Daichi terus menghentakan kakinya gelisah. Bagaimana tidak, sudah dua jam Sugawara keluar dengan alasan mengambil barang yang jatuh ke lantai bawah, namun ia tak kunjung kembali.

'Tak salah lagi Suga memang pergi ke luar. Ck, seharusnya aku tidak membiarkannya begitu saja,' Daichi membatin frustasi. 'Apa aku harus menyusulnya? Tapi bagaimana dengan keamanan markas—'

Kepalan Daichi bersinggungan dengan meja kayu, menimbulkan suara brak keras.

"Kau tahu bukan saatnya mengkhawatirkan markas, Kapten." Ia menyampaikan ejekan pada dirinya, kemudian meraih senjata laras panjang miliknya dan berjalan keluar.

Disclaimer

Haikyuu! © Furudate Haruichi

won't let you down © Enamel Illyane

Warning!

AU, DaiSuga, original version of keep your dream high, dear,minim dialog, maybe OOC, typo(s), terdapat diksi yang tidak tepat

Not gonna say anything nice? Then keep it to yourself and click the 'back' button, you won't like wasting your energy on this right?

.

.

.

.

Menembus area penuh keributan seperti ini bukanlah hal mudah, meski pelakunya adalah Sawamura Daichi sekalipun. Ia harus rela kehilangan beberapa peluru hanya untuk ditembakkan ke tanah sebagai peringatan kalau ia tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan soal kubu mana ia berpihak atau meladeni beberapa remaja sok.

"Kau pergi kemana, Suga?" gumam Daichi khawatir. Jujur saja, sama sekali tidak terlintas di pikirannya kemana Sugawara kira-kira akan pergi. Apa mungkin Sugawara juga pergi tanpa arah sepertinya saat ini?

Dor! Dor!

Suara tembakan tanpa peredam suara Daichi dengar dari arah tenggara. Entah kenapa, dari semua suara tembakan dan ledakan yang ia dengar, yang ini satu-satunya yang bisa ia dengar dengan sangat jelas—terlalu jelas sampai membuat Daichi curiga.

Meski Daichi bisa saja mengabaikan rasa curiganya dan menganggap kalau itu hanya tembakan itu dilepaskan di jarak yang cukup dekat dengannya, ada perasaan kuat lain yang mendorongnya untuk berbelok menuju arah suara.

"Kenapa!? Kenapa kalian membunuh mereka!? Mereka hanya anak-anak—"

Dor!

"BERISIK! Sudah dibilang kalau itu adalah hukuman bagi pemberontak seperti kalian, tahu! Sudah babak belurpun belum kapok juga, dasar keras kepala!"

Daichi bisa merasakan napasnya menolak keluar, dan jantungnya berhenti berdetak. Darahnya serasa meluncur ke tanah dan ototnya semuanya menegang. Ia tahu betul kalau yang pertama berteriak adalah pemilik suara yang sangat ia kenal. Ia tahu kalau itu suara Sugawara. Itu suara kekasihnya. Dan apa maksudnya suara tembakan yang ia dengar setelahnya?

"Hei, kamu! Sedang apa di sini!? Kamu komplotan si perak itu, ya!?"

Amarah Daichi memuncak. Ditembakkannya senjatanya ke sembarang arah. Ia berteriak meliar tanpa peduli korbannya. Ada banyak orang di sana—Daichi tak tahu berapa jumlahnya—dan semuanya seperti tak berdaya di hadapan Daichi. Mereka hanya seperti papan target atau sasak tinju karena Daichi melihat semuanya bergerak lambat.

'Kembalikan keluargaku! Kembalikan! Kembalikan!' Daichi terus mengamuk. Semua yang mendekatinya ia hajar tanpa ampun. Pukulan, tembakan, sayatan, apapun asal itu melukai. Daichi terlanjur tenggelam dalam emosi. Dan saat ia sadar karena kehabisan peluru, semuanya sudah tak berdaya.

Termasuk sosok yang menarik seluruh atensinya. Sosok platina yang terlumur merah pekat. Terduduk memegangi luka di bagian tubuhnya dengan gemetar.

"Suga.."

Daichi berjalan mendekat, berlutut, dan memeluk kekasihnya. Kulit pucat itu kini berubah putih dan semakin dingin. Gemetar bisa ia rasakan di sekujur tubuhnya. Daichi prihatin, hatinya teriris.

"L-lihat… Da..ichi.."

Gemeletuk gigi Daichi terdengar sangat jelas. Ia geram. Ia geram pada dirinya sendiri. "Maaf, Suga." Hanya itu yang berhasil lolos dari mulutnya. –maaf aku terlambat menyelamatkanmu. Maaf aku terlambat menyelamatkan anak-anak. Maaf aku tidak bisa melindungi kalian semua.

"K-kau.. bo..hong, kau… ta..hu..? Ti..dak a-ada… ya..yang se.. lamat."

Ia memeluk Sugawara makin erat. Membisikkan kata maaf berulang kali seperti kaset rusak. Gemetar di tubuh kekasihnya mulai mereda, namun itu justru membuat Daichi semakin takut.

"D-dasar… kap.. ten.. pembo…hong.."

Lemas. Tubuh Sugawara mendadak lemas dan terasa sangat ringan di tangan Daichi. Lebih ringan dari kapas atau bulu angsa. Ia sempat akan berteriak histeris sebelum melihat senyum terindah yang terlampir di wajah sempurna kekasihnya. Seulas senyum tipis yang sangat suci dan menenangkan, seperti harmoni surga Membuatny merasa sangat, sangat lega—

"DASAR BRENGSEK!"

Dor!

—dan pergi dengan tenang.


fin.


Saya adil, 'kan? /kabur ke bulan/

Saya bikin ini sambil muter albumnya Ra*bits sama Norn9 Cantare vol. 1, baru deh nge-betanya pake Glassy Sky haha ;; /cries/ Maaf kalo feel-nya nggak dapeeeeeett—

Buat yang penasaran kenapa di warning ada tulisan "original ver. of 'keep your dream high, dear'" itu karena fic keep ur dream high itu awalnya ini. Tapi saya nggak tega jadinya dirombak ulang uhuhu..

#PapaDaiOkaeri2k16,
-Enamel Illyane