"Hooaam~ " Tangan berwarna tan bergerak menutup mulut yang tengah terbuka, berhenti menguap dan kembali memfokuskan pandangan kedepan. Mata biru yang setengah terbuka karena mengantuk memandang deretan kata pada buku yang dia pegang, membaca dan mencoba mengingat apa yang dia baca.

Walau, sepertinya itu tidak mungkin.

'Kaichou benar-benar kejam.' Perkataan yang hanya berani Naruto ucapan dalam hati, sebab orang yang disebutnya Kaichou itu tengah duduk disamping nya sambil membaca buku. Mengalihkan tatapan nya dari buku yang dia baca, Naruto menoleh kearah Sona. "Kaichou. Aku ngantuk, lanjutkan besok saja ya. "

"Naruto, pengetahuan mu tertinggal jauh sama para murid yang seumur mu. " Sona menyahut tanpa menoleh kearah Naruto, pandangan gadis berkacamata itu masih pada buku yang dia baca. "Kamu harus belajar lebih keras untuk menyusul ketinggalan mu. "

"Tapi ini sudah tengah malam, aku ngantuk Kaichou. " Naruto berkata dengan nada lelah, ingin dia berteriak tapi dia takut kena murka sang Kaichou. Naruto berani jamin, Sona melakukan ini untuk menghukum nya, bukan untuk membantu nya. "Apa Kaichou masih marah karena kejadian itu? "

Naruto kembali mengungkit kamu jadian tiga hari yang lalu, dimana karena jutsu terlarangnya dia menjadi korban amukan para iblis betina. Membayangkan nya membuat Naruto merinding, dia takkan pernah mau lagi mengalami hal seperti itu.

"Naruto-kun. " Sona menoleh dan tersenyum manis pada Naruto. Seperti ada angin yang dingin, Naruto merinding melihat senyum itu. Belum lagi nada suara yang dia dengar dari panggilan itu, membuat Naruto susah meneguk ludahnya. "Jangan mengungkit hal itu, dan jangan pernah menggunakan jurus itu lagi. Mengerti!? "

Dengan gerakan cepat, Naruto mengangguk-anggukan kepalanya. Kejadian waktu itu sudah cukup bagi Naruto untuk mengetahui sifat Kaichou-nya itu. Naruto bernafas lega ketika pandangan Sona kembali tertuju pada buku, mendengar gadis itu berkata 'lanjutkan' Naruto juga kembali melanjutkan bacanya.

Beberapa menit Naruto habiskan untuk membaca dan mencoba memahami isi dari buku tersebut, namun rasa ngantuk yang semakin kuat membuat matanya terpejam dengan pelahan. Tersentak dan kembali mencoba membaca, namun mata biru itu kembali terpejam. Dan Naruto menyerah pada ngantuknya.

"Ugh!? " Sona terkejut ketika tiba-tiba bahunya merasakan sebuah beban, menoleh cepat Sona melihat kepala bersurai pirang yang dengan nyaman bersandar di bahunya. "Naruto? "

"Naruto bangun. " Sona yang sudah meletakan bukunya mendorong pelan kepala Naruto. Tubuh Naruto menegak dan dengan perlahan mata biru nya terbuka, namun ketika Sona melepaskan tangannya tubuh Naruto kembali jatuh kearahnya. Dan kali ini kepala Naruto jatuh di pangkuan Sona, menjadikan kedua paha Sona sebagai bantal.

"Naruto? " Sona mencoba membangunkan Naruto dengan menepuk-nepuk wajah Naruto, namun balasan yang dia dapatkan hanyalah dengkuran halus Naruto. "Naruto, bangun! "

Menghela nafas, Sona berhenti membangunkan Naruto. Sepertinya pemuda itu benar-benar tertidur. Sona dengan perlahan mengangkat kepala Naruto, bangun dari posisinya dan meletakan bantal dibawah kepala tersebut.

Sona kemudian membenarkan posisi tidur Naruto, menyamankan tubuh Naruto yang tidur di sofa. Iblis Sitri itu kemudian beranjak pergi dan satu menit kemudian kembali dengan membawa sebuah selimut. Dengan perlahan Sona menyelimuti tubuh Naruto, dia tidak ingin peerage barunya ini merasa kedinginan.

Selesai dengan urusan nya Sona hendak beranjak pergi, namun dia urungkan ketika dia melihat wajah damai Naruto. Pemuda ini bagaikan cahaya baru dikeluarganya, anggota OSIS yang sudah hangat semakin hangat karena kedatangan nya. Tanpa sadar Sona tersenyum saat mengingat apa saja yang telah dilakukan Naruto selama tiga hari menjadi anggota OSIS, pemuda itu membawa suasana baru di dalam kelompok nya itu. Selain itu, pemuda pirang ini juga cukup tampan apalagi saat seperti ini.

"Apa yang ku pikirkan. " Sona memijit pelan batang hidungnya, pikirannya mulai aneh. Mungkin karena dia sekarang juga ngantuk, mungkin tidur dapat menjernihkan pikirannya. Yah, mungkin dia memang harus tidur.

I'am a Shinobi

By Juubi

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi

Rate T (maybe)

Warning : Au, OOC, tipo dll

Enjoy it

..

.

Sona sekarang sedang mengerjakan tugasnya sebagai ketua OSIS, dia duduk dimeja kerjanya diruang OSIS sambil memeriksa beberapa kertas. Tak jauh darinya, duduk seorang gadis yang sama-sama memakai kacamata. Tsubaki, sang wakil ketua sedang membantu pekerjaan Sona.

Disofa yang terdapat diruang OSIS ini, berkumpulan empat orang atau lebih tepatnya iblis. Mereka adalah Naruto, Saji, Ruruko, dan Momo. Mereka berempat sedang asik bercengkrama, membahas hal yang penting maupun tidak penting.

Naruto nampak sedang berdebat dengan Saji, entah mengapa hal seperti itu sering terjadi. Yang lain nampak tidak peduli, mungkin mereka sudah biasa melihat kejadian tadi.

Sona membenarkan posisi kacamata nya yang sedikit melorot, kemudian dia menoleh kesamping menatap Tsubaki. "Sudah selesai? "

"Sudah, Kaichou. " Sang wakil ketua OSIS sekaligus ratu dari Sona mengangguk singkat. Setelah itu Tsubaki kemudian memberikan hasil pekerjaan pada Sona.

"Terimakasih Tsubaki. " Sona berucap tulis, kemudian mata violet dari balik kacamata itu menatap sebentar hasil pekerjaan ratunya. Merasa cukup, Sona meletakan kertas-kertas tersebut di laci mejanya. Tatapan beralih kearah anggota nya yang dari tadi dia hiraukan.

"Naruto, Saji. " Kedua pemuda yang tadi terus berdebat sama-sama menoleh pada Sona, pandangan bingun terlihat dari wajah kedua pemuda itu ketika king mereka berdiri dari kursinya. "Ikut aku. "

"Siap Kaichou / Kemana? "

Saji mendelik pada Naruto, sedikit tidak suka dengan sikap Naruto pada Kaichou-nya. "Hei, kau_ "

"Kita akan berkunjung ke klub Penelitian Ilmu Gaib. Aku ingin mengenalkan kalian pada Rias dan peerage-nya. " Sona mulai berjalan ke pintu keluar, begitupun dengan Naruto dan Saji yang sudah mengetahui maksud Kaichou-nya. Namun lima langkah dari pintu, Sona berhenti dan berbalik menatap anggota nya yang berjenis kelamin perempuan. "Kalian mau ikut? "

"Sepertinya aku tidak bisa Kaichou. " Tsubaki menolak.

"Maaf, aku juga tidak bisa Kaichou. "

"Aku juga, aku harus segera pulang Kaichou. "

Momo dan Ruruko juga menolak. Mendengar hal itu Sona mengangguk tanda mengerti, kemudian tatapan gadis iblis itu kembali pada Naruto Saji yang sudah di dekatnya. "Ayo. "

...

Dalam waktu singkat, ketiga iblis muda itu telah sampai ke sebuah bangun tua tempat club ORC. Sona yang berdiri didepan pintu masuk mengetuk pintu tersebut beberapa kali, setelah mendengar suara dari dalam yang mempersilahkan mereka untuk masuk, Sona membuka pintu tersebut.

"Selamat siang, Rias. "

"Tumben kau kemari, Sona. " Seorang gadis dengan rambut merah terang tersenyum melihat kedatangan Sona. Tatapan nya beralih kearah dua orang pemuda yang menyusul masuk, melihat mereka Rias tau tujuan Sona kemari.

"Kaichou, silahkan duduk. Kalian berdua juga. " Seorang gadis berambut hitam panjang yang diikat poni tail juga tersenyum. Gadis bernama Akeno itu kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Aku akan membuatkan teh untuk kalian. "

Naruto mentap kepergian Akeno dalam diam, kemudian tatapan beralih kepada semua punghuni ruangan. Pemuda berambut pirang itu tersenyum lebar ketika bertatapan dengan dua teman sekelasnya, dengan semangat dia mengangkat sebelah tangannya. "Yo ero Issei, Asia-chan. "

Asia tersenyum lembut menanggapi sapaan Naruto, sedangkan Issei dia memasang wajah cemberut.

"Kenapa kau selalu memanggil ku seperti itu sih, Naruto-san? " Issei nampak kesal melihat Naruto menunjukan cengiran nya.

"Temanku pernah bilang, panggil seseorang sesusai dengan kesan pertama yang orang itu tunjukan. " Bicara dengan santai namun terselip sebuah ejekan disana. "Dan panggilan tadi menurutku sesui dengan kesan pertama dirimu. "

"Kau menyebalkan. "

"Hehehe... " Naruto terkekeh menatap Issei yang pundung ditempat. Pemuda pirang itu kemudian mengikuti Kaichou-nya dan Saji untuk duduk disofa panjang yang tepat berhadapan dengan sofa yang di duduki Issei dan kawan-kawan.

Naruto memandang orang-orang yang ada disini, dua orang sudah dia kenal karena satu kelas dengan nya. Dia belum mengenal pria yang duduk disamping Issei, namun melihat tampangnya sepertinya Naruto bisa menebak. Kalau tidak salah pemuda itu adalah Yuuto Kiba, sang pangeran Kuoh Akademi. Naruto tau karena para siswi selalu berteriak gaje saat melihat pemuda itu.

Pandangan Naruto beralih pada gadis mungil bersurai putih yang duduk di sofa sebelah seorang diri. Naruto tidak mengetahui namanya namun dilihat dari penampilan nya, Naruto tau bahwa gadis itu adalah kohai-nya.

Rias berdiri dari kursinya, kemudian gadis bertubuh bohai itu berjalan menuju sofa yang berada didepan nya. Duduk disofa itu dan menatap kearah Sona. "Jadi, kenapa kamu kesini Sona? "

Sona membenahi posisi kacamata nya sebelum menatap kearah Rias. "Seperti yang sudah kau duga, aku kesini untuk memperkenalkan dua anggota peerage ku yang baru. "

Rias memandang dua pemuda yang tadi datang bersama Sona, satu pemuda sudah dia kenali karena pemuda itu merupakan murid yang sudah bersekolah setahun lebih disinia, sedangkan pemuda satunya Rias rasa baru melihatnya. Tersenyum kecil, Rias kembali menatap Sona. "Kalau begitu aku juga akan memperkenalkan dua peerage baru ku. Issei-kun, Asia-chan. "

"Ha'i Bochou. " Issei menatap ketiga tamu Bochou-nya dengan semangat. "Aku Hyodou Issei, aku pion nya Bochou. "

"Perkenalkan, aku Asia Argento. Aku Bishop dari Bochou. " Gadis bersurai pirang panjang tersenyum malu.

Sona mengangguk kecil, kemudian melirik Naruto dan Saji. "Sekarang giliran kalian. "

"Ha'i Kaichou. "

"Genshirou Saji, aku adalah pion dari Kaichou-sama. " Saji yang pertama mengenalkan diri.

"Uzumaki Naruto, aku juga pion -tebayou! " Naruto nyengir lebar ketika semua orang menatap bingung padanya.

"Ara ara... Minuman datang. " Akeno datang dari dapur membawa teh untuk semua orang. Dengan cepat dia membagikan teh tersebut, setelah itu dia mengambil posisi disamping kingnya. "Silahkan diminum. "

"Wah! " Naruto menatap teh yang sudah dia teguk sedikit dengan mata berbinar. "Ini enak sekali. "

"Terimakasih Uzumaki-kun, aku senang kamu menyukai teh buatan ku. " Akeno tersenyum manis pada Naruto yang dibalas cengiran khas dari Naruto.

"Sama-sama_ umn... "

"Akeno, Himejima Akeno. "

"Sama-sama Himejima-san. " Naruto tersenyum dan kembali menghirup teh miliknya. Sedangkan Akeno masih memandang Naruto, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Wajah tidak asing. " Akeno bicara tanpa mengubah pandangan pada Naruto. "Aku seperti pernah melihat mu, tapi dimana ya? "

"Aku sudah tiga hari menjadi murid disini. " Naruto menjawab dengan santai. "Mungkin Himejima-san pernah melihat ku disekolah. "

"Ara ara kurasa bukan disekolah. " Akeno tersenyum namun keningnya nampak mengkerut karena sedang berpikir. Beberapa detik kemudian, senyuman melebar dan wajahnya nampak cerah. "Aku ingat! Aku melihatmu saat pesta itu, saat pesta pertunangan Bochou. "

Semua orang kecuali narusona nampak terkejut mendengar pernyataan Akeno itu, namun mereka sepertinya tidak mau berkomentar.

"Oh pesta itu. " Naruto berpikir, mengingat pesta yang dia hadiri beberapa hari yang lalu. "Kaichou memang mengajak ku pergi ke pesta itu. "

"Jadi Sona-Kaichou yang mengajakmu ke pesta itu. " Akeno melirik Sona dan tersenyum. "Aku tidak tau hubungan kalian sedekat itu fufufufu. "

Naruto nampak bingung dengan ucapan Akeno berbeda dengan Sona yang langsung mengerti. Karena hal itulah Sona angkat bicara. "Aku mengajaknya karena kebetulan saat itu dia ada di underworld, aku tidak mungkin meninggalkan Naruto dirumah sedangkan aku pergi ke pesta. "

Beberapa orang nampak bingung dengan suasana diruangan ini. Rias dan Akeno nampak saling pandang dengan senyuman misterius diwajah, Sona nampak mempertahankan ekspresi datarnya. Naruto nampak tidak mengerti, sedangkan Saji terlihat pundung.

"Naruto-san. " Issei memanggil Naruto dengan sedikit gugup. "Apa kau benar-benar hadir di pesta waktu itu. "

"Tentu saja. " Naruto bersidekap dan memandang Issei dengan senyuman miring. "Aku masih ingat wajah pemuda yang tiba-tiba datang dan mengacaukan pesta itu. "

Issei menjadi kesal saat mendengar perkataan Naruto yang seperti mengejek dirinya. "Aku kesana untuk menyelamatkan Kaichou, bukan jadi pengacau. "

"Tetap saja, kamu telah mengacaukan pasta itu. " Naruto tertawa melihat wajah Issei yang penuh kekesalan, bahkan pemuda berambut coklat itu siap menerjang Naruto yang menambah kekesalan bertambah karena menertawakan dirinya. Namun Issei membatalkan niatnya ketika melihat Naruto berhenti tertawa. Pemuda kuning itu menatap Issei dengan senyum tulus diwajah membuat Issei bingung.

"Namun aku cukup kagum melihatmu bisa mengalahkan iblis Phenex itu. " Ucap Naruto tulus membuat Issei sedikit salah tingkah.

"Apa maksudmu dengan dia mengalahkan iblis Phenex? " Naruto menoleh pada saji yang menatap dirinya. Saji cukup terkejut dengan apa yang Naruto katakan. Dia memang belum tau apa yang menyebabkan pertunangan Rias dan Riser batal, Kaichou-nya masih belum menceritakan hal itu. "Apa Hyodou bertarung dengan iblis murni dari keluarga Phenex dan dia menang? "

Naruto mengangguk menjawab pertanyaan Saji, dan hal itu membuat Saji bertambah terkejut. "Ma-mana mungkin, dia hanya pion. Aku yang dihidupkan dengan empat buah pion saja belum tentu bisa menang. "

"Aku lupa bilang pada mu, Saji. " Sona yang dari tadi hanya mendengarkan ikut bicara. "Aku memang membutuhkan empat bidak pion untuk mengubah mu jadi iblis. Tapi Rias membutuhkan delapan bidak pion nya untuk membangkitkan Issei-san jadi iblis. "

"Apa!? "

"Selain itu, Issei memiliki sacred gear berbentuk Booster gear yang bisa menambah kekuatan penggunanya. " Rias menambah ucapan Sona, ada rasa bangga yang keluar saat dia mulai menjelaskan kemampuan pion nya itu. "Dan itu bukanlah sacred gear biasa, itu salah satu dari ke-13 longinus, yang dikatakan dapat membunuh tuhan saat terjadi Great war. Berbentuk gauntle merah, itu adalah Draig sang Kaisar Naga Merah, karenanya Issei dijuluki sekiryuutei. "

Issei tersenyum bangga sambil menatap Saji yang terlihat terkejut mendengar penjelasan Bochou-nya. Sedikit sombong menurutnya tidak masalah.

Saji menunduk, jujur dia iri dengan kekuatan yang Issei miliki. Dia juga ingin memiliki kekuatan besar seperti Issei, dia juga ingin membuat Kaichou-nya bangga pada dirinya sama seperti Rias bangga pada Issei. Namun tiba-tiba Saji tersentak saat sebuah tangan memegang bahunya.

"Meskipun Issei mengkonsumsi bidak lebih banyak dari mu, bukan berarti kau lebih lemah darinya. " Naruto tersenyum lembut saat Saji menoleh padanya. "Meskipun Issei lebih kuat darimu, bukan berarti kau kalah dengan nya. "

"Naruto. " Saji menatap Naruto dengan mata berbinar, dia tidak tau teman pirangnya ini sangat bijak. Sedangkan Sona yang duduk disamping Naruto nampak tersenyum tipis, orang-orang yang ada diruangan ini juga nampak kagum dengan Naruto.

"Kekuatan bukan segalanya, kemenangan tidak tergantung pada kekuatan. Dan... " Naruto menjeda kalimatnya, cukup lama sampai akhirnya dia menengok kearah Sona. "Kaichou, kau tau kelanjutan kata-kata itu, aku lupa. "

Keringat besar muncul dikepala setiap orang yang mendengar ucapan terakhir Naruto, rasa kagum tadi menguap entah kemana. 'Jadi dia hanya meniru kata-kata yang dia baca. ' Batin semua orang.

Naruto hanya bisa menggaruk belakang kepalanya merasa suasana di ruangan lebih sepi. Dia sedikit risih saat semua pasang mata menatapnya dalam diam.

"Uzumaki-san, boleh aku bertanya sesuatu? " Naruto menoleh pada gadis berambut merah yang dia tau bernama Rias, setelah itu dia kemudian mengangguk mengijinkan Rias untuk bertanya. Melihat hal itu Rias kembali bicara. "Kalau boleh tau, berapa jumlah bidak pion yang kau konsumsi. "

Dari pandangan Rias, Naruto orang yang kuat. Dia dapat merasakan kekuatan yang mengalir ditubuh pemuda itu, kekuatan yang asing namun sangat kuat. Seingat Rias, Sona hanya memiliki tiga pion lagi, kalau Naruto adalah pion Sona kemungkinan besar ketiga pion itu ada pada Naruto.

"Oh itu, jumlah bidak yang ku konsumsi ada... " Naruto kembali menjeda perkataan, membuat Rias dan lainnya jadi penasaran. "Entahlah, aku tidak tau. " Semua kembali sweatdrop namun Naruto menghiraukan hal itu, pemuda itu memilih untuk kembali menatap Kaichou-nya. "Kaichou, berapa jumlah bidak ku? "

Sona kembali membenahi posisi kacamata nya, kemudian dia menatap Naruto dan mulai berbicara. "Aku hanya membutuhkan satu bidak pion untuk membangkitkan mu. "

"Apa!?" Naruto histeris. "Kenapa aku hanya satu pion sedangkan dia (menunjuk Saji) empat. "

"Seharusnya aku mengkonsumsi sepuluh bidak pion! "

Semua orang kembali sweatdrop melihat tingkah Naruto. 'Apa dia melupakan kata-kata bijaknya tadi, dan apaan itu. Bukankah bidak pion hanya ada delapan. ' Batin mereka.

"Akui saja, aku lebih kuat dari mu. " Saji tersenyum dan mengejek Naruto, membuat sang Shinobi Konoha itu kesal.

Naruto berdiri dari tempatnya dan mengacungkan jari telunjuknya kearah Saji. "Kau lebih kuat dari ku? Apa kau lupa beberapa hari lalu kau kalah bertarung melawan ku. "

Naruto kembali mengungkit pertarungan nya dengan Saji tiga hari yang lalu, dan hal itu membuat Saji teringat jutsu terlarang Naruto. Dengan cepat dia berdiri dan ikut mengacungkan tangannya pada Naruto. "ITU KARENA JUTSU HENTAI MU ITU. "

"Jangan sembarangan ya menyebut jurus ku, kau tau jutsu itu sudah banyak menumbangkan lawan-lawan ku. " Naruto tersinggung dengan ucapan saji, walau pada nyatanya ucapan Saji itu benar adanya.

"Ara ara, jutsu hentai? Apakah itu sama dengan Issei-kun. " Akeno menyembunyikan senyuman nya dibalik tangan melihat pertengkaran kedua pemuda itu. Matanya kemudian melirik Sona yang tengah memijit kepalanya.

"Naruto, Saji! " Kedua pemuda itu langsung terdiam ketika mendengar suara king mereka, dengan perlahan kedua pria itu menoleh dan mereka sama-sama meneguk ludah dengan berat saat melihat senyum mengeri- manis Kaichou mereka. "Duduk! "

Kedua nya langsung menurut, dengan tubuh tegang mereka berdua kembali duduk.

"Haah. " Sona menghela nafas sambil memijit batang hidungnya, cukup lelah dengan sikap dua peerage-nya terutama Naruto. Gadis iblis keluarga Sitri itupun kembali menatap kearah teman sejak kecilnya. "Sepertinya hanya sampai disini, kami akan kembali keruangan kami. "

Rias mengangguk dan tersenyum menatap Sona yang mulai berjalan kepintu keluar. "Sampai jumpa lagi Sona. " Ucapnya dengan semangat. Kemudian tatapannya beralih pada Naruto. 'Pemuda yang menarik.'

Ketika Sona dan peerage nya keluar dari ruang club, Rias menoleh kesamping menatap ratunya sekaligus teman dekatnya. "Bagaimana menurut mu peerage baru Sona itu. "

"Dia sangat 'unik' Bochou fufufu. "

..: I'am a Shinobi :..

Dua minggu kemudian.

Naruto berbaring dipandang rumput dengan nafas terengah-engah, dia baru saja habis latihan. Saat ini dirinya sedang berada di hutan tepat disebelah barat kota Kuoh, sudah dua minggu dia kesini untuk kembali berlatih.

Saat bertarung dengan Saji waktu itu, Naruto mendapatkan keganjilan pada tubuhnya. Dia tau itu saat dia membuat bunshin untuk menyerang Saji, tanpa alasan jelas dua bunshinnya menghilang. Karena hal itulah selama dua minggu ini dia berlatih sekaligus mencari penyebab hal itu.

Dan setelah dua minggu dia mengetahui penyebab nya. Penyebab utamanya adalah karena dia bukan lagi seorang manusia. Tubuhnya sebagi iblis membuat kapasitas chakra nya bertambah, karena hal itu dirinya kesulitan untuk mengontrolnya. Oleh karena itulah dia berlatih pengontrolan chakra lagi, tentunya dia memakai trik kagebunshin untuk mempercepat latihannya.

Namun ada satu masalah lagi, sekarang ditubuhnya tidak hanya terdapat chakra namun juga terdapat demonic power. Dan fakta yang mengejutkan adalah kedua energi itu saling menolak membuat aliran energi dalam dirinya bertambah kacau.

Walaupun energi iblisnya itu kecil, namun energi itu sanggup menekan chakra nya yang besar. Hal itu membuat Naruto tidak mampu mengerahkan chakra nya secara maksimum, kalau dia memaksanya maka tubuhnya lah yang akan jadi korban.

Chakra miliknya saja dia sulit mengeluarkan, apalagi chakra yang lebih kuat seperti chakra biju atau chakra ashura yang ada ditubuhnya. Dia hanya bisa mempertahankan mode rikodou dan biju dalam tiga detik selanjutnya kekuatan itu akan menghilang, selain itu jantungnya akan merasakan sakit yang sangat amat setelah melakukan itu.

Ketiadaan Kurama dalam tubuhnya juga menjadi masalah. Chakra biju yang diberikan rubah itu didalam tubuhnya tidak bisa terisi ulang, chakra itu akan berkurang bila dia gunakan dan akan habis bila dia terus memakai. Karena hal itulah, Naruto memutuskan tidak akan memakai chakra biju sampai dia menemukan cara untuk membuat chakra itu tidak akan habis.

Sampai sekarang Naruto masih berusaha untuk menyelaraskan chakra miliknya dan energi iblis yang ada ditubuhnya. Cukup sulit namun berkat pengalamannya mempelajari senjutsu, dia percaya dalan waktu dekat ini dia akan berhasil.

Oh ya, untuk sage katak Naruto masih mampu melakukannya. Namun dia membutuhkan waktu lebih lama untuk masuk mode itu, selain itu durasi pemakaiannya juga jauh lebih pendek. Penyebabnya masih sama, yaitu energi iblis yang berada ditubuhnya.

Naruto menatap kelangit, mengamati awan yang berenang tenang disana. Hari ini dia mendapat kemajuan, chakra dan demonic powernya tidak lagi kacau. Walau masih tidak bisa selaras namun kemajuan ini cukup baik.

Tatapan Naruto kemudian beralih ketangan nya, tepatnya kearah jam yang sudah menunjukan angka empat. Ternyata sudah sore, dia harus segera kembali.

...

Naruto berjalan santai ditaman dekat pusat kota Kuoh, saat ini dia sedang menuju ke apartement nya. Ditangan kirinya pemuda itu membawa sebuah bungkusan yang berisi beberapa bahan makanan, tentu saja didominasi oleh ramen. Sedangkan di tangan satunya, Naruto memegang minumun kaleng yang sudah dia minum setengah.

Sebenarnya itu bukan apartement nya sih, itu apartement Kaichou-nya. Tapi karena Kaichou-nya lebih sering tinggal disekolah, Naruto disuruh tinggal di apartement itu. Apartement itu memiliki dua kamar jadi Naruto tidak perlu tidur dikamar Sona, dia sedikit merasa tidak enak bila harus tidur disana.

Sebenarnya Sona juga tidak terlalu sering tidur disekolah, beberapa kali dia juga tidur di apartement nya. Naruto juga beberapa kali tidur disekolah tepatnya diruang OSIS (tentu karena pelajaran tambahan dari Sona), Jadi bisa dibilang Naruto saat ini tinggal bersama Sona.

Pandangan Naruto menyipit saat melihat sesuatu didepan nya, dua orang perempuan cantik sedang duduk dikursi panjang yang ada ditaman ini. Naruto kenal dua perempuan itu, dua hari yang lalu mereka berdua datang ke sekolah nya.

Kalau Naruto tidak salah ingat mereka berdua adalah Xenovia dan Irina, dua utusan gereja yang datang ke kuoh untuk mencari benda mereka yang telah dicuri. Naruto tersenyum ketika pendengaran sebagai iblis mendengar pembicaraan mereka berdua.

"Aku lapaaar. " Irina mendesah kesal sambil mengusap perutnya yang terus minta di isi. "Xenoviaa! Aku lapar. "

"Aku juga lapar Irina, berhentilah mengeluh. " Gadis berambut biru dengan beberapa anak rambut berwarna hijau berujar kesal. "Kenapa orang-orang disini tidak mau memberi sedekah pada kita sih. "

"Mungkin mereka sudah dihasut oleh iblis-iblis yang ada disini. " Ucap Irina malas. Namun tiba-tiba tubuhnya menegang ketika merasakan energi iblis. Menengok pada temannya, Irina melihat Xenovi menatap kebelakang mereka. Mengikuti tatapan temannya, Irina melihat pemuda pirang yang berjalan mendekat kearah mereka.

"Wow wow, tenang. " Naruto mencoba menenangkan dua gadis yang sudah siap menyerang dirinya. "Aku tidak berniat jahat kok. "

"Apa tujuanmu kemari, iblis. " Xenovia masih tetap waspada dengan iblis didepan nya, bahkan dia siap mengeluarkab pedang miliknya untuk menyerang Naruto.

"Aku ingin pulang, dan ini jalan kerumah ku. " Naruto tetap bersikap santai, matanya kemudian melirik kekiri kekanan sebelum kembali menatap kedua gadis itu. "Bisakah kalian berhenti bersikap seperti itu, disini banyak orang. "

Sadar dengan sikap mereka, akhirnya Irina dan Xenovia menurunkan kuda-kuda nya. Kedua gadis itu kembali menempati tempatnya duduk mereka. Xenovia menatap Naruto yang masih berada ditempatnya. "Sebaiknya kau cepat pergi, aku tidak suka ada iblis didekat ku. "

"Baiklah-baiklah, aku pergi. Kau emosian sekali. " Naruto kembali melanjutkan langkah nya, namun kembali berhenti ketikan dia tepat didepan kedua gadis itu. Dia mengambil sesuatu dari kantong belanjaan nya dan kemudian menyodorkannya pada dua gadis itu. "Ini. "

"Apa ini. "

"Kau butanya, ini roti. Apa kau tidak pernah melihat roti. " Naruto hanya menunjukan cengiran nya ketika Xenovia menatap tajam dirinya. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian, jadi ini untuk kalian. "

"Kami tidak mau. " Ucap Xenovia menolak, namun berbeda dengan perutnya yang meronta tidak setuju. Begitupun dengan Irina, dia nampak tidak suka dengan perkataan Xenovia. Mereka kan sedang kelaparan.

"Ya sudah, aku pergi. " Naruto berniat kembali menyimpan rotinya kembali, namun niatnya tertahan ketika Irina berucap.

"Aku mau. " Irina berucap sambil menarik salah satu roti yang Naruto sodorkan tadi. Merasa ada yang aneh, Dia kemudian menoleh pada Xenovia yang menatapnya tajam. "Apa? Aku kelaparan. "

"Tapi_ "

"Sudahlah, terima saja apa susahnya sih. " Naruto menyela ucapan Xenovia, dia kemudian kembali menyodorkan roti miliknya pada gadis berambut biru itu. "Kau juga kelaparan kan. "

"Cih. " Xenovia mendecih kesal, namun dia tetap menerima roti Naruto itu. "Apa yang kau mau, aku tidak mau berhutang budi dengan iblis. "

"Cukup bilang terimakasih. " Naruto tersenyum lebar sambil menatap Xenovia.

"Terimakasih. " Irina yang sudah mulai memakan roti itu langsung menuruti permintaan Naruto.

...

.

.

.

.

Maaf hanya sampai disini, waktu saya nggak sempat menyelesaikan chap ini.

Saya masih sibuk, namun hari ini saya sempatkan update. Bayangkan aja, saya buat ini chap hanya dalam waktu satu hari, tepatnya sekitar lima jam.

Tolong review.