.

KASMARAN

.

Summary : Naruto yang kasmaran, Sasuke yang muter otak/"Dobe, apa kau yakin?"/"Luar biasa, Naruto."/ "Sepertinya ada yang salah dengan rambutku."/Chap 3 Update. Mind to review?

.

.

Special Thanks to :

Miya Hime-chan

OraRi HinaRa

Barbara123

Rinzu15 4th Espada

Blossom

Mei chan

Voed

Nara Aiko

Dan semua silent readers yang meluangkan waktunya untuk membaca fic ini...

.

.

Genre : Romance/Friendship

Pairing : Narusaku

Rate : T

Warning : AU, OOC, OC, typos, aneh, garing, & many more...

Enjoy the fic ^_^

.

.

Kini dua orang pemuda itu berdiri di hadapan sebuah bangunan berwarna magenta dengan bunga beraneka rupa dari bunga kamboja sampai bunga melati serta daun pandan menghiasi taman depan bangunan itu. Tampak ukiran berbentuk hati berwarna soft pink menghiasi pintu depannya.

Sasuke menelan ludah entah untuk yang keberapa kalinya.

'Salon apa ini? Mencurigakan.' Sasuke membatin.

"Dobe, apa kau yakin?" Sasuke melirik Naruto. Jujur dari awal menginjakkan kaki di depan bangunan ini perasaannya sudah tidak enak. Sepertinya sesuatu yang buruk akan menimpanya.

"Hehehe." Naruto hanya cengar cengir.

Pandangan Sasuke kemudian beralih ke papan nama yang tertempel di dinding bangunan tersebut.

'MIMIZU SALON.'

Sasuke menahan napas. Demi ketampanan klan Uchiha, orang bodoh mana yang menamakan salonnya dengan nama 'Mimizu' yang berarti cacing. Perasaannya makin tidak enak.

"Tenang saja, Teme. Salon pilihan Chouji tidak mungkin salah." Naruto berujar sembari tertawa. Padahal dalam hati cemas juga.

Sasuke mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia yang salah dengar atau Naruto yang salah bicara. Masa' meminta rekomendasi salon dari pria bulat itu. Yang benar saja.

"Baiklah... ayo, kita masuk," Naruto melangkahkan kakinya memasuki salon itu. Sementara pemuda berambut raven itu mengikuti langkahnya sambil komat kamit. Membaca doa.

Dan di sinilah mereka. Dengan kaki gemetar dan keringat dingin mengucur deras dari pelipis mereka. Berdirilah sesosok mahkluk bergender 'setengah' yang tengah menatap mereka dengan pandangan penuh nafsu. Badan kekarnya dibungkus dengan gaun bertali spaghetti berwarna merah maroon. Rambut jingganya berkibar-kibar terkena efek angin dari alat yang sengaja di pasang di dekatnya untuk menambah kesan dramatis.

"Wow…. Pria-pria tampan, selamat datang. Saya Mimizu. Tapi panggil saja Mizu-chan." Mizu memperkenalkan diri sambil menyalami Naruto dan Sasuke bergantian.

Naruto sekilas melirik ke arah Sasuke dan mendapati wajah pemuda itu pucat pasi. Sepertinya mereka harus mampir ke klinik setelah ini. Sasuke memang phobia dengan hal-hal yang berbau 'setengah'.

"Ehm.. Jadi siapa yang mau dipotong?"

Hah?

Naruto dan Sasuke cengo.

"Hihihi…. Maksud saya, siapa yang mau dipotong rambutnya?" Mizu mengikik seperti kuda.

"Dia!" Sasuke dan Naruto saling menunjuk.

"Kalian berdua?" Mizu menunjuk kedua pemuda itu.

"DOBE!" Sasuke menatap Naruto dengan geram. Awan hitam dengan kilat yang menyambar terlihat menggelayut di atas kepalanya.

Ditatap seperti itu, tentu saja Naruto mengkeret. Bukannya dia tega menunjuk Sasuke, tapi dia juga tidak rela kalau kepalanya diobrak abrik oleh Mizu.

"Eh… ehm... ya…. Saya yang mau dipotong." Naruto manyun.

"Mari sini," Mizu menggandeng lengan Naruto dan menyuruhnya duduk. Pemuda pirang itu tambah manyun. Namun ia hanya bisa pasrah. Bagaimana pun juga Mizu pernah jadi pria. Tidak menutup kemungkinan ia akan dihajar oleh lengan kekar Mizu jika dianggap tidak sopan olehnya.

"Pria tampan di sebelah sana kalau mau digunting rambutnya juga boleh. Nanti saya beri diskon." Mizu tersenyum seksi sambil menoleh ke arah Sasuke yang duduk sangat jauh dari tempat Naruto.

"Tidak usah!" Sasuke membuang muka.

"Wuiihhh…. Snow man." Mizu terkekeh pelan.

Sasuke mendengus sebal. Pantas saja namanya 'Mimizu'. Kelakuannya memang seperti cacing.

"Jadi mau dipotong sampai mana?" Tanya 'wanita' itu pada Naruto dengan suara banci yang masih kentara kelaki-lakiannya.

"Sampai sini." Naruto menunjuk lehernya. Rupanya ia masih dongkol dengan si 'cacing' ini.

"Hihihi…. Suka bercanda deh. Masa' sampai leher sih yang mau dipotong. Mati dong." Mizu cekikikan sambil menepuk (baca : memukul) bahu Naruto hingga membuat pemuda itu terjungkang ke depan.

"Uupss…. Maaf, Darling. Tidak sengaja." Mizu membantu Naruto berdiri sembari curi-curi kesempatan. Terang saja. Masa' lutut yang terbentur, dada yang dielus-elus.

"Sudah… sudah… tidak apa-apa." Naruto mencoba menyingkirkan tangan Mizu yang menempel di dadanya.

Sasuke yang melihat dari jauh hanya bisa gemetaran. Kalau saja ia yang berada di posisi Naruto, sepertinya keluarga Uchiha harus segera memesan tanah berukuran dua kali satu meter untuknya.

"Jadi rambutnya mau diapakan?"

"Jangan dipotong. Modelnya saja yang diubah." Naruto menyerahkan foto Sasori yang sedang bermain boneka Barbie kepada Mizu.

"Hanya diberi gel saja dan sedikit sentuhan dari saya, pasti beres." Mizu tersenyum lebar dan mulai mempermak rambut Naruto.

Beberapa saat kemudian…

"Teme… hoy, Teme. Bangun. Bagaimana menurutmu?" Naruto menggoyang-goyangkan bahu Sasuke agar pemuda di depannya segera terbangun.

"Nggg…." Sasuke malas-malasan membuka kelopak matanya

"Bagaimana menurutmu?" Naruto mengulang pertanyaannya.

"Sudah ya? Hah. Lama seka—" Kontan mata Sasuke membulat sempurna demi melihat pemuda pirang di depannya dengan gaya rambut yang baru.

"Bagaimana?"

"Err... luar biasa. Tapi, apa kau yakin? Maksudku mumpung kita masih di sini. Siapa tahu kau berubah pikiran mungkin…."

"Jelek ya? Apa perlu ku warnai saja rambutku jadi merah?" Naruto memegang-megang rambutnya.

"JANGAN!" Sasuke tanpa sadar berteriak histeris. Jatuh sudah martabat Uchihanya.

"Ehm… maksudku, jangan sekarang. Lain kali saja. Ini sudah malam." Sasuke berdehem kecil. Memperbaiki nada suaranya menjadi datar kembali agar martabatnya kembali terangkat.

"Yosh! Ayo, kita pulang. Arigatou Mizu-chan."

"Okay. Mampir lagi ya Naru-chan, Sasu-chan." Mizu melambaikan tangannya.

"TIDAK AKAN!" Sasuke mempercepat langkahnya agar segera keluar dari tempat itu.

Di dalam mobil, Naruto terus-terusan memegangi rambutnya. Sekedar mengecek apakah masih utuh seperti saat pertama dipermak oleh Mizu. Sasuke melirik sekilas Naruto yang tampak sibuk dengan rambut barunya.

'Tuhan, sadarkanlah dia dari jalan yang sesat.'

OoO

Seorang pemuda berambut raven terlihat sedang duduk sendirian sambil menatap ke arah jendela. Sesekali ia mengutak-atik ponselnya sekedar untuk mengusir rasa jenuh. Inilah akibatnya jika datang ke sekolah pagi-pagi buta. Bukan tanpa alasan ia datang sepagi ini. Ia hanya ingin menghindari kemungkinan bertatap muka dengan seseorang yang baru kemarin ditemaninya ke salon. Siapa lagi kalau bukan Naruto. Meskipun mereka nanti akan tetap bertemu di kelas, paling tidak dengan datang pagi-pagi sekali akan mengurangi porsi Sasuke bertemu dengan Naruto beserta penampilan barunya.

Sasuke manyun mengingat kejadian kemarin. Nyaris saja penyakit jantungnya kumat karena shock yang terus-terusan melandanya. Mulai dari bertemu dengan Mimizu sampai melihat model rambut Naruto hasil karya Mimizu yang luar biasa anehnya. Berkat Mimizu—ucapkan terima kasih kepadanya—rambut Naruto lebih terlihat seperti sarang burung daripada rambut Sasori.

"Iya nih. Kaa-sanku pelit. Masa' baru minta uang seratus juta saja, aku langsung dilempari panci."

Sayup-sayup terdengar suara beberapa orang pemuda dari luar kelas. Sasuke mendengus. Ia kenal suara ini. Pasti mereka adalah genk 'Kecoa Mati' alias Kelompok Cowok Ganteng Manis Tampan dan Imut. Tentu saja Sasuke dan Naruto termasuk di dalamnya.

"Lain kali kalau—hey Sasuke. Tak biasanya kau datang cepat," sapa seorang pemuda bertubuh tambun a.k.a Chouji saat ia memasuki kelas.

"Mana Naruto? Biasanya kau bersamanya ke sekolah. Tumben." Kiba mengambil tempat duduk di belakang Sasuke. Sai, Shikamaru, Shino, dan Lee manggut-manggut membenarkan pertanyaan Kiba.

Sasuke menaikan alisnya. "Memangnya aku pacarnya."

"Oh, sudah putus ya?" Lee tergelak diikuti teman-temannya yang lain.

Sasuke mendecih dan membuang muka. Dalam keadaan normal pasti ia sudah mencekik si alis tebal itu. Tapi mood-nya benar-benar drop sekarang. Maka dibiarkanlah teman-teman anehnya ini bercerita sesuka hati.

Para siswa mulai berdatangan. Tapi tak tampak sedikitpun batang hidung Naruto. Dalam hati Sasuke bersyukur.

'Semoga Naruto telah sadar dan merubah rambutnya seperti semula sebelum ia menampakkannya di depan semua orang. Amin.' Sasuke berdoa dalam hati.

"Ohayou!"

Sasuke langsung membeku.

Kelas yang tadinya berisik langsung hening seketika akibat melihat sesosok pemuda pirang yang baru saja memasuki ruangan kini telah berganti model rambut.

Seluruh penghuni kelas langsung terdiam, terpaku, terpana, dan membisu di tempat.

"H-hai, Naruto. Apa kau baik-baik saja?" Kiba mencoba mencairkan suasana.

"Hahaha... tentu saja, Bodoh. Aku jauh lebih baik dari yang kau kira." Naruto menjawab dengan penuh sukacita. Tak sadar dengan tatapan 'takjub' dari seluruh teman-temannya.

"Teme, sebentar temani aku ke kelas Sakura-chan, ya?" pinta Naruto setelah ia duduk di bangku sebelah Sasuke.

"Hn," Sasuke mengangguk kaku.

'Tuhan, kapan Kau akan menyadarkan dia?'

OoO

Bel istirahat berbunyi. Tampak dua orang pemuda sedang berjalan beriringan. Yang satu auranya cerah. Yang satu lagi auranya suram.

"Teme, kenapa dari tadi aku dipandangi terus ya? Aku kan jadi malu," ujar Naruto sambil tersipu.

"Ya, kau memang memalukan." datar sekali Sasuke menjawab.

Naruto cemberut dan memajukan bibir bawahnya. Namun raut wajahnya berubah sumringah ketika melihat sang pujaan hati berdiri tepat di ujung koridor sana.

"Hai, Sakura-chan," sapa Naruto riang.

"Hai." Sakura balas menyapa namun tetap sibuk dengan kertas yang berada di tangannya. Naruto memajukan bibir.

"Hai, Sakura-chan!" sapanya lagi dengan intensitas suara yang lebih keras. Berharap Sakura mendongakkan kepalanya dan melihat gaya rambut Naruto yang baru.

"Hai." Sakura tetap menunduk.

"HAI SAKURA-CHAN!" Naruto berteriak tepat di telinga Sakura. Sasuke sweatdrop. Pantas saja kalau Sakura tidak pernah memberi perhatian lebih pada Naruto. Kelakuannya saja seperti ini.

"Jangan berteriak, Bod—N-naruto?" Sakura terkejut melihat sosok Naruto di depannya. Lebih tepatnya karena melihat rambut Naruto yang unik bin ajaib itu.

Naruto langsung pasang gaya. Sasuke makin sweatdrop.

"I-itu r-rambut?" Sakura menunjuk-nunjuk kepala Naruto.

"Bagaimana menurutmu? Bagus kan? Pasti bagus." Naruto berkata dengan pedenya.

Sakura meringis. "Luar biasa, Naruto."

"Hah... baguslah kalau kau suka, Sakura-chan."

Sakura tambah meringis. Sejak kapan ia bilang suka pada rambut pemuda di depannya. Kalau takut sih iya.

'TEETTT.'

Saved by the bell.

Sakura menghela napas lega.

"Maaf, Sakura-chan. Aku harus kembali ke kelas. Tugasku belum selesai. Kau jadi tidak bisa melihat penampilan baruku lama-lama deh." Naruto sok memasang wajah menyesal pada Sakura.

"Tidak apa-apa, Naruto. Aku malah bersyukur—eh…." Sakura buru-buru menutup mulutnya.

Naruto mengernyitkan dahi. Sasuke malah pura-pura sibuk memandang-mandang dinding.

"A-aku pergi dulu ya. Jaa…." Sakura langsung buru-buru pergi. Membuat dahi Naruto makin berkerut.

"Sakura-chan kok aneh begitu ya?" tanya Naruto pada Sasuke.

Sasuke hanya bisa mengangkat bahu tak peduli.

"Sepertinya ada yang salah dengan rambutku."

'Baru sadar?' Sasuke membatin.

"Tapi itu tidak mungkin, kan Saskey-kun?" Naruto mengerling manja pada Sasuke.

"..."

Sabar Uchiha….

OoO

"Memangnya kenapa dengan rambutku?" tanya Naruto sambil memegang-megang rambutnya. Kini mereka—gank kecoa mati—sedang berkumpul di kediaman Sasuke. Tentu saja untuk membahas penampilan baru dari Naruto.

"Tidak sih. Eh, maksudku memang agak sedikit aneh. Hmm... bagaimana menjelaskannya." Kiba menggaruk-garuk kepalanya. Bingung mencari kosakata yang sesuai untuk Naruto agar pemuda itu tak tersinggung. Sudah menjadi rahasia umum kalau Naruto adalah pemuda pemilik perasaan yang sangat sensitif sehingga jika berbicara dengannya harus ekstra berhati-hati. Sekali saja Naruto ngambek, Sasuke pasti akan repot. Dan jika Sasuke repot, maka berakhirlah dirimu di rumah sakit.

"Tapi mungkin kami hanya tidak terbiasa melihatnya. Mengingat selama ini model rambutmu tak pernah berubah." Shino menambahkan dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.

"Jujur saja, Naruto. Rambutmu itu memang—" belum sempat Sai menyelesaikan omongannya, mulutnya sudah disumpal dengan pembungkus bekas keripik oleh Chouji. Anak pucat itu memang tak bisa baca situasi.

"Aku setuju dengan Shino." Chouji menanggapi.

"Hoaemm…." Tak perlu dijelaskan lagi siapa yang menguap.

Naruto mengernyitkan dahi. "Apa perlu sekalian ku ubah juga warna rambutku menjadi merah?"

"JANGAN!" Mereka semua serempak berteriak minus Shikamaru yang melotot dengan wajah yang masih mengantuk sementara Sasuke hanya bisa menepuk jidatnya.

Kerutan di dahi Naruto makin banyak. Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa setiap ia melontarkan keinginannya untuk mengubah warna rambutnya, setiap orang pasti akan menampilkan reaksi yang sama. Dia kan hanya ingin mengubah warna rambut, bukan ingin bunuh diri.

Naruto melihat pantulan dirinya sendiri di cermin sambil menolehkan kepalanya ke kiri-kanan-atas-bawah-depan-belakang mencoba mengamati rambutnya dari segala arah.

'Apa yang salah dengan ini? Mereka saja yang aneh,' batinnya. Cinta memang bisa membuat orang menjadi rabun.

"Kalau kau mengubah rambutmu menjadi merah, kau tidak lagi seperti duren. Tapi seperti rambutan. Hahahaha…. Lucu sekali. " Lee tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja. Namun akhirnya volume suaranya perlahan tapi pasti mengecil sendiri setelah menyadari seluruh penghuni di dalam ruangan itu ternyata tak ada yang tertawa bersamanya.

Naruto pundung di pojokan.

"Haha... hehe... eh... ehm... maaf Naruto. Aku lepas kontrol." Lee memandang takut-takut ke arah Sasuke yang sedang menatap balik ke arahnya sambil memegang asbak. Pria berambut bob itu menelan ludah. Berani salah bicara lagi, dipastikan asbak keramik itu akan menempel di kepalanya.

"Menurutku kau jangan memaksakan dirimu, Naruto. Mungkin kau hanya perlu mengubah rambutmu seperti semula. Kupikir rambutmu yang dulu jauh lebih keren." Lee mencoba menghibur Naruto setelah diancam dengan pisau oleh Sasuke.

Seluruh kepala yang berada di ruangan itu mengangguk setuju.

Sasuke menepuk bahu Naruto pelan. Ia tersenyum tipis sekedar untuk menghibur sahabatnya ini. Naruto mendongak menatap Sasuke dengan pandangan penuh harap yang dibuat sememelas mungkin.

'Glek.'

Mau apa lagi anak ini?

"Kau maukan menemaniku ke salon Mizu lagi, Saskey?"

"TIDAKK!"

Dan melayanglah sebuah asbak ke arah Naruto.

TBC

oOo

Wuaaa... Kok tambah aneh begini ya... Maafkan otak saya yang pas-pasan ini T_T *pundung bareng Naruto di pojokan*

Saya lagi banyak ujian sih... Jadi waktu banyak kepake buat belajar. Buat ficnya jadi buru-buru deh... *disodok pake sapu*

Oh ya, sengaja saya munculin OC di sini, karena saya ga rela chara yang susah payah dibuat MK jadi ancur di tangan saya… Maka terciptalah karakter Mimizu di chap ini. Maaf ya kalau kurang berkenan...

Tidak bosan-bosannya saya ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya atas saran, masukan & komentar yang telah diberikan di chapter kemarin *ngusap air mata*.

Jadi apakah teman-teman semua punya saran, masukan, komentar atau apapun tentang fic abal ini?

Maukah mereview? …^_^