Disclamer © Masashi Kishimoto - Konsep cerita, sepenuhnya milik Sang Author :v

.

WARNING !

TYPO / GAJE / AU / SLIGHTLY OOC / FLUFF

Don't Like, then might as well Don't Read it!

.

.

SIDE EFFECT :

Mampu membuat pembaca sakit perut, terpingkal-pingkal, terdiam di tempat, tersenyum dan tertawa sendiri, pegel linu, nyeri otot, bersin, dan muntaber(?)

.

.

.

AlmaSiMangaka (previously OtakuCrush10) proudly present

OCEAN BLUE

Ketika seseorang berani mencintai..

.

.

.

.

.

.

Bel pulang sudah berdentang dari tadi, namun nampaknya Naruto belum menampakkan diri di area parkiran sekolah. Jika Naruto terlambat menjemput, menurut kalian, apa yang sedang dilakukan Boruto sekarang?

Memainkan handphone? Tidak, terlalu mainstream.

Tidur? Ya ampun, itu hobi Shikadai –teman sekelas Boruto.

Main skateboard? Memangnya bisa?!

Bagaimana kalau kita intip saja, apa yang sedang dilakukan oleh remaja bersurai pirang itu. Tidak sulit untuk menemukannya, kau hanya perlu keluar area sekolah dan berjalan 20 langkah ke kanan, dimana kau bisa menemukan sebuah kedai milkshake dengan papan nama bertuliskan "Bo's Milkshake". Kau bisa melihat dari luar, seorang remaja lelaki bersurai pirang sedang menyibukkan diri mengantarkan pesanan dua nampan penuh dengan milkshake dai meja ke meja.

Boruto Uzumaki ; seorang waiters. Tidak, ralat itu. Boruto Uzumaki ; pebisnis muda yang membangun kedai milkshake-nya sendiri. Saking mencintai mahakarya yang bernama milkshake itu.

"Bo-chan! Pesanan untuk meja nomor 8 udah dianter belom?" tanya Chōchō. Gadis berkulit gelap dan berpostur tubuh gemuk ini sibuk dengan papan pesanannya. Sesekali menyibakkan rambut brunette-nya. Walaupun terlihat gemuk, ia tidak pernah merendahkan dirinya. Ia selalu tampil percaya diri dan menerima apa adanya. Chōchō tidak pernah menyembunyikan kekurangannya, ia selalu berpenampilan apa adanya. Bukan ada apanya.

Tapi sifat fanatiknya terhadap dango dan milkshake tidak bisa ia sembunyikan.

"Udah!" seru Boruto, sibuk menaruh satu persatu gelas ke meja.

Pelanggannya sendiri yang tak lain adalah teman-teman sekolahnya. Baik adik kelas, teman seangkatan, ataupun kakak kelas. Tapi tak jarang juga orang luar menikmati dessert dan milkshake di kedai ini. Selain milkshake, masih banyak lagi hidangan lain; seperti zuppa soup, slurpee, ice cream sundae, dan banyak makanan ringan lainnya. Mungkin selain makanan ringan, kedai ini juga sebagai tempat hang out para remaja. Dan kadang anak-anak kuliahan. Berhubungan dengan tempatnya yang bagus, yaitu terdapat latar pegunungan yang besar nan elok.

Kedai kecil ini hanya terdapat dua pegawai, yaitu Boruto dan sahabatnya, Chōchō. Meski berbeda gender, itu tidak menghalangi mereka untuk menjalin persahabatan. Lucu sebenarnya, mereka berkenalan pada saat detensi pertama masuk sekolah.

Saat itu, Boruto terkena hukuman akibat mencoret-coret wajah gurunya yang sedang tertidur di kelas dengan spidol. Alhasil, ia harus mendengarkan semua ceramah dari Naruto sepulang sekolah.

Sedangkan Chōchō berhasil menghabiskan satu stok daging barbeque milikkantin sekolah. Ayahnya—Chouji—harus membayar ganti namun akhirnya malah membeli double untuk stoknya di rumah.

"Kau tahu, Kiba-sensei sangat menjengkelkan. Aku lebih suka Shino-sensei yang mengajar, meski harus berhadapan dengan wajahnya yang super datar itu." celetuk Boruto, yang ditempatkan bersebelahan dengan Chōchō, di ruang detensi.

"Ya 'kan?! Dan juga, kantin ini punya stok barbeque yang lumayan sedikit. Kau tidak bisa mengharapkan kita belajar 8 jam tanpa mengisi perut sampai kenyang 'kan?" protes Chōchō, mencibir dan membalas ucapan remaja bersurai pirang yang terduduk di sebelahnya.

"Ya aku tahu! Apalagi, milkshake-nya kurang enak! Harusnya diberi sedikit whip cream instan atau bahkan sedikit choco granule untuk menetralisir rasa. Masa milkshakenya kemanisan sih.." keluh Boruto.

"I know right? Mereka tidak mau repot untuk bahkan menambahkan sedikit hiasan untuk membangkitkan selera. Fooders sepertiku tidak terima makanan seperti itu masuk ke dalam perutku." Chōchō menjulurkan lidahnya dan membuat ekspresi pura-pura jijik.

Boruto tertawa, "Kau benar, Hei, namamu siapa?"

"Chōchō namaku, dan milkshake minumanku~!" Chōchō menyeringai dan mengulurkan tangannya pada Boruto.

"Yo, Chōchō! Namaku Boruto!" Membalas menyengir dan menyambut tangan gadis yang bernama seperti cokelat itu.

"Tuan Uzumaki, Nona Akimichi, apa ada masalah..?" Shino mengintip dibalik lensa kacamata hitamnya dengan ekspresi dingin bercampur datar.

Serentak, keduanya bergidik ngeri dan duduk tertib seperti semula. "Tidak, sensei!"

Milkshake-lah yang membawa mereka menuju persahabatan ini. Dan Milkshake pula yang membawa mereka ke masa kini.

Boruto kembali menuju meja kasir dan membersihkan apronnya yang terlihat sedikit kotor. Namun, ia merasakan ada seseorang yang mengamatinya. Seketika, ia bergidik ngeri dan bulu kuduknya berdiri semua. Saat ia menoleh, ia mendapati Chōchō yang sedang bertopang dagu di meja kasir seraya memandangnya dengan mata sinis. Senyuman yang menggelikan melekat di wajahnya.

Boruto menaikkan alis padanya dengan wajah tenang –meski sejujurnya ia terkejut. "Hm? Kenapa?" tanyanya. Sifat polosnya menyeruak dari dalam dirinya. Gadis fooders ini pun menyentakkan kakinya dibalik meja kasir. Dan berdecak gusar. "Oh ayolah Bo-chan, kamu nggak peka nih!" desisnya, lalu memalingkan wajahnya yang tembem dari Boruto.

Boruto semakin bingung. Peka? pikirnya.

Menyerah karena tidak sabar, akhirnya Chōchō kembali menghadap Boruto dengan pouty face nya. "Apa kamu sudah mengantarkan pesan itu ke Shinki-kun?" tanyanya dengan mata yang berkilau. Seakan ada bintang di matanya.

Boruto, akhirnya mengerti, dan mengepalkan tangan kanannya di atas telapak tangan kirinya, "Souka! Cowok aneh yang sering pake make up gak jelas yang kamu taksir itu ya?"

Kepalan tangan meluncur ke pundaknya. Boruto meringis, nampaknya ia sudah menyulut emosi temannya. "Katakan sekali lagi, wajahmu yang akan kubidik!" Chōchō menyingsingkan lengan bajunya untuk mengambil ancang-ancang.

"Hehe, ampunn...piece!" Boruto mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya seraya menutup satu mata. "Sudah, tadi pas istirahat kedua. Shinki langsung ngambil tanpa ngeliat dulu surat itu dari siapa.." ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

Doki-doki!

Chōchō merasa seakan dirinya terhempas di lautan penuh dango. Lalu melayang ke angkasa dan terbaring di awan-awan yang terbuat dari milkshake(?). Ia merapatkan jari-jarinya dan mendekatkan ke wajahnya, "Mungkin itu adalah bukti bahwa ia menerima cintaku~!"

"Eh?" Boruto memiringkan kepalanya tanda tak mengerti.

"Akhirnya, takdir akan menyatukan kita. Seiring bergulirnya waktu, ia menyadari perasaan terpendamnya padaku. Dan kami akan selama-lamanya terpikat oleh benang merah…oh Shinki-kun…"

Boruto hanya bisa memandang temannya. Sepertinya ia tergigit LoveBug yang sering orang-orang sebut. Boruto sendiri masih tidak mengetahui bagaimana itu rasanya "jatuh cinta". Kendati dirinya pernah berkencan sekali, perasaan yang ia rasakan saat itu tidak seperti perasaan "Cinta". Tapi dia tahu bahwa ayahnya pernah jatuh cinta. Dan dia tahu bahwa tidak hanya kebahagiaan dan kesenangan yang berlimpah saat seseorang sedang jatuh cinta, tapi juga diiringi kesedihan dan penderitaan.

Seseorang yang bijak pernah berkata; jika seseorang belajar mencintai, maka dia harus menanggung resiko kebencian.

Ia pun tertunduk dan mengingat sesuatu.

Ayahnya…berada dalam posisi itu. Ayahnya, mencintai sesuatu sehingga dia harus kehilangan.

Boruto menggelengkan kepala dan bersedekap di depan dada lalu memejamkan matanya. Ia tahu betapa menderita dirinya saat kehilangan sosok ibunya. Tapi dia tidak pernah membayangkan betapa sakitnya penderitaan ayahnya selama ini.

Setetes air mata mampu melarikan diri dari kelopak matanya yang terpejam erat.

"…Boruto?"

Tersentak, Boruto terkejut ketika Chōchō berdiri di hadapannya. Wajah mereka pun berdekatan. Refleks, ia jatuh terduduk dan kepalanya membentur tembok.

"…Cho! Kau membuatku kaget!"

Yang dimarahi hanya terdiam. Chōchō berlutut dan mendekati Boruto.

"Kenapa kamu menangis?" Dengan wajah cemas, Chōchō menghapus air mata sahabatnya dengan ibu jarinya. "A-Aku tidak menangis kok." Boruto memalingkan wajahnya yang bersemu. Tidak hanya malu karena menangis tapi wajahnya untuk pertama kalinya, disentuh oleh seorang perempuan—selain ibunya.

Chōchō, merasa tidak puas, hendak mengatakan sesuatu, tapi alarm cctv berbunyi nyaring. Sontak, Boruto, Chōchō, dan seluruh pelanggan yang sedang menikmati waktu terkejut. Sebuah layar plasma menampilkan gambar yang nampaknya adalah suasana parkiran sekolah. Namun bukan itulah yang memicu alarm, melainkan sebuah mobil Audi Quattro yang terparkir disana. Boruto terbelalak melihat ini dan menoleh pada Chōchō.

"Ayahmu!" seru gadis bersurai coklat ini.

Para pelanggan merapihkan barang-barang mereka dan satu persatu diam-diam meninggalkan kedai lewat pintu belakang. Mereka tahu betul situasi ini. Boruto membangun kedai ini atas usahanya sendiri, namun dia tidak pernah memberitahu ayahnya tentang ini. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses. Ia khawatir apabila ayahnya mengetahui, ia akan mendapatkan masalah besar.

Boruto selalu beranggapan bahwa ayahnya menginginkan dirinya untuk melanjutkan perusahaannya suatu saat nanti. Melanjutkan kariernya. Dari generasi ke generasi. Tapi, Boruto selalu tidak puas dengan gaya hidup ayahnya. Meski kaya raya, ayahnya tidak sombong ataupun berfoya-foya dengan hartanya. Beliau selalu mampu berbuat kebaikan seperti menyantuni sebuah panti asuhan, dan hal-hal seperti itu. Tapi, karena tragedi yang terjadi di masa silam, media massa berhasil mengungkapkan peristiwa yang mengerikan itu dan alhasil, Naruto mengamuk di depan publik.

Selain kaya raya dan terpandang di mata rakyat, menjadi pengusaha terkenal juga memiliki sisi tidak enaknya. Karena kehidupan mereka tidak bisa tenang lantaran terusik oleh gerombolan media massa. Apapun—apapun itu—pasti akan terkuak jika kau menjalani hidup sebagai selebriti.

Aib-mu yang terbongkar. Diketahui oleh semua orang.

Itulah mengapa Boruto tidak ingin menjadi seperti ayahnya.

Hanya karena kakeknya dan ayahnya seorang pengusaha, bukan berarti dia harus mengikuti jalan yang sama, bukan?

"Aku akan pergi duluan, kamu coba sebisa mungkin untuk membereskan tempat ini!" seru Boruto, mengambil tas selempangnya, dan berlari sekencang mungkin menuju parkiran sekolah.

Dan benar saja, sesampainya di sana, Boruto sudah melihat ayahnya yang mondar-mandir ke dalam dan keluar gerbang sekolah. Ia menghela nafas dan berjalan pelan mendekati mobil sembari menaruh kedua tangannya di dalam saku celana.

"Hey Dad!"

Yang dipanggil pun menoleh.

"Hey there,Bolt. Ready to go home?" Ekspresinya lega ketika menemukan sosok yang dicari sedari tadi.

"Home? Dad, did you forget? I have a Judo lesson at the Dojo. And you promised me you would take me there."

Boruto melipat tangan di depan dada dan menaikkan satu alis seraya tersenyum. Naruto tersentak dan menepuk dahinya, "Ah! You're right! Heheh…sorry." Menggaruk-garuk tengkuknya, Naruto menyengir tak bersalah dan mengisyaratkan anaknya untuk masuk ke dalam mobil.

Dari kursi depan, Naruto menatap anaknya melalui pantulan kaca spion. "Sudah bawa judogi-mu?" tanya Naruto. Boruto berdecak lalu menyengir, "Tch, aku selalu membawanya setiap saat, bahkan sekarang aku sedang memakai celananya."

"Udah dicuci belum?"

Boruto sweatdropped, "Ehehehe…" menggaruk-garuk kepalanya dan mengalihkan pandangannya karena rona merah yang ada di pipinya. Naruto menggeleng-geleng dan tersenyum kecil, tingkah laku anaknya benar-benar mirip dengan seseorang yang ia kenal.

Ya, siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri.

.

.

Hinata benar-benar tidak menduga akan bertemu dengannya lagi. Sungguh tidak dapat disangka. Dan untuk memperparah situasi, dia tidak dapat menghentikan perubahan wajahnya yang semerah tomat ketika hal ini terjadi.

.

.

Sesampainya di Dojo, Boruto berlari ke dalam, meninggalkan Naruto yang sibuk dengan handphonenya. Berbincang dengan siapapun yang berada di seberang sana mengenai hal yang tidak sepatutnya kita ketahui. Ets, tidak boleh menguping!

Seusai urusannya, Naruto berjalan dengan tenang dan berniat untuk merekam sesi latihan anaknya. Siapa tahu bisa berguna untuk dipelajarinya.

Namun alangkah terkejutnya ketika Naruto bertemu dengan seorang wanita -yang tak disangka ia kenal- mencoba untuk mengeratkan ikatan judogi Boruto.

"Hinata?"

Yang dipanggil pun menoleh. "Eh, Naruto-san?" Hinata juga terkejut.

Ah betapa klise...

"Sedang apa disini? Apa ada yang bisa kubantu?" Hinata menampilkan senyumannya. Naruto tersentak dan menggaruk-garuk tengkuknya, "Aku hanya kesini..untuk menemani, anakkku." Ia memberi penekanan pada kata 'anak' dan memberi tatapan pada Boruto yang seakan berkata : "Bagaimana ini bisa terjadi?"

Boruto membalas tatapan tersebut, "Mana kutahu, dasar pak tua!", lalu ia mendengus dan membuang muka. Baru pertama kali tiba disini, ayahnya sudah menjengkelkan. Tapi, ia menghembuskan nafas panjang dan mencoba untuk menenangkan diri. urat-urat yang berkedut di pelipisnya mulai menghilang.

"Maaf Hinata-sensei, tapi biar kuperkenalkan. Dia adalah Naruto Uzumaki, ayahku. Ayah, dia adalah guruku; Hinata Hyuga." Dengan gestur malas dan mata sayu, ia berkata. Hening pun menyelimuti pundak mereka. Naruto dan Hinata keduanya membutuhkan beberapa menit untuk mencerna kata-kata Boruto.

Guru? Hinata seorang guru judo? Kukira dia seorang penyair. Tak kusangka..

Ayah? Ayahnya Boruto-kun, benar-benar tak kusangka, walaupun perawakan mereka mirip. Seperti orang bilang..

Hinata dan Naruto secara bersamaan mengembangkan senyuman di wajah mereka.

...dunia ini memang kecil, pikir mereka secara bersamaan pula.

"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kamu bantu Hima-chan berlatih tendangan satu, aku akan berbincang sebentar dengan ayahmu." Hinata mengisyaratkan Boruto untuk segera memasuki ruangan. Boruto awalnya ragu, tapi karena tidak ingin memperpanjang urusan, lebih baik ia turuti saja.

Oh shit, jangan-jangan Hinata-sensei mau mengadukan semua kenakalanku disini?! Habislah riwayatku.., Boruto hanya bisa pasrah, membayangkan amarah ayahnya yang meluap ketika mereka pulang nanti.

"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanya Naruto, mengangkat satu alis dan tersenyum miring. Hinata tersenyum, "Tentang tadi, saat kita bertemu di toko buku. Jika kau berminat untuk memahami lebih dalam tentang metafora yang kusampaikan tadi, mungkin kau bisa meminjam ini." ucapnya, dan memberikan Naruto sebuah buku.

Ocean Blue.

Naruto terbelalak. Buku itu dijual dengan begitu mahal ketika pertama kali ia lihat di etalasi toko buku tadi pagi. Namun entah darimana, Hinata berhasil menggenggam buku itu dan membawanya kesini. Meski sebenarnya ia mampu untuk membeli buku itu, tetapi ia bukanlah tipe orang yang dengan mudah menghamburkan uang demi hal kecil seperti ini. Karena memang bukan kebutuhan primer.

"T-Terima kasih, Hi-Hinata..." dengan tangan bergetar, ia menyambut buku itu. "Jaga baik-baik ya buku itu." ucap Hinata yang kemudian berjalan meninggalkan Naruto yang mengagumi cover buku itu. Ilustrasi lautan biru yang terbentang di horizon, kemudian sepasang mata samar-samar terlihat-jika kalian cukup teliti, itu adalah mata perempuan. Dengan bulu mata lentik dan pupil mata yang indah. Mata yang sungguh memukau. Warna biru yang menyejukkan sanubari. Seketika, Naruto tertawa kecil.

"Oi, Hinata!"

Hinata, yang sedang mengajar murid-muridnya menoleh sekilas pada Naruto.

Naruto mengangkat bukunya dan sengaja memperlihatkan cover buku, "Mirip matamu!" serunya, dan kemudian menyengir.

Sontak Hinata terkejut. Begitu pula dengan murid-muridnya, termasuk Boruto.

"CIEEEEE!" serempak mereka berseru. Hinata tak dapat menahan rasa malu ketika wajahnya semerah tomat. Begitu pula Naruto, yang kemudian menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Orangtua para murid mulai tergelak dan Naruto mulai merasakan wajahnya panas. Malu. Tentu saja. Dengan polosnya ia berkata demikian. Mana ada orang dewasa yang dengan bodohnya memuji secara terang-terangan, apalagi lawan jenis, didepan orang lain-dan bahkan ada anak-anak.

Boruto terdiam dan memalingkan wajahnya. Namun samar-samar terukir sebuah senyuman di wajahnya. Dan rona di pipinya sudah tidak dapat disembunyikan lagi. Sudah lama ia tidak melihat cengiran khas ayahnya itu. Dan ia bersyukur Hinata-sensei mampu memancing cengiran itu.

.

Lantas, Naruto dan Hinata keduanya terdiam malu. Atau bahasa gaulnya, jadi kicep. :v

.

.


Author's Note :

Sumpah demi apapun, saya tidak tahu apa yang baru saja saya tulis. Tadi bener-bener ngeblank. Bener-bener gatau apa yang mau ditulis, dan pada akhirnya jadi gaje kayak gini. Yah setidaknya, nggak melenceng jauh dari alur. Haha, semoga bisa menghiburlah. Dan sabar-sabar ya kalo sama author ini. Updatenya seabad kemudian~ Jadi bisa melatih kesabaran para pembaca :v

*Author digebuk chara.*

Okelah, sampai ketemu di chap. berikutnya ya.

Don't forget to Review (/^_^)/

Next Chap : Eccedentesiast