Warning :

Readers!Chara—AU!TeikouHighschool—Maybe a bit OOC demi kepentingan fanservice—maybe typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Part 2.

"Mungkin aku memang harus mendapatkan itu untuk mendekatinya ..."

.

.

.

Kuroko no Dating Simulation :

Love Report!

Kise Ryouta x Readers Part 2!

.

.

.

.

.

Day 5 Report : Monday, he sleeps on your thigh

Kamu mengerjapkan matamu beberapa kali agar dapat melihat lebih jelas sekelilingmu. Kegelapan yang secara tak sadar kau alami pun berubah jadi sebuah tempat yang baru kau kenali dan kemudian muncullah sesosok wajah bishounen memenuhi pandanganmu yang semakin lama semakin mendekat ...

Lalu kamu refleks menggeser kepalamu begitu menyadari apa yang akan dilakukannya padamu—dan mengakibatkan kepalamu terbentur sebuah sofa empuk dengan keras.

"Aduh!" Pekikmu kesakitan. Pandanganmu yang sempat jelas kini kembali sedikit buram. Kini dapat kau rasakan sebuah tangan besar sang bishounen memapahmu untuk duduk dan menjernihkan pandanganmu. Kali ini nyawamu sudah terkumpul sempurna dan berhasil melihat kekhawatiran pada wajah sang pemuda bersurai pirang yang sejak tadi membantumu.

"Senpai akhirnya bangun juga ... Maaf ya harus menemaniku sampai ketiduran begini." Ucap Kise yang kini sudah terlihat lega.

Alismu mengerut sedikit kecewa. Kise kembali memanggilmu Senpai. Mungkin itu dilakukannya untuk memperbaiki suasana panas di antara kalian sejak tadi siang.

Tunggu ... sekarang jam berapa?

"Aku tadi pinjam ponsel Senpai untuk menelpon mamanya Senpai dan memberitahu soal keterlambatan kita. Kakakku sekarang sudah datang kok, jadi Senpai bisa pulang sekarang." Jelasnya sambil mengembalikan ponsel pintarmu.

Kamu memijit pelipismu pelan. Kalau diingat-ingat lagi, siang ini kamu sedang menemani Kise shooting iklan. Di perjalanan, suasana di antara kalian sempat memanas dan kamu menghindarinya. Namun di lokasi shooting kamu tidak perlu repot-repot karena ia sendiri sibuk dan kamu asyik mengobrol dengan salah seorang kakaknya yang merupakan manajernya. Berkat sang kakak kamu berhasil mendapatkan berbagai bahan tentang Kise untuk artikelmu. Setelah hari semakin sore, shooting belum selesai juga dan kakak Kise mendadak ada urusan sehingga meninggalkan kamu di sana sendirian. Belum lagi kamu juga dititipi tugas untuk menjadi manajer sementara sang kakak pergi dan kamu tak bisa menolaknya dengan dalih tak enak karena sudah mendapat banyak bantuan soal artikel darinya.

Menjelang malam, kamu mengesampingkan egomu sebentar dan mencoba berperan jadi manajer yang baik bagi Kise. Sesekali kamu juga bertukar pengalaman dan cerita dengan para staff yang bergantian istirahat. Namun staminamu akhirnya sudah tidak cukup kuat dan akhirnya tertidur entah dimana lalu terbangun di sebuah ruangan dengan alat-alat shooting berserakan dimana-mana dan sebuah sofa merah empuk yang kau tiduri.

"Ungg ... sekarang jam berapa ya? Maaf—" biar sebal, tapi ini tetap janji, "—Ryouta, aku ketiduran."

Iris madunya sempat berkilat kaget mendengar panggilanmu. "Eeh ... tidak apa-apa. Ini jam dua pagi dan baru saja aku selesai shooting."

Kesadaranmu langsung pulih sepenuhnya ketika mendengar kata-kata pukul dua pagi. "Maji de? Be ... berarti sekarang hari Senin dong? Sekolah dong? Eh tunggu bagaimana dengan orang tuaku? Aaaahh!" Cerocosmu panik.

"Kalau aku sih sudah biasa." Ucap Kise, tak membantu. "Kan tadi sudah kubilang kalau aku sudah menelepon mamanya Senpai dan memberitahu keterlambatan kita—yang sepertinya akan sampai selarut ini. Dia memaklumi sih ..."

Kamu menatapnya tak percaya. "Pasti kamu dimarahin ya."

"Ya ... butuh waktu lama sampai beliau mau memakluminya, hehehe." Kise berkelit. "Sekarang kami—aku dan kakakku—akan mengantar Senpai pulang, jadi jangan khawatir ya."

Tidak ada kata lain yang bisa kau ucapkan selain ya untuk menanggapi tawarannya. Kamu pun pamit kepada sisa-sisa staff yang sempat mengobrol denganmu lalu mengikuti Kise dan kakak perempuannya menuju mobil Kise. Kali ini sang kakak yang akan menyetirnya karena Kise jelas-jelas terlihat sangat lelah. Pemuda itu langsung masuk ke kursi belakang dan duduk dengan nyamannya.

"(Your name), kamu duduk di belakang ya? Kita juga akan menjemput kakak perempuanku dulu di lokasi pemotretannya yang tak jauh dari sini. Maaf ya, dia tidak bisa duduk di belakang karena mudah mabuk kendaraan." Pinta sang kakak.

Senyum miris mau tak mau kamu tampilkan di depannya. Kamu cuma penumpang di sini, tidak bisa protes apa-apa. "Baik, Onee-chan." Lalu duduk di belakang bersama Kise yang setengah tertidur. Biar sudah dalam keadaan begitu, pemuda itu tetap menyambutmu dengan senyum.

"Apa ... Senpai merasa senang?" Tanyanya lemah. "Maaf aku menyeretmu sampai semalam ini."

Melihat perjuangannya untuk tetap bangun, kamu sedikit tersentuh dan mau tak mau tersenyum untuk menghiburnya. Walau memang semua ini resiko yang harus ditanggungnya sih. "Yah sedikit banyak aku cukup senang. Berbincang dengan para staff dan Onee-chan membuatku mengetahui banyak hal tentang duniamu—dunia hiburan. Aku ingin terjun ke dunia hiburan—dalam seni teater—dan informasi-informasi yang kuperoleh cukup berguna bagiku. Terutama—eeh apa yang kau lakukan!"

Kalimatmu terpotong karena Kise yang awalnya duduk mulai mendaratkan kepalanya di pahamu. Ia dengan santai berbaring di jok belakang itu dan memakaimu sebagai bantalnya lalu meringkuk karena tidak muat di jok belakang. Setelahnya ia langsung mendengkur halus lalu tertidur dengan lelapnya tanpa bisa kau geser-geser lagi.

"Duh, anak ini ...!" Keluhmu gemas. Sang kakak tampak tertawa kecil di bagian kemudi.

"Tuh kan, seperti yang kukatakan, (your name). Si anak bungsu itu manja sekali, walau sama sekali tidak kelihatan. Berarti kamu spesial sekali lho di matanya." Timpal sang kakak.

Kamu melirik wajah Kise yang tengah tertidur. "Yah ... aku tahu." Jawabmu pelan. Lalu kamu mendekatkan wajahmu ke telinga pemuda itu seraya membelai halus surai pirangnya. "—aku mendapat berbagai informasi tentangmu untuk artikelku dari kakakmu. Jadi ... Ini adalah perpisahan." Bisikmu lirih.

.

.

.

.

.

Day 6 Report : Tuesday, he is a monster

Pada akhirnya, kamu memutuskan untuk tidak masuk sekolah kemarin. Sesampainya di rumah kamu dipaksa langsung tidur lagi dan pagi harinya tentu saja langsung diinterogasi keluarga.

Adik-adikmu yang disinyalir akan heboh begitu mendengar kata Kise Ryouta langsung diungsikan ke sekolah masing-masing. Kamu dihadapkan dengan sup krim jagung dengan campuran keju leleh sebagai sogokan untuk berbicara jujur. Ayah dan Ibumu memandangmu harap-harap cemas, antara khawatir dengan apa yang dilakukan anaknya atau penasaran apakah pemuda tampan bersurai pirang yang membawamu pergi semalam itu akan menjadi menantu mereka atau tidak.

"Kemarin itu adalah juniorku, sekaligus objek tugasku di klub surat kabar, Pa, Ma." Jelasmu singkat. "Dan aku hanya menemani dia shooting sebagai semacam balas jasa karena sudah dibantunya. Toh aku malah dapat banyak pengalaman bagus dari para staff-nya. Menyenangkan sekali."

Setelah kau yakinkan bahwa hanya itu yang terjadi di antara kalian, ayah dan ibumu pun menyerah. Ayahmu akhirnya berangkat bekerja dan ibumu sibuk berdagang kue sambil berkumpul dengan teman-temannya, meninggalkanmu sendirian istirahat di rumah. Hari itu kamu benar-benar istirahat di rumah saja dan sesekali menghapalkan beberapa dialog drama.

Benar-benar hari santai yang damai tanpa Kise. Walau sekelebat pikiran tentangnya sesekali menyusup di relung hatimu, sih.

Bagaimana tidak? Hari itu kamu sudah melihat siapa Kise Ryouta yang sebenarnya, dari ia yang ceria sampai tertidur kelelahan. Apalagi kakaknya benar-benar curhat tentang berbagai macam kebiasaan Kise dari yang menggemaskan sampai menyebalkan. Di luar ia begitu charming, ramah, kuat, menawan, gentleman, dan segudang keahliannya yang lain begitu membuatnya bak di luar jangkauan. Tapi pada kenyataannya ternyata dia benar-benar anak yang manja dalam beberapa hal dan agak lemah terhadap pelajaran akademik. Sepertinya ia juga terlalu segan untuk membuat seorang wanita kecewa, makanya ia bisa dengan mudahnya membuat para gadis merasa dalam zona friendzone.

Kamu tersenyum, ia bukannya sengaja, ternyata. Tapi sikap kelewat gentleman-nya itu memang kadang menyebalkan.

Membuatmu cemburu.

Ah, ingat. Kamu tidak boleh jadi menyukainya. Apalagi kemarin juga kan kamu sudah mengucapkan perpisahan kepadanya kan?

Dan seharian itu kamu beraktivitas dengan tenang tanpa berpikir akan terjadi apa-apa ... sampai kamu kembali melihat Miyaji dan Moriyama kembali berwajah panik di hari selasa.

"Ano ... Selama aku tidak masuk ada apa ya?" Tanyamu pelan, takut melihat kepanikan Miyaji yang tampak siap melempar nanas entah kepada siapa.

Moriyama yang lebih tenang kali ini menjawab pertanyaanmu. "Pemeran utama kita cedera, si Ogiwara."

Kali ini kamu langsung bereaksi sekaget mungkin. "Cedera? Ogiwara-kun? Kenapa? Aduh habislah kita! Cedera kenapa? Gimana? Keadaannya sekarang gimana?" Cerocosmu ikut panik.

Kayako yang juga terlihat cemas lah yang sekarang menjawabmu. "Katanya kemarin dia terjebak di tawuran antar geng Kirisaki Daichi dengan geng Fukuda Sogo dan sekarang katanya banyak memar di tubuhnya. Malah tadi pagi wakil kesiswaan menghampirinya di rumah sakit dan menginterogasinya soal keterlibatannya dengan tawuran itu."

"Astaga ... Kita semua tahu kok Ogiwara-kun anak baik-baik ..." Belamu lemah.

Semua pun terdiam. Kayako menunjukkan foto Ogiwara yang dijenguknya kemarin. Pemuda itu tampak babak belur dengan memar dan luka dimana-mana, namun senyum cerahnya yang sedikit dipaksakan masih menunjukkan semangatnya.

"Kalau begini luka-lukanya tidak akan sembuh dengan cepat, padahal kita butuh dia di hari Minggu." Gumam Miyaji. "Kalau begini mau tak mau kita harus cari pengganti yang bisa berakting sebaik dia dalam waktu yang sempit ini ..."

Kamu menggigiti bibirmu pelan tanda gelisah. Mencari pengganti itu tidak mudah, apalagi kalau waktunya sempit. Terlebih event kali ini bukan hanya untuk mementaskan drama biasa, tetapi sebagai ajang pamer klub drama Teikou kepada masyarakat luas.

Sempat terpikir olehmu satu nama, tetapi ...

"Kupikir ... aku tahu siapa orang yang bisa menggantikan Ogiwara-kun ..." Ucap Kayako memecah keheningan di aula itu. Semua langsung memasang telinganya baik-baik dan memusatkan perhatian kepada gadis cantik itu.

Tampak kedua pipi Kayako memerah. "Yang bisa menggantikan Ogiwara-kun sebagai kesatria ... menurutku ... Kise Ryouta ..."

Tuh kan. Keluar deh nama yang sejak tadi kau pikirkan.

"Kise-kun kan sudah biasa datang ke sini dan sudah tahu juga naskah dan alur ceritanya, jadi kupikir ia bisa jadi pengganti darurat Ogiwara-kun ..." Kayako melontarkan alasan tersebut seraya melirikmu dengan pandangan yang tak bisa kau artikan.

"Oh, kalau begitu baguslah!" Seru Miyaji dengan sedikit lega sambil menyimpan kembali nanasnya. "Aku dan Kobori akan mendiskusikan hal ini dan meminta Kise Ryouta untuk bergabung dengan kita. Karena dia idola, kuharap beberapa dari kalian yang mungkin saja fans-nya tidak jadi norak dan mengacaukan pentas ini." Tegasnya.

Para fangirl yang sempat memekik senang pun menutup mulutnya dengan malu-malu. Wajahmu memucat, merasa ada yang salah dengan skenario semacam ini. Namun kamu tidak bisa menemukan apa itu, sampai Moriyama kembali menyuruh para pemeran untuk kembali latihan.

"Kayako-chan, temani aku menjenguk Ogiwara-kun, yuk! Kita kan tidak bisa latihan tanpa pemeran kesatria." Ajakmu.

"Oh? Baik, Senpai. Rumah sakitnya tidak jauh, itu yang di dekat sekolah." Jawabnya seraya mengikutimu berjalan keluar dari aula. "Jalan lima belas menit sampai, kok."

Dan lima belas menit itu berlalu dengan cepat, kamar kelas I yang ditempati Ogiwara sudah di depan mata saja tiba-tiba. Pemuda dengan surai coklat bergradasi itu tengah menonton televisi sambil mengunyah buah yang diberikan para penjenguk.

"Hai—oh, Midorikawa dan (your name)-senpai!" Serunya semangat. "Ayo ayo duduk dulu. Makasih ya sudah datang!"

Kamu dan Kayako pun duduk di sebelah ranjang Ogiwara. Keadaannya cukup memprihatinkan. Dari wajah sampai kaki ada banyak memar yang menodai tubuhnya. Tangannya bahkan mengalami keseleo ringan. Ia cukup babak belur, namun sepertinya cukup beruntung juga untuk ukuran orang yang terjebak dalam tawuran antar geng begitu.

Kayako pun memulai pembicaraan. Ia bahkan sedikit mengomeli Ogiwara yang malas memakan makan siang rumah sakitnya yang tidak enak. Kamu mendadak teringat bekal yang belum sempat kau makan dan mengeluarkan sepotong besar pai apel yang dibuat ibumu untuk Ogiwara. Pai itu menerbitkan selera makan Ogiwara dan Kayako dibuatnya menyuapi pai tersebut dengan alasan tangannya yang keseleo ringan.

Selama sesi penyuapan itu, kamu bercerita tentang apa yang terjadi di klub drama tadi. Soal pengganti Ogiwara. Pemuda itu sempat meringis mendengarnya dan bahkan sesekali tersedak. Kayako dengan sigap memberinya minum.

"Uhuk, aduh, makasih Midorikawa. Err ... Tolong panggilkan suster Erika di bawah dong, Midorikawa. Obatku yang setelah makan sudah habis dan dia yang mengatur obatku, jadi tolong ambilkan ya, hehehe. Maaf merepotkanmu terus." Pinta Ogiwara.

Kayako mengangguk riang lalu pergi dengan meninggalkan tugas menyuapi Ogiwara kepadamu. Kamu baru akan menyuapi Ogiwara namun pemuda itu mencegahmu.

"Tidak usah, Senpai. Sebenarnya aku bisa sendiri kok." Cegahnya. "Aku—seperti yang kau tahu—menyukai Midorikawa, dan aku tentu saja memanfaatkan keadaanku ini untuk disuapi olehnya, hehehe."

Kamu tersenyum maklum. "Dasar, kamu ini."

"Eh, setiap laki-laki pasti akan melakukan hal yang bisa ia lakukan untuk mendekati gadis pujaannya lho, Senpai." Ogiwara berkelit. "Ah ya sebenarnya barusan aku sengaja menjauhkan Midorikawa karena ada yang ingin kubicarakan berdua dengan Senpai."

"Apa? Tentang drama kita?" Tanyamu.

"Ya ... ini ada hubungannya dengan drama kita juga, tetapi lebih ke arah urusan pribadi Senpai. Senpai sedang dekat dengan Kise Ryouta, kan?" Tanyanya memastikan.

"Tidak lagi ... sepertinya. Tapi kalau ia benar-benar jadi pemeran penggantimu itu akan sangat menyusahkan bagiku." Keluhmu. Padahal kau sudah sangat ingin menjauhinya.

"Aku juga tidak ingin dia jadi pemeran penggantiku." Tegas Ogiwara. "Karena ... Midorikawa menyukainya. Kelihatan sekali kalau dia menyukainya."

"Ooh jadi kamu cemburu?" Godamu iseng. "Tapi mau bagaimana lagi kalau hanya dia yang bisa menyelamatkan drama kita hari minggu, Ogiwara-kun?"

Ogiwara mengacuhkan kekhawatiranmu yang terakhir. "Selain itu, aku tahu, dia yang membuatku begini. Pasti."

Pernyataan terakhir Ogiwara membuatmu kaget. "Maksudmu Kise yang menghajarmu? Jadi isu soal kamu terjebak tawuran Kirisaki Daichi itu bohong?"

"Bukan, bukan begitu. Tadi pagi pihak sekolah datang ke sini dan menginterogasiku. Kujelaskan pada mereka kalau aku bukan anggota Kirisaki Daichi dan aku sendiri benar-benar korban dalam insiden itu. Hanya saja, tempat mereka tawuran memang bukan jalan yang biasa kulewati. Hari itu kebetulan ada pesan masuk di ponselku yang menyuruhku pergi ke sana dari seseorang yang mengaku ingin membicarakan tentang Midorikawa. Jadilah hari itu aku terjebak di tawuran itu." Jelas Ogiwara panjang lebar.

"Hal itu kan tidak menjelaskan kalau Kise yang melakukannya ..." Sanggahmu.

"Iya, memang. Tapi ketika wakil kesiswaan menuduhku sebagai bagian dari geng Kirisaki Daichi, beliau keceplosan mengatakan kalau sumbernya adalah si artis itu, Kise Ryouta. Kalau dia tidak ingin menjebakku, untuk apa dia memfitnahku sebagai anggota Kirisaki Daichi?" Jelasnya emosi. "Lalu kupikir jangan-jangan kalian sedang ada masalah dan ia cemburu karena aku lawan main Senpai?"

Wajahmu memucat mendengar argumen Ogiwara. Semua itu memang mungkin saja terjadi, tetapi belum ada bukti ataupun saksi yang kuat sebagai pembenaran argumen itu. Untuk sekarang ini, itu cuma argumen kosong Ogiwara yang sedang emosi—apalagi perannya sekarang kemungkinan akan direbut.

"Aku memang sedang tidak ingin dekat-dekat dengannya, tetapi membayangkannya akan melakukan itu rasanya tidak mungkin." Gumammu. Karena kamu tahu Kise yang sebenarnya, gumammu dalam hati. Ia memang pemaksa, tapi tidak sampai melakukan hal sejahat itu, menurutmu.

"Pokoknya hipotesaku begitu. Sebaiknya Senpai selidiki saja dia." Saran Ogiwara. "Oh iya Senpai, tolong katakan kepada Miyaji-senpai kalau aku akan ada untuk pementasan hari minggu! Aku takkan menyerahkan peran besar pertamaku, bukan hanya karena Midorikawa."

Kamu memandangnya khawatir. "Tapi luka-lukamu itu ..."

"Kalau yang begini bisa ditutupi make-up kan? Lagipula lumayan kan ini bisa jadi riasan alami untuk menimbulkan kesan kesatria yang memang sudah berpengalaman ditandai dengan banyaknya luka. Sekarang memang belum begitu bisa berdiri, tetapi sebelum hari itu aku pasti bisa!" Tekadnya kuat. "Gunakan saja seorang pengganti sebagai teman latihan kalian, asal jangan peran asliku yang diganti."

Melihat kegigihan Ogiwara, kamu tersenyum bangga. "Baiklah, akan kucoba membujuk Miyaji dan yang lainnya untuk memasukkanmu kembali."

Setelah pembicaraan itu selesai, kamu pun menyuapi Ogiwara dengan makan siangnya—karena pemuda itu sulit dibuat makan makanan rumah sakit—dan tak lama kemudian Kayako datang dengan kebingungan karena menurut sang suster obat Ogiwara masih ada.

Ogiwara tertawa salah tingkah dan berakting meminta maaf kepada Kayako. Ditunjukkannya sebungkus obat yang disembunyikan di bawah bantalnya. Dikatakannya ia lupa sudah menaruhnya di sana dan menyangka obatnya sudah habis. Setelah Ogiwara meminum obatnya, kamu dan Kayako pun pamit kembali ke sekolah.

Seiring perjalanan, kalian saling berdiam diri sampai kamu mengajukan pertanyaan kepada Kayako begitu keluar dari area rumah sakit. "Kalau misalnya ... Si Kise itu benar-benar akan menggantikan Ogiwara-kun ... Kayako-chan bisa latihan dengannya? Pasti tidak enak dong tiba-tiba harus berganti pasangan begitu. Kalau aku sih cuma antagonis biasa kan, chemistry-nya tidak perlu begitu dalam dengan sang kesatria."

"Aku pasti bisa!" Jawabnya riang. "Aku mungkin akan sedikit gugup karena Kise-kun itu idolaku, tetapi ini impianku untuk menjadikan Kise-kun sebagai pangeranku!"

Entah kenapa kamu merasakan hatimu berdenyut kesal setelah mendengarnya.

"Oh begitu ..." Kamu memasang senyum palsu. "Yah, kemampuan aktingnya memang hebat ..."

Dengan semangat Kayako menanggapimu, "betul sekali, Senpai! Dia hapal dialog drama kita dan bahkan mengimprovisasinya dengan hebat sekali lho!"

Kamu menatap gadis bersurai hijau itu dengan tajam. "Dia ... hapal? Kamu menunjukkan naskahmu kepadanya dan memintanya untuk menghapal atau apa? Setahuku dia kan bukan Akashi Seijuurou si pemilik ingatan fotografis itu." Tanyamu curiga. Setahumu Kise hanya pernah melihat naskahmu sebagian kecil dan bahkan baru mengetahui ceritanya sampai penculikan kesatria oleh penyihir hitam itu.

"Eeh ... memang bukan, sih. Aku menjaga kerahasiaan naskah kita dengan baik kok!" Belanya selaku anggota klub drama. "Tapi dia memang hapal."

"Oh, dia menunjukkannya padamu, dan kamu diminta olehnya untuk mengajukan dirinya sebagai pengganti Ogiwara-kun ya?" Tanyamu sinis.

Ekspresi Kayako mulai sedikit pucat. "Tidak kok. Aku sendiri yang berpikir kalau dia hebat, lagipula saat itu sebelum Ogiwara-kun kecelakaan."

"Kapan?" Tanyamu semakin menyudutkan Kayako.

"Hari minggu." Jawabnya cepat tanpa pikir panjang. "—Ah ...!"

Detik itu juga kamu langsung tahu kalau Kayako berbohong. Dan kamu bisa memahami situasi ini dengan baik.

.

.

.

.

.

Day 7 Report : Wednesday, the true himself

Sebelum Kise sempat menjejakkan kaki di ranah suci tempat latihanmu, kamu memanggilnya saat istirahat makan siang.

"Sumimasen, saya mau bertemu dengan Kise Ryouta."

Seorang anak laki-laki yang membukakan pintu kelas Kise untukmu itu mendadak keheranan. Tidak biasanya seorang gadis mencari Kise Ryouta dengan nada segalak itu, tak peduli angkatan berapa. Namun ia tetap membukakan pintu lebar-lebar untukmu dan menunjukkan Kise yang sedang makan bersama seorang pemuda berkulit tan bernama Aomine Daiki. Acara makan mereka yang berisik karena ocehan Kise mendadak diam begitu kamu menghampiri meja keduanya.

"Hai, Ki—Ryouta." Sapamu dingin, berusaha mengintimidasi sebisa mungkin.

Kise memandangmu takut-takut. "Se—senpai kok mendadak kayak Akashicchi, sih?"

"Bisa kita bicara sebentar di luar, Kesatria?" Ajakmu yang dengan sengaja memberikan panggilan itu untuk Kise. "Aomine-san, maaf aku pinjam Kise sebentar." Izinmu pada Aomine.

Aomine yang merasakan aura Akashi dari dalam dirimu itu memilih untuk mengangguk cepat untuk mengiyakannya. Tanpa menunggu persetujuan Kise lagi kamu menarik tangan sang bishounen itu kuat-kuat dan membawanya ke bagian lorong kelas dua yang sepi, yaitu di pojok lantai dua di dekat lemari penyimpanan alat-alat kebersihan.

Begitu yakin keadaan aman tanpa pendengar lain, kamu mulai berbicara, "Sebenarnya, selepas shooting itu aku sudah memutuskan ini semua sebagai perpisahan kita."

Kise menatapmu balik dengan mantap. "Aku tahu. Aku mendengar apa yang kau bisikkan dan menyadari juga bahwa kedekatan kita pasti akan berakhir begitu kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Dan aku tidak mau ssu."

"Pada kenyataannya, aku hanya merasa telah mendapatkan apa yang kuinginkan, padahal sebenarnya belum." Akumu. "Aku merasa bahwa apa yang kulihat darimu selama ini adalah kamu di balik topengmu yang bersinar itu. Kamu yang manja, kamu yang lelah, kamu yang terlalu gentle, dan hal-hal semacam itu. Dan sekarang aku baru menemukan yang sebenarnya, sesuatu yang tersembunyi di balik topengmu itu."

"Apa?" Tanyanya menantangmu.

Kamu menggeram kesal karena nada bicara itu. Dia memaksamu untuk membongkar seluruh dugaanmu padanya.

"Kamu yang menjebak Ogiwara-kun, kan? Kamu mengirim e-mail kepadanya dengan alamat e-mailmu yang tidak bisa dikenali olehnya lalu berpura-pura akan membicarakan Kayako-chan—entah dari mana kau tahu kalau gadis itu akan memancing perhatiannya—di suatu tempat yang kamu ketahui akan terjadi tawuran. Akhirnya Ogiwara-kun menjadi korban dan luka cukup parah sehingga disingkirkan dari daftar pemain—agar kamu bisa merebut perannya." Jelasmu panjang lebar. "Oh ya, terlebih kamu juga memberikan laporan palsu kepada sekolah bahwa Ogiwara-kun adalah anggota geng Kirisaki Daichi yang tawuran sehingga jika ia sembuh ia takkan bisa tampil karena terjerat hukum sekolah. Licik sekali, hanya demi sebuah peran."

Wajah Kise muram seketika. "Kamu tahu tidak, kenapa aku menginginkan peran itu? Padahal, aku ini siapa sih. Cuma orang luar ssu."

"Ku—kurasa aku tahu kenapa. Akan tetapi tetap saja perbuatanmu itu sangat ... jahat." Jawabmu dengan sedikit rona merah di wajahmu. "Sekarang, aku tahu satu lagi sisi lainmu—yang bisa dikatakan kalau inilah yang sebenarnya kan, Ryouta?"

"Kamu mengetahuinya ..." Senyum pasrah Kise merekah dengan tulus. "Lalu kamu akan meninggalkanku."

"Awalnya kan memang kita tidak pernah dekat bukan? Mungkin ... hanya saling mengagumi dari jauh." Ucapmu.

"Benar ssu. Aku juga tahu hari seperti ini akan datang dan sesuatu yang kau sebut jahat dari diriku ini akan membuat keadaan jadi lebih buruk dibandingkan dulu. Tapi aku tidak bisa berdiam diri, karena aku sangat ingin memilikimu." Ucap Kise sungguh-sungguh.

Pipimu sempat memanas mendengarnya lalu tertawa kecil karenanya. "Drama banget sih."

Kise pun ikut tertawa. "Kita kan memang akan bermain drama bersama ssu."

Kamu menggeleng kuat-kuat. "Tidak boleh. Itu perannya Ogiwara-kun."

"Kan aku sudah merebutnya." Jawabnya santai. "Semuanya sesuai penjabaranmu ssu."

"Iya, tahu. Itu memang jahat, terlebih jika dibandingkan dengan topeng malaikatmu itu. Tapi kamu melakukan itu hanya karena cemburu dengan berbagai adeganku bersama Ogiwara-kun, kan? Memangnya kamu tidak terpikir kalau aku juga bisa cemburu padamu kalau pada akhirnya di drama itu Kayako-chan lah yang akan memilikimu?" Tanyamu gusar. Sedikit malu juga sebenarnya mengatakan kalau Kise cemburu pada Ogiwara.

"Kamu ... akan cemburu karena itu? Sungguhan?" Tanyanya tak percaya.

Wajahmu pun semakin memanas dan memerah seiring kamu mengakui isi hatimu kepada Kise. "Iya, mungkin! Mungkin saja. Lagi pula aku ini profesional, hal seperti itu masih bisa kutahan ..."

Melihat wajahmu yang merona merah, Kise mau tak mau juga mengeluarkan semburat merah juga di wajahnya.

"Di masa depan nanti, aku akan menjadi aktris teater." Gumammu. "Kamu juga pasti akan dikelilingi banyak gadis dan bahkan kadang harus dituntut dekat dengan mereka. Kalau kita ingin bersama, kita benar-benar harus saling percaya satu sama lain, Ryouta. Bukan menyingkirkan mereka satu per satu ..."

Kise menunduk.

"Aku senang kamu melakukan itu untukku, akan tetapi rasa kesalku sebenarnya lebih besar lagi. Kamu memang masih anak kecil ya, hmmm? Hanya tubuh dan umurnya saja yang besar, huh." Gerutumu sambil mengangkat wajah Kise dengan kedua tanganmu dan membuatnya menghadap ke depan. "Nah, sekarang hadapi takdirmu ke depan dan minta maaf sana sama Ogiwara-kun! Jangan lupa juga luruskan 'fitnah' yang kau buat itu."

Wajah Kise tampak tak suka. "Eeh ... menyebalkan sekali. Tapi Senpai harus mau mendampingiku seumur hidupku ssu!"

Kamu memijat pelipismu yang tak pening, berusaha menutupi hatimu yang berdebar senang tak karuan. "Astaga, lamarannya tidak romantis sekali. Yah, asalkan sampai saat itu kamu tidak terobsesi dengan gadis lain saja ..."

"Yah, semoga tidak ssu~" Jawabnya riang seraya merengkuhmu cepat ke dalam pelukannya. "Akhirnya menyerah juga nih ya, dengan strategi biro jodohnya Riko-senpai?"

Tiba-tiba kamu teringat tekadmu itu lalu mengerang kesal karena menyadari telah gagal menepatinya. "Aahh ... Iya nih. Kalian memang menyebalkan. Ya sudah, kalau begitu kuberikan saja data-datamu kepadanya, biar dia yang buat artikelmu sebagai tanda terima kasih dariku, fufufu."

"Yah, jangan ... Aku kan maunya kamu yang buat artikel itu ssu." Rajuk Kise. "Eh tapi boleh deh, asal aku boleh menciummu ya~"

Kamu memutar pandangan dengan gusar. "Haa ... laki-laki tuh ya pikirannya selalu itu-itu saja."

"Eeeh ... itu kan wajar ssu." Protesnya.

"Tidak mau ah. Pokoknya kamu selesaikan dulu tuh masalah yang sudah kamu buat." Tegasmu sambil melepaskan pelukannya dengan wajah memerah.

Senyum jahil Kise tiba-tiba timbul di wajahnya. "Ya sudah, kalau begitu kucuri saja." Ucapnya cepat ia mendekatkan wajahnya ke arahmu sampai kamu tidak bisa mengelaknya dan mendaratkan kecupannya di hidungmu. "Hadiah untuk penyihir hitam karena sudah melepaskan sang kesatria ssu."

.

.

.

.

.

Sunday, the tears behind the perfomance

Surat kabar Teikou akhirnya terbit pada hari sabtu, tepatnya kemarin. Karena sebelumnya Riko sudah mengumumkan tentang Kise yang akan mengisi kolom idolanya, seluruh edisi mendadak laku keras dalam waktu singkat. Bahkan hari itu juga klub surat kabar dipaksa bolak-balik ke percetakan agar permintaan para konsumen terpenuhi, karena ternyata banyak fans Kise dari sekolah lain yang ingin membeli surat kabar Teikou itu. Apalagi begitu mengetahui isinya yang tidak biasa, yang mengungkapkan seorang Kise yang lain dari yang biasa dikenal dunia.

Saat itu kamu menatap Kise khawatir. "Apa tidak apa-apa? Memberitahukan kepada seluruh penggemarmu tentang dirimu—yang seharusnya hanya diketahui olehku itu."

"Aku juga ingin para penggemarku melihatku sebagai manusia biasa. Kan aku jahat ssu, menghancurkan bayangan sempurna mereka terhadap idola mereka." Jawab Kise.

Kamu tersenyum. "Iya, kamu memang jahat. Dan kekanak-kanakan. Jadi kalau sehabis ini penggemar-penggemarmu langsung menjauhimu harus kuat ya? Biar tahan banting. Hmmm tapi pasti kakak perempuanmu akan marah besar sih ..."

Kise tertawa keras. "Ahahaha ... duh, tentu saja tidak apa-apa. Toh aku kan ingin jadi pilot ssu."

"Oh ... oh gitu? Kupikir kamu juga ingin masuk dunia hiburan sepertiku." Gumammu sebal. "Ya sudahlah, besok saat aku tampil jangan berbuat yang macam-macam lagi dan doakan saja para orang-orang hebat itu akan tertarik dengan penampilanku dan bahkan mendidikku nanti di sekolah teater~"

Lalu, hari yang kamu ucapkan itu akhirnya datang.

Para penonton menduduki semua kursi hingga penuh walau mereka sudah diberitahu bahwa yang tampil tidak sama dengan yang tertera pada tiket-tiket mereka, itu bukti bahwa mereka sedikit banyak benar-benar berharap pada pementasan klub drama Teikou ini. Ogiwara secara mengejutkan sudah cukup baik kondisinya—dan benar katanya, sepertinya beberapa luka yang belum hilang menambah kesan kesatrianya di balik make up. Kayako yang sempat kecewa dengan pembatalan tampil Kise sebagai partnernya kembali diserang Ogiwara dengan gigih. Miyaji dan Moriyama yang akan muncul bersama-sama dengan mantap mencoba memamerkan latihan mereka sebentar di belakang panggung, mencoba meredakan ketegangan dengan komedi.

Dan akhirnya, tirai merah besar panggung pun terbuka.

.

.

.

Kise yang duduk di bagian tribun tengah-tengah memerhatikan semuanya dari awal dengan saksama.

Mulai dari pembukaan drama yang menampilkan kondisi kerajaan, kemesraan sang kesatria dan sang putri, sakitnya sang raja, petualangan sang kesatria ... dan mendadak ia merasa malu pada dirinya sendiri. Apa yang ditampilkan oleh para pemeran benar-benar luar biasa, sangat berbeda dengan shooting yang biasa ia lakukan. Semuanya terasa nyata dan indah, sama sekali tidak ada bandingannya dengan apa yang Kise tahu. Bisa-bisanya ia dulu berani mengajukan dirinya sebagai sang kesatria. Sang kesatria yang diperankan Ogiwara saat ini benar-benar berbeda dengan keseharian sang pemeran yang dinilainya tak pantas. Sang kesatria begitu kuat, gigih, dan menawan. Setiap kejadian yang dialaminya pun dengan daya tariknya ia mampu membuat penonton terhanyut di dalamnya.

Tidak terbayang apa jadinya kalau Kise yang sedang berdiri di depan panggung sana.

Akhirnya, babak yang ditunggu-tunggu Kise datang juga. Babak dimana kamu muncul.

Pemuda bersurai pirang itu memerhatikan baik-baik apa yang kamu tampilkan. Kamu pun bertingkah sesuai dengan apa yang selama ini kau perankan dalam naskah. Menculik Ogiwara dengan pesuruhmu, berdebat dengannya, memfitnah sang kesatria dengan menunjukkan kemesraanmu dengannya di hadapan sang putri yang ceritanya kau munculkan di sana dengan sihir.

Sang putri tertegun, ia melihat cinta di mata sang penyihir hitam. Ia mundur pelan-pelan dan menjauhi keduanya dengan syok. Sang kesatria panik dan langsung menjauhi sang penyihir. Ia berusaha keras membela dirinya di hadapan sang putri, namun ia tidak berhasil dan sang putri melarikan diri dari atas kastil sang penyihir. Ia begitu sedih karena dikhianati.

Kamu tersenyum culas lalu menggoyang-goyang sebuah botol serum di depan wajahnya. "Ini yang kamu cari-cari, Kesatria-ku. Kamu bisa ambil ini dan menyelamatkan raja tua bangka itu jika kamu menyerahkan dirimu padaku."

Sang Kesatria pun menyerah dan mengambil botol itu dengan kasar. Ia langsung menaruhnya di dalam sarung pisau kecilnya agar tidak pecah. Kamu baru saja akan memeluknya ketika sang kesatria tiba-tiba menebas sekelilingnya dengan pedang panjangnya. Dengan gesit kamu berhasil menghindarinya dan meraih sebuah pedang kecil dengan sebuah permata besar yang mengandung seorang jin.

"Jangan mencoba melawanku, Kesatria-ku. Di dalam pedang ini, aku menguasai sebuah jin api!" Teriakmu panik.

Dengan ahli, sang kesatria menghunuskan pedangnya lagi dan membuat pedang kecilmu terlempar sebelum kau sempat memanggil jin yang hidup di dalamnya. Kamu pun mundur dan semakin panik melihat ujung pedangnya yang tajam. Kamu berteriak-teriak memanggil tongkat sihirmu untuk menghampiri tanganmu tetapi tongkat itu selalu ditepis oleh sang kesatria. Sampai di ujung menara, tiba-tiba properti kastil yang kau pijak naik menjadi dua meter di atas panggung—terima kasih kepada pihak teater yang menyediakan teknologi ini. Sang putri yang sudah ada di ujung panggung pun berbalik mendengar teriakan sang penyihir dan melihat sang penyihir yang jatuh dari menara karena menghindari pedang sang kesatria.

Sang penyihir jatuh dari ketinggian dua meter, dan Kise nyaris tak bernapas dibuatnya.

Pemuda itu panik mendapati kekasihnya jatuh di panggung teater dari ketinggian setinggi itu. Ia nyaris lepas kendali dan berlari ke sana jika bapak-bapak setengah baya yang duduk di sebelahnya tidak menahannya.

"Tenang, Nak. Lihat baik-baik, ada sebuah tali sewarna latar yang menyangga tubuhnya." Katanya.

Kise menghela napas lega begitu mengetahui keselamatanmu. Ia kembali duduk manis dan memerhatikan kelanjutan ceritanya.

Sang putri dan sang kesatria pun pulang ke kerajaan. Begitu keduanya menghadap raja dan menyerahkan serum yang dapat menyembuhkan penyakit anehnya, raja langsung meminumnya. Namun, alih-alih sembuh ia malah kejang-kejang dan semakin lemas. Sang putri dan sang kesatria yang panik berusaha menenangkannya namun tak sengaja menyebut bahwa sang penyihir hitam telah mati.

Lalu, sang raja mengakui dosanya, di tengah ketidakberdayaannya. Dia mengakui bahwa sang penyihir hitam adalah kakak sang putri yang dibuangnya sejak kecil, hanya karena ia tidak memiliki fisik yang sama dengan para keluarga kerajaan lain dan karena tidak ingin sang ratu mendapat tuduhan selingkuh—dengan kata lain, sebenarnya si penyihir ini menampilkan gen resesif yang dikandung oleh leluhurnya dulu dan tampilannya tidak mirip dengan orangtuanya sekarang. Rupanya sang penyihir iri dengan sang putri dan ingin melenyapkan dan merampas apa yang dimiliki sang putri agar ia tersakiti, sekalian membunuh sang raja dengan kedok serum penyembuh itu. Sayangnya malah ia yang terbunuh, namun ia masih bisa membalaskan dendamnya dengan membunuh sang raja.

Setelah itu, sang raja benar-benar meninggal. Sang kesatria pun mau tidak mau menjadi raja baru di kerajaan itu dan memimpin negeri bersama sang putri dengan adil dan bijaksana. Pada akhirnya, seperti semua akhir dari kisah dongeng, sang putri dan kesatria pun hidup bahagia sampai mati.

Tirai ditutup dan para penonton pun bertepuk tangan dengan keras—bahkan banyak yang dengan senang hati melakukan standing ovation sebagai bentuk apresiasi mereka. Kise yang sudah mengetahui alur ceritanya pun ikut bertepuk tangan keras sebagai formalitas dan rasa kagumnya terhadap akting para pemain. Bapak-bapak separuh baya di sebelahnya juga ikut bertepuk tangan dengan kalem, lalu berkomentar, "bagus untuk ukuran klub sekolah yang baru pertama kali tampil di depan masyarakat luas. Saya tertarik dengan seorang pemain yang cukup berbakat."

Telinga gosip Kise sedikit membesar mendengarnya. "Begitu ya, Pak? Hmm ... Saya juga. Jujur saja, saya baru pertama kali melihat pementasan teater pada skala sebesar ini dan menurut saya penampilan mereka memukau. Dan ada beberapa yang juga menarik minat saya." Seru Kise, mengomentari gumaman sang bapak-bapak.

"Ya, cukup memukau." Sang bapak menyetujui komentar Kise. "Kamu bintang iklan, bukan? Tentu saja dunia teater ini sangat luar biasa jika kamu bandingankan dengan keseharian pekerjaanmu." Ucapnya seraya terkekeh pelan.

Kise ikut tertawa pelan. "Yaah, begitulah. Mereka luar biasa. Saya sangat suka akting sang kesatria dan sang penyihir."

"Begitukah? Saya merasakan ada begitu banyak improvisasi dalam peran sang penyihir. Walaupun masih masuk dengan alurnya, rasanya ia seperti sedang memberontak kepada alur dan keindahan aktingnya lebih terlihat oleh selera masing-masing orang, bukan sebuah akting yang luar biasa memukau yang membuat semua orang dengan berbagai selera akan suka." Jelas sang bapak panjang lebar. Kise mulai mengerutkan keningnya tanda tak paham.

"Uh ... Saya kurang begitu mengerti sih, Pak. Ah, saya harus cepat-cepat ke belakang layar, ada teman saya di sana. Permisi, Pak." Pamit Kise sebelum ia mendengar lebih banyak lagi hal-hal yang tidak dimengertinya.

Sang bapak-bapak tersenyum. "Sang penyihir ya? Pacarmu?"

Kise yang sudah terlanjur pergi membalas pertanyaan bapak itu. "Bukan! Ia kekasihku yang dipersatukan takdir!" Teriaknya seraya meniru salah satu dialog Ogiwara.

Tanpa ia sadari, sang bapak separuh baya itu pun ikut pergi ke belakang panggung dengan arah yang berbeda.

.

.

.

Ketika Kise akan menghampirimu di belakang, mendadak ia lupa bahwa sebaiknya ia membawa karangan bunga untuk menyelamatimu. Ia langsung berlari ke luar menuju toko bunga terdekat lalu kembali dengan sebuket bunga mawar merah. Sambil mengatur napasnya, ia berusaha menjaga penampilannya di depanmu dan masuk pelan-pelan menuju backstage.

Anehnya, di belakang panggung itu begitu sepi. Kise mencoba mencari-cari dan menemukan sebuah ruangan dimana seluruh pemeran dan staff berkumpul. Ketika ia mengintip keadaan di sana rupanya orang-orang beramai-ramai menyelamati Ogiwara. Penasaran, Kise mencoba menanyai Moriyama yang ada paling dekat dengannya dan katanya Ogiwara baru saja dihampiri oleh seorang pencari bakat dan langsung dilamar menjadi anggota sekolah teaternya.

Kise tertegun mendengarnya. Ia pun berterima kasih pada Moriyama dan melesat pergi meninggalkan ruangan besar itu—mengacuhkan teriakan Moriyama yang bertanya kepada siapa buket bunga mawar yang dibawanya akan diberikan.

Pemuda bersurai pirang itu menajamkan telinganya dan menjelajah backstage yang besar. Samar-samar ia mendengar suara isakan pelan dari sebuah ruangan dan langsung dihampirinya sang sumber suara yang rupanya merupakan gadis yang sedari tadi dicari-carinya, kamu.

"Hai, (your name)." Sapanya riang. Ia memang memanggilmu hanya dengan nama kecilmu, tanpa imbuhan cchi yang biasa ditambahkannya sebagai panggilan untuk orang-orang yang dekat dengannya. Kamu lebih spesial, katanya waktu itu.

Kamu otomatis langsung menyeka air matamu dan berusaha meminimalisir suara menyedot cairan yang menyumbat hidungmu karena menangis. Kamu menyambut pemuda pirang itu dengan senyum terbaikmu—yang untuk saat ini rupanya hanya bisa terlihat sebagai senyum miris.

"Duh, aktrisku, kamu tidak bisa berakting bahagia dengan penampilan seperti ini ssu." Komentarnya seraya membuka lengannya untuk memelukmu. Kamu pun tanpa ragu lagi menghambur ke dalam pelukannya.

Sebisa mungkin, kamu berusaha menahan tangis yang semakin ingin keluar lagi. "Aku ... tidak mendapatkannya, Ryouta. Padahal ini kesempatan yang sangat langka dan aku ... gagal! Aku mungkin kurang berlatih dan kurang pantas kali ini ... dan itu berarti aku menyianyiakan kesempatan ini ... drama ini!" Ceritamu sambil sesekali air matamu mengalir pelan-pelan tanpa isak.

Kise membelai surai hitammu yang panjang perlahan. Kamu sudah melepas gelungan rambut ala penyihir dan riasannya namun masih memakai baju penyihir hitam. Sesekali ia mengecup puncak kepalamu dan membiarkanmu menangis sampai kamu tenang dan menghentikan air matamu.

"(Your name), sejak kapan kamu jadi terlihat selemah ini? Ingat, kamu kuat, (your name). Tidak mendapatkan tawaran itu bukan berarti kamu membuat jelek drama ini, atau kemampuanmu jelek. Tidak, tidak sama sekali ssu." Hiburnya. "Meskipun aku ini bukan seorang ahli, tapi aku benar-benar terpukau dengan penampilan kalian seluruhnya tadi."

Kamu mengeratkan pelukanmu kepada Kise. Kise menemukan sebuah ide cemerlang.

"Ah, kurasa aku tahu apa yang kurang darimu ssu! Sepertinya aktingmu luar biasa hanya kepada sebagian besar selera orang! Maksudnya, hemm ... duh gimana ya jelasinnya ... pokoknya gitu ssu, hehehe." Ucap Kise yang mengulang komentar dari bapak-bapak paruh baya yang duduk di sebelahnya tadi. "Berarti kamu harus berlatih lebih keras lagi untuk menjadi aktris panggung yang super luar biasa, sampai-sampai si perekrut itu akan menyesal tidak mengambilmu sekarang ssu!"

Isak tangismu pun perlahan berganti derai tawa mendengar saran Kise. "Tumben bijak. Kayaknya kamu sekarang udah tambah dewasa, hmm?"

"Memang aku sudah dewasa ssu." Jawabnya tak mau kalah. "Yuk sekarang kita kasih selamat ke Ogiwara—dengan tulus ya, bukan sambil nahan tangis ssu."

Jemari lembutmu menyambut uluran tangan Kise. "Yuk. Bunganya dikasih Ogiwara-kun saja, Ryouta."

"Memang untuk dia, kok. Huuu ..." Godanya sambil mengecup keningmu. "Kamu baru boleh dapat kalau sudah jadi aktrisku yang luar biasa ssu."

Dengan gemas kamu pun menyikut Kise pelan sambil tertawa senang, sambil berjalan bergandengan tangan.

.

.

.

.

.

"Ryouta, kalau begitu aku baru akan menciummu ketika kamu jadi pilot ya."

"Eeeh—Hidoi ssu!"

.

.

.

.

.

A/N : Hai minna~! Akhirnya update H+1 Lebaran deh, hehehe. Oh ya, Tsukki dan Schnee mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk readers semua~ Maafkan kami kalau dalam pembuatan fanfic ini masih banyak yang belum sempurna, ya! Baik typo, cerita, apalagi EYD-nya :'' Kami mohon bantuan readers sekalian juga ya untuk 'mengoreksi' fanfic ini terus, hehehe

Balasan review no account :

Syifa-sama

[Schnee] Hai Syifa-sama~ Ini Schnee! Berkat doanya juga, ini sudah update~ Oh iya sisi lainnya Kise ini kubuat berdasarkan Kise versi manga pas 'pacar'nya Kise diambil Haizaki, semoga nggak OOC amat :''))

Shironanodayo

[Schnee] Duh Shiro aku juga cinta Akashi kok, tapi chara yang lain juga nggak mau kalah nih ... Tsukki sama Schnee masih bingung menentukan siapa yang akan muncul di next chapter hehehe. Doakan saja Akashi merasuki mimpiku ya, siapa tahu langsung dapat ilham nulis untuk yang selanjutnya? *wink*