I'am a Shinobi
By Juubi
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi
Rate T (maybe)
Warning : Au, OOC, tipo dll
Enjoy it
..
.
.
Bangunan utama Kuoh Gakuen yang sebagian telah hancur kini bertambah hancur, sebuah bola energi berputar ganas menghancurkan bangunan itu. Suara teriakan penuh kesakitan yang sejak tadi bergema kini telah berhenti, bersamaan dengan tewasnya pemilik suara. Namun tubuh sang jendral Da-tenshi itu masih di gilas oleh pedang-pedang kecil hasil sebuah jutsu mematikan yang berelement angin.
Semua yang melihat hanya diam membisu, menatap bola energi yang jauh lebih besar dari bola pertama maupun ke dua dengan perasaan yang berbeda-beda. Kagum, penasaran, ngeri, bahkan juga senang.
Itu bagi yang melihat dari dalam kekkai.
Berbeda dengan yang diluar kekkai.
"Bertahanlah sebentar lagi. " Sona biaca tegas pada anggota peerage-nya, dan bersamaan dengan itu di kembali mengirim sejumlah energi miliknya pada kekkai yang kembali bergetar hebat.
Sang pewaris keluarga Sitri itu tidak yakin berapa lama lagi dia dan keluarga nya dapat mempertahankan kekkai. Sudah banyak guncangan yang melemahkan kekkai ini, dan dia harus mengerahkan setiap energi agar kekkai dapat bertahan. Dan sekali lagi, kekkai nya mendapat guncangan yang barasal dari jurus pion barunya.
"Ingatkan aku untuk menghajar si pirang itu. " Saji berucap emosi, walau itu sebagian bercanda tetap saja ada kekesalan disana. Demonic power miliknya tinggal sedikit, dan dia harus kembali mengeluarkan nya untuk mempertahankan kekkai.
"Apa yakin ingin melakukan itu, Saji-kun? " Reya yang berada didekat Saji merespon ucapan iblis remaja pirang itu. "Apa tidak melihat kekuatan Naruto-kun tadi? "
Saji terdiam sambil meneguk ludahnya, apa yang dikatakan Reya tadi benar. Teman sesama pion nya itu sanggup bertarung melawsn Da-tenshi yang memiliki lima pasang sayap, bagaimana Saji bisa menghajar orang seperti itu. Namun emosi masih di dirinya. "Bodoh amat, pokok nya aku ingin menghajar si pirang itu! "
Bola energi Naruto menghilang bersamaan dengan timbulnya hempasan angin yang cukup kuat. Seluruh peerage Sona bernafas lega, dan ketika tidak lagi merasakan energi kuat mereka melepas kendali atas kekkai nya. Kekkai itu menghilang dan bersamaan dengan itu seluruh peerage Sona jatuh kebawah.
...
Para iblis ditambah satu exorcist yang baru saja melakukan sebuah pertarungan kini sedang berkumpul mengistirahatkan tubuh mereka, mereka berkumpul ditempat temannya yang tadi tak sadarkan.
Dua dari iblis yang tidak sadarkan diri kini telah sadar, dan hal itu membuat iblis lain terasa terbantu. Asia yang telah sadarkan diri, dengan kemampuan spesialnya mulai memberikan pengobatan kepada teman-temannya. Gadis mantan biarawati itu dengan telaten mengobati teman-temannya. Mulai dari keluarga iblis nya, kemudian exorcist yang mengalami beberapa luka sayatan, dan yang terakhir mengobati luka Naruto.
Bisa dibilang hanya Naruto lah yang memiliki luka cukup banyak, mulai dari luka sayatan, lebam, memar, hingga luka dalam. Berkat Asia, semua luka Naruto hampir semuanya sembuh. Saat ini bishop keluarga Gremory itu tengah mengobati luka ditangan kanan Naruto, luka paling parah yang di miliki Naruto.
Naruto memperhatikan tangannya yang tengah diselimuti cahaya hijau dari secred gear langka milik Asia, pemuda itu tau luka nya mulai membaik namun itu sangatlah lambat. Luka Naruto disini memang cukup parah, luka ini sama dengan luka yang dia dapat ketiba baru menguasai Rasenshuriken. Dan Naruto tau butuh waktu lama untuk bisa sembuh.
Tatapan Naruto kemudian beralih ke wajah Asia, wajah itu terlihat lelah namun disana juga terlihat tekat untuk menyembuhkan. Tanpa sadar Naruto tersenyum, sebuah senyum lembut yang tercipta dengan tulus. Dia tau Asia sudah kelelahan, gadis itu sudah banyak mengeluarkan tenaganya untuk menyembuhkan yang lain. Namun gadis itu tetap berusaha menyembuhkan dirinya.
Tangan Naruto yang satunya tiba-tiba bergerak, memegang tangan Asia dan menghentikan apa yang dilakukan gadis itu. Pemuda pirang itu kemudian tersenyum, menatap Asia yang juga menatapnya dengan pandangan bingung. "Ini sudah cukup, Asia-chan. "
"Tidak Naruto-san. " Asia tau luka Naruto belum sembuh total, dan dia juga tau Naruto mengkhawatirkan keadaan nya. Tapi dia tidak ingin mengobati orang setengah-setengah, dia harus menyelesaikan ini. "Kau masih terluka. "
"Ini sudah mendingan, beberapa hari juga sembuh kok. " Naruto sungguh tidak mau merepotkan Asia, gadis itu sudah begitu lelah. Dia tidak ingin teman sekelasnya itu bertambah lelah. "Kau sudah banyak membantu ku, sekarang kau sebaiknya istirahat. "
"Tapi_ "
"Sudah jangan membantah. "
Yang lain hanya diam mendengar pembicaraan Naruto dan Asia, tidak berniat ikut dalam pembicaraan. Rias melihat Naruto yang berbicara dengan gadis yang dianggap adiknya sendiri tersenyum tipis. Dia tidak menyangka selain kuat, peerage baru sahabat nya itu juga berhati baik. Dan entah kenapa dia jadi merasa iri dengan Sona karena bisa mendapat kan peerage seperti Naruto.
Suara beberapa langkah kaki mengalihkan perhatian mereka, dapat mereka lihat para remaja dari anggota OSIS sekaligus iblis keluarga Sitri sedang berjalan cepat kearah mereka.
Naruto yang melihat kedatangan Kaichou-nya tersenyum lebar, dia kemudian mengangkat tangan kirinya dan melambaikan nya. "Hai Kaichou. "
Sona tidak menanggapi sapaan Naruto, matanya lebih memilih menatap kearah sahabat berambut merahnya. Mingahiraukan ekspresi Naruto yang cemberut, Sona mulai buka suara. "Apa kau baik-baik, Rias? "
Rias tersenyum kemudian mengangguk pelan. "Berkat pelayan mu itu, kami semua baik-baik saja. "
Tatapan Sona kemudian beralih ke tempat Naruto, menatap pemuda pirang itu dengan pandangan datar nya. "Bagaimana keadaan mu, Naruto? "
"Aku baik, Kaichou. " Naruto nyengir, meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. Namun melihat hal itu, Sona malah menyipitkan matanya.
"Kau tidak bohong? " Naruto mengangguk walau terlihat ragu. Pandangan Sona menajam membuat Naruto tambah gerogi, membenarkan letak kacamata nya Sona kembali bicara. "Gerakan tangan kanan mu! "
Naruto terdiam, jujur saja tangan kanan nya terasa sakit dan susah untuk di gerakan. Pengamatan Kaichou-nya benar-benar mengerikan, atau luka nya ini yang terlihat jelas ya. Merasa tidak bisa lagi mengelak, Naruto terkekeh hambar sambil menggaruk belakang kepalanya. "Tenang saja, beberapa hari lagi juga sembuh kok. "
"Dasar baka. " Sona berucap dingin, berjalan pelan kedepan Naruto sebelum akhirnya berjongkok didepan Naruto. Dengan perlahan dia memegang lembut tangan kanan Naruto, memperhatikan luka yang ada disana. Dilihat dari luar luka Naruto memang tidak parah, luka nya tidak besar dan juga tidak mengeluarkan darah. Namun jika di perhatikan lebih teliti, luka itu sangat dalam bahkan sampai ke tulang.
"Luka nya parah, sebaiknya kita pulang untuk mengobati nya. "
"Tapi Kaichou_ "
Sona tidak mempedulikan ucapan Naruto, dia lebih memilih menoleh kearah ratu nya. "Tsubaki, ku serahkan urusan disini pada mu. "
Sudah sudah bersiap pergi dengan lingkaran sihirnya, namun niatnya terpaksa dia urungkan ketika dirinya melihat sebuah cahaya putih. Sebuah cahaya putih melesat cepat kearah mereka, hal itu membuat mereka semua waspada. Lima meter sebelum mencapai tanah, cahaya tersebut berhenti dan terlihatlah seseorang dengan armor putih disana.
"Oh, ternyata sudah selesai ya. "
"Hakuryuukou. " Sona berucap pelan sambil memandang tamu baru itu. Ucapan begitu pelan hingga hanya Naruto yang mendengar nya, dan Naruto sendiri mengkerutkan keningnya merasa asing dengan kata yang diucapkan Kaichou-nya.
"Hakuryuukou? " Naruto menoleh kearah Sona, sebuah hal yang dilakukan juga oleh gadis berkacamata itu. "Apa itu Kaichou? "
"Itu sebutan untuk pengguna secred gear Divine Dividing, salah satu dari tiga belas secred gear yang dikatakan mampu membunuh tuhan. Secred gear itu mampu membagi kekuatan lawan untuk kekuatan punggungnya setiap sepuluh detik. "
Sona mendesah kesal melihat wajah melongo Naruto, apa penjelasannya kepanjangan buat otak si pirang itu. "Sama seperti secred gear Issei, bedanya Issei menambah sedangkan dia membagi. " Naruto mengangguk pelan, meski wajah bingung masih terlihat diwajahnya. "Selain itu, dia juga merupakan rival secred gear boster gear. Dengan kata lain, dia rival nya Issei. "
"Jadi dia rival Issei ya. " Naruto menatap keatas, menatap orang yang terbalur baju besi itu. Mendengar kata rival, Naruto jadi teringat dengan rival nya di Konoha. Mungkinkah takdir pemilik dua secred gear naga itu sama dengan takdir dari pemilik chakra Ashura dan Indra.
Sona yang berada didekat Naruto menjadi bingung, entah kenapa dia jadi merasa tidak enak dengan ekspresi yang di keluarkan Naruto saat ini. Ingin bertanya tapi tidak bisa, suara dari Rias mengurungkan niatnya.
"Hakuryuukou, apa maksudmu datang kemari? " Rias berucap dengan nada tajam, posture tubuhnya waspada dan dengan perlahan mendekat kearah Issei. Dia tidak ingin bidak pion nya itu bertarung dengan rival nya sekarang, dia tau Issei belum mampu dan dia juga tau orang itu sangat kuat.
"Aku kesini untuk melaksakan sebuah tugas. " Nada yang penuh percaya diri dan arogant terdengar jelas dari Vali. "Dan juga menyapa rival ku tentu saja. "
Vali menjeda kalimatnya untuk memperhatikan reaksi para iblis dibawahnya, dia dapat melihat dua iblis betina yang sedikit mendekat kearah rival nya. Sebuah sikap protektif yang menggelikan menurutnya.
"Azazel menugaskan ku untuk menangkap Kokabiel. " Pandangan Vali beralih ketempat bangunan yang telah hancur, dimana disana terdapat beberapa bulu gagak. "Tapi sepertinya itu tidak mungkin. " Tatapan Vali kembali kearah para iblis. "Selain itu aku ingin menyampaikan bahwa apa yang di lakukan Kokabiel sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan fraksi Da-tenshi. Dia melakukan ini atas kehendaknya sendiri. "
"Atas dasar apa kami harus percaya dengan ucapan mu. " Sona menatap tajam kepada Vali, membenarkan posisi kacamata nya Sona kembali bicara. "Kejadian sebesar ini mana mungkin tidak diketahui fraksi Da-tenshi. "
"Aku tidak peduli kalian percaya atau tidak. Yang penting aku sudah menyampaikan hal yang harus ku sampaikan. " Vali membalas dengan angkuh. Dengan perlahan dia berbalik berniat pergi, namun dia kembali menoleh kebelakang menatap Issei. "Satu lagi, kau sangat lemah untuk menjadi rival ku. Aku jadi tidak tertarik untuk bertarung dengan mu. "
Naruto menatap kepergian Vali dalam diam, dia kemudian menoleh kesamping menatap ketempat Issei. Dapat dia lihat pemuda berambut coklat itu nampak tertekan dan juga frustasi. Entahlah Naruto tidak terlalu handal membaca raut wajah, tapi yang pasti Issei nampak tidak bagus.
Tiba-tiba Naruto tersentak, tangan kirinya tiba-tiba dipegang oleh seseorang dan menariknya untuk berdiri. Menoleh, Naruto menemukan pelaku nya yang tak lain adalah Kaichou-nya.
"Luka mu harus segera di obati. " Sona memapah Naruto dengan pelan, kemudian membuat lingkaran sihir dibawah kaki mereka. Sebelum benar-benar pergi, Sona kembali menatap Rias. "Kami duluan. "
Rias mengangguk singkat meski itu takkan terlihat oleh Sona, ketua OSIS Kuoh Gakuen itu sudah lebih dulu menghilang. Pandangan Rias kemudian beralih kearah peerage-nya. "Koneko, bawa Kiba pulang ke rumahnya. Kemudian kau juga pulang, pulihkan tenaga mu. " Rias beralih menatap peerage-nya yang lain. "Kalian juga sebaiknya pulang, istirahat. Besok kita bertemu di ruang klub. "
"Ha'i Bochou. " Semua segera mengikuti intruksi Rias. Satu persatu mereka pergi, pulang kerumah mereka masing-masing. Begitupun juga dengan Rias, dia kembali ke tempatnya.
Sekarang disana tinggal para anggota OSIS yang sedang berusaha memperbaiki bagunan sekolah yang rusak parah.
..: I'am a Shinobi :..
Naruto dan Sona muncul di kamar Naruto, dengan pelan Sona mendudukan Naruto di pinggir tempat tidur. Setelah itu Sona memposisikan tubuhnya didepan Naruto, kemudian dengan pelan tangannya bergerak melepas kancing kemeja Naruto.
"Ka-kaichou? " Naruto nampak gugup dengan perlakuan Sona, entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pikiran aneh plus mesum mulai masuk di kepala Naruto, bayangan apa yang dilakukan Kaichou-nya selanjutnya membuat dia merinding. Meskipun begitu, entah kenapa dia ingin itu terjadi. Oke, dia mulai mesum.
"Ka-kaichou, apa yang kau lakukan? "
"Melepas baju mu, kemeja mu ini sangat kotor. " Sona selesai melepas kemeja kotor dan hancur milik Naruto, dia sedikit memundurkan tubuhnya untuk menatap tubuh Naruto. Saat ini Naruto hanya memakai kaos hitam miliknya, mengingat tangan kanan Naruto, Sona mengurungkan niatnya melepas baju itu. Walaupun dirinya ingin melihat tubuh polos Naruto lagi.
Pandangan turun kebawah, menatap celana sekolah yang masih di pakai Naruto. Apa dia harus melepaskan itu juga? Sona menggeleng, itu akan sangat memalukan bagi dirinya. "Berbaringlah, aku akan segera mengobati luka mu. "
"Be-berbaring? " Sekarang Naruto benar-benar berpikir kalau Kaichou-nya akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya. "Apa duduk saja tidak bisa? "
"Naruto. " Mata dan nada suara Sona menajam, tentu saja Naruto yang sudah tau bila Sona sudah seperti itu hanya bisa meneguk ludahnya. Dengan perlahan plus menyeramkan (menurut Naruto), Sona meletakan tangannya pada bahu Naruto kemudian mendorong pelan. "Ku bilang berbaring! "
Pada akhirnya Naruto hanya bisa menurut, dia tidak akan pernah bisa menolak bila Sona sudah seperti ini. Berbaring pelan, pandangan Naruto tidak pernah lepas dari Sona. Dan merasa sudah tepat, Naruto membaranikan dirinya untuk bertanya. "Kaichou, dengan apa kau mengobati ku? "
"Dengan mengalirkan energi ku pada mu, hal itu akan mempercepat proses penyembuhan mu. " Sona duduk di pinggir ranjang, memunggungi Naruto. Sona nampak berpikir sebentar, membuat sedikit jeda pada kalimatnya. "Kau ingat kan saat kau pertama kali sadar setelah aku reinkarnasikan. "
"Ya aku ingat. Waktu itu Kaichou berniat memperkosa ku kan. " Sona langsung menolehkan kepalanya dan memberikan tatapan mautnya. Dan tentu saja Naruto hanya bisa terkekeh dengan wajah pucat. "Bercanda Kaichou. "
Sona menghela nafas, kemudian dengan perlahan dia mulai melepas kancing baju nya. "Aku sudah pernah menjelaskan nya, jadi kurasa kau sudah mengerti. " Tanpa melihat pun, Sona tau Naruto mengangguk. Pada saat kancing terakhir Sona berhenti sebentar, kembali menoleh ketempat Naruto yang terus menatap dirinya. Dia jadi merasa malu. "Apa yang kau lihat, palingkan wajah mu! "
Dengan cepat Naruto memalingkan wajahnya, muka nya memerah saat ketahuan memperhatikan Kaichou-nya yang sedang melepas pakaian. Beberapa detik diam, Naruto merasakan kasur nya bergerak, menandakan Kaichou-nya sudah naik ke tempat tidur. Ingin menoleh tapi sebuah suara menghentikan nya.
"Jangan menoleh! " Sona yang masih belum membaringkan tubuhnya kembali bersuara, jujur dia malu melihatnya dengan tubuh setengah telanjang. Walaupun Naruto sudah pernah melihat tubuhnya.
Membaringkan tubuhnya, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuhnya Naruto, Sona mulai melakukan tugasnya. Memiringkan tubuhnya, kemudian menarik pelan tangan kanan Naruto sebelum akhirnya memeluknya erat. Dapat Sona rasakan tubuh Naruto sedikit menegang, dan entah kenapa hal itu membuat dia tersenyum. "Tidurlah, prosesnya akan cepat bila kau tidur. "
Tidak ada respon, Sona berpikir Naruto sudah tidur. Dengan perlahan dia menutup matanya, merilekskan tubuhnya agar bisa tidur. Jujur saja, saat ini dia merasa sangat nyaman.
Tubuh Naruto begitu hangat, membuat dia ingin lebih merapatkan tubuhnya. Aroma tubuh Naruto juga sangat menenangkan, walaupun tidak sewangi parfum mahal tapi Sona sangat menyukai aroma ini. Aura pemuda ini juga sangat nyaman, kuat dan juga lembut diwaktu yang bersamaan. Di manjakan dengan kenyamanan dari tubuh Naruto, tanpa Sona sadari dia sudah tertidur.
Naruto yang tadi memejamkan matanya kembali dia buka, dia tidak bisa tidur masih sibuk mengontrol detak jantungnya yang berlebihan. Wajar saja, ini pertama kalinya dia tidur dengan lawan jenis. Eh bukan pertama tapi kedua, tapikan yang pertama itu dia tidak sadar.
Belum lagi posisi mereka sekarang, Naruto harus kuat-kuat menahan hasratnya. Dia dapat merasakan selembut apa kulit polos milik Sona, apa lagi benda bulat yang kenyal yang menekan lengan nya. Pasti enak bila bisa dia pegan- Ahhk! Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu.
Menarik nafas mencoba menenangkan dirinya, Naruto mencoba menghilangkan pikiran negatif nya. Dia menggeleng, menyemangati dirinya untuk kuat. Kaichou-nya sudah sangat baik padanya, dia tidak ingin menyakiti Kaichou-nya.
Memberanikan dirinya, Naruto menoleh kesamping menatap Sona yang telah terlelap. Menatap wajah Sona membuat Naruto tersenyum, ternyata Kaichou-nya itu bila tidak memakai kacamata terlihat manis.
Pandangan Naruto turun kebawah dan berhenti pada selimut yang menutupi dirinya dan Sona sebatas leher, Naruto ingin sekali menyingkirkan selimut itu dan melihat... Ah! Pikirannya kembali kacau, kenapa dia bisa berpikiran mesum. Apa ini karena dia sekarang iblis, makanya hasratnya begitu besar.
Naruto kembali menatap wajah Sona, menggerakan tangan kirinya untuk menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah Sona. Naruto tersenyum dan tanpa sadar medekatkan wajahnya, dia berhenti saat hidungnya menyentuh pucuk kepala Sona. Menarik nafas dalam, Naruto menikmati bau shampo yang begitu harum di indra penciuaman nya.
Kembali menjauhkan wajahnya, pandangan Naruto jatuh pada bibir tipis berwarna merah muda milik Sona. Hasrat itu kembali muncul, dan kali ini lebih besar dari sebelum nya. Naruto kembali memajukan wajahnya, pelan namun pasti. Nafas yang teratur milik Sona dapat Naruto rasakan, semakin menguat bersamaan jarak wajah mereka semakin dekat.
Jantung Naruto kembali berpacu, tapi itu tidak menghentikan gerakan nya. Hidung Naruto hampir bersentuhan dengan hidung Sona, ketika Naruto hendak menghapus jarak mereka tiba-tiba Sona menggeliat. Tentu saja hal itu membatalkan niat Naruto, dengan berat dia kembali menjauhkan wajahnya. Sebuah senyum tercipta ketika Naruto mengingat apa yang baru saja hendak dia lakukan, sepertinya dia memang tidak boleh melakukan itu. Atau... Belum boleh.
Setelah itu, Naruto terus memandang wajah Sona hingga akhirnya dia tertidur dengan sendiri nya.
..: Juubi no Kitsune :..
"Bochou. " Perhatian Rias teralih kearah ratunya yang datang membawa secangkir teh, dirinya tersenyum kemudian mengucapkan terimakasih pada Akeno. Akeno kemudian berjalan ke sofa, mendudukan dirinya disana. "Apa yang Bochou pikirkan? "
"Naruto. "
"Fhufhufhu... Aku tidak tau kalau Bochou tertarik dengan pelayan baru Sona-Kaichou. " Akeno terkekeh melihat ekspresi terkejut king nya, dengan tangannya dia menutupi mulutnya yang tengah tersenyum.
"Bukan itu maksudku Akeno. " Rias membantah cepat, tidak ingin terus-terusan di goda ratunya. "Yang ku maksud tentang kekuatan, Naruto. "
"Kau ingatkan bagaimana kekuatan Naruto tadi malam. " Rias menatap Akeno serius. "Mampu berhadapan satu lawan satu dengan Da-tenshi sekelas Kokabiel, aku jadi ragu dia hanya pion. "
"Kekuatan Naruto-san memang besar, sangat aneh kalau dia hanya mengkonsumsi satu bidak pion saja. " Akeno ikut mengeluarkan pendapat. Setelah itu dia kemudian menunjukan senyum khas miliknya. "Sona-Kaichou sangat beruntung bisa mendapat kan peerage seperti itu. "
"Ya. Dan kita nanti akan kerepotan saat melawan team Sona di Rating game. " Rias menjawab dengan nada lesu, wajahnya juga terlihat cemberut. Jujur dia khawatir akan hal itu, dia khawatir tidak bisa mengalahkan team Sona. Kemampuan otak Sona saja sudah sangat merepotkan, apalagi ditambah dengan kemampuan bertempur dari Naruto.
Sudah menjadi mimpi Rias untuk memenangkan setiap rating game, oleh karena itu dia mencari pelayan-pelayan yang kuat. Dia sudah mendapatkan pelayan-pelayan yang kuat, dan dia juga terus melatih kemampuan teamnya. Dia takkan lagi ragu dengan kemampuan keluarga nya itu, namun ketika melihat kemampuan salah satu pelayan Sona dia jadi khawatir.
Tok tok tok
Pintu ruang klub dikentuk, dan tak lama kemudian terbuka menampilkan seorang pemuda bersurai coklat yang datang bersama seorang gadis bersurai pirang. Setelah memberikan salam, Issei dan juga Asia berjalan masuk dan duduk ditempat biasa mereka duduk.
Tak berapa lama kemudian, pintu kembali di ketuk. Seorang pemuda bersurai pirang memasuki ruangan, Kiba masuk dengan senyum biasanya. Dan yang terakhir masuk adalah Koneko.
Saat ini sedang waktu istirahat, jadi anggota klub ORC bisa kesini. Sebenarnya waktu istirahat mereka tidak pernah berkumpul selengkap ini, biasanya hanya Rias dan Akeno yang kemari. Tapi untuk hari ini, Rias memerintahkan semua peerage nya untuk berkumpul. Katanya ada sesuatu yang harus di bahas.
Melihat semua anggota peerage nya sudah berkumpul, Rias memulai obrolan. Hanya obrolan ringan, karena dia masih menunggu tamu nya yang lain. Beberapa saat menunggu, akhirnya pintu masuk kembali diketuk. Rias tersenyum dan menyambut dua orang yang baru datang itu.
"Aku sudah menunggu mu, Sona, Naruto-san. "
.
.
.
TBC
.
.
Maaf, ide sudah mentok sampai disini. XD
Jadi, Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.
Chapter kemarin banyak reader yang mengeluh tentang kekuatan Naruto. Ya mau bagaimana lagi, untuk sekarang memang segitu dulu kekuatan Naruto. Nanti juga dia bisa gunain kekuatan penuhnya kembali kok, tepatnya saat di rating game nanti.
Selain itu, ada juga reader yang mau jurud Naruto ditambah. Itu masih saya pikirkan, seandainya saya menambah jurus Naruto itu nanti saat Azazel sudah menjadi guru di Kuoh. Dengan kata lain, Azazel akan membantu Naruto.
Masalahnya pair, kurasa kalian sudah tau. Pair nya single, itu lebih mudah di buat. Mungkin saya akan membuat beberapa gadis menyukai Naruto, namun Naruto hanya akan memilih satu.
Terakhir, tolong review nya. Karena dengan review kalian, saya akan lebih semangat untuk nulis.
.
.
.
Juubi out
