.

KASMARAN

.

Summary : Naruto yang kasmaran, Sasuke yang putar otak. Apa yang terjadi sampai Naruto harus meminta petuah dari Jiraiya dan Madara?/"Hamili saja dia."/"Bagaimana dengan Naruto?"/"Rebut perhatiannya."/"Kita akan ke salon malam ini."/

.

.

Special Thanks To :

Eliana Coil

Masahiro 'Night' Seiran

Lily Asano

Barbara123

Tisa's Flower P. Lucicrescens

Miya Hime Chan

Rinzu15 The 4th Espada

Kukuruyuk

Thia Shirayuki

Nara Aiko

Blossom

Rain Vegard

Mei chan

Lilly Love Snowdrop

OraRi HinaRa

Dan semua silent readers yang telah sudi meluangkan waktunya membaca fic ini.

.

.

Disclaimer : Naruto adalah milik Masashi Kishimoto seutuhnya

Rate : T

Warning : AU, OOC, Typos, Alur agak lambat, Garing, Aneh, and many more.

Pairing : Narusaku

Genre : Romance & Friendship

Enjoy the Fic ^_^

.

.

Tong kosong nyaring bunyinya.

Sasuke berpendapat bahwa pepatah inilah yang paling cocok untuk menggambarkan seorang Namikaze Naruto. Bagaimana tidak. Baru kemarin pemuda itu berkoar-koar bahwa dia akan segera mendapatkan pujaan hatinya, besok malamnya ia sudah menelepon Sasuke dengan maksud untuk meminta wejangan lagi dari sahabatnya itu.

'Naruto Ganteng Sekali calling.'

Sasuke mendecih. Siapa lagi yang suka seenaknya mengganti contact name di ponselnya selain pemuda pirang itu.

"Hn." Dengan malas Sasuke mengangkat teleponnya.

"Temeee… bantu aku!" Naruto menjerit seperti setan.

Sasuke menjauhkan ponselnya dari telinganya dan segera mengecilkan volume ponselnya. Jaga-jaga agar ibunya tak mendengar ia sedang telepon-teleponan dengan Naruto yang notabenenya adalah seorang pria. Akhir-akhir ini, Mikoto memang agak sensitif dengan Sasuke. Bukan tidak mungkin namanya dicoret dari kartu keluarga karena dituduh telah mencoreng nama baik Uchiha.

"Ada apa lagi?"

"Aku bingung harus melakukan apa. Menurutmu bagaimana?"

Itu kan. Kambuh lagi penyakit bodohnya.

"Aku pikir—"

"Ah, aku tahu. Bagaimana kalau aku meminta saran dari orang yang lebih tua. Mereka pasti punya pengalaman lebih."

"Itu sih terse—"

"Sampai ketemu besok, Teme."

'Tut... tut... tut...'

Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Naruto.

'Grrrr….'

Sasuke menggeram sendiri. Ingin rasanya ia membungkus anak itu dalam karung dan membuangnya ke laut. Seenaknya menelepon orang malam-malam dan memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Bahkan Sasuke belum sempat bicara panjang lebar. Lihat saja nanti kalau—

"Sasuke, tidur!" Suara Mikoto membuyarkan lamunan pemuda itu.

Sasuke langsung ngacir ke dalam kamar.

OoO

Tampak tiga orang pria, dua orang remaja dan yang satunya lagi sudah uzur, sedang duduk saling berhadapan di sebuah meja kayu bundar.

"Kakek kan tahu kalau aku menyukai seseorang. Kira-kira bagaimana caranya biar aku—katakanlah bisa jadi pacarnya?" Naruto menunduk dengan wajah yang merona.

"Hmm… ada satu cara yang pasti langsung berhasil. Tapi agak susah sih," ujar Jiraiya sambil mengelus-elus dagunya. Sombong sekali.

"Apa itu?" Naruto bertanya dengan antusiasme yang berlebihan. Sasuke yang berada di sampingnya hanya bisa menguap bosan.

"Hamili saja dia. Pasti dia akan meminta pertanggungjawaban. Hahahaha…." Jiraiya tertawa keras layaknya di sinetron indonesia.

Naruto dan Sasuke melongo.

Menghamili? Lakukan saja kalau memang ingin cepat kembali pada Yang Maha Kuasa. Sebelum melakukan itu, Naruto bisa dipastikan akan segera dikirim ke alam baka oleh Sakura.

'Dasar kakek mesum tak punya otak. Tidak sadar apa kalau sisa umurnya bisa dihitung dengan jari,' begitu pikir mereka.

Saran Jiraiya : Ditolak

Shock dengan saran Jiraiya, mereka berpindah kepada kakek Sasuke, sang embah terganteng di seluruh alam semesta, Uchiha Madara.

"Begitu ya…." Madara manggut-manggut setelah mendengar penjelasan dari Naruto.

Naruto mengangguk pasti. Tidak salah lagi, Madara memang orang yang tepat untuk meminta petuah.

"Sudah kenalan?"

"Sudah."

"Oh, ya sudah kalau begitu."

Naruto dan Sasuke menatap Madara dengan pandangan aneh.

"Apanya yang sudah?"

"Kalau sudah kenalan mau ngapain lagi. Semua kan butuh proses. Biarkan waktu yang menjawabnya," jawab Madara sok puitis.

Ternyata jauh lebih tidak jelas dibanding Jiraiya.

Saran Madara : Ditolak

"Cari tahu apa yang gadis itu sukai." Eh, masih berlanjut rupanya.

"Kalau hanya itu sih aku sudah tahu." Naruto memajukan bibirnya kesal.

"Kalau hanya sekedar tahu saja apa gunanya, Anak bodoh. Berikan apa yang dia suka. Lakukan apa yang dia mau. Berikan dia bunga kesukaannya, buatkan dia puisi, nyanyikan dia sebuah lagu, atau ganti penampilanmu—bahkan kalau bisa ubah wajahmu agar menyerupai aktor kesukaannya. Seperti itulah kira-kira." Madara menjawab santai sambil menyeruput susu cokelatnya.

Naruto cengo. Wajah kok diganti. Memangnya sandal jepit.

"Pokoknya lakukan apapun untuk merebut perhatiannya. Anak muda jaman sekarang kok bodoh-bodoh ya… begitu saja tidak tahu," lanjutnya.

Sasuke mencibir. Kakeknya ini kadang-kadang sok tahu sekali.

Tapi sarannya boleh juga.

Saran Madara : Diterima

OoO

Jam sudah menunjukkan pukul 15.10 sore menandakan bahwa kelas sudah bubar sekitar 10 menit yang lalu. Suasana tampak lengang. Hanya terdapat beberapa siswa saja yang tersisa. Tak terkecuali dengan tiga orang gadis berkepala pink, kuning, dan cokelat yang masih berkutat dengan kesibukannya masing-masing.

Sakura membolak-balik halaman majalahnya. Sesekali ia melotot dan berdecak kagum. Tentu saja karena melihat para model pria yang ada di majalah itu.

"Wow... bukankah dia begitu seksi." Sakura menunjuk gambar seorang model pria yang memakai kemeja dengan kancing bagian atas yang terbuka. Sebagai wanita yang normal—menurut ukuran mereka, Ino dan Tenten langsung mengalihkan perhatiannya ke majalah tersebut.

"Hidan ya… menurutku Neji lebih seksi. Rambutnya itu lho…." Tenten menunjuk gambar seorang model pria berambut coklat panjang dengan ujung yang diikat.

"Tapi dia tidak punya pupil. Lebih seksi Itachi." giliran Ino yang buka suara.

Sakura mengangguk-angguk setuju sedangkan Tenten cemberut. Tak terima pujaan hatinya dikatai tidak punya pupil oleh Ino.

"Dan dia punya rambut yang indah." Ino menambahkan.

"Dan rambutnya berwarna hitam," lirih sekali Sakura berkata. Ino dan Tenten spontan menoleh ke arah gadis itu. Tak menyangka bahwa urusan warna rambut bisa membuat sahabat mereka yang satu ini menjadi sensitif. Dari kecil Sakura memang sangat terobsesi memiliki rambut berwarna hitam. Itu karena ketika ia berumur 9 tahun, seorang sepupunya yang masih balita tak sengaja memakan rambutnya yang mirip seperti gulali hingga sepupunya itu masuk rumah sakit. Semenjak itu, jangan pernah berani menyinggung soal warna rambutnya kalau tak ingin benjol.

"Honey, semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Kami-sama pasti punya maksud tertentu menciptakanmu dengan rambut pink aneh dan jidat lebar seperti itu." Ino menunjuk jidat Sakura praktis membuat bibir Sakura meruncing. Sementara Tenten menatap aneh ke arah Ino. Sebenarnya ini orang mau menghina atau menghibur?

Ino melanjutkan seolah-olah tak ada orang yang tersinggung dengan kata-katanya barusan. "Contohnya aku. Kami-sama menciptakan aku dengan begitu sempurna pasti punya tujuan. Dengan menjadi idola misalnya."

Sakura dan Tenten sikut-sikutan mendengar perkataan narsis Ino.

Ino terkekeh. Senang membuat kesal kedua sahabatnya ini.

Mendengar suara anak perempuan dari kelas sebelah, Naruto dan Sasuke (sebenarnya naruto yang lebih dulu) yang baru saja keluar dari kelas, menghentikan langkahnya dan merapatkan badan ke daun pintu.

"Ngomong-ngomong soal rambut, menurut kalian siapa anak laki-laki di sekolah kita yang punya rambut paling indah?" Sakura bertanya pada Ino dan Tenten.

Sasuke memutar-mutar bola matanya. Anak perempuan yang aneh. Masalah rambut saja bisa jadi bahan gosip yang menyenangkan.

"Bagaimana dengan Naruto?"

"Rambut Naruto membuatku ingin makan duren." Ino tertawa terpingkal-pingkal. Tak sadar kalau pemuda yang dibicarakannya sudah menyumpah-nyumpahi dirinya.

"Kalau Sasuke?"

Sasuke stay cool. Padahal ia sudah pasang telinga semenjak namanya mulai disebut.

"Sasuke, ya? Hmm… tampan sih…. Tapi, kalau dilihat-lihat rambutnya seperti—"

Oke, cukup. Sasuke tak ingin lagi mendengar kelanjutannya. Pasti ia akan disamakan dengan hewan laknat itu.

"Ayo, Dobe." Sasuke menarik tangan Naruto agar segera menjauh dari tempat itu. Namun Naruto tetap terpaku pada posisinya. Telinga ditempelkan di daun pintu persis seperti maling.

"Kalau Sasori bagaimana?" Kali ini Tenten yang angkat bicara.

"Hey, Dobe!"

"Ssttt…." Naruto menempelkan telunjuknya di bibir Sasuke, sementara ia masih tetap konsentrasi menguping pembicaraan Sakura.

Sasuke langsung mencak-mencak. Enak saja pegang bibir orang sembarangan. Pakai tangan kiri lagi.

"Ya… Sasori. Dia punya rambut yang indah. Bahkan waktu tahun pertama aku pernah naksir padanya hanya karena rambutnya. Hehehe…." Sakura cekikikan.

Naruto menggerutu tak jelas. Namun, tiba-tiba gerutuannya berubah menjadi cengiran. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Sasuke mengernyitkan dahi.

"Jangan berpikiran macam-macam, Baka." Sasuke mencoba mengingatkan.

Tentu saja Sasuke khawatir. Naruto ini kadang pikirannya suka menyimpang. Dan jika Naruto bertindak yang aneh-aneh, otomatis nama Sasuke juga ikut-ikutan terseret.

"Hehehe…. Ayo, cepat pulang." Naruto menggamit lengan Sasuke menjauhi kelas Sakura.

Uchiha bungsu itu menghela napas lega. Sepertinya Naruto masih waras.

"Karena kita akan ke salon malam ini."

Hah?!

TBC

~OoO~

Author's note :

Huuwwaa *nangis gelundungan*… Maaf ya kalau chapter ini masih pendek & aneh banget…

Saya juga minta maaf atas updatenya yang super duper molor. Soalnya FFn lagi sering error sih... Jadi ya gitu deh... Padahal dari kemaren dah pengen nge-update.

Tidak lupa saya ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya atas saran, masukan, & komentar yang telah diberikan di chapter kemarin *berlinangan air mata*. Sungguh itu semua sangat berarti untuk saya…

Soal genre-nya, awalnya emang pengen dikasih genre romance-humor sih… Tapi takutnya garing.. Akhirnya diubah jadi romance-friendship deh…

Jadi gimana minna?

Punya saran, masukan, atau komentar tentang fic ini?

Review Please …^_^