Warning :
Readers!Chara—AU!TeikouHighschool—Maybe a bit OOC demi kepentingan fanservice—maybe typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Balasan Review no account di bawah A/N di akhir cerita!
.
.
.
"Jadi proker kita yang tersisa di tahun ini hanyalah Edisi Khusus untuk Natal dan Tahun Baru." Hyuuga menutup lembaran kertas yang ia bawa untuk presentasi barusan. Kemudian ia menatap para anggota Klub Surat Kabar satu persatu. "Aku harap persiapan untuk edisi khusus ini benar-benar matang tanpa harus mengurangi kualitas dua edisi bulanan yang akan mendatang."
Semua yang ada di situ mengangguk patuh. Seakan sudah tersihir oleh kalimat wakil ketua Klub Surat Kabar yang dalam hitungan bulan akan lengser dari tahtanya.
"Riko, ada tambahan?"
Hyuuga memalingkan wajah ke Riko. Semuanya pun jadi sontak menatap pada sang ketua yang duduk di meja di samping Hyuuga.
Tapi perempuan itu diam saja. Kepalanya ditolehkan ke luar jendela dan matanya mengantuk—jelas tidak seperti di rapat-rapat sebelumnya. Ia hanya menjawab: "Tidak ada." Penuh dengan intonasi dingin tanpa sama sekali menengok pada Hyuuga maupun anggota klub.
Gidikkan ngeri segera menyebar ke semua orang di situ. Hyuuga menghempas napas berat.
"Terima kasih. Kalian boleh bubar."
Hyuuga meninggalkan Riko dan segera menuju ke luar ruangan. Riko segera duduk kembali ke mejanya dan berleha-leha ria di sana sambil mendengarkan lagu dan mengerjakan tugas yang apa itu entah.
Kamu masih duduk di bangkumu dan masih memangku kepalamu malas.
"Lucu juga mereka malah bertengkar."
.
.
.
Kuroko no Dating Simulation :
Love Report!
Midorima Shintarou x Readers!
.
.
.
"Aku sudah ditelepon percetakan. Mereka sudah menagih kita!" Kamu mengetuk-ngetuk meja belajarmu sebal. "Molor semua artikel bulan ini!"
Hyuuga di seberang mengatur napasnya. Anak itu pasti sudah naik lagi tempramennya namun kamu tidak peduli. Kamu bisa jadi segalak Riko kalau kamu mau. Amarah Hyuuga tak akan pernah bisa memukulmu mundur.
"Mana pidatomu waktu itu mau mengerjakan dua edisi lagi sebaik-baiknya—"
"Ya, ya, aku tahu." Hyuuga mendecak keras. "Maafkan aku. Salahku. Aku yang tidak mengawasi kalian dengan benar."
Akhirnya dia sadar. Tapi sebenarnya sumber masalahnya bukan di situ.
Sumbernya adalah Riko.
"Lakukan sesuatu, Hyuuga."
"Besok akan kucek semuanya. Datang ke ruang klub besok."
Kamu ganti mendecak. "Bukan itu maksudku, Hyuuga. Lakukan sesuatu pada Riko."
Laki-laki itu diam, tak lama kemudian dia menghela napas.
"Yang penting adalah edisi bulan ini. Riko bisa belakangan. Akan kupikirkan itu nanti."
Panggilan itu diputus sepihak dari Hyuuga. Kamu menatap layar ponselmu sebal lalu menaruhnya di atas meja belajar dengan sedikit melemparnya. Sampai kapan mereka akan terus-terusan begitu memangnya?
Kamu menggelengkan kepala dan mulai fokus pada pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan besok.
.
.
.
"Hyuuga, tolong jelaskan padaku." Kamu berujar dingin sembari menatapnya sengit. "Jadi sekarang sudah tanggal 22 Oktober dan artikel sama sekali belum ada yang rapi?!"
Tolonglah. Ini bencana. Seharusnya di tanggal-tanggal begini mereka sudah menyerahkannya ke percetakan dan akan dijual pada hari Senin di minggu berikutnya. Tapi ini satu artikel beres saja belum ada. Bagus. Waktu tenggatnya benar-benar akan sangat molor sekarang.
Hyuuga mengurut pelipisnya perlahan. Dipijitnya masing-masing sembari menatap hasil artikel-artikel sementara yang terpampang jelas di depan batang hidungnya. Ini adalah situasi terburuk yang pernah dialami klub selama masa kepemimpinannya bersama Riko.
Dan ini semua pasti karenanya.
"Harus bicara apa kita pada percetakan?" Kamu sendiri tidak bisa diam. Mondar-mandir di depan meja Hyuuga sambil menggigit bibir atau berkacak pinggang. Niatmu mencari solusi, namun tampaknya tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain memundurkan waktu terbit hingga November nanti.
Kamu ini penanggung jawab di Divisi Percetakan. Jelas kamu heboh begini dan jadi sering menerror Hyuuga yang jarang datang ke ruangan dan Riko tak kunjung kembali polahnya. Kamu melirik meja yang ada di sebelah meja Hyuuga. Riko sudah tidak pernah di sana lagi semenjak rapat untuk membahas program kerja belum lama ini. Kamu jadi lelah batin.
"Astaga!" Suara tepukan jidat Hyuuga benar-benar nyaring. Kamu sendiri terlonjak kaget dan Izuki yang juga ada di sampingmu serta beberapa orang lainnya sontak menoleh heran.
"Apa sih?" Kamu turut melongok ke atas meja kerja Hyuuga. Mencari apa yang salah dan kamu tidak mengerti apa.
Hyuuga mendesis dan berbisik tajam. "Aku malah kelupaan satu artikel lagi. Bagus sekali."
"Hah?!" Kamu membelalakkan mata dan mengobrak-abrik meja penuh artikel itu dengan tak sabaran. "Artikel apa yang tidak ada?!"
"Tokoh idola." Hyuuga mendecih keras. "Terakhir kali aku menangani sebuah surat kabar belum ada kolom tokoh idola sehingga aku lupa." Ia kembali mendesis. Merasa tolol karena melupakan salah satu kolom yang sibuk naik daun beberapa bulan terakhir.
Kamu mengusap poni rambutmu ke belakang—frustasi. Ini benar-benar bencana. Kolom tokoh idola memang biasanya diarahkan langsung oleh Riko dan sekarang dia benar-benar lepas tanggung jawab dari ini. Mewawancarai siapa? Siapa yang mewawancara? Kamu menarik dan mengembuskan napas. Agak mustahil rasanya untuk menyelesaikan artikel ini dalam waktu sehari atau dua hari.
"Izuki," panggilmu.
"Ya?"
"Coba buka kuisioner untuk tokoh idola." Hyuuga menyambung perkataanmu tepat. Baca pikirmu sepertinya. "Cari yang paling diinginkan siapa."
Kamu menggeleng. "Pilih tiga kandidat. Jangan hanya yang teratas. Waktu kita sedikit, Hyuuga."
Izuki menatap Hyuuga untuk memastikan keputusan dan Hyuuga hanya mengangguk. Ia mulai membuka hasil kuisioner untuk kolom tokoh idola dalam beberapa bulan ini dan meniliknya serius. Kamu dan Hyuuga menatapnya sabar, sekaligus harap-harap cemas.
"Ketemu."
"Siapa?" tanyamu langsung.
Izuki kemudian tertawa tipis. "Akashi Seijuurou—tentu saja."
Hyuuga mendengus keras. "Tidak akan sempat. Jangan dia, teruskan." Kamu juga ikut menimpali tertawa. Tidak mungkin tuan muda itu dapat diwawancarai semudah itu.
"Sama saja," lanjut Izuki lagi. "Berikutnya adalah Himuro Tatsuya."
Mendengar itu, kamu menepuk jidat pelan. "Anak itu belum kembali dari Amerika. Sia-sia." Kamu sekelas dengan Himuro. Anak itu mungkin lupa bahwa sebenarnya hari pertama masuk sekolah sudah lama lewat. "Ya ampun semoga yang terakhir bisa diandalkan."
Izuki mengangkat bahu. "Entahlah. Tapi yang terakhir ini Midorima Shintarou."
Matamu melebar. Dan Hyuuga langsung menatapmu.
"Tapi kudengar dia pendiam dan agak dingin begitu—"
"Oke. Midorima Shintarou." Hyuuga memutuskan lalu membereskan artikel-artikel yang semuanya baru hampir jadi di hadapannya. "(your name), aku serahkan padamu."
"Haaa?" Kamu mendelik. "Hei! Jangan aku!"
"Mau artikel ini cepat beres tidak?" Hyuuga menukas tajam. "Sudahlah aku tahu kau bisa. Ayo Izuki, bantu aku selesaikan artikel-artikel ini."
Wajahmu pias. Hyuuga dan Izuki langsung asyik membenahi artikel tanpa memperhatikanmu lagi.
.
.
.
"Midorima-kun, 'kan?"
Midorima mendongak. Makannya terhenti dan ia menatapmu. "Ya?"
Kamu coba tersenyum tipis. Dalam menjalankan bisnis setidaknya harus diawali dengan senyuman bukan?
"Boleh aku duduk di sini?"
Ia menatapmu sambil mengerutkan sedikit dahinya. Namun tak lama kemudian ia mengangguk, lalu mempersilakanmu untuk duduk di hadapannya. Kamu berterima kasih dan duduk di sana.
"Ada sesuatu yang harus kukatakan sebenarnya." Kamu melanjutkan. "Mau mendengarkanku sambil kau makan atau setelah kau selesai?"
"Sekarang saja," katanya cepat. "Ada perlu apa denganku?"
Kamu mengembuskan napas lalu berkedip sekali. "Kenalkan, aku (your name), kelas 3." Kamu memperkenalkan diri sembari membungkukkan badan sedikit. "Aku dari Klub Surat Kabar."
Ia mengangguk. "Ada perlu apa?"
Ini dia. Hal yang paling menyebalkan.
Menjelaskan alasan mengapa kamu datang menghampiri seseorang untuk diwawancarai itu tidak pernah menyenangkan. Apalagi jika titelnya untuk wawancara di kolom tokoh idola. Tokoh idola, lho. Dan yang mewawancarai itu wanita. Agak lucu sebenarnya, apalagi kamu sama sekali bukan fans lelaki ini.
"Kau sering baca koran kami tidak?" tanyamu, sambil memangku kepala dengan kedua tangan di meja. Sebisa mungkin kamu mempertahankan senyummu lama.
"Hem, ya. Aku selalu baca setiap edisinya." Ia berkata kalem. Tangan kiri yang jemarinya dililit perban itu menaikkan kacamata bingkai hitamnya.
Ah. Kamu sudah tahu kebiasaan itu sejak lama sebenarnya. Tentang perban, gestur menaikkan kacamata, serta alasan mengapa ada botol minyak wangi wanita persis di sebelah gelasnya.
Kamu berdeham sekali. "Jadi… ya kami, Klub Surat Kabar ingin mewawancaraimu untuk mengisi sebuah kolom," jelasmu. Ya memangnya apalagi yang akan dilakukan anggota Klub Surat Kabar ketika bertemu seseorang secara dua-duaan begini? "Bisa kau tebak kolom apa itu?"
Midorima menautkan alis. Kemudian tak lama kemudian matanya menatapmu sangsi. "Jangan bilang kolom horoskop?"
Matamu mengerjap-ngerjap. Tak lama kemudian kamu tertawa ringan—agak dipaksa sebenarnya. "Bukan, bukan. Tentu saja bukan."
Kamu kemudian merogoh tasmu dan mengambil sebundel koran sekolah edisi beberapa bulan lalu yang kebetulan kamu punya di rumah. Kamu bolak-balik halaman per halaman. Mencari titel kolom yang sedang kamu—terpaksa—kerjakan ada di halaman berapa untuk ditunjukkan pada Midorima yang ada di hadapanmu.
"Ah ini dia." Kemudian kamu membalik koran itu dan memaparkannya ke hadapan Midorima. "Kolom ini." Di sana terdapat foto Kise Ryouta lengkap dengan berbagai data-datanya serta fakta-fakta mengenai sifat tersembunyi yang berhasil diungkap oleh seorang anggota klub beberapa bulan yang lalu.
Dan Midorima ingat benar bahwa ini merupakan kolom tokoh idola edisi bulan Juli.
Jadi ia katakan: "Tidak."
Kamu menurunkan koran tersebut dan menatap wajah Midorima heran. "Apa? Bisa kau ulangi?"
"Kubilang tidak." Ia dengan santai melanjutkan memakan nasi gorengnya. Menyuapkan satu persatu ke mulut dan meminum segelas es teh manis tanpa mengindahkanmu yang tengah memelototimu meminta penjelasan lebih.
"Kau tidak mau untuk diwawancarai… begitu?" Kamu menatapnya pias. Tidak bisa begini. Ini tidak sesuai rencanamu untuk menyelesaikannya segera. "He, kenapa?"
"Ya, aku tidak mau." Midorima membalas masam. Matanya menatapmu dingin. "Aku tidak mau diwawancarai untuk kolom apapun itu."
"Haaa?! Tidak bisa begitu, dong!" Kamu menggebrak meja pelan. Ingin melepas kesal tapi tahu ini tempat umum yang bisa saja tindakannya malah mengganggu orang banyak. "Kau beruntung tahu terpilih untuk mengisi kolom ini di antara ratusan lelaki atau perempuan lainnya di sekolah ini!"
"Aku tidak merasa begitu."
"Kau harus merasa begitu!" Kamu mengerang sembari memegang kedua sisi kepalamu. Harus cari cara agar kamu bisa mewawancarai orang ini. Jika ia tetap tidak mau, bagaimana dengan nasib kolom ini? Tambah memikirkannya malah membuatmu semakin frustasi.
"Ayolah kumohon!" Kamu merapatkan kedua telapak tangan tepat di depan dahi sembari memejamkan mata—persetan dengan harga diri, yang penting kolom ini cepat selesai. "Bantulah aku. Wawancara hanya sedikit juga tidak apa-apa kok. Seperti siapa nama panjangmu—"
"Midorima Shintarou."
"Ah! Aku sudah tahu itu!" Kamu meringis. "Atau kelas—"
"2-B, absen 2."
"Kalau begitu tanggal lahir—"
"7 Juli. Cancer."
"Golongan darah—"
"B."
"Ah! Dan aku masih ingin tahu lebih banyak lagi." Kamu meringis. "Bagaimana jika kita benar-benar wawancara setelah ini?"
"Tidak, terima kasih." Midorima bangkit kemudian membereskan piring dan gelasnya masuk ke dalam baki. "Tadi katamu hanya wawancara sedikit, 'kan? Begitu sudah cukup."
Midorima kemudian melenggang pergi yang disusul dengan bunyi bel istirahat berakhir.
"Sialan."
Untuk pertama kalinya kamu dalam meliput narasumbernya sama sekali tidak mau diajak negosiasi.
Dan ini berarti kiamat.
.
.
.
Mood-mu benar-benar memburuk ketika sampai di rumah. Tadi saat pulang sekolah kamu sudah coba untuk kembali membujuk Midorima hingga menghampirinya ke kelas. Namun ia bersikukuh menolak dan malah meninggalkanmu di depan kelas untuk ke gedung olahraga sekolah.
Benar-benar. Apa kata Hyuuga nanti? Apa kata orang-orang percetakan nanti? Tadi kamu setelah mendapat keputusan untuk mewawancarai Midorima, kamu sudah menghubungi orang percetakan. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkan artikel paling lambat Sabtu sore. Dan itu berarti besok.
Bagaimana caranya kamu bisa menyelesaikan ini?
Kamu mengerang-ngerang terus. Otakmu mulai menyalah-nyalahkan orang lain: menyalahkan Riko, Hyuuga, atau Izuki yang mengapa harus bilang ada Midorima di antara tiga orang itu.
"Ck. Tiada cara lain."
Kamu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan lewat hidung. Jika ingin kolom tokoh idola sukses dan tetap berjalan, kamu terpaksa harus melakukan itu.
Persetan dengan konsekuensinya. Kamu sudah tidak peduli. Yang penting tugasmu cepat selesai dan surat kabar bisa terbit dalam dua hari lagi.
.
.
.
Pintu ruangan klub diketuk. Semuanya sontak menoleh untuk melihat siapa yang akan masuk. Helai hijau terlihat ketika pintu digeser. Semuanya bertatapan bingung.
Tidak ada yang tidak kenal. Pemuda bertubuh jangkung dengan rambutnya yang begitu mencolok takkan pernah gampang terlupa oleh ingatan. Lagipula ia diliput dalam kolom tokoh idola bulan ini. Jadi sekali lagi, siapa anggota Klub Surat Kabar yang tidak tahu seorang Midorima Shintarou?
"Permisi." Midorima membungkukkan badan. Kikuk bicaranya. "Saya Midorima. Apakah (your name)-senpai ada?"
Semua yang di situ celingukan. Mencoba mencari kamu di mejamu ataupun di segala penjuru lain. Kemudian Izuki mewakili semua anggota bilang bahwa kamu sedang tidak ada di ruangan klub.
Kamu berdeham keras. Dan Midorima spontan menoleh ke belakang dengan cepat.
"Jangan di pintu," ujarmu. "Minggir. Aku mau lewat."
Midorima berbalik. Namun tak kunjung pergi dari pintu dan tetap menghalangi kamu agar kamu tidak bisa masuk.
"Sudah kubilang minggir." Kamu beradu pandang dengannya sengit. "Pekerjaanku banyak. Awas, ah."
Pemuda itu tetap bersikukuh di tempatnya. Seberapa kalipun kamu mengecohnya dan mencari celah untuk masuk tetap jadi sia-sia. Tubuh seorang pemain basket begini memang tidak main-main. Akhirnya kamu lelah dan diam sambil berkacak pinggang. Dagumu mendongak naik dan menatap Midorima tepat di mata tajam.
"Ada apa Midorima-kun?" Kini kedua lenganmu di silang di depan dada. Matamu benar-benar menatapnya menantang. Kali ini rambut hitammu dikuncir kuda, bukan mengenakan bando seperti biasa membuatmu jadi lebih garang tampangnya. "Ada perlu apa?"
"Ikut aku, Senpai."
"Tidak mau," tegasmu lagi. "Aku banyak pekerjaan, jangan ganggu aku."
Tapi Midorima sama sepertimu. Ia tak mendengarkan. Lengan kekarnya—atau boleh dibilang telapak besarnya—memegang pergelangan tanganmu kuat dan menuntunmu menuruni tangga, berbelok menuju lorong, dan akhirnya berhenti di belokan dekat taman belakang sekolah.
Dia akhirnya berhenti. Berdiri tepat di hadapanmu dan menatapmu intens tanpa ragu.
"Bicara apa?"
Kamu dengan sikapmu yang keras kepala dan angkuh itu mencoba berkedok tak tahu apa-apa. Tantang saja ia terus dengan muka angkuh dan kalimat-kalimat tajam dan Midorima akan semakin sebal dan berhenti mengejar-ngejarmu. Kiranya begitulah pikirmu.
"Maksudmu apa, Senpai?" Intonasinya tenang. Wajahnya juga tidak menampakkan ekspresi kesal. Kedua biner hijau itu menatap langsung ke iris hitammu lurus. Hanya itu. "Aku tahu kau sudah tahu apa maksudku."
Kamu buang muka sambil menarik dan mengeluarkan napas panjang. Melihat sikapmu yang kurang kooperatif membuatnya mendesah lelah.
Dari sudut matamu kamu melihat ia merogoh saku celananya. Tangannya yang seperti biasa terlilitkan perban mengeluarkan lipatan kertas yang sebenarnya sudah bisa kau tebak itu apa. Tangan kanannya bantu melebarkan lipatan kecil kertas itu menjadi begitu lebar dan menampangkannya padamu.
Di situ tertera nama Midorima Shintarou. Berikut fakta-faktanya, foto dan beberapa paragraf ulasan mengenai dirinya lengkap dalam naungan titel tokoh idola bulan Oktober.
Bukan sekedar fakta-fakta biasa. Bahkan kehidupan SMP-nya di Shuutoku dan nama adiknya lengkap berikut kelasnya juga ditulis di situ. Beberapa foto saat pertandingan basket SMP juga disisipkan di situ.
"Aku hanya ingin bertanya dari mana kamu mendapatkan ini semua." Midorima masih menatapmu lurus. Air mukanya bukan seperti Hyuuga bila menuntut penjelasan atau Riko yang sedang menagih jawaban. Mukanya datar. Biasa saja. Tapi matanya memang tengah meminta jawaban dan penjelasan yang sebenar-benarnya.
Kamu mendesah lelah dan menurunkan tanganmu ke pinggang dan berkacak di sana.
"Banyak sumber," katamu pada akhirnya. "Itu juga karena kau tak mau memberitahunya sendiri sehingga aku terpaksa mencari dari banyak sumber."
"Siapa?"
Kamu menggeleng dan masih menatap Midorima tajam. "Takkan kukatakan."
"Takao Kazunari?" Midorima berusaha menebak. "Atau Yuuya-senpai?"
"Sudah kubilang tidak akan kukatakan." Kamu mendecak. "Aku minta maaf bila mencantumkan itu semua tanpa izinmu. Namun percayalah. Aku sudah berusaha untuk tidak membeberkan segala sesuatu tentangmu yang bersifat privasi." Badanmu kamu bungkukkan sedikit. "Aku permisi."
Kamu kembali ke ruang klub dan meninggalkan Midorima tanpa berkata apa-apa lagi.
.
.
.
Sesampainya di mejamu, kamu mengerang sembari mengacak-ngacak rambutmu gemas. "Arrrrghhh."
Izuki menatapmu kasihan. "Jadi kau benar-benar menyerahkan artikel itu pada Hyuuga tanpa mendapatkan izin darinya?"
Kamu mengangguk dengan wajah masih menempel di meja. Izuki mengambil kursi untuk duduk di depan mejamu dan menepuk-nepuk pundakmu pelan. "Entah aku harus berterima kasih atau malah memarahimu," katanya. "Untung surat kabar ini selesai pada waktunya sehingga Hyuuga tidak harus mengomeli diriku lagi."
"Ya habisnya mau gimana." Kamu mengangkat wajahmu namun dengan dagu yang masih enggan meninggalkan meja. "Kalau bukan dia siapa yang mau diulas? Nanti telat terus Hyuuga menyalahkan aku dan blablablablaaa…."
Izuki tertawa. "Yang sudah terjadi, terjadilah. Mau diapakan lagi," katanya. "Tapi sudah minta maaf?"
"Belum." Kamu mendecak. "Sudah sih, tapi ya… begitu."
"Minta maaflah sana. Minta maaf yang benar."
Kamu menyembur. "Kucoba. Kapan-kapan tapi."
"Secepatnya, Senpai. Bukan kapan-kapan."
"Aneh, ah kalau kau memanggilku begitu." Kamu tertawa—miris. Memangnya mudah meminta maaf begitu saja setelah mempublikasikan artikel mengenai dirinya tanpa seizin Midorima sendiri? Salahmu, sih. Tapi waktu itu kamu sudah terlanjur tak mau pusing memikirkan konsekuensinya. "Akan kucoba, kok."
"Kau pasti akan dibuntuti oleh Midorima terus, deh."
"Jangan, dong! Kalau dia sampai tahu rumahku bagaimana?"
"Yah, itu juga salahmu."
"Ck." Kamu mendecih lagi. "Doakan saja agar jangan sampai begitu."
.
.
.
Benar kata Izuki. Midorima Shintarou berperan menjadi penguntit hari ini.
Kamu sudah pura-pura tidak melihatnya saat melewati gerbang tadi—takut-takut dia menyadari bahwa kamu sudah pulang dan akan mengikutimu seperti kata Izuki tadi di ruang klub. Tapi nyatanya ia salah. Midorima memang sedang menunggunya pulang di gerbang. Jadilah hari itu kamu dikuntit olehnya.
"Jangan mengikutiku!"
Lama-lama kamu jengah. Kesal juga diikuti begitu seakan-akan kamu tidak sadar bahwa ada orang—yang parahnya itu mantan narasumber—yang mengikutimu.
"Aku tidak mengikutimu." Ia menaikkan kacamatanya.
"Bohong," desismu.
"Aku tidak bohong."
Kamu sepertinya lupa untuk mencantumkan sifat tsundere Midorima di artikelmu. "Aku sudah minta maaf. Belum cukup memang?"
"Belum," sahutnya kalem. Tuh kan. Ia memang benar mengikutimu.
"Maumu apa?" Kamu sekarang benar-benar berbalik menghadap Midorima.
"Tahu darimana informasi-informasi tersebut kamu dapatkan."
"Geeeh." Kamu mendecak. "Tidak akan kuberitahu. Sudah kubilang bukan daritadi?"
"Oke."
Kamu memijit pelipismu pelan. "Tapi kau tidak akan berhenti mengikutiku sampai aku memberitahumu, 'kan?"
"Aku tidak mengikutimu."
Bola matamu kamu putar. Denial lagi.
Kamu menghentak-hentakkan kakimu kesal. "Sini ikut aku!" Lengan Midorima kau tarik di sepanjang jalan. Badanmu bergerak sendiri. Kamu juga tidak tahu mengapa malah jadi mengajak Midorima begini.
"He-hei! Mau ke mana?"
"Sesukaku."
"Jangan seret aku."
"Diam saja dan ikutlah."
Kira-kira hanya sekitar lima menit, kamu berhenti di sebuah lapangan basket. Lengan Midorima kau gandeng untuk turut mengajaknya masuk ke dalam dan duduk di pinggir lapangan menonton dua orang yang sedang bermain one-on-one.
Alis Midorima sudah berkerut sejak tadi. Pertanyaan darinya tidak ada yang dijawab olehmu membuatnya penasaran setengah mati mengapa dirimu mengajaknya ke sini. Dan malah cuman duduk-duduk lagi.
"Hei!"
Kamu berdiri dan menghampiri dua laki-laki yang bermain street basketball tadi dan sedang beristirahat sekarang. Midorima makin bingung. Kamu asyik sekali bercakap-cakap dengan mereka.
Tak lama setelah itu, kamu berlari kembali ke pinggir lapangan—ke tempat Midorima duduk dan kamu segera membuka jasmu dan meletakkan begitu saja di atas tasmu. Kemeja biru langitnya Teikou juga turut dikeluarkan olehmu. Kamu kemudian menatap Midorima aneh yang sedari tadi hanya kebingungan melihatmu melepas jasmu begitu.
"Cepat lepaskan jasmu juga. Tidak usah ganti baju," katamu. "Jangan bengong, dong. Ayolah kita sudah ditunggu sama mereka." Jarimu menunjuk keduanya. Kamu tengah membujuk Midorima agar cepat melucuti pakaiannya.
"Kita mau main?"
Kamu memutar bola mata. "Iyalah. Seharusnya kau latihan basket 'kan hari ini? Sebagai gantinya kuajak bermain two-on-two, nih!"
Midorima mengernyit. "Darimana kamu tahu seharusnya aku latihan hari ini?"
Ups.
"Ah. Jangan pikirkan," katamu sambil mengibas-ngibaskan tanganmu. "Kau bisa berpasangan denganku."
Midorima segera melepaskan jas, dasi, dan balutan perban di jemari kirinya lalu ikut menyampirkannya begitu saja di atas tasnya. "Kamu bisa main?"
"Sedikit." Kamu tertawa. "Tidak begitu mahir."
Laki-laki itu mendengus. "Jangan sampai menghalangiku kalau begitu."
"Tidak akan," sahutmu cepat. "Kebetulan aku bagus di passing, kita bisa menjadi partner yang bagus."
"Tidak akan sebagus—"
"Ya, ya. Aku tahu. Tidak akan sebagus dengan Takao maupun Akashi." Kamu mengambil bola oranye tersebut. Tadi kamu menawarkan diri untuk melempar tip-off dan biar Midorima yang mengambilnya. "Tapi kucoba akan mengimbangi mereka biar kau tidak akan kesulitan."
Midorima terdiam. Terkejut dengan pernyataanmu yang sebelumnya.
"Ya."
Bola benar berhasil diambil oleh Midorima dan ia langsung mengeksekusinya di tempat. Lawan mereka bersiul kagum lalu tersenyum semangat. Jarang-jarang mereka mendapatkan lawan yang benar-benar bagus tekniknya.
Sistem pertandingan ini menggunakan full court. Kedua lawan lincah-lincah dan tidak begitu buruk permainannya membuat Midorima panik. Ia belum pernah bertanding dengan berkawan denganmu dan itu cukup untuk membuatnya kepikiran bagaimana cara untuk menghadang kedua ini agar tidak mencetak poin.
Tapi memang seharusnya Midorima tidak perlu berpikir serumit itu.
Bola tadi sudah berpindah tangan. Badanmu yang gesit sudah merebut bola itu ketika mereka sudah mencapai daerah lapanganmu dan Midorima. Kamu bergegas maju. Mencoba melepas diri dari kejaran kedua laki-laki itu yang kecepatannya tidak main-main.
Kemudian kamu tersenyum lima jari.
"Midorima!"
Bola tadi tiba-tiba sudah ada di tangan Midorima. Operan tadi mungkin lebih dari jarak tujuh meter. Tapi tadi itu pas. Midorima segera melakukan jump shoot seperti biasa yang ia lakukan bersama Takao atau Akashi.
Kedua laki-laki tadi terperangah. Rasanya tadi mereka sudah menjagamu dengan ketat namun bola itu dengan mudahnya lolos dari kawalan mereka. Bola oranye tadi kembali masuk mulus ke ring dan kalian kembali mencetak poin. Midorima menatap kedua belah tangannya. Bukan hanya lawan kalian yang terkejut. Ia pun juga sama.
"Nice, Midorima!" Kamu menepuk telapak tangan Midorima yang terbuka tadi dan tersenyum kepadanya. "Dilihat dari dekat ternyata tembakanmu memang luar biasa bagus!"
"T-terima kasih." Namun matanya masih mengerjap-ngerjap. Pass tadi suatu kebetulan atau tidak?
Namun setelah beberapa menit bermain. Midorima paham. Apanya yang tidak mahir. Midorima mencibir. Operan darimu tak kalah. Walau teknik dan timing tentu tidak sempurna seperti Akashi, tapi setidaknya operanmu mirip dengan Takao. Entahlah apanya yang sama. Namun rasanya memang begitu. Dan Midorima hanya mengakui itu dalam hati.
Tadi kamu sempat lay-up beberapa kali dan lagi-lagi Midorima dibuat terkejut.
Lima menit kemudian, ketika kedua tim sepakat untuk istirahat, Midorima akhirnya bertanya apakah kamu bermain basket untuk tim basket putri untuk Teikou dan akhirnya malah dijawab tawa olehmu.
"Tidak," jawabmu lalu meneguk air dari botol minummu rakus. "Kalau iya mungkin aku ada di string ketiga."
"Kau pasti jadi pemain inti."
Kamu tertawa. "Tidak akan."
"Pass-mu bagus," ucapnya pelan. Midorima mengalihkan pandangan.
"Apa?" Kamu mengernyit. Suara Midorima kecil sekali tadi. Kamu yang sedang serius minum air tidak bisa mendengarnya.
"Tidak, bukan apa-apa."
Kamu mengedikkan bahu. Lalu tersenyum. "Mungkin kita bisa bermain beberapa game lagi—"
"Ah, Shin-chan! Ternyata benar Shin-chan!"
Keduanya menoleh keluar pagar pembatas. Di sana anak laki-laki berambut hitam belah tengah melambaikan tangannya. Senyumnya lebar. "Yo, Shin-chan! Sedang apa—"
Tiba-tiba dia berhenti begitu menyadari bahwa ada kamu di sebelah Midorima. Kamu membungkuk dan Takao Kazunari di luar sana juga balas membungkuk kikuk.
"Ah, kurasa lebih baik kalau kau melanjutkan dengan Takao," katamu sambil menggerakkan jempolmu ke arah Takao di luar sana. Kamu kemudian mengambil jasmu dan tasmu. "Terima kasih semuanya!" Kamu melambaikan tangan ke arah dua pemuda yang rela menjadi lawan mereka tadi. "Dan kurasa lebih baik aku pulang sekarang."
Kamu melambaikan sebelah tanganmu pada Midorima sebelum benar-benar keluar dari area lapangan.
.
.
.
"Aduh, kamu kenapa mengikuti aku lagi, sih?"
Kamu menggerutu. Bahkan di keesokan harinya Midorima masih menunggumu di gerbang sekolah dan mengikutimu lagi.
"Aku tidak mengikutimu."
"Ya, ya, kau tidak mengikutiku." Kamu menyerah. Sudah lelah dengan segala macam ketidakngakuan oleh Midorima. "Aku mau ke stasiun, lho. Masih mau ikut?"
Midorima menghela napas. "Aku juga naik dari sini."
"Geeh. Aku lupa."
Pemuda itu mengernyit. "Lupa? Memangnya kamu tahu rumahku di mana?"
Ups. Ya ampun kelepasan lagi.
"Enggak. Bagaimana bisa aku tahu rumahmu yang mana coba. Hahaha."
Kelepasan lagi bisa gawat, nih. Midorima pun masih menatapmu sangsi.
Tapi kemudian kamu menjentikkan jarimu ke depan wajah Midorima. "Jangan menatapku begitu, ah."
"Siapa yang menatapmu?"
"Kamu. Memangnya siapa lagi."
Midorima mendengus.
Tak lama kemudian stasiun sudah kelihatan dan kalian berdua berbelok masuk ke dalam. Kamu melirik jam dinding yang gelayutan di dinding stastiun. Masih pukul lima dan kereta seharusnya datang masih sekitar sepuluh menit lagi.
Sedang asyik-asyiknya menekuri lantai, sekaleng lemon tea tiba-tiba tersodor di hadapan batang hidungmu. Kamu mendongak. Perbuatan Midorima rupanya.
"Tadi uangku kelebihan."
Kamu tertawa mendengar alasannya. Tanganmu bergerak menerima pemberian dari Midorima. "Trims. Tahu saja minumku sudah habis."
Dia mengangguk saja sembari duduk di sebelahmu. Kaleng teh krisan dibuka olehnya dan langsung diteguk. Kamu mengernyit.
"Suka krisan?"
Midorima menatap kaleng yang isinya baru saja diteguk olehnya. "Tidak juga."
"Kukira kau membeli shiruko." Kamu tertawa.
"Habis."
"Oh begitu. Sayang sekali."
"Kau sepertinya tahu banyak hal, ya?"
"Huh?" Astaga. Kelepasan lagi. Kamu langsung meneguk air liurmu. Ah celaka. "Kalau kau mau tahu aku dapat info dari mana tetap takkan kuberitahu, lho." Kau mencicit. Sudah berapa kali memangnya kau kelepasan? Ah dasar mulut terkutuk.
"Tidak. Tidak apa-apa," katanya. Ia meneguk krisannya lagi. "Aku sudah tidak peduli."
Kamu menatapnya terkejut. Kamu kira Midorima akan memaksanya untuk memberitahukannya seperti pada hari Senin lalu. Ah, sial. Kelepasan terus, sih. Kemudian kamu menggelengkan kepalamu. Kalau begini kamu makin merasa tak enak.
"Y-yakin, nih?"
Dia mendengus.
"Jadi tidak asyik, dong? Hahaha." Terkutuklah situasi canggung begini. Terkutuuukk!
"Kalau kubilang aku sudah tahu dari siapa sumbernya, bagaimana?"
Eh?
"Hah? Apa?"
Kereta yang biasa kau naiki lewat. Anginnya menerpa kulit wajahmu yang pias dan derunya makin menjadi memusingkan kepala.
Sudah tahu… katanya?
Midorima bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya.
"Ayo, nanti kita ketinggalan kereta."
.
.
.
Setelah itu kalian berdua sama sekali tidak berbicara di dalam kereta. Midorima turun duluan dan hanya mengucap: "Aku duluan." Dan lalu hanya kau balas mengangguk.
Sudah. Hanya begitu.
Dan di sepanjang perjalanan dari stasiun ke rumahmu, pikiranmu kabur ke mana-mana. Kata-kata yang diucapkan Midorima saat di peron terus terngiang dan membuatmu cemas. Benarkah begitu? Atau bohongkah Midorima? Terlalu berlebihankah pikiranmu?
Kamu tak berani cerita. Ke siapapun termasuk Izuki yang tempo hari lalu telah menjadi wadah curhatanmu tentang Midorima juga.
Dirimu makin merasa tak enak. Setelah memaksanya untuk wawancara, sehabis itu malah mengorek informasi tentangnya dari orang lain, lalu menulis artikel tentangnya dan mempublikasikannya tanpa izin darinya, dan sekarang Midorima sudah tahu dari siapa dirimu mendapatkan informasi tentangnya membuatmu hampir gila.
Bagaimana cara dirimu untuk meminta maaf yang benar padanya sekarang? Bisakah kamu memasang muka untuk bertemu lagi dengannya?
Semalaman itu kamu uring-uringan. Dan setelah bertekad untuk menemuinya sepulang sekolah di keesokan harinya seperti biasa (karena dua hari belakangan dia selalu membuntutimu terus), dia tidak ada di sana. Tidak ada di gerbang sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada di kantin seperti saat pertama kali kamu meminta izin untuk mewawancarainya. Di kelasnya pun juga tidak ada; tidak seperti saat dirimu menemuinya di kelas untuk kembali memohon mewawancarai dirinya. Sampai akhirnya kamu memberanikan diri untuk menengok ke hall sekolah dan ternyata klub basket juga sedang tidak latihan; sama sekali tidak ada keberadaan orang di sana.
Menggigit bibir jadi program favoritmu beberapa jam belakangan itu. Hatimu terus-terusan tak enak. Kesannya Midorima menghindar darinya atau takdir yang memang sengaja tidak mempertemukan mereka—entahlah, kamu tidak peduli yang manapun sebenarnya karena itu sama-sama buruk!
Rasa bersalah jadi terus-terusan merundung dirimu. Kamu bertekad untuk memberitahu dan menjelaskan semuanya pada Midorima bila bertemu lagi kapanpun itu. Namun mengapa jadi begini? Bahkan dirimu sama sekali tak menemui entitas seorang pemuda yang notabene harusnya gampang ditemukan akibat postur jangkung dan rambutnya yang benar-benar hijau kontras dengan warna rambut lain.
Kamu lelah. Karena keesokan harinya juga ternyata begitu.
Bahkan kamu sudah mulai mencari sejak pagi. Saat ditanya ke kelasnya, tasnya sebenarnya ada, namun pemiliknya entah ke mana. Dan ketika istirahat makan siang, di kantin maupun di kelas juga tidak ada. Dengan mudahnya kau dapat menebak bahwa pulangnya pun juga sama—tidak ada, dan kalian berarti tidak bertemu selama dua hari ini.
Kamu mendecak.
Mungkin jika besok Midorima tak lagi dapat ditemui, kamu akan memakai cara yang itu lagi.
.
.
.
"Jadi dua hari kemarin kau sama sekali tidak bertemu dengannya?"
Kamu mengangguk sambil menekuri laporan evaluasi yang baru saja dibagikan oleh Hyuuga saat rapat tadi. "Begitulah."
Akhirnya kamu menceritakannya semua pada Izuki. Tak kuat rasanya memendam seorang diri.
Izuki menghela napasnya. "Jadi tak enak untuk memberitahu yang sebenarnya, ya?"
"Ya, 'kan?!" Kamu membiarkan kepalamu terantuk meja dan membiarkannya terbaring di sana. "Coba, mukaku mau ditaruh di mana?"
"Cari saja lagi. Jangan menyerah." Izuki menepuk-nepuk pundakmu. Lalu tersenyum. "Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali."
Kamu mengangkat kepalamu lalu menghela napas berat. "Ah, Izuki. Sakit sekali tahu."
"Yah, konsekuensinya sudah begitu, 'kan?" Dan ia dengan kurang ajarnya terkikik geli.
"Cerewet. Tak perlu kau ingatkan juga aku sudah ingat." Kamu kemudian menendang pelan kaki Izuki dan dirinya malah meringis geli. "Kasih aku ide, dong!"
"Ide apa? Kurasa tak ada," jawabnya. "Selain untuk tetap mencari dia dan mengatakan kepadanya yang sebenarnya seberat apapun itu kurasa tidak ada."
"Ah kau ini. Sama sekali tidak membantu." Kamu mendengus sembari memasukkan laporan tadi ke dalam tasmu. "Tapi, terima kasih, ya. Jadi lebih ringan setelah berbicara semuanya padamu."
Izuki mengangguk sambil tersenyum. "Sama-sama, Senpai. Selamat berjuang."
Kamu tersenyum miring sambil meninju puncak bahunya pelan. "Sampai jumpa besok, Izuki."
"Sampai jumpa."
Dan entah apa yang takdir rencanakan sekarang. Ketika kamu menutup pintu ruang klub, Midorima Shintarou ada di sana. Berdiri di dinding samping pintu walau jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirimu sudah menunjuk pukul enam lebih.
.
.
.
"Sudah makan?"
Kamu menggeleng. "Belum sih."
"Majiba?" tawarnya.
"Tak perlu," katamu sambil meringis. "Aku tidak lapar. Tapi kalau kau lapar ya lain lagi ceritanya."
Midorima mendengus.
Kamu akhirnya ditarik ke Majiba juga. Dengan alasan bahwa mereka sudah pulang telat dan makan di rumah mungkin akan kemalaman. Kamu tertawa saja. Jujur saja, sifatnya yang satu itu malah membuat dirimu kangen dua hari kemarin.
"Kamu mau apa?"
"Samakan saja denganmu."
Setelah memesan, mereka berdua kembali diam-diaman.
Mungkin ini waktunya. Kamu melirik Midorima yang sedang asyik menekuri luar jendela dan kembali mengalihkan pandangan.
Ah. Terkutuk.
"Dua hari kemarin… ke mana?"
Keluar juga. Tapi kamu ingin sekali menarik kata-kata itu kembali.
Midorima mengalihkan atensinya padamu. "Tanding. Dengan sekolah dari Yamanashi dan Chiba."
Pantas. Kamu menghela napas. "Oh…"
Midorima menatapmu. "Kenapa memang?"
"Tidak. Tidak kenapa-kenapa, sih." Kamu tertawa pelan sembari mengalihkan pandangan ke luar jendela. Kamu jadi baru sadar sedari tadi tanganmu sibuk meremas-remas rok sekolahmu. "Aneh saja, tiba-tiba kau menghilang dua hari."
Eh. Kalimatmu tadi seperti menyatakan kalau kamu kangen Midorima tidak, sih?
"Kontakmu."
"He?"
"Kalau ada kontakmu mungkin bisa aku beritahu." Midorima membuang muka lalu menaikkan kacamatanya.
Kamu tertawa. "Tidak ah, untuk apa juga kau memberitahuku."
"Aku serius."
Kamu terdiam. Tak kembali merespon. Dan pelayan yang nampaknya berbaik hati padamu secara kebetulan meletakkan baki berisi pesanan mereka tepat setelah itu.
"Midorima-kun," panggilmu, "Terima kasih. Kubayar padamu nanti ya setelah pulang."
Dia kemudian menggeleng sembari menggigit burger dagingnya. "Tidak perlu."
"Benar nih?" Kamu menatap pesananmu. Oi. Ini pesananmu bukan dalam jumlah sedikit, lho.
"Iya."
"Hee…"
Setelah itu sama seperti awalnya. Midorima tak lagi bicara dan kamu tidak tahu harus bicara apa. Kalau Midorima tidak ada di depanmu mungkin kamu sudah mengacak-acak rambutmu gemas dan kembali uring-uringan. Sesekali kamu menarik dan menghela napas. Kira-kira kapan kamu akan memberitahu dia semuanya?
"Jangan melamun. Nanti kita kemalaman."
Kalau Midorima tidak menegurmu, mungkin kamu tidak akan sadar bahwa selama lima belas menit itu kamu sama sekali tidak memakan burger milikmu.
.
.
.
Kereta malam itu sepi. Benar-benar lengang.
Jam pulang kerja memang sepertinya sudah kelewat jauh. Tapi begini malah makin membuatmu canggung. Dalam satu gerbong itu hanya ada beberapa orang dan kebanyakan dari mereka tertidur lelap.
Kamu menghela napas. Daritadi belum mendapat ilham tentang bagaimana caranya kamu agar dapat menyampaikannya pada Midorima dengan benar dan tanpa membuatnya merasa tak enak. Padahal sebentar lagi kereta ini akan berhenti di stasiun Midorima turun dan dirimu sama sekali belum membuka mulut mengenai hal ini.
"Sedang memikirkan apa?"
Kamu tersentak dan membuang napas lelah. "Jangan begitu, dong. Aku kaget, tahu."
"Daritadi kamu melamun terus," katanya. Ia hanya melihatmu lewat lirikan mata sebentar lalu kembali menekuri bangku kosong yang berada di seberang.
"Ah masa, sih?"
"Ya."
Kamu meringis dalam hati. Kau tarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya sepelan mungkin.
Rokmu kembali kau pilin-pilin. "Midorima-kun."
Midorima menatapmu. "Ada apa?"
Kamu meneguk air liurmu. Lalu memejamkan mata.
"Maaf," bisikmu. "Seminggu yang lalu aku memaksamu dan malah menulis artikel tentangmu tanpa seizin dirimu. Maaf."
Kamu tak berani menatap wajah Midorima yang ada di sampingmu. Bibirmu kau gigit dan dadamu berdebar-debar tak keruan terus menerus.
Ah persetan. Yang penting hari ini kamu harus mengatakan semuanya.
Midorima menghela napas.
Kemudian pengumuman bahwa sebentar lagi kereta akan memasuki stasiun di mana Midorima turun diumumkan lewat speaker. Kamu menyenderkan kepalamu ke bangku kereta. Bagus sekali timing-nya.
Ya sudahlah besok saja.
Kereta itu akhirnya berhenti dan kamu menatap Midorima. "Hati-hati, Midorima-kun."
Tapi laki-laki itu bergeming dan masih menyilangkan tangannya di depan dada ditambah dengan mata terpejam. Dahimu berkerut. Tanganmu kemudian mengguncang-guncang pundak Midorima, mengatakan bahwa dia harus turun karena sebentar lagi pintu kereta akan ditutup.
Tepat setelah kamu tiga kali mengguncang bahunya, pintu kereta tertutup dan kamu makin panik.
"He, pintunya sudah ditutup, tuh! Oi, Midorima-kun!"
Midorima membuang napas. Setelah kereta mulai jalan merayap, ia buka matanya lalu menatapmu yang sedang berdiri di depannya.
"Nah sekarang kau baru bangun." Kamu mendecak lalu menatap ke luar. Kereta itu sudah keluar stasiun. "Lalu kau pulang bagaimana nanti." Kamu menggelengkan kepalamu lemas.
"Lanjutkan."
"Huh?"
Midorima menatapmu. "Lanjutkan apa yang tadi sedang kamu katakan."
Kamu sontak memalingkan wajahmu dan kembali duduk di sampingnya. Sepertinya tidak bisa besok. Harus sekarang rupanya.
"Tidak ada sih," katamu sambil menatap lurus ke jendela kereta yang ada di seberang. Memperhatikan laju kereta yang cepat sekali meninggalkan pemukiman demi pemukiman. "Aku hanya ingin meminta maaf."
"Yakin?"
Kamu memejamkan mata. Kemudian mengambil napas dalam-dalam. "Ada, sebenarnya."
"Katakan."
Kamu kemudian iseng menyisir rambut hitammu pelan. "Aku dapat bahan artikelnya dari Takao. Maaf. Jangan marahi dia, oke?"
Akhirnya kamu mengatakannya. Dan setelah itu kamu merasa sedikit lega. Setidaknya dirimu sudah mengaku.
"Aku sudah tahu."
Lalu kau tersenyum—miring. "Ya, kau sudah tahu. Makanya aku ingin memberitahumu semuanya." Kamu terkekeh. "Maaf, ya."
Kamu memejamkan matamu. Selesai. Dengan begini semuanya selesai.
—namun ternyata tidak ketika kepalamu didekatkan oleh tangan kirinya dan kemudian pipimu dikecup lama oleh Midorima.
"Tidak apa-apa."
Kamu tak kunjung buka mata sampai pengumuman akan stasiun tempat kamu turun diumumkan.
Semerah apa mukamu? Enggak tahu dan enggak mau tahu.
.
.
.
"Jadi kenapa kamu mengikutiku?"
Midorima menengok ke belakang. "Aku ada di depan. Kamu yang mengikutiku."
Dipandang begitu kamu segera alihkan muka. Apa-apaan sih yang tadi? Tidak sopan memang mencium kakak kelas di depan umum begitu.
Memikirkannya sudah membuat wajahmu panas lagi, ah!
"Kenapa enggak langsung pulang?"
Midorima menghela napas. "Jalan-jalan."
Kamu di belakang menggerutu. Duh kenapa ini orang tak mau pulang? Gawat nanti kalau Midorima mengantarnya sampai rumah dan kalau dilihat orang bagaimana?
Kamu mengerang sekeras-kerasnya dalam hati. Gawat. Ini bahaya.
Tanganmu tiba-tiba diamit oleh Midorima dan jalanmu terpaksa dipercepat. Langkah Midorima jelas panjang-panjang. Dan kamu jadi susah disuruh samakan langkah melihat kakimu tak seberapa besar langkahnya.
"Hei, kau mau membawaku ke mana, sih?"
Kamu melihat ke sekeliling panik. Ini jelas jalan pulang ke rumahmu dan bagaimana bisa…
Laki-laki itu tersenyum tipis. "Mengantarmu pulang, Takao (your name)-san."
Matamu membulat dan Midorima kembali menciummu sekilas di bibir persis di depan rumahnya.
Rumah bertuliskan Takao di pagarnya.
.
.
.
"Jadi dia sudah tahu kalau kau kakaknya Takao Kazunari? Hahaha." Izuki tertawa terpingkal-pingkal sampai harus membuatmu menyumpal mulutnya agar omongannya tak lagi bisa ditangkap siapapun.
"Berisik!" hardikmu; malu. "Sumpah aku merasa dipermainkan. Siapa sangka dia bisa tahu aku siapa."
"Yah. Berarti setimpal, dong!" Izuki masih terkekeh dan membuatmu kembali menyodok perutnya. "Kamu menyelidiki dia dan dia menyelediki kamu, eh?"
"Tapi seharusnya tidak begini argh!" Karma. Ini pasti perbuatan karma.
"Dan Takao bilang pada Midorima kalau kau sebenarnya sudah mengenalnya dari SMP?"
"Iya!" Kamu mengerucutkan bibirmu kesal, kemudian ganti menggerutu. "Aku 'kan cuman suka permainannya saja dan memang tidak pernah melewatkan pertandingannya Kazu jadi aku tahu banyak!"
"Tapi tetap saja sampai hapal skor pertandingan dan siapa saja lawannya serta merekam semuanya." Izuki tergelak lagi. Kamu salah sepertinya memutuskan untuk bercerita soal ini pada Izuki.
Kamu mencibir. "Itu biar aku bisa memantau Kazu. Biar aku tahu kesalahannya dari pertandingan sebelumnya harus dibenahi di bagian mananya." Heh, kan memang kamu yang selalu berlatih bermain basket bersama Kazunari.
Izuki menarik sudut bibirnya sarkas. "Tsundere seperti Midorima, eh?"
"Aku tidak tsundere!"
"Seorang tsundere tak ada yang mengaku kalau dirinya tsundere." Izuki terkikik. "Nah setelah kau mendapat seorang pacar, bagaimana jika kita pikirkan jalan agar ketua dan wakil ketua klub rujuk lagi?"
Kamu terdiam. "Hem… benar juga—HEII KAMU TAHU ITU DARI MANA, HAH?!"
"Dari Takao-kun, tentu saja~"
"KAZUNARI SIALAAANN!"
end.
A/N: ... halo:''D Apa kabar semuanya? /guling-guling/ ketemu lagi dengan kami-atau lebih tepatnya saya, ya, saya Tsukki:''D-di KnDS! *tepok tangan* Jadi, pertama-tama saya mohon maaf. KnDS sempat (bukan sempat lagi, tapi memang-_-) hiatus atau vakuum sekitar setengah tahun itu gara-gara saya orz. Jadi ceritanya saya kaget sama RL dan belum bisa adaptasi dengan baik, sehingga yah... begitulah /digiles/
Tapi setelah saya apdet chap ini, semoga kelanjutannya akan diapdet setiap bulan seperti biasa! Dan saya akan usahakan untuk tidak kembali ngaret yang berujung bakal hiatus hwe. /peluk nei/ /sungkem/
Oh iya, sekadar mengingatkan juga. KnDS itu settingnya di Jepang dan universenya KnB biasa (walau SMA dan SMP nya dibalik ya), tapi kadang bakalan nyampur sama setting Indonesia. Seperti UN, liburan semester tiap bulan Juli, dsb. Maklumi aja ya /o/
Dan terima kasih untuk yang masih nungguin dan pada baca :'''D sini tak peluk satu-satu /woe
.
Balasan untuk review yang enggak log in:
Aoi Hana: yup! Betul sekali!:D
Ariadna: YA KANNNN gitu tuh Nei sukanya, bikin yang manis manis sampe bikin klepek-klepek x'''D
Urneliza: Halo ur-san(?) Untuk request Himuro ditampung dulu ya dan emg banyak banget nih yang req diax33 ditunggu tanggal mainnya aja ya! Dan... saya sudah mengabulkan yang Midorima yaa wkwk tapi iyakah?:''' aduh kami jadi seneng kalo memang begitu:''' terima kasih sudah mau baca ya! Pasti akan kami pertimbangkan kok hehehe
