Kuingatkan sekali lagi, hari ini aku menemanimu hanya karena—"

"Ya, ya, aku mengerti." Potong Kise cepat.

"—dan aku takkan jatuh kepadamu." Lanjutmu kesal.

Mulut ceriwis Kise kali ini diam mendengarnya. Ia kembali fokus kepada perjalanan dan hanya sesekali melirikmu yang masih membuang muka padanya dengan gusar.

.

.

.

Lalu ia bergumam pelan ketika melihatmu mulai tertidur kelelahan di kursimu.

"Mungkin aku memang harus mendapatkan itu untuk mendekatinya ..."

.

.

.

To be continued.

.

.

.

A/N : Hai semuanya~ Ini Schnee~ Pasti pada bingung kan liat akhiran tbc, fufufu~

Jadi ... sederhana aja, ini semua karena Schnee mendadak sedang dalam kondisi mental multichapter, huhuhu :'' jadinya buat ceritanya panjang dan terpaksa harus dipotong jadi twoshoots. Tenang aja, berhubung ini masih giliran Schnee jadi update-nya tetap bulan ini, kok~ Selamat menunggu! /ceritanya ngegantungin readers hehehe

Oh ya ini balasan review no account dari Tsukki :

kizuna : "Waaahh Ogi kapan ya? X3 tampung dulu ya, btw gimana tadi Kesatria Ogiwaranya? *colek*