.
Kasmaran
.
.
Summary : Naruto yang kasmaran, Sasuke yang muter otak./ "Sakura-chan suka tanaman, ya?"/ "Karena cintamu telah merindangi hatiku."/ "Bapak kamu penjual ikan ya?"/ "Kok tahu?"/ Chap. 4 Update. Mind to review?
.
.
Special thanks to:
Miya-hime Nakashinki, Tisa's Flower Re-bloom, Barbara123, Nara Aiko, Hikaru Kin, Akasuna no hataruno teng-tong, Bocah elek, Rinzu15 The 4th Espada, Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura, Bell-chan, Masahiro 'Night' Seiran, Wi3nter, OraRi HinaRa
Dan semua silent readers yang telah sudi meluangkan waktunya unuk membaca fic ini ^_^
.
.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto seutuhnya
Rate : T
Pairing : Narusaku
Genre : Romance / Friendship
Warning : AU, OOC, Typos, aneh, abal, super garing, & masih banyak lagi...
.
.
Enjoy the fic ^_^
.
.
Langkah kaki Naruto menggema di sepanjang koridor. Tentu saja dengan model rambut seperti semula. Sepertinya Namikaze muda ini telah kembali ke jalan yang benar. Di sampingnya ada Sasuke dengan tampang stoic-nya yang biasa, menandakan bahwa pemuda itu sudah tak marah lagi karena berhasil dibujuk dengan sekarung tomat. Naruto cemberut. Sasuke memang gila. Jika ia marah, ia bisa bertindak brutal seperti kemarin. Untung saja Naruto bisa menghindar dari asbak yang dilayangkan Sasuke ke arahnya. Kalau tidak, klan Namikaze akan musnah begitu saja hanya karena sebuah asbak. Mengerikan.
"Dobe, lihat." Sasuke menunjuk sesosok mahkluk berwarna pink di kejauhan sana. Wajah Naruto langsung cerah. Tapi sesaat kemudian ia langsung manyun. Sasuke menautkan alis. "Kau tunggu apa lagi?"
"Aku bingung harus melakukan apa," keluh Naruto. Sasuke berdecak kesal.
"Sakura! Naruto ingin bicara denganmu!" panggil Sasuke dari kejauhan. Naruto langsung kalang kabut.
"Hey, Teme! Kenapa kau memanggilnya? Aduh... dia kemari lagi. Apa yang harus ku katakan padanya?" Naruto menggigit-gigit jarinya gugup. Wajahnya makin pucat melihat Sakura yang kian mendekat ke arahnya.
"Ajak dia kencan, Bodoh. Aku pergi." Sasuke memukul punggung Naruto pelan dan beranjak dari situ.
"Hai, Naruto. Rambutmu ubah lagi ya?" sapa Sakura.
"Eh... iya... eng... Sakura-chan…." Naruto menggaruk kepalanya.
"Ada apa? Katanya ada yang ingin kau bicarakan?"
"Anu... begini…. Besok Sakura-chan punya waktu senggang tidak? Aku ingin... mengajakmu... keluar... kalau bisa." Naruto harap-harap cemas.
"Hmmm... baiklah. Sepertinya besok malam aku punya waktu," jawab Sakura.
Mata Naruto langsung berbinar-binar.
"Benarkah?"
Sakura mengangguk dan tersenyum tipis.
"Arigatou, Sakura-chan. Besok jam 7 aku jemput ya. Sampai jumpa." Naruto langsung kabur ke kelas dengan kecepatan super.
OoO
"Temeeee! Gosh! Teme, kau pasti tidak percaya ini. Besok malam aku dan Sakura-chan akan kencan!" Naruto menjerit-jerit kegirangan sambil mencekik dan menggoyang-goyang leher Sasuke tanpa sadar dengan penuh kesengajaan. Sementara anggota genk kecoa mati lainnya malah sibuk bersorak-sorak dan bertepuk tangan menyemangati Naruto agar lebih erat lagi memegang leher Sasuke. Teman yang kurang ajar.
"Dob-dobe... leherku... putus... lepas…." Sasuke berkata dengan susah payah sambil menunjuk-nunjuk lehernya. Naruto yang tersadar sontak melepas tangannya dari leher Sasuke sambil memasang wajah polos tanpa dosa.
"Eh... maaf, Saskey. Aku tidak sengaja," sahutnya takut-takut sambil menatap ke arah Sasuke yang sedang menatap balik ke arahnya dengan wajah yang memerah karena nafsu. Nafsu membunuh lebih tepatnya. Sai, Shikamaru, Lee, Kiba, Chouji, dan Shino langsung mengheningkan cipta. Takut kena gamparan maut ala Uchiha.
"Kau mau membunuhku, Sialan?!" tanya Sasuke dengan nafas terengah-engah.
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Lee terkikik geli membuat Naruto menatap pemuda itu dengan sengit.
"Dasar mangkok bakso!"
Lee memonyongkan bibirnya.
"Durian cacat mental!"
"Hidung tomat!"
"Hey, jangan bawa-bawa tomat ya di sini." Sebagai pencinta tomat sejati, Sasuke langsung protes.
"Dasar ramen basi!"
"Maniak baju ketat! Apa itu? Cuih!"
"Diam atau ku kuliti kalian hidup-hidup," ancam Sasuke seraya menancapkan sebilah pisau ke atas meja. Naruto dan Lee langsung tutup mulut rapat-rapat.
Ketika dirasa cukup hening, Sasuke berdehem-dehem. "Jadi seperti yang kita ketahui bersama, besok malam adalah kencan perdana Naruto dan Sakura. Kita harus menyusun rencana agar kencan besok bisa berjalan dengan lancar agar teman kita yang sinting ini bisa segera mendapatkan apa yang diinginkan. Ada yang punya usul?" Sasuke memandang teman-temannya secara bergantian.
Semuanya geleng-geleng kepala.
Sasuke memutar bola matanya dan menghela napas panjang. "Sudah kuduga kalian semua pasti tidak punya pengalaman dengan masalah seperti ini," lanjutnya lagi.
"Memangnya kau punya? Dekat dengan wanita saja tidak pernah," cibir Kiba. Sasuke menaikkan ujung bibirnya sedikit.
"Menurutmu?" tanyanya balik.
Yang lain mengangkat bahu.
"Ajak Sakura candle light dinner di tempat yang romantis. Tatap matanya dengan lembut dan hujani ia dengan kata-kata cinta. Wanita itu senang diperhatikan," terang Sasuke. Ia melipat tangannya di dada dan mengangkat sebelah kakinya di atas kaki yang satu lagi.
"Wuah... kau hebat, Teme. Cuek-cuek begini ternyata expert juga." Naruto menepuk-nepuk bahu Sasuke diiringi dengan tepukan riuh dari semuanya.
Sasuke menyeringai. Tak ada yang tahu bahwa sesungguhnya sikap cueknya selama ini hanyalah kamuflase untuk mengaburkan fakta bahwa sebenarnya dia juga sama sekali tak tahu apa-apa tentang masalah romantika seperti ini. Jangankan pacar, teman berjenis kelamin perempuan saja tak punya. Kini jelas sudah mengapa Mikoto bisa tega-teganya menuduh anaknya sendiri. Jadi tidak usah dipertanyakan lagi tentang kebenaran dan keakuratan ucapan Uchiha muda itu. Bisa dipastikan semuanya adalah omong kosong belaka. Garis bawahi itu saudara-saudara.
OoO
"Teme, sebentar ada waktu kosong tidak?" tanya Naruto pada Sasuke yang sedang asyik mengukir-ngukir kuku tangannya. Sasuke langsung siaga satu. "Kenapa?" Sasuke bertanya balik sambil memicingkan mata. Naruto langsung tersinggung.
"Biasa saja, Teme. Aku kan hanya bertanya." Naruto bersungut-sungut.
Masih dengan pandangan menginterogasi, Sasuke melanjutkan. "Katakan apa maumu, Dobe. Aku yakin kau pasti punya maksud terselubung."
Naruto cengar-cengir sambil menggaruk-garuk pipi. "Eng... Ini... Karena nanti malam aku dan Sakura-chan akan kencan, hmm... aku ingin terlihat tampan. Maksudku... maukah kau... hmm…."
Alis Sasuke mulai naik.
"Maukah kau... menemaniku…."
Alis Sasuke makin naik.
"Ke salon Mimizu?" tanya Naruto dengan hati-hati sambil memasang jarak yang aman dari Sasuke. Trauma dengan aksi membabi buta yang dilakukan oleh Sasuke tempo hari.
Mata Sasuke membesar seperti bakso.
"Ayolah, Teme... sekali ini saja." Naruto mengatupkan kedua telapak tangannya dan memohon kepada Uchiha bungsu itu.
"Aku sudah bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di tempat nista itu lagi," putus Sasuke sambil mengukir-ukir kukunya lagi.
"Kau tega. Ini kan kencan pertamaku," rengek Naruto sambil menjambak-jambak rambut seksi Sasuke.
"Hei, don't touch! Kau tenang saja, Brengsek. Kau akan ditangani oleh tangan profesional. Semuanya sudah diatur," jawabnya tak acuh sambil mengelus-elus rambutnya yang penyok sebelah karena jambakan Naruto.
Naruto tersenyum lebar. Sepertinya kencan kali ini akan berjalan dengan sukses.
OoO
Namikaze Naruto kini tengah didandani dan dipermak oleh teman-temannya. Ada Sai dan Shikamaru sebagai penata rias, Shino dan Kiba sebagai penata busana, Lee sebagai seksi dokumentasi yang kerjanya hanya memotret-motret Naruto—entah apa maksudnya, dan Chouji sebagai seksi konsumsi yang kerjanya hanya makan keripik di pojok ruangan sambil sesekali memerintah-merintah temannya sambil ongkang-ongkang kaki.
Sementara sang Uchiha sebagai koordinator pelaksana yang tugasnya mengontrol jalannya kegiatan permak-mempermak Naruto sambil sesekali menampar atau melempari Lee dan Chouji dengan vas bunga kalau keduanya mulai cari perkara yang bisa berakibat fatal bagi kehidupan asmara Naruto yang ditentukan oleh kencan perdananya dengan Sakura malam hari ini.
Sebagai orang yang perfeksionis, tentu saja Sasuke ingin kencan Naruto berjalan dengan mulus semulus wajah stoiknya. Berbekal pengalaman buruk yang didapatnya bersama Naruto di salon Mimizu, Sasuke memutuskan agar urusan penampilan Naruto dari ujung rambut sampai ujung kaki akan ditangani oleh teman-temannya sendiri. Meskipun hasilnya nanti masih harus dipertanyakan tentu saja.
2 jam, 13 menit, 59 detik, 11 tamparan, dan 4 lemparan vas kemudian...
Naruto kini berdiri dengan gagahnya di depan kaca. Tubuh atletisnya dibalut setelan jas dan kemeja hitam bak model pemakaman. Sepatu pantofel hitam yang berkilau-kilau menghiasi kaki imutnya. Rambut pirang jabriknya dibuat semakin jabrik sehingga ketajamannya disinyalir mengalahkan ketajaman pisau yang selalu dibawa-bawa Sasuke. Tidak lupa ia memakai parfum kembang tujuh rupa keramat milik Jiraiya, membuat setiap wanita, tua maupun muda, tampak maupun tidak tampak, normal maupun abnormal, pasti akan terpesona a.k.a klepek-klepek melihat kedahsyatan Naruto.
Satu kata. Sempurna.
"Teme, aku takut…." lirih Naruto bicara. Peluh mulai bermunculan di dahinya.
"Jangan berkeringat, Baka." Dengan cekatan Sasuke langsung mengambil selembar tissue dan membersihkan wajah Naruto.
Semua penghuni di ruangan kontan bersuit-suit ria melihat adegan 'panas' itu. Sasuke langsung melemparkan tatapan maut andalannya dan mengeluarkan pisau dapur yang terselip di saku blazernya. Entah sejak kapan Sasuke punya hobi bawa-bawa pisau, yang pasti suit-suitan yang mengalun dengan indah tadi langsung hening seketika. Siapa yang mau ambil resiko bersuit-suit ria dengan pisau yang menancap di kepala.
"Naruto, bersiaplah. Ini sudah jam tujuh. Kau harus menjemput Sakura." Shino mencoba mendinginkan suasana yang sempat memanas.
"Ingat ya... jangan gugup. Ok?" Kiba menepuk pelan bahu Naruto.
"Hoaem…. Kami semua mendukungmu dari sini."
"Ayo, Naruto. Kobarkan semangat mudamu."
"Naruto, jangan bertingkah memalukan ya di sana. Kau kan—" mulut Sai disumpal lagi dengan tisu bekas oleh Chouji.
"Abaikan dia, Naruto. Bungkuskan aku makanan dari sana ya…."
'PLAK.'
Chouji kena gamparan maut Sasuke.
"Ingat yang sudah kami ajarkan padamu. Pergilah Anak muda…." Sasuke mendorong pelan badan Naruto.
"Terima kasih, teman-teman. Doakan aku ya." Naruto menyalami teman-temannya satu persatu untuk meminta restu. Dengan berbekal jimat dari kakek Madara serta semangat dan keyakinan yang membara, Naruto melangkahkan kakinya dengan mantap.
OoO
Di sinilah mereka. Di sebuah restoran bernuansa klasik, tampak sepasang pemuda dan pemudi yang sedang duduk berhadapan-hadapan dengan meja persegi yang berhiaskan dua buah lilin berwarna merah sebagai penengah. Aroma bunga menguar lembut memanjakan indera penciuman mereka. Alunan nada biola yang menyayat hati makin menambah suasana restoran menjadi semakin mencekam. Ini mau dinner atau uji nyali?
"Sstt... Om, Om... Sini." Naruto mengayun-ayunkan tangannya memberi isyarat kepada seorang pelayan yang wajahnya dipenuhi pierching—sehingga ia lebih terlihat seperti tukang jagal daripada pelayan restoran bintang lima—agar segera mendekat.
"Selamat datang di Akatsuki Restaurant. Saya Pein. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan lembut sambil membungkukkan sedikit badannya. Sopan sekali.
"Aku pesan ramen dan es jeruk. Sakura-chan mau pesan apa?"
"Kok ramen sih? Mana ada, Naruto." Sakura mengerutkan kening.
"Ah, tenang saja. Ramen ada kok. Itulah keunggulan kami. Dari internasional sampai tradisional, dari caviar sampai telur dadar, bisa kami sediakan. Ini untuk menjaring semua pelanggan dari kalangan atas—" pelayan bernama Pein itu menunjuk Sakura.
"—sampai kalangan bawah," lanjutnya lagi sambil menunjuk Naruto membuat pemuda pirang itu mendelik. Ingin rasanya ia mencabuti pierching di wajah Pein dan menelannya satu-satu. Seenaknya saja mengatai orang.
"Kalau begitu aku sirloin steak dan jus strawberry." Pein segera mencatat pesanan Sakura. Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah Naruto.
"Tuan?"
"Sama!" jawab Naruto dengan ketus.
"Baiklah. Pesanan anda akan segera diantarkan," ujar Pein kemudian melenggang pergi meninggalkan Sakura dan Naruto.
Naruto menghembuskan napasnya. Mencoba rileks kembali setelah tensi darahnya dibuat naik oleh pelayan barusan. Sakura tersenyum tipis.
"Kau kenapa Naruto? Wajahmu lucu sekali kalau begitu," kata Sakura seraya menyentuh pipi pemuda di hadapannya dengan lembut. Sakura tersenyum lagi dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang sedikit berembun karena hujan.
Naruto meremas jari-jarinya yang berkeringat. Rasa gugup kembali mendera. Ia menghela nafas pelan mencoba memantapkan hati. Saatnya beraksi.
"Sakura-chan suka tanaman, ya?" Naruto bertanya pada Sakura yang sedang menatap taman bunga di samping bangunan itu melalui jendela.
"Ya. Aku suka sekali. Memangnya kenapa, Naruto?"
"Karena cintamu telah merindangi hatiku," jawab Naruto sok gombal.
'BLUSH.'
Rona merah menghiasi wajah seseorang. Tapi hey…. Setelah ditelusuri ternyata bukan Sakura yang wajahnya memerah. Melainkan seorang wanita yang duduk tak jauh dari tempat mereka berdua dengan keriput menghiasi wajah cantiknya. Sebut saja namanya Chiyo. Sementara Sakura malah memasang tampang datar sembari mengangkat bahu tak mengerti.
Naruto sweatdrop. Sepertinya butuh usaha lebih keras lagi.
"Hujan ya…." Naruto mulai melancarkan aksinya lagi. Tidak sia-sia ia begadang satu hari satu malam untuk menghafal jurus-jurus rayuan gombal dari buku warisan sang kakek, Jiraiya.
Sakura mengangguk pelan.
"Pasti waktu Sakura-chan lahir, ada hujan seperti ini."
"Masa sih?" tanya Sakura tak percaya.
"Iya dong…. Karena surga pasti menangis sedih bidadari tercantiknya turun ke bumi."
'PLAK.'
"Aduh, kok ditampar sih?" Naruto mengelus-ngelus pipinya yang memerah karena tamparan Sakura.
"Jangan begitu, Naruto. Kau membuatku malu." Sakura berkata sambil tersipu. Wajahnya sedikit menunduk dengan garis-garis kemerahan di pipinya.
Naruto langsung sumringah.
"Sakura-chan, bapak kamu penjual sendok ya?"
"Hah?" Sakura cengo.
"Karena kamu telah mengaduk-ngaduk hatiku."
Sakura senyam-senyum sendiri.
"Bapak kamu penjual ikan ya?" kali ini Sakura yang bertanya.
"Eh?" Naruto langsung menatap Sakura dengan penuh tanya.
"Karena wajahmu mirip seperti ikan. Hahaha." Sakura tertawa terpingkal-pingkal membuat lubang hidung Naruto kembang kepis karena bete. Suasana romantis yang susah payah dibangun luluh lantak seketika hanya karena lelucon Sakura yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali.
'Sabar, Naruto…. Cinta memang butuh perjuangan.' innernya menyemangati.
"Bapak kamu penjual racun ya?" Ia mulai melancarkan aksi lagi.
"Kok tahu?" jawab Sakura dengan suara bariton. Hah? Bariton?
"Karena kamu te—eh, suara siapa itu?" Naruto celingak-celinguk mencari sumber suara misterius itu. Matanya langsung menyipit tak suka setelah melihat bahwa sumber suara tadi berasal dari seorang pemuda berambut merah dengan wajah manis nan innocent yang sedang berdiri tak jauh dari tempat Naruto dan Sakura berada. Siapa lagi kalau bukan Sasori.
"Karena kamu telah meracuni pikiranku." Sakura langsung menyambung.
"Hahaha…. Sakura-chan bisa saja." Sasori cengengesan sambil menundukkan kepala malu.
'GRRR.' Naruto mulai mengigit-gigit meja karena sebal.
"Sasori, bergabunglah bersama kami. Kau tidak keberatan kan, Naruto?" Sakura berdiri dan menarik pelan lengan Sasori untuk mendekat ke meja mereka.
"Tentu saja aku tidak keberatan," sahut Naruto sembari tersenyum manis semanis Orochimaru. Sasori balas tersenyum pada Naruto. Tidak sadar bahwa pemuda pirang di depannya sudah mengutuk-ngutuk dirinya sedari tadi.
"Aku ingin sekali bergabung dengan kalian, tapi…." Sasori menggantung kalimatnya.
'Yes!' Naruto bersorak dalam hati.
"Tapi kita kan punya tugas kelompok, Sakura-chan. Dan besok presentasinya. Kau lupa ya?"
"Ah ya... kok bisa lupa, sih?" Sakura menepuk jidatnya lalu melayangkan pandangan menyesal ke arah Naruto.
"Hmmm... maaf, Naruto. Aku harus pergi sekarang. Jangan marah ya? Sampai jumpa." Sakura mengelus pundak Naruto sekilas lalu bergegas pergi bersama Sasori.
Naruto terdiam sesaat dan bibirnya mulai bergetar.
"HUWAAA... TEMEEE…."
OoO
'BLAM.'
Suara pintu yang ditutup agak pelan membuat Sasuke mengalihkan pandangannya dari arah TV.
"Jadi bagaimana? Berhasil?" tanya Sasuke pada Naruto yang sedang berjalan gontai ke arahnya.
Naruto menghela napas sebelum membuka suaranya.
"Tidak." Singkat, padat, dan cukup membuat Sasuke lumayan shock.
Pemuda berambut raven itu menatap Naruto dengan seksama. Mencoba mencari-cari raut kekecewaan di sana.
"Kau baik-baik saja?" Sasuke bertanya dengan nada prihatin.
"Tentu saja, Bodoh." Naruto mengangkat bahu tak peduli.
"Cih. Bersikap sombong memang cara paling mudah untuk menyembunyikan sakit hati." Sasuke mendecih seraya menyandarkan punggungnya kembali ke sofa.
"Well, tak ada yang perlu ku khawatirkan. Masih ada cara lain." Naruto mengibas-ngibaskan tangan dan menghempaskan dirinya ke sofa.
Sasuke mendengus sebal. Percaya diri sekali dia bicara. Memangnya siapa selama ini yang harus didesak-desak agar segera bergerak.
"Aku tidak perlu khawatir. Kan ada kau yang membantuku, Saskey." Naruto mengubah suaranya yang tadinya datar berubah menjadi manja sambil bergelayut di lengan Sasuke.
Urat di dahi Sasuke berkedut. Harus diakui berteman dengan Naruto merupakan cobaan paling berat untuknya.
'Sabar Sasuke…. Kalau kau sabar, ketampananmu akan bertambah.' Sasuke mengulang-ngulang kalimatnya dalam hati seolah itu adalah mantra penambah kesabaran.
Keningnya berkerut menandakan ia sedang berpikir keras. Tiba-tiba ia menjentikkan jari dan menyeringai.
"Aku punya rencana."
TBC
Author's note :
Haahhh... Maaf banget kalo chapter ini malah makin ancur & garing T_T. Tiba-tiba aja saya kehabisan ide untuk fic ini. Makanya agak lama update-nya. Belum lagi saya udah makin sibuk & urusan makin banyak plus tugas-tugas yang makin numpuk *malah curcol#plak*. Pengen discontinue, tapi sayang juga... Jadi harap maklum ya... Saya hanya bisa minta komentar, kritik, & sarannya tentang fic ini. Biar makin semangat gitu nge-lanjutinnya *dilempar pisau sama readers*.
So...
Review please ...^_^...
