.

Kasmaran

.

.

Summary : Naruto yang kasmaran, Sasuke yang muter otak./ Chap. 5 Update. Mind to review?

.

.

Special thanks to:

Semua reviewers baik hati yang telah sudi meluangkan waktunya untuk membaca dan mereview fic ini. Maaf tidak bisa disebutkan satu persatu.

.

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto seutuhnya

Rate : T

Pairing : Narusaku

Genre : Romance / Friendship

Warning : AU, OOC, Typos, aneh, abal, super garing, & masih banyak lagi...

.

.

"Aku punya rencana." Uchiha Sasuke membuka suaranya di hadapan genk kecoa mati yang kini tengah mengadakan konfrensi meja kotak di markas mereka—dimana lagi selain di rumah Uchiha—untuk membahas misi pedekate Naruto yang kemarin gagal total akibat kedatangan Sasori.

Kiba mengangkat bahu. "Sejujurnya aku mulai ragu padamu Sasuke. Rencanamu yang terakhir malah gagal. Benar kan Naruto?" pemuda bertato merah di pipi itu melirik Naruto.

Naruto manggut-manggut membuat Sasuke mendelik. "Kau juga meragukanku?"

Pemuda pirang itu menggaruk-garuk kepalanya. Ketombean mungkin. "Aku percaya padamu, Saskey. Tapi…."

Chouji ikut menyambung. "Apa benar kau berpengalaman, Sasuke? Apa kau pernah dekat dengan seorang gadis? Rencanamu selalu tidak sukses." Ucapan Chouji disambut dengan seruan dan anggukan dari yang lain.

"Apa yang kalian katakan?" tanya Sasuke merasa terintimidasi oleh tatapan penuh keraguan dari seluruh kawan-kawannya.

"Satu-satunya wanita yang dekat dengannya adalah ibunya," komentar sai datar.

'KREK.'

Bunyi tulang terdengar dari sela-sela jari Sasuke. Yang lain langsung terdiam dan pura-pura melanjutkan aktifitasnya kembali.

"Dasar psikopat," gerutu Lee.

"Apa kau bilang?"

"Err…. Aku bilang kau malaikat."

"Ya. Malaikat pencabut nyawa. Hihihi….'" Chouji langsung menyambung dan terkikik pelan.

Sasuke mengeluarkan sebilah pisau dan menancapkannya di atas meja. "Kau ingin kurus, Chouji?"

Chouji mengkeret. "Tidak, terima kasih."

Sasuke menghela napas sebelum membuka mulut. "Kalau tidak bisa pakai cara halus, terpaksa kita harus pakai cara kasar," lanjutnya lagi.

Naruto histeris. "Teme, kau ingin membunuh Sakura-chan?"

Sasuke langsung menendang Naruto. "Sembarangan. Aku dan lainnya akan berpura-pura menjadi penjahat yang mengganggu Sakura. Sedangkan kau—" Sasuke menunjuk hidung Naruto dengan kaki. "—akan pura-pura menyelamatkan Sakura dari kami."

Shikamaru memandang aneh Sasuke. Sebagai orang yang paling waras di kelompok ini ia agak kurang terima dengan rencana Uchiha bungsu itu. Menurutnya terlalu drama. Norak. "Kau dapat darimana rencana aneh itu?" tanya pemuda nanas itu dengan heran.

Sasuke mendecih. Menganggap Shikamaru kurang gaul. "Pasti berhasil. Aku pernah melihatnya di sinetron dan—"

Semuanya langsung bisik-bisik.

"Wuah. Sasuke suka nonton sinetron." Sai dan yang lainnya mulai menggunjingkan pemuda emo itu.

Urat di jidat Sasuke praktis membentuk persimpangan. "HEY, DENGARKAN KALAU AKU BICARA!" Ingin rasanya ia mengeluarkan amaterasu dan membakar semua sahabat kurang ajarnya ini dengan api hitam.

"APA KALIAN PUNYA RENCANA YANG LEBIH BAIK?!" Sasuke mulai ganas. Shino, Sai, dan Shikamaru langsung mengipas-ngipas Sasuke agar lebih adem. Naruto dan Kiba memijat-mijat bahu Sasuke sementara Chouji dan Lee ngumpet di balik sofa.

"Sabar, Saskey. Ayo, lanjutkan rencanamu. Aku membutuhkanmu. Akan kubayar dengan sepiring tomat deh."

Sasuke makin cemberut. Sama sekali tak terhibur dengan aksi bujuk rayu yang dilakukan oleh Naruto. Ia menggigit bibir menahan bulir-bulir air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Bayangkan saja. Seorang Uchiha hanya dihargai dengan sepiring tomat yang harga per-kilonya saja tak lebih dari 20.000 di pasaran. Menyedihkan.

"Bagaimana kalau begini saja. Sakura kita culik, kita siksa, lalu kita paksa menikahi Naruto?" Lee yang masih ngumpet di balik sofa mencoba memberi usul.

Naruto kontan melempar wajah Lee dengan kaos kaki milik Sai membuat pemuda berbulu mata lentik itu megap-megap seperti biawak yang sedang sakaratul maut. "Dasar sinting!"

"Kalau tidak ada yang punya usul lagi, mari kita jalankan rencana Sasuke." Giliran Kiba yang angkat bicara. Ia mulai tak tahan dengan kericuhan tak jelas ini. Padahal cuma ingin menyusun rencana untuk Naruto tapi malah lebih mirip seperti demo penolakan gang Dolly saja. Rusuh. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke teman-temannya yang lain. Semuanya tampak setuju. Tak ada pilihan lagi.

Chouji mengangguk. "Meskipun agak norak, tapi rencana Sasuke jauh lebih baik dibanding rencana bodoh Lee. Aku tak mau ditangkap polisi karena menculik seseorang."

Naruto, Shino, Shikamaru, Kiba, dan Sai ikut-ikutan mengangguk setuju atas perkataan Chouji. Tumben bocah gempal ini pintar.

Sasuke sedikit sumringah. Senang karena rencana yang menurutnya hebat ini (padahal tidak) diterima oleh kawan-kawannya. "Rencanamu memang bodoh Lee. Makanya jangan terlalu banyak makan cendol. Hehehe." Sasuke tertawa pelan. Mencoba melucu padahal garing bagaikan keripik kentang yang dijual di supermarket.

Krik.. krik.. krik...

Jangkrik Shino berbunyi.

Semua langsung melemparkan tatapan 'apaan sih?' pada pemuda berambut buntut angsa itu.

Sasuke berdehem pelan sambil kembali asyik mengukir-ukir kukunya kagi. Pura-pura tidak terjadi apa-apa. Padahal pelupuk matanya mulai memanas.

"Kau sih Lee... Sasuke jadi nangis tuh…." Naruto mencolek-colek kepala Lee.

Sasuke melotot. "Siapa yang menangis, Bodoh!" tukasnya tak terima.

"Terus air-air dekat mata itu apa?" Naruto menunjuk-nunjuk mata Sasuke.

Yang ditunjuk malah makin berkilah. "I-ini keringat, Brengsek!"

Sai mengernyit. "Memangnya ada keringat mata?"

"Ada. Keringat kesedihan. BUAHAHAHAHA." Kiba menimpali seraya tertawa keras seperti orang kesurupan. Yang lain pun ikut tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja. Bahkan Shino yang terkenal pendiam pun justru suaranya lah yang paling nyaring. Punya dendam terselubung sepertinya.

Kilat tampak menyambar-nyambar di atas kepala Sasuke. "KALIANNN!"

'BUG BAG.'

Alhasil semua genk kecoa mati—minus Sasuke—terkapar di rumah sakit selama dua hari karena hantaman Sasuke yang mengamuk.

Persahabatan yang manis bukan?

OoO

Naruto mematut-matut dirinya di cermin. Membolak-balikkan badannya untuk mengecek penampilannya hari ini. Sudah seperti pahlawan kah dirinya. Ya. Ini adalah hari di mana mereka akan menjalankan aksi penyelamatan Sakura.

"Apa sebaiknya aku memakai baju Superman saja, Teme? Agar aku lebih terlihat seperti pahlawan," usul Naruto sambil cengengesan. Ia melirik Sasuke yang tengah memasang baju penjahatnya. Tak lupa sebuah topeng menghiasi wajah kecenya. Sempurna. Mirip seperti maling ayam.

Sasuke menoleh lalu tersenyum kejam. "Bagaimana kalau kau jadi Hulk saja? Aku akan melemparkanmu ke selokan penuh lumut."

Naruto manyun tapi tetap menurut. Ya sudahlah. Toh ia tetap terlihat tampan dengan baju casual seperti itu. Mirip boyband korea, batinnya. Naruto cekikikan sendiri.

"Lihat aku, dengan kostum seperti ini aku seperti penjahat dalam film. Kalian malah seperti maling jemuran." Sasuke tersenyum puas melihat dirinya dalam cermin. Sementara yang lain mulai sikut-sikutan sambil memonyong-monyongkan bibir mendengar perkataan narsis dari Uchiha. Sasuke ini lebay juga ternyata. Narsis pula. Tapi tak ada yang berani komentar. Takut kena gampar.

OoO

Dan disinilah mereka sekarang. Menunggu tak urung seperti orang bodoh yang tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Naruto mengecek jam tangannya entah untuk yang keberapa kalinya. Ia mulai gelisah. Gadis pink yang mereka nanti-nanti tak kunjung menampakkan jidatnya. Mana ia dikerubuti lalat bagai sampah. Lengkap sudah penderitaan.

Di pohon yang berada tepat di seberang trotoar, tampak Sasuke dan kawan-kawan mulai dikerumuni semut merah. Pemuda Uchiha itu memelototi Naruto. "Woy! Kau yakin Sakura akan melewati jalan ini?" Sasuke menghubungi pemuda pirang itu melalui alat komunikasi mereka.

Naruto meringis sembari memberi kode pada Sasuke agar tetap sabar. Sasuke mengacungkan tinjunya. Di sampingnya, Chouji sudah mulai goyang itik. "Kapan Sakura akan lewat, Sasuke? Semut-semut ini masuk ke dalam pakaianku," keluh pemuda tambun itu.

Sasuke berdecak kesal. "Kau pikir hanya kau yang digigit? Kau tidak liat mereka mulai masuk ke dalam hidungku?"

"Ssstttt…. Itu target kita." Shikamaru memberi tanda kepada seluruh rekannya setelah melihat sesosok wanita merah jambu yang sedang berjalan ke arah mereka sembunyi.

"Ayo kecoa mati. Kita bersiap. Dobe, kau tunggu tanda dari kami baru kau boleh keluar." Sasuke memberi komando. Semuanya mengacungkan jempol. Misi dimulai.

"Hey, Nona. Sendirian saja?" Beberapa pemuda bertopeng kini menghalangi jalan Sakura. Gadis itu menautkan alis.

"Kalian siapa? Mau apa?"

"Kami datang untuk merampokmu. Hahahaha!" Shino tertawa antagonis.

Hening.

Shino tidak berbakat jadi aktor rupanya.

"Ehm... Serahkan hartamu!" Sasuke mencoba menyelamatkan situasi yang canggung akibat akting buruk Shino. Ia mengacungkan pisau plastik pada Sakura sambil bersiul-siul. Kode untuk Naruto agar segera keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi yang ada ia malah seperti om-om genit yang suka menggoda gadis-gadis muda. Dan Sakura yang salah paham langsung menimpuk Uchiha itu dengan tas gandengnya.

"Dasar perampok mesum!"

Hilang sudah harkat dan martabat Uchiha.

"Si bodoh itu mana sih? Ini kan waktunya dia muncul. Cepat panggil dia!" bisik Sasuke pada Shikamaru.

Shikamaru kemudian berlari ke belakang dan melihat Naruto yang sedang berjongkok di balik tong sampah sambil menyisir-nyisir rambutnya serta menyemprotkan pengharum ruangan ke mulutnya. Kemudian ia menghembuskan napas lewat mulut pada telapak tangan untuk sekedar mengecek apakah mulutnya sudah wangi seperti di iklan-iklan.

Shikamaru menepuk jidatnya. "Hey, Naruto. Giliranmu maju tuh. Kau tak dengar isyaratnya?"

"Oh, maaf. Aku hanya ingin terlihat tampan dan wangi." Naruto cengir kemudian mulai pasang aksi.

"Hey, kalian! Beraninya dengan perempuan. Kalau berani lawan aku." tantang Naruto sok jago membuat rekan-rekan premannya ingin muntah melihatnya. Alay sekali.

"Hiyaatttt!" Naruto berlari dengan kecepatan tinggi dan mengepalkan tinjunya bersiap memukul 'preman-preman' yang mengganggu Sakura.

10 meter...

5 meter...

1 meter...

dan...

'BRUK.'

Dengan nistanya Naruto jatuh terkapar tepat di hadapan Kiba karena tidak sengaja menendang pot bunga berukuran sedang yang sejak zaman baheula sudah ada di situ dengan mulut menempel di sepatu Kiba yang wanginya aduhai.

Sasuke menutup wajahnya malu, sementara yang lainnya mengalihkan pandangan ke arah lain. Pura-pura tak lihat. Sakura? Jangan tanya. Wajahnya menunduk, bukan karena tidak tega melihat Naruto yang jatuh dengan tidak indahnya, tetapi karena mati-matian menahan ketawanya. Sungguh tidak etis menertawakan orang yang ingin menolongmu bukan?

Naruto cepat-cepat berdiri dan menunjuk Sasuke tepat di batang hidung.

"KALIAN PASTI SENGAJA MENYABOTASE POT BUNGA ITU KAN?" tuding Naruto. Sengaja ia berkata begitu untuk mengalihkan perhatian sehingga ia tetap terlihat keren di hadapan Sakura.

Preman-preman itu mengangkat bahu tak peduli.

"Eh, tunggu…. Apakah kita saling kenal sebelumnya?" Sakura bertanya kepada salah satu preman bertopeng. Gadis itu mengernyitkan dahi. Rambut unggas itu. Sepertinya tak asing lagi.

"Eh... eh... tidak. Aku hanya bagian dari imajinasimu." Sasuke kelabakan menjawabnya dan tanpa pikir panjang lagi ia langsung ngibrit ke balik pohon.

"Kecoa mati... kecoa mati... mundur dari posisi. Sekarang!" Sasuke menghubungi semua teman-temannya melalui microphone kecil yang terhubung dari balik bajunya.

"Dasar preman kurang ajar! Rasakan ini!" Naruto yang tengah menghayati peran kini masih asyik memukuli dan menimpuk Chouji dengan kerikil-kerikil yang entah dia dapat dari mana.

"Hey, Naruto! Jangan menimpukku," kata Chouji sambil memegang kepalanya, untuk menghindari lemparan batu dari Naruto.

"Ayo, Chouji! Ketua memanggil. Keadaan kita terdesak," Lee berkata sambil memajang wajah dramatis sambil menempelkan punggungnya di dinding, persis seperti agen rahasia di film-film. Chouji sweatdrop.

Karena terlalu lincah bergerak, tanpa sengaja, tangai mungil Sail menyentuh paha Sakura dan adegan itu dilihat oleh mata kepala Naruto sendiri.

"WAAA! BERANINYA KAU SAI!"

"Sai?"

"Ah, eh…. Maksudku beraninya kau saiur asam!"

Naruto langsung mencekik leher Sai dengan bringas. Sementara anggota kecoa mati lainnya malah sibuk memisahkan Sai dari Naruto yang sedang berubah menjadi siluman rubah ekor sembilan.

"Hey! Jangan terlalu terbawa suasana, Goblok!" Sasuke memukul-mukul tangan Naruto yang sedang bertengger di leher Sai.

"Huee…. Tangannya memegang paha Sakura. Aku juga mauuu…."

'BLETAK.'

Jawaban Naruto yang polos membuat Sasuke naik darah.

Sementara Sakura yang berdiri tak jauh dari tempat kejadian perkara hanya bisa melongo. Rasa takutnya perlahan berubah menjadi rasa heran. Naruto dan preman-preman itu lebih mirip orang yang sedang berdansa dibanding berkelahi.

Sasuke menginjak kaki Naruto dengan gemas. "Jalankan sesuai skenario! Sakura masih melihat kita. Misi kita harus cepat selesai."

"Kenapa buru-buru sih?" Bibir Naruto meruncing. Kapan lagi ia bisa berperan sebagai pahlawan di depan gadis pujaannya. Ini malah dibatasi waktu. Memangnya Cinderella.

"Kalau tidak cepat-cepat, nanti uang sewa pakaiannya bertambah. Ini kan cuma pinjam sama Kakuzu."

Semuanya cengo. Uchiha pelitnya minta ampun ternyata.

Sai lalu maju ke depan. Berdiri tepat di hadapan Sakura dengan gaya bak tante-tante yang lagi nagih uang kontrakan. "Hey, kau Nona kepala gulali. Cepat serahkan uangmu," ancamnya centil.

'Gyut.'

Urat Sakura mulai bermunculan mendengar kalimat Sai yang menyinggung soal kepala merah mudanya. Sekali lagi Sai salah bicara mungkin ia akan segera berubah menjadi Hulk pink.

"Eh, eh, Sakura kok marah sih. Premannya kan cuma bercanda." Naruto mencoba menenangkan hati gadis itu namun sepertinya tak mempan. Jika sudah menyangkut warna rambutnya pilihannya cuma dua, benjol atau mati.

Sakura mulai menyingsingkan lengan bajunya. "Katakan sekali lagi?"

"Kepala gulali?"

BAG BUG PLAK MEONG DUARR...

OoO

Sasuke nyaris berlinangan air mata melihat wajah mulusnya kini dihiasi beberapa benjolan berwarna merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Persis seperti pelangi.

"Wajah tampanku…." ratapnya dramatis.

Sementara genk kecoa mati lainnya jangan ditanya. Wajah mereka pun tak luput dari tonjokan Sakura. Benjolan di mana-mana. Bahkan Sai yang paling bertanggung jawab atas insiden kemarin sudah mirip dengan kecoa mati sungguhan. Miris.

Naruto melihat kawan-kawannya dengan iba. Sebagai satu-satunya yang selamat dari amukan Sakura, ia hanya bisa turut berduka cita atas keadaan mereka yang mengenaskan pasca tragedi berdarah kemarin. "Kalian tak apa-apa kan?" tanyanya dengan nada prihatin.

Uchiha bungsu itu kontan mendelik. "Kau ingin membuat kami terbunuh, hah?! Kenapa kau tak bilang kalau ia jago karate?" Sasuke menjambak Naruto.

Naruto cemberut. "Mana aku tahu ia sekuat itu," ucapnya pelan dengan wajah melankolis.

"Seharusnya aku menyerah saja. Percuma," lanjutnya lagi. Mukanya ditekuk. Suram sekali.

Sasuke mengernyit tak suka. "Apa? Kau pikir berapa banyak uangku yang keluar hanya untuk membayar perlengkapan preman-preman itu dan segampang itu kau bilang menyerah?" Ingin rasanya Sasuke memakan kepala duren anak ini. Apalah arti benjol di wajahnya jika Naruto memutuskan untuk menyerah begitu saja?

Naruto hanya bisa terdiam, dilema, galau, dan merana. Mau lanjut berjuang, namun hatinya mulai lelah. Tapi jika ia menyerah, pemuda pirang itu tak bisa membohongi perasaanya sendiri. Lagipula kalau ia menyerah, dikhawatirkan Sasuke akan meminta ganti rugi atas biaya yang Uchiha muda itu keluarkan untuk membantu Naruto. Ia kan lagi kanker. Kantong kering.

Melihat tampang miris Naruto, Sasuke iba juga. Ia menepuk bahu Naruto kemudian tersenyum kecil. "Sudahlah, Dobe. Kalau memang itu keputusanmu untuk menyerah, aku akan mendukungmu. Aku tak akan minta ganti rugi padamu."

Naruto sumringah. Sahabatnya ini kadang seperti dukun yang bisa membaca pikiran Naruto yang sering diluar batas akal manusia. Memang kawan sejati.

"Ya, Mungkin aku menyerah saja dulu dan—"

'Cinta satu malam oh indahnya...'

Lagu cinta satu malam mengalun indah dari ponsel Naruto pertanda adanya pesan yang masuk. Ia membuka kunci ponselnya lalu membaca untaian kata-kata pesan itu dengan hati yang berdebar.

Hai, Naruto. Aku cuma ingin mengajakmu ke festival Konoha besok malam. Aku bersama Ino punya stand lho di sana. Datang ya .

Sakura.

Hidung Naruto langsung kembang kempis. Sasuke praktis memicingkan matanya melihat perubahan signifikan ekspresi wajah pemuda di sampingnya. Apa lagi sekarang?

"Temeeee, Sakura-chan mengajakku ke festival besok malam. Oh Tuhan, aku senang sekali. Sakuraaa-channnnn, tunggu aku. Aku tak akan menyerah!"

Itu kan. Dasar bocah labil.

Sasuke memijat-mijat kepalanya yang mulai pusing.

Sabar….

TBC

Author's note :

Mungkin 1 atau 2 chapter lagi baru tamat #ga ada yang nanya :3

Terima kasih sekali lagi buat yang udah review chapter kemarin. Maafkan saya yg hiatus lama. Review kalian adalah penyemangat buat saya.

Akhir kata.

Mind to review?