I'am a Shinobi

By Juubi

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi

Rate T (maybe)

Warning : Au, OOC, tipo dll

Enjoy it

..

.

Naruto memandang langit ungu yang berada diatasnya, warna langit itu membuat underworld nampak suram. Saat ini dirinya sedang berada di atas atap tertinggi mansion Sitri, duduk disana sambil memandang langit.

Sudah tiga hari dirinya tinggal disini, menghabiskan waktunya dengan hal yang menurutnya membosankan. Keluarga Sitri dan orang-orang tepatnya iblis-iblis disini memperlakukan dirinya dengan baik, membuat dia merasa tidak sungkan tinggal disini.

'Iblis ya. ' Naruto menerawang keatas, memikirkan kehidupan baru dirinya. 'Pada akhirnya aku menjadi apa yang mereka ucapan dulu. '

Mengingat kata iblis mengingatkan dirinya tentang masa kecil nya di Konoha, dimana Naruto kecil selalu menerima hinaan yang menyebut nya iblis. Dan sekarang dia benar-benar menjadi iblis, sungguh sebuah ironi.

Mengingat orang atau iblis yang telah mengubah hidupnya, Naruto entah harus bersyukur atau menyesal bertemu dengan Sona atau yang harus dia panggil Kaichou. Iblis cantik itu telah menyelamatkan hidupnya dan memberikan kesempatan untuk kembali menikmati hidupnya. Namun dilain sisi, gadis itu telah merubahnya menjadi iblis, sesuatu yang sama sekali tidak dia ingin kan.

Namun dengan perlahan dia sudah menerima apa dirinya sekarang, menjadi iblis tidak seburuk yang dia kira. Karena apapun dirinya sekarang, dia tetaplah Naruto. Uzumaki Naruto, sang ninja nomor satu di negara elemental (itu menurut Naruto). Dia masih dirinya dengan segala sifat yang dia miliki, dia masih memiliki itu meski sekarang dia bukan lagi seorang manusia.

'Haahh.' Sekarang Naruto jadi bosan, tiga hari ini dia sama sekali tidak melakukan aktivitas yang dia sukai. Dia ingin berlatih tapi tidak ada waktu, dia ingin jalan-jalan tapi tidak ada yang menemani. Sebenarnya sih, dia sudah pernah jalan-jalan bersama Kaichou-nya. Dihari pertama dia sadar, Sona mengajak nya jalan-jalan untuk merenggangkan ototnya yang kaku karena tidur selama seminggu penuh. Tapi tetap saja, dia masih belum bisa mengenali daerah disekitar sini.

Oh ya, ngomong-ngomong soal Kaichou-nya, Naruto jadi ingin bertemu dengan gadis iblis berkacamata itu. Soalnya sudah dua hari Sona meninggalkan dirinya disini, alasan nya karena Sona adalah seorang murid di salah satu sekolah di dunia atas. Mengingat sekolah, tiba-tiba Naruto menjadi lemas. Masalahnya...

Flasback on

"Sekolah? "

Sona mengangguk, dengan elegan gadis bersurai hitam itu membenahi posisi kacamata nya sebelum menatap Naruto yang duduk didepannya. "Kamu akan ku daftarkan di Kuoh Akademi, mungkin besok atau lusa kau bisa langsung bersekolah disana. "

"Apa itu... Harus. " Tanya Naruto sedikit gugup, dia sebenarnya ogah untuk kembali duduk diruangan penuh orang dan mendengarkan penjelasan yang membosankan dari orang yang akan dia sebut sensei nanti. Pengalaman nya di Akademi ninja dulu sudah cukup membuatnya enggan bersekolah.

"Tentu harus, sebagai anggota peerage ku, kamu wajib ikut dengan ku. Selain itu, aku juga mau kamu mengenal anggota peerage ku yang lain. " Mata Sona menyipit melihat Naruto hendak bersuara, melihat gelagatnya saja Sona sudah tau bahwa Naruto tidak ingin sekolah. Berpikir dengan otak cermelangnya, Sona menarik kesimpulan. "Jangan bilang selama ini kamu tidak pernah sekolah. "

Wajah Naruto berubah kesal. "Aku pernah sekolah, Aku sudah belajar lima tahun di Akademi Ninja. " Naruto kemudian tersenyum bangga. "Dan aku merupakan lulusan terbaik no 1 disana. Dari belakang. " Tambah Naruto dalam hati.

'Sepertinya ini akan sulit.' Sona menghela nafas lelah, hal yang dia duga mungkin akan menjadi kenyataan. Dan itu akan merepotkan nya. "Lalu bagaimana dengan sekolah formal, maksudku sekolah yang biasa untuk warga sipil. Apa kau juga sekolah disana. "

"Seorang ninja tidak di wajibkan untuk belajar disekolah seperti itu, karena biasanya ketika lulus akan langsung bekerja menjadi seorang ninja. " Naruto kemudian cengir sambil menggaruk belakang kepalanya, dengan ragu dia kembali melanjutkan perkataan nya. "Jadi bolehkah aku tidak sekolah, Kaichou. Jujur aku tidak akan bisa beradaptasi dengan hal itu. "

Sona nampak berpikir setelah mendengar permintaan Naruto, setelah beberapa saat akhirnya dia berdiri. "Baiklah. " Dengan itu Sona pergi menjauh, namun memberikan isyarat pada Naruto untuk tetap diam.

Naruto tersenyum senang ketika mengira Kaichou-nya membiarkan nya untuk tidak sekolah. Dirinya tidak perlu lagi khawatir untuk belajar disekolah, dia mungkin akan menghabiskan waktunya untuk latihan.

Brak!

Naruto dikejutkan oleh suara benda jatuh yang sangat dekat dengan nya, melihat ke sumber suara Naruto melihat tumpukan buku yang tergeletak dimeja didepan nya. Menengok kesamping, Naruto melihat Kaichou-nya yang sudah kembali.

Sona kembali berjalan ketempat duduknya, menatap datar Naruto yang menatapnya bingung. "Itu semua adalah pelajaran dasar, aku memberi mu waktu seminggu untuk mempelajari nya. Setelah itu baru kamu ku daftarkan di sekolah. "

"Apa!? "

Flasback off

Naruto mendesah panjang, buku-buku itu membuat kepalanya hampir pecah. Pelajaran itu begitu sulit, rumit, susah, dan membosankan. Naruto sangat malas mempelajari nya, dia lebih memilih bertarung dengan orang kuat daripada harus menghadapi buku-buku itu. Sudah tiga hari masih tidak ada perkembangan yang bagus, baru satu buku yang sudah selesai dia baca (berarti belum dipelajari sepenuhnya) sedangkan buku yang harus dia pelajari masih banyak. Dan lagi, waktu yang diberikan Sona tinggal empat hari, hal itu tentu membuat dia frustasi.

'Kenapa tidak pakai kagebunshin.' Naruto menjambak rambutnya frustasi, dia merutuki kebodohan nya yang melupakan jutsu andalan nya. Jutsu itu bisa menjadi jalab keluarnya dalam menghadpi masalahnya sekarang.

"Naruto. "

Naruto mendongak menatap orang yang telah memanggil namanya. Mata Naruto melebar terkejut ketika iblis yang tadi dia pikirkan tengah terbang didepan nya. Naruto terkejut ketika melihat bagaimana Sona sekarang. "Waw! Ka-kaichou kau... "

Sona menahan senyuman untuk tidak keluar, dia cukup senang melihat reaksi Naruto saat melihatnya. Soalnya saat ini Sona berpenampilan berbeda, saat ini dia memakai gaun hitam tanpa lengan yang sangat cocok dengan nya membuat dia terlihat sangat cantik.

"Ka-kau... Terbang. "

Tiba-tiba tubuh Sona oleng dan akan jatuh andai saja dia tidak berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Dirinya merasa dongkol, pemuda didepan nya ini ternyata kagum karena dia terbang, bukan karena penampilan nya.

"Kaichou, kau kenapa? " Dengan wajah polos Naruto bertanya pada Sona, dia tidak sadar telah membuat gadis salah paham. Naruto melihat Sona menggeleng, merasa Kaichou-nya tidak apa-apa Naruto kembali bertanya. "Kaichou, bagaimana kau bisa terbang? "

"Semua iblis dapat terbang Naruto, kau pun bisa bila menggunakan sayap mu. " Sona menjawab dengan suara tanpa nada, dia sedikit frustasi dengan tingkah pion barunya ini.

"Benarkah? Bagaimana caranya? " Dengan dengan antusias bertanya pada Sona, dia ingin mencoba terbang dengan sayap. Kelihatannya itu keren.

"Kau hanya perlu berkonsentrasi, alirkan energi mu kepunggung dan_ "

Blast!

Belum selesai Sona menjelaskan, Naruto sudah mencoba nya. Sepasang sayap hitam mirip kelelawar muncul dipunggung Naruto. Dengan semangat Naruto berdiri, melihat sayap dibelakangnya yang sesekali dia kepakan. "Yosh! Aku akan terbang. "

"Naruto, sebaiknya kau_ "

"Aku terbang! " Tanpa menggubris ucapan Sona, Naruto melompat dari atap rumah. Sayapnya mengepak dan dirinya meluncur dengan cepat. Namun sayangnya dia meluncur kebawah bukan keatas. "AKU JATUUUH! "

Boom!

Di halaman depan kediaman keluarga Sitri tercipta sebuah kawah, dan didalam kawah tersebut terbaring pemuda dengan keadaan mengenaskan. Terbaring dengan tidak elit dan mata yang berputar seperti obat nyamuk. 'Ternyata terbang dengan sayap sangat sulit. '

Sona yang melihat Naruto dari atas hanya bisa memijit pelan hidung mancung nya. Dia tidak pernah tau, bahwa pion barunya itu sangatlah... Sangat lah bodoh. Seharusnya pemuda itu tadi mendengar penjelasannya, bukan main nyelonong seperti itu. Dengan perlahan Sona melayang turun, menatap Naruto yang sudah dalam posisi duduk. "Kau tidak apa-apa? "

'Apa dia benar-benar khawatir pada ku? Dia bertanya dengan wajah datar seperti itu. ' Naruto memandang Sona sambil mengusap belakang kepalanya yang tadi mendarat pertama, dia masih sedikit meringis kesakitan. Melihat Sona yang menunggu jawaban nya, akhirnya Naruto menunjukan cengiran khasnya. "Aku tidak apa-apa, Kaichou. "

"Baguslah. " Sona mendaratkan kakinya tepat didepan kawah ciptaan Naruto. Dia kemudian berbalik berjalan menuju rumahnya. "Sebaiknya kau segera masuk dan siap-siap. "

"Siap-siap? Memang kita akan melakukan apa Kaichou? " Naruto yang sudah bangkit berjalan mengikuti Sona. Dia terlihat baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

Sona berhenti berjalan membuat Naruto yang dibelakangnya ikut berhenti. Gadis berambut hitam sebahu itu kemudian menoleh kearah Naruto. "Kita akan ke pesta pertunangan salah satu teman ku. "

..: I'am A Shinobi :..

Naruto hanya bisa menatap kagum pada tempat yang dia datangi sekarang ini. Tempat ini begitu mewah dan dipenuhi oleh orang-orang bangsawan, dia merasa sangat rendah disini.

Saat ini Naruto sedang duduk disebuah meja seorang diri, Kaichou-nya yang tadi bersamanya pergi kesuatu tempat. Segelas minuman berada ditangannya, meminum nya sedikit kemudian meletakan nya diatas meja. Meski memakai pakai formal yang membuatnya terlihat tampan, namun tetap saja dirinya merasa tidak pantas berada disini.

Mata biru langit Naruto yang memandang para tamu teralihkan ketika di altar muncul kobaran api, dan dari kobaran api itu muncul seorang pria berambut pirang. Dari yang dia tau dari Kaichou-nya, pria itu adalah Riser Phenex orang yang bertunangan hari ini.

Naruto melihat pria itu bicara, mengenalkan dirinya dan menyambut para tamu. Tak lama kemudian Riser menyebut nama pasangan nya bersamaan dengan itu muncul lingkaran sihir yang kemudian memunculkan seorang wanita cantik.

Wanita itu cukup- ah bukan tapi sangat cantik, rambut merahnya sangat indah. Tubuhnya juga sangat bagus, apalagi sekarang sedang memakai gaun ala pengantin yang sangat cocok ditubuhnya. Wanita itu nampak tersenyum kepada para tamu.

Kening Naruto mengkerut, wanita itu memang tersenyum namun entah mengapa senyuman itu nampak palsu. Wajahnya juga menunjukan kesedihan, apa jangan-jangan...

"Naruto. " Sona yang muncul tiba-tiba membuat pikiran Naruto terhenti, iblis dari keluarga Sitri itu mendudukan dirinya dikursi di hadapan Naruto. Menatap datar Naruto yang juga menatap nya. "Kau terus memperhatikan Rias, apa kau terpesona? "

"Ah tidak, dia memang cantik... Tapi aku tidak memikirkan itu. " Naruto mencoba tertawa untuk mencairkan suasana, namun tawa nya malah terdengar canggung. Merasa tidak berhasil, Naruto kembali memandang Rias. Pandangan sedikit menyendu. "Hanya saja... Dia terlihat tidak bahagia. "

Sona ikut mengalihkan pandangan kepada Rias, kemudian dia menghela nafas. Untuk orang yang dekat dengan Rias, dia tau perasaan sahabat nya itu saat ini. "Sejak awal Rias memang tidak menyetujui pertunangan ini. "

Naruto kembali menatap Sona, raut bingung nampak jelas diwajah pemuda pirang itu. "Kalau memang begitu, kenapa tidak di batalkan. Kalau dipaksakan maka hanya akan menimbulkan penyesalan. "

"Tidak mudah membatalkan pertunangan kalangan iblis murni, Naruto. " Sona kembali memandang Naruto, ada sedikit emosi yang dilihat Naruto diwajah datar Sona. "Rias sudah mencoba membatalkan pertunangan ini, namun usahanya gagal. "

Naruto hanya mengangguk mengerti, dia tidak terlalu mempermasalahkan sistem dunia baru nya ini. Naruto hendak kembali berbicara namun batal karena sebuah suara hantaman cukup keras terdengar. Semua ora- iblis termasuk Naruto sendiri menoleh kesumber suara, Pintu besar tempat masuk utama tempat ini terlihat bergetar hebat.

Duum!

Suara itu kembali terdengar, dan pintu itu tidak lagi bergetar melainkan roboh membuat semua orang dapat melihat keluar sekaligus melihat sang pelaku perusakan. Seorang pemuda dengan surai coklat yang memakai sarung tangan naga berwarna merah masuk kedalam sambil meneriakan kata 'Bochou'.

Naruto terus memperhatikan pemuda itu yang pada saat ini sudah di kepung oleh beberapa penjaga keamanan, pemuda itu terlihat tidak takut sama sekali. Ketika salah satu prajurit hendak menyerang, sesosok iblis menghentikan nya. Kalau tidak salah iblis berambut merah itu adalah Sirzechs Lucifer, salah satu dari empat maou sang penguasa underworld.

"Siapa dia? " Sebuah pertanyaan yang tidak ditujukan kepada siapa-siapa keluar tanpa sadar dari mulut Naruto. Rasa penasaran nya membuat dia melakukan hal itu. Dan sepertinya Sona mendengar hal itu.

"Hyodou Issei, salah satu peerage Rias. " Sona menjawab dengan tenang, dia sebenarnya juga terkejut namun dia dapat menyembunyikan nya dengan cepat. Tanpa sadar dia tersenyum tipis. "Mungkinkah ini yang di rencana kan Lucifer-sama. "

Naruto sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Kaichou-nya, apa maksudnya dengan rencana Lucifer-sama. Ketika dia ingin menanyakan hal tersebut, sebuah pengumuman dari Lucifer-sama membatalkan niatnya. Di pendengaran nya, Lucifer-sama membuat sebuah pertarungan untuk Riser Phenex dan pemuda yang dia tau bernama Issei. Tak berapa lama kemudian kedua iblis itu di tranfer.

Skip aja, anggap saja pertarungan Issei sama dengan LN nya. Yah walaupun saya nggak pernah baca LN nya :D

Pertarungan telah dimenangkan oleh Issei, dan karena hal itu pertunangan dibatalkan. Karena pertunangan dibatalkan, para tamu undangan kembali ke rumah mereka masing-masing. Sama halnya dengan Naruto dan Sona.

Saat ini mereka berada dihalaman rumah keluarga Sitri, dan mereka sedang berjalan menuju pintu masuk. Sebenarnya Naruto cukup bingung, kenapa Kaichou-nya tidak langsung muncul kerumah bukannya muncul dihalaman rumah.

"Haah, hari yang melelahkan. " Sona yang berjalan sedikit didepan mendesah lelah, sedangkan Naruto yang berjalan disamping sedikit kebelakang darinya sweatdrop melihat tuannya.

"Bukankah seharusnya mereka yang lelah, Kaichou kan hanya menonton saja. " Naruto hanya bisa nyengir ketika Sona mendelik tajam padanya, dia lupa iblis memiliki pendengaran tajam. Namun sesaat kemudian Naruto tersenyum lembut. "Tapi Kaichou terlihat senang. "

"Kau tau sendirikan betapa bahagia nya Rias saat pertunangan nya dibatalkan. Sebagai temannya, aku juga turut merasa senang. " Sona tersenyum kecil dengan mata terpejam, dia bahagia bisa melihat temannya bebas dari masalah yang selama ini mengganggu nya. Sambil terus melanjutkan langkah mereka, Sona kembali menatap Naruto. "Naruto, bagaimana dengan tugas mu? "

"Ada beberapa hal yang belum ku mengerti, namun sudah banyak yang ku pelajari. " Naruto tersenyum mengingat usahanya yang tidak sia-sia. Walau sedikit, dia sudah belajar kehidupan di dunia ini.

"Baguslah kalau begitu, dengan itu senin depan kau sudah bisa menjadi murid di Kuoh. " Sona menginjakan kakinya di teras rumah, tanpa membuang waktu iblis muda itu menuju pintu dan membukanya.

"Sebenarnya, Kaichou. " Naruto mengikuti Sona masuk kedalam rumah, saat masuk mereka sudah disambut beberapa pelayan yang dirumah itu. Berlari kecil untuk menyusul Sona, Naruto melanjutkan perkataan nya. "Bolehkah aku meminta waktu lagi, kurasa aku terlalu cepat untuk kembali ke seko_ "

"Tidak. " Ucapan Naruto dipotong oleh ucapan tegas Sona. Gadis itu berdiri dengan menyilangkan tangannya didepan dada sambil menatap Naruto tajam. "Kau harus sekolah senin depan. Itu sudah menjadi keputusan ku. "

"Tapi Kaichou_ "

"Kau mau membantah? " Mata Sona menajam membuat Naruto susah meneguk ludahnya. Tidak mau kena masalah akhirnya Naruto menggeleng.

"Ti-tidak Kaichou, aku akan sekolah. "

"Bagus. " Sona tersenyum manis yang malah terlihat menakutkan bagi Naruto. "Sebaiknya kau ke kamar mu dan tidur. Besok kau harus kembali belajar untuk menyiapkan diri mu. "

"Baik Kaichou. " Naruto mengangguk patuh, setelah Kaichou-nya pergi menjauh Naruto berjalan dengan lemas ke kamar nya. 'Dosa apa aku semalam tuha_ Aww! '

Naruto dan kebodohan nya.

..: Juubi no Kitsune :..

Time skip

Didepan gerbang Kuoh Akademi, seorang pemuda berjalan dengan santai. Rambut kuning berantakan nya nampak bercahaya kerena pantulan sinar matahari. Mata indah sewarna langit nampak memancarkan semangat, hidung mancung dan pipi dengan tiga garis mirip kumis kucing nampak menggemasakan, serta bibir tipis yang tengah tersenyum manis.

Berjalan dengan memakai seragram pelajar laki-laki Kuoh dan serta dengan wajah yang seperti diatas tentu saja membuat dia menjadi pusat perhatian. Mereka yang didominasi oleh perempuan menatap Naruto dengan pandangan yang membuat Naruto merinding. 'Hii, mereka menyeramkan. '

"Kyaa! Tampan nya. "

"Apa dia murid baru. "

"Dia menggemaskan, jadi pengen meluk. Kyaa! "

"Garis dipipi nya mirip kucing. Lucu kyaa! "

'Jangan berteriak seperti itu, dan jangan samakan aku dengan hewan pemalas itu. ' Ternyata asumsi Naruto salah, mereka tidak menyeramkan tapi mengerikan. Tak ingin terjadi insiden, Naruto mempercepat jalan nya. Namun langkah nya terhenti ketika seorang perempuan menghalangi dirinya.

"Naruto Uzumaki? " Tsubaki bertanya mencoba memastikan, sebenarnya dia tidak perlu bertanya karena dia sudah dapat merasakan energi iblis ditubuh pemuda pirang itu. Ketika Naruto mengangguk, ratu dari peerage Sona itu kembali bicara. "Ikuti aku. "

Naruto mengangguk kemudian mengikuti langkah gadis tak dikenal ini. Setidaknya dengan adanya gadis ini para gadis yang tadi mendekatinya mulai menjauh. Naruto terus mengikuti Tsubaki sampai ke koridor, merasa butuh akhirnya Naruto bertanya. "Anu, kita belum saling mengenal. Aku Naruto Uzumaki, kamu? "

"Tsubaki, Tsubaki Shinra. Aku adalah wakil ketua OSIS disini, atau tempat ratu dari peerage Sona-Kaichou. " Tsubaki mengenalkan dirinya tanpa menoleh kearah Naruto, gadis iblis itu terus menatap kedepan.

"Salam kenal Shinra-san. " Pantas saja Naruto merasa tidak asing dengan energi gadis ini, ternyata dia juga iblis toh. Naruto terus mengikuti Tsubaki, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya. "Anu, Shinra-san. Kita mau kemana? "

"Ke ruang kepala sekolah. " Tsubaki mengambil sesuatu didalam tas yang dia bawa, sekarang sebuah map berisi berkas telah berada ditangannya. Kemudian Tsubaki memberikan berkas tersebut pada Naruto. "Serahkan ini pada kepala sekolah nanti. "

Tak berapa lama kemudian, mereka telah sampai didepan ruangan kepala sekolah. Mereka berdua saling berhadapan.

"Aku hanya mengantar mu sampai disini. " Setelah mengatakan itu Tsubaki berbalik dan mulai melangkah pergi, namun beberapa langkah kemudian dia berhenti dan menoleh pada Naruto. "Saat pulang sekolah jangan keluar kelas, nanti akan ada orang yang akan menjemput mu. "

"Baik Shinra-san. Terimakasih banyak atas bantuan nya. " Naruto sedikit menunduk untuk menyampaikan rasa terimakasih kasihnya, hal itu dibalas Tsubaki dengan anggukan kecil. Setelah Tsubaki pergi, Naruto melangkah kearah pintu masuk ruangan kepsek. Mengetuk pintu tersebut dan berucap. "Permisi. "

...

Seperti yang dikatakan Tsubaki tadi pagi, setelah pulang sekolah Naruto menunggu dikelasnya. Saat ini dia sedang berada ditempat duduknya sambil membaringkan kepalanya diatas meja. Cukup lama dia disini namun masih belum ada yang datang untuk menjemputnya. Oleh karena itulah dia memilih tidur, walau sebenarnya dia hanya memejamkan matanya.

Ngomong-ngomong soal kelas, Naruto ditempatkan dikelas dua sekelas dengan pemuda bersurai coklat yang dia lihat di pesta kemarin. Mereka sudah berkenalan namun Naruto tidak memperkenalkan dirinya sebagai iblis, menurutnya walau tidak mengenalkan dirinya Issei sudah tau bahwa dirinya iblis... mungkin.

Naruto juga berkenalan dengan iblis lain yang berada dikelas ini, iblis yang duduk disamping Issei. Asia Argento, gadis iblis yang sifatnya mengingatkan Naruto pada seseorang.

Teman-teman sekelas nya yang lain juga sudah Naruto kenal semua, katakanlah karena sifat alami Naruto yang ramah dia mudah mendapatkan teman.

Tok tok tok

Kepala Naruto mendongak kearah pintu masuk, disana Naruto dapat melihat seorang gadis bersurai coklat panjang yang telah masuk ke kelasnya.

"Permisi, aku disuruh Kaichou untuk menjemput mu. " Ucap Tomoe ceria, dia juga tersenyum kearah Naruto. "Ayo kita pergi. "

Tanpa menunggu respon dari Naruto, Tomoe berbalik dan berjalan keluar. Mau tidak mau Naruto harus berlari menyusul perempuan itu. "Hei, tunggu. "

..: I'am A Shinobi :..

Diruang OSIS, enam orang perempuan dan seorang laki-laki tengah berkumpul. Mereka adalah anggota OSIS yang sebenarnya adalah sekelompok iblis muda yang dipimpin oleh iblis murni dari keluarga Sitri.

Saat ini, Sona sedang duduk dengan tenang di meja kerjanya. Disamping nya, berdiri seorang gadis bersurai hitam panjang yang merupakan wakil sekaligus ratu Sona, Tsubaki. Tak jauh dari dua iblis itu, lima iblis muda sedang duduk di sofa yang tersedia diruangan ini.

Seorang pria dengan rambut pirang pucat duduk sambil memperhatikan Kaichou-nya, pria tersebut adalah Saji, peerage Sona yang mengkomsumsi empat bidak pion. Disamping kiri-kanan nya, duduk dua orang gadis berambut putih dan coklat. Sedangkan didepan Saji, ada dua orang gadis lainnya yang memiliki rambut berwarna biru dan coklat.

"Kaichou, kenapa kita berkumpul? " Saji yang dari tadi memperhatikan King-nya, akhirnya buka suara. "Apa ada sesuatu yang penting. "

"Ya, bisa dibilang begitu. " Sona balas menatap Saji, kemudian pandangan beralih menatap satu persatu anggota peerage-nya yang lain. "Aku ingin memperkenalkan kalian pada anggota baru kita. "

'Anggota baru? Ku harap bukan pria. ' Batin Saji berharap. Akan menjadi masalah besar buatnya kalau peerage baru itu seorang pria, nanti akan ada saingan untuk dirinya mendapatkan hati Kaichou-nya. "Siapa dia Kaichou? "

"Nanti kau juga_ "

Brakk!

"Kaichou, aku kembali. " Pintu terbuka dengan kasar dibarengi dengan sebuah suara ceria dari sang pelaku. Tomoe muncul dengan Naruto yang berdiri dibelakangnya. Tanpa permisi Tomoe berjalan masuk dan mendudukan dirinya disamping Ruruko.

Naruto kemudian menyusul Tomoe masuk kedalam, dia sedikit salah tingkah ketika semua mata memandang nya. Dengan sedikit memiringkan kepalanya dan mengaruk bagian pipinya, Naruto tersenyum canggung. "Apa ada yang salah dengan ku? "

'Kyaa!' Beberapa gadis nampak menjerit dalam hati ketika melihat pose Naruto yang menurut mereka menggemaskan.

'Sial, dia tampan.' Sedangkan seorang pria selain Naruto mendecih kesal.

"Ekhem. " Sona berdehem untuk membuat perhatian beralih padanya. Dia menatap Naruto untuk sesaat kemudian menatap anggota peerage nya yang lain. "Dia adalah anggota baru kita, aku ingin kalian memperkenalkan diri kalian masing-masing. "

"Ha'i, Hajimemashite, Watashi Tomoe Meguri desuu. Aku Khight, salam kenal. " Ucap ceria Tomoe, orang yang sebelumnya menjemput Naruto.

"Hajimemashite, Watashi Ruruko Nimura desu. Aku pion, salam kenal senpai. " Ucap semangat seorang gadis mungil dengan rambut coklat panjang yang diikat ekor kuda kembar dan bermata hijau.

"Hajimemashite, Watashi Saji Genshirou. Aku adalah pion, salam kenal. " Saji tersenyum dan memasang pose keren berharap Naruto minder padanya. Namun sepertinya Naruto tidak menanggapi nya, atau tepatnya tidak paham.

"Hajimemashite, Watashi Reya Kusaka desu. Aku adalah Bishop, salam kenal. " Gadis berambut coklat yang dikuncir dua, gadis itu menunduk sopan pada Naruto.

"Watashi Tsubasa Yura desu. Aku rock, salam kenal. " Kali ini gadis dengan rambut biru yang bicara.

"Hajimemashite, Wa-watashi Momo Hanakai desu. Aku adalah Bishop, salam kenal. " Gadis bersurai putih dengan poni rata sedikit terbata mengenalkan dirinya.

"Kau sudah mengenal ku kan, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi. " Naruto hanya mengangguk kecil menanggapi perkataan Tsubaki.

Sona mengangguk puas, kemudian tatapan beralih pada Naruto. "Sekarang giliran mu, Naruto. "

"Ha'i Kaichou. " Naruto mengangguk singkat pada Sona sebelum kembali menghadap teman-teman barunya. "Hajimemashite, Watashi wa Naruto Uzumaki desuu. Aku adalah pion dari Sona-kaichou, salam kenal -tebayou. "

Naruto nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya ketika dirinya keceplosan mengatakan kata uniknya. Dia tidak bisa menahannya, kata itu seperti keluar sendiri dimulutnya.

"Naruto, dengan ini kau sudah resmi menjadi anggota keluarga kami. " Sona tersenyum manis, namun itu hanya sesaat karena sedetik kemudian Sona kembali memasang wajah seriusnya. "Jadi selain sebagai pelajar kau juga merupakan anggota OSIS. Tugas kita ialah menertibkan dan menegakan kebijakan sekolah agar sekolah ini lebih maju. Ku harap kau bisa memenuhi tugas mu itu sebagai salah satu anggota OSIS. "

"Haah, itu merepotkan. " Naruto memasang wajah lelah, namun langsung berubah menjadi gugup ketika mendapat pandangan mematikan Sona. "Ta-tapi aku akan berusaha untuk melaksanakan nya dengan baik. "

"Bagus. " Sona beralih menatap Tsubaki. "Tsubaki siapkan sihir teleportasi. " Sona kemudian menatap peerage nya satu persatu. "Kita semua akan pergi ke suatu tempat, jadi cepat berkumpul. "

"Ha'i Kaichou. "

Mereka semua termasuk Naruto berjalan kearah Lingkaran sihir yang telah dibuat Tsubaki. Lingkaran sihir itu bercahaya dan sedetik kemudian mereka menghilang.

...

Ketika Naruto membuka matanya, tempat dia dan teman-temannya sekarang bukanlah ruangan OSIS lagi. Tempat mereka sekarang adalah sebuah ruangan yang sangat luas dengan beberapa senjata yang menjadi pajangan di dinding, ditengah ruangan tersebut ada sebuah erena yang mungkin digunakan untuk bertarung. Tempat yang Naruto tempati sekarang ini seperti...

"Dojo? Kenapa kita kesini Kaichou? " Saji yang telah mengetahui tempat mereka sekarang bertanya tujuan Sona membawa mereka ke sini.

"Aku sengaja membawa kalian kesini... " Sona membenarkan posisi kacamata nya sambil menatap Saji sebelum beralih menatap Naruto. "... Karena aku ingin kau Saji, berlatih tanding dengan Naruto. "

"Aku? Kenapa aku, Kaichou? " Naruto nampak tidak setuju.

"Aku ingin mengetahui sejauh mana kemampuan mu, Naruto. " Sona nampak tersenyum tipis. "Selain itu, aku juga ingin melihat sejauh mana perkembangan Saji. "

"Aku tidak bisa Kaichou. "

"Heh, apa kau takut? "

"Pelajaran di sekolah tadi membuat ku lelah, Kaichou. Saat ini aku juga tidak bersemangat. " Naruto terus bicara pada Sona, tidak peduli dengan omongan Saji tadi.

"HEI, AKU BICARA PADA MU. " Saji berteriak tapi tetap tidak di hiraukan oleh Naruto membuat sekertaris OSIS itu semakin kesal. "HEI_ "

"Saji. " Sona membungkam Saji dengan satu kata, pandangan tajamnya juga ikut membantu. Pandangan Sona kemudian beralih pada Naruto. "Naruto, apa kau benar-benar tidak bisa bertarung saat ini. "

Tanpa ragu Naruto menjawab "Ya. "

"Haah. " Sona menghembuskan nafas lelah, kepalanya menunduk dengan satu tangan memegang kepalanya. Tanpa ada yang melihat, Sona tersenyum (menyeringai). "Padahal aku ingin memberi mu ramen sehabis latihan. "

Seluruh pasang mata kecuali Sona dan Naruto melebar terkejut, sebab Naruto sudah tidak ada lagi di tempat nya. Seluruh pasang mata itu kemudian beralih ketengah arena, dimana sekarang Naruto berdiri dengan senyum lebarnya.

"Oi, Saji. Jangan jadi pemalas, ayo kita latihan! " Naruto nampak bersemangat memanggil Saji, berbanding terbalik dengan sikapnya tadi. "Ayo Saji! Demi rame- demi Kaichou. "

'Dia bersemangat karena ramen. ' Semua orang sweatdrop menatap Naruto. Bagaimana pun sikap pemuda itu membuat mereka terkejut.

"Saji. " Sona yang sudah bersikap seperti semula menatap Saji dari tempat nya. Tatapan itu mengisyaratkan Saji untuk segera memulai latihan.

"Baik Kaichou. " Saji kemudian berjalan ke tengah lapangan. Dirinya akan menunjukan hasil latihannya pada Kaichou-nya, dia akan membuat Kaichou-nya bangga. Dan dia akan menghajar saingan nya itu. Tanpa sadar Saji tersenyum.

"Demi Kaichou, aku akan mengalahkan mu. " Saji yang sudah berdiri dihadapan Naruto memasang kuda-kuda bertarung, siap untuk melakukan lantih tanding.

"Ho ho, coba saja. " Naruto juga memasang kuda-kuda nya, sebuah senyum menyeringai terlihat di wajahnya.

"Kalian siap? " Kedua pria itu mengangguk, Sona selaku pemberi aba-aba segera memulai pertarungan mereka. "Hajime! "

"HYAA! " Saji segera berlari kearah Naruto, mengepalkan kedua tangannya bersiap memberikan serangan pertama.

Tak mau kalah, Naruto juga melesat kearah Saji dengan kecepatan nya. Ketika jarak mereka semakin dekat, Saji segera melayangkan pukulan kewajah Naruto. Namun dengan mudah Naruto menahan pukulan tersebut. Naruto membalas memberikan sebuah pukulan namun mampu dihindari oleh Saji.

Mereka berdua terus mengadu kemampuan mereka, saling menyerang satu sama lain. Sebuah pukulan dari Saji kembali melayang kearah Naruto, dengan memiringkan kepalanya Naruto menghindari pukulan tersebut. Bersamaan dengan itu, Naruto mendaratkan pukulan ke perut Saji membuat pria itu terdorong kebelakang.

"Hya! " Saji kembali menyerang, namun sebelum pukulan nya sampai pada sang target, sebuah tendangan berhasil mendarat didada nya. Belum menyerah sampai disitu, Saji kembali melayangkan pukulan nya namun Naruto mengambil langkah mundur menjaga jarak dengan nya. "Kuso! "

Di pinggir arena, para wanita memandang pertarungan itu dengan serius. Mereka terus mengamati dan menilai kemampuan masing-masing petarung.

"Kecepatan baik, kekuatan bagus, dan kuda-kuda kokoh. Tidak ada celah untuk Naruto-san. " Tomoe mencoba memberikan pendapat tentang kemampuan Naruto. "Dia seperti sudah terlatih. "

"Refleks nya juga terlatih, menunjukan dia bukan pemula. " Tsubaki ikut berkomentar. "Walaupun Saji banyak berkembang, Naruto-san berada diatasnya. " Pandangan gadis itu kemudian beralih kearah king-nya. "Sebenarnya kau mendapatkan dia dimana Kaichou? "

"Itu... Rahasia. " Sona tersenyum misterius. "Namun yang harus kalian tau adalah... Dia Seorang Shinobi. "

"Shinobi? " Mereka yang mendengar ucapan Sona serempak terkejut.

"Maksud Kaichou... Dia seorang Ninja? " Tomoe mencoba memastikan. Ketika melihat Sona mengangguk gadis itu baru yakin. Dengan senyum kecil dia kembali melihat pertarungan Naruto dan Saji. "Aku tidak menyangka masih ada ninja dijaman seperti ini. "

"Saji-kun semangat! " Seorang gadis tiba-tiba berseru lantang. Menurut Reya, Saji mungkin akan kesulitan menghadapi Naruto, karena itulah dia memberikan semangat.

"Naruto-senpai! Kau juga semangat, kalahkan Saji-senpai. " Ruruko juga memberikan semangat, namun ini untuk Naruto.

.

Di arena

.

Naruto hendak kembali menyerang Saji, namun sebuah cahaya aneh yang muncul dilengan Saji membatalkan niatnya. Dia segera melompat kebelakang menghindari apapun yang dikeluarkan Saji ditangannya itu.

Namun ketika Naruto mendarat, sebuah benang atau tali mengikat kaki kanan nya. Melihat kedepan, dia melihat tali tersebut terhubung dengan sarung tangan yang dikenakan Saji. Tiba-tiba saja Naruto mendapat firasat buruk ketika melihat kedua tangan Saji memegang tali tersebut.

"Rasakan ini! Hyaa! " Dengan kekuatan nya Saji menarik tali hasil dari secred gear miliknya, menarik tubuh Naruto kearah dirinya.

Tubuh Naruto melayang cepat kearah Saji, namun satu meter dari tubuh Saji Naruto berhasil menjejakan kedua kakinya ke lantai arena. Bergerak cepat menangkap pukulan yang dilayangkan sang lawan, Naruto pun melompat memutari tubuh Saji dari atas.

Mendarat dengan sempurna, Naruto pun berbalik dan memegang erat tali yang masih menjerat kakinya. Saji juga tidak mau kali, dia juga berbalik dan menggenggam tali dari secred gear nya. Acara saling menarik pun terjadi antara mereka, bagai lomba tarik tambang mereka tidak ada yang mau mengalah.

Saji tersenyum, dia secara mengejutkan memutuskan tali yang keluar dari sarung tangannya. Hal itu tentu saja membuat Naruto terkejut dan kehilangan keseimbangan. Dengan perlahan Naruto jatuh, mendaratkan pantatnya dengan kasar di lantai arena.

"Ittei! " Naruto meringis, namun dia tidak dibiarkan meratapi nasib pantatnya. Saji kembali menyerang dengan kembali mengeluarkan tali ungu yang dia jadikan cambuk. Naruto berguling kesamping menghindari sabetan cambuk Saji, belum selesai sampai disitu dia harus kembali koprol kebelakang menghindari serangan Saji yang lain.

"Sekarang giliranku yang menyerang! " Naruto yang berada cukup jauh dari jangkaun Saji membuat sebuah handseal. Sebuah handseal dari jutsu yang menjadi ciri khasnya. "Kagebunshin no jutsu! "

Poofh!

"Di-dia dapat menggandakan dirinya. " Yura menatap penuh keterkejutan dengan apa yang dia lihat sekarang, di arena sana keluarga baru mereka dapat menduplikasi dirinya.

Bukan hanya Yura yang terkejut, semua iblis yang melihat itupun juga terkejut. Bagaimana pun apa yang dilakukan Naruto sungguh menakjubkan.

"Apa dia memiliki secred gear? " Secred gear, hanya itulah yang di pikirkan Tsubaki. Bagaimana pun kemampuan yang dimiliki Naruto tidak bisa dilakukan oleh iblis apalagi manusia, jadi hanya secred gear yang mungkin digunakan oleh Naruto untuk tekniknya itu.

"Bukan, kau juga merasakan nya Tsubaki. Dia tidak memiliki aura secred gear sama sekali. " Sona yang dapat menyembunyikan keterkejutan nya dengan cepat, menjawab pertanyaan ratunya. Iblis bangsawan itu menggerakan tangannya untuk membenarkan posisi kacamata nya, sebuah kebiasaan saat dia menjalankan otak encer nya. "Mungkin itu merupakan kemampuan Naruto sebagai seorang ninja. "

'Namun sepertinya ada yang salah dengan tekniknya itu.' Batin Sona menatap para bunshin Naruto.

Poofh!

Naruto mengkerutkan keningnya ketika melihat dua dari empat bunshinnya menghilang. Dia sudah mulai bingung ketika dua bunshin itu tercipta dengan tidak sempurna, entah kenapa bunshin itu terlihat kekurangan energi. Dan itu terbukti dengan hilangnya mereka setelah lima detik muncul.

Sudahlah, dia bisa memikirkan itu nanti. Sekarang dia harus mengalahkan lawannya itu dulu. Dengan suara lantang, Naruto memerintahkan dua bunshin yang tersisa untuk bergerak menyerang. "Seraaang! "

Dua bunshin itu segera berlari kearah Saji yang tengah waspada, mereka berlari kearah kiri dan kanan sang lawan membuat kosentrasi lawan terpecah. Bunshin yang berada di kanan melompat dan melayangkan sebuah tendangan mendatar ke kepala Saji.

Saji menunduk membiarkan tendangan itu melewati dirinya, dia kemudian menggerakan kedua tangannya kesamping kepala menahan sebuah pukulan kuat dari samping kirinya. Tangan yang tadi menahan beralih jadi menggenggam, Saji memegang erat tangan bunshin Naruto sebelum memutar tubuhnya dan melempar bunshin itu kearah bunshin Naruto yang berada dibelakangnya.

"Saji! " Saji berbalik ketika Naruto yang asli menyebut namanya. Sekarang ini Naruto tengah berlari dengan kedua tangan sedang membentuk handseal. "Akan ku tunjukan jurus rahasia ku, terimalaah! "

"Oiroke no jutsu! "

Poofh

Mata Saji melebar sempurna ketika melihat apa yang ada dibalik asap ciptaan Naruto, darah naik ke kepala dengan sangat cepat sebelum menyembur keluar dari hidung nya. Dan hal terakhir yang dia lihat sebelum kealam mimpi adalah sebuah seringai.

Poofh

"Hahaha rasakan jutsu rahasia ku. Hahaha... " Tawa penuh semangat Naruto dengan perlahan menghilang digantikan dengan tawa penuh kegugupan. Sebagai seorang ninja dia terlatih merasa hawa membunuh, dan sekarang dia telah merasakan nya. Tepat dibelakangnya.

Membalikan tubuhnya dengan perlahan, Naruto terpaksa harus meneguk paksa ludahnya. Keringat dingin tiba-tiba keluar dari seluruh tubuhnya ketika melihat tujuh gadis berjalan kearahnya dengan aura hitam pekat. Mata yang tidak terlihat karena terhalang bayang rambut menambah kesan horor pada ketujuh gadis itu.

"Senpai jahat. " Ruruko dengan suara dingin berjalan dengan perlahan membuat Naruto menegang.

"Kau harus di hukum. " Kali ini Naruto tidak hanya menegang namun juga merinding, sebab Tomoe berbicara sambil membawa sebuah katana.

"Akan ku hajar pria seperti mu. " Yura mengepalkan kedua tangannya dengan erat hingga membuat bunyi bergemeletuk disana, yang pastinya dapat didengar Naruto.

Naruto tambah ngeri ketika melihat Tsubaki yang terus diam namun mengeluarkan sebuah Nagitana nya. Apalagi ketika Naruto melihat Kaichou-nya, kakinya melemas ketika hawa mematikan keluar dari tubuh Kaichou-nya.

Berpikir dengan cepat, Naruto mencari cara menghindar dari amukan para iblis itu. Sebuah ide muncul di kepalanya namun dia ragu ide itu akan berhasil. Tapi tak ada salahnya mencoba. Dengan gerakan cepat, Naruto menunjuk ke suatu arah dengan wajah yang panik. "LIHAT! ADA METEOR JATUH! "

"Kau kira kami akan terkecoh dengan itu? " Lima orang gadis yang menatap kearah yang ditunjuk Naruto segera kembali menatap Naruto ketika mendengar Kaichou mereka bersuara. "Kau tidak akan bisa kabur Naruto U-zu-ma-ki. "

"Ka-kaichou. " keringat Naruto semakin banyak, dia dengan perlahan melangkah mundur. Namun nampaknya dia benar-benar tidak bisa kabur, karena tujuh orang gadis itu sudah sangat dekat dengan nya. Mencari kata yang tepat untuk menyelamatkan dirinya, Naruto kembali bicara. "Ka-kaichou, ramennya jadi kan? "

"DASAR KUNING MUSEM! "

"Kyaaa! "

Inilah akhir petualangan Naruto di dunia barunya.

.

.

Karena Naruto dah koit ditangan para gadis, maka fic ini

Tamat

.

.

.

.

Hahaha bercanda, fic nya masih lanjut kok

TBC

.

Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.

Saya nggak nyangka respon di chap pertama fic ini sangat bagus. Saya sangat bersyukur dengan hal itu, ternyata banyak yang menyukai fic ini.

Beberapa pertanyaan dari reader udah saya jawab di atas, benarkan. Untuk pertanyaan yang lain akan saya jawab disini, kalau nggak saya jawab itu artinya pertanyaan menyangkut sesuatu yang dirahasiakan.

Kalau ada yang mengira Naruto disini (di dunia dxd) untuk mendamaikan dunia, maka itu salah. Tujuan Naruto sekarang hanya untuk mengabdi pada tuannya. Dan itu artinya Naruto tidak akan lagi berhubungan dengan dunia asalnya.

Untuk kekuatan Naruto, sama dengan canon namun akan berkembang seiring berjalan nya waktu. Namun untuk saat ini, kekuatan terkuat Naruto hanya sampai pada sage Katak. Alasan nya akan ku jelaskan di chap depan.

Jutsu disini juga tidak banyak, hanya jutsu dasar kagebunshin dan rasengan dengan beberapa variasinya, serta mungkin bijudama. Jutsu element Naruto hanya ada futon, jadi untuk jutsu Yuton: Resenshuriken dan sebagainya akan saya hilangkan. Harap di maklumi

Naruto punya chakra para biju, namun dia tidak bisa menggunakan kemampuan para biju (kecuali bijudama). Alasan nya? Anggap saja begini, Biju punya bahan (chakra) dan tau cara menggunakan nya sedangkan Naruto punya bahan namun tidak tau cara menggunakan nya. Jadi chakra para biju hanya berguna untuk menambah kekuatan Naruto saja, Harap mengerti.

Alasan sebenarnya karena saya nggak mau naru terlalu over.

Apa lagi ya? Oh ya, masalah pair. Mungkin single pair yaitu Sona. Mungkin saya akan membuat beberapa gadis menyukai Naruto, namun pada akhirnya Naruto akan tetap bersama Sona.

Satu lagi, tolong doa kan agar Naruto selamat. XD

Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.

.

.

.

Juubi out