Sedikit bagian chap enam yang belum sempat tertulis/terketik.

"Sudahlah, terima saja apa susahnya sih. " Naruto menyela ucapan Xenovia, dia kemudian kembali menyodorkan roti miliknya pada gadis berambut biru itu. "Kau juga kelaparan kan. "

"Cih. " Xenovia mendecih kesal, namun dia tetap menerima roti Naruto itu. "Apa yang kau mau, aku tidak mau berhutang budi dengan iblis. "

"Cukup bilang terimakasih. " Naruto tersenyum lebar sambil menatap Xenovia.

"Terimakasih. " Irina yang sudah mulai memakan roti itu langsung menuruti permintaan Naruto.

"Terimakasih. " Sedikit enggan, tapi Xenovia tetap mengikuti permintaan Naruto, yah walau dia mengatakan itu sambil membuang mukanya.

Naruto tersenyum, dia tetap berdiri ditempatnya sambil memandang dua gadis itu memakan roti pemberian nya. Dia kemudian sesuatu dari kantong belanjanya lagi, sebotol air mineral dia ambil dari sana. "Ini. "

Naruto meletakan air tersebut tepat diantara Irina dan Xenovia, sedangkan dua gadis itu hanya menatap bingung botol itu. Namun kebingungan mereka terjawab ketika Naruto kembali buka suara. "Untuk kalian. Kalian akan tersedak kalau makan tanpa air kan. "

Kedua utusan gereja itu mengangguk kecil, kemudian kembali melanjutkan makan mereka. Tidak lama setelah itu Xenovia kembali menghentikan aktivitas nya, dia lebih memilih menatap Naruto yang masih tidak beranjak dari tempatnya. "Apa lagi? Sudah sana pergi. "

"Kau mengusir ku. " Naruto cemberut sambil bicara dengan nada merajuk yang dibuat-buat, mencoba untuk bercanda namun ditanggapi serius oleh gadis bersurai biru itu. Menghela nafas, Naruto menjadi serius. "Bagaimana dengan tugas kalian? "

"Kenapa kau bertanya hal itu? " Xenovia memincingkan matanya, menatap Naruto dengan tajam. "Itu bukan urusan mu. "

"Aku hanya bertanya. " Jawab Naruto asal, namun keseriusan diwajahnya tetap terlihat. "Kalian tau sendiri kan, tugas kalian itu begitu berat. "

"Maksudmu? " Tanya Irina.

"Benda yang kalian cari jelas benda yang sangat berharga, karena itu benda itu pasti dijaga dengan ketat. Dan mereka dapat mencurinya, sudah jelas mereka bukan makhluk sembarangan. " Naruto menghela nafas sebentar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Dan pihak gereja hanya mengirim kalian berdua untuk mencari benda itu. Menurutku itu adalah hal yang_ "

"Apa kau meragukan kemampuan kami. " Xenovia yang mengerti maksud Naruto langsung memotong perkataan pemuda pirang itu. Nada tidak suka terdengar jelas dari suaranya, dia tidak suka kalau ada seseorang yang meremehkan dirinya.

"Bukan, bukan itu maksudku. " Naruto kembali menghela nafasnya, lawan bicaranya ini sungguh emosian. Diam sebentar membuat dua gadis didepan nya menunggu, Naruto kemudian tersenyum lembut. "Aku hanya ingin kalian berhati-hati. "

Irina dan Xenovia sedikit tertegun dengan ucapan Naruto tadi, pemuda itu ingin mereka berhati-hati. Benarkah pemuda yang notabene adalah iblis musuh mereka mengkhawatirkan mereka. Baru kali ini mereka bertemu iblis seperti dia.

Hanyut dalam pemikiran nya, kedua gadis itu tidak menyadari Naruto yang sudah mulai melangkah pergi. Mereka baru sadar ketika Naruto mengucapkan salam perpisahan. "Sudah dulu ya, aku harus pulang. Sampai jumpa lagi. "

I'am a Shinobi

By Juubi

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi

Rate T (maybe)

Warning : Au, OOC, tipo dll

Enjoy it

..

.

Peristiwa ini terjadi seminggu setelah pertemuan Naruto dengan Xenovia dan Irina. Saya tidak tau waktu di LN nya, jadi kalau salah maaf ya.

.

Saat ini sedang terjadi pertarungan di Akademi Kuoh, pertarungan antara iblis-iblis muda melawan Da-tenshi tingkat atas bersama bawahan nya. Sekolah yang dulunya indah hancur karena pertarungan ini. Halaman yang ditumbuhi rumput halus dan beberapa pohon yang menyejukan, kini hancur dengan beberapa lubang disana sini. Bangunan yang berdiri kokoh, kini sudah hancur dibeberapa bagian.

Pertarungan terjadi di dua tempat berbeda, ditempat pertama terjadi pertarungan antar sesama pengguna pedang. Yuuto Kiba bersama dengan salah satu utusana gereja Xenovia sedang bertarung dengan dua pendeta liar.

Ditempat satunya, anggota club ORC bertarungan dengan dua monters anjing berkepala tiga. Sedangkan sang biang keladi dari masalah malam ini sedang duduk disebuah singgasana melayang, memperhatikan pertarungan yang terjadi dibawahnya seakan-akan itu merupakan tontonan menarik baginya.

Kokabiel, salah satu petinggi Da-tenshi yang memiliki keinginan untuk memulai kembali Great War. Dengan alasan ingin kembali menunjukan eksitensi Da-tenshi yang semakin menurun, dia berencana kembali memulai perang. Sebuah alasan yang tidak mendasar, yang sebenarnya alasan untuk menutupi alasan yang sebenarnya.

Mata merah milik Kokabiel melirik Issei, sang Sekiryuutei masa kini yang telah berhasil mendaratkan pukulannya pada kepala salah satu anjing peliharaan Kokabiel. Malaikat terbuang itu tersenyum remeh melihat kemampuan Sekiryuutei saat ini, menurut Kokabiel pemuda itu begitu lemah. Kelompok iblis Gremory juga lemah, menghadapi dua monster kelas rendah seperti itu saja mereka sudah begitu kerepotan.

Disisi lain, atau tepat diluar kawasan Akademi. Delapan iblis muda melayang diudara dengan sayap iblis mereka, mereka terpencar disekeliling kawasan sekolah mengerahkan semua kekuatan mereka untuk membuat sebuah kekkai. Kekkai yang menyelubungi kawasan sekolah itu bertujuan untuk menyembunyikan eksitensi makhluk supranatural dari manusia normal sekaligus memperkecil dampak pertarungan yang tengah terjadi.

Sona hanya bisa menatap khawatir kepada sahabatnya yang tengah bertarung, ingin dia membantu tapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya ini. Kekkai yang dibuat memang mereka lakukan bersama, namun pusat kendalinya dia lah yang melakukan. Tanpa dirinya, kekkai yang dibuat tidak akan stabil dan tidak akan bertahan lama. Semua ini membuatnya gusar.

Dan dia bertambah gusar saat mengetahui satu keluarganya menghilang tanpa jejak. Kuning tengik itu, Sona berjanji saat pemuda itu muncul dia akan memberi pelajaran yang tak pernah terlupakan untuk nya.

"Kaichou. " Sona menoleh keasal suara, menatap ratunya yang malayang cukup jauh disampingnya. Yah walaupun cukup jauh, Tsubaki lah orang yang posisinya paling dekat dengan dirinya. "Aku merasakan keberadaan Naruto, aku merasakan energi berada didalam sekolah. Tepatnya di ruang OSIS. "

"Apa!? " Jadi selama ini pemuda kuning itu bersembunyi diruang OSIS. Kenapa sejak siang tadi dia tidak merasakan energi pemuda itu. 'Aku benar-benar akan menghukumnya.'

...

Beberapa menit sebelumnya.

Disalah satu ruangan yang berada di markas OSIS, seorang pemuda dengan pakain khas murid laki-laki Akademi Kuoh nampak tergeletak. Dengkuran halus dengar dari mulut pemuda itu, mulut yang terbuka dengan iler yang keluar dari sela bibir. Bukan hanya itu, nampak sebuah gelembung disalah satu lubang hidungnya, gelembung itu membesar-mengecil beriringan dengan deru nafas pemuda bersurai pirang itu.

Selain itu, nampak sebuah bercak orange disekitar matanya yang terpejam. Yah, Naruto tertidur saat dalam menggunakan mode senjutsu nya. Niat awal dia hanya ingin bersembunyi dari Kaichou-nya yang menurutnya sangat merepotkan, bersembunyi diruangan ini dan menggunakan senjutsu untuk menutupi energi iblis nya. Itung-itung melatih kemampuan senjutsu nya. Namun entah kenapa Naruto malah tertidur disini.

Beberapa saat kemudian, warna orange disekitar matanya menghilang dan dengan perlahan mata itu terbuka. Menguap sebentar sebelum beranjak bangun, tidak lupa membersihkan iler dengan punggung tangan. Untuk beberapa detik Naruto hanya memandang kedepan dengan mata sayunya, namun sedetik kemudian dia bangkit berdiri.

Berjalan dengan langkah gontai dan sesekali menguap, Naruto menuju kesebuah lemari kecil. Kesadaran yang belum seratus persen membuat dia tidak merasakan keanehan yang terjadi disekitarnya, dia tidak sadar bahwa sesekali terdengar bunyi ledakan, dia tidak merasa bahwa ruangan nya saat ini sesekali bergetar.

Membuka lemari kecil yang menempel ditembok, Naruto mengambil sebuah cup ramen. Dengan cepat dia membuka penutup ramen tersebut dan menuangkan air panas kedalamnya. Kembali menutup cup ramen tersebut, Naruto diam menunggu ramennya matang.

Drrrt

Mata Naruto menyipit dan keningnya mengkerut, apa tadi dia merasa ruangan ini bergetar. Apa tadi itu gempa bumi berskala kecil?

Duaar!

Sekarang mata Naruto melebar, getaran yang hebat dan suara itu sudah jelas menandakan adanya sebuah ledakan. Mencoba merasakan energi disekitarnya, Naruto terkejut merasakan banyaknya energi diluar sana. Beberapa energi sudah dia kenali, dan beberapa energi lainnya nampak asing bagi dirinya. Namun satu hal yang dia tau dari energi asing tersebut, salah satunya memiliki energi yang sangat besar.

Sudah jelas, diluar sana sedang terjadi pertarungan.

Naruto berbalik dan melesat kepintu keluar, namun ketika mau membuka pintu Naruto terdiam. Kepalanya menoleh kebelakang menatap ramen yang dia letakan diatan meja, kemudian dia kembali menatap kearah pintu. Kembali menatap ramen lalu pintu, terus melakukan itu beberapa kali sampai akhirnya dia menghela nafas. "Mungkin mereka bisa menunggu. "

..: I'am a Shinobi :..

Xenovia memandang kedepan dengan pandangan sendu, didepan nya kini tergeletak dua tubuh tak bernyawa. Dua orang Exorcist yang telah menyatukan dan menggunakan pecahan excalibur. Sebuah pedang yang sangat hebat namun sekarang telah hancur sepenuhnya.

Xenovia kemudian melirik kesamping, dimana beberapa meter disampingnya terbaring tak sadarkan diri seorang pria berambut pirang. Yuuto Kiba, iblis muda yang telah mengalahkan Freed (nama salah satu exorcist yang tewas, kalau tidak salah :D) dan menghancurkan excalibur dengan Balance Break nya.

Xenovia terduduk lemas, dirinya saat ini telah galau. Hal itu bukan karena Kiba tak sadarkan diri atau tubuhnya yang saat ini dipenuhi luka sayatan yang masih mengeluarkan darah. Gadis utusan gereja itu seperti ini karena kabar yang disampaikan exorcist liar itu (maaf lupa namanya) sebelum kematian nya, kabar yang mengatakan bahwa tuhan nya telah tiada.

Dia masih belum mau mempercayai hal itu, walau bukti sudah ada didepan mata. Belum lagi kabar yang mengatakan dia akan dieksekusi karena mengetahui hal ini, membuat Xenovia semakin gusar.

Hanyut dalam pikirannya, Xenovia tidak menyadari kehadiran seseorang yang muncul disampingnya. Dia baru sadar ketika orang itu menyentuh bahunya, dengan cepat dia menoleh dan yanh dia dapatkan adalah sepasang mata kuning dengan garis hitam horizontal ditengah.

"Yo, kita bertemu lagi. "

...

Akeno melayang dengan sepasang sayap iblis nya, membuat lingkaran sihir yang mengarah pada monster yang ada dibawahnya. Mengerahkan energi sihir yang dia punya, Akeno mengeluarkan jurusnya.

Dari lingkaran sihir tersebut, petir berwarna kuning menyala keluar melesat cepat menuju anjing berkepala tiga dibawahnya. Namun sayang, monster incarannya menyadari serangan itu sehingga monster itu dapat menghindari nya.

Anjing itu menghindar dengan melompat kesamping, namun sepertinya itu merupakan pilihan yang salah. Karena tepat setelah dia mendaratkan kakinya, sebuah bola hitam meluncur cepat kearahnya. Menghancurkan kepala tengah dan masuk kedalam tubuh, sedetik kemudian tubuh tersebut meledak tanpa sisa.

Sang pelaku penyerangan hanya tersenyum tipis, meski kini nafasnya terengah-engah. Rambut merah panjangnya bergerak pelan ketika angin hasil ledakan monster tadi menerpa tubuhnya. Melirik kesamping, Rias mendapati ratunya tengah turun disamping dirinya. "Akeno_ "

[Explotion]

Ucapan Rias terputus ketika mereka berdua mendengar deklarasi dari kekuatan Issei. Menatap ke asal suara, Rias maupun Akeno dapat melihat Issei meluncur turun menuju monster yang tersisa dengan kepalan tangan yang sudah terbungkus sarung tangan merah.

"Hyiaa! "

Dumm!

Pukulan Issei menghantam telak batok kepala tengah monster tersebut, membuat gelombang kejut pada udara dan membawa ketiga kepala anjing itu menghantam keras tanah dibawahnya. Selesai melakukan tekniknya, Issei melompat mundur. Dirinya mendarat lima meter didepan monster yang masih menunduk itu.

"Senpai minggir! "

Issei menoleh kebelakang mendapati Koneko yang berlari kearahnya tepatnya kearah lawannya, ketika melewati tubuh Issei Koneko melompat tinggi ke udara. Mencoba kembali menghamtam kepala yang dipukul Issei tadi.

Namun Ceberius (benar gak?) itu telah lebih dulu bangkit, dia berhasil menegakan tubuhnya sebelum Koneko sempat menyerang dirinya. Satu kepalanya memang pening, namun dua kepalanya yang lain tidak demikian membuat dia lebih cepat pulih.

Memanfaatkan keterkejutan Koneko, monster yang katanya penjaga pintu neraka itu melayangkan cakarnya kearah Koneko yang masih di udara. Menghantam gadis mungil itu dengan kuat hingga tubuh itu terpental jauh sampai menabrak tembok bangunan sekolah hingga hancur.

"KONEKO! "

Belum selesai sampai disitu, Ceberius kembali menyerang Issei yang pada saat ini mengkhawatirkan Koneko. Issei baru sadar ketika cakar monster itu hendak mengenai dirinya.

Sriiinng!

Issei yang sudah siap menerima rasa sakit dikejutkan dengan sesuatu yang menghantam tubuh Ceberius dari samping, sebuah bola dengan baling-baling mirip shuriken yang mengeluarkan bunyi seperti mesin jet menghantam telak monster tersebut. Menyeret tubuh besar monster tersebut sebelum akhirnya...

Duuaar!

Bola itu meledak menjadi bola raksasa yang terbuah dari ribuan jarum angin yang langsung mengoyak tubuh malang Ceberius itu. Bola itu terus menggilas tubuh monster itu hingga tubuh bagian depannya habis, dan hanya menyisakan dua kaki belakang hingga ekornya saja.

Semua orang sangat terkejut dengan kejadian itu, termasuk Kokabiel yang menyaksikan dari atas. Mencari pelaku penyerangan tersebut, Kokabiel tersentak ketika insting bahayanya berteriak. Dengan gerakan cepat dia menyilangkan kedua tangannya diatas kepala.

Tepat sedetik kemudian, sebuah hantaman kaki berhasil dia tahan. Namun kekuatan yang tidak diduga dari serangan itu membuat Kokabiel harus rela kehilangan singgasana nya hancur dan tubuhnya meluncur kebawah. Tak mau menghantam tanah, Kokabiel mengepakan kesepuluh sayapnya membuat dia melayang tiga meter dari permukaan tanah.

Mata merahnya menajam saat sang pelaku penyerangan mendarat didepan nya, seorang pemuda bersurai pirang yang dia yakin adalah iblis.

Ditempat Issei, pemuda bersurai coklat itu dikejutkan dengan seseorang yang mendarat didepan nya. Dalam sekali lihat saja dia sudah mengetahui siapa orang itu. "Naruto-san. "

"Yo ero Issei. " Issei sedikit terkejut saat Naruto menoleh padanya, penampilan Naruto saat ini adalah penyebab nya. Mata dengan iris biru yang dia ingat sudah terganti dengan iris kuning bergaris horizontal hitam. Aura yang dikeluarkan pemuda itu juga sangat berbeda, kali ini terasa lebih kuat dan berwibawa.

"U-uzumaki-san. " Naruto mengalihkan pandangan keasal suara, dirinya tersenyum lebar ketika melihat Rias dan Akeno berlari ketempat dirinya. Setelah mereka sampai, Rias kembali buka suara. "Bagai_ "

"TURUNKAN AKU IBLIS! " Semua pasang mata segera menoleh keasal teriakan, mereka terkejut melihat dua pemuda serupa yang berlari ketempat mereka, dan jangan lupakan dua orang yang digendong pemuda itu.

Bunshin Naruto yang menggendong tubuh Kiba di bahunya menurunkan pemuda itu dengan perlahan. Sedangkan untuk bunshin yang menggendong Xenovia menghilang ketika wanita yang dia bawa memukul dirinya, tentu saja karena hal itu tubuh gadis bersurai biru itu jatuh ketanah.

Belum hilang keterkejutan mereka, satu bunshin Naruto lagi kembali muncul dan kali ini dia membawa tubuh tak sadarkan diri Koneko. Dia muncul tepat disamping Rias, membaringkan tubuh gadis bersurai putih itu dengan perlahan sebelum akhirnya menghilang menjadi kumpulan asap.

"Na-naruto-san, ka-kau tadi ada lima. " Issei menatap Naruto dengan wajah terkejut yang nampak bego. Bagaimana pun apa yang dia lihat tadi sangat menakjubkan. "Bagaimana kau melakukannya? "

"Itu salah satu kemampuan ku, Issei. " Naruto menatap Issei sebentar sebelum menatap kearah teman-temannya yang lain. Melihat wajah khawatir Rias yang ditujukan pada Koneko dan Kiba, Naruto kembali bersuara. "Mereka hanya mendapat luka kecil, mereka tidak sadar karena kehabisan tenaga. Jadi jangan khawatir. "

Melihat Rias mengangguk, Naruto kembali mengedarkan pandangan nya seperti mencari sesuatu. Keningnya mengkerut ketika tidak menemukan apa yang dia cari. "Dimana Asia? "

"Asia ada disana. " Akeno menjawab sambil menunjuk satu tempat. "Dia tadi pingsan jadi aku membawanya kesana. "

Naruto mengangguk kecil pertanda mengerti, dia kemudian menatap anggota ORC yang masih bertahan. "Bagaimana keadaan kalian? Apa masih bisa bertarung? "

"Aku masih sanggup, Naruto-san. " Issei pertama menjawab. Memang pada kenyataan saat ini dirinya masih segar bugar, berbeda dengan dua senpai nya.

"Kami tidak terluka, tapi energi sihir kami tinggal sedikit. " Rias mengutarakan keadaan dirinya dan Akeno, energi mereka memang banyak terkuras saat melawan Ceberius tadi.

"Gagak tua itu sangat kuat, aku tidak yakin bisa mengalahakan nya seorang diri. " Naruto menatap jauh kedepan, ketempat Kokabiel yang sedang berhadapan dengan satu bunshinnya. Seandainya dia dapat menggunakan kekuatan penuhnya, Naruto yakin dia bisa mengalahkan gagak itu. Tapi apa mau dikata, mode senjutsu nya saat ini pun belum sekuat senjutsu dulu.

"Issei, apa kau bisa menggunakan baju besi waktu itu? " Issei sedikit bingung dengan pertanyaan Naruto, namun sedetik kemudian dia mengerti.

"Balance break? Butuh beberapa menit lagi untuk bisa menggunakan itu. " Jawab Issei jujur, setelah itu wajahnya jadi sedikit lesu. "Tapi aku hanya bisa memakainya selama tiga puluh detik. "

"Kalau begitu, kalian istirahat lah. Bawa Kiba dan Koneko ketempat Asia, dan pulihkan energi kalian disana. " Naruto berbicara tanpa memandang anggota club ORC, pandangan terfokus pada Kokabiel yang sepertinya sedang berbicara dengan bunshinnya. "Aku akan mencoba mengulur waktu sampai tenaga kalian pulih, aku juga akan berusaha memberikan luka padanya. "

"Tapi Naruto-san, aku juga ingin bertarung. " Issei nampak menolak usulan Naruto, dia masih bugar dan masih dapat bertarung. Dia tidak ingin hanya menyaksikan nya saja.

"Tidak Issei. Kau, aku ataupun kita berdua sekaligus tidak akan mampu mengalahkan nya. " Naruto membalas dengan serius, mengungkap fakta yang ada meski Issei membantah hal itu. "Satu-satunya jalan adalah menyerang dia bersama-sama, jadi kau harus menahan diri sampai Gremory dan Himejima-san siap untuk bertarung. "

"Lalu bagaimana dengan mu? " Issei masih keras kepala.

"Bukankah sudah ku bilang, aku akan mengulur waktu. " Naruto menunjukan senyum tipis pada Issei. "Jangan khawatir kan aku, aku akan baik-baik saja. "

"Baiklah. " Issei akhirnya mengalah, pemuda berambut coklat itu berbalik menghadap Bochou-nya. Ketika melihat Bochou-nya mengangguk, Issei berjalan ketempat tubuh Kiba.

"Naruto, hati-hati. " Rias ikut berbalik, mengikuti Issei yang membawa tubuh Kiba menjauh. Sedangkan Akeno menggendong tubuh Koneko dan menyusul king-nya menjauh.

"Hajar gagak itu Uzumaki-kun. Fufufu. " Ucap gadis bersurai hitam itu sebelum pergi.

Naruto yang masih ditempatnya melirik kesamping, ketempat Xenovia berada. "Sebaiknya kau ikut dengan mereka, pulihkan tenaga mu. Siapa tau kau bisa membantu nanti. "

"Jangan seenaknya memerintah, kuning. " Xenovia berucap tidak suka, namun tetap saja dia menuruti perintah Naruto.

..: Juubi no Kitsune :..

Kokabiel menatap kelompok iblis Gremory yang mulai menjauh meninggalkan seorang pemuda berambut kuning, tatapan kemudian beralih kebawah dimana pemuda kuning yang sama berdiri. Dilihat dari manapun dua pemuda itu adalah orang yang sama, kemampuan yang cukup unik menurut Kokabiel.

Selain itu, kekuatan pemuda itu juga tidak sembarangan. Senjutsu, kemampuan dasar seorang yokai. Dan Kokabiel merasakan nya dari tubuh pemuda itu, hal yang membuat dia bingung karena mengetahui Naruto itu seorang iblis. 'Mungkin dia dulunya seorang yokai.'

"Hei gagak tua, sebaiknya kau turun agar aku bisa memukul wajah mu. " Bunshin Naruto menyeringai melihat ekspresi wajah Kokabiel. Urusan bosnya sudah selesai, berarti tugasnya disini juga selesai.

"Lancang kau iblis rendahan. " Kokabiel mengayunkan tangannya kearah Naruto, dan bersamaan dengan itu sebuah tombak cahaya melesat cepat.

Naruto melompat kebelakang menghindari tombak tersebut, setelah itu dia segera melompat keatas mencoba menerjang Kokabiel. Namun tombak cahaya lain melesat kearahnya, menusuk tepat diperutnya membuat dia menghilang dalam kumpulan asap.

Melihat itu Kokabiel menatap Naruto yang asli, yang saat ini tengah berlari kearahnya. Dia tersenyum meremehkan, dengan gerakan simpel dia buat sebuah tombak cahaya lagi yang segera dia lesatkan kearah Naruto.

Tanpa mengurangi kecepatan larinya, Naruto bergerak kesamping menghindari serangan tersebut. Baru menghindar satu serangan, serangan yang lain kembali datang. Namun Naruto berhasil menghindarinya tanpa berhenti memangkas jarak dirinya dengan Kokabiel.

Saat jaraknya tinggal sepuluh meter, Naruto membentuk handseal dan sepuluh bunshinnya tercipta. Melihat hal itu, tombak cahaya Kokabiel semakin banyak. Meski berhasil menghindar tapi tetap saja beberapa bunshin Naruto menghilang terkena tombak-tombak tersebut.

Saat bunshin terakhir menghilang, Naruto yang asli melompat tinggi. Bersamaan dengan itu dia kembali membuat beberapa bunshin. Satu bunshin dia jadikan sebagai tumpuan untuk melompat lebih tinggi, bunshin yang lainnya juga melakukan hal yang sama.

Dua bunshin melesat ketempat Kokabiel bersiap memberikan sebuah pukulan, namun sebelum pukulan mereka sampai mereka telah lebih dulu menghilang karena terkena tombak milik Da-tenshi itu. Mendongak keatas, Kokabiel melihat Naruto yang sekarang berada lima meter diatasnya. Membentuk handseal dan membuat bunshin lebih banyak dari sebelumnya.

Masih dengan senyum meremehkan, Kokabiel membuat dua pedang cahaya dimasing-masing tangannya. Tanpa berpindah dari posisinya, Kokabiel menebas bunshin-bunshin Naruto yang melesat turun menyerang dirinya. Terlalu fokus pada penyerangan yang berada diatas, Kokabiel terkejut ketika pergelangan kakinya dicengkram kuat.

"Hyaat! " Bunshin Naruto yang mengcengkram kaki Kokabiel menarik kuat kaki tersebut, melempar Da-tenshi bersayap sepuluh itu ke permukaan tanah.

Sebelum mencapai tanah, Kokabiel memutar tubuhnya membuat dia berhasil mendaratkan kakinya ketanah dengan sempurna. Namun belum sempat dia bernafas lega, dia terpaksa mendongak dan menyilangkan tangannya diatas kepala.

"Naruto Rendan! "

Boom!

Kawah kecil dan retakan tanah tercipta dibawah kaki Kokabiel ketika tumit Naruto menghantam keras tangan Kokabiel. Melihat serangannya kembali gagal, Naruto melompat mundur dan mengambil jarak dari Kokabiel.

"Serangan mu lumayan juga. " Dengan perlahan Kokabiel menegakan tubuhnya, dan membersihkan kotoran kecil dibajunya. Kokabiel kembali menunjukan senyum sinisnya. "Tapi itu belum cukup untuk mengalahkan ku, bahkan untuk menyentuh ku sekalipun. "

"Tadi itu hanya pemanasan, gagak tua. " Naruto membalas senyuman Kokabiel dengan senyum mengejek dirinya. "Pertarungan sebenarnya baru di mulai. "

Naruto kembali membuat handseal, dan sedetik kemudian puluhan bunshinnya muncul. Tanpa menunggu lagi, semua bunshin itu melesat maju menyerang Kokabiel.

Kokabiel menyeringai kejam sambil kembali membuat pedang cahaya nya, dia menatap seluruh Naruto tanpa merasa takut sedikit pun. "Buat aku terhibur iblis. "

...

Ditempat Rias cs

"Naruto-san banyak sekali. " Issei menatap kagum pada kemampuan Naruto yang dapat memperbanyak dirinya.

"Fufufu... Dia hebat. " Akeno tersenyum melihat pertarungan Naruto.

"Apakah itu kemampuan secred gear? " Xenovia yang berada disana juga menatap kagum pada Naruto, melihat Naruto dapat membuat Da-tenshi sekelas Kokabiel kerepotan sungguh luar biasa.

"Setau ku Uzumaki-san tidak memiliki secred gear. " Rias ikut berkomentar, matanya terus menatap pertarungan Naruto. "Tapi Sona pernah bilang kalau Naruto adalah seorang ninja, mungkin itu adalah kemampuan ninja nya. "

"Ninja? Maksud Bochou ninja yang seperti di film-film. " Issei menatap Rias dengan wajah terkejut, hal yang dibalas dengan senyuman oleh Rias.

"Ya begitulah. " Jawab Rias sambil tersenyum pada pion barunya itu.

"Hebat. "

..: I'am a Shinobi :..

Wajah sombong yang ditunjukan Kokabiel tadi kini telah terganti dengan wajah datar yang masam, dirinya benar-benar bosan sekaligus kesal. Bosan karena serangan lawannya mudah ditebak dan lemah, dan kesal karena dia tidak bisa memberikan luka pada musuh. Serangannya selalu mengenai bunshin Naruto, tidak pernah satupun serangannya yang berhasil melukai Naruto yang asli.

Sampai saat ini, Kokabiel masih terus menebaskan pedangnya kepada bunshin yang menurutnya tidak ada habisnya. Selalu datang meski sudah banyak yang dia habisi, tentu saja hal ini membuat dirinya sedikit kesal.

Beberapa menit bertarung, bunshin Naruto sekarang tinggal sedikit. Ada sekitar dua puluh bunshin yang masih tersisa, dan angka itu terus berkurang setiap kali Kokabiel menebaskan pedangnya.

Crass!

Kokabiel menebaskan kedua pedangnya pada dua bunshin didepan nya. Dari balik kumpulan asap bekas bunshin tadi, Kokabiel dapat melihat tiga Naruto yang berlari kearah nya, dua di antara berlari didepan sedangkan satunya cukup jauh dibelakang. Melirik kesamping kiri dan kanan, Kokabiel juga melihat dua Naruto yang juga berlari kearahnya. 'Tinggal lima lagi, dan salah satunya pasti yang asli. ' Pikir Da-tenshi itu.

Dua Naruto yang berada didepan melompat dan bersiap memberi serangan pada Kokabiel, namun dengan sekali tebasan dua Naruto itu menghilang. Belum selesai sampai disitu, Kokabiel melempar kedua pedangnya kesamping kiri dan kanan yang kemudian menancap tepat ditubuh dua bunshin Naruto.

Belum hilang asap bekas bunshin didepan tadi, Naruto terakhir melesat menembus asap tersebut. Tangan kanan yang sudah mengepal, dia layangkan kewajah Kokabiel yang tidak memandang kearahnya.

"Ugh! "

"Kau kira bisa menyerangku dengan cara seperti ini. " Kokabiel tersenyum sinis sambil menatap Naruto yang tengah dia cekik. Tubuh pemuda itu melayang diudara karena kuatnya cekikan satu tangan Kokabiel. "Butuh waktu ratusan tahun untuk mu bisa_ "

Poofh!

Kokabiel membulatkan matanya ketika melihat Naruto yang dia kira asli menghilang, dia dapat melihat sebuah seringai sebelum bunshin itu menghilang. Dengan cepat kepala menoleh kebelakang menatap Naruto yang berjongkok dibelakangnya dengan seringai kejam, jangan lupakan kedua tangan pemuda itu yang menyatu didepan dada membentuk handseal.

"Sennen Goroshi no jutsu! (Jurus derita seribu tahun! ) "

Jleb!

Ditempat team Gremory, Issei menatap shock dengan jurus yang baru saja Naruto perlihatkan. Dengan perlahan tangannya bergerak memegang pantatnya, entah kenapa disana terasa sedikit ngilu. "Itu pasti sakit. "

"Jurus apaan itu. " Sedangkan bagi dua gadis bersurai merah dan biru malah sweatdrop menyaksikan jurus Naruto. Berbeda dengan gadis terakhir yang malah tersenyum dan terkekeh kecil.

"Fufufu... Jurus yang menarik. " Semua pasang mata menatap kearah Akeno, mereka semua terdiam menatap Akeno. Sedangkan gadis miko itu hanya memiringkan kepalanya dan tersenyum polos. "Ada apa? "

...

Naruto menatap Kokabiel yang nyungsep beberapa meter didepan nya dengan senyuman bangga, jurus rahasia nya itu memang yang terbaik. Namun senyuman Naruto menghilang ketika dengan perlahan Kokabiel bangkit, jangan lupakan nafsu membunuh yang dikeluarkan Da-tenshi itu.

"Kurang ajar. " Desisan marah terdengar dari mulut Kokabiel, nafsu membunuh disekitar tubuhnya semakin besar. Namun untuk sesaat nafsu membunuh itu menghilang, bersama dengan berubahnya ekspresi marah menjadi kesakitan. Jangan lupakan tangannya yang mengelus-elus bagian pantatnya. 'Ugh, tadi itu dalam sekali.'

Naruto sweatdrop melihat tingkah lawannya, ekspresi Da-tenshi itu tidak sesuai dengan wajah seramnya. Namun kemudian Naruto kembali serius, Kokabiel kembali mengumbar nafsu membunuh nya.

"Kau membuatku marah. " Kokabiel mengangkat satu tangan nya keudara. "Aku akan menyiksa mu sampai kau memohon kematian padaku. "

Tepat setelah mengatakan niatnya, puluhan tombak cahaya tercipta disekitar Kokabiel. Berbagai bentuk dan berbagai ukuran tombak siap dilesatkan kepada Naruto. Dengan sekali hentakan tangan, puluhan tombak cahaya itu melesat cepat kearah Naruto.

Naruto memeringkan kepalanya serta sedikit menggeser tubuhnya menghindari sebuah tombak cahaya, kembali bergerak menghindari tombak yang lain. Naruto terus bergerak menghindari serangan demi serangan yang dilesatkan Kokabiel, bersamaan dengan itu Naruto bergerak semakin mendekat kearah Da-tenshi itu.

Kokabiel menyadarinya, setiap kali Naruto menghindar jarak mereka semakin dekat. Oleh karena itu, Kokabiel memperbanyak intensitas serangannya, berharap dengan itu Naruto semakin sibuk dan dia dapat memberikan serangan kejutan.

Rencana membuat Naruto sibuk berhasil, dia tinggal melakukan serangan selanjutnya. Dalam sekejap Kokabiel menghilang dari tempatnya dan kembali muncul tepat didepan Naruto yang baru saja berhasil menghindari serangan nya terakhir.

Dengan gerakan slow motion, tangan Kokabiel berayun kearah Naruto. Bersamaan dengan itu, partikel-partikel cahaya berkumpul dan membentuk sebuah pedang cahaya di tangan tersebut.

Kemampuan senjutsu yang membuat Naruto merasakan bahaya membuat Naruto refleks melengkungkan tubuhnya kebelakang, dapat dia lihat pedang cahaya Kokabiel lewat tepat didepan wajahnya. Naruto berhasil menghindari tebasan tersebut, namun dia harus rela merasakan sakit diperut dan terlempar kebelakang ketika Kokabiel berhasil menendang tubuhnya.

Tendangan yang dilayangkan Kokabiel bukan main kuatnya, itu terbukti dengan seberapa jauh Naruto terlempar. Meski Naruto mampu berdiri tegak, tetap saja perutnya terasa sangat sakit.

"Ada apa iblis? Apa kau sudah menyerah? " Kokabiel menyeringai sambil menatap sinis Naruto. Pedang cahaya ciptaan nya terkulai lemah disamping tubuhnya. "Hadapilah kenyataan, bahwa kau tidak akan mampu mengalahkan ku. "

"Kau terlalu banyak bicara gagak tua. " Naruto tersenyum meski satu tangannya memegang perutnya yang masih terasa sakit. "Pertarungan masih belum selesai. "

Naruto kembali membuat sebuah handseal, dan kali ini lebih dari dua puluh bunshin dia ciptaan. Tanpa membuang waktu, hampir semua bunshinnya melesat maju menyerang Kokabiel. Sedangkan sisa bunshinnya menjadi pelindung Naruto yang tengah membuat sesuatu dengan dua bunshin nya yang lain.

Suara seperti mesin jet terdengar memunuhi halaman, sebuah bola yang berputar ganas mulai terbentuk ditangan Naruto. Hal itu tentu saja menjadi perhatian semua makhluk yang ada disana, termasuk Kokabiel yang tengah menghadapi bunshin-bunshin Naruto.

'Jurus itu sangat berbahaya.' Sambil terus menebas bunshin-bunshin Naruto yang datang kepadanya, Kokabiel menatap Naruto yang masih fokus pada pembuatan jutsu nya. Melihat peliharaan nya tewas karna jurus itu, membuat Kokabiel waspada. 'Aku harus menghentikan nya. "

Dua bunshin menyerang Kokabiel dari samping kiri dan kanan, namun tanpa melihat Kokabiel menebaskan pedangnya kepada kedua bunshin itu. Setelah itu Kokabiel menciptakan enam tombak cahaya, melompat tinggi dan melempar tombak-tombak tersebut kearah bunshin-bunshin Naruto.

Diudara Kokabiel mengembangkan lima pasang sayap nya, membuat sebuah tombak cahaya yang lima kali lebih besar dari biasanya. Dengan kuat Da-tenshi itu melempar tombak tersebut kearah Naruto yang baru selesai membentuk Rasenshuriken.

Tombak tersebut melesat cepat menuju Naruto, namun empat bunshin Naruto menjadikan tubuh mereka sebagai tameng. Kumpulan asap cukup tebal muncul ketika empat bunshin Naruto tadi menghilang ketika tertusuk tombak itu, begitupun dengan tombak miliki Kokabiel yang kembali terurai menjadi cahaya. Belum hilang asap tadi, dua buah fuma shuriken melesat menembus kumpulan asap menuju Kokabiel.

'Serangan pengalihan.' Kokabiel memiringkan tubuhnya membiarkan kedua shuriken tersebut lewat disamping tubuhnya. Fokusnya masih kearah Naruto, mewaspadai jurus yang cukup berbahaya dari ninja tersebut. Namun sepertinya Kokabiel akan menyesal dengan pemikiran nya.

Poofh!

Kedua mata Kokabiel membulat sempurna, perasaan terkejut benar-benar merasuk kedalam jiwanya. Belum sempat dia menoleh kebelakang untuk melihat asal suara, sebuah rasa sakit menyerang punggungnya dan bersamaan dengan itu tubuhnya meluncur turun.

"Fuuton: Rasenshuriken! "

Masih mencoba menyeimbangkan tubuhnya, Kokabiel kembali dikejutkan dengan deklarasi dari Naruto. Dalam pandangan nya Kokabiel dapat melihat sebuah jurus Naruto yang sudah sangat dekat dengan tubuhnya. Tak sempat membuat pelindung ataupun menghindar, akhirnya Kokabiel menggunakan kesepuluh sayapnya sebagai pelindung.

Blaarr!

"He-hebat. " Issei mengungkapkan rasa kekaguman nya dengan sedikit terbata, matanya teruus terfokus pada bola yang berputar ganas mencoba menghancurkan pelindung sang musuh.

Sedangkan untuk tiga gadis yang juga menyaksikan hanya bisa terdiam, namun yang pasti mereka juga sangat kagum dengan jutsu Naruto tersebut.

Kembali ketempat Naruto. Kokabiel masih bertahan dengan sayapnya yang sudah berubah sekeras besi, namun jutsu Naruto yang bukan hanya menyerang dipermukaan namun juga menyerang bagian sel yang ada didalam mampu mengoyak pertahanan Kokabiel. Dengan perlahan sayapnya mulai terkikis oleh jutsu Naruto, dan tentu saja Kokabiel merasakan apa yang disebut sakit.

"AARRRGHH! " Dengan rasa sakit di seluruh bagian sayapnya, Kokabiel memaksakan diri untuk keluar dari amukan jutsu itu. Dengan usaha keras akhirnya dia mampu menghindar kebelakang, namun tetap saja luka yang dia terima sangat parah.

Naruto yang melihat itu hanya diam dalam posisi berdiri, mode sannin nya sudah habis. Tidak ada lagi warna orange disekitar matanya, iris matanya juga berubah menjadi biru. Jutsu nya sudah menghilang, dan dia dapat melihat Kokabiel berdiri sepuluh meter dari tempat jutsu nya meledak tadi.

Deg

Untuk sesaat nafas Naruto terhenti, dia dengan sangat jelas merasakan energi besar yang menguar dari tubuh Kokabiel. Hal itu tentu saja membuat dirinya terkejut sekaligus waspada. Chakra nya tinggal sedikit dan butuh beberapa menit untuk dia kembali menggunakan senjutsu, dirinya jelas tidak bisa bertarung lagi dengan Da-tenshi itu.

"Kau. " Kokabiel berdiri dengan wajah tak terlihat karna tertutup rambut, kelima pasang sayapnya terkulai lemas dipunggung. Sayap yang tidak lagi utuh, sudah robek, patah, bahkan musnah hingga hanya menyisakan panggkalnya saja. Tentu saja dengan kondisi seperti itu ditambah dengan aura yang dia keluarkan, membuat Kokabiel semakin menyeramkan. "Benar-benar membuatku MARAH! "

Blaar!

Gelombang kejut yang keluar dari Kokabiel mengejutkan Naruto, belum selesai sampai disitu Naruto bertambah terkejut melihat Kokabiel sudah tidak berada ditempat nya. Dengan insting Naruto menunduk, bersamaan dengan itu pedang cahaya lewat diatas kepada Naruto. Namun sedetik kemudian wajah Naruto dihantam sesuatu, dan karena hal itu tubuhnya melayang kebelakang.

Naruto terlempar sangat jauh, menghantam tanah dengan keras, terpental beberapa kali sampai akhirnya berhenti dengan terseret beberapa meter ditanah. Tak menunggu waktu lama Naruto kembali bangkit, namun kedua matanya membulat ketika tiba-tiba Kokabiel sudah berada didepan nya sambil melayangkan pedang cahaya.

Crass!

"Naruto-san! " Mata Issei membulat sempurna, dengan matanya sendiri dia melihat kepala teman sekelas nya melayang, terpisah dari tubuh. Tak beda jauh dengan Issei, para gadis juga melototkan matanya sambil membekap mulutnya sendiri.

"Ti-tidak mungkin... Na-nar... " Rias tidak percaya dengan apa yang dia lihat, beberapa kali dia gelengkan kepalanya sebagai bentuk ketidak percayaan nya. "Ini tidak mungkin. "

Mereka sangat shock dengan apa yang dia, mereka masih tidak percaya pemuda yang sudah bertarung demi mereka harus tewas dengan cara seperti itu. Dan sekarang keterkejutan mereka bertambah.

...

Kokabiel hanya menatap datar pada dua batang kayu yang tadinya adalah tubuh dan kepala Naruto. Pegangan pada pedang cahaya nya dia eratkan, dan dengan kemarahan yang belum mereda dia berteriak. "Aku tidak akan membiarkan mu lolos! "

Dengan kuat Kokabiel melemparkan pedang cahaya nya kearah pohon yang terletak cukup jauh disamping kanan nya. Pedang tersebut melesat dengan cepat, menancap dibatang pohon sebelum akhirnya meledak. Asap mengepul dan bersamaan dengan itu sebuah sosok keluar.

Naruto muncul tak jauh dari pohon yang telah dihancurkan Kokabiel, kondisi saat ini kurang baik. Darah keluar dari lubang hidung dan sela bibirnya, sebuah sayatan tipis yang mengeluarkan darah juga nampak dipangkal lehernya.

'Sepertinya dia sedikit terlambat menghindari serangan ku tadi.' Kokabiel mengamati kondisi Naruto, melihat ada luka dileher pemuda itu membuatnya yakin serangannya tadi mengenai Naruto. 'Akan ku pastikan, kali ini dia tidak akan mampu menghindar.'

Naruto kembali bersiap ketika melihat Kokabiel kembali membuat puluhan tombak cahaya, ketika Kokabiel mulai melancarkan serangan nya dan dengan itu Naruto mulai bergerak.

Dengan gerakan cepat Naruto menghindar setiap tombak yang dilesatkan Kokabiel, namun karena tidak menggunakan mode sannin dirinya seringkali terlambat menghindar. Pipi, lengan, paha, dan anggota tubuhnya yang lain mendapat luka sayatan, tidak dalam tapi terasa sangat perih bagi Naruto.

Serangan tombak Kokabiel berhenti, namun Naruto tidak mendapati Kokabiel ditempatnya. Insting nya meneriakan tanda bahaya, namun belum sempat dia bereaksi sebuah tendangan sudah bersarang diwajahnya. Tubuh Naruto kembali kembali melayang, namun Kokabiel tidak berhenti sampai disitu, dengan cepat dia melempar lima tombak cahaya kearah tubuh Naruto.

Tubuh Naruto yang dalam keadaan melayang membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa ketika tombak itu melesat kearahnya. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah pasrah.

Tombak-tombak itu sebentar lagi akan mengenai Naruto, namun sebuah gelombang energi memusnahkan nya. Bukan hanya itu, tubuh Naruto yang seharusnya membentur tanah tiba-tiba ditahan sesuatu.

"Kau tidak apa-apa, Naruto-san? " Orang yang menangkap tubuh Naruto yang tidak lain adalah Issei menatap khawatir pada Naruto. Dengan perlahan Issei membantu Naruto untuk berdiri dengan tegak.

"Aku tidak apa-apa, terimakasih. " Naruto tersenyum singkat pada Issei, setelah itu dia kembali mengalihkan pandangan kedepan. Didepan nya terlihat Xenovia yang sedang memegang pedang Durandal nya, sepertinya gadis itulah yang melenyapkan tombak cahaya yang mengancam Naruto.

"Sekarang kita impas, aku tidak memiliki hutang budi lagi dengan mu. " Xenovia bicara tanpa menoleh pada Naruto.

"Kau sudah bertarung dengan sangat baik, Naruto-san. " Suara baru mengalihkan perhatian Naruto, saat menoleh pemuda pirang itu melihat Rias yang tersenyum tulus padanya. "Sekarang kau istirahat lah. "

"Biarkan kami yang menghadapi dia. " Akeno yang berdiri disamping Rias menambah ucapan sang King.

Naruto menatap satu persatu orang yang menolongnya, raut khawatir terlihat diwajahnya. "Tapi, keadaan kalian_ "

"Berkat kamu tenaga kami sudah kembali. " Rias memotong perkataan Naruto. Senyuman diwajahnya masih belum hilang. "Istirahat lah, kau sudah banyak terluka. Biarkan kami yang mengurusnya "

"Apa yang ku mulai, aku juga yang akan mengakhiri. " Naruto tersenyum penuh percaya diri, perkataan nya tadi jelas sebuah penolakan terhadap ucapan Rias. Ketika gadis itu hendak protes, Naruto telah lebih dulu bicara. "Lagipula, bukankah akan lebih mudah bila kita menghadapi nya bersama-sama. "

"Tapi_ "

"HAHAHA... " Tawa keras dari Kokabiel menelan perkataan Rias. Da-tenshi bersayap sepuluh itu mengumbar kengerian lewat tawanya itu. "Kalian semua tidak akan bisa mengalahkan ku. Akan ku bunuh kalian semua dengan... Ini. "

Sebuah tombak cahaya yang memiliki ukuran setara dengan sebuah pilar bagungan tercipta diatas tangan Kokabiel yang dia angkat keatas. Hal itu tentu saja membuat kelompok iblis plus satu exorcist terkejut.

Rias maju kedepan, ditelapak tangannya dengan perlahan terbentuk sebuah bola hitam kecil yang semakin lama semakin membesar. Bola tersebut terus membesar sampai seukuran bola sepak. Rias tersenyum manis. "Biar aku yang mengurus itu. "

Naruto yang kini sudah kembali ke mode sannin nya mengangguk kecil, kemudian dengan mata kuningnya Naruto menoleh kearah Issei. "Issei dan kau (Xenovia) serang Kokabiel secara langsung, aku akan menjadi pendukung. " Kemudian Naruto menoleh pada Akeno. "Himejima-san, siapkan jurus terkuatmu untuk serangan penghabisan. "

Semuanya mengangguk kecil dengan rencana Naruto, menurut mereka renca itu tidak buruk, malah sangat baik. Kokabiel memulai serangannya, dan dengan itu rencana mereka dimulai.

Tombak raksasa itu melesat munuju tempat kelompok iblis, melihat hal itu Rias dengan kuat melempar bola dari power Destruction. Kemampuan dari clan Bael itu tidak dapat diragukan kekuatan nya, buktinya tombak raksasa ciptaan Kokabiel terkikis saat berbenturan dengan bola tersebut.

Kokabiel tentu saja marah melihat serangan terkuatnya dapat dihancurkan dengan mudah. Belum sempat dia meluapkan kemarahan nya, dia terpaksa membuat pedang cahaya untuk menahan tebasan pedang dari samping kirinya.

Menatap Xenovia, Kokabiel berniat membalas serangan gadis itu. Namun belum sempat dia membalas, Issei dengan armor merahnya muncul dan melayangkan sebuah pukulan. Pulukan tersebut berhasil membuat Kokabiel terlempar, namun Da-tenshi iti masih bisa berdiri tegak.

Belum selesai sampai disitu, Xenovia kembali menebaskan pedangnya ke udara kosong. Dari sana terbentuk sebuah energi suci yang menuju ketempat Kokabiel. Dengan sekali tebasan padangnya, Kokabiel mementalkan serangan Xenovia.

[Dragon shot]

Serangan lain kembali datang, dan Kokabiel harus bersusah payah menghindari laser dari Issei itu. Baru saja kaki Kokabiel menapak tanah, Kokabiel kembali dikejutkan dengan muncul nya Naruto yang membawa sebuah bola seukuran tiga orang dewasa.

"Senpou: Oodama Rasengan! "

Rasengan Naruto berbenturan dengan dinding pelindung yang diciptakan Kokabiel didepan nya. Kuatnya rasengan Naruto tidak mampu menghancurkan pelindung milii Kokabiel, hal itu membuat sebuah seringai muncul diwajah Da-tenshi itu. Namun seringai nya musnah ketika tiba-tiba Naruto menghilang dalam kumpulan asap.

Namun bukan itu yang menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah sebuah bola hitam yang melesat setelah Naruto menghilang. Bola tersebut membentur kekkai nya dan saat itu juga bola itu meledak, kekkai Kokabiel hancur sedangkan Kokabiel sendiri terlempar cukup jauh.

Kokabiel berhasil mendaratkan dirinya dalam posisi berjongkok, dengan tampang shock dia mendongak keatas. Melihat Akeno yang terbang dengan lingkaran sihir besar didepan nya. Dalam sekejab, sebuah halilintar yang besar keluar dari lingkaran sihir Akeno, melesat cepat kearah Kokabiel yang hanya bisa pasrah.

Duuaar!

Ledakan cukup besar tercipta ditempat Kokabiel, menimbulkan kumpulan debu dan asap yang cukup banyak. Namun dalam sekejap asap tersebut lenyap, tersingkir oleh gelombang energi yang Kokabiel berikan. Dengan beberapa anggota tubuh gosong, Kokabiel menunjukan kemurkaan nya. "KURANG AJAR, KALIAN SEMUA_ "

Sring! Sring! Sring!

Suara bagai mesin jet menghentikan ucapan Kokabiel, didepan malaikat terbuang itu telah muncul Naruto dengan membawa jutsu andalan nya. "Kau terlalu banyak bicara gagak tua. "

"... Rasenshuriken! "

"TIDAK MUNGKI_ AARGH! "

.

.

.

.

TBC

.

Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.

Karena ide nya maintream, jadi saya bisa cepat buat chap ini (satu minggu dibilang cepat). Selain itu, saya update ini fic karena fic ini lebih banya peminatnya, tapi bukan berarti saya nggak akan update fic yang lainnya.

Untuk fic MN, minggu depan baru update. Dan kalau saya sempat, akan bareng ama fic TD (The Darkness). Itu kalau sempat.

Waktu saya untuk nulis berkurang drastis, kalian pasti taukan sibuknya anak kelas tiga. Belum lagi besok saya harus hadapi yang namanya ulangan. Haah berat bro, apalagi materi pertama Fisika.

Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.

.

.

.

Juubi out