.

Kasmaran

.

.

Summary : Naruto yang kasmaran, Sasuke yang muter otak./ Final Chapter Update. Mind to review?

.

.

Special thanks to:

Semua reviewers baik hati yang telah sudi meluangkan waktunya untuk membaca dan mereview fic ini. Maaf tidak bisa disebutkan satu persatu.

.

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning : AU, OoC, typo(s), aneh, abal, super garing, & masih banyak lagi...

.

.

Ada tiga hal di dunia ini yang paling Uchiha Sasuke benci.

Pertama, makanan manis.

Kedua, Itachi si gondrong-man, kakak sulung yang ingin ia hapus dari kartu keluarga.

Ketiga, wajah innocent Naruto yang sengaja dibuat lugu tanpa dosa, tanda sahabat brengseknya ini tengah berusaha meminta sesuatu darinya. Sebagai orang yang telah memakan asam garam kerasnya kehidupan akibat hidup berdampingan dengan pemuda jabrik ini, tentu saja ia hafal di luar kepala kelakuan Naruto yang telah beberapa kali hampir membuatnya meregang nyawa.

Dan hal durjana yang disebutkan terakhir sedang berlangsung saat ini juga. Naruto, pemuda tuna asmara yang tak kunjung berhasil menunaikan misi mulia demi mendapatkan sang pujaan hati tengah memandangnya dengan tatapan sayu nan menggoda bin merayu.

Sasuke mendengus kasar. "Apa?!"

Yang dibentak cuma bisa manyun. Pandangannya dialihkan ke luar jendela. Membiarkan seberkas cahaya senja keemasan menerpa kulitnya. Ia melirik Sasuke yang tengah bersidekap dengan tampang gahar.

"Temani aku, Teme," bujuk pemuda pirang itu memelas. "Aku takut kalau datang ke festival sendirian," katanya seraya memainkan ujung taplak. "Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada Sakura-chan." Ia berucap lirih, lalu menunduk dengan wajah gloomy. Menyeramkan sekali.

Dengusan kesal terdengar sekali lagi. "Tidak bisakah kau berusaha sendiri sekarang? Terakhir kali aku dan lainnya ikut campur, kami semua hampir dipanggil Yang Maha Kuasa. Terutama AKU!" Sasuke menunjuk puing-puing sisa benjolan yang masih tersisa di pelipis kecenya, bukti otentik dari kegagalan misi mereka kemarin.

Naruto cemberut. "Harusnya kalian mendukungku."

Pemuda Uchiha itu mendesis ketus. "Kurang apa kami mendukungmu?!" sambarnya tak terima. "Aku sempat dituduh ibuku sendiri kalau aku adalah homo."

Naruto refleks tersedak. Geli sendiri.

"Aku nyaris mati menemanimu ke salon Mimizu." Pikirannya langsung melayang kepada sosok transgender binal yang pernah me-make over Naruto. Nista.

"Dan yang terakhir..." Telunjuk Sasuke menempel dengan keras di hidung Naruto. "...kau membuat kami semua bonyok dihajar Sakura," tutup pria bermata kelam itu dengan bringas.

Wajah Naruto menekuk. Ingin menjawab tapi takut kena sembur. Sasuke jika sedang murka bisa menimbulkan hujan lokal yang dapat membasahi wajah ganteng lawan bicaranya.

"Temani saja lah, Sasuke. Kasihan anak orang. Kalau dia bunuh diri bagaimana? Kan kita juga yang repot. Apalagi kau. Kau bisa diburu polisi." Sai tiba-tiba menyahut dari belakang Sasuke diikuti oleh geng kecoa mereka. Naruto terlonjak. Sai ini ninja apa dedemit. Suka muncul dan menghilang seenak udelnya yang bodong.

Tampang Sasuke makin kusut. "Kalau dia bunuh diri kenapa harus aku yang dicari polisi?"

Naruto menarik ujung bibir, tersenyum licik. "Kalau kau tidak menemaniku, aku akan tulis surat pada polisi dan membunuh diriku sendiri," ancamnya sambil balik menunjuk-nunjuk jidat Sasuke.

Bungsu Uchiha itu mengulas senyum mengejek. "Ya sudah. Bunuh diri sana! Berkurang satu setan di dunia ini."

"Lho kok?"

Geng kecoa mati berpandang satu sama lain. "Oi, Sasuke. Kalau kau bersikeras tidak mau bantu, kita yang akan melaporkan ke polisi." Kiba ikut mengancam. Dibelakangnya, cecunguk-cecunguk bedebah itu mengangguk tanda setuju.

Gigi Sasuke bergemeletuk. Mengapa teman-temannya ini berbalik menjadi pihak oposisi bagi dirinya. Begini resikonya jika punya teman otak kriminal. Hidup yang penuh duka nestapa jadi makin menderita.

"USURATONKACHI!"

Geng kecoa mati pun langsung minggat sebelum kena auman si raja ayam.

.

OoO

.

Naruto memandang pantulan dirinya di sebuah cermin dengan puas. Balik kiri, balik kanan, sikap lilin, kayang, dilihat dari sudut manapun, tak akan ada yang bisa memungkiri pesona membahana dari sang sulung Namikaze. Tamvan.

Sasuke dan lainnya masuk ke dalam kamar Naruto dan praktis mengernyit. "Sampai kapan kau akan bercermin seperti itu?"

Naruto tertawa pelan, menggaruk-garuk kepala kuningnya dengan keki. "Ini hari penting untukku. Kesempatan terakhir. Jadi aku ingin terlihat sempurna," jelasnya pelan. Sudut bibirnya terangkat.

Genk kecoa mati praktis saling pandang. Menatap sahabat pirang mereka lekat-lekat. "Maksudmu kau akan menyerah kalau hari ini juga gagal?" Shikamaru bertanya curiga.

Naruto menggangguk seraya menyunggingkan senyum kecil. Sasuke langsung menyipit. Ada apa lagi dengan duren busuk ini. "Jangan pasang wajah melankolis seperti itu, Bakayaro. Menjijikkan," ucapnya sebal. Ia terpaksa ikut ke festival dan sahabat gilanya ini malah tiba-tiba memasang tampak bak upik abu. Jangan buat ia mengeluarkan jurus pisau mautnya lagi.

Naruto memutar bola matanya dan menempelkan telunjuknya tepat di bibir Sasuke saat pemuda ayam itu bersiap untuk menyemprotnya lagi dengan kata-kata pedasnya. "Jaga bicaramu, Saskey. Aku sedang tidak mood bertengkar denganmu."

"Pertengkaran suami istri," jawab Sai yang langsung disambut tendangan seribu bayangan dari Sasuke. Yang lain sontak diam. Tak berani buka mulut. Takut kena patok siluman unggas.

Naruto mengangkat bahu tak peduli. "Daripada kalian bertingkah tak jelas di sini, lebih baik kita pergi. Ayo," perintahnya sambil geleng-geleng kepala mengamati perangai sahabat-sahabatnya.

Sasuke spontan mendecih. Bocah pirang ini jika sedang serius, derajat kekampretannya akan naik beberapa tingkat dibanding jika ia berada dalam mode absurd. Ia akan bersikap dewasa dan manipulatif, membuat geng kecoa mati terutama Sasuke akan merasa menjadi satu-satunya orang yang kewarasan otaknya harus dipertanyakan di sini. Tunggu saja saat ia bertemu Sakura. Begitu bertatap muka dengan gadis itu, pasti ia akan kembali bertransformasi menjadi wujud Naruto yang manja dan gemar merepotkan dirinya. Cih!

Pemuda itu merapikan pakaiannya sekali lagi, lalu mengekori langkah Naruto dengan ekspresi dingin, diikuti oleh Chouji dan yang lainnya, bersiap berangkat ke medan perang.

Selang beberapa waktu, setelah mendaki gunung lewati lembah, sampai pula mereka di pusat rekreasi warga, area di mana diadakannya festival tahunan kota. Ramai, terang, ceria, dan langsung membuat Sasuke sakit kepala. Ia mendesah keras, melirik pemuda di sampingnya.

"Stand milik Sakura di mana?" Ia bertanya seraya merapatkan syal hingga menutupi hidungnya yang bangir. Para kaum hawa kerap meliriknya dengan sorot mata liar, penuh nafsu, dan ia tak mau berakhir dengan keperjakaan direnggut paksa di tempat ini. "Lebih baik kita bergegas ke sana. Selesaikan urusanmu dan kita pulang. Acara ini mulai membuatku takut," lanjutnya lagi.

Naruto menoleh, menatapnya dengan kedua alis bertaut. "Berhentilah jadi manusia gua, Teme." Ia meletakkan telapak tangan kanannya di pundak pemuda itu. "Carilah pacar. Aku tahu kau single bukan karena ingin tapi karena takut bergaul dengan lawan jenis," tukasnya lagi. Bersahabat bersama Sasuke semenjak dari orok membuat ia paham dengan karakter Uchiha bungsu ini. Ditambah lagi dengan bukti bahwa semua saran perihal cintanya tak ada yang beres barang satupun, membuat asumsi Naruto semakin kuat. Uchiha Sasuke yang tampannya keterlaluan itu jomblo karena terlalu pemalu pada perempuan. Tapi karena kelewat sombong minta digampar, ia tak ingin mengaku. Cape' deh.

Sasuke mendengus. "Kau pikir aku mau menjadi bodoh sepertimu karena mengejar seorang gadis?" Ia melipat tangan di dada dengan jumawa. "Aku, Uchiha Sasuke tak ingin bertekuk lutut di depan mahkluk yang namanya perempuan," tegasnya sekali lagi.

"Ya, terserahlah." Naruto menghela napas. Raut wajahnya berubah gugup. "Menurutmu, apa Sakura-chan akan menerimaku?" tanyanya pelan.

Obsidian Sasuke hanya bisa berputar malas. "Kalau kau ditolak, berarti dia bodoh." Ia menepuk punggung Naruto, mencoba menenangkan "Akan kuantar kau menemui gadismu." Lalu mereka berjalan beiringan, tak menyadari bahwa di belakang mereka berdua masih ada manusia-manusia malang tak dianggap yang terus menerus memperhatikan aksi mereka dengan pandangan aneh.

"Apa-apaan mereka itu?" Chouji menyikut Shikamaru. "Kita dicuekin. Dipikir kita buntelan kentut apa?"

"Dunia serasa milik berdua." Lee terpingkal-pingkal. "Seharusnya Naruto memacari Sasuke. Lebih cocok dan—"

"Kalian kira aku tak dengar? Mau kutarik bulu dada kalian?!"

Mereka berenam langsung ngibrit karena ancaman sadis Sasuke dari ujung jalan.

.

OoO

.

Naruto melangkah seorang diri menuju stand Sakura yang terletak di tengah-tengah festival, berdekatan dengan taman bunga yang menjadi titik paling strategis di pusat kota. Sementara Sasuke yang berjanji akan menemaninya kini sedang repot mengurusi (baca: menyiksa) teman-teman lainnya dan segera akan menyusulinya ke tempat ini. Jantungnya berdegup kencang kala netra birunya menangkap sosok yang dicari. Gadis pemilik rambut merah jambu itu tengah sibuk mengatur beberapa barang, bersama Ino yang terlihat giat melayani beberapa pembeli. Ia tersenyum lebar dan berniat mendatangi gadis itu, namun baru saja akan mendekati Sakura, kakinya tertahan oleh kedatangan seseorang. Gaara, seorang pemuda berambut merah darah tampak tergesa menghampiri Sakura, memeluk lehernya dari belakang, lalu mengacak pucuk kepala pink-nya dengan akrab.

Naruto tertegun. Lengkungan bibirnya perlahan menghilang. Pun demikian dengan ekspresi cerahnya, sekarang berganti dengan roman murung. Ia berusaha menarik oksigen sedalam mungkin dan yang ia rasakan hanyalah cekatan napas yang semakin erat mencekik paru-parunya. Patah hati? Ya, ini pasti yang disebut patah hati. Menyakitkan rupanya. Bahkan untuk ukuran pemuda ceria seperti dirinya ternyata tak mampu menangani perasaannya sendiri. Ia mengepalkan kedua tangannya dan dimasukkan ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Pelan-pelan ia mundur, membatalkan niatnya untuk menyapa gadis itu. Jawabannya sudah jelas. Ia ditolak tanpa harus bertanya lagi.

Kala ia berbalik, yang ia dapati pertama kali adalah sorot mata prihatin dari Sasuke. Ia memaksakan sebuah senyuman.

"Kau mau ke mana?"

Naruto tertawa kecil, menyembunyikan perasaan gusarnya. "Aku akan ke pinggir danau. Cari angin." Tangan kirinya menyingkirkan beberapa helaian rambutnya yang jatuh menyentuh dahi. "Kalian bersenang-senanglah dulu. Susul aku jika sudah ingin pulang. Atau kalau mau, pulanglah duluan."

Sasuke menahan bahunya. "Tapi Dobe…."

"Tenang saja." Sebuah cengiran terpeta di wajah Naruto. "Aku tak apa-apa. Aku pergi."

Bersamaan dengan figurnya yang mulai menjauh, Sasuke dan yang lainnya menatap kepergian Naruto dengan tampang beku.

"Bagaimana ini?" tanya Sai bingung. Ia menatap sahabatnya yang lain dan respon yang ia dapat nihil. Semuanya bungkam, tak tahu harus melakukan apa.

Sasuke berdecak kesal. Dialihkannya pandangan ke arah Gaara dan Sakura, lantas mengusap kepalanya frustrasi. Jujur saja, kelakuan Naruto barusan jauh lebih mengerikan dari biasanya. Ia berharap pemuda itu akan kembali merengek dan meminta bantuan padanya, tapi nyatanya ia tak berbalik lagi. Ia justru tersenyum dan Sasuke sangat tak suka melihatnya. Laknat! Kenapa malah dirinya yang baper?

"Apa boleh buat. Kita ke sana." Dagu pemuda itu tertunjuk pada sepasang mahkluk berbeda gender yang berdiri berhadapan dan masih saja saling bercanda dengan riang.

Kening Shikamaru terlipat. "Jangan cari masalah di sini, Sasuke."

Kiba menggeleng dengan tangan terkibas. "Tak apa. Aku sepakat dengan Sasuke."

Lee, Chouji, Shino, dan Sai saling pandang sebelum kompak mengangguk setuju. Shikamaru, walaupun awalnya tak mendukung, akhirnya ikut manggut-manggut pasrah setelah dipelototi oleh geng kecoa mati. Mau bagaimana lagi. Jika ia bersikeras pada pendiriannya dan tetap menolak, kemungkinan besar ia yang akan dikeroyok sampai botak.

Sasuke bersidekap dan bertitah, "Apapun caranya, kalian jauhkan si tuyul merah tak beralis itu dari Sakura. Kalau dia mengamuk, cipok saja. Pasti dia langsung sawan. Biar aku yang menyeret gadis itu ke hadapan Naruto."

Setelah mendengar instruksi abnormal dari sang pemimpin geng, mereka semua beranjak menuju stand Sakura dengan tampang seram.

"Ikut kami." Shino, yang perawakannya paling mirip psikopat, menegur dan menarik lengan Gaara. Pemuda itu reflek terkejut dan melawan namun cepat ditahan oleh otot lemak Chouji yang kekar. "Jangan berisik. Ikut saja."

Sakura yang kebingungan hendak melarang dan protes atas tindakan para pemuda-pemuda tersebut, tapi gerakannya dihalangi oleh Sasuke yang berdiri tegap tepat di depannya dengan muka songong. "Kau ikut aku sekarang juga. Kalau tidak—"

"Kalau tidak, kenapa?!" sela Sakura sengit, mulai pasang kuda-kuda.

Sasuke terpegun dan menelan ludah. Ia lupa kalau gadis ini pemegang Dan sepuluh karate. Potongan-potongan masa kelam ketika mereka dihajar oleh Sakura kembali menyerang kepalanya. Sialan. Padahal tadi ia telah berusaha semaksimal mungkin untuk tampil bak jagoan dari gua hantu. Ia terdiam sejenak sebelum berucap pelan.

"Tidak kenapa-kenapa, sih." Muka Sasuke berubah masam. "Tapi kau harus pergi ke taman telaga sekarang. Ada seseorang yang harus kau temui di sana."

Sakura mengernyit heran. "Siapa?"

"Nanti kau akan tahu sendiri," jawab Sasuke lagi. Napasnya terembus malas. "Yang penting kau harus bergegas pergi sebelum dia menyemplungkan diri ke tengah danau."

"He?"

.

OoO

.

Naruto duduk rileks sembari menyelonjorkan kaki di tepi danau buatan yang sepi ini. Tak banyak pengunjung yang berada di sekitar sini karena sibuk menikmati festival. Tubuhnya yang lesu kemudian ditopangkan ke belakang pada sepasang tangannya. Tak dipedulikannya lagi jika celana dan pakaiannya kotor terkena serpihan debu, tanah, dan rerumputan lembab. Yang ia butuhkan sekarang adalah hening dan segalanya ada di tempat ini.

Lampu taman yang remang dan beberapa lampion hias yang tergantung di beberapa sudut taman membuat suasana menjadi syahdu. Ia memejamkan mata sesaat, menikmati semilir angin malam dingin yang menyapu wajah dan surainya hingga membuat kulit sekaligus hatinya berjengit. Tampak di ujung sana, pantulan seberkas cahaya purnama yang terbingkas di permukaan air telaga yang tenang, kian menambah atmosfer di tempat ini semakin senyap. Bagus. Waktu yang cocok untuk bunuh diri. Jika ia sinting, mungkin ia telah berguling-guling dan menceburkan diri ke air gelap itu.

Entah untuk yang kesekian kalinya ia menghela napas berat. Teringat akan fakta yang baru saja ia lihat mengenai Sakura dan Gaara. Dari gerak-gerik mereka, ia bisa menarik kesimpulan yang dalam sekejap saja membuat kalbunya pilu. Ia tak punya kesempatan. Sekeras apapun ia berusaha, tak akan bisa merubah kenyataan yang ada. Sakura tak pernah menyukainya dan malangnya, ia sangat menyayangi gadis itu. Meski ia sering berbuat bodoh (dan ia sendiri menyadarinya), tapi perasaannya benar-benar tulus pada Sakura. Kuso! Buru-buru ia menghapus genangan kristal di pelupuk matanya.

Ia lalu berdiri, menepuk-nepuk debu di bagian belakang celananya, lantas bersiap melenggang pergi. Namun belum sempat kakinya bergerak, ia sudah dikejutkan oleh pekikan melengking dari kejauhan. Di seberang sana, Sakura menatapnya dengan garang. Beberapa detik kemudian gadis itu berjalan cepat menuju ke arahnya.

Mampus! Kenapa lagi ini? Naruto ingin lari tapi tak bisa. Tungkainya sama sekali tak mau diajak bekerja sama. Akhirnya ia hanya bisa menerima takdir. Sudahlah. Terlanjur sakit hati, mau diapakan saja pasti tak akan berasa lagi. Mau dicaci maki, ditendang, dibakar, dioseng-oseng, di—

'PLAK!'

Ya, itu sakit.

Naruto mengelus-elus pipinya yang merah, panas, dan bercap lima jari plus batu akik. Ia merengut samar. "Kenapa kau menamparku, Sakura-chan?" tanyanya lirih.

Di luar dugaan, Sakura justru mencengkram erat kedua pundak Naruto dengan manik zamrud berkaca-kaca. "Ingat Tuhan, Naruto! Ingat Tuhan!" serunya lantang seiring dengan tancapan kukunya yang makin menembus kulit. Naruto meringis dan melongo. Masih tak mengerti.

"Sebesar apapun masalah yang kau hadapi, jangan pernah sekalipun bunuh diri!"

Alis kiri pemuda itu terangkat tinggi. Excuse me? Siapa juga yang ingin bunuh diri? "Siapa yang mengatakan hal konyol itu padamu?"

Mata Sakura mengerjap-ngerjap. "Sasuke."

Dasar ayam! Lubang hidung naruto kembang kempis. Entah apa yang dikatakan Sasuke, yang jelas itu pasti hal yang sama sekali tak masuk di akal. Perlahan, ia melepaskan tangan Sakura yang masih bertengger di bahunya sambil tersenyum tipis. "Maaf, Sakura-chan. Teme hanya bercanda." Ia mengusap kepala merah muda gadis itu. "Aku pulang dulu, ya."

"Kenapa tidak datang ke gerai milikku dan Ino?" Sakura berusaha menahan lengannya.

"Kupikir kau sibuk." Naruto berdehem. "Lagipula aku tak mau menganggu waktumu bersama Gaara. Maaf."

Bersamaan dengan itu, ia menepis lembut jemari Sakura dan berbalik pergi. Bukan saat yang tepat untuk bertemu dan berbincang dengan gadis itu sekarang. Dadanya terasa pekat dan jalan terbaik ialah pulang, daripada harus mendengar hal-hal yang lebih menyesakkan nantinya.

"Kau marah padaku?" Wajah Sakura memelas menyaksikan punggung Naruto yang semakin jauh. "Atau marah pada Gaara?"

Naruto tetap membisu dan meneruskan langkahnya tapi rahangnya mengatup ketika nama itu disebut.

"Naruto! Jawab aku!"

Tidak. Ia tak ingin berbalik.

"Baka Naruto, apa salahku dan sepupuku sampai kau marah pada kami?"

Hah?

Naruto berhenti dan menoleh sedikit. "Siapa sepupumu? Aku tak kenal."

Sakura berdecak sebal dan menghampiri pemuda itu. "Kalau kau tak kenal Gaara kenapa kau berbicara seolah-olah membencinya?"

Tunggu dulu. Tubuh Naruto berpaling sepenuhnya. "Sepupu? Gaara? Bisa jelaskan ada apa ini sebenarnya?" tanyanya gamang.

Sakura mengernyit, memandang balik Naruto dengan aneh. "Gaara itu sepupuku. Kau tak tahu?"

Dan yang bisa putra tunggal Namikaze itu lakukan hanyalah cengo dengan muka tanpa dosa. Ia bermuram durja di pinggir danau, sendirian seperti anak emo, malam-malam, ditemani nyamuk, nyaris menangis, hanya karena cemburu pada sepupu Sakura? Luar biasa gobloknya. Ia betul-betul ingin menenggelamkan diri di tengah danau sekarang.

"Aku menyuruhmu ke festival karena ingin mengatakan sesuatu." Sakura menyambung seraya menundukkan wajah. "Aku... aku..." Ia mencicit seperti tikus. "Aku sebenarnya... menyukaimu." Suara gadis itu bergetar gugup. "Sangat menyukaimu, Naruto."

ARE?!

Naruto yang belum sembuh sepenuhnya dari serangan jantung kecil akibat mendengar pengakuan tadi kini kaku dan tegang bagai disambar petir. Netranya membulat seperti bola tenis. Terkutuklah kupingnya jika salah dengar. Saking kagetnya, mulutnya cuma menutup dan membuka seperti ikan lele tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Sunyi. Keduanya sama-sama mengunci mulut. Yang satu gelisah menunggu respon, yang satunya lagi diam karena terlalu bahagia. Akhirnya setelah beberapa lama tak kunjung mendapat sahutan, Sakura menengadahkan kepala dan sontak memanyunkan bibir jengkel ketika melihat wajah melongo Naruto.

Gadis itu mendengus. "Paling tidak katakan sesuatu meskipun kau tidak suka." Ia memutar irisnya yang hijau. "Menyebalkan." Ia menghentakkan kaki dan berniat meninggalkan Naruto tapi tubuh rampingnya reflek ditarik dan didekap. Dan dalam hitungan detik saja bibir mungilnya telah diambil alih. Naruto mengecupnya dengan mesra, basah, hangat, dan manis, bahkan ia merasakan pemuda itu mengulas senyum saat bibir mereka bertaut.

"Apa ini sudah cukup menjadi jawaban untukmu?" Desahan Naruto spontan menciptakan semburat merah di pipi Sakura. Ia mengangguk lalu melingkarkan kedua lengannya di balik leher kekasihnya. Memperdalam kecupan pertama mereka.

.

.

.

Fin


Author's note :

Walaupun gaje, ini fic pertama saya di ffn dan berhasil jadi fic multichapter pertama yang saya selesaikan (biarpun chapter terakhirnya kyk gini T_T). Fic ini banyak kenangannya. Karena saya terima review pertama kali dari sini. Banyak yang ngasih saran dari sini. Meski enam chapter dalam waktu nyaris lima tahun bukan sesuatu yang bikin bangga. Dalam jangka waktu itu memang banyak banget hal yang terjadi. Dari yang baik sampai yang sangat buruk dan bikin saya hiatus lama banget. Tapi akhirnya selesai juga. Untuk reviewer, untuk sesama author (ada author senior juga) yang pernah ngasih masukan & semangat lewat fic ini, kalian mungkin gak baca ini lagi. Tapi bener-bener saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kalian semua :)) Saya banyak belajar dari kalian :D

Mudah-mudahan fic lainnya bisa menyusul & cepat kelar.

Sekali lagi, Thank you so much, Minna-san :))

Fri, Mar 18th 2011 – Fri, Feb 5th 2016.

(P.S. Beberapa hari terakhir ini, saya susah nge-akses situs ffn, jadi uploadnya sedikit lebih lama)

.

.

.


Omake :

"Dasar mesum. Belum apa-apa sudah menyosor anak orang," komentar Kiba dari balik semak-semak. Yang lain mengangguk setuju, kecuali Sasuke yang tetap setia mengintip pasangan baru itu dengan pupil berkaca-kaca. Senyum kecil yang hampir tak tampak, terpatri di wajah datarnya. Akhirnya... akhirnya berakhir juga penderitaan dirinya sebagai tumbal dalam misi asmara Naruto. Puja kerang ajaib!

Sai yang menyadari kelakuan ganjil Sasuke kontan menyikut Shikamaru dan kawan-kawan, memberi kode. Mereka menahan tawa lantas mengusap punggung pemuda itu.

"Yang sabar, ya Sasuke." Lee sok pasang tampang berduka. "Kau pasti patah hati melihat pasanganmu diambil gadis lain."

"Makanya cari pacar sana." Chouji menimpali. "Naruto saja sudah punya."

Sasuke mendelik tajam kemudian membuang muka. Memutuskan untuk tak mencakar dan menjambak bulu ketiak sahabat-sahabatnya yang durjana. Ia terlalu girang akan keberhasilan Naruto, yang mana berarti kemerdekaan juga untuk dirinya. Dengan santai ia mengedikkan bahu dan bangkit dari posisinya. "Uchiha Sasuke tak akan pernah mau mengejar wanita—"

'BRUK!'

Geng kecoa mati langsung melotot menyaksikan pakaian Sasuke telah basah terguyur tumpahan kopi dari seseorang yang tak sengaja menyenggolnya.

"Hey, hati-hati. Minumanku jadi tumpah nih."

Bukannya minta maaf, malah balik protes. Cari mati ini orang. Shino dan yang lainnya spontan pasang badan, menjaga agar Sasuke tak membabi buta di tempat ini.

"Kau yang harusnya minta maaf pada teman kami. Benar kan, Sasuke?"

"Tak apa."

"HAH?!"

Sasuke maju dan mendekati orang itu. Walaupun ekspresinya selurus papan cucian, namun rona pink masih bisa terlihat dari kedua pipinya yang pucat. Idih. Mengabaikan teman-temannya yang memandangi dirinya dengan shock, ia kembali berucap cool.

"Aku yang salah."

Sang penabrak hanya bisa mendengus kecil kemudian beranjak dari hadapan Sasuke begitu saja, tak mengacuhkan sorot mata onyx yang terus menerus memperhatikan sosoknya hingga lenyap di balik kerumunan orang.

Shikamaru menegurnya dengan dahi menyatu. "Apa-apaan kau ini? Seharusnya kau tidak—"

"Aku rasa hatiku telah dicuri."

Mereka tertegun lalu geleng-geleng kepala, benar-benar prihatin.

"Kami rasa otakmu telah tergeser, Sasuke."