Readers!Chara—AU!TeikouHighschool dan semua chara mendadak satu sekolah—Timeline akademik mengikuti sistem Indonesia—Mungkin OOC demi kepentingan fanservice—maybe typos!—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Balasan review yang nggak login ada di paling bawah~
.
.
.
.
.
Akhir musim gugur tahun ketiga SMA adalah musim yang menyebabkan ke-baper-an massal para siswa SMA Teikou. Coba saja tengok aula olahraga di lantai dasar gedung ekskul, ada Nijimura—yang sekarang berstatus alumni—sedang mengumandangkan pidato-pidato pelepasannya sebagai kapten klub basket Teikou yang nantinya akan diserahkan kepada Akashi Seijuurou. Pidato pelepasan tersebut dibumbui dengan beberapa kalimat yang menggetarkan jiwa muda para juniornya sampai Kise meneteskan airmata haru—entah dianya yang memang mudah baper atau Nijimura yang terlalu menyentuh.
Tak hanya itu, klub voli yang sedang berkumpul di lapangan outdoor pun sedang dibakar semangatnya oleh sang ketua yang masa aktifnya di klub akan berakhir tahun ini, sehingga pada kejuaraan terakhir mereka harus mendapatkan kemenangan demi para senpai. Begitu pun dengan klub American football yang akan menghadapi Christmas Bowl di musim dingin nanti. Klub tenis juga sedang berlatih mati-matian. Klub renang—ah sudahlah, nanti lama-lama jadi crossover.
Intinya satu, ini adalah masa-masanya para senpai kelas tiga mengucapkan selamat tinggal kepada para juniornya.
Begitu pula yang akan terjadi pada klub surat kabar. Hyuuga dan Riko selaku kapten dan wakil kapten klub surat kabar sudah memutuskan bahwa bulan ini adalah bulan terakhir angkatan mereka aktif dalam klub—meskipun mereka sedang dalam perang dingin. Setelah itu, tentu saja akan ada pergantian jabatan.
Dan sekarang ruangan klub surat kabar sedang riuh akan kabar tersebut.
"Perhatian kelas dua!" Teriak Hyuuga mengambil perhatian para junior yang sudah dipadati seluruh anggota. "Masa jabat kami sebagai kelas tiga akan habis dalam waktu dekat ini, sehingga kami akan mengadakan pergantian jabatan."
"Pelatihan dan pergantian jabatannya akan dilakukan tepat setelah edisi bulan ini terbit ya~" Ucap Riko dengan riang, meski sedikit berkedok ganas dalam senyumnya.
Para junior pun serentak mereguk ludah. Pasalnya, mengerjakan artikel masing-masing saja sudah mati-matian setiap bulannya. Bulan ini langsung diserbu pelatihan yang terkenal dengan sebutan latihan dasar kepemimpinan atau LDK. Rasa-rasanya mereka takkan dapat istirahat bulan ini.
"Ya, ada pelatihan juga sebelum pergantian jabatan. Kalian akan menjalani pelatihan di suatu tempat yang sudah kami tentukan selama empat hari tiga malam, satu hari setelah edisi bulan ini terbit." Jelas Hyuuga. "Nanti kami akan menerbitkan edaran untuk orangtua kalian agar izinnya lancar, sekitar H-7 acara. Sekarang, kami akan membahas soal edisi bulan ini."
Seorang junior yang cukup peka menyadari adanya keanehan dalam kalimat Hyuuga. "Kami? Memangnya kita nggak ikutan bahas?" Bisiknya pelan kepada teman di sebelahnya.
Rupanya Hyuuga dapat mendengar bisikan tersebut. "Ya, kalian para junior tidak akan ikut pembahasan mengenai edisi bulan ini." Jawabnya santai.
"Sebagai hadiah dan 'persembahan terakhir', kami para anak kelas tiga akan mengerjakan keseluruhan edisi bulan ini!" Riko memutuskan untuk menyampaikan kabar bahagia itu dengan semangat.
Wajah para junior yang tegang mendadak kosong, ada juga beberapa di antara mereka yang sinis, tidak percaya dengan berita yang diucapkan Riko.
"Hei, hei, kok kalian tidak kelihatan senang sih? Ini sungguhan lho!" Seru Riko.
Junior-junior itu masih memandang Riko dengan tatapan tak percaya.
"Apa yang disampaikan Riko itu benar-benar benar kok—ah Kitakore!" Seru Izuki yang berusaha meyakinkan yang ujungnya dengan lawakan garing juga.
Seluruh senpai tersenyum. Setelah beberapa detik, seorang junior laki-laki pun bersorak girang memecahkan keheningan dan diikuti dengan sorak-sorai junior-junior lainnya. Tak disangka, ternyata di balik penderitaan mereka tiap bulan rupanya ada udang saus tiram di balik batu—Lezat. Apalagi tiap bulannya juga mereka mendapat sedikit gaji dari sekolah.
"Akan tetapi kalian tetap mendapat tugas. Bulan ini anak-anak kelas satu baru diperkenankan ikut klub dan kalian bertugas menjaring sebanyak-banyaknya anggota, terutama anak kelas satu!" Perintah Hyuuga. "Nah, sekarang kami akan merapatkan edisi bulan ini. Kalian boleh pergi, selamat bekerja!"
"Baik!" Seru mereka semangat. Para junior itu pun bernafas lega dan langsung keluar dengan wajah bahagia. Mereka mungkin masih harus membuat beberapa poster dan presentasi untuk menjaring anak kelas satu—tapi semua itu bukan apa-apa jika dibandingkan deadline maut Riko.
Setelah para junior habis tak tersisa di ruangan itu, anak kelas tiga yang berjumlah dua puluh orang itu langsung masuk dalam mode rapat formal.
"Akhirnya bulan ini datang juga ya ..." Ujar Koganei dengan alis berkerut. "Aku sudah terlalu terbiasa menyuruh junior nih ..."
"Benar juga ..." Gumam Riko. "Hmm ... yah apa boleh buat, ini sudah komitmen kita. Toh gaji bulan ini kan jadi milik kita semua."
"Hei, hei, berhenti mengeluh! Sekarang langsung saja kita bagi-bagi tugas. Koganei, kau menangani artikel acara-acara sekolah bulan ini. Izuki, untuk kali ini sementara kau akan menangani ... uh ... artikel humor." Ucap Hyuuga dengan sedikit tak rela.
Sebaliknya, raut wajah Izuki terlihat cerah. "Akhirnya! Aku akan membuat semuanya mengerti tentang betapa lucunya semua leluconku—tunggu Hyuuga, jangan batalkan tugasku!"
"Yah, pokoknya artikelmu akan diperiksa secara teliti dulu sebelum cetak. Mitobe, kau seperti biasa ya. Fotografer kami satu-satunya hanya kau di sini, tanpa junior-junior itu." Lanjut Hyuuga.
Mitobe mengangguk kalem, seperti biasanya juga.
"Miyamura, kau bertugas pada kolom karir masa depan dan tokohnya. Takao, kau akan mengerjakan kolom hobi dan berita-berita terbaru tentang dunia. Fujita, kau menangani desain sampul dan ilustrasi keseluruhannya bersama Mitaka dan Mashiro. Hara, kau akan menangani bagian fashion seperti keahlianmu dan ... bisa tolong atur bagian iklan juga? Wah, di saat seperti ini kadang-kadang baru sadar juga ya junior-junior itu banyak manfaatnya." Lanjut Hyuuga lagi.
Gadis bermarga Hara yang disebut Hyuuga tertawa kecil. "Roger!" Jawabnya.
"Oh ya, untuk beberapa anggota tambahan seperti kalian, maaf kali ini kami akan sangat membutuhkan partisipasi kalian." Hyuuga menunjuk tiga orang. "Liu, kau akan menangani artikel humor bersama Izuki, mengingat bahasa Jepangmu juga tak begitu baik tapi setidaknya kurasa kau bisa memberikan beberapa masukan untuk isinya. Nakamura, kau akan menangani artikel misteri dan zodiak—tonton saja acara apa itu yang suka tayang di pagi hari. Suzuki, kamu ... sudah tidak sibuk kan?"
Seorang gadis bersurai hitam di hadapan Hyuuga mengangkat kedua bahunya. "Yah, drama terakhirku sudah selesai dan pelatihan musim panas klub panahan serta ganti jabatnya pun sudah selesai, jadi aku sangat bebas. Lagi pula sudah biasa kok aku diberdayakan di klub ini ..."
Hyuuga jadi tak enak mengingat tugas tambahan yang iseng diberikan Riko kepada gadis itu dua bulan yang lalu, mengenai artikel idola. "Baiklah, kamu akan mengurusi kesekretariatan seperti biasanya, tapi kali ini secara keseluruhan dan tolong lakukan beberapa riset juga."
"Aku akan mengurus artikel olahraga dan memeriksa semua artikel yang masuk seperti biasa." Ucap Riko sambil mendelik dingin ke arah Hyuuga, tak memberinya kesempatan bahkan untuk mengucapkan namanya.
"Lalu, aku akan mengawasi kinerja kalian semua dan menangani artikel sejarah dan budaya. Ada yang keberatan?" Tanya Hyuuga diplomatis.
Semua saling berpandangan lalu menggeleng pelan. Hyuuga berniat menutup rapat direksi itu ketika pandangan matanya bersirobok dengan sebuah kotak yang teronggok di dekat mesin kopi klub—ini satu-satunya barang mewah bagi klub di samping beberapa komputer karena para anggota seringkali ditemukan berada cukup malam di sekolah terutama di masa dekat-dekat deadline. Kotak yang ditulisi besar-besar dengan tulisan 'Kumpulan request kolom Idola'.
"Astaga! Kita lupa soal artikel Idola!" Keluh Hyuuga begitu menemukan keberadaan kotak request itu. Ia segera bangkit dari duduknya dan mengambil kotak itu, lalu kembali lagi ke posisi semula. "Karena semua sudah kebagian tugas, jadi yang ini sukarelawan saja. Siapa yang mau menangani ini?"
Suasana pun menjadi hening. Suzuki dan Hara bahkan sudah memalingkan muka tidak suka. Para lelaki juga menampakkan muka malas karena tidak mau meliput idola yang biasanya hanya cowok-cowok populer isinya.
"Hm, sepertinya kita kurang satu orang—ah itu ... yang suka baca light novel itu ..." Ujar Riko sambil berusaha mengingat-ingat.
Hyuuga pun teringat orang yang sama. "Ah iya, Mayuzumi Chihiro. Dia sepertinya sering sekali absen sampai aku tidak sadar."
Fujita pun akhirnya mengingatnya. "Aku ingat dia! Mayuzumi itu kadang datang kok, hanya saja sedikit susah disadari keberadaannya. Dia selalu minum kopi dan membaca light novel lalu biasanya berpartisipasi membantu junior di artikel berita soal light novel populer dan semacamnya. Kadang di percetakan juga ia membantu macam-macam."
Suzuki ikut angkat suara. "Ah iya, aku ingat seringkali aku memberikannya jatah gaji kita ketika aku kebingungan kenapa ada yang berlebih—yang ternyata jatahnya dia."
Koganei pun berwajah iba. Kasihan juga si Mayuzumi yang jarang dilihatnya ini.
"Yah, setidaknya dia bekerja. Nah, untuk hukuman karena dia tidak datang ke rapat hari ini, kita beri dia tugas mengerjakan artikel idola." Hyuuga memutuskan dengan simpel. "Bagaimana?"
Riko yang sedang asyik menyortir request dari kotak pun tersenyum puas. "Iya, Mayuzumi saja."
"Baiklah, kolom itu akan diambil alih Mayuzumi. Yang lain akan mengurus percetakan dan distribusinya. Suzuki sebagai sekretaris merangkap bendahara akan mengawasi penjualan—"
Riko memotong ucapan Hyuuga seraya meletakkan request terakhir dari kotak. "Tenang saja, kurasa Mayuzumi itu akan membuat edisi kali ini tidak kalah hit dengan bulan lalu, kok."
Seisi ruang klub kecuali Riko pun berpandangan heran.
Gadis itu pasti (lagi-lagi) merencanakan sesuatu.
.
.
.
.
.
Kuroko no Dating Simulation :
Love Report!
Mayuzumi Chihiro x Readers!
.
.
.
.
.
First turn : He's Sora freak!
Kamu menghadapi bekalmu dengan helaan nafas berat.
Harusnya, bento dengan dua ebi goreng besar dan salad buah kesukaanmu bisa membangkitkan seleramu. Akan tetapi, pandangan-pandangan mata itu mengusikmu lagi. Pandangan mata yang masih sama dengan hari pertama sekolah setelah masa orientasi. Pandangan kagum, sinis, iri, bahkan sesekali ada juga cowok iseng yang memberikan pandangan genit.
Semuanya menyebalkan memang. Kamu sudah terbiasa dengan itu semua—terutama pandangan kagumnya—hanya saja jika itu di luar sekolah. Sekolah adalah tempatmu menimba ilmu dengan serius—walau sesekali izin—dan kamu benar-benar ingin menjadikannya tempat untuk mencari teman atau membangun kisah cinta yang normal ala anak remaja biasa. Padahal kamu sudah sengaja masuk sekolah biasa demi alasan itu, namun ini jugalah yang kau dapat.
Mau bagaimana lagi? Ini resiko yang kau dapat dari profesi sampinganmu sebagai idol remaja.
Kesal, kamu mengambil bento-mu lalu beranjak pergi ke kelas lain. Setelah menyusuri koridor kelas satu di lantai tiga, kamu turun dan menyusuri koridor kelas dua di lantai dua. Langkah-langkah kakimu mantap walaupun para senior ada yang tidak suka melihatmu berjalan dengan angkuhnya di situ. Kamu tetap berjalan dan berhenti di depan sebuah ruang kelas dua, lalu membukanya dengan percaya diri. Beberapa penghuni kelas yang ada di dalam sedikit terkejut walau kamu sudah sering ke sini. Kamu pun masuk dengan permisi lalu menghampiri meja seorang pemuda bersurai hijau yang sedang menatapmu kaku di balik kacamatanya.
"Ohayou—Midorin!" Kamu menarik kursi di depan mejanya dan duduk dengan santai di hadapannya. "Kacang merah lagi? Dasar maniak Oha-asa ..."
Midorima membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tidak merosot sama sekali. "Jangan panggil aku seperti itu, nanodayo. Aku ini kakak kelasmu dan aku tidak menemukan korelasi antara memakan kacang merah dengan maniak Oha—"
"Sudahlah, sudahlah~ Aku bosan mendengarkan ocehanmu. Omong-omong, bagaimana zodiakku hari ini?" Tanyamu seraya membuka kotak bekalmu.
"Leo ada di urutan keempat setelah Cancer. Lucky item-mu pita putih yang besar, itu mudah, apa kau membawanya?" Tanyanya datar.
Kamu memainkan surai merahmu yang menjuntai hingga setengah punggung. "Aku tidak suka pakai pita. Soalnya ... nanti aku tambah manis! Kan repot kalau kamu jadi suka padaku~" Serumu riang.
Helaan nafas berat Midorima menandakan ia sudah biasa dengan perilaku narsismu. "Ya, ya, ya, sudah kuduga." Ia mengeluarkan selembar kain putih lalu berjalan ke belakang kursimu. Dengan cekatan ia membuat rambutmu menjadi ponytail dengan kain tersebut sebagai pita putihnya. "Aku tahu zodiakmu ada di posisi dua, tapi kamu harus tetap memakai lucky item-mu nanodayo."
Wajahmu semerta-merta dibuat panas karena kelakuan Midorima. Tetangga sebelah rumahmu itu memang dingin, tetapi kelakuannya kadang membuatmu salah tingkah seperti sekarang ini. "Midorin, seisi kelas melihat kita, lho. Aku tahu sih kamu terobsesi denganku—tapi tidak perlu meperlihatkannya kepada para senpai di sini kan?" Ujarmu sedikit manja.
Seperti yang diduga dari para tsundere, Midorima langsung menjauh darimu dengan wajah memerah. "Si—siapa yang terobsesi denganmu, nanodayo! Ini cuma karena kamu tidak bisa mengurus lucky item-mu sendiri tahu! Kamu memang idola tetapi aku tidak terobsesi padamu, nanodayo!"
Kamu bangkit dari dudukmu lalu menghampiri Midorima. "Haaa'i, terserah deh. Ayo makan lagi. Istirahat siang hampir habis lho."
"Rasanya aku sudah tidak punya muka lagi di hadapan teman-teman sekelasku ..." Ujar Midorima sambil menutup wajahnya yang memerah dengan sebelah tangannya.
"Habis ini kamu malah akan lebih terkenal karena sering berdekatan dengan idola sepertiku lho~" Godamu sambil meraih bentomu lagi. "Oh iya ngomong-ngomong soal idola ... Apa di surat kabar sekolah ini ada kolom idola? Kadang aku suka mendengar teman-teman sekelasku membicarakan edisi bulan lalu."
Mendadak Midorima tersedak sup kacang merah kalengannya. Wajahnya tambah memerah lagi sekarang. "Abaikan saja, nanodayo."
"Karena penasaran aku pernah pergi ke ruang klubnya untuk membeli edisi bulan lalu ... tapi sudah habis. Sepertinya laris sekali ya. Dua bulan lalu malah sampai cetak berkali-kali—yah katanya sih itu karena kolom idolanya berisi Kise Ryouta. Kalau begitu, bulan lalu siapa ya? Sepertinya tidak kalah—"
"Hentikan! Tidak penting membahas hal seperti itu, nanodayo. Makan saja bento-mu." Potong Midorima cepat.
Kamu mengeluarkan ponselmu dari kantung rokmu. "Lalu aku mendapat fotonya dari contoh cetak edisi bulan lalu~ Jreng-jreng! Lihat pose si idola bulan lalu ini—Hahahaha!"
Kepala Midorima panas saking malunya. "Hapus foto itu, (your name)! Lu ... lupakan, nanodayo!"
Tawa jahilmu membahana. "Hahahaha—duh sebenarnya aku nggak tega sama kamu, Midorin. Tapi ... "
"Hentikan, nanodayo! Lebih baik kau kembali ke kelasmu sendiri—sebentar lagi bel masuk, nanodayo." Serunya dengan wajah serius. Ah, soal ketepatan waktu dia memang tidak pernah kompromi.
"Baiklah~ Ah, tunggu. Aku punya satu pertanyaan yang harus kau jawab dengan sungguh-sungguh." Ucapmu tiba-tiba serius.
Matanya menatapmu sebal. "Justru kau yang sering main-main nanodayo."
Kamu mengabaikan komentar Midorima dan langsung bertanya. "Aku sempat bertanya kepada anggota klub surat kabar dan mendapatkan informasi kalau yang meliputmu adalah perempuan. Kamu tidak punya hubungan khusus dengannya kan?"
Midorima melengos mendengar pertanyaanmu. "Itu tidak ada hubungannya denganmu, nanodayo. Kenapa selalu seperti ini setiap kali—"
"Tidak punya, kan?" Tanyamu lagi dengan penekanan. Wajahmu mendekati wajahnya untuk memastikan pemuda itu tidak berbohong.
"Tidak ... seperti kita ... nanodayo." Jawabnya lirih setelah berusaha mati-matian menghindar dari tatapan investigasimu.
Raut wajah serius yang sedikit mengeluarkan aura hitam itu mendadak berubah ceria. "Yak, baguslah kalau begitu~ Jaa mata ne, Midorin!" Serumu sambil melangkah riang keluar kelas dan membuat beberapa senior fansmu di kelas itu terpukau dengan senyum manismu.
Begitu keluar dari kelas Midorima kamu langsung berjalan cepat dengan angkuh di koridor kelas dua itu. Benar kata Midorima, sebentar lagi kelas siang akan dimulai dan ia benar-benar tidak boleh terlambat—selain karena tersiar kabar gurunya mengerikan, kamu juga sudah sering bolos pelajaran juga selama bulan-bulan awalmu di sekolah ini. Kamu mempercepat lajumu begitu mendekati tangga dan—
—tiba-tiba seorang gadis bersurai cokelat pendek menabrakmu sampai membuat keseimbanganmu hilang. Kamu nyaris terjatuh jika saja seorang pemuda bersurai abu yang naik tangga bersamanya tidak menangkapmu dengan kedua lengan kurusnya.
Sebelum kamu larut dalam momen ala manga shoujo dan menyadari jantungmu berdetak keras, pemuda itu mengembalikanmu ke posisi semula dan kamu dapat berdiri tegak.
Gadis yang menabrakmu pun buru-buru meminta maaf. "Waduh, maaf! Kamu tidak apa-apa? Eh tunggu, kamu kan ..."
Sebelum kalimatnya selesai kamu berdehem pelan. "Ehm, maaf, saya sedang terburu-buru." Potongmu singkat lalu kamu segera melesat dari tempat itu menuju kelasmu. Biar seorang idola, larimu hampir sama cepatnya dengan pelari jarak pendek tingkat kota. Dengan segera kamu menghilang dari pandangan kedua orang tersebut.
Sang gadis bersurai coklat menggerutu. "Apa-apaan anak itu? Sombong sekali, mentang-mentang dia artis."
Pemuda yang menolongmu hanya menampakkan ekspresi tidak peduli.
Gadis bernama Riko Aida itu tersenyum. "Tapi ... Kebetulan sekali, Mayuzumi. Mengenai artikel yang harus kau kerjakan ... Kamu baru saja bertemu dengan gadis yang harus kau liput dalam kolom idola. (Your name)-san, seorang idol yang sedang naik daun."
.
.
.
.
.
Bel pulang sekolah menggema ke seisi gedung sekolah dan membuat siapa saja yang mendengarnya menghela nafas lega. Pun dengan kamu. Hari ini adalah hari yang normal, setelah beberapa hari sebelumnya kamu tidak bisa menyelesaikan satu hari sekolah dengan baik dan benar karena panggilan pekerjaan. Lalu, hari yang normal ini akan diakhiri dengan normalnya pula jika kamu pulang bersama Midorima.
Ya, kamu dan Midorima selaku tetangga hampir selalu bersama-sama sejak SMP. Walaupun hubungan kalian agak merenggang sejak debutmu di kelas 2 SMP dan dia kelas 3 SMP, tapi kamu dan dia selalu bisa menemukan waktu bersama. Entah itu menonton Oha-Asa di minggu pagi, belajar bersama—walau lebih tepat dikatakan debat ilmiah karena kalian hampir sama pintar—sampai larut malam, sampai berduet dengan piano Midorima dan biola andalanmu. Apalagi pulang bersama. Kalian sudah lama tidak pulang bersama dan kadang itu membuatmu merasa resah karena jauh darinya.
"(y ... your name)-san, ma ... mau pulang bareng kami tidak?" Tanya seorang gadis yang mendekati mejamu dengan gugupnya. "Se ... selama ini kamu hampir selalu pulang duluan, padahal kami ingin mengajakmu bersama ..."
Kamu menatap gadis itu dan beberapa gadis lain di belakangnya yang menunggu jawaban aksi berani mengajakmu pulang ini. Raut wajahmu yang tadinya dingin mendadak tersenyum a la 'idol' dan berdiri sambil menggenggam tasmu. "Terima kasih banyak sudah mengajakku! Maaf, tetapi aku sudah ada janji dengan orang lain. Selamat tinggal!"
"A—ah benar juga ya, kamu pasti sibuk sekali dan banyak juga yang ingin bersamamu, hehe ... Ma ... maaf sudah menghambatmu ya, (Your name)-san." Ucapnya sedih.
Senyum manis kamu berikan padanya sebagai ganti permintaannya. "Ya, tidak apa-apa. Aku duluan ya, semuanya!" Serumu riang. Gadis-gadis yang ada di belakang gadis itu menatapmu kagum—mungkin terpukau dengan senyummu—dan para lelaki yang kebetulan melihat kejadian itu bahkan ada yang bersorak kegirangan karena melihat senyum artismu di kelas. Tidak mau repot dengan seru-seruan pemujamu, kamu segera pergi dari tempat itu.
Tarikan senyum di wajahmu langsung menghilang. "Jangan mimpi dia bisa menyeretku bersama kumpulan gadis-gadis munafik penggosip itu. Aku sudah punya Midorin. Aku tidak butuh mereka." Gumammu sebal seraya melangkahkan kakimu menuju gym klub basket di gedung ekskul. Sejak dulu, Midorima adalah pebasket handal dari klubnya. Kamu juga sudah biasa menungguinya selesai klub lalu pulang bersama. Namun, karena sejak masuk SMA Teikou kamu baru bisa pulang dengan tenang tanpa jadwal pekerjaan hari ini, kamu belum pernah melihat Midorima versi SMA dengan basketnya lagi.
Setelah melewati berpuluh pasang mata yang menatapmu kagum sebagai idola, kamu pun sampai di depan pintu gym klub basket. Tanpa ragu-ragu kamu membuka pintunya dan mendapati semua orang di dalamnya menatapmu kaget—pun dengan ketujuh pemuda bersurai warna-warni yang ada di tengah. Sepertinya kamu sedang menginterupsi rapat penting.
"(Y ... your name)rin?" Seru salah seorang pemuda di antara kerumunan itu.
"Hei benar, itu (your name)rin lho! Aku fans beratmu, (your name)rin~!" Teriaknya semangat.
Kamu melongo melihatnya. Hei, bukannya tadi mereka sedang rapat penting ...?
"(your name)rin! Jangan-jangan kamu ke sini ingin melihatku berlatih?" Seru salah seorang dari kerumunan pemuda itu yang menghampirimu dengan antusias. Kamu menatapnya lelah. Kenal juga tidak, kenapa kamu harus melihatnya latihan. Yang ada kamu ke sana untuk menunggu Midorima—
Dan pemuda bersurai hijau itu dengan tanggap menghampirimu dan membawamu keluar dari gym itu. Beberapa anak klub basket baru saja akan mengejarmu juga, namun Akashi Seijuurou langsung mengambil tindakan pencegahan.
Lalu tinggallah kamu dan Midorima Shintarou berdua di belakang gym klub basket.
"Apa yang kamu lakukan, (your name)? Tadi kami sedang rapat penting, nanodayo." Tegur Midorima.
Senyummu merekah. "Hee~ maaf deh, kan aku tidak tahu. Hari ini aku bebas, makanya hari ini kita pulang bareng! Aku akan menunggu Midorin selesai seperti biasanya, tenang saja!"
"Tidak usah, nanodayo. Lebih baik kau pulang bersama teman-temanmu atau minta supirmu untuk menjemputmu saja, kau kan sudah jadi artis jadi pasti tidak aman kalau pulang tanpa penjagaan." Tolak Midorima.
"Duh, masih saja malu-malu! Tapi itulah yang membuatmu menyenangkan, Midorin." Ucapmu gemas. "Kan ada kamu yang menjagaku selama ini."
"Aku tidak menjagamu, nanodayo. Aku hanya pulang bersamamu. Lagi pula latihan akhir-akhir ini akan lebih lama dari pada biasanya. Lebih baik kamu pulang sekarang dan istirahat dari pada menungguku, nanodayo." Kilahnya. "Nanti kalau kamu menungguku di sana juga malah akan mengacaukan seperti tadi, ingat kau ini kan idola."
"Oke, kalau begitu aku tunggu di atap saja sambil membaca novel." Balasmu ketus sambil berlalu dari pandangan Midorima.
"Tunggu, (your name), atap itu kan—"
"Aku tidak menerima penolakan!" Serumu dingin dan kau pun meninggalkan Midorima sendirian di sana.
Dengan kesal, kamu terus berlari ke dalam gedung ekskul dan naik sampai ke lantai teratas. Berkat kemampuan ingatan fotografismu, kamu sudah menghapal seluruh bagian sekolah ini hanya dengan sekali lihat peta. Di ujung akan ada tangga kecil menuju atap. Bagian ini begitu sepi dan nyaris tak terjamah orang, sepertinya. Namun kamu tetap maju dan naik ke atap.
Begitu kau buka pintu kecil menuju atap itu, angin langsung menerpa kuncir kudamu. Angin di atas cukup besar juga rupanya. Kamu masuk melewati pintu itu dan mendapati suasana sepi atap yang kau rindukan—karena selama ini selalu berbaur dalam keramaian sebagai idola—dan bahkan menemukan sebuah spot yang bisa dikatakan taman.
Ya, taman. Sebuah taman kecil beberapa petak di dekat pagar pembatas atap. Ada sebuah pohon lumayan besar ditanam di tengah-tengahnya dan sebuah bangku panjang yang menghadap ke arah pagar. Batinmu memekik senang. Luar biasa sekali sekolah ini! Jika ada taman senyaman ini bagaimana mungkin tidak ada seorang pun di sini?
Tapi, yah, itu kan keuntungan bagimu.
Kamu pun menghampiri taman itu dengan antusias dan duduk di bangku panjangnya. Dari situ kamu masih bisa melihat kegiatan klub berkuda dan American football dari sela-sela pagarnya. Angin di situ pun berhembus sangat pas, walau sedikit kencang jika dibandingkan di bawah. Langit musim gugur awal ini juga bersahabat dan terlihat indah dengan dedaunan kemerahan yang menghiasi pohon di atas kursi ini.
Suasana ini ... rasanya sempurna sekali untuk bernyanyi.
Novel yang rencananya akan kau baca mendadak terlupakan begitu saja di dalam tas jinjing yang kau bawa. Kamu menutup mata dan menikmati angin yang membelai rambutmu. Tak peduli ocehan Midorima soal lucky item Oha-asa, kamu pun melepas pita putih di rambutmu sembarangan dan mulai bernyanyi.
Lirik demi lirik kamu lantunkan penuh perasaan. Kamu teringat salah satu adegan di drama yang akan kau perankan nanti. Kamu sudah membaca script-nya dan menghafal semuanya, namun momen inilah yang kau rasa paling pas untuk memainkan adegan itu. Lagu yang kau nyanyikan inilah yang akan dinyanyikan sang tokoh utama yang akan kau perankan. Tokoh utama pertamamu sekaligus debutmu di dunia drama televisi.
Adegan itu menceritakan sang tokoh utama yang merupakan anggota paduan suara sedang sedih karena tidak diterima oleh kelompoknya karena di depan orang-orang ia terlalu gugup untuk bernyanyi dengan baik. Ia pun bergalau ria di atap gedung sekolahnya dan menyanyi sendirian di sana—yang jika sendiri saja maka suara aslinya yang indah akan keluar. Seorang pemuda yang kebetulan sedang tertidur di dekat sana terbangun lalu memeluk sang tokoh utama dari belakang dan mengatakan ...
"Aku menemukan malaikat di sini ..."
Tenggorokanmu tercekat mendengar ucapan itu. Lagu yang dilantunkan dengan merdu itu berhenti di tengah jalan. Kamu berbalik dengan cepat dan menemukan seorang pemuda bersurai abu yang siang tadi menolongmu sedang duduk di balik pohon. Sebuah light novel yang merupakan sumber adaptasi drama yang akan kau mainkan itu tergeletak di dekatnya sementara ia sendiri menatapmu datar, seperti saat pertama kali kalian bertemu.
"Kamu (your name), kan? Orang yang akan memerankan Sora-chan di adaptasi drama dari light novel Sora no Uta ini?" Tanyanya sambil mengangkat buku kecil itu. "Kuperingatkan saja, jangan menghancurkan karakterSora-chan dengan perangaimu itu."
"S ... Sora-chan ... Uh ..." Keluhmu ketika menyadari bahwa pemuda di depanmu ini adalah semacam otaku. "Ini memang pertama kalinya aku main di drama TV. Aku juga dipilih karena kemampuan menyanyiku yang memang luar biasa, bukan karena aktingku. Tapi, tidak ada yang tidak bisa kulakukan. Aku bisa memerankannya dengan baik."
Pemuda bersurai abu itu mengecohkanmu lalu tenggelam dalam bacaan light novel-nya. Kamu melirik bacaannya diam-diam. Ia sedang membaca halaman seratus lima belas.
"Hmph, kau saja baru membaca sampai halaman segitu sudah bicara macam-macam tentang karakternya." Sindirmu.
"Sora-chan itu manis dan pendiam, tidak angkuh sepertimu." Balasnya datar dengan tatapan mata masih tertuju pada bacaannya. "Lagi pula warna rambutnya biru langit yang berkilau, bukan merah sepertimu."
"Hah, aku akan memikat kalian semua dengan peranku, bukan dengan teknis seperti itu. Mustahil kalau kau ingin menyamakan diriku dengan wanita dua dimensi seperti itu." Kilahmu lihai.
"Banyak bicara dan angkuh, rasa percaya diri itulah yang akan menghancurkan karakter Sora-chan dalam peranmu." Ucapnya lagi bersikeras bahwa kamu tidak bisa memerankan Sora dengan sempurna.
Mulai kesal, kamu mendekat ke arahnya dan ikut duduk di hadapannya. "Jika aku dekat seperti ini, coba katakan padaku, apakah aku tidak mirip dengan karakter Sora?"
Kamu mengatur rambutmu agar bergaya sama dengan Sora dan mendekatkan wajahmu ke wajah pemuda itu. Saat ini kamu berusaha membuat kondisi dimana Sora tiba-tiba menemukan 'pangerannya' yang bernama Hikaru sedang tidur di sini dan ia ingin melihat sang pangeran lebih dekat serta membelai rambutnya. Kamu semakin mendekat dan pemuda bersurai abu itu tak juga bergeming. Tangan kananmu bersiap membelai rambutnya namun pandangan matamu mendadak turun ke arah bibir pemuda itu. Ada sebuah dorongan yang kuat untuk menyentuh bibir itu dengan bibirmu sendiri, namun ...
"Jika kamu menginginkannya, aku akan menciummu, tapi itu berarti kamu benar-benar gagal sebagai Sora-chan." Ucapnya ketika menyadari fokusmu berubah ke bagian itu.
Mendengar ucapannya, kesadaranmu kembali normal dan tanganmu langsung mengacak rambut pemuda itu dengan kasar. "Jangan mimpi kamu! Lagi pula aslinya Hikaru sedang tidur dan tidak akan bicara begitu."
"Aku tidak sedang berusaha menjadi Hikaru." Tegasnya.
Kamu diam. Yang barusan benar-benar pukulan telak.
"Jika aku menjadi Hikaru, aku akan menyadari kehadiran Sora dan bangun dari tidurku ..." Lanjutnya sambil tiba-tiba merengkuhmu dalam pelukannya. "Lalu memeluknya erat, dan merasa takkan melepaskannya lagi."
Dalam pelukan pemuda itu, wajahmu memerah malu seperti Midorima. Jantungmu berdetak lebih cepat dari pada saat kalian bertemu pandang pertama kali di tangga. Pelukan itu hangat di tengah angin yang bertiup dingin. Dan satu hal lagi yang kau sadari, jantungnya juga berdetak secepat dirimu saat ini.
Senyummu merekah begitu menyadari satu hal, pemuda ini pasti sedang berdebar karena dirimu.
Ia melepaskan pelukannya lalu menatapmu. "Mayuzumi Chihiro, kelas tiga. Mulai hari ini aku akan meliputmu untuk kolom idola surat kabar Teikou bulan ini. Mohon bantuannya." Ucapnya masih sedatar biasanya.
Kamu berusaha tersenyum semanis yang kamu bisa. "Mohon bantuannya juga, Mayuzumi-san."
.
.
.
.
.
Second turn : Surprisingly, She's Red Hair Sora.
Hari ini adalah hari pelajaran bebas bagi kelas 12-3 Jurusan IPA. Yang dimaksud dengan hari pelajaran bebas ini adalah hari dimana anak-anak bebas memilih pelajaran dan tempat mereka akan belajar, dengan syarat harus ada guru yang mengawasi mereka belajar dan lokasinya harus di area sekolah. Pada masa-masa awal semester baru ini tentu saja yang menjadi tempat favorit para murid adalah kantin, namun ada juga beberapa yang memilih perpustakaan karena referensinya banyak, di kelas mereka sendiri juga ada, di laboratorium juga ada, bahkan ada beberapa yang mengikuti jam pelajaran kelas lain.
Mayuzumi Chihiro dengan bijaknya memilih meja resepsionis lobby sekolah sebagai tempat belajarnya.
"Ano ... Maaf, saya tidak bisa ditanyai soal biologi lho." Ucap seorang guru muda pengajar ekonomi yang sedang bertugas piket di meja resepsionis di pagi hari menjelang siang ini.
"Saya juga tidak bertanya kepada Sensei. Saya sendiri tidak punya banyak pilihan selain memilih tempat ini karena tempat lain terlalu ramai. Sensei hanya perlu melakukan tugas piket jaga seperti biasa saja." Balas Mayuzumi dengan pandangan mata masih ke dalam buku biologi yang dibawanya.
Sejujurnya, kalimat tersebut sedikit menohok kokoro sang sensei.
Karena tugas jaga piket di meja resepsionis sangat membosankan dan murid di sebelahnya ini terlihat begitu serius belajar sendiri, sang sensei memilih untuk membaca surat kabar SMA Teikou bulan lalu yang teronggok di laci meja. Ia yang mulai mengajar semester ini baru pertama kali melihat surat kabar tersebut. Dengan asyik ditelaahnya satu per satu halamannya dan tanpa sadar sedikit kelepasan fangirling melihat ketampanan murid berambut hijau yang dimuat di kolom idola bulan lalu. Ia lalu meneruskan membaca sampai beberapa halaman terakhir.
"Surat kabar ini bagus sekali, kontennya mencakup dari berbagai kalangan, dari murid sampai guru. Pengetahuannya juga banyak." Komentarnya.
Iris abu Mayuzumi melirik datar ke arah sang sensei mengingat fangirling-nya tadi.
"Wah, mereka juga membahas masing-masing kru di edisi ini ya ... Banyak juga ... Lho ... Tunggu ... Ini bukannya fotomu? Kamu anggota klub surat kabar?" Tanyanya ke arah Mayuzumi sambil menunjuk sebuah foto kecil yang letaknya di pojokan.
Merasa tidak tahu apa-apa soal fotonya akan muncul, Mayuzumi meninggalkan bukunya sebentar dan melihat bagian surat kabar yang ditunjuk sang sensei. Ya, di sana ada foto Mayuzumi—yang pasti diambil dari foto resmi yang ia serahkan ke klub sebagai pendaftaran dua tahun lalu—dan beberapa kru surat kabar lain. Untunglah tidak ada yang aneh-aneh, hanya ada fotonya sebagai anggota saja. "Ya, saya anggota." Jawabnya singkat.
"Wah, kalau begitu siapa yang akan muncul di kolom idola selanjutnya, Mayuzumi-kun?" Tanyanya mulai sok akrab, padahal nama Mayuzumi saja baru tahu dari lihat surat kabar itu.
Tanpa sadar Mayuzumi mendecak kesal mendengarnya. Ia jadi teringat kembali tugas meliput si idola bersurai merah yang sombong itu. Kemarin ia memang sudah bilang akan meliputnya di depan orangnya sendiri—pakai tersenyum segala pula—namun itu semata-mata dilakukannya karena ... Karena ...
Karena entah kenapa gadis itu kemarin mendadak menjadi sosok Sora yang sangat disukainya.
"Duh, gawat! Mayuzumi-kun, kau bisa gantikan aku sebentar? Aku harus mengambil charger di ruang guru. Nanti kalau ada yang mau izin, ambil surat izinnya, lalu kamu tanda tangani saja dengan sistem atas nama." Sang sensei gelisah melihat baterai ponsel pintarnya yang sudah merah. "Tolong, ya!" Ucapnya buru-buru.
Kini tinggal Mayuzumi seorang di resepsionis lobby yang lengang. Merasa lebih sepi lagi dari pada sebelumnya, pemuda berhawa tipis itu menyibukkan diri lagi dengan buku biologinya dan tanpa sadar menghilangkan hawa keberadaannya. Beberapa orang yang sempat melewati lobby pun sepertinya hampir tak sadar akan keberadaan dirinya. Ia menemukan ketenangannya, sampai kamu datang tergopoh-gopoh ke meja resepsionis.
"Permisi! Saya (your name), mau izin tidak mengikuti sisa pelajaran sekolah sampai pu—whoa! Kamu yang kemarin!" Tunjukmu ke arah Mayuzumi yang mengangkat pandangannya dari bukunya dengan enggan. "Mayuzumi-san kan? Guru piketnya mana? Aku mau izin kerja."
Tanpa bicara Mayuzumi memberikanmu kertas perizinan keluar dari area sekolah selama jam pelajaran serta bolpoinnya. Kamu mengambilnya dan mengisinya dengan cepat karena manajermu sudah menunggu dengan gelisah. "Aku hampir terlambat. Sudah lama tidak sekolah membuatku jadi terlalu semangat belajar sampai lupa harus izin di jam pelajaran keempat. Alhasil sekarang aku—tunggu. Kenapa aku harus cerita padamu?" Cerocosmu sambil mengisi kertas perizinan itu.
Mayuzumi menatapmu datar dan tidak memberikan tanggapan apapun. Ia bersiap menandatangani dan mengesahkan perizinanmu, namun kamu menghentikannya. "Hei, kok kamu yang tanda tangan? Harusnya kan guru piket? Guru piketnya mana? Cepat, aku nyaris terlambat, nih!"
Tangan Mayuzumi langsung berhenti lalu menaruh bolpoinnya di meja. "Guru piketnya sedang kembali sebentar ke ruang guru—" ia melirik jam dinding besar di lobby yang sudah berjalan setengah jam sejak kepergian sang guru piket yang katanya hanya ingin mengambil charger. "—dan kurasa ia takkan kembali secepat yang kau mau. Ia menitipkan segala urusan di sini padaku, jadi aku bisa mengizinkanmu pergi kemanapun itu dengan tanda tanganku." Jelasnya.
Kamu mengerutkan kening tak percaya. "Serius? Wah. Memangnya kau ini siapa sampai diberi wewenang begitu? Anak kepala sekolah? Anak direktur sekolah? Anak komite sekolah? Sama sekali tidak kelihatan seperti itu." Komentarmu yang langsung teralihkan fokusnya dari waktu.
"Hmph," refleks, senyuman menahan tawa Mayuzumi lolos dari benteng muka datarnya. "Sepertinya kamu terlalu sering menghibur orang sampai birokrasi remeh begini saja tidak paham." Ia menandatangani kertas izinmu lalu menorehkan coretan a/n di samping atas tanda tangannya. "Ini namanya sistem atas nama. Aku menandatangani izinmu atas nama guru piketnya, dengan seizinnya dulu sebelumnya."
Wajahmu memerah malu. Kamu yang terkenal pintar dalam hal akademik ini jadi terlihat bodoh di depannya. Memang sih, dia itu sudah kelas tiga dan kamu baru kelas satu. Tapi tetap saja kamu tidak mau terlihat bodoh di hadapan siapapun!
"Baiklah. Sekarang berikan surat itu agar aku bisa segera pergi." Perintahmu dengan angkuh.
Mayuzumi memandangmu lekat-lekat. "Karaktermu itu lebih cocok menjadi Maririn yang menjadi rival Sora-chan, tahu." Komentarnya.
"Maaf saja, penciptanya yang memilihku untuk menjadi Sora. Dengan kata lain ia lebih tahu kalau aku mampu menjadi Sora, tahu!" Bantahmu kesal. "Kamu tidak bisa menilai dari sifat keseharian aktrisnya. Yang penting saat berakting aku memerankannya dengan sempurna."
"Makanya, setidaknya kau bisa bersikap seperti Sora-chan sedikit di hadapan fans-nya." Keluh Mayuzumi. "Kau membuatku kecewa duluan."
Samar-samar terdengar manajermu memanggilmu dari parkiran sekolah.
"Oh, astaga! Berdebat denganmu membuatku semakin terlambat!" Keluhmu. Tapi kau sadar, jika bersikap seangkuh biasanya, otaku di hadapanmu ini pasti semakin bawel mengeluh soal gadis dua dimensi pujaannya yang akan kau perankan nanti itu.
Jadi kau berusaha menjadi Sora dalam sekejap. Kamu memiringkan kepalamu sedikit ke kiri dan memilin rambut merah panjang bergelombangmu dengan gestur lemah lembut. "Mayuzumi-san, maaf, bisa kuminta surat izinnya? Aku ... Aku takut akan terlambat dan mengecewakan semuanya ..." Bujukmu yang sedang menciptakan karakter Sora di dalam dirimu.
Senyum Mayuzumi timbul dengan puasnya. "Usahamu bagus, tapi aku tidak akan mempercepat ini hanya dengan upah sesuatu yang seharusnya memang kau lakukan. Aku punya urusan lain denganmu. Kapan punya waktu luang?" Tanyanya yang ingin bernegosiasi.
"Urusan? Ah, artikel untuk kolom idola, ya." Kamu berusaha keras menahan karakter Sora di dalam dirimu agar tidak memancing perdebatan tak berarti lebih lama lagi. "Umm ... Sampai hari minggu ini aku benar-benar sibuk syuting, karena pekan depan adalah pekan ulangan bagi kelas satu. Oh ya, ada kertas kosong?"
Mayuzumi memberimu secarik kertas kecil tak terpakai dan kamu meraih bolpoin di dekatmu dan menulis sesuatu.
"Kalau begitu, hari jumat minggu depan." Putus Mayuzumi seenaknya. "Pastikan waktu dan tempatnya, aku tidak punya waktu lagi."
Kamu selesai menulis dan menyerahkan kertas itu kepada Mayuzumi. "Ini alamat e-mailku. Sisanya biar lewat sini saja. Aku sedang sangat terburu-buru, Mayuzumi-san. Aku benar-benar memohon."
Kertas itu diambil Mayuzumi dan dipandanginya lekat-lekat alamat e-mailmu seakan-akan kau akan menulis alamat e-mail palsu di situ. Setelah percaya, ia memberikan kertas izinmu lalu kamu bergegas lari dari resepsionis lobby. "Terima kasih dan permisi!" Teriakmu.
Lalu langkahmu terhenti sebentar dan menengok ke belakang lagi. "Oh ya, Mayuzumi-san. Tolong jangan simpan e-mailku di kontakmu dengan nama Maririn yang menyebalkan itu. Makasih." Serumu memberikan ultimatum serius.
Seringai tipis terbentuk di wajah Mayuzumi yang biasanya datar lalu ia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan e-mailmu untuk dimasukkannya ke dalam daftar kontak. Kamu sudah melenggang pergi dan masuk ke dalam mobilmu. Pemuda bersurai abu-abu itu menyimpan alamat e-mailmu dengan nama 'Sora'.
"Sora yang berambut merah menyala. Lemah lembut tetapi tegas dan cerdas." Gumam Mayuzumi sambil menerawang ke arah luar. "Tidak mirip Sora-chan, tapi ... tidak jelek juga ..."
.
.
.
.
.
Third turn : As Sora, He's not my Hikaru ... But ...
Selama enam hari berikutnya, kegiatan yang ada di kepalamu hanya menuntaskan syuting, syuting, dan syuting. Untungnya, berkat kerja keras dan keharmonisan kerja sama kru beserta pemeran, dalam jangka waktu enam hari berhasil didapatkan beberapa episode yang siap tayang utuh dan beberapa puluh frame dengan peranmu di dalamnya untuk beberapa episode ke depannya. Absenmu jadi sedikit terlantar—bolos penuh dua hari dan setengah hari izin selama satu hari—akan tetapi kamu percaya diri nilai-nilaimu akan tetap berada di puncak.
Sore yang sudah mulai dingin di hari minggu ini, syuting frame terakhirmu di sesi ini, akhirnya berakhir. Manajermu masih harus mengurus beberapa hal di lokasi dan beberapa pemain lain pun masih ada jatah frame yang belum selesai diambil, jadi lokasi syuting masih cukup ramai. Kamu pun beristirahat dan mengecek ponsel pintarmu. Selama enam hari ini kamu tidak memerhatikannya dengan baik dan hanya mengecek sekilas apakah ada pesan dari orang tuamu atau Midorima. Orang tuamu sesekali menelepon dan kamu mengabarinya seperlunya, tapi Midorima sama sekali tidak menghubungimu.
Kamu menggembungkan pipimu dengan kesal. Sebenarnya yang sangat sibuk di sini, siapa sih? Padahal kamu sengaja tidak mengabarinya sebelum sesi syuting sibuk ini berlangsung supaya Midorima setidaknya menanyakan apa yang sedang kamu lakukan karena sudah enam hari tidak mengganggunya. Status teman tetangga dekat sejak SMP rupanya tidak otomatis membuat hubungan keduanya akan selalu sedekat dulu—padahal rumah mereka pun masih berdekatan.
Waktu memang pemisah yang mengerikan.
Setelah memastikan kotak masukmu bersih dari pesan-pesan tidak penting, tiba-tiba sebuah pesan bertajuk penting masuk. Sebuah pesan dari alamat e-mail yang sempat kau sangka akan norak seperti halnya otaku lainnya—alamat e-mail Mayuzumi—ternyata normal-normal saja.
Pesannya sedatar ekspresi penggunanya, 'Apa kabar?' katanya.
"Penting apanya." Ujarmu gusar namun senyum puas tersungging di bibirmu. "Rupanya dia tahu juga cara berbasa-basi."
'Aku baru selesai syuting. Pas sekali.' Jawabmu, tak mau terlihat sedikit antusias karena setidaknya ada yang menghiburmu sedikit saat lelah ini.
Balasannya datang tidak sampai dua menit kemudian. Sepertinya ia juga sedang tak melakukan apapun selain memegang ponselnya. 'Aku selalu tahu kapan Sora-ku selesai.' Katanya. Wah, gombal banget. Tapi, mengingat dia itu adalah maniak, kamu langsung mengerti bahwa Sora yang dia maksud pasti ya si karakter dua dimensi yang kau perankan itu baru selesai, dan kamu kembali pada karakter aslimu.
E-mail balasan dari Mayuzumi tak selesai sampai di situ. Ada lampiran gambar sebuah gedung sekolah—gedung sekolah yang kau pakai syuting—dengan perbandingan sebuah gedung sekolah dalam illustrasi light novel. 'Kau syuting di sini, kan? Akademi Midorigaoka.'
Wah, benar-benar maniak—atau fans—sejati rupanya, si Mayuzumi itu. 'Iya. Kau sampai menyelidikinya lewat internet atau apa? Mengerikan.' Komentarmu sambil menahan tawa.
'Itu sekolah adik perempuanku.' Jawabnya. Ugh, kamu jadi malu karena sudah menuduhnya seenaknya. 'Syuting sampai di kelas-kelas, kan? Adikku meninggalkan light novel limited edition yang harusnya kubaca malam ini di kolong mejanya. Aku mau mengambilnya. Kelas 2-E dibuka, nggak?' Katanya.
What? Jadi adik perempuannya pun sama maniaknya dengan kakaknya? Sheesh, kakak-adik otaku!
Omong-omong, kelas 2-E ya? Kelas itu dipakai untuk menaruh beberapa peralatan syuting dan barang-barang para kru. Meja-meja dan kursinya disingkirkan. Wah, Mayuzumi pasti tidak akan bisa masuk ke sana seenaknya. Berarti, ini waktunya membuat dia berhutang budi padamu!
'Iya, tapi dipakai buat tempat barang-barang kru. Kamu pasti nggak boleh masuk. Kuambilkan ya.' Tawarmu sok baik. Lihat saja, pemuda itu harus membayar mahal atas bantuanmu.
Alih-alih berterima kasih, pesan balasan yang dibalas tak sampai satu menit itu hanya berisi satu kata. 'Ya.' Balasnya super singkat.
Dengan gusar, kau meminta izin para kru untuk memasuki ruangan tempat barang-barang mereka disimpan. Kau katakan ada barangmu yang tertinggal di dalam sekalian izin pulang duluan dan mereka mengizinkanmu dengan mudahnya setelah mendapat serangan senyum idol-mu. Setelah mencarinya beberapa menit, kau menemukan sebuah light novel di salah satu kolong meja yang masih sangat bagus kondisinya. Puas karena bisa membuat Mayuzumi berhutang budi padamu, kau melenggang keluar dengan riang dan kembali ke ruang istirahatmu. Manajermu mengajakmu pulang, namun kau minta ia tunggu karena ada suatu hal yang harus kamu lakukan sebentar.
Kamu menunggu Mayuzumi di gerbang akademi Midorigaoka karena tak ingin para kru atau pemain mengetahui keterlibatanmu dengan seorang laki-laki yang tak mereka kenal. Pasti akan jadi gosip atau malah skandal—dan itu sangat tidak baik di tengah-tengah karir cemerlangmu. Untungnya sekitar setengah jam kemudian Mayuzumi datang—dengan sebuah mobil keluaran jerman yang tampak mewah.
Wajahmu tak dapat menyembunyikan kekagetanmu tatkala pemuda berhawa tipis itu turun dari kursi pengemudi dengan kaus tiga per empat lengan santai dan celana parka sebetis. Ia memainkan kunci mobil mewah itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menagih light novel di tanganmu. "Sini LN-nya." Tagihnya datar.
"Ah? Oh, ini, oke." Tanggapmu salah tingkah setelah sadar dari pesona Mayuzumi dan mobil mewahnya. "Ngg ... Itu nggak habis ngebajak mobil dari mana ... gitu kan?"
Mayuzumi menatapmu dengan tatapan lelah.
"Ahaha ... Bercanda." Tidak mau kelihatan bodoh, kamu mengaku bercanda. "Jadi ... Karena kamu sudah membuatku susah payah mengambil benda ini, kau berhutang padaku satu ya, Mayuzumi-san." Ucapmu puas.
"Ya, ya, ya. Mau apa? Makan malam mewah? Baju-baju mahal? Kue? Jalan-jalan? Sebut saja." Serunya santai. Wah, gila. Sepertinya dia benar-benar seorang tuan muda. Tingkahnya jadi seperti seorang pangeran arogan di game dating simulation. "Bilang saja apa yang kau inginkan di perjalanan. Aku akan sekalian mengantarkanmu pulang."
Sekalian mengantarkanmu pulang? Rasanya kau jadi sedikit tidak enak menagihnya hutang balas budi kalau dia mengantarmu pulang—terlebih lagi dengan mobil keren ini! Sialan, siapa sih Mayuzumi ini?
Biarpun sangat ingin, tapi kamu merasa harus bergengsi sedikit untuk menolak tawarannya. "Makasih, tapi aku pulang sama manajerku saja. Hal remeh begini sudah cukup untuk membuat skandal." Tolakmu diikuti dengan gerakan tanganmu yang akan menelepon manajermu.
"Skandal ... ya?" Gumamnya. "Memangnya pulang bersama pemuda berambut hijau itu tidak menyebabkan skandal untukmu?"
Mata beriris merahmu langsung mendelik ke arah Mayuzumi dengan tajam. "Kalau dia itu bukan kebohongan, tentu saja tidak apa-apa." Jawabmu dingin. Untung teleponmu dengan manajer belum tersambung.
Mayuzumi mengangguk paham. "Oh. Jadi dia Hikaru-mu." Komentarnya singkat. "Ya sudah, aku pulang."
Teleponmu terputus secara sepihak. Beberapa detik kemudian muncul sebuah pesan dari manajermu yang mengatakan bahwa ia dikabari mendadak bahwa saudaranya meninggal, sehingga ia sekarang sedang bersiap pergi di dalam dan tidak bisa mengantarmu pulang. Dengan cepat, tangan kirimu yang bebas menahan lengan kaus Mayuzumi.
"Apa?" Tanyanya datar.
"Biarpun aku menjadi Sora pada beberapa saat, tapi aku bukan Sora." Ucapmu. "Jadi, dia bukan Hikaruku. Dia Midorimaku." Tegasmu.
Ia membuang pandangannya, tak acuh dengan perkataanmu. "Ya, terserahlah."
"Lalu ... soal tawaran mengantarku pulang tadi ... masih berlaku?" Tanyamu sedikit segan.
Senyum Mayuzumi mendadak terlihat menawan di wajahnya. "Oh, yaa ... Silakan masuk ke dalam mobilku, lalu panggil aku Hikaru-sama tiga kali di dalam, dengan karakter Sora."
Kamu menatap pemuda berhawa tipis itu dengan horor. "Apaa? Dasar maniak! Jika menjadi Sora pun, aku takkan menjadikanmu sebagai Hikaru—apalagi memanggilmu dengan suffix –sama! Hih! Hikaru tidak gila hormat, tahu!" Omelmu dengan sebal.
Dia tertawa lepas, suatu hal yang tak kau bayangkan bisa dilakukan oleh orang semuram dan sedatar Mayuzumi. "Bercanda." Katanya sembari menutup mulutnya untuk menahan tawanya. "Masuk, sebelum aku berubah pikiran."
Dengan gusar kau pun masuk ke dalam mobil mewahnya yang tanpa atap itu. Kau sempat terpana sesaat melihat interior dalam mobilnya yang benar-benar menakjubkan menurutmu. Saat akan memakai seat belt, pemuda bermata sayu itu menghentikan tanganmu lalu menyodorkan sebuah sweater yang cukup tebal. "Pakai." Katanya. "Udaranya sudah cukup dingin dan aku tidak berniat memakai atapnya."
Kamu menerima sweater itu dengan sedikit tersipu. Tampak label harga di yang terlihat diputus dengan terburu-buru tergeletak di dekat persneling mobil itu. Jangan-jangan dia baru saja membeli sweater itu untuk dirinya? Wah, wah, konspirasi apa ini? Apa dia ... sedang mendekatimu?
Mobil itu pun akhirnya berjalan pelan di daerah dekat akademi dan mulai bertambah kecepatannya di jalan raya yang lengang. Saat kalian berhenti di lampu merah, tampak beberapa orang memerhatikan kalian dengan tatapan kagum dan heran. Mayuzumi tampaknya peka dengan keadaan itu dan menutup atapnya dan menaikkan kaca mobilnya dengan kaca gelap. "Ahh, sial. Aku lupa kalau aku sedang mengantar seorang idol pulang." Gumamnya gusar. "Pakai mobil ini pun sebenarnya sudah cukup mencolok, tapi aku terlanjur nyaman dengan ini, apa boleh buat ... huft."
Ia menengok ke arahmu. "Yang barusan nggak bakal bikin skandal kan?" Tanyanya serius.
Kamu tersadar dari lamunanmu. "Ah? Tadi ada yang merhatiin ya? Ahaha, nggak kok. Nggak apa-apa."
Mayuzumi menanggapi responmu dengan tatapan tak percaya, tapi ia memilih untuk mengabaikanmu dan terus jalan.
"Omong-omong ... Memangnya kau tahu dimana rumahku, ya?" Tanyamu.
"Nggak. Kita pergi ke rumahku sebentar." Jawabnya singkat. "Dengan begini, utang budiku padamu akan bertambah, kau nggak mau?" Tanyanya menantang.
Kamu mengerucutkan bibirmu dengan sebal. Pemuda ini ... benar-benar menantangmu! Sebaiknya kau memikirkan hal yang benar-benar hebat sebagai balas budinya!
"Untuk apa?" Tanyamu angkuh. "Sebaiknya ini cepat karena aku capek habis syuting."
Ia menyeringai samar. "Well, adikku mau ketemu kamu. Dia juga suka sama Sora-chan dan penasaran cewek angkuh seperti apa yang memerankannya." Jawabnya santai. "Sweater barusan juga salah satu sweater yang dipakai Sora-chan di chapter 21 dan adikku yang membelikannya untukmu."
What? Benar-benar abnormal kakak beradik itu, pikirmu.
.
.
.
Begitu sampai di rumah Mayuzumi, kamu tidak kaget melihat rumah mewahnya. Mobil keluaran jerman itu sudah berbicara tentang tingkat kekayaan keluarganya. Awalnya kamu sudah bersiap menghadapi fans cewek otaku yang aneh berkacamata dan suram seperti Mayuzumi, tapi nyatanya adik perempuan Mayuzumi bahkan bisa menjadi model remaja kalau ia mau—cantik dan manis. Pantas saja Mayuzumi jadi sisukon.
Kamu dan adik perempuan Mayuzumi berbicara banyak hal. Rupanya ia banyak tahu dan jadi nyambung denganmu walau setelah kau mengenalnya lebih jauh lagi ia sama maniaknya dengan kakaknya. Kalian dengan asyik berbincang sembari menikmati fasilitas yang disediakan untukmu yang lelah sehabis syuting—spa? Massage? Sebut saja semua fasilitas relaksasi yang diimpikan wanita. Sekarang kamu sedang mencicipinya.
Lalu tak terasa sudah tiga jam kamu menghabiskan waktu dengan adik perempuan Mayuzumi sambil menikmati fasilitas relaksasi, makan malam, dan berbincang banyak hal menyenangkan dengannya. Kamu masih tidak begitu paham minatnya tentang semua hal berbau dua dimensi yang disukainya, tapi sejauh ini kalian bisa dibilang akrab. Setelah itu, ia pamit ke kamarnya untuk mengerjakan tugas dan kamu ditinggal berdua dengan Mayuzumi di ruang tamu di lantai satu.
"Mmm ... Terima kasih untuk hari ini." Ucapmu tulus. "Adikmu benar-benar menyenangkan dan aku bahkan tak merasa sedang berhadapan dengan fansku."
Ia mengangguk kalem. "Sama-sama. Sekarang sudah jam delapan malam, ayo kuantar pulang."
Perlahan kamu pun mengikuti Mayuzumi ke halaman rumah. Mobilnya masih diparkir di sana.
"Tadinya aku mau sekalian mewawancaraimu untuk artikel—ingat? Tapi sekarang sudah malam, jadi sesuai kesepakatan awal saja, hari jumat." Ujarnya sambil masuk ke dalam mobil.
Kamu membuka pintu mobilnya. "Sambil di jalan saja. Rumahku agak jauh dari sini. Cukup kok buat wawancara singkat."
Mayuzumi memakai seat belt-nya dan menyuruhmu menaruh lokasi rumahmu di gps yang sudah diaktifkan di mobilnya. "Bagus. Semakin cepat ini berakhir, semakin baik."
Jari telunjukmu menyusuri gps itu untuk mencari lokasi rumahmu. "Hm? Kenapa ingin cepat berakhir?" Tanyamu.
"Karena ..." Mayuzumi menghentikan ucapannya sebentar. "... Berada di dekatmu itu membuatku terlihat. Aku tidak suka itu."
Mendengar jawaban itu, kamu memandang Mayuzumi dengan sedikit sedih. Benar juga. Sejauh ini ia berbuat banyak hal untukmu hanya karena artikel yang harus dikerjakannya dan karena kamu berperan menjadi karakter light novel yang disukainya. Ia kan memang seorang penyendiri jadi wajar saja kalau ia tidak suka berada di dekatmu yang seorang idol mencolok.
Tidak, tidak! Kenapa harus sedih? Dia itu kan bukan siapa-siapa. Tidak seperti Midorima, dia benar-benar bukan siapa-siapa.
Sebagai Sora pun, dia bukan Hikarumu.
"Aku sudah mengaktifkan perekamnya. Jadi, mari mulai wawancaranya ..."
.
.
.
.
.
Fourth Turn : I may hate the spotlight, but she's my exception.
Hari jumat, lima hari setelah pertemuan terakhir Mayuzumi denganmu—yang diakhiri dengan wawancara—artikel itu belum selesai juga. Riko sudah mengoceh panjang lebar soal ketiadaan artikel kolom idola di antara dua artikel lain yang juga belum selesai, tapi Mayuzumi berhasil menghindar beberapa kali dengan hawa keberadaannya yang tipis. Seharusnya semua data yang ia butuhkan untuk menulis artikel tentangmu sudah ada. Ia pun bukan orang yang tidak bisa merangkai kata untuk membuat sebuah artikel.
Masalahnya satu, ia tidak tahu apa masalahnya!
Ia tahu, selama satu minggu itu, adik perempuannya masih menjalin kontak dengan asyiknya bersama gadis itu lewat social media. Hal itu mengatakan bahwa kamu sama sekali tak direpotkan dengan pekan ujian itu. Kamu tidak sibuk, tapi apa pula urusannya itu dengan Mayuzumi? Apa pemuda itu masih terobsesi membuatmu menjadi sesempurna Sora dalam pembuatan adaptasi drama light novel itu? Tidak. Seharusnya itu semua tidak memusingkan Mayuzumi.
Kamu mungkin tak sesempurna Sora, tapi kadang kala bisa terlihat semanis Sora—akunya. Sifat aslimu lebih mirip Maririn, atau Luna, Karin, Iori—karakter lain di light novel kesukaan Mayuzumi yang lain—dan entah siapa lagi. Tapi entah sejak kapan pula ia jadi terpaku pada karaktermu, dan poin utamanya adalah ... kamu nyata.
Jadi, selagi kabur dari Riko sepulang sekolah ini, Mayuzumi memikirkan hal itu dan takdir dengan jahilnya membuatnya melihatmu pulang bersama seorang pemuda berambut hijau bernama Midorima Shintarou.
Tanpa sadar langkahnya berhenti. Di lobi, ia memerhatikanmu yang berjalan di samping Midorima dengan wajah bahagia—benar juga, Mayuzumi harus menyerah karena sejak awal yang berada di dalam hati gadis itu hanya teman sejak SMP-nya itu—sampai tahu-tahu matamu membulat kaget dan wajahmu pias melihat seorang gadis berambut hitam berkuncir kuda menghampiri Midorima dan langsung memeluknya tanpa permisi.
Mayuzumi tahu gadis itu. Ia adalah teman seangkatannya yang juga rekannya di klub surat kabar. Midorima langsung melepas pelukannya dengan wajah memerah malu dan gadis itu tertawa tanpa beban di sampingnya. Terdengar samar suara Midorima yang memperkenalkan gadis itu sebagai pacarnya secara tidak langsung di hadapanmu. Kamu menggigit bibirmu, berusaha menahan kesal dan perasaan yang bergejolak di dalam dadamu.
Langkah Mayuzumi mulai bergerak ke arahmu pelan-pelan. Ia merengkuh bahumu dari belakang lalu menarikmu ke pelukannya. "Hai." Sapanya ke arah gadis itu dan Midorima dengan datar. "Takao, kau belum menyelesaikan artikelmu karena terlalu sering pacaran dengan lumut berjalan ini, ya?"
Gadis yang dipanggil Takao itu membulatkan mulutnya begitu mendapati rekan kerjanya yang hampir selalu tak kelihatan itu tiba-tiba memelukmu dengan santainya. "Haa? Eeh tidak, tidak begitu juga, kok—tunggu, kau ... dengan (your name)-san ... Tugasmu meliput gadis ini, kan? Lalu ..." Ujarnya sedikit kaget.
"Ada masalah?" Tantangnya dengan nada datar. "Yaah aku juga belum selesai gara-gara dia. Dan mungkin artikel konyol yang membuat reporter dan orang yang diliputnya ini jadian benar-benar manjur sampai saat ini." Serunya santai.
Kamu memandang ke atas—ke arah wajah Mayuzumi—dengan wajah memerah. "Eeeh? Apa-apaan? Jadian? Maksudnya, wawancara untuk artikelmu itu akan membuat kita jadian?—Nggak! Jangan mimpi kamu!" Tolakmu angkuh.
Tangan gadis yang baru menjadi pacarnya Midorima itu menutup mulutnya yang takjub melihat si sayu Mayuzumi sedang 'menembak'mu dan langsung ditolak di tempat. Pelan-pelan, ia menggamit tangan Midorima dan menyeretnya menjauhimu dan Mayuzumi di halaman sekolah itu berdua. Banyak siswa berlalu-lalang di sekitar situ tiba-tiba berhenti melihat idola mereka sedang dipeluk seorang pemuda berambut abu yang sama sekali tak mencolok.
Mayuzumi melepas pelukannya lalu menggamit kedua tanganmu agar kamu tidak pergi. "Lihat, kau benar-benar sebuah spotlight yang membuat keberadaanku terlihat dan siap dicaci maki." Katanya. "Ucapkanlah pada mereka. Semua fansmu. Semua orang. Bahwa aku hanya seorang maniak yang mengejarmu karena aku suka karakter Sora-chan yang kau perankan."
Genggaman tangan itu dilepasnya. "Tapi, jika aku punya arti lebih dari pada yang kusebutkan tadi, setelah kau nyatakan bahwa aku hanya seorang maniak di hadapan mereka semua, temui aku nanti." Ucapnya tegas.
Setelah mengatakan semua itu, Mayuzumi berjalan keluar gerbang sekolah dan meninggalkanmu sendirian di halaman sekolah dengan kerumunan siswa yang bertanya-tanya apa yang tengah terjadi pada idola mereka.
.
.
.
.
.
Fifth Turn : Well, he's hugable, so i forgive him.
Senin pagi, surat kabar Teikou resmi diedarkan. Hari ini, tampak pemandangan dimana hampir seluruh siswa di SMP Teikou membaca surat kabar tersebut sambil berbisik-bisik. Bahkan, pelajaran hari itu pun dikeluhkan guru-guru karena para siswa tak henti mencuri-curi kesempatan untuk menggosipkan sesuatu dalam sebuah artikel di surat kabar Teikou.
Tentu saja kamu tahu benar artikel apa itu.
Setelah dihantam kenyataan bahwa Midorima yang selalu dekat denganmu dulu itu tiba-tiba pacaran dengan seorang kakak kelas tak dikenal, kamu diburu oleh pernyataan Mayuzumi. Karena ia memintamu untuk memberitakannya sebagai seorang maniak yang mengejar-ngejar dirimu—untuk menghindari skandal karena tindakannya yang memelukmu di hadapan Midorima sekaligus di depan umum padahal itu semua hanya untuk menenangkanmu—kamu menghampiri klub surat kabar setelah itu dan meminta Riko Aida untuk membuatkan artikel kolom idola yang berisi pernyataanmu bahwa Mayuzumi hanyalah seorang maniak.
Lalu seharian ini desas-desus itulah yang diperbincangkan para siswa. Orang-orang jadi lebih sering memerhatikanmu dengan kasihan, bahkan beberapa di antaranya, entah perempuan atau laki-laki, menghampirimu dan menyatakan rasa kasihan, menasihatimu agar waspada, berjanji akan melindungimu, dan lain sebagainya. Tentu saja kau mengiyakannya saja sembari mengatakan sesuatu yang membuat mereka tetap menjauh darimu.
Satu ruang di dalam hatimu terus-terusan bertanya, apa yang akan terjadi pada pemuda suram itu dengan semua tatapan yang akan diarahkan padanya? Terlebih tatapan itu akan lebih menusuk dari pada semua yang dilayangkan padamu.
Ah, ya sudahlah. Toh dia sendiri yang memintamu untuk melakukan itu kan?
Seorang pemuda berambut hijau menepuk bahumu dari belakang. "Kenapa, (your name)? Kamu gelisah karena takut maniak itu mengejar-ngejarmu lagi, nanodayo?" Tanyanya.
Senyum jahil timbul di wajahmu. "Hee~ Tidak, kok. Midorin khawatir yaa?"
"T—tentu saja tidak, nanodayo! Aku kan menjagamu juga karena permintaannya, bukan karena aku cemas—yah sedikit cemas sih, nanodayo." Sanggahnya tidak konsisten.
Tawamu lepas ke udara setelah mendengarnya. "Ahaha, tidak perlu sih sebenarnya. Kurasa dia tidak akan menggangguku lagi." Ujarmu santai. "Malah sekarang kurasa aku yang harus mengganggunya."
Midorima menatapmu dengan bingung, tentu saja.
"Rasanya jahat nih, kalau aku masih berdua-duaan denganmu tapi membiarkannya sendiri." Gumammu sambil tersenyum ke arah Midorima. "Mulai sekarang kita punya pacar masing-masing, jadi jangan berharap aku akan bermanja padamu terus ya, Midorin!"
"Bermanja—siapa yang berharap? Aku malah senang kalau kau menjauh dariku nanodayo." Tanggapnya setengah jujur. "Tapi sama siapa? Bukan dengan maniak itu kan?"
Kamu berjalan menjauhi Midorima menuju ke lantai atas. "Dia kalau di luar memang maniak yang harus dijauhi, tapi kalau di atap dia jadi sangat nyaman dipeluk kok." Ujarmu sambil terkekeh pelan lalu meninggalkan Midorima sendirian di koridor lantai tiga.
Meninggalkan Midorima untuk menemui Mayuzumi yang sedang menunggumu di atap, tentunya.
.
.
.
Pintu menuju atap sekolah Teikou yang sangat nyaman ditempati kau buka dengan mudah. Padahal, beberapa hari yang lalu kamu sempat mendengar desas-desus dari teman sekelas bahwa atap tidak terbuka untuk para murid karena ada sebuah insiden bunuh diri sebelumnya. Sekarang kau bisa masuk dengan mudah pasti karena Mayuzumi sedang mencuri kunci atap dengan hawa tipisnya dan menyendiri di atap seperti biasa. Ia sengaja tidak mengunci kembali atap agar kau bisa menemuinya di tempat rahasia kalian ini.
Ya, kalian.
"Hai, Maririn." Sapa Mayuzumi tanpa memalingkan wajahnya dari light novel yang sedang dibacanya. "Selamat ya, di halaman terakhir ada illustrasimu yang lumayan besar."
Kamu menutup pintu atap dengan kasar lalu menghampiri Mayuzumi secepatnya dengan wajah marah. "Maririn apanya! Panggil namaku dengan benar!" Perintahmu dengan gusar.
"Oh~ kalau sedang seperti ini kamu mendadak jadi lebih mirip dengan Luna-chan." Timpal Mayuzumi sambil menutup light novel-nya dan merogoh ponsel di sakunya. Ia memperlihatkan gambar seorang gadis kepadamu. "Ini Luna-chan. Rambut merahnya lurus dan panjang sih, jadi tidak begitu mirip dari fisik, tapi ..."
Tanganmu merebut ponsel Mayuzumi dari genggamannya. "Mayuzumi-san, sudah kukatakan untuk memanggilku dengan ..."
"Wah, dari dekat image-mu lebih seperti Iori-chan rupanya." Potong Mayuzumi yang jelas-jelas mengacuhkan protesmu.
Bibirmu mengerucut sebal dan kamu mencubit pipinya dengan kedua tanganmu sekeras mungkin. "Diaaaaam! Dasar, maniak yang satu ini benar-benar ..."
Belum selesai kamu memprotes Mayuzumi untuk yang kesekian kalinya, kedua tangan Mayuzumi merengkuh punggungmu dan menarikmu masuk ke dalam pelukannya, sehingga kamu tidak bisa leluasa mencubitnya. Terpaksa kau lepaskan cubitanmu dan menurut. Hidungmu tanpa sadar membaui tengkuk Mayuzumi yang terlihat menggoda. Ah, wajahmu jadi memerah karenanya kan.
"Keangkuhanmu itu mirip dengan Maririn dan Luna-chan, rambutmu itu semerah punya Luna-chan, image-mu itu mendekati Iori-chan, dan postur tubuhmu juga sangat cocok kalau kau ingin cosplay menjadi Karin-chan. Kamu juga kadang bisa sangat manis dan semerdu Sora-chan." Gumam Mayuzumi. "Kau itu paket lengkap dari semua wanita dua dimensiku, tahu."
Mendengar pujian itu sama sekali tidak menyenangkan bagimu dan kamu berniat mengelitiki Mayuzumi dengan kedua tanganmu, tetapi rupanya pemuda itu tahan geli.
"Tapi keberadaan ini, wangi ini, pelukan ini, perasaan ini ... "Mayuzumi melepaskan pelukannya dan memegang wajahmu dengan kedua tangannya. "semuanya adalah (your name) seorang."
Kamu tersenyum geli dan tak dapat menyembunyikan rona merah di wajahmu sekarang. "Hmmm? Begitu ya? Benar-benar khas seorang maniak ya ..."
"Kita hanya berdua di sini dan aku masih seorang maniak bagimu?" Tanyanya serius.
"Iya. Maniak dua dimensi." Jawabmu gusar. "Makanya, nggak usah hiperbola terhadapku deh. Apalagi sambil menyebut-nyebut nama gadis-gadis tak nyata itu lalu membandingkannya denganku. Huh! Sudah jelas-jelas mereka bukan apa-apa dibandingkan denganku."
Senyum Mayuzumi melintang panjang di wajahnya. "Biasa dipuja sama fans tapi nggak biasa dipuji sama pacar sendiri ya?"
"Berisik ih! Kalau begini aku jadi merasa se-tsundere Midorin, kan." Keluhmu sambil melepas tangannya di wajahmu. "Nggak ada acara cium-cium segala, ya. Peluk juga."
Mayuzumi terkekeh pelan. "Kalau cuma peluk sih dakimakura juga bisa dipeluk." Elaknya iseng.
"Hih! Awas ya kalau sehabis ini dakimakura-nya nggak dibuang!" Tak mau disamakan dengan bantal bergambar yang menjadi barang wajib para otaku itu, kamu mencium bibir Mayuzumi sekilas namun pemuda itu balas menahan bibirmu lebih lama.
Lalu bel peringatan agar para siswa segera pulang dari sekolah pun menggema, menginterupsi kalian.
Mayuzumi meraih tasnya lalu mengulurkan tangannya kepadamu yang masih terduduk lemas dengan wajah memerah setelah selesai berciuman dengannya. "Ayo, pulang." Ajaknya. "Kalau jam segini, hampir nggak ada orang lagi di sekolah, jadi aman."
Kamu menyambut uluran itu lalu berdiri. "Serius nggak akan ketahuan? Kau bawa mobil kan?"
"Tinggal dipanggil." Jawabnya santai. "Kan aku yang menyuruhmu untuk merahasiakan ini. Mana mungkin kubongkar sendiri."
Senyummu pun terbentuk dengan lega. "Baiklah, kalau begitu antar aku ke tempat syuting, ya. Malam ini sepertinya aku harus syuting sampai pagi karena ada adegan matahari terbit, jadi jangan kangen kalau besok aku nggak masuk." Godamu.
Kalian pun berjalan berdua keluar dari area atap sekolah dan bergegas keluar dari area sekolah. Tampak masih ada satu atau dua orang dari klub olahraga, jadi kalian pun memutuskan untuk berpisah jalan sementara dan bertemu di tempat dimana supir keluarga Mayuzumi sedang menunggu.
Mayuzumi jalan terlebih dahulu sambil mengeluarkan light novel-nya, sepertinya ia berniat membacanya juga sambil berjalan. "Tenang saja, (your name). Masih ada Maririn, Luna-chan, atau bahkan Sora-chan, kok." Tanggapnya santai lalu ia berjalan menjauhimu.
Mendengar nama-nama gadis dua dimensi itu lagi, kamu tak bisa menahan diri lalu berteriak. "Dasar Mayuzumi maniaaaaaaak!"
.
.
.
Ternyata backstreet nggak buruk juga, kok.
.
.
.
A/N : Hai minna~ ketemu lagi sama Schnee! Udah lama ya sejak chapter Kise kita tak bersua, hehehe. Kali ini yang mengisi kolom idolanya cewek :'D dan Mayuyu yang jadi reporter (gagal)-nya. Btw readers-nya rambutnya merah hayo ketebak kan otp Schnee apa, fufufu~ Oh iya, Schnee lagi-lagi bikinnya panjang :''D maafkan ya kalau berlebihan. Nggak sampai dua chapter lagi kok kayak Kise :''3 Semoga episode /? Mayuyu memuaskan kalian ya~ sampai ketemu lagi di LDK Klub Surat Kabar Teikou!
Balasan review non login :
Mikazuki Kisara : Hai Mikazuki~ Walah ini abang miyaji teater disebut-sebut (baca KnDS : Kise) Bang chi itu maksudnya teh Chihiro? Kalau iya, selamat~ kebetulan memang di draft Schnee jadwalnya buat dia di chapter ini~ Oh iya soal Sei itu banyak juga yang request yaa hmmm mungkin sebentar lagi akan dikabulkan ? :3
Urneliza : Haaai urnel, ini Schnee :3 Kyaaa emang ya yang tsun tsun itu pesonanya ndak nahan, dan Tsukki mengemasnya seunyu karakternya itu sendiri uugh jadi gemes (terutama karena itu MidoTaka kan ya, aku nggak salah kan wkwk). Setelah ini ada Mayuzumi~ Yaah maaf ya Akashi-nya akan menyusul dalam waktu dekat tapi Himuro belum tau deh, hehe. Walah lihat mood Schnee nanti ya, apakah dua ataukah satu chapter si Ou-sama ini (maunya sih satu, hiks). Seangkatan ya? Hmm boleh jadi masukan, nih. Makasih ya!
Btw urnel yang muncul di inbox review The Occult juga ya? Aku jadi hutang dua nih sama kamu :''D
.
.
.
See you soon guys! Thanks for the support!
